Chapter 10

.

.

.

Kagami melepas seragam PoSA yang melekat ditubuhnya bersama dengan Kuroko juga Kiyoshi. Tidak ada satupun dari mereka yang membuka mulut sejak perintah Hyuuga muncul dari WAP mereka.

"Aku terkejut melihat kalian berdua bisa mengetahui kebohonganku," ucap Kiyoshi lalu tertawa. Kagami mendengus tak senang dan Kuroko tak berekspresi apa-apa.

Kiyoshi menghentikan tawanya dan menutup lokernya pelan. Dia berbalik menatap dua anak buah barunya yang masih memunggunginya karena sibuk dengan kancing kemeja dan dasi.

"Mau dengar kebenaran di balik kasus Bloody Ditch dan siapa Ouji-sama?"

Gerakan tangan Kagami yang sedang menyimpul dasi secara asal-asalan itu terhenti. Kagami menghela napas. Jauh dari lubuk hatinya, sesungguhnya dia tidak ingin membahas bahkan mengingat kasus ini. Kiyoshi sendiri tahu jika dia pemilik level stress paling tinggi semenjak PsychoCyber Detector difungsikan untuk mengukur tingkat stress seseorang itu diaktifkan.

Warna kelabu yang didapat Kagami bulan ini juga sudah cukup banyak, harisen Riko mungkin bisa menghancurkan pinggangnya karena catatan itu.

Meskipun aksinya menembak Mayuzumi siang tadi tidak dicatat, tapi tetap saja, 'kan, jika dipindai sekarang warna emosinya akan tetap kelabu atau bahkan hitam? Kagami ingin menjadi seperti Kuroko yang warnanya selalu hijau cerah sebening kristal. Kagami iri.

"Kiyoshi-kanshikan," ucap Kagami sambil meraih jaketnya dan memakai DiLiator Holder dipinggangnya. "Bisakah Kiyoshi-kanshikan berhenti membicarakan Bloody Ditch dan Ouji-sama? Karena jika kebenaran itu terungkap, untuk apa lagi? Kita tidak bisa mengubah kejadian 10 atau mungkin 11 tahun itu, 'kan? Mayuzumi sudah mati. 104 orang itu juga mati dan aku tetap menjadi penjahat, 'kan? Tidak ada kenyataan yang akan berubah karena kebenaran itu datangnya terlambat."

Kiyoshi terdiam.

BIPP.. BIIPP.. BIIPP

WAP mereka bertiga berbunyi bersamaan.

"Aku sudah tidak peduli soal itu, Kiyoshi-kanshikan. Benar atau tidak, juga tak akan mengubah apapun," Kagami berkata getir sambil memakai jaketnya dan membenarkan tali sepatunya. "Ayo, Kuroko, kita pergi."

Dengan anggukan kecil Kuroko mengikuti Kagami tapi sebelum itu dia membungkuk pada Kiyoshi dan segera menyusul macan liar itu.

Kiyoshi mengepalkan tangannya dan memukulnya pelan pada loker yang tidak bersalah.

.

.

.

Disclaimer : Kuroko no Basuke (c) Tadatoshi Fujimaki

Warning(s) : Baca chapter 1 :)

[A/N : #1 Udah nyaris 6 bulan nggak update. Maaf yaa~ Jadi, ada baiknya minimal baca chapter sebelumnya atau kalau rela mata sakit /plak/ baca kembali dari chapter satu~ sambil review juga boleh. Btw, karya ini udah setahun tiga bulan umurnya XD )

Happy Reading

.

.

.

Mereka berdua di bawa ke TKP dengan mobil pengangkut agen milik biro yang dikendalikan oleh sebuah drone.

Mobil baru dinyalakan saat Kagami memperhatikan Digital Eliminator alias DiLiator ditangannya. Kagami memperhatikan setiap detail benda dengan yang awalnya berbentuk seperti senapan serbu yang akan berubah bentuk dengan membongkar part-part robotiknya dengan sendirinya lalu menyusun ulang dirinya sampai terbentuk sebuah kamar peluru dan tempat magasin bila diaktifkan.

Sementara itu, Kuroko sedang membaca hasil penyelidikan Hyuuga dan yang lainnya pada WAP-nya dengan tenang.

"Hei, Kuroko," ucap Kagami sambil meletakkan DiLiatornya di sampingnya. "Seseorang yang kau sebut sebagai Akashi Seijuurou itu benar-benar Ouji-sama?"

Kuroko mengangkat sedikit alisnya. "Maksud Kagami-kun?"

"Aku memang tidak bisa ingat dengan jelas wajahnya. Aku hanya ingat orang yang kami juluki sebagai Ouji-sama itu pria berambut merah dengan iris heterokromik dan kau menjawab jika seseorang bernama Akashi Seijuurou itu memiliki ciri-ciri bahkan latar belakang yang hampir sama. Jadi, kurasa-"

"Keturunan Akashi semuanya berambut merah dan biasanya putera mahkotanya bermata dwiwarna," potong Kuroko sambil menutup hologram WAPnya.

Kagami melongo. Dia baru dengar tentang fakta itu!

"Jika pernyataan Kagami-kun benar mengenai ciri-ciri dan latar belakang, maka kemungkinan Akashi-sama sebagai Ouji-sama pada kasus sebelas tahun yang lalu bertambah 40 persen."

Kagami menaikkan sebelah alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Kuroko.

"Seingatku, Akashi-sama benci anak kecil. Korban Bloody Ditch kebanyakan anak-anak dan adanya kesamaan ciri-ciri dan latar belakang seperti yang Kagami-kun katakan, maka kemungkinan Akashi-sama menjadi Ouji-sama meningkat."

Kagami mengangguki. Untuk yang satu itu dia mengerti.

Kagami kembali memain-mainkan DiLiator yang tidak aktif itu.

"Apa Kagami-kun ingat seseorang yang bernama Hanamiya Makoto?" Kuroko memulai percakapan baru.

Kagami mengingat-ingat. "Orang yang waktu itu termutilasi oleh laser di apartemen itu, 'kan, eh?"

Kuroko mengangguk. "Dari apa yang kubaca, Hanamiya Makoto juga ada hubungannya dengan Bloody Ditch."

"Ha?"

"Empat raja tanpa mahkota, Hanamiya Makoto, Eikichi Nebuya, Hayama Kotarou, dan Mibuchi Reo, semua memiliki koneksi dengan Zakuran Company. Kalau tidak salah, Hanamiya Makoto-san di bekerja di Divisi Ekonomi, Eikichi Nebuya-san di Divisi Pangan, Hayama Kotarou-san di Divisi Teknologi, dan Mibuchi Reo-san di Divisi Keamanan," jelas Kuroko. "Keempat orang tersebut memang kepala dari divisi-divisi Zakuran Company yang tadi kusebutkan tapi di sebelas tahun yang lalu keempatnya merupakan pengawal pribadi untuk Akashi Seijuurou-sama."

Kagami menggaruk belakang kepalanya. Dia tak mengerti. Kuroko menjelaskan terlalu cepat, seolah-olah dia sedang membicarakan apa yang dipikirannya untuk dirinya sendiri.

"Jadi maksudmu, terlibat atau tidak, keempat orang ini juga mungkin mengetahui sesuatu yang penting mengenai Bloody Ditch, 'kan? Itu yang kau sebut dengan 'hubungan'?"

Kuroko mengangguk.

"Lalu, kasus Drone Days Care, aku memang tidak mendengar penjelasan Aida-san, Kiyoshi-kanshikan, juga Hyuuga-kaichou, tapi dari apa yang kubaca, hasil otopsi untuk semua anak-anak yang kita temukan itu, ada beberapa bekas kekerasan seksual. Organ-organ tubuh yang diambil juga hanya sebatas pada mata dan jantung," Kuroko melanjutkan penjelasannya, kini sambil menyipitkan mata. "Lalu soal apa yang terjadi di Kofuku Circus, ingat soal drone anak-anak berkostum maid itu?"

Kagami mengingat-ingat lalu mengangguk.

"Akhir abad 21, ada desas-desus mengenai isu pengembangan drone berbahan dasar manusia, tepatnya anak-anak. Kalau aku tidak salah, drone itu ditujukan untuk para pedophilia dan percobaan itu dilakukan oleh Zakuran Company. Kagami-kun tahu, 'kan, jika sepuluh tahun yang lalu Zakuran Company mulai vacuum beroperasi? Dan kurasa, alasan kenapa mereka vacuum karena proyek itu betul-betul dijalankan dan agar tidak disorot pers mereka mengalibikan diri dengan memberitakan bahwa mereka vacuum."

"Memanfaatkan anak-anak jalanan untuk dijadikan kelinci percobaan," Kagami menatap langit-langit mobil yang membawanya. "Mungkin alasan mengapa drainase itu dijadikan penampungan adalah untuk itu, menampung anak-anak jalanan dan anak-anak terbuang."

Kagami mengulang kalimat terakhirnya dengan gumaman super kecil. Dia berusaha mencerna kalimat yang diucapkannya tadi dan kening Kagami berkerut.

"Tunggu dulu! jika benar Zakuran di balik proyek drone manusia dan pemilik drainase itu Zakuran, kalau begitu apa fungsi pemerintah pada saat itu? Orang-orang dari pemerintah yang waktu itu mengunci-ngunci kita disitu!"

"Shirogane Eiji-sama, perdana menteri kita pada periode lalu itu pernah menjadi bagian dari Zakuran Company," jawab Kuroko sambil memutar hologram berisi profil mantan perdana menteri, Shirogane Eiji, dari WAP-nya dan menghadapkannya ke wajah Kagami. "Aku tidak tahu apa hubungan mereka tapi kurasa-"

Ucapan Kuroko terhenti ketika mobil berhenti dan pintu terbuka.

Kuroko mengangkat DiLiatornya. "Jika pendapatku benar maka Zakuran Company adalah pemerintah." tukas Kuroko lalu mengaktifkan DiLiatornya. Senjata yang beramunisikan NanoBullet itu segera mengubah dirinya dan menyorot mata sebelah mata Kuroko dengan sinar dari scannernya untuk kepentingan validasi pengguna.

[Agent Kuroko Tetsuya. Confirmed. DiLiator ready to use...]

"Agen Kuroko, Agen Kagami!" Riko memanggil mereka dari bawah sana sementara sibuknya mengatur peta strategi pada hologram yang muncul dan WAP-nya.

Mereka berdua turun dan segera disambut drone yang membawa alat navigator mereka.

Kagami dan Kuroko memasang alat itu pada WAP mereka.

"Kagami-kun," Kuroko berkata sambil memandang Kagami serius. "Semua kebenaran akan terungkap saat kita berhasil memecahkan kasus ini."

"Aku memang tidak mengerti sama sekali," Kagami membuka pengaman DiLiator miliknya. "Tapi kurasa kau benar, kita perlu menyelesaikan kasus ini untuk mengungkap kebenarannya."

Kagami mengacungkan tinjunya. "Lagi-lagi, aku memang tidak tahu apa tujuanmu yang sebenarnya tapi aku partnermu dan kau partnerku. Jadi, ayo selesaikan kasus ini."

Kuroko menyatukan tinju dengan tinju Kagami sambil mengangguk pasti.

.

.

.

Di sisi lain, jauh dari tempat kejadian perkara, seorang pemuda yang nyaris menyentuh usia 28 tahun tersenyum iblis melihat hasil kerjanya.

Hasil kerja kerasnya selamanya nyaris sebelas tahun itu terbayar sempurna dengan matinya 100 orang akibat virus drone yang dibuatnya. Jika pers dan biro konyol yang selama ini jadi musuhnya itu sadar, harusnya mereka sudah mengetahui jika keseratus orang korban itu semuanya memiliki hubungan dengan dirinya.

Dia melirik foto pemuda berambut kelabu dengan mata tanpa ekspresi yang baru saja meninggal siang hari tadi karena dieksekusi. Pemuda itu tidak peduli. Masa bodoh dengan anak buah yang mati demi menjaga rahasia. Semua demi kemenangan perusahaannya.

Pemuda itu menyeruput kopinya santai selagi jari-jarinya menggeser interface-interface hologram yang berisi data-data biro konyol yang selama ini menjadi musuhnya. Dia meletakkan cangkir bercorak unik yang didapatkan dari negara sebelah lalu tertawa. Sistem keamanan biro konyol yang mereka buat rapi selama satu itu mampu dikalahkannya oleh sebuah virus yang dibuat dalam waktu seminggu.

Manik heterokromiknya membulat sempurna saat melihat ada data mantan bawahannya di sana. Seulas seringai tercipta di bibir tipis yang selalu ada untuk menambah efek kemaharajaan dirinya saat dirinya meluncurkan perintah-perintah mutlaknya.

Dia sudah tahu jika hal semacam ini akan terjadi.

Anak buah yang membelot, orang yang melawan kemutlakannya.

Pintu ruang kerjanya terbuka oleh seorang pria dengan badan tinggi ramping dan kulit pucat. "Akashi-sama,"

Pemuda itu menutup hologramnya dan membuang launchernya ke dalam Decomposer. Decomposer mengeluarkan raungan halus saat mengubah launcher itu menjadi debu.

"Ada apa, Mibuchi-san?" tanya pemuda angkuh itu tanpa menatap pria yang notabenenya tiga tahun lebih tua darinya itu.

"Seirin Detective Bureau berhasil melacak markas kita." lapornya tegas. Pemuda itu menyeringai tambah lebar. Semuanya sesuai dengan prediksinya. Lingkaran di iris heterokromiknya kian semakin jelas terlihat. Kekuatan membaca masa depan yang diturunkan keluarganya secara turun-temurun. Mata yang disebut-sebut sebagai Emperor Eye itu aktif.

Dia berdiri dari kursinya. Senyum iblis itu kian melebar.

"Siapkan pasukan!" perintahnya sambil mengacungkan telunjuknya ke wajah laki-laki itu. "Kita tunjukkan kekuatan Zakuran pada mereka."

"Ha'i!" jawab laki-laki sambil membungkuk badan. Pria itu lalu balik kanan dan dengan langkah-langkah tegas juga sederet perintah melalui wireless earphone dan WAP-nya untuk anak-anak buahnya.

Dia duduk kembali di kursinya, melipat tangannya dan tersenyum lebar.

Perang baru saja akan dimulai.

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

Author's Bacot Room :

Allloohhaaa~ *dor

Iya, maafin saya karena nggak update nyaris atau mungkin lebih dari enam bulan. Bukannya apa-apa, setelah update kilat saya yang pertama, saya tiba-tiba kehilangan ide + sense untuk ngerjain fic ini dan saya udah menghabiskan 3 hari+ untuk coba mengingat-ingat dan segera mengetik lanjutannya. Sumimasen deshita~ *bow*

Masalahnya emang cukup kompleks dan itu yang bikin sulit. Jadi, saya akan coba cari penyelesaiannya dulu untuk update-an selanjutnya. Doain bisa update ASAP.

Oh ya, review.

Makasih untuk Misaki Youna, Guest-san, Guest-san, Vitaluge (oh plis, bro, kenapa cuma review satu chapter? eh dia emang otouto saya :v), Shin-chan, sama Crystal Victoria yang udah review. Review kalian yang mengharapkan ini update sampe semuanya dicapslock itu buat saya selalu tersenyum kalau liat-liat ke kotak review :3 Untuk kalian yang udah favorit/follow atau bahkan keduanya juga makasih banget tapi sorry nggak disebutin karena e-mailnya udh tenggelem /plak/

Ah, iya, saya pengen tahu rasa dinominasiin *meaningful smile* Bisa nominasiin fanfic ini untuk genre Sci-Fi? (Readers : KORE KARA ZUTTO DAME DAA!)

Ah, udah deh. Saya ngantuk dan mata saya udah sakit gegara kono fucking asap /Readers : ngomong yang betul kenapa?!/

Saa,

.

.

.

STILL MIND TO REVIEW? Plis, saya mengetik sambil menahan kantuk dan asap /apaan/. Satu review kalian kek satu botol oksigen 10 kg buat saya. Makin banyak, makin cepet updatenya :)

.

.

.

Shintaro Arisa out, nano desu~