Ah, Itoshii no Kazekage-sama!

Naruto © Kishimoto Masashi

.

.

A/N: Terimakasih pada reviews saya yang masih setia pantengin fict terpanjang saya sepanjang menulis di Ffn (Maklum author amatir)… Terimakasih atas supportnya. Saya bahagia saat melihat respon kalian :D (#membungkukdalam).

Bagi yang baru beres ujian (UN) Selamat! Semoga kalian semua LULUS! Aminnn~

~Stand by your man. Give him two arms to cling to and something warm to come to~ Tammy Wynette.

Chapter 10: Overwhelming affections

"Dari kedai Fujiwara, ya?"

Sang resepsionis, tanpa aku harus mengeluarkan satu katapun, menyapaku ramah dengan senyum secerah mentari andalannya begitu aku membuka pintu masuk gedung A. Aku mengangguk kecil.

"Silahkan langsung kirim pesanannya ke kantor Kazekage. Kantornya ada di lantai dua."

Langsung ke kantor? Apa-apaan ini? Oke, aku jadi sedikit tegang.

"Te—terimakasih."

Kubungkukan badanku dan pamit. Namun, ketika aku hendak menaiki tangga, Mori-san, sang sekretaris, menghentikan langkahku.

"Anda sudah datang? Mari saya antar."

Aku adalah seorang pelayan kedai yang sangat beruntung sepertinya. Maksudku, siapa aku? Kenapa aku tiba-tiba diperlakukan bak tamu agung?

Aku mengikuti Mori-san. Tak lama kemudian aku menyadari bahwa aku tengah berada di depan pintu kantor Kazekage.

"Silahkan."

Mori-san langsung membukakan pintu dan aku masuk dengan gugup yang mendera seluruh tubuhku. "Terimakasih." Ucapku.

Mori tersenyum simpul sebelum menutup pintu dan meninggalkanku di ruangan itu sendirian. Bagaimana ini? Aku kan harus segera kembali! Siapa yang mau membayar supnya?

Aku mendesah kecil, kuletakan sup pada meja tamu yang terletak di sebrang kursi kerja sensei. Kuhempaskan tubuhku pada sofa dan aku mulai menunggu.

Satu menit.

Dua menit.

Lima menit.

… Sepuluh menit.

… Sekian menit.

Arggghhhh! Kemana dia? Sampai kapan aku harus menunggunya?

Aku merasa sangat cemas karena saat ini kedai pasti sangat penuh. Jarum jam yang berputar setiap detik membuat dudukku semakin tidak tenang. Ah entahlah, aku tidak tahu apa aku tidak tenang karena jam itu atau karena nanti aku akan bertemu sensei.

"Kau sudah datang?"

Suara sensei merambat di dalam ruangan bersamaan dengan bunyi 'klik' pintu yang terbuka. Refleks aku bangun dari dudukku dan berdiri tegap menghadapnya

"Ya," Jawabku. Aku tidak tahu apa laki-laki yang ada di depanku ini seorang 'kazekage' atau kekasihku. Jadi aku menjawab ala kadarnya sampai aku bisa membaca tujuan sensei.

Bukannya berjalan kearah sofa tamu, sensei. malah berjalan menuju kursi kerjanya.

Saat ia duduk dibelakang meja yang dipenuhi tumpukan kertas, ia melambaikan tangannya padaku seperti mengisyaratkan aku untuk mendekat. Pelan-pelan, aku berjalan kearahnya.

"Ada apa?" Tanyaku.

Sensei mendongkak dan meraih tanganku ketika kemudian kurasakan sesuatu yang dingin berada di telapak tangaku.

"Pulang dan tunggu aku kembali." Katanya.

Kubuka genggaman tanganku dan aku terhenyak sebentar. Sebuah kunci.

"Nanti aku akan kesana, tapi aku tidak yakin aku bisa pulang lebih cepat dari sen—"

"Pulang! Sekarang!"

Pria ini ngomong apa, sih? Apa aku tidak salah dengar? Tapi kedai Fujiwara bagaimana? Aku disana kan bekerja. Mana bisa pulang seenak perut!

"Tapi kedai? aku kan harus—"

"Sudah kubilang pulang dan tunggu aku kembali."

Pria ini begitu yakin aku tidak akan menolaknya, ya? bagaimana ia bisa menyuruhku pulang ke rumahnya dan bolos dari pekerjaanku. Apa-apaan dia? Percaya diri sekali…

Sensei memandangku dengan tatapan dingin dan suara yang datar. Kenapa ia seperti ini? setelah kemarin ia begitu manis menciumku. Ah… wajahku jadi mulai panas lagi!

Aku menghela napas pendek. "Baikah… baiklah aku akan pulang." Gumamku pada akhirnya. Aku tidak suka omonganku dipotong. Jadi aku tanpa sadar memandekan kata-kataku.

"Hn," Katanya. Ia menarik selembar kertas di salah satu tumpukan dan mulai fokus membaca deretan huruf yang tersaji. Tak mengacuhkanku yang masih berdiri di depannya. Dasar!

"Ano…" Kataku hati-hati. Ia mendongkak dan menatapku sebentar. "Sensei tidak makan supnya? Nanti dingin."

Ini sudah masuk makan siang, dia kan pesan sup, tapi begitu sup itu datang kenapa dia malah menenggelamkan diri pada tumpukan kertas memusingkan itu?

"Hn, akan kumakan nanti." Ujarnya pendek.

Aku menghela napas lagi. Percakapan 'kekasih' macam apa ini?!

"Aku pulang." Kataku. Kulirik sensei dari sudut mataku dan ia nampak bergeming. "Aku tunggu sensei dirumah." Lanjutku.

Mengapa oh mengapa?! Mengapa sensei tetap cuek seperti ini? Apa dia tidak berencana memberikanku sebuah kecupan? Oh, ayolah! Sebuah pelukan? Dasar meja sialan! Kenapa kau menghalangiku dari sensei?!

Ah, sudahlah. Orang yang kubicarakan ini Gaara! Berharap apa aku padanya? semalam mungkin sensei kesambat sesuatu. orang yang ada di depanku sekarang adalah sensei yang sebenarnya!

"Aku pergi." Kuhela napasku untuk yang ketiga kalinya. Sudah jangan terlalu berharap. "Sampai jumpa."

Aku berbalik dan berjalan kearah pintu ketika tanganku tiba-tiba ditarik. Tubuhku limbung sesaat, detik berikutnya semua terasa gelap karena sensei yang lebih tinggi menutupiku dari jendela yang mengantarkan cahaya mentari di ruangan itu. Karena sensei sedang mengecup keningku.

"Hati-hati."

"Hah? Ah, iya!"

Sensei kembali duduk di tempatnya semula dan kembali memandangi deretan huruf pada kertas yang bertumpuk.

Saat aku kembali berbalik, aku tahu wajahku pasti sudah semerah tomat masak.

O.o

Sore telah datang membayang. Hamparan mega yang mulai menggelap membuat Matsuri mempercepat kegiatan memasaknya. Sebenarnya ia tidak yakin jika ia boleh mengacak-ngacak dapur orang, tapi sekarang ia telah berstatus kekasih sang pemilik rumah, jadi mungkin tidak masalah jika ia menggunakan dapur sebentar.

Pada dasarnya Matsuri tidak ahli memasak. Ia merebus bayam dan kangkung yang harusnya di kukus. Ia juga membakar daging yang harusnya di tumis. Saat Matsuri mencampur beberapa bumbu untuk masakannya, Matsuri tidak pernah membuat campuran bumbu yang pas. Kadang terlalu manis, kadang terlalu asin dan kadang terasa hambar. Seolah Matsuri sedang bermain masak-masakan. Kuah yang harusnya terasa pedas karena bubuk cabai, malah terasa manis karena diberi saus sambal. Makanan yang harusnya dimasukan kecap manis malah terasa aneh karena diberi kecap asin segar.

Ia juga memasak dengan aturan yang berantakan. Ketika perempuan lain menyiapkan potongan sayur dan mencucinya terlebih dahulu sebelum menyalakan kompor dan merebus air, maka Matsuri selalu memulai kegiatan memasaknya dengan memasak air terlebih dahulu. Olehkarena itu, dari setengah panci air yang didihkan, supnya selalu berakhir dengan kuah yang tinggal seperempat panci karena air yang ia masukan hampir setengahnya menguap di udara.

Sebagai perempuan, ia tergolong koki yang payah sekali. Ia tidak becus memegang pisau karena lebih sering melempar kunai. Ia juga kikuk saat membersihkan daging dan nampak sangat kaku begitu berhadapan dengan jeroan seolah jeroan itu dikeluarkan dari perut orang-orang yang telah ia bunuh saat perang.

Namun semua hal ini wajar, karena tidak ada yang pernah mengajarkan memasak padanya yang yatim piatu dalam umur yang masih dini. Satu-satunya hal yang membuat Matsuri tak meledakan dapur adalah kehidupan serba pas-pasan yang mau tidak mau mengantarkan Matsuri memegang pisau dan berhadapan dengan kompor juga bahan-bahan makanan untuk berhemat.

Dari pengalaman demi pengalaman yang ia dapatkan saat memasak, ia akhirnya belajar untuk memperbaiki cara memasaknya meski semua itu masih belum berarti apa-apa. Namun, dari semua jenis masakan yang pernah ia buat, hanya sup lobaklah yang nampaknya sukses dibuat Matsuri. campuran bumbu yang ia masukan pada sup itu selalu pas, entah mengapa. Maka, ketika ia mulai memakan makanan hasil eksperimennya dengan rasa aneh, ia akan kembali membuat sup lobak di setiap minggunya untuk mengembalikan indra perasanya agar kembali normal. Itulah alasan mengapa sup lobak menjadi makanan kebangsaan seorang Matsuri. Karena sup itu adalah satu-satunya eksperimen yang berhasil.

Bunyi kuah mendidih memenuhi dapur. Tapi tangannya baru selesai mencuci daging. Ia harus memotong daging itu cepat-cepat sebelum air yang ia rebus menguap sepenuhnya. Setelah selesai memotong daging dan merebusnya, ia harus segera memotong kentang dan menanak nasi serta menyiapkan bumbu.

"Tadaima."

Suara pintu terbuka lantas menyadarkan Matsuri dari kegiatan memasaknya.

Matsuri mengecilkan kompor dan mencuci tangannya sebelum berlari menuju pintu masuk untuk menyambut Gaara. Seperti anak kecil yang tahu ayahnya membelikan mainan, Matsuri tanpa sadar mengayunkan langkah kakinya dengan riang.

"Okaeri!"

Pria yang ia tunggu-tunggu akhirnya pulang. Gaara menenteng sebuah tas yang Matsuri yakini sebagai bagian dari tumpukan kertas yang ia lihat siang tadi. Tas besar itu nampaknya sangat berat. Terlihat dari bagaimana bunyi tas itu begitu Gaara menjatuhkannya di lantai saat ia membuka sepatunya.

"Sensei, mau mandi? Akan kusiapkan air hangat. Atau sensei ingin minum teh?"

Berperan sebagai seorang kekasih, Matsuri mencoba melayani pria kesayangannya sebaik mungkin. Maka tanpa sadar ia telah membantu membuka jubah berpergiannya dan mengambil tas yang berat itu dari lantai.

"Mandi," Jawaban dingin nan singkat Gaara tak lantas membuat suara cerianya redup, ia dengan senang hati berjalan menuju kamar mandi di kamar Gaara dan menyiapkan ofuro ketika Gaara dengan santai berbaring di kasur sejenak.

"Sensei?"

Gaara yang tiduran, terlihat sangat mengkhawatirkan. Nampaknya lelah pikiran jauh lebih buruk dari lelah fisik. Karena Gaara yang menutup matanya terlihat sangat kacau dengan kerutan di dahinya yang semakin dalam. Ah, pasti ia sedang memikirkan pekerjaan lagi!

"Hn?"

"Ada apa? Ada sesuatu yang terjadi tadi?"

Saat Gaara membuka matanya, wajah Matsuri tepat di depan dahinya.

"Bagaimana rapatnya?"

Gaara tak bergerak atau menjawab pertanyaan Matsuri. Ia hanya terpana memandangi wajah Matsuri untuk beberapa saat.

"Kalau lelah istirahatlah. Sensei lapar tidak? Aku sedang membuat sup kentang. Mandilah untuk merilekskan otot, aku akan memanggil sensei jika sup sudah masak. Atau sensei mau kubuatkan teh? Di lemari makanan ada buah melon, mau kupotongkan?"

Helaan napas Gaara terasa hangat di wajah Matsuri. Nampaknya Gaara tak berniat menjawab rentetan pertanyaan itu. Alih-alih menjawab, Gaara malah membuat isyarat agar Matsuri berbaring di sampingnya. Kasur yang hanya muat untuk satu orang terasa sempit dengan datangnya tubuh Matsuri. Gaara harus memegangi pundak Matsuri erat-erat agar gadis itu tidak jatuh ke lantai. Meski Gaara sering memeluk Matsuri seperti ini sebelumnya, tapi detak jantungnya saat berdekatan begini tidak pernah sama.

"Tetap begini sebentar."

Hanya itulah satu-satunya kalimat yang dikeluarkan mulut Gaara. Yang ingin ia lakukan sekarang bukan makan, mandi atau minum teh lagi, melainkan bersandar agar Matsuri bisa membuatnya melupakan isi kepalanya yang rumit untuk sesaat.

"Tapi aku sedang memasak, sensei. Nanti masakannya gosong."

"Sebentar saja."

Sebentar saja? Sesuatu yang tidak bisa di deskripsikan dengan jelas. Apa sebentar itu sama dengan waktu yang diperlukan kompor untuk membuat seluruh air yang merebus daging menguap?

Matsuri membalikan tubuhnya pelan-pelan, hingga wajahnya bisa melihat dengan jelas dada bidang Gaara yang naik turun dengan teratur.

"Lima menit cukup tidak?"

Gaara mengeratkan pelukannya, dan mulai menciumi ubun-ubun Matsuri. Bulu-bulu halus di sekitar leher Matsuri berdiri beberapa saat. Sampai ia akhirnya tertawa geli.

Matsuri melingkarkan tangannya di pinggang Gaara. Tenggelam dalam pelukan sang Kazekage yang butuh sandaran. Lalu berkata. "Aku hanya punya waktu lima menit sebelum seluruh air di panci menguap dan membuat dapur meledak."

"Oke."

O.o

Walaupun sup kentang yang terhidang di meja makan tidak enak, Gaara tetap memakannya dengan lahap. Bahkan ia menghabiskan kuah sup di mangkuknya meski rasanya sangat pedas sampai membakar lidah.

Saat Matsuri memandangi Gaara yang sibuk memakan sup kentangnya dengan keringat bercucuran, Matsuri sesekali mengambil tisu dan mengelap dahinya atau menyendokan sup ke mangkuknya yang hampir kosong.

Ia tidak mengerti kenapa Gaara bisa memakan eksperimen payahnya dengan wajah datar seperti itu? Apa karena selera Gaara yang juga datar atau ia tengah bersikap sopan atas hasil kerjakeras Matsuri. Matsuri tidak juga mendapatkan jawabannya karena Gaara lagi-lagi telah mengosongkan mangkuk supnya!

"Apa sensei menyukai sup ini?"

Gaara hampir tersedak kuah ekstra pedas itu saat mendengar pertanyaan Matsuri. Untuk beberapa saat ia tak mengatakan apapun dan terlihat tengah berpikir keras. Sebelum akhirnya tersenyum tipis dan menghabiskan sup dengan cepat.

"Besok, buatkan aku masakan yang lain."

Gaara meletakan sumpit dan sendoknya. Lalu menumpukan mangkuk diatas panci sup yang telah kosong dan membereskan meja makan, ketika Matsuri terbengong tak percaya di meja makan.

'Buatkan masakan yang lain' apanya? Apa maksudnya 'buatkan masakan yang lain'? buatkan masakan yang lain karena sup kentang ini tidak enak, atau buatkan masakan yang lain karena ia suka masakanku?

Ketidakjelasan jawaban Gaara memang nomer wahid. Sepertinya, ia suka sekali membuat kalimat ambigu yang memaksa lawan bicaranya berpikir keras. Apa ini salah satu strategi sukses dunia politik? Kan orang-orang birokrat memang tidak suka mengatakan hal secara khusus.

Kalau suka, kenapa ia hampir tersedak dan terdiam saat aku bertanya rasa sup. Kalau tidak suka, kenapa ia menghabiskan supnya?

Matsuri yang tidak juga sampai pada kesimpulan, hanya menghela napas untuk menghilangkan pikiran rumit yang berkecamuk dibenaknya. Ah, sudahlah!

"Sensei, biar aku saja yang mencucinya. Sensei istirahatlah!"

"Tidak. Cepat mandi sana!"

"Huh?"

o.O

Nampaknya, Gaara sedang berusaha membuat Matsuri tinggal denganya. Ia telah memakaikan salah satu kaus miliknya di badan Matsuri yang baru selesai mandi dan tak membawa baju ganti. Ia juga membuat gadis itu melakukan ini itu seperti membuatkan teh, memotong buah, menyusun berkas, menulis memo, dan lain-lain, dan lain-lain.

Hingga, ketika jam sudah menunjukan pukul 10 malam dan ia telah selesai melakukan semua perkerjaan sampai tak ada lagi pekerjaan yang bisa ia kerjakan, gadis itu baru teringat akan waktu 'pulang'!

"Sensei, aku sepertinya harus pulang!"

Topik yang tidak ingin didengar Gaara akhirnya mencuat dan sukses merebut semua perhatiaannya dari paperwork.

"Sudah malam, dan aku sudah membantu semua pekerjaan sensei."

Gaara terdiam. Pikirannya kalut.

"Pakaian sensei sudah kumasukan kedalam lemari, teapot masih penuh, ada kue di lemari yang bisa sensei makan kalau lapar lagi, lalu berkas sudah kususun rapi. Semua memo yang sensei suruh sudah kutulis dan tinggal ditandatangani saja, seprai dan selimut di kamar sudah kuganti, dan aku telah menyiapkan makanan untuk sarapan besok. Tinggal sensei hangatkan besok pagi."

Gaara tidak peduli sama sekali dengan semua list pekerjaan yang telah diselesaikan Matsuri, toh ia melakukan itu untuk menahan Matsuri. Tapi ketika semua pekerjaan ada masa berakhirnya, Gaara jadi kehilangan ide.

"Kalau begitu aku permisi. Sensei, jangan tidur larut, ya!"

"Tu—tunggu!"

"Ya?"

Meski Gaara terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu yang penting, tak ada apapun yang keluar dari mulutnya setelah itu. Keheningan merayap.

"Ada yang ingin sensei katakan? Kalau tidak aku sepertinya harus bergegas pulang karena hari semakin larut."

Matsuri menganggap diam Gaara sebagai jawaban bahwa tidak ada lagi yang ingin disampaikan Gaara, tanpa menyadari perubahan wajahnya yang mulai menegang karena gelisah.

"Selamat mal—"

"Tu—tunggu!"

"Ya?"

Gaara tiba-tiba saja menarik tangan Matsuri dan mulai menciumi bibir gadis itu. Dua detik, lima detik, tujuh detik, sepuluh detik, tiga puluh detik, satu menit… kecupan manis, yang Matsuri kira sebagai salam perpisahan malam itu, berubah semakin lama dan dalam.

"Sen—mmphh!"

Gaara seperti tidak berniat berhenti, saat ia melepas ciuman itu beberapa detik, ia akan mulai menciumnya lagi, lagi dan lagi. Lutut Matsuri terasa lemas. Ia merasa tak sanggup berdiri lagi.

Ini bukan ciuman perpisahan. Apa yang ingin sensei katakan padaku? Ugh… napasku sesak!

Matsuri memang menikmati sentuhan Gaara. Ia dengan senang hati menerima kasih sayang Gaara sambil sesekali membalasnya. Namun, ketika ia tidak dibiarkan bernapas untuk waktu yang cukup lama, mau tidak mau tubuh Matsuri meronta, berusaha melepaskan diri.

"Sensei."

Sensei kenapa, sih? Kenapa tiba-tiba menciumiku seperti ini? Kenapa ia tidak mengatakan apapun?

Matsuri yang sedang mengontrol napas memburunya, bersandar pada bahu Gaara. Tangannya merayap menggenggam tangan Gaara dan mencium punggung tangannya.

"Sensei mau aku tinggal?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja. Gaara menjawabnya dengan mengecup kening Matsuri. memeluk pinggang Gadis itu dengan hangat dan menautkan jemari pada tangan yang sedang digenggam Matsuri.

"Hn,"

Matsuri mendongkak, melihat wajah Gaara yang sedikit merona. Dasar sensei!

Bagi Matsuri, pria yang memeluknya ini seperti mengalami perkembangan yang terhenti karena minimnya kasih sayang yang ia alami dulu. Dan ketika ia menyadari kasih sayang yang hangat dan terasa menenangkannya, ia akan mulai bertingkah seperti bayi seakan baru terlahir ke bumi. Jika dipikir-pikir lagi, Gaara benar-benar bayi besar karena ia tidak bisa tidur jika tidak ada yang memeluknya atau mengantarnya tidur.

"Aku akan tinggal." Matsuri berkata lirih. "Kenapa tidak mengatakannya sejak awal? Sensei membuatku kebingungan."

Gaara melonggarkan pelukannya, menatap Matsuri langsung kematanya sambil mengelus pipi Matsuri yang terasa halus di telapak tangannya. "Kalau bilang tinggal bersamaku selamanya, kau akan menjawab apa?"

Pertanyaan yang lebih seperti tantangan itu membuat Matsuri membeku. Sejujurnya, Matsuri tidak yakin, karena sepertinya berdiri disamping pria ini akan sangat sulit. Namun penderitaan, kesedihan, dan kesepian yang dialami Gaara terlampau dalam hingga membuat hati Matsuri tak ingin melihat kesedihan yang lainnya. Tapi bisakah cintanya menghibur Gaara? Ia bisa saja membenci lalu mencintai Gaara beratus-ratus kali lipat, tapi apakah cinta saja cukup? Benar begitu? Ia tidak yakin.

"Sensei bodoh! Harusnya sensei memilih gadis cantik dan terpandang lain. Bukan memilihku. Sensei ini kan tampan, kuat, pintar, kaya, seorang Kazekage lagi. Pasti banyak perempuan yang bersedia menikah denganmu. Aku ini… apa yang bisa dibanggakan? Aku tidak cantik, miskin, lemah, pay—"

Tak!

"Aduh! Kenapa sensei memukulku?"

"Jangan menjelek-jelekan dirimu sendiri, aku tidak suka!"

"Aku tidak sedang menjelek-jelekan diriku sendiri, tapi ini realita namanya! Kenyataannya aku mem—"

Tak!

"Aduh!"

"Sudah kubilang aku tidak suka! Kau ini benar-benar tidak kapok, ya."

"Sudah kubilang ini realita! Sensei yang tidak meng—"

Tak!

"Argghhh! Sakit tahu!"

"Makanya berhenti mengatakan hal tidak berguna seperti itu. Tingkat kenarsisanmu sungguh buruk."

"Siapa yang narsis? Sensei pasti tidak mendengar perkataanku dengan benar, kan?"

"Di dunia ini hanya orang narsis yang menilai dirinya sendiri. Kalau tidak narsis apa namanya?"

"Huh, tanpa orang mengatakannya pun, aku sudah tahu aku ini pay—"

Tak!

"Ah! Kepalaku sakit, nih!"

"Sudah kubilang berhenti, kan?! Dasar bodoh!"

"Tuh, lihat! Sensei mengatakan aku bodoh! Apa yang aku katakan memang kenyataan, bukan narsis."

"Ah, berhentilah berbicara… kau membuatku pusing!"

"Sensei sendiri yang memulai! Mana kepalaku kena pukul berkali-kali, lagi! Sakit tahu!"

"Berhenti memutar balikkan kalimatku. Disini jelas-jelas kau yang bersalah!"

"Aku bersalah dari mana? Sensei ngaco! Jelas-jelas sensei yang menggali lubang."

"Oke… oke… terserah!"

"Oh, iya… tadi memangnya kita sedang membicarakan apa?"

Wajah Gaara menengang. Ia memberikan tatapan tak percaya pada Matsuri. "Jangan berlagak bodoh!"

"Aku tidak berlagak bodoh, tadi kita sedang membicarakan apa?"

"Leluconmu tidak lucu!"

"Siapa yang sedang melucu? Aku serius, sensei lihat mataku! Apa aku sedang bercanda?"

"Kau jelas-jelas sedang menggodaku!"

"Ah, sensei ini… aku tahu wajahku lucu, tapi aku tidak sedang melucu sekarang!"

"Siapa yang bilang wajahmu lucu?"

"Siapa? Aku! Aku yang bilang barusan… Sebenarnya kita sedang membicarakan apa, sih?"

"Benar, nampaknya aku jadi bodoh dekat-dekat denganmu."

"Ugh, apa-apaan kalimat itu? Sensei mau cari ribut, huh?"

"Sudah-sudah, aku sejak awal memang sudah tahu akan begini jadinya."

"SENSEI!"

"Iya, iya…"

"Ugh, sensei tahu tidak, kalau kata-kata bisa membunuh, aku pasti sudah tak bernyawa sekarang!"

"Hahaha… berhenti menggembungkan pipimu! Ahahaha… aku bercanda… sungguh! Ahahaha…"

"Sensei ini tidak lucu! Harga diriku terluka!"

"Hahaha… Iya… iya…"

Gaara mengecup pipi Matsuri dan mulai bercanda lagi. Entah mengapa, membiarkan dirinya bebas mengalir seperti ini membuat sensasi tersendiri. Bersantai dan menikmati waktu bersama, menggoda satu sama lain, berciuman, berpelukan, hingga wajah Matsuri yang lelah, terlelap dipangkuannya.

Cinta… seperti inikah?

O.o

"Ehhmmm, Sensei… kau dengar sesuatu?"

Matsuri terbangun saat mendengar sesuatu yang samar. Matsuri mencoba membangunkan Gaara dengan mengguncang-guncang tubuhnya yang malah semakin mengeliat masuk ke dalam selimut. Terganggu.

"Ada tamu, mungkin… biarkan saja!"

"Tamu pagi buta begini? Sepertinya ada sesuatu yang mendesak! Apalagi bel tidak kunjung berhenti menyala."

"Biarkan saja, nanti pagi juga ia akan datang lagi."

Suara bel terus terdengar. Walaupun pelan karena speakernya terletak di tengah ruangan, namun cukup mengganggu. Seperti jam antik yang berdentang terus menerus dikejauhan. Matsuri menghela napas sebentar.

"Apa aku boleh membukakan pintu?" Tanyanya.

"Hn… terserah!"

Dasar! Bisa-bisanya sensei tertidur di keadaan seberisik ini?!

Matsuri berdiri dan berjalan menuju pintu masuk.

"Ha—"

"Kazekage-sama, gaw—Nona?"

Seseorang yang merupakan bawahan langsung Kazekage, terdiam sebentar begitu melihat orang yang membukakan pintu adalah orang tidak terduga.

"No—Nona Matsuri? Astaga! Ya ampuunnn!"

Si pengantar pesan mendadak tegang. Sepertinya berita gawat yang sampai tidak bisa menunggu matahari terbit ini pasti berhubungan dengan Matsuri.

Matsuri berpura-pura batuk kecil, lalu bertanya.

"Ehem, Anda mau bertemu dengan Kazekage? Sekarang beliau masih tidur, mau dibangunkan?"

"Ya ampuunnn dasar! Ada sesuatu yang memang ingin saya sampaikan… tapi bagaimana ya?"

"Kalau memang sangat gawat, aku bisa bangunkan."

"Ya? Iyaa… itu, tidak ada waktu! Sudah tidak ada waktu. Mereka akan kesini. Tadi aku mendapat kabar dari Mori-san, katanya mereka sedang berangkat kemari. Harus cepat! Aduh, bagaimana ini…?"

"Mereka? Tu—tunggu sebentar biar kubangunkan dulu. Ayo silahkan masuk. Diluar udaranya cukup dingin."

"Iya, terimakasih."

Matsuri kembali masuk ke kamar, menutup pintu lalu menguncang tubuh Gaara yang meringkuk dibawah selimut.

"Sensei…"

"Hn,"

"Itu katanya ada yang gawat."

"Apanya? Siapa?"

"Dari kantor. Mendesak sekali sepertinya. Cepat!"

Gaara bangun dengan berat hati. Ketika Gaara hendak keluar dan menemui tamu pagi buta tersebut, bel berbunyi lagi.

"Ada tamu lagi?"

"Matsuri, bisa kau bukakan pintu? Aku akan menemui orang yang ada di ruang tamu."

"Iya."

Matsuri yang tadinya hendak masuk ke dalam selimut, akhirnya harus bangun lagi. Ia berjalan dengan langkah setengah-setengah ketika ia membuka pintu masuk untuk kedua kalinya di pagi buta, wajahnya membeku.

"KAU!"

Hari masih terlalu gelap untuk disebut pagi, tapi orang-orang yang paling tidak ingin ditemui Matsuri berdiri tepat dihadapannya sekarang. Ya, Tuhan!

"Apa yang kau lakukan selarut ini disini?"

Dan apa yang anda semua lakukan bertamu selarut ini?

"A—aku…"

"Apa-apaan penampilanmu itu?!"

Matsuri menundukan pandangannya dan melihat bahwa ia sedang mengenakan kaus besar milik Gaara yang menggantung di atas lututnya.

"Kau! Dasar perempuan tak tahu malu! Kau pasti sedang menggoyangkan ekormu untuk merayu Gaara, dasar perempuan rendah!"

Huh? Apa?

"Ah, dasar tidak tahu diri! Kau pasti sedang merencanakan sesuatu, benar kan!"

Tidak… bukan! Bukan begitu…

"Kau pikir kami akan diam saja melihat kau menggoda Gaara? Lihat saja! Kami pasti tidak akan membiarkanmu!"

Aku tidak begitu! Salahh…

"Licik sekali! Kau menggunakan tubuhmu untuk mendapatkan apa yang kau mau, ya? Jangan bermimpi! Ah, dasar aku pasti sudah gila!"

Para tetua yang tidak tahu apa-apa tiba-tiba menghujaminya dengan kalimat-kalimat yang membuat hati Matsuri tersayat. Matsuri selalu tidak bisa berkata apa-apa jika dihadapan mereka karena mereka akan mengeroyoknya dengan hujatan yang menyesakkan tanpa menunggu pembelaan darinya. Sakit sekali… Ia yang tak berdaya, sesak… ingin lari… Tubuhnya selalu sesak oleh penyesalan.

"Tidak. Bukan begitu!"

Matsuri berkata dengan susah payah disela-sela air matanya yang mendesak keluar. tidak… ia tidak boleh menangis sekarang!

"Berisik! Bukan begitu apanya? Kau kira kami bodoh?! Dasar licik!"

"Ah, bagaimana mungkin kita bisa menerima perempuan murahan seperti ini untuk mendampingi Gaara? Menjadi ibu Gakure, perempuan seperti kau? Mimpi saja sana!"

Mata Matsuri terasa panas. Tenggorokannya tercekat. Sementara suara rendah nan tajam para tertua menyelimuti tubuhnya.

Kau tidak boleh menangis! Tidak bolehh…

"Matsuri? Siapa yang datang?"

Suara panggilan Gaara dari dalam rumah menghentikan hujatan beruntun para tetua.

Matsuri mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat sebelum berdehem kecil. "Ah, iya ada Tetua Suna, Sensei!" Dengan suara ceria seperti menyambut pelanggan di kedai.

Tak lama kemudian Gaara muncul di koridor rumah tak jauh dari pintu tempat Matsuri berdiri membelakanginya.

Salah seorang tetua yang tadi menghardiknya sewaktu membukakan pintu, kini tersenyum lembut pada Gaara. Perubahan ekspresi yang sangat drastis membuat seluruh tubuh Matsuri menjadi tegang.

"Hallo, selamat pagi, Kazekage-sama."

Gaara memandang para tetua, lalu pada Matsuri, pada tetua lagi dan pada Matsuri lagi.

"Ada apa?" Tanya Gaara tothepoint.

"Ada masalah gawat. Kita harus segera mengadakan rapat gabungan sekarang juga. Mohon anda mengeluarkan mandat."

Gaara nampak terdiam sebentar. "Hn, tunggu aku di kantor. Aku akan segera menemui kalian disana." Katanya, ia bahkan tak mempersilahkan orang tua itu untuk masuk ke dalam.

"Baiklah, kami permisi."

Begitu rombongan orang tua itu berbalik pergi, Gaara buru-buru menutup pintu.

"Taka!"

Panggilnya. Seseorang yang bertamu lebih awal muncul dari balik pintu ruang tamu. Lalu membungkuk kecil.

"Sekarang ceritakan apa yang sebenarnya terjadi secara keseluruhan!"

Taka nampak sedikit ragu. Berkali-kali matanya menangkap sosok Matsuri. dan terdiam cukup lama.

"Ah, rahasia ya? Aku akan pergi kalau begitu."

Matsuri yang mengerti pandangan Taka, bermaksud untuk undur diri. Namun, Gaara langsung menggenggam tangan Matsuri.

"Cepat katakan saja!" Kata Gaara mendesak Taka. Tak mengacuhkan pandangan penuh tanya Matsuri.

"Saat mentari terbit, rombongan dari Kirigakure akan tiba di Suna untuk mendengar jawaban atas lamaran Mizukage."

Matsuri terhenyak. Lamaran Mizukage?

"Temari-sama sedang dalam perjalanan untuk mengejar rombongan. Saya tidak yakin kapan beliau kembali. Mori-san sendiri baru menerima surat tersebut sejam yang lalu."

"Saya berharap anda bisa memutuskan dengan lebih bijaksana. Krisis Suna yang melanda akhir-akhir ini serta beberapa permasalahan yang bermunculan setelahnya… mohon berikan keputusan terbaik anda."

Gaara tak mengatakan sepatah kata apapun. Gaara memegang erat-erat tangan Matsuri. Matsuri yang masih mematung, tak tahu harus bersikap bagaimana. Secepat inikah Tuhan merenggut kebahagiannya?

"Saya permisi kalau begitu. Selamat pagi."

Sang pengantar pesan menghilang bersamaan dengan bunyi 'pop'. Lalu sunyi…

-TBC-

A/N: Satu chapter full GaaMatsu! Gomeennn Minna, Kesini-kesini Gaara makin OOC! Well, mau gimana lagi? SULIT mempertahankan ke-dingin-an Gaara. Alih-alih fict ini beres, yang ada malah makin ribet kayak benang kusut. Tapi aku percaya sama paham yang bilang kalau orang jatuh cinta memang suka rada-rada… yah, anggap aja seperti itu. hohoho :o

Bagaimana readers? Apa anda kecewa dengan fict yang makin gaje ini? (Eiko speechless soalnya!) Ya, tolong beritahu Eiko kalau kalian suka, kecewa, biasa aja, atau apapun itu! Eiko akan sangat senang mendengar komentar kalian. Biar cepet update juga, eheuheu ;)

Yang mau baca chapter selanjutnya, review yaa… biar Eiko Update ASAP. (#Maksa)

Sampai jumpa dichapter depan… Eiko-chi pamittt ^_~