Balas Review:
Blue Chery: Okey ini udah lanjut yaaa
FiaaATiasrizqi: Huaa gomen yaaa! Gold lagi keabisan quota dan mager banget jalan ke warnet -_- jadinya lama deh hoho, sekali lagi Gomeen!
alvinisafitri: Oke ini udah lanjut yaa
.
.
.
A HEART FOR LOVE
The Character is belong to Masashi Kimoto-san
Story by
7 Gold
Warning: AU, AT, Typo, OOC, Alur gaje, Cerita se-mau-gue!
Happy Reading!
.
.
.
10! I'M THE HEALING!
"Jadi ini markasmu?" tanya pemuda bermata onyx –Sasuke, setelah dia memasuki sebuah bangunan sederhana yang berada lumayan jauh dari desa tadi.
Hari sudah malam saat mereka tiba dimarkas itu, membuat Sasuke terpaksa bermalam disana, setidaknya sampai dia mendapatkan beberapa informasi yang dibutuhkannya.
Dapat dilihat ternyata didalam bangunan itu terdapat 4 orang pria dan seorang wanita yang mengenakan jubah dengan lambang awan merah –lambang dari akatsuki. Mereka adalah deidara, hidan, kakuzu, pein dan konan.
Itachi –pemuda yang ditanyai hanya menganggukkan kepalanya "Jadi untuk apa kau mencari akatsuki?"
"Aku membutuhkan bantuan kalian" sahut Sasuke dengan wajah datar
"Membutuhkan bantuan kami? Haha sejak kapan kau membutuhkan bantuan orang lain untuk pekerjaanmu sendiri?" tanya Itachi "Apakah lawanmu sangat tangguh sampai kau tidak bisa menanganinya?" ledeknya
"Hn" jawab pemuda itu singkat, padat dan tidak jelas
"Memang siapa lawanmu?" tanya seorang pria berambut pirang panjang –deidara
"Sang ratu" jawabnya sangat sangat singkat
'BYUUUUR! Uhuk..Uhuuk..Uhuk...' keterkejutan Itachi membuat minuman yang sudah hampir meluncur masuk ketenggorokan kembali keluar dengan sangt tidak elit dan membuat pemuda itu tersedak
"Kau bodoh ya?! Untuk apa kau melawan wanita iblis itu?!" bentak Itachi
"Bagaimana denganmu? Apakah kau akan melawan wanita itu atau hanya akan diam saja?" bukannya menjawab Sasuke malah memberikan sebuah pertanyaan dengan nada sarkastik pada kakak kandungnya yang baru bertemu dengannya beberapa jam yang lalu setelah sekian lama dia mengira sang kakak sudah mati
"Aku akan melawannya tentu saja" sahut Itachi wajahnya mulai serius sekarang "Tapi tidak sekarang, begitu juga denganmu" lanjutnya
"Hn? Jadi kapan kau akan melawan wanita itu?" tanya Sasuke
"2 minggu lagi. Ketika gerhana bulan muncul. Karna saat itu kekuatan sang ratu akan melemah dan itu adalah kesempatan bagus bagi kita" Sahut seorang wanita yang hanya ada satu disana –konan
"Tapi kita masih memiliki sebuah masalah" sela hidan
"Apa maksudmu?" tanya Sasuke masih dengan tampang datarnya
"Kita harus menemukan putri dari kerajaan Haruno. Kau tau kan mengenai ramalan yang beredar itu?" ucap pein yang direspon dengan tatapan menunggu –ralat! Tatapan meminta jawaban dari sang Uchiha bungsu itu
"Beberapa bulan lalu ada kabar yang beredar kalau sang putri masih hidup dan dia berhasil kabur dari istana setelah sekian lama ditahan dalam penjara bawah tanah. Dan tepat beberapa hari setelahnya, beredar sebuah ramalan yang mengatakan bahwa kerajaan dan negri ini akan kembali mendapatkan cahaya kemenangan dengan sang putri yang berada digaris depan" lanjut Itachi panjang lebar
"Apakah masalah yang sedang kalian hadapi hanya itu?" tanya Sasuke membuat semua orang yang ada diruangan itu mengangguk "Kalau begitu masalah kalian sudah selesai" lanjutnya membuat semua orang yang ada diruangan itu bingung
"Oy! Apa maksud perkataanmu, baka otouto?" tanya Itachi
"Gadis yang kalian cari sudah aman bersamaku dan sekarang dia sedang berada ditempat tinggalku" sahutnya dengan tenang
"APAAAAA?!" teriak mereka bersamaan –minus konan dan pein yang hanya membelalakkan matanya
"Ba-Bagaimana bisa? Co-coba ucapkan sekali lagi! A-aku pasti salah dengar" ucap hidan dengan tergagap
"Hn? Kau bodoh ya? Sudah aku bilangkan kalau gadis itu, sang putri kerajaan Haruno sudah aman bersamaku dan ada ditempat tinggalku" sahutnya panjang lebar
"Benarkah?" tanya seorang pemuda berambut merah dengan mata hazel nut yang membelalak ngeri dan bertampang baby face, disebelahnya terdapat seorang pemuda dengan rambut klimis dan mata onyx yang menatap datar kearah Sasuke
"Sasori? Sai?" panggil konan pada dua orang pemuda yang masih berdiri tepat diambang pintu
"Dimana dia sekarang?! Bawa aku padanya!" ucap pemuda yang Sasuke ketahui bernama Sasori
"Dan untuk apa aku membawamu padanya?" tanya Sasuke, matanya menatap tidak suka pada Sasori
"Karna aku adalah kakaknya! Aku Haruno Sasori! Aku putra kerajaan Haruno! Aku.. aku harus bertemu dengannya! Bawa aku padanya! Kumohon!" sahut pemuda itu tatapannya terlihat sangat putus asa
"Kakaknya, eh? Aku tidak yakin kalau kau kakaknya" sahut Sasuke sarkastik
"Apa maksudmu?!" tanya Sasori yang lebih kepada sebuah bentakan
"Kalau kau benar kakaknya. Kemana kau saat dia membutuhkanmu, brengsek?!" sahut Sasuke sarkastik
"Sasuke! Tahan dirimu! Sasori memiliki alasan kenapa dia tidak ada disamping Sakura selama ini" ucap Itachi
"Maaf, kau benar. Aku tidak pantas menyebut diriku sebagai kakaknya. Aku kakak yang sangat buruk ya" wajah Sasori menunduk
"Kalau begitu aku juga kakak yang buruk, karna aku sama sepertimu. Walaupun sedikit berbeda" sahut Itachi
"Lalu apa alasanmu?!" tanya Sasuke ketus, dia sudah berhasil meredam emosinya
~OoOoO~
"Apa maksudmu?! Memangnya apa yang terjadi pada Temari nee?" tanya Sakura, wajah takutnya berganti dengan ekspresi cemas
"Setelah kau ditahan dalam penjara bawah tanah, wanita iblis itu membunuh kedua orang tuaku dan kakak laki-lakiku yang berusaha melindungi aku dan temari nee. Dia membunuh mereka karna menurutnya orang tuaku terlalu banyak mengetahui tentang dia dan keluarga kerajaan." Jawab Gaara, kepedihan terlihat jelas didalam mata jade miliknya
"Lalu kenapa dia tidak membunuhmu juga?" tanya Sakura
"Karna dia tau kalau aku akan jadi seorang kesatria yang sangat tangguh. Dia membutuhkan aku untuk menjalankan perintahnya, yaitu menjagamu agar tidak kabur dan menangkapmu jika kau kabur" Mata jade miliknya menatap lurus kearah Sakura
"Dan sebagai jaminan agar aku tidak membantah perintahnya, dia menahan temari nee. Dan dia tidak akan segan segan melukai temari nee, jika aku tidak mematuhi perintahnya. Maka dari itu aku butuh bantuanmu, Kumohon" lanjut Gaara
"Aku tidak bisa melakukan itu, kau tau kan? Tapi aku akan berusaha untuk membebaskan kakakmu. Bagaimana kalau kau bergabung denganku untuk melawan wanita itu?" usul Sakura
"Itu ide yang bagus, tapi tidak untuk saat ini" sahut Gaara "Aku akan bersembunyi disuatu tempat. Kau bisa memberitahuku jika kau akan bergerak untuk melawan wanita itu" lanjutnya
"Lalu dengan apa aku akan memberitahukannya padamu?" tanya Sakura
"Pecahkan bola ini, tapi sebelum kau memecahkannya kau harus menggoreskan sedikit darahmu pada permukaannya." Kemudian Gaara memberikan sebuah bola kaca yang terlihat sangat rapuh dan kuat secara bersamaan
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu" Dan dengan sekejap Gaara sudah menghilang ditelan kegelapan malam
"Sacchan? Sedang apa kau disini?" suara lembut seorang gadis yang berasal dari belakang Sakura sukses membuat gadis itu terkejut, dengan cepat Sakura memutar tubuhnya agar bisa menatap gadis itu –Tenten yang sedang berdiri diambang pintu
"A-Aku hanya memandangi bintang" jawab Sakura gugup dan segera mengantongi bola kaca yang diberikan oleh Gaara
"Tapi ini sudah sangat larut, sebaiknya kau masuk. Aku tidak ingin kau sakit karna angin malam" terselip nada khawatir dalam ucapan gadis bercepol dua itu
"Ha`i, Tenten!" pekik Sakura kemudian segera berlari masuk kedalam rumah
~OoOoO~
Hari sudah berganti, bulan juga sudah berganti menjadi matahari. Kicauan burung yang berterbangan dengan sangat riang seperti mengiringi latihan yang baru dimulai itu.
Target yang harus disembuhkannya masih sama, yaitu seekor kelinci dengan luka yang sama. Namun ini adalah seekor kelinci yang berbeda tentunya, seperti yang kalian tahu kalau kelinci malang yang menjadi target Sakura kemarin sudah menjadi menu makan malam.
"Baiklah, apakah kau sudah siap?" tanya Ino
"Aku dilahirkan untuk selalu siap" jawabnya dengan kepercayaan diri yang tinggi
"Bagus kalau begitu kau bisa memulainya" lanjut Ino, saat ini semua penghuni rumah sudah berada dihalaman depan
'Pemusatan fikiran, pengontrolan kekuatan, pengendalian emosi dan salurkan tenaga itu pada bagian yang perlu ditangani' batin Sakura kembali mengulang kalimat itu
Dan setelah dia merasa siap, dia mengarahkan kedua telapak tangannya tepat diatas luka kelinci malang itu. Sedetik kemudian cahaya berwarna hijau terlihat menguar dari bawah telapak tangannya.
Semua yang menyaksikan hal itu sedang diliputi ketegangan –minus Shikamaru dan Neji. Mengingat bagaimana ekspresi gadis itu ketika mencoba untuk membuka gerbang ke 6 dan ternyata gagal.
10 menit berlalu setelah Sakura mulai menyembuhkan luka dari kelinci itu. semua yang ada disitu terlihat heran dan bertambah cemas ketika Sakura menghentikan kegiatan yang sedang dilakukannya.
"Sacchan? Daijobou kah?" pertanyaan Hinata membuat Sakura mendongakkan kepalanya dan menatap mata semua orang yang ada didepannya, kemudian matanya kembali beralih pada kelinci yang diam tak bergerak.
"Sakura? Apa yang terjadi? A-apakah kelincinya... mati?" tanya Tenten hati-hati, membuat Sakura kembali mendongakkan kepalanya untuk menatap iris coklat milik Tenten dan kembali menatap sendu kelinci itu
"Aku..." sebuah kata berhasil meluncur setelah sekian lama keadaan menjadi diam
"Aku..." ulangnya membuat yang lain semakin berdebar debar. Namun sedetik kemudian kelinci itu bergerak dan melompat-lompat, membuat perubahan pada ekspresi wajah semua orang yang ada disitu
"Berhasiiiilll...!" pekik gadis itu yang langsung mendapatkan pelukan erat dari Ino, Tenten dan Hinata
"Hahha kau hebaat sekali, Sacchan! Kau menyembuhkan kelinci itu dalam waktu 10 menit!" ucap Tenten bangga
"Haha aku tidak menyangka kau bisa membuka gerbang ke 6 secepat ini" lanjut Ino
"Aku juga! Haha Arigatoo, Ino! Arigato Neji..! arigatoo minna-san!" pekik Sakura (LAGI) ekspresi gembira masih terlihat diparas cantiknya
"Selamat Sakura-hime. Kau adalah seolah penyembuh" ucap Neji dengan senyuman lembutnya
"Sang... penyembuh?" tanya Sakura bingung
"Ya, sang penyembuh. Kemampuan spesial milikmu" sambung Shikamaru
"Sang penyembuh adalah bakat langka dan sangat spesial. Karna dia tidak hanya bisa menyembuhkan manusia, tapi alam dan seluruh makhluk hidup lainnya. Dan sang penyembuh adalah lambang sebuah kebangkitan baru" jelas Neji panjang lebar
"Bagus, Sacchan! Dengan begitu kau bisa menyembuhkan banyak orang dan juga alam!" antusiasme diwajah Tenten tidak bisa disembunyikan begitu saja
"Tapi walaupun begitu, kau tetap tidak diperbolehkan untuk membuka gerbang ke 7 dan 8. Mengerti?" kali ini Ino yang memperingatkan gadis itu
"Ha`i" sahutnya dengan anggukan mantap "Nee, Neji?" panggil gadis itu
"Hn?" sahutnya
"Siapa sang penyembuh sebelum aku?" tanya gadis itu
"Dia adalah salah satu anggota dari legenda sannin, bernama Senju Tsunade dan sang penyembuh lain selain dia adalah ibumu, Haruno Mebuki" jawab Neji, ada binar kekaguman dimata gadis Haruno itu
"Baiklah kita akan melanjutkan ke pelajaran mantra sihir" sela Neji
"Tidak Neji" cegah Sakura "Kau masih harus menjelaskan padaku mengenai gerbang ke 7 dan ke 8" tuntutnya
"Seperti yang kuduga, kau tidak akan lupa mengenai hal itu" ucap Shikamaru sembari merenggangkan ototnya
"Tentu saja! Bagaimana aku bisa lupa pada ilmu penting seperti itu" ketus Sakura
"Baiklah. Dengarkan aku, karna aku hanya akan menjelaskan ini sekali saja" sahut Neji dan direspon dengan anggukan mantap dari Sakura
~OoOoO~
"Aku harus pergi sekarang" ucap seorang pemuda berambut raven yang saat ini sedang mengemasi barang bawaannya
"Baiklah, kami akan datang kerumahmu lusa. Setelah semua barang yang kita butuhkan lengkap" sahut Itachi kemudian mengantarkan sang adik sampai ambang pintu
"Hn" sahutnya singkat
"Jaga dirimu dan gadis itu" nasehat Itachi
"Dan sampaikan salamku padanya" sela Sasori yang entah sejak kapan sudah berada disamping Itachi
"Hn" Kemudian dengan ringan dilangkahkan kaki jenjangnya menuju desa yang beberapa hari lalu Sasuke datangi,
Sasuke bisa saja menggunakan mantra transportasinya dari sini, tapi dengan jarak sejauh itu sepertinya masih diluar kemampuannya. Tanpa membuang waktu lagi Sasuke memulai perjalanannya.
~OoOoO~
Sakura sedang duduk dikursi santai yang sengaja diletakkan diberanda rumah. Sudah 2 minggu semenjak dia melihat Sasuke pergi mencari 'bala bantuan', sampai sekarang pemuda itu belum juga kembali membuat rasa khawatir menerjang rongga dadanya beberapa hari belakangan.
Ditambah lagi kepulangan Naruto 3 hari lalu membuat rasa gelisah dan kecewanya memuncak. Bagaimana tidak? Pemuda bermata sebiru samudra itu hanya pulang seorang diri, tanpa Sasuke. Kalian paham? TANPA SASUKE!
Naruto bilang kalau mereka berpisah disebuah desa dan sejak saat itu Naruto belum mendapatkan kabar apapun dari Sasuke. Tapi Naruto dan yang lainnya sangat yakin kalau pemuda Uchiha itu baik-baik saja sekarang dan akan segera pulang. Karna Sasuke sendiri sangat tidak suka terlalu lama berada jauh dari rumah.
"Sacchan?" panggilan Ino sukses membuat lamunan Sakura buyar
"Ino? Ada apa?" tanya Sakura pada Ino yang saat ini sedang mendudukkan diri dikursi santai yang ada disamping Sakura
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu. ada apa?"
"Apa maksudmu? Tidak ada apapun, aku baik seperti biasa" sahut Sakura dengan senyum lembutnya, tapi Ino sangat yakin ada yang janggal dari senyuman itu
"Jangan berbohong, Sakura. Kau sangat tidak pandai melakukan itu" tuntut Ino
"Haha, kau bicara seperti itu seakan akan kau sudah sangat lama mengenal diriku" kekeh Sakura
"Aku memang tidak 'cukup' lama mengenal dirimu. Hanya saja aku tau bagaimana orang yang sedang berbohong dan bagaimana orang yang sedang tidak berbohong itu" jelas Ino
"Ya, kau benar. Haha bagaimana aku bisa lupa siapa dirimu, Nyonya Nara" ledek Sakura
"Eh? A-apa maksudmu?" tanya Ino gugup, diwajahnya terdapat rona merah yang membuat Sakura sangat ingin menjahilinya
"Kau tau apa maksudku, Ino" Goda Sakura
"Hentikan itu, Sakura!" bentak Ino, rona merah sudah menutupi seluruh wajahnya membuatnya terlihat seperti buah tomat segar. Namun bukannya berhenti Sakura malah tertawa dengan sangat keras
~OoOoO~
Hari beranjak semakin siang. Saat ini matahari berada tepat ditengah-tengah langit, membuat udara yang semula sejuk menjadi sangat panas dan kering. Namun hal itu sepertinya tidak menyurutkan tekad seorang pemuda yang masih melangkah menelusuri hutan itu.
"Keluarlah! Kau tidak perlu bersembunyi seperti itu" perintah Sasuke dengan wajah datarnya yang masih menatap lurus kedepan
"Hallo, Uchiha" suara seorang lelaki tertangkap diindra pendengaran pemuda Uchiha itu
"Kisame, kah? Sudah lama sekali sejak terakhir kali kau datang dan mencoba untuk membunuhku" ucapnya tanpa membalikkan badan
"Jadi kau masih ingat denganku, eh?" sahut Kisame, matanya memandang penuh nafsu membunuh pemuda yang ada dihadapannya
"Apa yang kau inginkan?" tanya pemuda itu dengan posisi yang masih sama
"Aku? Aku menginginkan gadis yang saat ini ada ditempat tinggalmu" sahutnya dengan tenang
"Lalu? apa yang akan aku dapatkan jika aku memberikan dia padamu?"
"Sang ratu akan memberikan apapun yang sangat kau inginkan" sahutnya berusaha untuk membujuk pemuda yang masih memunggunginya
"Tawaranmu sangat menggiurkan. Aku mungkin akan tergoda jika yang kau maksud ratu adalah 'Haruno Mebuki' bukan 'Haruno Merisa'" Kemudian Sasuke berbalik dan memandang dingin lelaki yang masih berdiri ditempatnya
"Cih, arogan sekali kau bocah!" geram lelaki itu
"Aku tidak memiliki alasan untuk berbaik hati padamu" sahut Sasuke masih dengan nada dingin dan tatapan tajam dari matanya
"Kalau begitu akan kupastikan kau mulai berbaik hati padaku setelah ini" seringai bak iblis pun terpasang diwajahnya "Dan satu hal lagi, akan kupastikan juga kau mematuhi apa yang aku perintahkan, Uchiha" lanjutnya
~OoOoO~
Setelah seharian mempelajari ilmu sihir, akhirnya Sakura bisa mengistirahatkan tubuhnya. Saat ini hari sudah malam dan seperti biasa, gadis itu akan memandangi ribuan bintang yang bertaburan diatas kepalanya.
Sudah sejak sore tadi Sakura hanya bersama dengan Tenten yang saat ini sedang beristirahat dikamarnya. Neji, Shikamaru, Hinata, Ino dan Naruto sedang pergi kekota untuk membeli beberapa barang dan memperbaiki beberapa senjata. Hinata bilang kalau mereka baru akan kembali besok.
Semilir angin yang menerpa wajahnya membuatnya menutup mata, merasakan emosi sang alam yang terasa sangat tenang disekitarnya. Namun sedetik kemudian emosi itu mulai terasa sedikit agresif dan penuh dengan amarah. Membuat Sakura menjadi lebih waspada dan memasang kuda-kuda bertarungnya.
"Siapa disana?!" teriak Sakura
"Wah.. Wah.. sepertinya putri musim semi yang sangat polos ini sudah menjadi lebih berani sekarang" suara seorang wanita yang sangat Sakura kenali membuatnya menegang
Dengan cepat Sakura memutar kepalanya kearah samping kanan, dan disanalah wanita itu berdiri. Jubah hitamnya menutupi seluruh tubuhnya kecuali wajah dan rambutnya.
"Apa yang kau ingin kan?!" pekik Sakura, rasa takutnya semakin besar ketika wanita itu mulai melangkah mendekat kearahnya
"Kau tau apa yang sangat aku inginkan, hime" sahutnya dengan sarkastik
"Aku tidak akan memberikannya padamu, iblis!"
"Iblis, huh? Sepertinya sebutan itu tidak cocok dengan wajah cantik ini" mata emerald yang serupa dengan milik Sakura menatap tajam dan menusuk. Oh ya! Jangan lupakan seringai iblis yang terpasang diparas cantiknya
"Tapi... kupastikan kau akan memberikan apa yang aku inginkan. Bahkan kau akan memohonnya padaku" lanjut wanita itu, saat ini jarak antara dirinya dengan Sakura hanya terpaut 3 meter
"Tidak akan per–"
"Benarkah? Tapi kau pasti akan rela menukarnya dengan 'Dia' kan?" Ucap wanita itu sarkastik, sebelah tangan wanita itu melambai diudara. Manik emerald milik Sakura terbelalak lebar ketika melihat apa yang baru saja dimunculkan oleh wanita itu.
"Ti-Tidak mungkin!" gumam Sakura, air mata mulai menganak sungai dipelupuk maniknya yang indah
"S-Sas-Sasu..ke-kun" lirih gadis itu,
Seluruh tubuhnya lemas melihat sosok itu tak berdaya dalam penjara mantra sihir wanita iblis itu. Sakura jatuh terduduk. Dia shock melihat keadaan orang yang dicintainya. Luka lebam, sayatan pada tubuhnya membuat darah segar mengalir, wajahnya bertambah sangat pucat dan matanya yang terpejam. Sasuke pingsan dan Keadaannya benar-benar sangat mengenaskan.
"Lepaskan dia! Targetmu adalah aku! Jangan kau libatkan orang-orang disekitarku dalam urusan ini!" bentak Sakura, amarah nya memuncak.
Segalanya terasa sangat berat bagi gadis itu, kepedihan, kecemasan, amarah, dan berbagai perasaan lain mendesak dan menghantam rongga dadanya. Tak lupa pula air mata yang sudah mengalir ikut ambil bagian dalam hal ini.
"Kalau kau menginginkan pemuda ini, datanglah padaku. Berikan apa yang aku mau dan dia akan bebas. Datanglah ke Istana besok malam tepat pukul 12 malam, hime" Seringai kemenangan terlukis diwajahnya, membuatnya terlihat lebih menakutkan dari sebelumnya
"Oh ya, kau harus datang seorang diri. Jika kau datang membawa orang lain, maka pemuda Uchiha yang sangat tampan ini akan menanggung akibatnya. Fikirkan baik-baik keputusan apa yang akan kau ambil, hime." Dan kemudian wanita itu menghilang bersama dengan sosok Sasuke yang terpenjara dalam mantra sihirnya
"TIDAAAAK, SASUKEEEE!" teriak gadis itu histeris
.
.
.
TBC
.
.
.
Area Author:
Hallo minna-saaaaan! Gold balik lagi nih, maaf yaa kalau chapter ini terlalu pendek, karna emang udah porsinya segini hehehe *Ditabok* tapi buat chapter selanjutnya -yang berhubung udah gold selesaikan- itu udah sedikit lebih panjang.
gimana dengan chapter ini? apa yang akan terjadi pada Sasuke? Dan apa yang akan dilakukan oleh Sakura? Mau tau cerita selanjutnya? Review doloooo baru Gold update lanjutannya, okee? Hohoho
Oke deh sekian dolo bacotan dari Gold :) Inget! jangan lupa meninggalkan revie sebelum kalian pergi dari cerita ini :)
