Remake dari Abbi Glines "Fallen Too Far"

Alur cerita sama dengan novel asli, hanya pemilihan kata, setting disesuaikan dengan konsep boyXboy.

Aku harap alur cerita akan cukup masuk akal ^^

Sekuel dari FF "The Virgin And The Playboy"

This sekuel is for you all!

OOC !Uke:Yoongi !Seme: Jimin

MinYoon

Rate M!

Romance, Drama, Hurt/Comfort

Yaoi, boyXboy

DON'T LIKE DON'T READ!


Chapter 10

Yoongi POV

Woori tidak senang aku pindah ke ruang makan. Dia ingin aku di lapangan. Dia juga ingin aku mengawasi Jin.

Menurut Jin, dia tidak bersama Namjoon lagi. Dia bertemu dengan Namjoon untuk minum kopi karena Namjoon menelponnya dua puluh kali sore itu. Dia bilang padanya jika dia hanya menjadi rahasia kecil maka itu sudah berakhir. Namjoon meminta dan memohon, tapi menolak untuk mengakui Jin ke lingkaran pertemanannya maka Jin mencampakkannya. Aku begitu bangga padanya.

Besok adalah hari liburku dan Jin sudah datang mencariku untuk memastikan kami jadi ke Club country yang bernama Club Fix itu. Tentu saja kami jadi. Aku butuh seorang pria, pria mana saja untuk mengeluarkan Jimin dari pikiranku.

Aku mengikuti Jokwon sepanjang hari di ruang makan. Dia melatihku. Dia menarik, tinggi, karismatik, tetapi dia sangat gemulai untuk seorang pria. Dia main mata dengan pria tanpa malu-malu. Mereka benar-benar menikmatinya. Dia akan melihat kembali padaku dan mengedipkan mata ketika seseorang akan berbisik hal-hal nakal di telinganya.

Pria itu seorang playboy dan ahli dalam hal itu. Setelah jam tugasnya selesai kami kembali ke ruang istirahat staff dan menggantung celemek hitam panjang yang harus di pakai di atas seragam kami.

"Kau akan jadi brilian, Yoongi. Para pria menyukaimu dan mereka terkesan olehmu. Tidak bermaksud menyinggungmu manis, tapi pria dengan rambut pirang platinum seperti milikmu biasanya tidak bisa berjalan lurus tanpa cekikikan."

Aku tersenyum padanya.

"Begitukah? Aku tersinggung dengan komentar itu."

Jokwon memutar matanya dan mengulurkan tangan untuk menjitak kepalaku.

"Tidak, kau tidak tersinggung. Kau tahu kau adalah pria pirang nakal yang mengejutkan."

"Mulai mendekati pelayan baru, Kwon?" Suara Jungkook yang familiar bertanya.

Jokwon memberinya senyum sombong.

"Kau tahu lebih baik dari itu. Aku punya rasa tertentu," ia membiarkan suaranya memelan menjadi bisikan seksi saat matanya menelusuri ke tubuh bawah Jungkook.

Aku melirik Jungkook yang cemberut dengan tidak nyaman dan aku tidak bisa menahan tawa, Jokwon bergabung denganku.

"Senang membuat pria sejantan dia menggeliat," ia berbisik di telingaku, lalu memukul pantatku dan berjalan keluar pintu.

Jungkook memutar matanya dan berjalan masuk ke dalam ruangan setelah Jokwon pergi.

"Apakah kau menikmati harimu?" Tanyanya sopan.

Aku menikmati hariku. Sangat. Itu pekerjaan yang jauh lebih mudah daripada berpanas-panasan di luar berurusan dengan para pria tua yang suka mengintai sepanjang hari.

"Ya. Menyenangkan. Terima kasih untuk memungkinkanku bekerja di sini."

Jungkook mengangguk.

"Terima kasih kembali. Sekarang, bagaimana kalau kita pergi merayakan promosimu dengan makanan seafood terbaik di pantai?"

Dia mengajakku keluar lagi. Aku harus pergi. Dia akan menjadi pengalih perhatian. Dia bukan tipe kelas pekerja yang aku cari tapi siapa bilang aku akan menikah dengannya?

Sebuah gambaran dari Jimin berkelebat dalam pikiranku dan ekspresi tersiksanya tadi malam.

Aku tidak bisa membiarkan diriku untuk berkencan dengan seseorang yang ia kenal. Jika dia benar-benar sungguh-sungguh pada apa yang dia katakan kemudian aku harus menjaga jarak aman dengannya. Aku tidak termasuk di dalam dunia itu.

"Mungkin lain kali saja? Aku tidak bisa tidur nyenyak tadi malam dan aku lelah."

Wajah Jungkook agak kecewa tapi aku tahu dia tidak akan punya masalah menemukan seseorang untuk menggantikan tempatku.

"Ada pesta malam ini di rumah Jimin, tapi aku rasa kau tahu itu," kata Jungkook, menyaksikan dengan cermat pada reaksiku.

Aku tidak tahu tentang pesta tapi kemudian Jimin tidak pernah memperingatkanku tentang itu.

"Aku bisa tidur melaluinya. Aku sudah terbiasa dengan itu."

Itu bohong. Aku tidak akan tidur sampai orang terakhir berderap menaiki tangga.

"Bagaimana jika aku datang? Bisakah kau menghabiskan sedikit waktu denganku sebelum kau tidur? "

Jungkook bersikeras. Aku akan mengizinkannya. Aku mungkin akan berkata tidak ketika aku sadar bahwa Jimin akan meniduri beberapa pria malam ini. Dia akan membawanya ke tempat tidur dan membuat mereka merasakan hal-hal yang tidak akan mungkin untuk aku rasakan lagi.

Aku memang butuh pengalih perhatian. Dia mungkin akan sudah memiliki pria itu di pangkuannya begitu aku tiba di rumah.

"Kau dan Jimin tampaknya tidak begitu dekat. Mungkin kita bisa jalan-jalan sedikit di luar ke tepi pantai? Aku tidak tahu apakah itu ide yang baik bagimu untuk berada di rumah di mana ia bisa melihatmu."

Jungkook mengangguk.

"Oke. Aku tidak masalah dengan itu. Tapi aku punya satu pertanyaan, Yoongi, " katanya mengamatiku lekat-lekat.

Aku menunggu.

"Mengapa begitu? Sampai malam itu di rumahnya, Jimin dan aku berteman. Kami tumbuh bersama-sama. Dalam lingkungan yang sama. Tidak pernah punya masalah sedikitpun. Apa yang memicunya? Apakah ada sesuatu yang terjadi di antara kalian berdua?"

Bagaimana aku menjawab itu? Tidak, karena ia tidak akan membiarkan hal itu dan lebih aman untuk hatiku jika kita tetap hanya berteman?

"Kami berteman. Dia protektif."

Jungkook mengangguk pelan tapi aku tahu dia tidak percaya padaku.

"Aku tidak keberatan bersaing. Aku hanya ingin tahu apa yang aku hadapi."

Dia tidak menghadapi apa-apa karena dia dan aku hanya akan berteman. Aku tidak mencari seorang pria dalam kelompok itu.

"Aku tidak dan tidak akan pernah menjadi bagian dari kelompokmu. Aku tidak berniat untuk berkencan serius dengan siapa pun yang merupakan bagian dari lingkaran elitmu."

Aku tidak menunggunya untuk mendebat. Sebaliknya, aku berjalan memutarinya dan keluar pintu. Aku harus pulang sebelum pesta jadi terlalu liar. Aku tidak ingin melihat Jimin diselimuti oleh beberapa pria.

Itu bukan kekacauan yang liar. Itu hanya sekitar dua puluh orang. Aku berjalan melewati beberapa dari mereka dalam perjalanan ke dapur. Beberapa dari mereka sedang menyiapkan minuman dan aku tersenyum pada mereka sebelum melangkah ke dapur dan kemudian ke kamar belakangku.

Jika teman-temannya tidak tahu aku tidur di bawah tangga, mereka tahu sekarang. Aku mengganti seragamku dan mengeluarkan sebuah kaos biru es untuk di pakai. Kakiku sakit karena berjalan sepanjang hari jadi aku akan bertelanjang kaki.

Aku mendorong koperku kembali ke bawah tangga dan melangkah ke dapur untuk bertatap muka dengan Jimin. Dia bersandar pada pintu yang menuju ke dapur dengan lengan disilangkan di atas dada dan kerutan di wajahnya.

"Jimin? Ada apa?"

Aku bertanya ketika dia tidak mengatakan apa-apa.

"Jungkook di sini," jawabnya.

"Terakhir kali aku periksa dia adalah temanmu."

Jimin menggelengkan kepala dan matanya mengamati tubuhku dengan cepat.

"Tidak. Dia tidak kesini untukku. Dia datang untuk orang lain."

Aku menyilangkan tanganku di dadaku dan mengambil pose defensif yang sama.

"Mungkin. Apakah kau memiliki masalah dengan teman-temanmu yang tertarik padaku?"

"Dia tidak cukup baik. Dia brengsek. Dia seharusnya tidak bisa menyentuhmu," kata Jimin dengan nada marah yang keras.

Mungkin dia seperti itu. Aku meragukannya tapi itu mungkin. Itu tidak penting. Aku tidak akan membiarkan Jungkook menyentuhku.

Kedekatan Jungkook tidak membuat perutku bergejolak dan rasa sakit di bawahku terasa.

Berbeda saat bersama dengan Jimin.

"Aku tidak tertarik pada Jungkook seperti itu. Dia adalah bosku dan mungkin teman. Itu saja."

Jimin melarikan tangannya di atas kepalanya dan cincin perak polos di jempolnya tertangkap mataku. Aku belum pernah melihat dia memakainya sebelumnya. Siapa yang telah memberikan itu kepadanya?

"Aku tidak bisa tidur sementara orang-orang akan naik dan turun tangga. Itu membuatku terjaga. Daripada duduk di kamar sendirian bertanya-tanya siapa yang kau tiduri di atas sana malam ini, kupikir aku akan mengobrol dengan Jungkook di pantai. Memiliki percakapan dengan seseorang. Aku butuh teman."

Jimin tersentak seolah aku memukulnya.

"Aku tidak ingin kau mengobrol di luar dengan Jungkook."

Ini konyol.

"Well, mungkin aku tidak ingin kau meniduri seorang pria tapi kau akan melakukannya."

Jimin menarik diri dari pintu dan menuju ke arahku mendorongku ke kamar kecilku sampai kami berdua di dalam. Satu inchi lagi dan aku akan jatuh ke belakang ke tempat tidur.

"Aku tidak ingin meniduri siapa pun malam ini," ia berhenti kemudian menyeringai, "Itu tidak sepenuhnya benar. Biar aku perjelas, aku tidak ingin meniduri siapa pun di luar ruangan ini. Tinggallah di sini dan bicaralah denganku. Aku akan bicara. Aku bilang kita bisa menjadi teman. Kau tidak perlu Jungkook sebagai teman."

Aku meletakkan kedua tanganku di dadanya untuk mendorong dia ke belakang tapi aku tidak bisa membuat diriku melakukannya setelah aku menaruh tanganku pada dirinya.

"Kau tidak pernah berbicara denganku lagi setelah pertemuan pertama kita. Aku mengajukan pertanyaan yang salah dan kau menjauh."

Jimin menggeleng.

"Tidak sekarang. Kita berteman. Aku akan bicara dan aku tidak akan pergi. Hanya tolong, tinggal di sini bersamaku."

Aku melihat ke sekeliling persegi panjang mungil yang nyaris tidak punya ruang untuk tempat tidurku.

"Tidak ada banyak ruang di sini," kataku sambil melirik ke arahnya dan memaksa tanganku untuk tetap menapak di dadanya dan tidak meraup kemeja nyamannya yang pas ke dalam tanganku dan menariknya lebih dekat.

"Kita bisa duduk di tempat tidur. Kita tidak bersentuhan. Hanya bicara. Seperti teman," dia meyakinkanku.

Aku menghela napas dan mengangguk. Aku tidak akan bisa menolaknya. Selain itu, ada begitu banyak yang ingin aku tahu tentang dia. Aku duduk di tempat tidur pada kepala tempat tidur dan bersandar. Aku menyilangkan kaki di bawahku.

"Kalau begitu kita akan bicara," kataku sambil tersenyum.

Jimin duduk ke tempat tidur dan bersandar ke dinding. Sebuah tawa yang dalam datang dari dadanya dan aku menyaksikan senyum yang nyata muncul di wajahnya.

"Aku tidak percaya aku baru saja memohon pada seorang pria untuk duduk dan berbicara denganku."

Sejujurnya, aku juga tidak percaya.

"Apa yang akan kita bicarakan?"

Aku bertanya, ingin dia yang memulainya. Aku tidak ingin dia merasa seolah-olah ini adalah interogasi. Aku punya begitu banyak pertanyaan berputar di kepalaku yang kutahu aku bisa menghujaninya dengan rasa ingin tahuku.

"Bagaimana kalau tentang bagaimana kau tidak pernah bercinta lagi setelah kau melepas keperjakaanmu?" Katanya, membalik cincin peraknya ke arahku.

Aku tidak pernah mengatakan kepadanya bahwa aku tidak pernah bercinta lagi. Aku hanya berkata aku 'tidak sering' sewaktu dia bertanya akan hal itu. Apakah sejelas itu kebohonganku?

"Siapa bilang aku tidak pernah bercinta lagi?" Tanyaku dengan nada yang paling kesal yang bisa aku kerahkan. Jimin menyeringai,

"Aku tahu ketika aku menciummu. Rasanya masih sama. Kepolosan, ketakutan, keraguan didalamnya."

Aku bahkan tidak ingin berdebat tentang hal ini. Ini hanya akan membuat kenyataan bahwa aku tidak pernah bercinta setelah di Jeju itu kelihatan lebih jelas lagi.

"Tapi aku pernah jatuh cinta. Namanya Zhoumi. Dia adalah pacar pertamaku, ciuman pertamaku, sesi bercumbu pertamaku, betapa lemahnya itu mungkin terjadi. Dia bilang dia mencintaiku dan mengklaim aku adalah satu-satunya untuk dia. Kemudian ibuku yang jatuh sakit. Aku tidak lagi punya waktu untuk kencan dan menghabiskan waktu dengan Zhoumi pada akhir pekan. Dia butuh keluar. Dia membutuhkan kebebasan untuk mendapatkan semacam hubungan dari orang lain. Jadi, aku membiarkan dia pergi. Setelah Zhoumi aku tidak punya waktu untuk kencan dengan orang lain."

Jimin menyeringai,

"Kau melewatkan kegiatan bercinta pertamamu, Yoongi. Malam bercinta yang intens, dan itu bersamaku…" lalu ia mengerutkan keningnya, "tapi tunggu, dia tidak menemanimu ketika ibumu sakit?"

Aku tidak suka pembicaraan ini. Memoriku bercinta dengan Jimin membuatku merasakan gejolak didalam tubuhku. Dan pengkhianatan Zhoumi, aku sudah lama memaafkannya. Aku menerimanya.

Aku memutuskan untuk tidak merespon salah satu pembicaraan yang akan membuat mukaku merona.

"Kami masih muda dulu. Dia tidak mencintaiku. Dia hanya berpikir dia mencintaiku. Sesederhana itu," jawabku mengenai Zhoumi.

Jimin mendesah,

"Kau memang sangat polos dan lugu."

Aku tidak yakin aku menyukai nada dalam suaranya ketika dia mengatakan itu.

"Aku sudah cukup dewasa, Jimin. Aku sudah mengurus ibuku selama tiga tahun dan menguburkannya tanpa bantuan dari ayahku. Percayalah, aku merasa berumur empat puluh hampir setiap hari."

Jimin mengulurkan tangannya di atas tempat tidur dan menutupi tanganku dengan tangannya.

"Kau seharusnya tidak melakukan itu sendiri."

Tidak, aku seharusnya tidak melakukannya tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku mencintai ibuku. Dia layak mendapatkan jauh lebih banyak daripada yang dia dapatkan. Satu-satunya hal yang meringankan rasa sakit itu adalah mengingatkan diri sendiri bahwa Ibu dan Suga bersama-sama sekarang. Mereka saling memiliki.

Aku tidak ingin berbicara tentang kisahku lagi. Aku ingin tahu sesuatu tentang Jimin.

"Apa kau memiliki pekerjaan?" Tanyaku.

Jimin tertawa dan meremas tanganku tapi tidak membiarkannya lepas.

"Apa kau percaya setiap orang harus memiliki pekerjaan setelah lulus kuliah?"

Aku mengangkat bahu. Aku selalu berpikir orang punya pekerjaan pada sesuatu. Dia harus memiliki beberapa tujuan. Bahkan jika dia tidak membutuhkan uang.

"Ketika aku lulus kuliah aku punya cukup uang di bank untuk menjalani sisa hidupku tanpa pekerjaan, berkat ayahku."

Dia melihat ke arahku dengan mata hitam yang sangat seksi.

"Setelah beberapa minggu tidak melakukan apa-apa kecuali berpesta aku sadar aku butuh kehidupan. Jadi aku mulai bermain-main dengan pasar saham. Ternyata, aku cukup bagus dalam hal itu. Angka-angka selalu menjadi keahlianku. Beberapa bulan dari tahun ini aku jadi lebih lihai dan bekerja di rumah. Pada musim panas aku libur dari segala sesuatu sebisaku, datang ke sini dan bersantai."

Aku tidak menyangka.

"Shock di wajahmu sedikit menghina," kata Jimin dengan irama menggoda dalam suaranya.

"Aku hanya tidak menyangka dengan jawaban itu," jawabku jujur.

Jimin mengangkat bahu dan memindahkan tangannya kembali ke sisi tempat tidurnya. Aku ingin menggapai dan meraihnya dan menggenggamnya tapi aku tidak melakukannya.

Dia sudah selesai menyentuhku.

"Berapa umurmu?" Tanyaku.

Jimin menyeringai,

"Cukup tua untuk berada di ruangan ini denganmu dan terlalu sangat tua untuk memiliki pikiran tentangmu."

Dia berada di awal dua puluhan. Pasti. Dia tidak tampak lebih tua.

"Aku akan mengingatkanmu bahwa aku sudah dua puluh tiga. Aku bukan bayi. "

"Tidak Yoongi manis, kau sudah pasti bukan bayi. Aku dua puluh dua dan letih. Hidupku tidak normal dan karena itu aku memiliki beberapa kekacauan serius. Aku sudah bilang ada hal-hal yang kau tidak tahu. Membiarkan diri untuk menyentuhmu akan salah."

Dia hanya setahun lebih muda dariku. Itu tidak terlalu buruk.

Dia bahkan melakukan pekerjaan dirumah? Dia akan jadi seburuk apa?

Dia memiliki hati. Dia membiarkanku tinggal di sini ketika menginginkan tidak lebih dari membuatku berkemas.

"Kupikir kau meremehkan dirimu sendiri. Apa yang kulihat di dalam dirimu adalah istimewa."

Jimin merapatkan bibirnya lalu menggeleng.

"Kau tidak melihat diriku yang sebenarnya. Kau tidak tahu semua yang telah aku lakukan. "

"Mungkin," jawabku, mencondongkan tubuhku ke depan.

"Tapi apa yang sudah kulihat sedikit adalah tidak semuanya buruk. Aku mulai berpikir mungkin saja ada lapisan lain bagimu."

Jimin mengangkat matanya untuk bertemu mataku. Aku ingin meringkuk di pangkuannya dan hanya menatap mata itu selama berjam-jam. Dia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu kemudian menutupnya... tapi tidak sebelum aku melihat sesuatu yang perak di mulutnya. Aku menarik lututku di bawahku dan bergerak mendekatinya.

"Apa yang ada dalam mulutmu?" Aku bertanya, mempelajari bibirnya dan menunggu dia untuk membuka lagi.

Jimin membuka mulutnya dan perlahan-lahan menjulurkan lidahnya. Itu ditindik dengan barbel perak.

"Apa itu sakit?" Tanyaku, mempelajari lidahnya dari dekat.

Aku belum pernah melihat orang dengan lidah ditindik sebelumnya. Dia menarik lidahnya kembali ke dalam mulut dan menyeringai.

"Tidak."

"Kau tidak memakainya ketika di Jeju?"

"Well, aku tidak mau membuat partnerku terkejut dengan tindikan ini. Jika aku tau yang kutemui adalah seorang perjaka, mungkin aku akan memakainya. Memberinya pengalaman yang luar biasa."

Aku bergidik mendengar jawabannya. Apa dia punya tindikan lain? Aku mengamati wajah dan pandangan jatuh ke tubuhnya. Sebuah tawa rendah mengejutkanku dan aku sadar aku telah tertangkap basah mencari.

"Tidak ada tindikan di dalam sini, Yoongi manis. Yang lain ada di telingaku. Apa kau begitu penasaran dengan tindikanku?"

Dia bertanya sambil meluncurkan satu jarinya di bawah daguku dan memiringkan kepalaku sehingga aku menatapnya.

Aku tidak ingin menjawab ini dengan jujur. Aku sedang menikmati waktu kami bersama-sama. Aku tahu kalau aku terlalu cepat menggali terlalu dalam dia akan lari.

"Ketika kau menciumku tadi malam aku juga tidak merasakan barbel perak ini."

Kelopak mata Jimin diturunkan dan ia mencondongkan tubuh ke depan.

"Karena aku tidak memakainya, lagi."

Dia memakainya sekarang.

"Ketika kau, eh, mencium seseorang dengan itu dapatkah mereka merasakannya?"

Jimin menarik napas tajam dan mulutnya bergerak lebih dekat denganku.

"Yoongi, suruh aku pergi. Please…"

Jika dia hendak menciumku, aku tidak akan menghentikan kesenangannya. Aku ingin dia di sini. Aku juga ingin menciumnya dengan benda itu di mulutnya.

"Kau akan merasakannya. Di manapun aku ingin menciummu, kau akan merasakannya. Dan kau akan menikmatinya," ia berbisik di telingaku sebelum menekan ciuman ke bahuku dan mengambil napas dalam-dalam.

Apakah dia menciumku?

"Apakah kau... kau akan menciumku lagi?" Tanyaku terengah-engah saat dia menempelkan hidungnya ke leherku dan menghirupnya.

"Aku ingin. Aku ingin begitu sangat menginginkannya tapi aku mencoba untuk menjadi baik," gumamnya di kulitku.

"Bisakah kau tidak baik hanya untuk satu ciuman? Please?"

Tanyaku, bergeser lebih dekat kepadanya. Aku akan berada di pangkuannya segera.

"Yoongi manis, begitu sangat manis, " katanya saat bibirnya menyentuh lekukan leher dan bahuku.

Jika dia terus begini aku akan mulai mengemis. Lidahnya keluar dan membelai cepat pada kulit lembut di leherku saat ia menjejaki ciuman di sepanjang rahangku sampai mulutnya melayang di atas mulutku. Aku mulai memohon lagi tapi ia menekan satu ciuman lembut ke bibirku dan itu menghentikanku. Lalu ia menariknya kembali tetapi hanya satu inchi. Napasnya yang hangat masih terasa dibibirku.

"Yoongi, aku bukan pria romantis. Aku tidak mencium dan berpelukan. Ini semua tentang seks bagiku. Kau pantas mendapatkan seseorang yang mencium dan memeluk. Bukan aku. Aku hanya melakukan seks, baby. Kau tidak ditakdirkan untuk orang sepertiku. Aku tidak pernah menyangkal diriku untuk sesuatu yang kuinginkan. Tapi kau terlalu manis. Kali ini aku harus mengatakan tidak pada diri sendiri."

Saat kata-katanya masuk ketelingaku aku merintih akan suara erotis dari kata-kata nakalnya yang terlontar dari lidahnya. Itu tidak sampai ia berdiri dan meraih gagang pintu aku menyadari bahwa ia akan pergi dariku. Lagi. Meninggalkanku seperti ini.

"Aku tak bisa bicara lagi. Tidak malam ini. Tidak sendirian di sini bersamamu."

Kesedihan dalam suaranya membuat hatiku terluka sedikit. Lalu ia pergi dan menutup pintu di belakangnya. Aku bersandar di kepala ranjang dan mengerang frustrasi.

Mengapa aku membiarkan dia di sini? Permainan konflik emosi yang ia mainkan ini bukan levelku. Aku bertanya-tanya ke mana ia akan pergi sekarang. Ada banyak pria di luar sana yang akan dia cium. Satu pria yang tidak masalah ia cium jika mereka memohon. Hentakan orang-orang yang naik tangga berderak di atas kepalaku.

Aku tidak bisa tidur untuk sementara waktu. Aku tidak ingin tinggal di sini dan Jungkook menungguku. Tidak ada alasan untuk membatalkan pertemuan dengannya. Aku sedang tidak mood untuk berbicara dengannya tapi aku setidaknya bisa mengatakan padanya bahwa aku tidak bisa mengobrol di pantai.

Aku berjalan ke dapur. Punggung Hoseok menghadapku dan dia menekan seorang pria di meja dapur. Tangannya terbelit di rambut coklat Hoseok. Mereka tampak sangat sibuk. Aku diam-diam keluar pintu belakang berharap aku tidak berjalan melewati setiap sesi bercumbu lainnya.

"Aku tidak berpikir kau akan muncul," suara Jungkook muncul dari kegelapan.

Aku berbalik untuk melihat dia bersandar di pagar mengawasiku. Aku merasa bersalah karena tidak datang ke sini dulu dan membiarkan dia tahu aku tidak akan bertemu dengannya. Aku tidak bisa mengatur untuk membuat keputusan yang bijaksana di mana Jimin terlibat.

"Maafkan aku. Aku teralihkan." Aku tidak ingin menjelaskan.

"Aku melihat Jimin keluar dari pojokan kecil yang ia punya untukmu di belakang sana," jawabnya.

Aku menggigit bibir dan mengangguk. Aku ketahuan. Mungkin juga mengakui kesalahan.

"Dia tidak tinggal lama. Apakah itu kunjungan ramah tamah atau dia mengusirmu?"

Itu... itu adalah kunjungan yang menyenangkan. Kami melakukan pembicaraan. Sampai aku memintanya untuk menciumku itu sudah menyenangkan. Aku menikmati saat bersamanya.

"Hanya mengobrol," aku menjelaskan.

Jungkook tertawa keras dan menggeleng.

"Mengapa aku tidak percaya itu?"

Karena dia pintar.

Aku mengangkat bahu.

"Kita masih jadi jalan-jalan ke pantai?"

Aku menggeleng.

"Tidak. Aku lelah. Aku datang ke sini untuk menghirup udara segar dan berharap menemukanmu untuk menjelaskan."

Jungkook memberiku senyum kecewa dan menjauh dari pagar.

"Well, baiklah. Aku tidak akan mengemis."

"Aku tidak akan mengharapkanmu begitu," jawabku.

Ia berjalan kembali menuju pintu dan aku menunggu sampai dia kembali ke dalam sebelum bernapas lega. Itu tidak begitu buruk. Mungkin sekarang dia akan agak mundur. Sampai aku tahu apa yang harus dilakukan dengan ketertarikan yang aku miliki ini untuk Jimin, aku tidak butuh orang lain yang membuatku lebih bingung.

Aku memberikannya beberapa menit lalu berbalik dan mengikutinya ke dalam. Hoseok tidak lagi di bar dengan pria itu. Mereka pergi ke tempat yang lebih terpencil rupanya. Aku mulai menuju ke pintu dapur ketika Jimin masuk ke dapur diikuti oleh pria berambut coklat yang cekikikan. Dia menggantung di lengan Jimin dan bertindak seperti dia tidak bisa terus berjalan. Mungkin karena pengaruh alkohol.

"Tapi kau bilang," dia meracau dan mencium lengan dimana ia menempel.

Yep ia mabuk. Mata Jimin bertemu mataku. Dia akan menciumnya malam ini. Dia bahkan tidak harus mengemis. Dia juga akan terasa seperti bir.

Apakah itu sebuah rangsangan untuknya?

"Aku akan melepas celanaku di sini jika kau mau," katanya, bahkan tidak memperhatikan bahwa mereka tidak sendirian.

"Hey, aku sudah bilang tidak. Aku tidak tertarik, " jawab Jimin tanpa berpaling dariku.

Jimin menolaknya. Dan dia ingin aku tahu.

"Itu akan menyenangkan," katanya keras kemudian tiba-tiba meledak tawa yang lain.

"Tidak, itu menyebalkan. Kau mabuk dan cekikikanmu membuatku sakit kepala, " jawabnya.

Matanya masih belum meninggalkanku. Aku menjatuhkan mataku dan mulai ke pintu dapur ketika pria mabuk itu akhirnya melihatku.

"Hei, pria itu akan mencuri makananmu," bisiknya keras.

Wajahku memerah. Sial. Mengapa hal itu mempermalukanku? Aku jadi konyol. Dia mabuk berat. Siapa yang peduli apa yang dipikirkannya?

"Dia tinggal di sini; dia bisa memiliki apa pun yang dia inginkan," jawab Jimin.

Kepalaku tersentak dan matanya tidak meninggalkanku.

"Dia tinggal di sini?" Tanya pria itu.

Jimin tidak mengatakan apa-apa lagi. Aku mengerutkan kening padanya dan memutuskan satu saksi kami tidak akan mengingat ini di pagi hari.

"Jangan biarkan dia berbohong padamu. Aku tamu tak diharapkan yang tinggal di bawah tangganya. Aku menginginkan beberapa hal dan dia terus mengatakan tidak padaku."

Aku tidak menunggu jawabannya. Aku membuka pintu dan melangkah masuk.

1-0 untukku.


-TBC-

[Sedikit info untuk umur mereka di sini]

[Yoongi : 23. Jimin: 22. Taehyung:21]

[Jin jelas lebih tua dari Yoongi asumsikan aja dia sekitar 24 tahun]

[Hoseok, Namjoon dan Jungkook seumuran dengan Jimin: 22 tahun]

[Hoseok & Jimin emang sepantaran karena walau punya Ibu (Hyori) yang sama tapi itu ibu tiri mereka masing-masing, jadi mereka saudara tiri tanpa ada ikatan darah]

[Kurang lebih seperti itu. Aku juga mumet liatin silsilah Hyori ini, namja nya banyak banget]

[Mana anak tirinya semua cakep-cakep (bagi 1 donk ahjumma)]

[Huehehe...]

[Satu lagi, cukup banyak yang 'greget' sama yoongi yang terkesan 'lemah' berhadapan dengan Jimin]

[Karakter dia di sini memang sangat polos, kaya kertas putih]

[Perjakanya aja ilang umur 20+, & pacaran sama teman masa kecil sekaligus cinta pertamanya, Zhoumi]

[Jadi pas dia ketemu dengan Jimin yang juga cowok pertama yang 'tidur' sama dia, udah gitu cakep dll bikin yoongi mabok kepayang]

[Jimin di sini juga karakternya cukup dominan, selain karena dia emang playboy, cakep. Dia juga kaya raya karena harta ayah kandungnya yang artis (drummer busker busker), jadi dia emang sosok yang 'mudah' untuk dipuja]

[Jungkook di sini juga cukup dominan, kaya, tegas, dan bos yang baik. Tipe perayu & penggoda tapi rekor membawa pria ke ranjang belum aku temukan hehehe]

[**Pinku sendiri suka banget sama karakter Jungkook di sini, pria idaman :D]

[Jangan kesel sama yoongi yaaa, dia cuma seorang pria lugu yang kecantol sama pria yang (semoga aja ngga) brengsek :D]

[Sorry jadi nulis notenya panjang blablabla hihi]

[Seperti biasa, review?]

[Thank you ^_^]