"Tugas?"

Pria harimau itu mengangguk sebentar dengan membolak balikkan setumpuk kertas laporan di dekapannya. Ia lalu menaruh kertas tebal itu diatas meja kerjanya dan kembali mendatangi meja Ranpo yang kini di tempati adiknya.

Hima menatapnya, kedua kakinya yang tertahan di atas meja langsung turun menyentuh lantai.

"Ranpo san menitipkan Hima san ini" seraya pemberitahuan itu keluar, kedua tangan yang tadi bersembunyi di balik badan menampakan wujudnya di tambah sekotak kado besar dengan pita merah di atasnya.

Kepala Hima memereng heran, ia lalu mengangkat kakinya ke kursi dan mendekap erat dalam pelukannya. Tak mau berbicara, biarlah Atsushi membuka kotak itu.

Tapi setelah Atsushi meletakkan kotak di atas meja yang penuh sampah plastik permen ia langsung melangkah pergi dan membuat duagaan Hima tercoreng salah.

"Atshusi kun" pria itu berbalik

"Kenapa tak kau bukakan?" Kini pria itu tanpa ekspresi menatap wajah tanpa dosa putri Edogawa. Ia terus mengemut permen lolipop rasa buahnya tanpa henti hingga menimbulkan suara decakkan.

Dengan kurang ikhlas, didorong Atsushi masih punya banyak pekerjaan, ia menghampiri Himawari dan membuka kotakan hadiah besar itu. Tapi belum sampai memegang tutupnya, tangannya langsung di cegat oleh perempuan itu sendiri. Atsushi tersentak.

"Shusi kun, bisa kau bantu aku memutar kursi ini?"

Atsushi terdiam, sweetdrop. Apalagi saat wanita itu mulai memanggilnya dengan nama makanan ketimbang namanya sendiri. Itu seperti daging harimau yang bertransformasi menjadi daging shusi. Membayangkannya saja, author jadi lapar(ingatthor,wafer2bungkusgakcukup?) Back to story/

Atsushi menghela nafas, lalu mengangguk ragu. Ia kemudian berjalan ke belakang kursi tempat duduknya tuan putri dan memutarkan kursi kantor pelan pelan. Hima langsung kecewa karena Atsushi harapannya ia akan memutar secara laju, malah jadi pelan. Sangat pelan.

Ia langsung memegang tangan Atsushi supaya berhenti sejenak. Pria itu mendengarkan.

"Shusi kun, bisa lebih cepat...? Seperti yang kau lakukan untuk Dazai saat itu, sampai sofa klien itu hancur" Hima menunjuk arah depannya, dimana ada kursi sofa panjang yang hancur menyisakan buntalan busa yang kemana mana.

Mengingat itu, pria harimau ini menjadi merinding sendiri. Ia ingat 5 hari lalu atas suruhan Dazai, ia memutar laju kursi duduknya menggunakan kekuatan harimaunya dan alhasil, Dazai bersorak gembira karena bisa terbang terpantul ke sana kemari diakhiri dengan pendaratan sempurna kasur yang hancur lebur. Anehnya, Dazai Osamu tak terluka, sama sekali baik baik saja.

Atsushi langsung tersadar dari lamunannya kala melihat Hima menggigit punggung tangannya. Sempat memekik heran kenapa wanita tersebut melakukannya.

"Aku memukulmu, membentakmu, dan menegurmu dari tadi. Jadi aku menggigitmu saja, cara yang bagus bukan?" Ia mengatakan itu dengan wajah berserinya lalu duduk sedia kala. Atsushi jadi takut sendiri dengan putri terakhir Edogawa ini...

"Ba, baiklah. Bersiaplah Hima san, jika terjadi apa apa, itu bukan salahku ya" Hima mengangguk, mengangkat tangannya bersiap untuk adrenalin mematikan khas agensi ini.

Dan whussh~~ dalam satu kali hentakan putaran, kursi itu langsung memutar hebat dan membuatnya melincah kesana kemari mendekati jendela. Karena tidak adanya orang lain selain mereka berdua, Hima semakin leluasa untuk berteriak tidak sadar kalau ia semakin dekat pada jendela yang terbuka.

Atsushi yang pertama menyadari itu langsung berlari panik untuk menghentikan laju kursi yang terus memutar. Dan seiring pekikan Hima yang semakin kuat dan jarak antara kematian tak beberapa jauh, pria yang berubah menjadi setengah harimau itu datang tepat waktu menghentikan kegiatan nekat wanita ini.

Diantara rasa kekahwatiran Atsushi yang sibuk mengambil nafas setelah panik setengah mati tadi, Hima tak henti hentinya tertawa geli bahkan tubuhnya meringkuk memegangi perutnya yang terasa menggelitik. Seakan tak peduli dengan nyawanya yang terancam beberapa detik lagi jika pria itu bukanlah manusia harimau.

"Himawari san! Anda tau jika tadi aku tidak dengan sigap menangkap Hima san, mungkin Hima san akan jatuh dan hancur kebawah sana! Jika hal itu terjadi apa yang akan ku katakan dengan yang lainnya...-shhtt!"

Hima beranjak berdiri, menghentikan omongan Atsuhi dengan jari telunjuknya.

"Aku memang ingin mati kok, Sushi kun. Dazai sensei yang mengajarkanku. Dia bilang trik ini akan sukses jika aku meminta bantuanmu" ucap Hima kemudian, menyingkirkan jari telunjuknya lalu mengangkat berkas tugas di atas mejanya. Jangan lupa permen yang di emutnya barusan.

Atsushi terdiam, membalikan tubuhnya menatap punggung wanita yang lebih pendek darinya itu sambil membawa sehelai kertas ringan. Hima membalik badan, dan melambai pada Atsushi.

"Tugasnya aku terima dengan senang hati. Dan kapan kapan kita lanjutkan permainan ini lagi ya, Sushi Nakajima"

Pintu tertutup. Menyisakan Atsushi yang mematung sendirian.

Ia pasti tak akan membiarkan Hima melakukannya lagi, ia harus mencegah agar agensi ini tidak mempunyai dua orang maniak bunuh diri.

Di bawah sana, seorang wanita dengan jas kulit berwarna coklat gelap berdiri di depan pintu gedung agensi sambil menenteng tas bahu berwarna hijau daun. Ia tampak memakai kacamata hitamnya sebelum ia melepasnya lalu jatuh ke tanah akibat seseorang.

Dengan marahnya, ia memandangi belakang tubuhnya, menemukan seorang wanita sebayanya setengah tersenyum ganjil melambaikan kelima jarinya.

"Kenapa kau marah Yuu? Aku hanya menepukmu kok"

Hisayuki Toriumi menghela nafasnya dingin hingga hembusan nafas terlihat menggelembung menguap diudara. Hima tersenyum, ia bahkan sudah mengganti bajunya dengan melapisnya berkali kali.

Wanita raven itu langsung membungkukkan tubuhnya sebentar mempersilahkan Himawari menaiki punggungnya. Dan Hima menyambutnya, tergendong membuat kakinya bergantung juga memeluk teman satu kelasnya ini.

Perempuan besurai merah muda menyala itu menenggelamkan kepalanya dileher temannya hingga hembusan nafas hangatnya menggelitik Hisayuki. Ia terlonjak.

"Oi, apa yang kau lakukan Hima?!" Ucapnya sambil panik menggoncang goncangkan tubuh temannya yang tak mau bergerak.

"Ini sudah menjadi kebiasaanku Yuu. Aku juga pernah melakukan ini pada seseorang"

"Aku tidak peduli, memangnya seseorang itu siapa?" sekarang ia lebih tenang. Pasrah akan semua alasan Hima untuk tetap hangat.

"Seseorang yang kutunggu sekarang"

"Maksudmu aku?" Ucap wanita Yuu itu sambil melirik tajam. Dan Hima hanya menggeleng malas, masih membenamkan wajahnya di antara leher dan bahu sahabatnya

Bersamaan setelahnya, sebuah syal hangat berwarna merah melingkari leher Yuu dan Hima secara bergantian hingga hampir seluruh kepala wanita donat itu terbenam.

Perempuan bersurai raven panjang dengan mantel kulit memutar balikkan tubuhnya untuk melihat siapa gerangan yang berbaik hati melingkarkan kehangatan pada dirinya dan wanita yang sudah dianggapnya saudara.

Di sana ia menemukan seorang pria kopi dan dua orang lelaki dan perempuan yang sama sama memakai mantel bulu memandang ramah kepadanya. Ia menduga kalau pria berwajah oval itu yang melingkarkan syal hangat kepadanya karena jarak mereka yang tak terpaut jauh.

Melihat senyuman manis pria itu, dan tingkahnya yang tak di sengaja, membuat dadanya berdegub tak karuan. Entah apa itu, tapi ia yakin sesuatu itu yang sudah di carinya sedari lama

"Nah, semuanya sudah lengkap. Ayo pergi"

"Tunggu, siapa dia Hima chan? Dia bukan dari agensi" wanita dengan sepantaran Hima melangkah maju, memandang heran keduanya baik Yuu dan Hima sendiri.

Perempuan pink itu menyingkirkan syal yang menutupi mulutnya dan memeluk Yuu hingga wanita itu terasa tercekik.

"Dia limosin pribadiku. Jadi Dazai sensei gak perlu menggendongku lagi, hehehe"

Naomi dan Atsushi menghela nafas mereka bersamaan, dan pria kopi yang sedari tadi terdiam membiarkan mereka bercengkrama. Menyadari ada yang berbeda dari seharusnya, Hima menegur duluan dua anak muda itu.

"Dimana Tanizaki? Tumben Naomi chan bisa ditinggal..." nada suaranya begitu menggoda menyebabkan wanita bersyal ungu itu tertegun, lalu tertawa garing.

"Ia sedang bersama Ranpo san. Menangani kasus lain"

"Oh..." Himawari hanya beroh ria menjawab seadanya. Ia lalu mengeluarkan secarik kertas yang ditulisnya beberapa saat sebelum keluar menemui Yuu dan memberinya pada Dazai. Pria itu memandang kertas kuning kecil itu sejenak lalu melihat wanita penyebab itu.

"Ternyata trik yang Dazai sensei katakan saat itu sangat menyenangkan dan membuatku candu. Atsushi bilang ia akan melakukannya lain kali bersamaku lagi..."

"Eh? Tapi..."

"...apalagi saat itu ia bersemangat akan melakukannya bersama Dazai sensei juga. Benarkan, Atsushi kun?"

"...hm, baiklah.." kalah dalam debat, Atsushi memutuskan untuk mengalah dan mengiyakan semua pertanyaan wanita pink itu. Sementara wajah Dazai yang tampak berbinar mengikuti alur wajah Himawari yang bersemangat.

Dan entah kenapa, saat sedari tadi Dazai berada disini memasangkan syal hangat pada Yuu dan Hima, wanita bersurai raven panjang itu terdiam kehabisan kata kata di sertai rona merah padam setiap kali mencuri pandang dengan Dazai. Ada apa ini, apakah Hisayuki Toriumi jatuh cinta pada pria yang baru di kenalnya lewat tatapan itu? Hahaha, that's not funny guys.

"Kau tak ingin menyelesaikan misi?" Semua orang langsung berpandangan pada Dazai termasuk Hima yang masih bersembunyi di dalam syal.

"Tidak, kasus itu terlalu mudah. Selama aku menuruni tangga untuk kemari aku membacanya dan mendapat solusinya, lalu menulis semuanya dikertas itu. Dazai sensei juga sudah tau bukan penyelesaian kasus ini? Juga, Dazai sensei tidak lupa dengan Rats in the House of the Dead kan?"

Pria jakung itu tersenyum masam. Satu sudut bibirnya terangkat memamerkan senyuman remeh.

"Tapi Hima chan, kau harus ikut dengan kami" sambung Naomi

"Pertunjukan kembang apikah? Akhir tahun?" Hima memotong perkataan Dazai dengan spontannya membuat ketiga orang di depannya tersenyum kecil. Perlahan Atsushi mengangguk mengiyakan.

"Pasti membosankan..."

"Masaoka Shiki, 34 tahun. Manejer perusahaan pakaian ternama Kyoto yang di pindah tugaskan ke Yokohama 2 bulan lalu. Lalu mengakhiri hidupnya sendiri dengan terjun dari lantai 77 sebuah gedung pencakar langit ditengah kota Yokohama. Untuk sementara penyebab kematian belum diketahui"

Atsushi membaca semua yang ada di dalam file arsip yang diberikan kepolisian setempat beberapa saat lalu sesampainya mereka menginjakkan kaki di tempat kejadian secara langsung. Di lantai dasar gedung yang menjulang tinggi itu, terdapat beberapa halangan garis poisi dan sebuah mantel biru yang menutupi sebagian besar darah juga mayat di bawahya.

Naomi yang penasaran dan bosan berada di tempatnya terus menerus memutuskan untuk berkeliling sejenak dan mendongak ke atas menemui atap tinggi hingga ke atas sekali. Kalian tau, seperti ada bolongan di masing masing lantai yang menghubungkan lantai satu dan lainnya.

Jika dilihat dari posisinya dan keadaannya, itu memang murni bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari atas sana, menemui ubin keras yang menghancurkan wajahnya. Tapi yang menjadi keganjilan disini, kenapa hanya wajahnya yang hancur bahkan sampai tak teridentifikasi sedangkan tubuhnya hanya luka ringan? Mungkin karna terlalu sulit, dua jantung Agensi, Edogawa Himawari dan Dazai Osamu dikerahkan.

"Um Dazai san, kepala polisi meminta kita untuk menyelidiki tempat dimana korban menjatuhkan dirinya. Apa kita kesana?" Ucap Atsushi kemudian. Dazai beranjak dari tempat duduknya dan menggendong Himawari di punggungnya yang tak sengaja meminjam bahunya lalu tertidur. Ia mendekati lift disusul bersama yang lain.

"Tentu, aku akan mengantarnya" ucap Dazai sambil berlalu melewati pria Nakajima itu. Tubuh pria macan itu berbalik, menatap diam kedua punggung manusia yang membuatnya heran.

Beberapa detik setelah itu, semuanya yang terlibat dalam kasus sore ini keluar dari kotak lift itu dan berjalan memasuki salah suatu ruang kerja di pandu oleh seorang pelayanan maid. Sebelum benar benar di kacau dengan Dazai, Atsushi langsung menyuruhnya pergi sebelum peia seniornya itu melakukan apa apa nanti.

Para maid teman, kalian pasti tau Dazai itu suka banget menggoda cewek maid, mungkin semua wanita.

Sampai di tempat kejadian yang diduga tempat Masaoka Shiki mengakhiri hidupnya, Dazai mendekati pagar kaca yang sudah sangat rusak, bahkan serusaknya itu tidak dapat terlihat seperti pagar kaca. Atsushi yang memegang arsip mendekati seniornya dan menunduk kebawah. Memang benar, sangat benar jika ia turun dari sini ia pasti akan mati.

"Tidak Atsushi kun, dia tidak mati" pria kopi itu tiba tiba mengeluarkan suaranya dan membuat Atsushi menoleh heran. Dazai barusan membaca pikirannya?

Lalu Dazai Osamu menoleh memberi Atsushi senyumannya, "coba lihat kertas yang diberi Himawari. Saya yakin itulah solusi yang tepat untuk kasus ini"

Pria bersurai susu itu menoleh sejenak kebelakang melihat wanita pink yang menjadi pusat pemecahan masalah tengah tertidur di sofa sehabis Dazai membawanya keatas tadi. Di depannya terbentang sofa lain yang diisi dengan Hisayuki yang sibuk menatap seseorang. Naomi, ia sedang membuat coklat hangat tak jauh dari sofa.

"Ba, baik" Atsushi menuruti. Ia membuka beberapa kotak arsip dan menemukan secarik kertas yang tadi di berikan pada Dazai oleh Hima sesaat sebelum berangkat.

Hanya kasus yang terencana. Itulah isi dari kertas kecil yang di tepat di tengahnya terdapat tulisan bertinta merah tebal.

Terimakasih untuk dukungannya dan waktunya untuk mampir di FanfiDazai ini.すべてを読んでくれてありがとうSubete o yonde kurete arigatō(Terimakasih sudah membaca semuanya)