Back in Time
KAISOO, EXO member, OC
T - M, GS
Author by rerudo95
.
.
.
.
N.B : cerita ini terinspirasi dari drakor " Time Sleep dr. Jin ", tapi hanya pada part awal. Alur cerita murni pemikiran sendiri. Rated berubah M seiring berjalannya waktu, dan gak jamin juga kalo bakal bagus. Karena aku masih baru, kalau ada typo, ceritanya kurang bagus atau susah dimengerti mohon dimaklumi. Oh ya, jika cerita ini memiliki unsur kesamaan dengan cerita lain juga mohon dimaklumi, saya tahu cerita seperti ini cukup pasaran :D. Sekian cuapcuapnya, don't forget to review. Thanks a lot.
Yang gak suka GS harap segera tutup cerita ini.
.
.
.
Chapter 9
Is it an ending?
Day 7
Rabu, 19 Mei 2017
Kyungsoo menata barang-barang yang perlu dibawanya kedalam koper. Pagi tadi ia mendapat telpon dari pihak rumah sakit yang mengatakan jika proposal yang diajukannya di ACC. Kyungsoo sempat bingung proposal apa yang dimaksud. Ia baru ingat saat wanita yang menelponnya menyebut nama daerah terpencil di Afrika.
Ia berangkat ke sana seminggu lagi. Jadi ia masih punya waktu untuk menginap dirumah ayahnya. Berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Dan yang terutama mengakhiri hubungannya dengan Jongin. Ia sudah memikirkannya masak-masak. Dan hanya inilah jalan yang terbaik.
Kyungsoo memilih menyerah.
Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ia harus mengakhirinya sebelum ia pergi. Jadi ia tak perlu menjadi beban bagi Jongin. Ia juga tak akan terluka lebih dalam lagi karena mencintai Jongin yang hatinya bahkan tak jelas untuk siapa. Kyungsoo tahu, amat sangat tahu bagaimana rasanya terpaksa mencintai seseorang. Bagaimana tersiksanya tidak bisa menggapai orang yang kau harapakan.
Sekiranya cukup, Kyungsoo menutup kopernya dan menyimpannya dibawah ranjang. Apartemennya tidak luas seperti milik Jongin jadi jika ia tak menatanya maka ruang geraknya akan semakin sempit. Ah, mengapa ia memikirkan pria itu lagi.
Ngomong-ngomong masih ada satu hal yang perlu ia selesaikan. Tiket pesawat yang Sehun berikan. Ia harus mengembalikannya.
Sekalipun Sehun sering menggoyahkannya dengan semua tawaran cinta. Kyungsoo tak akan pernah menerimanya. Kyungsoo tidak munafik, ia sering merasa lelah menanti Jongin. Dan ada kalanya ia ingin berlari ke pelukan seseorang yang tulus mencintainya. Namun Kyungsoo bukan orang yang akan mengorbankan orang lain untuk mengobati lukanya.
Kyungsoo segera mengambil ponselnya dan menghubungi Sehun. Tidak aktif. Jadi ia memberi pesan suara. Mengatakan jika ia ingin bertemu. Selesai, ia hanya tinggal menunggu Sehun membalasnya.
Kini ia bersiap berangkat kerja. Sekaligus berpamitan pada rekan-rekannya.
...
Jongin tak bisa tidur malam tadi. Alhasil lingkar hitam pada matanya terlihat semakin mengerikan. Namun siapa peduli. Si jiwa bebas Jongin berteriak. Hari ini ia harus kembali bekerja. Karena dengan begitu kekalutannya dapat teratasi. Meskipun ia ragu apakah ia sanggup bertemu Kyungsoo hari ini.
Jongin mengabaikan tatapan yang tertuju padanya. Melangkah lebar menuju ruangannya. Namun ia berhenti ketika melihat Kyungsoo tengah tertawa bersama Chaeyeon, Dean dan suster Ahn. Chaeyeon berbisik pada Kyungsoo dan setelah itu Kyungsoo menoleh kearahnya.
Senyum bak bunga matahari masih menghiasi bibirnya. Pancaran matanya begitu lembut. Membuat kehangatan merasuki hatinya yang gundah. Rupanya Kyungsoo berpengaruh besar padanya. Terlihat ketika kini ia ikut tersenyum padanya.
Jongin pasrah saja saat Kyungsoo menariknya pergi ke ruangan wanita itu. Duduk di kursi kerjanya dan menjadi bahan percobaan. Kyungsoo mengeluarkan berbagai krim dari sebuah tas ungu kecil dan mulai mengoleskan krim-krim tadi ke wajahnya. Terutama pada lingkar hitam yang menghiasi matanya.
Kyungsoo begitu fokus memperbaiki lingkar hitamnya. Dari jarak sedekat ini Jongin bisa mengamati warna mata Kyungsoo dengan lebih kelas. Wanita itu memiliki warna mata yang indah dan jernih. Terlihat bersinar karena ketulusan yang berasal dari hatinya. Hanya orang bodoh yang menyia-nyiakan orang sebaik Kyungsoo. Dan itu adalah dirinya. Ah, dia tidak bodoh tapi idiot.
Semakin lama ia merekam wajah Kyungsoo, keyakinannya pada wanita itu semakin besar. Seolah keraguannya kemarin sama sekali tidak berarti. Ia mungkin serakah karena ingin memiliki Kyungsoo namun tak juga menghapus Luhan dari ingatannya. Tapi ketika ia memikirkan satu nama yang ingin ia genggam, nama Kyungsoo lah yang bersinar paling terang di kegelapan pikirannya.
" Selesai. Bagaimana kau bisa tidak peduli dengan penampilanmu. ", gerutu Kyungsoo. Jongin tidak menyahut. Ia sibuk merekam pancaran hangat dari mata Kyungsoo. Ia mengerjap saat tiba-tiba Kyungsoo memegang kedua sisi wajahnya. Mengecup tepat pada bawah matanya.
" Ini akan segera hilang. ", bisiknya seumpama mantra. Jongin tersenyum kecil melihat bagaimana Kyungsoo begitu menggemaskan. Jongin buru-buru menghentikan Kyungsoo yang ingin membereskan barang-barangnya. Ia masih ingin bertahan diposisi yang sama. Jongin duduk di kursi kerja Kyungsoo sedangkan Kyungsoo bersandar pada meja kerjanya.
" Ada apa? "
" Tidakkah kau pikir keadaan kita sekarang sangat berbahaya? "
" Maksudmu? ", Jongin mencoba mengeluarkan senyuman miringnya. Berdiri dari kursi dan menghimpit Kyungsoo. Tubuh wanita itu reflek mundur menjauhinya.
" Ruangan ini sepi. Hanya ada kita berdua dan posisi kita. ", Jongin menatap posisi mereka. Diikuti Kyungsoo yang tiba-tiba merasa gugup. Tangannya terangkat ragu-ragu menutupi dadanya.
Menyadari hal itu Jongin semakin merapatkan tubuhnya. Kyungsoo masih saja menghindar hingga hampir terjatuh. Ia segera menopang punggung wanita itu. Menariknya kedalam pelukannya. Jongin menghela nafas lega. Ia seperti menemukan tempatnya. Pikirannya tiba-tiba terasa ringan saat indera penciumannya menghirup aroma Kyungsoo.
" Terimakasih. ", gumamnya. Jongin memberi kecupan panjang dan dalam pada kening Kyungsoo. Satu kata yang mewakili perasaannya untuk sekarang. Jika ada kata lain yang bisa menggambarkan rasa bersyukurnya selain kata itu maka Jongin pasti akan memakainya. Wajah wanita itu merona parah karena perlakuannya barusan.
" Tidak perlu berterimakasih. ", balas Kyungsoo gugup. Kyungsoo malu-malu menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin. Dan dengan senang hati pria itu merengkuh Kyungsoo semakin erat.
Ia tidak boleh goyah lagi. Ia sudah memilih Kyungsoo dan menetapkan hatinya. Ia hanya berharap semua belum terlambat.
...
Kyungsoo menopang dagunya dan mengamati Jongin yang makan dengan lahap. Setelah pria itu puas memeluknya tiba-tiba saja tubuh pria itu jatuh terduduk. Kyungsoo panik dan sempat ingin menelpon dokter, namun kekehan lemah Jongin membuatnya bingung. Ia ingin tertawa tapi akhirnya hanya mendengus saat Jongin bilang ia hanya merasa lapar. Sangat lapar.
" Kau tidak mau? ", Jongin menyodorkan sepotong pangsit goreng. Kyungsoo hanya menggeleng. Ia sudah kenyang hanya dengan melihat Jongin makan.
" Kemarin kau tidak makan lagi? ", Jongin menggeleng. Masih fokus dengan makanannya.
" Yak. Kau kemarin sakit dan tidak makan apa-apa? "
" Aku makan samgyetang yang kau bawa. "
" Itu hanya siang. Lalu malamnya? "
" Sudah jangan cerewet. ", Kyungsoo menganga tak percaya mendengar perkataan Jongin barusan. Ia dikatai cerewet? Oh astaga Jongin baru saja melanggar aturan penting untuk tidak membuat wanita marah. Pertama jangan menyebut wanita gendut. Kedua jangan mengatai wanita cerewet.
" Apa yang barusan kau bilang? "
" Apa? ", tanya Jongin dengan wajah yang di buat sok polos. Kyungsoo sungguh tak percaya Jongin tak merasa bersalah sama sekali. Daripada ia bertambah kesal lebih baik ia pergi.
" Yak Kyungsoo ya. Eodiga? ", teriak Jongin. Pria itu segera meninggalkan beberapa lembar uang dan menyusul Kyungsoo. Ia mempercepat langkahnya saat mendengar Jongin tertawa dibelakangnya.
" Yak, kau tidak mau menungguku? ", serunya lagi.
Kyungsoo menutup kedua telinganya rapat-rapat dan berjalan semakin cepat. Namun suara Jongin yang mengeluh sakit membuat rasa kesalnya menghilang. Ia berbalik dan menemukan Jongin yang menunduk sambil memegangi perutnya. Kyungsoo segera berlari dan memeriksa keadaan Jongin.
" Ada apa? Mana yang sakit? ", sambil meringis Jongin mengangkat kepalanya dan menatap Kyungsoo dengan wajah yang memelas.
" Sepertinya aku kekenyangan. "
" Mwo? ", dan yang Kyungsoo lakukan selanjutnya adalah memukuli tubuh Jongin dengan kesal. Pria itu mengaduh kesakitan namun suara tawa mengiringinya. Mereka larut dalam keasikan mereka sendiri dan tak menyadari banyak mata memandang mereka. Termasuk mata seseorang yang memincing tajam dari kejauhan.
...
Kyungsoo masih dengan acara merajuknya mengabaikan Jongin yang mengikutinya kemanapun. Dean yang ada bersamanya sekarang sampai bingung dengan situasi aneh ini. Terlebih melihat Jongin yang terus memperhatikan Kyungsoo dengan senyum simpul yang tak pernah pudar.
" Ini. Aku sudah memberi tanda mana yang perlu kau perbaiki. Ku kira ada banyak buku yang lebih lengkap. ", Kyungsoo menyerahkan lembar-lembar kertas pada Dean. Ia memang berjanji untuk membantu pemuda itu menyelesaikan tesisnya.
Dean melirik pada Jongin yang masih setia duduk diujung mejanya.
" Emm, terimakasih noona. Aku permisi noona, dokter Kim. ", Dean membalas lambaian tangan Kyungsoo sebelum menghilang di balik pintu. Setelah yakin Dean tidak akan kembali lagi Kyungsoo mengubah ekspresinya menjadi lebih kesal. Ia menatap Jongin yang malah tersenyum semakin lebar.
" Kau berniat disini terus? ", Jongin mengangguk.
" Ya sudah kalau begitu aku pulang. "
" Yak. Apa kau marah gara-gara tadi? ", Kyungsoo mengabaikan pertanyaan Jongin. Ia membereskan mejanya.
" Kyungsoo, kau benar-benar akan pulang? ", Jongin menarik tangannya yang hendak mengambil kunci mobil. Kyungsoo mengangguk sambil bergumam mengiyakan.
" Ini masih jam kerja. "
" Aku cuti. "
" Apa? ", mungkin pendengaran Jongin sedikit terganggu setelah sakit kemarin. Kyungsoo menghela nafas dan berdiri menghadap Jongin dengan muka konyolnya. Tapi sial, pria itu masih saja tampan.
" Aku cuti. Aku mengambil cuti ku bulan lalu, kemarinnya lagi, kemarinnya lagi. Jadi aku bebas satu minggu. ", atau mungkin satu tahun. Lanjut Kyungsoo dalam hati. Ia belum bisa mengatakannya pada Jongin.
" Lalu kenapa kau kemari? "
" Aku ada janji dengan Dean. ", Jongin mengerutkan kening. Perasaan tidak suka langsung muncul seperti saat ia merasa di bedakan dengan kakaknya. Singkatnya Jongin merasa iri. Atau mungkin cemburu.
" Hanya itu? ", kini Kyungsoo yang kebingungan. Jongin tiba-tiba mengeluarkan wajah kesal dan terlihat merajuk. Oh God, cobaan macam apa lagi ini.
" Iya lalu kenapa? Kau cemburu? ", balas Kyungsoo asal.
" Ya. Aku cemburu. ", Kyungsoo menganga mendengarnya. " Sebenarnya siapa yang tunanganmu. Aku bahkan tak tahu kau ambil cuti. "
" Ya ya ya. Kau ini kenapa? Jangan-jangan kau salah makan ya? "
" Ck. Lalu setelah ini kau ingin apa? "
" Aku? Aku ada janji berbelanja dengan Tao, Yixing dan Baekhyun. ", Kyungsoo heran mendengar helaan nafas Jongin. Tapi ia tak memedulikannya. Kyungsoo sibuk menyusun kalimat untuk Jongin.
" Emm. Apa nanti malam kau sibuk? ", tanya Kyungsoo pada akhirnya. Ia mengelus tengkuknya karena malu.
" Tidak. Kenapa? "
" Bagaimana kalau makan malam bersama? Di apartemen ku? "
" Baiklah. ", Jongin tersenyum lebar, menjawab dengan cepat tanpa berpikir dua kali. Kyungsoo mengangguk kaku dan pergi menghindari Jongin. Ini benar-benar memalukan.
" Emm. Bisakah kau memilihkan anggur? Aku tidak tahu cara membedakan yang bagus. ", ia mengatakannya sambil memegang kenop pintu. Jongin hanya mengangguk dan Kyungsoo segera kabur. Mengajak seorang pria makan malam terlebih dulu, di rumahnya pula. Itu sangat menjatuhkan harga diri. Biarlah untuk sekali ini. Untuk yang terakhir.
...
Yixing dan Baekhyun terlihat sedang menggoda Tao ketika Kyungsoo datang. Di meja mereka sudah penuh dengan cake berbagai jenis. Tao memang sedang gila makanan manis. Untung saja tubuhnya tidak meledak seperti bom.
" Maaf terlambat. "
" Gwaenchana. Ada hiburan baru disini. ", ucapan Baekhyun semakin membuat Tao memberengut.
" Apa kalian sudah memesankan minuman untukku? ", Yixing menyodorkan satu cup kopi hitam kental kearahnya. Kyungsoo tersenyum sebagai tanda terimakasih dan meminum es kopinya. Hari ini cukup panas di banding kemarin.
" Mengajak keluar tiba-tiba dan kopi hitam. Ada apa memangnya? ", pertanyaan Yixing membiat atensi Baekhyun yang masih menggoda Tao beralih pada Kyungsoo. Wanita itu mencoba membuat mimik wajah yang biasa saja. Namun jangan panggil dia Baekhyun jika tidak melihat sesuatu yang coba Kyungsoo sembunyikan.
" Baiklah baiklah. Kalian tidak akan percaya padaku jika aku mengatakan tidak ada apa-apa bukan? ", Kyungsoo menghela nafas. Memasang senyum di wajahnya. Namun matanya memancarkan banyak emosi. Terlihat semakin menyakitkan karena Kyungsoo berusaha tegar.
" Aku. Minggu depan aku akan pergi. ", tak ada satupun dari ketiga sahabatnya yang membuka suara. Mereka masih menunggu karena tahu Kyungsoo belum selesai mengatakan semua yang ia ingin katakan.
" Ke Afrika. Mungkin empat sampai delapan bulan. Bisa jadi sampai satu tahun. Dan. ", Kyungsoo tersedak saat mencoba mengatakan hal yang selanjutnya. Ia sudah membulatkan tekadnya, tapi rasanya masih terlalu sulit.
" Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Jongin. ", ucap Kyungsoo dalam satu tarikan nafas. Ia harus menggigit bibirnya supaya tidak menangis. Ia harus menjadi Kyungsoo yang kuat karena dengan begitu ia bisa bertahan hidup.
Baekhyun menatap Kyungsoo, Yixing menundukkan kepalanya, dan Tao sudah meneteskan airmata. Memang di antara mereka Tao yang paling sensitif, semakin jadi karena kehamilannya. Kyungsoo menggenggam tangan calon ibu itu dan tersenyum menenangkan.
" Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. ", ucap Baekhyun kemudian.
" Apa kau yakin dengan keputusanmu? ", Kyungsoo mengangguk dan Baekhyun tak bertanya lagi. Karena sesungguhnya Baekhyun tahu Kyungsoo masih sangat-sangat ragu. Kyungsoo adalah sosok yang sulit jatuh cinta, dan sekali ia mencintai seseorang maka ia akan memberi seluruh hatinya. Jika sudah begitu akan sulit bagi Kyungsoo untuk melupakan. Yang tandanya Kyungsoo akan terus menyakiti dirinya sendiri sampai saat ia jatuh cinta lagi.
" Padahal Jongin terlihat benar-benar serius padamu akhir-akhir ini. ", sambung Yixing. Kyungsoo juga merasa begitu sebelum kemarin. Saat ia melihat lembar-lembar kertas lusuh bergambar wajah Luhan. Tapi untuk yang satu ini ia akan menyimpannya sendiri.
" Lalu apa rencanamu? "
" Aku ingin mengajak Jongin makan malam. Untuk yang terakhir. Bisakah kalian membantu ku menyiapkannya? "
...
Kyungsoo, Baekhyun dan Yixing kini sibuk memilih pakaian untuk Kyungsoo. Tao harus pulang karena hari ini adalah jadwalnya memeriksakan kandungan. Sudah lebih dari tiga butik yang mereka masuki namun mereka tak menemukan satu pun yang cocok untuk Kyungsoo.
" Jangan terlalu berlebihan Baek. Aku hanya akan makan malam. ", ucap Kyungsoo kesal saat pilihannya ditolak lagi oleh Baekhyun. Sahabatnya itu malah menunjuk sebuah long dress warna merah maroon. Bisa dikira orang gila jika ia memakai dress seperti itu dirumah.
" Lagipula aku hanya akan makan dirumah. Memakai piamapun tidak masalah? "
" Kau, apa? ", tanya Baekhyun. Ia berjalan cepat kearah Kyungsoo dan mengetuk kepalanya.
" Ack. Kenapa aku dipukul? ", protes Kyungsoo. Yixing hanya geleng-geleng kepala dan pergi kederetan dress yang lain.
" Kau ini gila ya. Kenapa tidak sekalian di restoran mahal? Bukankah ini untuk yang terakhir kalinya? "
" Justru karena ini yang terakhir. Aku tidak punya keberanian sebesar itu untuk mengajak Jongin dan membuat memori yang indah jika akhirnya kami akan berpisah. Setidaknya jika dirumah aku punya tempat untuk bersembunyi dan menangis. ", Baekhyun kehabisan kata-kata. Kyungsoo memang cerdas, tapi ia lemah. Andai saja sejak dulu Kyungsoo tak mengenal Jongin ia tak akan melalui hal seperti ini.
" Bagaimana dengan ini? ", Yixing datang dan merusak suasana antara Baekhyun dan Kyungsoo. Ditangannya ada sebuah halter dress berwarna peach yang panjangnya hanya sampai setengah paha. Hiasan mutiara-mutiara kecil di bagian leher membuat dress itu terlihat mewah meski desainnya sangat sederhana.
Baekhyun mengangguk antusias. Model nya tidak terlalu berlebihan dan warna dress nya akan membuat Kyungsoo membuat kulit putih Kyungsoo terlihat cantik. Kyungsoo sendiri tidak terlihat seantusias Baekhyun. Baginya baju itu terlalu terbuka.
" Kau yakin? Apa itu tidak terlalu pendek? ", Baekhyun memutar matanya malas. Kyungsoo selalu tidak percaya diri mengenakan pakaian yang terbuka. Padahal wanita itu memiliki lekuk tubuh indah dibalik pakaian kedodoran miliknya.
" Tidak. ", Kyungsoo pasrah saat Yixing menyeretnya ke meja kasir. Rupanya kedua sahabatnya ini terlalu percaya diri hingga tak meminta Kyungsoo untuk mencobanya.
Saat melihat Kyungsoo dan Yixing yang ada didepan kasir. Diam-diam Baekhyun mengambil ponselnya. Mengetikkan beberapa kalimat untuk Jongin. Namun akhirnya ia urungkan. Ia menatap Kyungsoo yang tertawa hingga matanya menyipit. Berdoa dalam hati akan ada kejadian yang tak akan memisahkan Kyungsoo dan Jongin malam ini.
Baekhyun benar-benar berdoa sekarang.
Setibanya di parkiran mereka berpisah. Kyungsoo membawa mobilnya sendiri sedangkan Baekhyun dan Yixing pergi bersama dengan mobil Baekhyun. Namun sebelum itu Baekhyun memutuskan untuk menyuarakan isi pikirannya.
" Kyungsoo. Mungkin ini terdengar aneh karena sebelumnya aku orang yang paling menentang hubungan kalian. Tapi coba pikirkan semuanya baik-baik. Jangan sampai dirimu sendiri nanti yang kecewa. "
" Terimakasih Baek. Tapi keputusanku sudah bulat. Tidak ada kesempatan bagiku. "
" Cobalah berpikir lebih jernih. Jangan terbawa perasaan. Selami mata Jongin maka kau akan tahu jawabannya. Ingat, amatilah dengan objektif. "
" Terimakasih Baekhyun. "
...
Kyungsoo menggigiti kukunya sambil menatap jajaran dress yang ada di lemarinya. Ia tak percaya diri mengenakan dress yang di belinya tadi. Ia benar-benar buruk. Lemaknya terlihat disana sini. Ia menjadi seperti babi. Dan sayangnya tak ada dress yang lebih indah daripada dress yang saat ini dipakainya.
Suara bel membuat Kyungsoo melompat ditempat. Dengan panik ia mondar-mandir. Menatap dirinya sekali lagi dan pasrah saja jika Jongin akan mengejeknya.
" Ya tunggu sebentar. ", teriaknya ketika bel kembali berbunyi lagi. Sadar jika itu percuma, Kyungsoo memukul kepalanya sendiri. Ia berjalan setengah berlari hingga ia tersandung kakinya sendiri.
Kyungsoo menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu. Hal pertama yang di lihatnya adalah Jongin yang luar biasa tampan. Wajahnya sudah tidak sekusut tadi. Rambut coklatnya dibuat berantakan menutupi poninya. Aroma parfum yang Jongin gunakan tidak menyengat namun sangat memikat.
Kyungsoo harus mengalihkan perhatiaannya saat Jongin menggoyangkan sesuatu di tangannya. Sebuket mawar pink yang cantik. Kyungsoo menerima bunga itu dan mendekapnya erat.
" Selamat malam. ", suara Jongin membuat jantung Kyungsoo semakin berdegup dengan liar. Ia berdoa agar Jongin tak sampai mendengarnya.
" Malam. Silakan masuk. ", jawab Kyungsoo gugup. Dibelakangnya Jongin mencoba menahan senyum terpesonanya. Kyungsoo tampak cantik dan imut dalam waktu yang bersamaan. Rambutnya yang tergerai menguarkan aroma yang memabukkan.
Didalam ia disambut dengan nuansa romantis. Penerangan yang redup, aroma mawar dan pemandangan indah dari balkon. Kyungsoo berhasil menyulap ruang tengah seperti restoran bintang lima.
" Emm. Bagaimana aku harus mengatakannya. ", Kyungsoo menggaruk kepalanya. Ia sungguh malu, suasana ini sangat aneh. Jongin terkekeh dan meletakkan botol wine ke meja yang sudah Kyungsoo siapkan.
Pria itu melangkah mendekati Kyungsoo dan merengkuh pinggangnya. Terkesiap Kyungsoo meletakkan kedua tangannya pada dada bidang Jongin. Lewat telapak tangannya ia bisa merasakan degup jantung Jongin yang tidak kalah cepat dengannya. Irama itu membuat Kyungsoo tenang.
" Kau cantik. "
" Aku seperti babi. Pink dan bulat. ", Jongin mendongak dan tertawa terbahak-bahak. Kyungsoo bukan tipe seorang yang romantis. Ia harus ingat itu.
" Mengapa malah tertawa. ", Jongin segera menghentikan tawanya meski gagal beberapa kali. Kyungsoo sudah mengerucutkan bibirnya karena sebal. Mata bulat itu semakin membulat saat Jongin mencuri satu kecupan dibibirnya.
" No. You're like a princess. "
Aroma cherry membuat Jongin ingin mencicipinya lagi. Tangan Kyungsoo mengerut didepan dada Jongin saat pria itu menciumnya dengan lembut. Semakin lama ia kehabisan nafas karena ciuman ini terasa begitu manis.
Kyungsoo terperangkap dalam manik mata Jongin. Teduh dan hangat. Senyum pria itu membuat Kyungsoo serasa melayang. Ia harus menghentikan dirinya sendiri sebelum ia terlena lagi.
" Aku akan siapkan makanannya. "
Mereka makan dengan tenang. Sesungguhnya tidak begitu juga. Kyungsoo berkali-kali hampir menjatuhkan garpunya karena Jongin terus menatapnya intens.
" Jadi sebenarnya dalam rangka apa makan malam ini? ", tanya Jongin setelah menyelesaikan makannya. Kyungsoo menyesap wine yang dibawa Jongin sebagai pelampiasan rasa gugupnya.
" Sebenarnya. Hari ini peringatan pertunangan kita yang ketiga. ", Kyungsoo menggigit bibirnya saat melihat tatapan menyesal Jongin.
" Aku pikir merayakannya sesekali tidak masalah. ", Kyungsoo menghabiskan wine nya dalam sekali tenggak.
" Maafkan aku. "
" Tidak perlu minta maaf. Aku mengerti. "
" Aku merusak malam ini bukan? ", Kyungsoo terdiam. Senyum manis yang sebelumnya terlihat kini berganti dengan senyum sendu.
" Tidak. Satu-satunya orang yang menghancurkan malam ini adalah aku. ", Kyungsoo menuangkan wine lagi kedalam gelasnya dan menenggaknya sampai habis.
" Aku terlalu gugup sampai membuat suasananya aneh seperti sekarang. ", lanjutnya. Jongin menundukkan kepala kemudian berdiri menghampirinya. Kyungsoo menatap uluran tangan Jongin.
" Mau berdansa denganku? "
...
Kyungsoo mengikuti irama langkah Jongin. Tak ada musik klasik yang mengiringi mereka. Hanya degup jantung masing-masing yang selaras. Kening mereka saling menyentuh dan mata mereka tertutup sempurna.
Namun disisi lain Kyungsoo tengah bimbang. Haruskah ia merusak malam yang indah ini dengan kata perpisahan?
Kyungsoo hampir membuka matanya saat Jongin menjauhkan keningnya. Namun segera terganti dengan kecupan lembut yang membuat keraguan Kyungsoo semakin menjadi. Rengkuhan Jongin pada pinggangnya semakin erat. Sebelah tangan pria itu mengelus pipinya lembut.
Perlahan Kyungsoo membuka kedua matanya dan balas menatap mata Jongin dengan berani. Kyungsoo goyah lagi. Tatapan lembut Jongin menggambarkan rasa cinta yang besar dan harapan. Ia jadi teringat ucapan Baekhyun. Kyungsoo mengingatkan dirinya tentang kejadian kemarin, namun buyar lagi ketika Jongin menyesap lembut bibirnya.
" Aku mencintaimu. ", bisik Jongin selembut desahan nafasnya. Tangan Kyungsoo yang semula berada di pundak Jongin kini mengalung pada leher pria itu. Menekannya, membawa Jongin pada sebuah ciuman panjang. Biarlah untuk saat ini ia menundanya. Ia akan memikirkannya nanti. Ia ingin memiliki satu kenangan manis lagi bersama Jongin supaya nanti ketika ia merindukan Jongin, Ia bisa mengingat semua ini.
Tanpa mereka sadari langkah mereka menuntun mereka menuju kamar Kyungsoo. Tanpa tersandung, seolah kaki mereka memiliki mata. Memberi kesempatan bagi Kyungsoo untuk meraup oksigen, Jongin memindahkan ciumannya pada rahang wanita itu. Naik menuju daun telinganya dan menggoda Kyungsoo disana.
Kyungsoo menggeliat dalam pelukan Jongin. Nafas Jongin menggelitik telinganya diikuti benda kenyal dan basah yang bergerak melumat daun telinganya.
" Jongin. ", desah Kyungsoo saat ia tak bisa lagi merasakan kakinya. Tubuhnya meremang dan panas. Tanganya mencakar dan meremas apa yang ada didekat tangannya. Dan korbannya adalah rambut Jongin. Pria itu menggeram parau saat Kyungsoo semakin merapatkan tubuhnya pada Jongin.
Jarak ranjang dan tempat mereka berdiri masih cukup jauh. Jadi Jongin mengangkat satu kaki Kyungsoo melingkari pinggangnya. Masih cukup sadar Kyungsoo segera mengangkat satu kakinya lagi melingkari pinggang Jongin. Bergelantungan seperti koala.
Ciuman mereka semakin menuntut. Saling menghisap dan bermain lidah. Deru nafas mereka menjadi background musik yang mengantar mereka menuju gairah yang lebih tinggi. Kyungsoo mendesah lega saat punggungnya bersentuhan dengan kasurnya. Jongin berada diatasnya, menekannya namun Kyungsoo tak merasa berat sekalipun.
Kepala mereka bergerak dengan serakah. Mencari posisi yang membuat mereka dapat merasakan satu sama lain dengan lebih puas. Dengan segenap kekuatan, Kyungsoo merubah posisi mereka hingga kini wanita itu berada diatas Jongin. Menduduki perut berabs milik Jongin.
Kyungsoo mengarahkan tangannya kebelakang dan membuka resleting gaunnya. Membuat gaun itu lepas dari tubuh bagian atasnya.
Jongin terbakar nafsu menatap kulit merona Kyungsoo. Terlebih karena Kyungsoo tak memakai bra, sehingga kini payudara wanita itu terlihat dengan sempurna. Pucuknya mulai memerah dan keras.
Merasakan tangan Kyungsoo menyentuh kancing kemejanya, Jongin mencoba duduk, melepas benda tak berdosa itu dengan kasar. Suara robekan kain terdengar jelas namun tak ada satupun dari mereka yang berhenti. Jongin melemparkan kemejanya kesembarang arah. Ia kembali merengkuh tubuh Kyungsoo seolah ia akan mati jika tubuh mungil itu tidak menempel padanya.
Kecipak ciuman dan nafas yang saling bersahutan terdengar semakin keras. Jongin mengelus punggung telanjang Kyungsoo, membuat pola-pola abstrak yang merangsang wanita itu. Bibirnya kini bermain di leher jenjang Kyungsoo.
Jongin menyukai saat Kyungsoo mendesahkan namanya. Merintih karena dirinya.
Lambat ia turun menuju payudara Kyungsoo. Melumat puncak kemerahannya hingga tubuh Kyungsoo menggeliat erotis. Jongin terus mencumbu Kyungsoo sambil berusaha melepas pakaian yang masih menempel pada tubuh mereka. Sedikit sulit karena mereka tak ingin berhenti.
Tubuh mereka serasa terbakar saat keduanya menyatu. Bergerak dalam irama yang selaras. Kyungsoo berulang kali meneriakan nama Jongin seperti sedang memohon. Semakin besar nikmat yang mereka rasakan semakin besar keinginan Kyungsoo untuk menangis.
Jongin yang melihat lelehan air mata Kyungsoo menghentikan gerakan pinggulnya. Nafasnya terengah karena menunda hasrat yang belum terpuaskan. Kyungsoo tak membuka matanya, namun air mata terus mengalir menuruni pipinya.
" Jangan berhenti. ", isak Kyungsoo. " Aku hanya terlalu bahagia. ", Jongin ingin percaya, namun yang didengarnya hanya rintihan kesakitan. Ada apa dengan Kyungsoo nya?
" Jongin please. ", Jongin kembali menggerakkan pinggulnya. Dengan ritme yang lebih cepat. Pikirannya kalut namun segera tersingkir saat milik Kyungsoo meremasnya lebih kuat. Ia menggeram rendah, mengejar ketertinggalannya. Dan tak lama sensasi itu datang. Mereka seperti terbang menuju angkasa paling tinggi, lalu terjun hingga mereka tak bisa merasakan jantungnya. Mereka melebur jadi satu dalam kenikmatan yang panjang.
Jongin lemas, namun ia sadar tubuhnya akan menyakiti Kyungsoo. Ia berpindah kesamping wanita itu, memeluknya dan membiarkan Kyungsoo menangis di dadanya.
" Maafkan aku. ", bisik Jongin. Ia tak tahu mengapa kata itu yang keluar dari bibirnya. Namun perasaan lega mendorongnya untuk mengatakan kata itu lagi dan lagi. Jongin merasa sangat bersalah untuk semua penghiantan yang ia lakukan selama ini. Kyungsoo merengkuhnya semakin kuat. Mengecup dada bidangnya dan bersandar disana.
" Apa kau tahu aku mencintaimu? ", bisik Kyungsoo. " Aku akan selalu begitu Jongin. Aku mencintaimu. "
" Aku lebih mencintaimu Kyungsoo. Maaf karena aku terlalu lama menyadarinya. ", namun Kyungsoo sudah tertidur. Dalam kebimbangan yang mencekik.
.
.
.
TBC
Haihai, aku dataaaaaaaanggg
Kemaren ad yg minta nc kan ya... di chap ini ak kasih... tp seperti yg ku duga ini fail. Ceritanya juga fail... #nangisdipojokan
Ternyata ak gak seyadong yg aku kira, n masih susah gabungin scene itu sama angst nya...
Pada minta Kyungsoo pergi kan ya? Itu dia mau pergi... baru mau sih... belom tentu bener..
Ada ide buat nistain Jongin di chap depan? Cus tulis di kolom review.. #iyainimodus
Big big big thanks buat yg udah riview dan nunggu ff ini... semuanya udah ak baca.. seriusan... aku terharu bacanya... kalian yg terbaik... maap gak bisa bales satusatu.. tapi sungguh aku sayang kalian...
Oke sekian.. see you next chap
.
.
.
.
.
.
Seorang wanita muda menerobos masuk saat sang pemilik sedang sibuk dengan telepon genggamnya. Tatapan amarah sang wanita sama sekali tak memengaruhi wajah datar sang pria. Bahkan pria itu masih bisa berbicara santai dengan seseorang di seberang sana.
" Tidak. Jangan besok. Lusa saja. Okey. ", ujarnya sebelum menutup sambungan teleponnya.
" Ada apa nona Lu? ", tanya sang pria. Kini ia duduk dengan angkuh di kursi kebesarannya.
" Ku pikir kau berhasil? Kau lihat sendiri mereka malah semakin menempel. Kyungsoo juga mau mengembalikan tiket mu kan? ", gerutunya dengan suara tingginya. Sang pria hanya mengendikkan bahu dan memutar kursinya membelakangi sang wanita.
" Kau sudah dengar rupanya. Biarkan saja. Tunggu sebentar lagi mereka akan hancur. ", ucap sang pria misterius.
" Apa kau akan mengirimkannya. "
" Sedang dalam perjalanan honey. Kita harus datang disaat yang tepat. Sekali lagi jangan mengacau karena ketidak sabaranmu. "
.
.
.
Real TBC
Big thanks to :
itachi2409, unniechan1, pororo023, henna chan, irenasoo,pumpum, , diah, Soocy-Nim, kadi couple, rianita, kimkaaaaai, dinadokyungsoo1, mimi, kyungie love, avs1105, matcha, lovesoo, Insooie baby, DKSlovePCY, sarad15, rainaLee, bakkichot, nisakaisa, umma kyungsoo, kaisoomin, kimdegita88, chanli27, do 12januari, dwimeisy, drabble wookie, jongin bear, NN, ici, nct127, yixingcom, huang minseok, asmaul, khairunnisacho, xoxo0293, alxshav, audia605, mrswuhunhan, t.a, son of aphrodite, rahma736, kaisoo, zzz, ziyah kim.
