Discalimer : Tite Kubo

Rate : T

Genre : Romance

.

WARNING : Typo bertebaran dimana-mana, EYD yang amburaul, Penempatan tanda baca yang tidak sesuai, OOC, Gaje dan masih banyak kekurangannya.

.

.

.

X0X0X0X0X0X0X0X

Sore ini Nemu sang sekretaris mengajak Ulquiorra makan disebuah restaurant ala Perancis untuk merayakan keberhasilan rapat hari ini, dan karena merasa tidak ada Orihime dirumah pria bermata Emerald ini-pun menerima ajakan dari Nemu dan menemani makan gadis cantik bersurai hitam panjang terkepang itu.

"Anda ingin memesan apa Tuan?" tanya Nemu dengan antusias.

"Apa saja, yang menurutmu enak," Ulquiorra menanggapinya datar.

Gadis cantik ini-pun memesan beberapa makanan mewah dan minumannya ia memesan wine terbaik yang dimiliki oleh restaurant ini. Dan setelah menunggu beberapa lama akhirnya pesanan mereka berdua tiba, dan dua orang pelayan terlihat membawakan berbagai hidangan makanan.

"Maaf menunggu lama, ini pesanan anda Tuan dan Nyonya." Para pelayan-pun menghidangkan makanan diatas meja.

Lalu seorang pelayan datang dengan membawakan sebotol wine kemudian menuangkan wine itu ke gelas Ulquiorra dan Nemu.

"Silahkan menikmati hidangan dan minumanya, Tuan dan Nyonya." Para pelayan-pun pergi meninggalkan meja.

"Terima kasih." Ucap Nemu ramah.

Pria bermata Emerarld ini meminum sedikit winenya, "Mari bersulang," Ulquiorra mengangkat tinggi gelasnya kearah Nemu dan dengan senang hati Nemu-pun mengakat tinggi gelasnya kemudian bersulang bersama.

"Wine ini sangat enak." Gumam Ulquiorra.

"Ya." Sahut Nemu yang tersenyum bahagia menatap sang bos.

Disaat Ulquiorra hendak meletakkan gelas winenya tiba-tiba gelas yang tengah dipegangnya terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

PRANGG...

Gelas itu-pun langsung pecah berkeping-keping dilantai restaurant, Ulquiorra menatap nanar pecahan gelas kaca yang tersebar di bawah kakinya, raut wajahnya langsung terlihat pucat pasi.

"Tuan!" seru Nemu kaget.

Para pelayan yang mendengar suara pecahan gelas, langsung datang menghampiri Ulquiorra dan Nemu seraya membersihkan pecahan gelas yang berserakan dilantai.

"Tuan apakah ada yang terluka!" seru para pelayan.

"Tidak." Wajah Ulquiorra terlihat bengong memikirkan sesuatu.

DEG...DEG...DEG...

Tiba-tiba jantungnya terasa berdebar-debar dan juga sakit.

"Ada apa ini?" batin Ulquiorra seraya memegangi dadanya.

Tiba-tiba saja Ulquiorra langsung kepikiran tentang sang istri, dan perasaannya menjadi tidak enak saat memikirkan Orihime.

"Hime." Gumamnya.

"Tuan, ada apa? Sepertinya anda tengah memikirkan sesuatu?" Nemu menatap cemas sang bos.

"Tidak Nemu, aku hanya memikirkan tentang Hime," Ulquiorra langsung meraih ponsel canggihnya dan menghubungi Orihime akan tetapi setelah mencoba beberapa kali hasilnya nihil, istrinya tidak mengangkat telpon darinya dan ini semakin membuatnya cemas juga khawatir.

Nyut'

Hati Nemu lagi-lagi harus merasakan sakit dan nyeri, saat dengan mudahnya Ulquiorra mengatakan kalau dirinya tengah memikirkan tentang Orihime, padahal saat ini mereka tengah bersama tak bisakah pria bermata Emerald itu melupakan tentang gadis bersurai orange kecokelatan itu walaupun hanya sesaat.

"Jika anda sebegitu khawatir padanya, kenapa anda tidak menemuinya saja," ucap Nemu dengan senyum yang dipaksakan.

"Ide bagus, kalau begitu aku akan pergi menemui Hime," Ulquiorra mengambil jasnya yang ia letakkan dibangkunya.

"Maafkan aku Nemu karena tidak bisa menemani makan." ujar Ulquiorra sedih.

"Aku tidak apa-apa kok Tuan, sudah pergi sana." Usir Nemu dengan menahan tangisnya.

"Terima kasih. Aku pergi dulu." Pamit Ulquiorra dan dengan cepat pria bermata Emerald itu keluar dari restaurant dan menuju mobilnya.

Tes...

Bulir air mata langsung keluar dari kedua mata hijau milik gadis cantik bersurai hitam panjang terkepang ini. Nemu meremas kuat tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat memutih.

"Aku sangat membencimu, Orihime." Batin Nemu.

*#*

Ulquiorra berjalan tergesa-gesa menuju mobil mewahnya yang terparkir di depan restaurant. Melihat sang Tuan datang dengan sigap Starrk langsung membukakan pintu mobil bagian belakang.

"Starrk, antarkan aku ke Okinawa sekarang juga." Perintah Ulquiorra.

"Baik, Tuan." Starrk-pun langsung melajukan mobilnya dengan cepat menuju Okinawa.

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, akhirnya Ulquiorra sampai di penginapan tempat Orihime dan teman-teman sekolahnya mengadakan acara study tour. Pria tampan bermata Emerald ini terlihat menolehkan kepalanya kekanan dan kekiri mencari keberadaan Orihime, tanpa mempedulikan tatapan kagum, terpesona dari para gadis yang melihatnya. Saat ini dirinya benar-benar ingin bertemu dengan sang istri, Orihime demi menenangkan perasaan hatinya yang tengah risau.

"Kyaa! Tampan sekali." Jerit para gadis histeris.

"Apa pria itu artis? Wajahnya sangat tampan!" seru Chizuru.

"Tapi sepertinya ia tengah mencari seseorang?!"

"Ya, kau benar." Timpal Chizuru.

Para gadis masih berdiri mengelilingi Ulquiorra akan tetapi tidak berani atau bisa mendekat karena ada Starrk yang menjaganya. Melihat para gadis berkerumun membuat seorang gadis cantik bermarga Kuchiki penasaran dan datang mendekat, terlebih saat tahu kalau di tengah-tengah kerumunan itu ada Ulquiorra suami dari temannya, Orihime.

DRAP...DRAP...DRAP...

Seorang gadis cantik bersurai hitam terlihat berlari menghampiri Ulquiorra dan Starrk ditengah kerumunan para gadis.

"Minggir, beri aku jalan." Rukia menerobos masuk dan mendekat pada Ulquiorra.

"Tuan Ulquiorra?!" seru Rukia.

"Selamat malam, Nona Rukia Kuchiki." Sapa Starrk sopan.

"Selamat malam juga, ada apa Tuan Ulquiorra kemari?" tanya Rukia bingung.

"Aku ingin bertemu dengan Hime, dimana ia sekarang?"

"Saat ini Orihime tengah mengikuti lomba uji nyali dihutan demi memenangkan hadiah makan gratis selama tiga bulan di kantin juga uang tunai sebesar lima ratus ribu yen." Jelas Rukia.

"Apa?" Ulquiorra terlihat kaget mendengarnya.

Para siswi terlihat sangat sebal dan kesal karena pria tampan itu adalah kenalan dari Rukia dan mereka harus membubarkan diri sebelum terkena amukan dari Rukia yang merupakan juara juudo nasional.

"Ayo, kita pergi. Disini sudah tak asik lagi." Dengus Chizuru.

"Ternyata kau sangat ditakuti juga ya, Rukia." puji Ulqiorra.

"Anda terlalu berlebihan Tuan." Wajah Rukia sedikit tersipu malu mendapat pujian dari Ulquiorra.

Tiba-tiba saja saat mereka tengah berbincang-bincang terjadi kehebohan karena dua orang siswi yang merupakan teman se-tim Orihime terlihat berlari ketakutan dengan berlinang air mata dan setelah ditanya oleh para Sensei, mereka berdua mengatakan kalau kini Orihime tengah berada dalam bahaya karena dihadang oleh seorang penjahat.

Kedua mata Ulquiorra membelalak dengan sempurna mendengarnya dan tanpa berkata apa-apa lagi, pria tampan bermata Emerald ini langsung masuk kedalam hutan mencari sang istri. Ternyata firasatnya sangat tepat mengenai istrinya, karena saat ini Orihime tengah berada dalam bahaya.

"Unohana, cepat hubungi polisi dan kau Zaraki juga para Sensei yang lainnya ikut aku kedalam hutan mencari Orihime." Ujar Urahara panik.

Seluruh murid langsung diungiskan ketempat aman dan acara uji nyali ini-pun dihentikan karena adanya bahaya yang mengancam dihutan. Dan seketika keadaan dipenginapan dekat pantai langsung heboh dan kepanikan terjadi pada para murid.

.

.

.

Seorang gadis bersurai orange kecokelatan terlihat tengah terbaring diatas tanah dengan bersimbah darah dan didepan sang gadis ada seorang pria aneh dengan pisau panjang ditangannya yang terdapat noda darah dan bisa dipastikan kalau darah yang ada dipisaunya adalah milik gadis bersurai orange kecokelatan itu.

"Saatnya mengucapkan selamat tinggal, Nona." Ucapnya dengan menyeringai kejam seraya menusukkan pisaunya pada punggung Orihime.

BUAK...

Sebelum pria itu menusukkan pisaunya, Ulquiorra keburu datang dan memukulnya hingga jatuh tersungkur ketanah, pisau yang berada ditangannya-pun terlepas.

"Siapa kau? Menggangu kesenanganku saja," penjahat itu menatap dingin Ulquiorra.

"Akan kubunuh kau!" Ulquiorra melayangkan kembali pukulannya pada penjahat itu dan memukulnya dengan membabibuta.

Darahnya terasa mendidih dan panas saat melihat keadaan Orihime yang bersimbah darah, tak akan pernah ia biarakan siapapun melukai wanita yang dicintainya.

"Ugh!" pria itu mengeluarkan darah dari mulutnya, keadaan pria itu benar-benar sangat menyedihkan sekali dengan wajah yang babak belur dan luka lebam dimana-mana.

Melihat ada pisau didekatnya, Ulquiorra mengambilnya, lalu menghunuskan ke perut pria itu dan saat hendak menusuknya ia mendengar suara rintihan dari Orihime membuatnya tersadar dan menghentikan perbuatannya.

"U..Ul..q..i..orra...kun..." rintih Orihime.

"Hime..." Ulquiorra berlari menghampiri tubuh Orihime, dan langsung menggendong tubuh sang istri yang berlumuran darah.

"Bertahanlah Hime, aku akan membawamu kerumah sakit." Ulquiorra menatap nanar sang istri.

Disaat Ulquiorra sibuk menolong Orihime, penjahat itu menggunakan kesempatan dan hendak menusuk punggung Ulquiorra akan tetapi niatnya dihentikan oleh Starrk yang datang bersama dengan para Sensei yang ikut membantu mencari Orihime.

BUAGH...

"Akh..." pejahat itu langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri terkena pukulan dari Starrk yang merupakan mantan petinju profesional.

"Tuan, apakah anda tidak apa?" tanya Starrk cemas.

"Starrk cepat bawa aku kerumah sakit." Ujar Ulquiorra seraya berlari membawa tubuh Orihime keluar dari hutan tanpa memperdulikan para Sensei yang menatap dirinya bingung.

DRAP...DRAP...DRAP...

Ulquiorra berlari sekuat tenaga membawa tubuh Orihime, dan saat ia keluar dari hutan menggendong tubuh Orihime yang bersimbah darah. Dirinya langsung menjadi pusat perhatian semua orang dan tatapan mereka saat melihat Orihime adalah ngeri, takut, kasihan pada gadis bersurai orange kecokelatan itu.

"Orihime!" Rukia berlari menghampiri Ulquiorra dan betapa terkejutnya gadis cantik ini saat melihat kondisi sahabatnya.

"Astaga!" tubuh Rukia terasa kaku dan mati rasa melihat sahabatnya yang bersimbah darah.

Ulquiorra langsung membawa Orihime kerumah sakit terdekat dengan ditemani oleh Rukia dan Urahara Sensei yang merupakan wali kelas Orihime yang juga ikut pergi kerumah sakit.

*#*

BRAK...

"Dokter, suster tolong ada pasien darurat..." teriak Ulquiorra dengan keras yang suaranya langsung menggema ke seluruh koridor rumah sakit.

Beberapa perawat langsung datang menghampiri Ulquiorra, "Tolong letakkan dia di atas sini."

Ulquiorra-pun membaringkan tubuh Orihime yang berimbah darah ke atas ranjang dan para suster langsung berlari membawa tubuh Orihime ke dalam ruangan UGD. Sementara itu, Urahara, Rukia dan Starrk terlihat cemas dan gelisah menunggu di depan ruangan UGD.

Belum juga ada lima menit Orihime berada di ruangan itu, para perawat terlihat berlarian panik membawa tubuh Orihime keruangan operasi.

"Suster mau dibawa kemana dia?" tanya Ulquiorra panik.

"Kami harus segera melakukan operasi." Jawab seorang perawat.

"Apa? Operasi?!" seru Ulquiorra kaget.

"Ya, karena luka yang dialaminya sangat parah dan kami harus melakukan operasi untuk menghentikan pendarahannya." Jelas seorang perawat.

Para perawat-pun langsung membawa tubuh Orihime masuk kedalam ruang operasi, dan tak lama seorang dokter menghampiri Ulquiorra.

"Kami butuh persetujuan dari keluarganya untuk melakukan operasi ini, karena kemungkinan berhasilnya operasi ini hanya empat puluh persen." Ujar sang dokter yang langsung membuat raut wajah Ulquiorra dan yang lainnya kaget.

"Gadis itu..."

"Aku suaminya, lakukanlah operasi itu dokter." Potong Ulquiorra yang langsung membuat raut wajah Urahara kaget dan syok mendengarnya.

"Baiklah, kalau begitu anda bisa datang ke resepsionis untuk mengurusnya." Ucap sang dokter seraya berlalu pergi.

"Terima kasih dokter." Sahut Ulquiorra sendu.

"Starrk tolong kau urus semuanya." Ulquiorra terlihat jatuh terduduk lemas di bangku ruang tunggu didepan ruang operasi.

"Baik Tuan." Starrk-pun pergi ke recepsionis dan mengurus semua biaya administrasi rumah sakit.

Ulquiorra merasa seluruh tubuhnya terasa sangat lemas dan tak bertenaga sama sekali, diam-diam tanpa mereka semua sadari kalau sejak menggendong Orihime tubuhnya gemeteran, karena takut juga syok melihat keadaan Orihime.

"Ya, Tuhan selamat dia. Jangan kau ambil dia dariku." Batin Ulquiorra.

Sementara itu Urahara Sensei masih terlihat syok sekali dengan ucapan dari Ulquiorra, dan Rukia yang mengerti akan raut wajah sang Sensei-pun membenarkan perkataan dari pria bermata Emerald itu, dan jika Urahara Sensei menginginkan penjelasan Rukia siap menjelaskan semuanya pada wali kelasnya itu.

"Ak..."

"Jika anda menginginkan penjelasan, besok pengacaraku akan datang dan menjelaskan semuanya pada anda juga pihak sekolah." Potong Ulquiorra.

Urahara terdiam mendengarnya dan tak bisa berkomentar apapun, ia pun duduk disamping Ulquiorra dan menepuk pelan pundak pria bermata Emerald itu yang merupakan sebuah dukungan untuknya.

"Terima kasih." Ucap Ulquiorra sendu.

Semua orang terlihat duduk lesu menunggu operasi yang tengah dilakukan seraya berdoa di dalam hati mereka masing-masing demi keselamatan nyawa Orihime juga keberhasilan operasi yang dijanalaninya.

Dan setelah menunggu hampir dua jam, akhirnya pintu operasi terbuka.

KLEK...

Seorang dokter muda bersurai hitam pendek yang masih mengenakan seragam lengkap operasi ke luar dari ruangan operasi.

"Bagaimana keadaannya dokter?" tanya mereka semua bersamaan.

"Kami sudah melakukan semampu kami, dan berkat doa anda juga keajaiban dari Tuhan. Gadis itu selamat, namun saat ini ia masih mengalami masa kritis." Jelas sang dokter yang langsung membuat wajah mereka terlihat lega dan senang.

"Syukurlah." Ujar Rukia yang terlihat bernafas lega.

"Terima kasih Tuhan, kau sudah menjaganya." Gumam Ulquiorra dengan haru.

Orihime di bawa keruangan perawatan dengan selang oksigen terpasang di mulutnya juga beberapa selang infus di tangannya, akan tetapi hanya pihak keluarganyalah yang bisa melhat dan menemani Orihime.

"Maaf, di antara kalian siapa yang keluarga dari Nona Orihime Inoue?" tanya seorang suster.

"Saya keluarga gadis itu." Jawab Ulquiorra.

"Kalau begitu saya akan mengantarkan anda kemarnya."

Sesaat sebelum pergi Ulquiorra mengucapkan banyak-banyak terima kasih pada Rukia dan Urahara Sensei karena sudah menemaninya menunggu Orihime dirumah sakit.

"Terima kasih atas bantuannya, dan ikut menemani saya disini." Ulquiorra membungkukkan tubuhnya dalam-dalam.

"Sama-sama Tuan, saya dan Rukia mohon diri untuk kembali ke penginapan dan melihat keadaan anak murid yang lainnya." Pamit Urahara.

"Saya pamit dulu Tuan Ulquiorra, jika ada waktu saya akan datang menjenguk." Ujar Rukia.

Ulquiorra hanya tersenyum kecil menanggapinya, mereka berdua pergi meninggalkan rumah sakit, dan Ulquiorra mengikuti kembali sang suster kekamar Orihime.

"Ini kamarnya Tuan dan Nona Orihime ada di dalam. Jika ada apa-apa anda bisa meminta bantuan pada kami." Ucap sang suster sesaat sebelum pergi meninggalkan kamar.

"Baik, terima kasih suster." Balas Ulquiorra dengan datar.

Ulquiorra membuka pintu kamar Orihime, dan dengan langkah kaki yang sedikit berat ia masuk kedalam. Tatapan matanya terlihat sendu menatap sang istri yang terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang.

"Hime." Ulquiorra terduduk lesu di samping ranjang sang istri.

Ia membelai pelan rambut Orihime, "Hime." Panggilnya dengan lembut.

Tanpa sadar air matanya jatuh menetes saat ia mengecup pelan kening sang istri, betapa hatinya terasa sangat pilu dan sedih melihat keadaan sang istri saat ini. Jika saja dirinya bisa menggantikan posisi sang istri dan terbaring di atas ranjang atau berbagi luka yang dirasakan oleh Orihime, ia mau melakukannya asalkan itu bisa meringankan dan menghilangkan penderitaan dari Orihime.

.

.

.

KRINGGG...KRINGGG...

Seorang wanita cantik bersurai hijau panjang terlihat berjalan cepat menuju telpon dan langsung mengangkatnya.

"Halo, kediaman keluarga Kurosaki disini. Ad..." ucapan terhenti dan kedua matanya terlihat membelalak sempurna entah siapa yang tengah menghubunginya, akan tetapi ucapan dari orang itu membuat wanita ini sangat kaget sekali.

"Te-terima kasih atas pemberitahuannya." Wanita cantik ini langsung menaruh cepat gagang telponnya dan bergegas berlari ke kamar utama.

DRAP...DRAP...DRAP...

"Ichi-kun..." panggilnya panik.

Ichigo yang tengah membaca buku di ruang baca terlihat kaget dengan teriakkan dari sang istri terlebih raut wajah Nelliel terlihat kaget dan panik.

"Ada apa sayang?" tanya Ichigo lembut.

"Kita harus ke Jepang, Ichi-kun," pinta Nelliel tiba-tiba.

"Untuk apa? Bukankah saat ini kau sedang hamil, tidak baik untuk kandunganmu jika kau berpergian jauh," tolak Ichigo lembut.

"Orihime masuk rumah sakit dan saat ini tengah kritis, kita harus menemui Ulquiorra untuk memberinya semangat. Aku mohon padamu Ichi-kun." Rajuk Nelliel pada sang suami.

"Jika kau tidak mau, aku akan mogok makan." Ancam Nelliel.

"Haah~~" Ichigo menghela nafasnya pelan.

Pria tampan bersurai orange ini melepaskan kaca mata bacanya dan menatap panuh kasih pada sang istri, "Baiklah, kita akan pergi ke Jepang." Ichigo memenuhi keinginan sang istri.

GYUT'

Nelliel langsung memeluk erat Ichigp lalu mencium pipi sang suami dengan penuh cinta, "Kau memang baik sekali Ichi-kun, aku mencintaimu."

Ichigo hanya tersenyum menanggapi perkataan sang istri, disaat Nelliel tengah merapihkan pakaian dan barang untuk ke Jepang. Pria bersurai orange ini menghubungi pilot pribadinya agar segera menyiapakan jet pribadinya dengan rute penerbangan ke Jepang hari ini juga.

X0X0X0X0X0X0X0X

Acara study tour tahun ini untuk anak kelas tiga, berbuah hal yang menyedihkan karena terjadinya tragedi penusukkan pada Orihime. Dan dengan terpaksa acara study tour ini di hentikan, pihak sekolah-pun membatalkan acara ini, pihak sekolah-pun ikut berduka dengan kejadian ini dan mendoakan kesembuhan untuk Orihime.

Para keluarga dari para murid langsung berdatangan ke penginapan setelah diberitahu oleh pihak sekolah, untuk menjemput anak mereka dan membawanya pulang tak terkecuali dengan Rukia yang datang dijemput oleh sang kakak, Byakuya Kuchiki.

"Kakak!" seru Rukia.

"Kau tidak apa-apa Rukia? Kakak sangat mengkahawtirkan keadaanmu." Byakuya menatap cemas sang adik.

"Aku tidak apa-apa Kakak."

"Kalau begitu, ayo kita pulang. Kau harus berada dirumah dan beristirahat." Byakuya meraih tangan sang adik dan membawanya masuk kedalam mobil.

Byakuya membawa Rukia pulang kerumah dan meminta sang adik untuk sementara waktu untuk berada dirumah dan melarangnya menjenguk Orihime dirumah sakit untuk sementara waktu.

Setelah sehari pasca operasi Ulquiorra lansung membawa Orihime kerumah dan menjalani perawaran intensif dirumah agar dirinya bisa mengawasi juga memantau keadaan Orihime setiap saat, mengingat ada Ichigo yang merupakan dokter yang cukup terkenal di Amerika dan Ukitake yang merupakan dokter pribadi keluarganya, keduanya bisa merawat dan mengecek kondisi Orihime setiap saat.

Karena kejadian ini untuk sementara Ulquiorra tidak masuk kekantor dan menyerahkan semua pekerjaannya pada Nemu, orang kepercayaannya. Karena dirinya tidak mungkin bisa bekerja saat tahu sang istri tengah terbaring tak sadarkan diri.

*#*

Seorang wanita cantik bersurai hijau panjang berjalan tergesa-gesa menuju kamar utama dan para pelayan yang melihat wanita cantik dan pria bersurai orange yang berjalan disamping wanita itu itu langsung memberikan salam.

"Selamat datang Nona Nelliel, Tuan Ichigo." Para pelayan membungkukkan tubuh mereka.

Ichigo hanya tersenyum membalas sapaan dari para pelayan, dirinya terlihat berjalan cepat mengikuti langkah kaki sang istri yang tak sabaran menemui Ulquiorra, "Nelliel-chan, pelan-pelan jalannya, ingat saat ini kau tengah hamil." Ichigo mengingatkan sang istri tentang kandungannya.

Akan tetapi sepertinya sang istri tidak mengidahkannya dan terus saja berjalan hingga ia sampai didepan utama lalu membukanya dengan keras.

BRAK...

"Ulqiorra..." panggil Nelliel seraya menghambur masuk kedalam kamar.

"Kakak?!" seru Ulquiorra kaget.

Nelliel berjalan menghampiri Ulquiorra yang duduk disamping ranjang, "Bagaimana keadaannya?" tanya Nelliel yang sedih melihat keadaan Orihime.

"Ia masih belum mau membuka kedua matanya," jelas Ulquiorra sendu.

Nelliel menatap sendu penampilan sang adik yang terlihat berantakan sekali juga kusut, mengingat Ulquiorra terus menunggu Orihime hingga siuman tanpa mau digantikan oleh siapapun.

"Beristirahatlah, kakak dan Ichi-kun akan menjaganya untukmu," ujar Nelliel pada sang adik.

"Tidak kak, ak..."

"Jika kau memang perduli pada Orihime, kau juga harus menjaga kesehatanmu. Aku sudah menyuruh Lilly untuk membuatkan makanan. Beristirhatlah sebentar Ulquiorra percayakan Orihime pada kami," ucap Nelliel.

Ulquiorra-pun mendengarkan perkataan sang kakak, pria tampan bermata Emerld ini bangun dari duduknya lalu berjalan kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah mandi dan berganti pakaian yang lebih santai, Ulquiorra keluar dari dalam kamar dan menghampiri Nelliel dan Ichigo.

"Kapan kalian datang kemari? Bukankah kakak sedang hamil?" tunjuk Ulquiorra pada perut Nelliel yang terlihat sedikit membucit.

"Kau seperti tidak mengenal kakakmu saja Ulquiorra, jika ia sudah menginginkan sesuatu harus didapatkannya." sindir Ichigo dan Nelliel langsung menggembungkan kedua pipinya menatap sebal kedua pria yang berbeda warna rambut itu.

Dengan kedatangan Nelliel dan Ichigo membuat perasaan Ulquiorra menjadi sedikit lebih tenang.

X0X0X0X0X0X0X0X

Seorang pria tampan bersurai putih pendek terlihat duduk tenang dikursi ruang kerja milik Ulquiorra, pria ini terlihat santai menikmati teh aroma mawar yang disajikan oleh para pelayan. Pria tampan ini datang untuk melaporkan hasil penyelidikan polisi mengenai pria yang menyerang Orihime.

"Pria itu adalah Yammy Riyalgo, seorang penjahat kelas kakap yang kabur dari penjara satu minggu yang lalu," pria itu meletakkan cangkir tehnya dan menatap serius wajah Ulquiorra.

"Aku ingin penjahat itu dihukum seberat-bertanya, Gin. Aku ingin ia mendapatkan ganjaran karena berani melukai istriku," Ujar Ulquiorra dengan penuh emosi pada pengacar pribadinya itu.

"Tenang-lah Ulquiorra, aku akan menjebloskan penjahat itu kedalam penjara selama-lamanya." Janji Gin pada pria bermata Emerald itu.

"Aku pegang perkataanmu Gin."

"Percayalah padaku, Ulquiorra." Ujar Gin seraya tersenyum lebar.

Setelah menyampaikan laporan pada Ulquiorra, pria tampan bersurai putih pendek itu-pun pamit pulang dan kembali ke kantornya.

"Terima kasih atas bantuannya, Gin." Ulquiora menjabat erat tangan Gin.

"Sama-sama, kalau begitu aku pergi." Ucap Gin seraya berjalan menuju pintu, dan saat membuka pintu seorang gadis bermata hijau terlihat tengah berdiri seraya mendekap beberapa map dan tas kecil yang berisikan laptop didalamnya.

Gin tersenyum kecil menatap sekretaris pribadi Ulquiorra itu, "Selamat sore, Nona Nemu." Sapanya ramah.

"Selamat sore juga, Tuan Gin." Balas Nemu sopan.

Setelah bertegur sapa dengan gadis cantik itu, Gin-pun pergi meninggalkan ruang kerja Ulquiorra.

Sore ini Nemu datang ke rumah Ulquiorra untuk memberikan dan menyampaikan hasil laporan rapat dan keja hari ini, dengan lancarnya Nemu menjelaskan semua hasil laporan yang dikerjakan hari ini. Ulquiorra terlihat sangat fokus dan menyimak dengan baik setiap perkataan dari Nemu menjelaskan tentang hasil laporan yang dibuat oleh gadis bermata hijau itu, sedangkan Nemu terlihat diam-diam mencuri pandang pada pria tampan disebelahnya ini.

"Kerja yang bagus Nemu, aku sangat senang dengan semua hasil laporan yang telah kau buat," Ulquiorra mengelus pelan puncak kepala Nemu.

Blush'

Rona merah terhias di pipi putihnya, "Te-terima kasih, Tuan." Ucap Nemu malu.

"Pasti selama beberapa hari ini kau sangat sibuk mengerjakan perkerjaanku, dan aku sangat berterima kasih padamu Nemu." Ulquiorra memperlihatkan senyuman hangatnya, dan jantung Nemu langsung berdetak dengan keras melihat senyuman Ulquiorra.

*#*

Putih dan juga putih itulah warna yang dilihatnya disekitarnya saat Orihime terbangun, tak ada warna lain selain warna putih yang terhampar luas sejauh mata memandang, tak hanya itu saja dirinya mengenakan gaun berwarna putih juga.

"Dimana aku!? Apakah aku sudah mati?" tanya Orihime dalam hatinya.

Saat dirinya hendak berjalan tiba-tiba saja seorang pria bersurai hitam menghampirinya. Pakaian yang dipakai oleh pria itu, sama dengan yang dikenakan olehnya. Orihime tertegun sesaat melihat pria itu, dirinya merasa sangat mengenal sosok pria yang ada dihadapannya saat ini. Air mata Orihime langsung jatuh melihat pria yang selama ini dirindukan olehnya.

"Apa kabar adik kecilku?"sapa pria itu dengan lembut dan diiringi oleh senyuman hangat darinya.

"Kakak," ucap Orihime dengan diiringi air mata, kini dirinya ingat dengan sosok pria yang ada dihadapannya saat ini. Yang tak lain adalah kakak kandung, Sora Inoue.

"Kak Sora, aku sangat rindu padamu,"isak Orihime dalam pelukkan sang kakak.

"Kakak, juga sangat rindu padamu Hime."ujar Sora yang saat ini mengelus pelan puncak kepala sang adik.

"Apakah aku sudah mati dan bisa bersama-sama dengan kakak." tanya Orihime dengan menatap bingung sang kakak.

Sora hanya tersenyum kecil pada sang adik, ia membelai lembut kepala Orihime. Tiba-tiba terlihat sebuah cahaya yang sangat menyilaukan mata terihat didepan mereka berdua.

Sora melepaskan pelukkan Orihime dan menatap kilauan cahaya putih itu, "Sudah saatnya," ujar Sora tiba-tiba.

Orihime menatap bingung sang kakak, "Maksud kakak, apa?!"

"Kau harus pulang Hime," Sora menatap lembut dan penuh kasih pada Orihime.

"Pulang?! Aku tidak mau, aku ingin disini saja bersama dengan kakak." Orihime memeluk kembali tubuh Sora. Ia tidak mau berpisah lagi dengan sang kakak, dirinya ingin ikut pergi dengan sang kakak dan tinggal bersama dengannya selama-lamanya.

Namun Sora melarangnya, belum saatnya Orihime pergi ketempatnya. Karena didunia sana, masih ada orang-orang yang menunggu dan mecintai Orihime dengan sepenuh hatinya dan tiba-tiba saja Sora menampilkan wajah Ulquiorra yang terlihat sedih menunggunya kembali.

Tes...

Seketika air matanya langsung menetes menatap wajah Ulquiorra yang merupakan suaminya, orang yang dicintainya. Dirinya lupa kalau didunia sana, masih ada orang yang akan selalu menjaga, melindungi, mencintainya dan menyangnginya dengan setulus hati.

"Ulqui-kun..." isak Orihime.

PUK...

Sora membelai kepala sang adik, "Kakak akan selalu menjaga dan melindungimu, kembalilah Orihime dan berbahagialah bersamanya." Ucap Sora lembut.

Tiba-tiba saja Ulquiorra datang seraya mengulurkan tangannya, wajahnya tersenyum hangat padanya, dengan ragu Orihime meraih tangan pria bermata Emerald itu dan menggenggamnya dengan erat.

Tak lama tubuh Sora mulai menghilang dalam kilauan cahaya putih itu, sesaat sebelum menghilang Sora tersenyum menatap sang adik, "Selamat tinggal, Hime."

"Kakak." Jerit Orihime.

Setelah koma selama tiga hari akhinya Orihime membuka kedua matanya, dan menampilkan manik abu-abunya. Nelliel yang tengah menjaganya terlihat senang dan langsung memeluk erat tubuh Orihime.

"Kakak..."

"Syukurlah, kau sudah siuman Orihime-chan. Betapa aku dan Ulqiorra sangat mencemaskan keadaanmu." ujar Nelliel yang terdengar terisak.

"Terima kasih." Ucap Orihime pelan.

BRAK...

Terdengar suara pintu kamar yang terbuka dan menampilkan seorang pria bersurai hitam yang terlihat berjalan cepat menghampiri Orihime dan Nellile, tanpa berkata apa-apa pria bermata Emerald ini langsung memeluk tubuh Orihime dengan erat.

"Hime..." bisiknya, yang terdengar lirih ditelinga Orihime.

"Ya, Ulquiorra-kun." Orihime membalas pelukkan dari Ulquiorra.

"Aku sangat merindukanmu, teramat sangat." Ulquiorra semakin mengeratkan pelukkannya.

Orihime hanya bisa diam dan membiarkan sang suami memeluknya, dan adegan yang tengah dilakukan oleh Ulquiorra pada Orihime, membuat seorang gadis cantik bersurai hitam panjang terkepang merasa sedih, marah juga terluka. Terlebih pria bermata Emerald itu mencium mesra Orihime didepan matanya, membuat hatinya terasa sangat sakit dan tanpa disadari air matanya jatuh menetes menyaksikan adegan mesra itu.

Tes...

"Ulquiorra-kun." Gumamnya tak percaya.

DRAP...

Nemu langsung berlari meninggalkan kamar utama dengan berlinang air mata, ia pergi dari kediaman mewah itu tanpa pamit pada Ulquiorra. Hatinya benar-benar sangat sakit sekali, sudah cukup kesabarannya selama ini. Segala cara akan dilakukannya agar Ulquiorra menjadi miliknya, bahkan bekerja sama dengan orang yang sangat dendam pada Ulquiorra.

"Baiklah aku terima tawaranmu, aku akan membantumu menyusup kedalam keluarga Schiffer." Ujar Nemu ditelponnya.

TBC

A/N : Kenapa jalan ceritanya jadi kayak gini ya? Aneh, gazebo?!

# Bungkuk badan dalam-dalam.

Mohon maaf kalau tidak sesuai, awalnya Inoue ingin menamatkan Fic ini di dua atau tiga chapter lagi, akan tetapi Inoue takut kalau nantinya endingnya akan terlihat seperti dipaksakan. Karena kesibukan Inoue dan waktu luang yang jarang, jadiya Fic ini sedikit terabaikan mohon maaf sebesar-besarnya kalau Inoue Update Fic ini telat bangettttttt.

Tentaiki H Funf : Maaf ya kalau kelanjutannya feel Ulquihimenya ga dapet, tapi Inoue usahakan kalau Chpater selanjutnya akan lebih dapet fellnya. Terima kasih sudah membaca Fic Inoue.

Moku-chan : Lukanya parah sih, tapi tenang saja Orihime masih bisa selamat # Kalo Orihimenya mati nanti Ulquiorra-nya bakalan sedih.

guest : Orihimenya ga mati kok. Dan buat Nemu, dia akan berbuat sesuatu untuk medapatkan Ulquiorra.

Hyou Hyouichiffer : Hime ga mati kok dan yang nolonginnya Ulquiorra. Maaf ya Inoue updatenya lama banget.

GooKein65 : Orihime ga mati kok, kasihan sama Ulquiorra kalau Orihime mati.

reina : terima kasih sudah membaca Fic Inoue, semoga suka dengan kelanjutannya.

hiru nesaan : Hime selamat kok sesuai dengan harapan, semoga senang dengan kelanjutannya.

nur : Maaf ya Inoue baru bisa update.

Guest : sip.

liana : Maaf sudah membuat anda menunggu lama, Inoue minta maaf banget. Ini sudah Inoue lanjutkan semoga suka dengan kelanjutannya.

Yumiharizuki : Terima kasih sudah menyukai cerita Inoue, maafkan Inoue karena tidak bisa mengupdate Fic ini cepat.

Mohon maaf jika ada kesalahan pengetikan nama.

Buat kelanjutan cerita ini Inoue lagi-lagi tidak bisa janji bisa mengupdate cepat namun akan Inoue usahakan untuk mengupdate Fic ini jika ada waktu.

Terima kasih sudah membaca Fic ini.

Inoue Kazeka.