Disclaimer : Hunter x Hunter, togashi yoshihiro

Pairing : KilluaxOC

Category: tragedy, Hurt/Comfort.

Rated : T.

Warning : bisa ketularan gaje (?)

Mumpang mumpung lagi ga ada kerjaan sebelum ujian madrasah lagi tanggal 9 maret, jadi ai sempetin deh nulis chapter 10. Tadi ai liat ada review baru, katanya pengen diupdate lagi chapter selanjutnya akhir minggu ini, jadi ai usahain deh update minggu ini, bahkan ai update lebih cepet deh. sebagai tanda terimakiasih buat review sama udah ngejadiin fic ai yang gaje ini favorite,hehe. Hountoni arigatou. Apa sih yang engga buat yang udah mau review fic ai (bohong, bohong, jangan didengerin!) Ai lupa naro POV di chapter sebelumnya, nah chapter 9 itu Ana POV. Tapi kayanya minna ngerti-ngerti aja kan? (ngarep banget).

Oceh, ini dia nih chapter 10. Silahkan membaca, dan semoga jadi lebih bagus ga jadi lebih aneh ato lebih gaje apalagi jadi tambah aneh. Haha

Selamat menikmati, semoga rasanya enak! (?), hahahaha… *ngakak sambil jungkir balik (alai)

.

.

.

Chapter 10: dia? Dia alluka. X kemenangan killua

Killua POV

"Gon, apa tindakanku pada ana itu benar?" tanyaku pada gon yang duduk di jok sampingku.

"kenapa kau tidak memafkannya saja? dia pergi jugakan diajak dokter untuk konsultasi kesehatannya."

"tapi kan, dia sudah meninggalkanku yang sedang membuatkannya sup"

"lalu untuk apa kamu menanyakan pendapatku kalau kau tidak mau mendengarkannya?"

"huh, baiklah" aku menarik nafasku dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan.

"nah, itu baru killua yang kukenal."

"tapi aku mau mengerjainya dulu sebelum memaafkannya. Gimana?"

"tapi jangan mengerjainya terlalu parah, nanti penyakitnya semakin parah."

Aku mengangguk setuju. Yah, untuk menebus kesalahannya, aku akan sedikit mengerjainya. Abisnya dia yang mulai sih.

"lalu, akamu mau mengerjainya seperti apa?"

"em… gimana kalo aku pura-pura marah dulu, terus aku kasih syarat deh sebelum aku maafin dia."

"terus syaratnya apa?"

"bagusnya apa yah?"

"ya itusih terserah kamu aja, tapi inget syaratnya jangan yang susah-susah amat"

"tenang aja, aku juga ga akan tega ko liat orang yang akau sayang terluka, apalagi terlukanya karna aku"

"ngomong-ngomong, apa bandaranya masih jauh?"

"tidak, sebentar lagi ko."

15 menit kami diam tanpa suara didalam mobil dan 15 menit kemudian pula kami sampai di bandara. Aku turun dari mobil setelah memarkirkannya ditempat parkir tentunya lalu disusul oleh gon.

Aku dan gon melangkah menuju ruang tunngu bandara, karna pesawat yang alluka kendarai tiba 10 menit yang lalu, dan pasti sekarang dia sendang berada diruang tunggu.

Saat kami sampai diruang tunngu, benar saja alluka sedang memainkan handphone di sana.

"hai alluka…" sapa gon saat kami sampai di depan alluka.

Gon dan alluka memang sudah saling mengenal semenjak smp karna saat kami smp, aku, gon dan alluka sekelas dan sesekolah tentunya. Dan aku, aku dan alluka adalah teman sejak kecil. Ya, wajar saja kalau aku dan alluka sangat akrab.

Ini mungkin pertemuan kami setelah kami berpisah sejak kami lulus smp. Aku memang pindah dari york shin city saat aku lulus smp ke inggris. Ayah memindahkanku dari york shin city ke ingri untuk mengajariku berbisnis agar aku bisa melanjutkan perusahaan dan sekolahan milik ayah nanti. Setelah itu, kudengar dia juga pindah ke eropa bersama keluarga gon. Namun tempat keluarga gon dan alluka pindah di eropa berbeda kota, dan kini, kini kita dipertemukan kembali dikota kelahiran kami, yaitu york shin city.

"hai, gon… wah, kau tidak banyak berubah yah." Jawab alluka sesaat setelah dia melihat kedatangan kami.

"hehe" gon tertawa kecil sambil menggaruk rambutnya.

"he-hei alluka" sapaku gugup.

a-aku kaget melihat penampilan alluka yang. Yah sangat berbeda dari terakhir kali aku melihatnya.

"he-hei killua"

Aku tersenyum ramah menyambut kedatangannya. "ada apa? ada yang aneh denganku?" tanyaku saat melihat ekspresi alluka yang menatapku seakan ada yang aneh dari penampilanku.

Dia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat dan masih menatapku dengan tatapan anehnya. "e, ti-tidak ko, hanya saja…" dia menggantungkan perkataannya.

"hanya saja apa?" tanyaku heran

"kamu, kamu semakin tampaan," katanya lalu menundukkan kepalanya.

"eh?" ke-kenapa dia mengatakan hal seperti itu? Aku kan jadi malu.

"eh, ma-maf, a-aku hanya… sudahlah jangan difikirkan." Katanya lalu melihatku dengan senyuman. Dan, kenapa wajahnya memerah? Ja-jangan-jangan? Ah, tidak, aku tidak mau itu benar-benar terjadi.

"e… lebih baik kita pergi saja skarang." Kataku

Alukka mengangguk.

Aku, gon dan alluka kini menuju kerumahku. Rencananya alluka memang akan tinggal dirumahku sampai rumah lamanya.

SKIP TIME…

Saat kami sampai dirumahku, aku langsung saja mengantar alluka ke kamarnya, em maksudnya kekamar ottou-san dan okka-san dulu.

"ini kamarmu!' kataku saat kita sampai didepan pintu kamar yang akan ditempatinya.

"i-inikan kamar tante kikyo"

"memangnya kenapa? Kamu tidak mau?"

"em… maksudku, kenapa harus disini? Kenapa tidak dikamar tamu aja?"

"baiklah kalau itu maumu" jawabku pasrah.

Karna alluka tidak mau dikamar otto-san dan okka-san, jadi aku mengantarnya kekamar tamu yang berada di lantai satu.

Dan saat kam sampai.

"kau mau disini?" tanyaku memastikan.

Alluka hanya mengangguk lalu masuk kedalam kamar sambil membawa barang bawaannya.

Aku menghampiri gon yang terakhir kali kulihat berada di sofa tidak jauh dari tempatku berdiri sekarang ini. dan saat aku sampai pada tempat yang kutuju, ternyata gon telah tertidur disofa. Kurasa gon sangat lelah, setelah menemuh perjalanan yang memang lumayan jauh.

Aku berjalan menuju kamarku yang berada dilantai 2 berniat mengambilkan selimut ntuk gon. Awlnya sih aku ingin membangunkannya da menyruhnya pindah kekamarku, tapi karna wajah gon yang terlihat begitu lelah dan nyenyak, yah aku tidak tega membangunkannya.

~0.o~

Ana POV

DDRRRRTTTT….

DRRRTTT…

"eeehhhhhhh….. siapa pagi-pagi gini?" kataku yang setengah sadar.

Yang benar saja, ini kan masih sangat pagi…

Aku melihat handphoneku yang bergetar sepagi ini. dan dilayar hanphone ku tertera nama gon. Eh? gon, kenapa pagi-pagi gini?

From : gon

Hi ana, bagaiman keadaanmu? Kau baik-baik saja kan?

Maaf nih, kalo aku ganggu abisnya kemaren killua marah-marah kepadaku tentang kamu yang ninggalin dia yang sedang memasakkan sup untuk mu. Jadi, kamu harus meminta maaf padanya!

Pesan singkat yang barusan kuterima itu sangat mengejutkanku, ternyata killua memanga benar-benar marah terhadapku. Lalu apa yang harus kuperbuat hari ini? huh, tapi yah bagaimana lagi? Aku harus menerimanya apapun resikonya.

SKIP TIME…

Aku melangkahkan kakiku menuju kedalam kelas. 'aku harus siap menerima apapun yang akan terjadi hari ini' kataku dalam hati. Yosh, aku bisa!

Disana, killua sudah datang dan duduk dibangkunya. Aduh bagaimana ini? aku bisa! Sebisa mungkin aku menguatkan hatiku untuk bertemu killua.

"pagi killua" kataku saat aku sampai di samping kursiku masih berdiri.

Bagaimanapun ini salahku, tidak mungkin kan kalau aku tidak minta maaf.

Naun, naas killua hanya diam sambil membaca buku. Yah, bagaimana lagi. Aku duduk diatas kursi tampatku duduk.

"killua, kau marah?" tanyaku sambil melihat killua yang duduk disampingku.

"menurutmu?" akhirmya, dia mau bicara juga.

"gomen ne killua, aku benar-benar lupa"

"lalu?"

"maafin dong!"

"baiklah, tapi ada syaratnya." Katanya dingin

"eh? syarat?"

"ya. Itu juga kalau kau mau kumaafkan." Jawabnya masih dengan nada dingin.

Yah, karna tidak ada jalan lain lagi, jadi apa boleh buat?

"baiklah" jawabku pasrah

"pertama, pemenang tantangan kemarin itu harus aku."

"eh? bukannya itu aku yang menentukan?"

"kau mau kumaafkan atau tidak?"

"baiklah, kau yang menang deh."

"dan yang kedua, kamu harus menuruti semua permintaan dan perkataanku"

"apa?" syarat kedua ini, ini sangat-sangat berat bagiku.

"kau mau kumaafkan atau tidak?"

"ayolah, tidak seberat itu kan?"

"baiklah, aku tidak akan…"

"baiklah!" jawabku sebelum dia melanjutkan perkataannya dan tidak mau memaafkanku.

"okeh. Aku akan memaafkanmu."

"tapi berapa lama aku harus menuruti permintaanmu?"

"satu tahun!"

"eh? sehari saja lah!"

"sebulan!"

"seminggu" tawarku

"sebulan! Titik!" katanya

"seminggu ajalah…"

Dan killua tidak menjawab lagi sambil memperlihtkan wajah marah.

"baiklah, sebulan. Ia, aku akan menuruti perkataanmu selama sebulan."

"okeh. Deal?"

"deal" jawabku berat.

Yah, mulailah penderitaanku.

"pertama, selama disekolah kamu harus terus bersamaku baik itu dikelas maupun dikantin."

"apa?"

"kedua, kalau kamu mau pergi ketoilet atau kemana saja, kamu harus izin dulu kepadaku. Dan aku yang menentukan seberapa lama kamu boleh jauh dariku, kalau tidak lama perjanjian ditambah."

"apa?"

"protes, hari perjanjian ditambah seminggu."

"baiklah!"

Ternyata perjanjian ini benar-benar membunuhku. Tapi, bagaimana lagi karna aku bukan tipe orang yang suka melanggar janji, jadi yah mau ga mau aku harus nerima.

~0.o~

Bagaimana nasib ana selanjutnya?

Apakah ana sanggup menerima semua permintaan killua?

To be continue…

Gimana-giamana? Ceritanya makin bagus ato makin ancur? Ato jangan-jangan makin gaje? Ato makin ga nyambung? Aduh bisa gawat tuh.

Jangan pernah kapok yah baca fic ini, hehehe…

Dan, makasih yah buat atas reviewnya. Hountoni arigatou. Balesnya lewat pesan aja yah, hehe…

Nah, sekarang tibalah kita dibagian akhir fic ini. Okeh, karena masih banyak kekurangan ataupun kesalahan dalam fic saya ini, jadi seperti biasa mohon REVIEW-NYA !

Ya, semoga dengan review-nya saya bisa menciptakan fic yang lebih bagus lagi.

Sebelumnya, makasih yang udah mau REVIEW. ^^

satu pesan dari ai, "jadilah orang yang menyenangkan ^_^"

dan janangan peduliin kata-kata ai yang gaje yah, hehe… apalagi kalo ada yang ga enak dihati…