Naruto .. Oh Naruto
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru slight AllSemeNaru
Rated : T+
Genre : Romance (genre bisa berubah sesuai suasana hati 'Loshi kalau lagi nulis,hehe#plak)
Warning : Yaoi, Typo(s), Lime, AU, OOC, OC, BL, EYD tidak mendukung, Perkataan sehari-hari, dll
...
Chapter kemarin:
"Teme," panggil Naruto sambil berbalik melihat Sasuke. Sasuke mengalihkan pandangannya pada Naruto. Naruto berlari padanya, seperti sebuah cerita cinta yang sangat manis, Naruto menubrukan dirinya pada Sasuke. Membut pemuda Uchiha itu memeluknya begitu erat karena tubrukan itu. Sebuah cerita cinta akan benar-benar akan di mulai sekarang.
Naruto telah tau sebuah cinta yang menantinya dari dulu. Sasuke tidak sia-sia datang ke sana. Shikamaru masih terus berpikir dengan tertidur, di sampingnya Kyuubi hanya diam dan menatap tajam Shukaku.
Satu seme telah hilang dan berganti dengan sahabat yang begitu baik. 'Aku harap semuanya akan berakhir dengan baik seperti ini.' Pikir Naruto di pelukan Sasuke. Otaknya terlalu munafik. Sifat seseorang selalu berbeda-beda, tidak tentu dan terus bergulir seiring orang itu berfikir. Dan untuk dunia luar seperti ini, cinta adalah sesuatu hal yang bisa membuat orang buta. Cinta buta yang tidak melihat sisi baik dan buruk, dengan segala cara terus berkompetisi untuk mendapatkannya.
.
-Chapter 10-
.
"Hei, darimana saja kalian?" tanya Kyuubi sambil bangun dari bangkunya dan berjalan ke arah dua sejoli yang baru saja datang—Sasuke dan Naruto. Kyuubi melihat tingkah Naruto yang sedikit berbeda mengenyitkan kening. Melihat tangan berbalut kulit tan halus itu menyentuh mulut kulit putih pucat.
Hell, no! Ada apa ini, kenapa Naruto terus menggandeng tangan anak ayam di depannya?!
"Ada apa ini?" tanya Kyuubi sambil mengambil melirik gandengan tangan Naruto. ".. dan dimana si panda itu?" tanya Kyuubi lagi. Melihat ke belakang Sasuke dan Naruto untuk mencari keberadaan Gaara, melihat Sasuke dan Naruto kembali meminta penjelasan.
Shikamaru yang berada di belakang Kyuubi mengenyit lalu melirik gandengan tangan Naruto. Naruto dan Sasuke saling melihat, "Aku dengan Dobe ini telah resmi. Dan kami tidak terpisahkan kembali." Ucap Sasuke menyeringai ke arah semua pemuda yang ada di sana. "..dan Gaara tadi pulang terlebih dulu." Lanjut Naruto.
Semuanya yang berada di sana diam. Shukaku tidak tau harus mengatakan apa dengan keadaan yang sekarang. Dia hanya bisa diam, melihat perubahan wajah dari beberapa orang di sana. Lagipula dia dalam keadaan seperti ini juga karena ke tidak sengajaan. Jadi lebih baik diam daripada sok tau dan sok ikut campur lalu memperparah keadaan.
"Apa maksudmu, anak ayam?" tanya Kyuubi menggeram.
Sasuke hanya menyeringai lalu memeluk bahu Naruto, seperti mencoba memperparah keadaan dengan membuat Kyuubi panas, dan semakin mendekatkan tubuhnya dan Naruto. "Seperti yang kau lihat, rubah." Ucap Sasuke. Mereka tidak tau jika Shikamaru sudah berdiri dari tempat duduknya, dan berdiri di samping Naruto.
"Naruto ikut aku!" ucap Shikamaru.
Dengan cepat tanpa bisa di tahan, Shikamaru mengambil genggaman tangan Naruto dari Sasuke. Menyeretnya dengan cepat, dan lebih parahnya lagi, Naruto sama sekali tidak memberontak! Hanya diam dan mengikuti kemana Shikamaru membawanya.
"Kau lengah, ayam!" bentak Kyuubi sambil mengejar Shikamaru dan Naruto, begitupun juga dengan Sasuke. Dia sudah mendapatkan Naruto, dan jelas dia tidak mau kehilangan! Oh, tidak. Seorang Uchiha tidak akan pernah membiarkan yang telah menjadi miliknya hilang. Tidak akan pernah!
Dan Shukaku?
Dia hanya diam dengan wajah yang bengong. "Jadi, aku ditinggal sendiri?" tanyanya entah pada siapa. Mungkin pada orang-orang yang sedang menjerit karena wahana.
.
(~^3^)~ (^o^)/
.
Selain itu, di tempat lain,
Bruk
Tubuh Shisui ambuk dengan darah dan memar di wajahnya. Seorang laki-laki yang sedang berdiri di hadapannya menyeringai senang. Di tariknya tubuh shisui yang telah tidak sadarkan diri lalu di pukulnya kembali. Terlihat memar terparah adalah di bagian matanya. Darah menetes dari sudut bibir dan kepalanya yang berdarah seperti habis terkena benda tumpul.
"Kau harusnya menurutiku. Berhentilah bermain-main, lalu tinggalkan orang itu." Bisik orang itu lalu melempar tubuh Shisui sampai membentur salah satu sudut dinding. Tempat yang cukup gelap itu tidak bisa menghalangi raut wajah gila orang itu.
Tap tap tap
Dengan langkah tegap sambil mengusap bibirnya yang sedikit berdarah—bekas hantaman keras Shisui saat melawannya—, dan tangannya yang terlihat sedikit memar—bekas baku rantamnya—dengan sapu tangan biru aksen awan merahnya.
Di masukkannya sapu tangan itu dengan apik pada saku celananya. Melihat Shisui yang masih belum usik dari tempatnya. Berdecih, lalu benar-benar meninggalkan tempat itu. Di tutupnya pintu gedung yang terlihat kusam itu. "Lebih baik mati saja kau." Serapah orang itu.
.
(~^3^)~ (^o^)/
.
Kembali ke taman bermain,
Naruto masih setia menerima seretan Shikamaru yang membawanya ke salah satu bangunan kecil, sebut saja itu toilet.
Bruk
Shikamaru dengan cepat mendorong masuk tubuh Naruto hingga menabrak pinggiran bilik kamar mandi. Naruto merintih, sambil memegangi tangannya yang sakit terpentok. Menatap Shikamaru yang masuk dan mengunci pintu itu. Kamar kecil itu sekarang penuh dengan dua orang pemuda yang sedang saling berpandangan.
"Kau salah, Naru." gumam Shikamaru sambil sedikit mengelus pipi Naruto. Mata kuacinya melihat tajam mata shappire di depannya. "Kau salah. Kau salah menilaiku!" bisik Shikamaru menempelkan keningnya di kening Naruto yang sedang membulatkan matanya dengan nafas memburu.
Naruto tau kesalahannya, dan dia tidak tau harus menyesal atau tidak mengetahui itu.
"Shi-shika..." Naruto mencoba memanggil Shikamaru yang sekarang berjongkok menyamakan tingginya dengan Naruto yang terduduk.
"..." Tapi sepertinya Shikamaru sama sekali tidak mau membalas panggilannya itu.
Memanggil pun percuma, hingga akhirnya mereka berdua hanya diam. Entah menunggu apa, karena di antara mereka sama sekali tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Apakah mereka menunggu tindakan? Tindakan apa? Apakah tindakan—
"Shi-shika..." panggil kembali Naruto sedikit bergetar, saat dengan pelan Shikamaru mengecup pipi dan cuping telinga Naruto dengan suara berdecak yang sengaja dibuat-buat. Terus mencoba menggoda Naruto yang gelagapan. Naruto melirik ke arah Shikamaru yang masih mengecupi wajah sebelah kirinya dengan hikmat. 'Andai kau melakukan ini kemarin, Shika. Andai kau tidak telat menunjukkan perasaanmu yang sesungguhnya. Hatiku hanya untukmu,' Pikir Naruto sambil memejamkan matanya. Tapi, bayangan Sasuke dan dirinya sedang saling berpelukkan hangat tiba-tiba datang kembali—membuat Naruto memejamkan matanya lebih erat. '...tapi semua ini sudah terlambat! Ada Sasuke yang mencintaiku dan menyayangiku dengan lembut!' Pikir Naruto kembali dalam hatinya.
Bruk
Dengan kencang Naruto mendorong tubuh Shikamaru hingga Shikamaru melepaskan tubuhnya dan jatuh terduduk hingga punggungnya membentur pintu kamar kecil itu.
Naruto mengatur nafasnya. Terlihat sedikit butiran bening yang bersemayang di ujung matanya. Andai ada pasokan butir lagi, butiran itu akan dengan mulus jatuh melewati lembah tan hingga ke bawah.
"Hah... hah..." Naruto masih sibuk mengatur nafasnya selagi melihat Shikamaru yang menatapnya tajam. Naruto menundukkan kepalanya, tidak sanggup melihat mata kuaci yang begitu sangat disukanya. "Kau... telat, Shika." Ucap Naruto parau. Mengangkat tangannya untuk menutupi wajahnya yang sekarang sudah basah dengan tetesan air bening yang meluncur mulus. "Kau telat. Andai kau melakukan semua ini kemarin atau kemarin, atau bahkan tadi! Aku dengan senang hati melayanimu. Tapi, sekarang ada orang lain. Orang lain yang menggantikanmu," lanjut Naruto dengan lirih.
"..." Shikamaru tetap diam.
"Kau tau?" tanya Naruto sambil mengangkat kepalanya. "Aku begitu menanti hal ini," ujarnya tersenyum miris. "... tapi dulu." Lanjutnya.
Suasana hening, tidak ada yang bicara lagi. Naruto tidak terisak, tidak bergumam, tidak bergerak sedikit pun. Bagaikan patung hanya diam.
Shikamaru hanya menatap Naruto. Tidak bicara, tidak mencoba menenangkan Naruto, tidak mencoba menghasut atau apapun. Dia masih sibuk berpikir, 'Ini kah salahnya?' pikirnya dalam hati. 'Apakah ini semua sudah berakhir? Usahanya dari dulu, saat memisahkan Naruto, Kyuubi dan Gaara itu berakhir disini karena Uchiha? Uchiha!' pikirnya geram.
.
.
Sementara itu, Kyuubi dan Sasuke masih sibuk mencari Naruto yang tadi dibawa Shikamaru. Kyuubi tidak mau mencari bersama Sasuke, pikirnya Sasuke juga saingannya. Untuk apa dia mencari bersama dengan saingannya yang hanya akan membuatnya semakin kesal.
Sampai akhirnya Sasuke berjalan sendiri di sebuah tempat sepi. Mungkin bagian pojok taman ria. Disana hanya ada bangunan kecil dengan tulisan 'Toilet'. Entah apa yang mendorongnya untuk mengecek kesana. Lagipula tidak ada salahnya bukan.
Sasuke pun melangkahkan kakinya. Sayup-sayup Sasuke mendengar suara lirihan disana dan suara gedebum kecil. Sasuke semakin cepat melangkahkan kakinya, semakin dekat hingga akhirnya Sasuke berakhir di depan pintu salah satu bilik.
"Shika,"
'Suara itu? Naruto!'
Belum sempat Sasuke mendobrak pintunya, pikirannya mencoba menengahi semuanya. Tidak ada salahnya menguping untuk mendengar percakapan sebenarnya mereka bukan? Dia tidak mau sampai Naruto ternyata masih punya sesuatu yang tersembunyi didalam dirinya. Dan saat ini Sasuke bisa mengetahuinya dengan jelas, bagaimana caranya dia bisa mengambil Naruto 'seutuhnya' untuknya dari rusa sialan itu.
Cukup lama hingga Sasuke mendengar suara dentuman keras seperti seseorang yang terjatuh ke lantai dan menghantam pintu bilik. Sasuke bersiap masuk apabila ada suara Naruto berteriak, tapi nyatanya tidak ada. Sasuke hanya mendengar sayup-sayup suara Naruto yang terdengar sangat miris.
"Kau tau?"suara Naruto terdengar oleh Sasuke, Sasuke yakin sekarang Naruto sedang menangis terdengar dari suaranya yang sedikit serak. "Aku begitu menanti hal ini," Perasaan Sasuke sakit sekali mendengar kalimat itu. Sasuke tersenyum miris saat mendengarnya, baru Sasuke akan melangkah pergi suara lain membuatnya membelalakkan matanya. "... tapi dulu." Lanjut Naruto.
Jadi, Naruto... sudah menjadi miliknya? Sepenuhnya!? Betulkah?
Sasuke tersenyum sangat samar. Jadi semua yang di inginkannya benar-benar menjadi kenyataan? Orang yang paling di cintanya berhasil di rebutnya dari pemiliknya? Seorang Uchiha seperti dirinya memang tidak bisa diremehkan. Semua yang direncanakan Sasuke berjalan dengan baik. Ternyata orang yang bersabar memang selalu mendapatkan hasil yang lebih. Mencoba mendengarkan lagi apa yang akan terjadi dan keluar dari mulut manis Naruto, tapi tidak ada sepatah kata pun lagi keluar ataupun suara.
Hening..
"Sudah selesai menguping, Uchiha?"
.
Di dalam bilik, Shikamaru menatap Naruto tajam. Mendelikkan matanya ke sebelah kanan, terlihat bayangan seseorang yang sedang berdiri di depan pintu biliknya—sepertinya. Orang itu akan pergi, tapi saat Naruto menyelesaikan kata yang begitu dibenci dan tidak mau didengarnya, Shikamaru tau siapa yang berada di depan.
"Sudah selesai menguping, Uchiha?" ucap Shikamaru menatap Naruto. Dalam pikirannya terus berkecembung, 'Apakah ini semua sudah berakhir? Usahanya dari dulu, saat memisahkan Naruto, Kyuubi dan Gaara itu berakhir disini karena Uchiha? Uchiha!' pikirnya geram. Shikamaru melihat mata biru berhiaskan permata cair itu membulat sempurnya. Sepertinya Naruto tidak mengetahui bahwa ada orang yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka.
Jadi, Shikamaru pun berdiri dari tempatnya dan membuka pintu bilik. Membuat kedua mata berbeda itu melihat satu saja lain. Mata onix yang diketahui milik Sasuke pun melirik ke arah lain, melihat keadaan di dalam kamar kecil itu.
Melihat Naruto yang sedang memandangnya dengan shock dan blushing bersamaan. Lalu perlahan mencoba bangun dari pojokan.
"Sa-sasuke? se-sejak kapan?" tanya Naruto.
Sasuke melihat Shikamaru, "Sejak aku tau kau sudah benar-benar berpaling padaku." Jawab Sasuke menyeringai di depan Shikamaru. Menjawab pertanyaan Naruto dengan menatap menang kepada mata kuaci di depannya. Sungguh sangat menyenangkan membuat orang yang begitu dia benci menjadi marah seperti ini.
Shikamaru mendecih, berbalik melihat Naruto. "Kau tau Naruto, sampai kapan pun aku tidak akan melepasmu." Bisik Shikamaru lalu pergi sambil menubrukkan bahunya ke bahu milik Sasuke.
Naruto menatap shock kepergian Shikamaru. Dia... dia salah mengambil langkah! Naruto tau dari dulu, Shikamaru memiliki sifat yang selalu berbeda, dan inilah kesalahannya. Membuat salah satu sifat itu berkuasa. Sifat yang paling ditakutkan Naruto kembali pada diri Shikamaru. Seharusnya Naruto tau, pada saat dulu Shikamaru memergokinya dengan Sasuke, sifat itu akan keluar. Tapi sekarang semuanya terlambat, dia melupakan semuanya. Egois dengan keinginannya dan membuat dirinya maupun Sasuke menjadi terancam.
.
.
Naruto terus menunduk—menyembunyikan wajahnya di balik surai pirangnya. Terus berjalan di belakang Sasuke sambil tetap menggandeng tangan putih itu. Dan saat Sasuke berhenti berjalan..
Bruk
...Naruto akan menambrak punggung Sasuke secara telak.
"Sebenenarnya ada apa denganmu, Dobe?" tanya Sasuke berbalik dan mengangkat dagu Naruto—melihat bagaimana raut wajah Naruto sekarang. Sasuke tertegun, Naruto terlihat gusar. Mata biru itu terlihat tidak fokus sama sekali, bahkan hanya untuk menatap wajahnya saja Naruto terlihat tidak mau. Kenapa sebenarnya dengan Naruto? Apa yang tadi baru saja dilakukan oleh rusa itu? Jadi untuk menenangkan kekasih hatinya itu, Sasuke memeluk erat Naruto. Membisikkan kata-kata yang menenangkan. Tidak peduli jika orang-orang akan melihat mereka seperti sebuah tontonan gratis yaoi. Bahkan ada beberapa fujodashi yang memotret mereka pun, Sasuke tidak peduli.
"Aku akan selalu ada disisimu, Naru. Jangan takut seperti ini. Sebenarnya ada apa denganmu?" Bisik Sasuke.
.
Di sisi lain taman ria,
Kyuubi sedang asik melihat ke sana-sini untuk mencari keberadaan rubah kecilnya yang hilang di ambil seekor rusa. Mata ruby-nya menangkap sosok yang dari tadi di carinya. Dengan cepat Kyuubi memacu kakinya untuk menghampiri orang yang sedang berjalan dengan santai itu.
Bruk
"Kyaaa..!"
Kyuubi langsung menghantam pipi Shikamaru yang sedang berjalan dengan santai menuju pintu keluar taman ria. Shikamaru terjerebab dengan cepat saat menerima pukulan yang datang tidak di sangkanya. Sedangkan para perempuan yang tidak sengaja melihatnya langsung berteriak. Siapa yang tidak kaget melihat kedua orang pemuda tampan tiba-tiba saja saling baku hantam. Apa mereka terkena jebakan dari sebuah stasiun televisi? Mereka rasa tidak karena ekspresi kedua pemuda itu begitu natural.
"Dimana dia?" tanya Kyuubi sambil memegang kerah baju Shikamaru yang menatapnya datar lalu menguap. Membuat kemarahan Kyuubi yang memang sudah di batas maksimal semakin tersulut. Orang di depannya sepertinya tidak tau jika Kyuubi itu pemegang sabuk hitam karate, dan pemenang turnamen tingkat jepang.
"..." Shikamaru hanya menatap Kyuubi. Tidak membuka mulutnya sama sekali.
"Aku tanya dimana dia?!" tanya Kyuubi sambil berteriak.
"Dia sedang bersama anak ayam itu." jawab Shikamaru tanpa sedikit pun ekspresi ketakutan. Yang ada Shikamaru menatap tajam Kyuubi, membuat mata kuacinya memancarkan sesuatu yang tidak diketahui oleh Kyuubi artinya.
Sret
Shikamaru menarik kerah baju Kyuubi. Mendekatkan mulutnya pada telinga kanan Kyuubi, lalu berbisik, "Sebentar lagi kau akan kehilangannya lagi."
Deg
Jantung Kyuubi berdetak sangat cepat. Matanya membulat sempurnya melihat Shikamaru yang entah sejak kapan menyeringai melihatnya. Dengan perlahan Kyuubi melepaskan kerah baju Shikamaru, dan berjalan mundur dengan lunglai. Kyuubi mencengkram pela surai orangenya dengan kencang, sambil menggeleng dengan cepat. Alih-alih melihat Shikamaru yang sedang berdiri dan membersihkan celananya.
"Darimana kau tau tentang—?" Kyuubi tidak sanggup melanjutkan pertanyannya. Dengan cepat Kyuubi berjalan mundur lalu berlari entah kemana.
Shikamaru hanya menatap kepergian Kyuubi dengan dingin. Lalu dengan santai dia melangkahkan kembali kakinya. "Mendokusei," gumamnya.
Tap
Shikamaru berhenti melangkahkan kakinya tepat di depan pintu keluar taman ria. Dengan santai Shikamaru mengambil phonselnya lalu menelepon seseorang sambil kembali berjalan. "Kau bisa mulai sekarang." Ucapnya pada orang di sebrang.
.
.
Drap drap drap
Kyuubi terus berlari di antara kerumunan banyak orang. Tidak peduli pada beberapa orang yang berteriak padanya karena tertubruk begitu keras. Kyuubi terus berlari tanpa tujuan. Entah apa yang dipikirkannya, tapi yang jelas sekarang pikirannya kalut. Lintasan ingatan masa lalu terlihat olehnya begitu jelas. Sakit, hatinya yang terdalam merasakan sakit yang begitu menyakitkan. Teriakan itu terdengar lagi olehnya, tangisan itu, jerit kesakitan dan lirihan.
Kyuubi terus bergumam sambil berlari. Tidak sengaja matanya melihat dua orang yang dari tadi di carinya. Matanya berkilat dengan tiba-tiba saat melihat kedua orang itu, terutama salah satu di antara mereka. Dengan cepat Kyuubi berlari dan mendaratkan pukulan keduanya pada orang itu.
Bruk
"SASUKE..!"
Kyuubi memukul telah pipi kanan Sasuke, membuat Sasuke terhuyung ke belakang dan Naruto yang terdorong hingga jatuh dan menjerit melihat Sasuke yang dipukul.
"Kyuubi!?" teriak Naruto bangun dan memeluk Sasuke sambil memandang tajam Kyuubi dengan mata birunya yang terbelalak karena shock. "Apa yang kau lakukan!?" bentak Naruto pada Kyuubi.
Kenangan itu teringat lagi. Dia membentakmu. Dia menjerit. Dia menangis.
Air mata itu jatuh dengan perlahan karena kesalahanmu. Dia menangis karenamu. Dia menjerit kesakitan oleh apa yang kau lakukan. Itu semua salahmu.
Bayangan beberapa tahun yang lalu terus bergulir di otak Kyuubi. Suara orang-orang itu terus terdengar membuat telinga, hati dan semua pada dirinya sakit. Kyuubi memegangi telinganya dan kepalanya. 'Sakit! Hatiku sakit!' jerit Kyuubi dalam dirinya. Melihat Naruto yang memandangnya dengan garang dan mata yang begitu kesal menatapnya. Mata yang cerah itu marah padanya. Kyuubi menggelengkan kepalanya saat dirinya berpikir seperti itu. 'Jangan... jangan tatap aku seperti itu!' Jerit Kyuubi sambil melangkahkan kakinya ke belakang.
"Kyuu," panggil Naruto saat Kyuubi terlihat sangat tertekan.
"Jangan..."
"Kyuu, ada apa?" tanya Naruto menghampiri Kyuubi. Mencoba meraih tangan Kyuubi yang sedang meremat surainya sendiri.
Plak
Kyuubi menepit tangan Naruto dengan begitu kasar hingga hampir saja Naruto jatuh jika tidak di tangkap oleh Sasuke. "Kyuubi," lirih Naruto memandang takut Kyuubi.
"Kumohon, jangan! Jangan pandang!" Kyuubi semakin histeris. Tidak peduli banyaknya orang yang melihat mereka seperti orang yang sedang melakukan pertunjukkan drama. Kyuubi semakin histeris, membuat Naruto semakin panik ingin mendekap orang yang begitu berharga baginya itu dengan kuat. Andai Kyuubi tidak menepisnya tadi, Naruto pasti akan mendekap Kyuubi hingga Kyuubi kembali.
'Sebenarnya ada apa dengan Kyuubi?' pikir Naruto kalut.
"Permisi, permisi... permisi, biarkan aku lewat." Terdengar suara yang begitu nyaring. Naruto maupun Sasuke melihat ke arah suara itu berasal. Seorang pemuda yang begitu mereka kenal pun datang. Dengan mata yang terbelalak Shukaku menghampiri Kyuubi.
"Kyuubi!" panggil Shukaku. Shukaku juga mencoba untuk melerai Kyuubi, tapi Kyuubi juga menepisnya. Shukaku mengalihkan perhatiannya pada Naruto dan Sasuke, "Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Shukaku.
Naruto menggeleng, "A-aku tidak tau. Ta-tadi Kyuubi datang dan tiba-tiba saja memukul pipi Sasuke. Dan sa-saat aku membentaknya, Kyuubi ja-jadi seperti itu." jawab Naruto lirih. "I-ini salahku." Lirihnya lagi.
"Harusnya kau tidak membentaknya!" ucap Shukaku dengan dingin pada Naruto.
"Jaga nada bicaramu!" ucap Sasuke pada Shukaku. Mereka berdua saling bertatapan dengan tajam, sementara Naruto melihatnya dengan sayu.
"Maaf," lirih Naruto.
"Ini bukan salahmu, Dobe. Kita tidak tau apa-apa." Ucap Sasuke pada Naruto sambil memeluk tubuh Naruto yang bergetar halus.
Shukaku menghela nafas berat. Memang mereka tidak salah, tapi entah kenapa Shukaku selalu tidak suka dengan pandangan Kyuubi pada Naruto. Apalagi saat tau Kyuubi seperti ini karena bentakan dari Naruto. Itu membuat hatinya tersulut dengan api kekesalannya sendiri. Entah apa arti rasa kesal itu, tapi yang pasti Shukaku tidak menyukai semua ini.
Shukaku mendengus kesal, "Bisa kau bantu aku?" tanya Shukaku pada Sasuke dan Naruto.
Sasuke maupun menatap Shukaku bingung.
"Aku akan menggunakan obat bius. Bisa kalian hentikan dulu pergerakannya?" ucap Shukaku memperjelas.
Naruto langsung mengangguk dan menghampiri Kyuubi. Kyuubi mencoba menepis Naruto tapi dibiarkan oleh Naruto. Pipi Naruto terkena tepisan tangan Kyuubi, tapi tangan Kyuubi berhasil di pegang oleh Naruto. Membuat tangan kanan Kyuubi di genggam erat oleh Naruto.
"Sasuke, bantu aku." Ucap Naruto.
Sasuke segera mengambil tangan kiri Kyuubi, dan menggenggamnya erat—sangat erat—supaya Kyuubi tidak bisa melukai Naruto.
Shukaku segera mengambil obat bius miliknya dan sedikit menuangkannya pada sapu tangannya. Membekap hidung Kyuubi dengan kencang hingga Kyuubi akhirnya jauh pingsan.
"Bantu aku untuk mengangkatnya." Perintah Shukaku. Naruto dengan segera membantu Shukaku, sedangkan Sasuke langsung mengusir orang-orang yang sedari tadi melihat mereka dengan hanya menatap semua orang itu dengan sangat tajam.
.
(~^3^)~ (^o^)/
.
Di sebuah ruangan, Neji, Kiba, dan Sai sedang duduk di sebuah sofa. Tidak ada yang bicara mereka hanya saling melihat dan minum sesekali. Hingga Sai akhirnya membuka suara.
"Apa kalian berpikir sama denganku?" tanya Sai. Neji, dan Kiba saling melihat lalu melihat Sai secara bersamaan. Sai menghela nafas, "Aku rasa Uchiha itu sebentar lagi akan mendapatkan Naru-chan." Ucap Sai to the point.
Neji diam, dan Kiba menimpali. "Aku rasa juga begitu. Aku beberapa hari yang lalu melihat mereka di sebuah pusat perbelanjaan berdua." Ucap Kiba membuat Neji maupun Sai tersulut.
"Kapan kau melihatnya?" tanya Neji.
"Sekitar beberapa hari yang lalu," jawabnya sambil mengingat ingat, lalu menatap Neji. "Memangnya kenapa?" tanya Kiba.
"Aku rasa Naruto meminta untuk di antar membeli hadiah untuk Shikamaru." Kata Neji masuk akal—walau sebenarnya itulah kenyataanya. Sai dan Kiba saling melihat, lalu mengangguk bersamaan.
"Apa kau tidak takut Uchiha itu akan mengambilnya dari kita?" tanya Kiba lagi.
Walau bagaimana pun, di antara semua seme Naruto. Mereka mempunyai sebuah kesepakatan tidak tertulis untuk membagi Naruto. Tidak ada yang boleh menguasai Naruto. Walaupun itu Naruto sendiri yang memintanya. Bahkan Shikamaru pun sepertinya mengetahui kesepakatan tidak tertulis itu sehingga dia hanya diam saat Naruto sedang bersama semenya yang lain. Shikamaru tidak memprotes sama sekali, hanya diam lalu tertidur sepertinya tidak pernah terjadi apapun.
Neji dan Sai melihat Kiba yang meluncurkan pertanyaan itu dengan seenaknya. Tentu saja mereka tidak mau Naruto di ambil oleh salah satu semenya—tentu saja itu termasuk Shikamaru. Apalagi jika diingat Sasuke adalah seme baru Naruto. Jadi apabila siapapun yang berhak, maka yang lebih berhak adalah seme yang terlama menjadi seme Naruto.
Jadi Neji dan Sai pun memilih menjawab dengan setentak, "Tentu saja tidak."
Dan Sai, Neji maupun Kiba menyeringai. Mereka tidak mau uke mereka diambil. Naruto milik mereka bersama, jadi tidak ada yang boleh mengambil Naruto. Tidak ada yang boleh!
Naruto... oh Naruto, kau membuat semua sememu akan bertarung cepat atau lambat untuk memperebutkanmu.
.
(~^3^)~ (^o^)/
.
Sementara itu Itachi sedang bersama dengan Pein. Walaupun mereka berbeda umur, tapi Pein adalah teman salah satu rekan Itachi. Itachi adalah seorang pemimpin genk di daerahnya kekuasaannya—tanpa seorang pun di keluarga ataupun teman kampusnya tau. Dan Pein adalah teman dari bawahan Itachi. Dan sekarang entah apa yang sedang mereka bahas, Pein maupun Itachi terlihat sangat akrab—tentu saja dengan artiaan berbeda. Keakraban mereka haruslah dilandasi dengan adanya timbal balik dan keuntungan.
Pein terlihat dingin begitu pun juga Itachi. Pein memang masihlah seumuran (baca: sedikit tua) dari Naruto. tapi kemampuannya untuk melakukan sebuah trategi dalam dunia luar sangat briliant. Pein yang bergelimangan harta sama dengan Itachi masuk ke dalam dunia jalanan dengan begitu mudah, mengingat otaknya yang licik dan juga kemampuan ototnya yang di atas rata-rata anak seumurnya.
Pein menyeringai saat Itachi berbicara dengan panjang lebar meninggalkan kesal Uchihanya. Demi orang itu, Itachi mampu melakukan apapun. Dan demi orang itu pula Pein mau bergaul dengan Itachi—yang notabel sangat tidak di sukainya.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Itachi pada Pein.
Pein menyeringai, "Aku tidak berpikir demikian. Aku hanya tidak mau namaku di depannya hancur. Dan lagi, kita melakukan ini saat kita ingin menjauhkannya dari yang lain. Dan sesudahnya kita juga akan sama bertarung. Apa kau tau itu?" tanya Pein.
Itachi mendengus keras, "Tentu saja. semua itu juga tidak luput dari perhitunganku. Dan jika kau meremehkan Uchiha kau akan kalah." Seringaian yang begitu indah terpantri rapih di bibir tipis Itachi. Wajahnya yang tampan bukan lagi sekedar tampan tapi bagaikan iblis yang menyamar menjadi seorang malaikat tanpa sayap untuk menutupi kekuatannya.
"Dan kau menyusun rencana itu hanya akan membuatmu menang tanpa bertarung saat orang-orang itu hancur. Aku tau kau itu lebih licik dariku, tapi asal kau tau, aku tidaklah sebodoh yang aku kira." Sergah Pein dengan dingin.
Itachi menyeringai dengan sangat lebar mendengar apa yang dikatakan Pein. Memang benar rencana yang dibuatnya sekarang itu hanya membuatnya untung, dan Pein dapat mengetahui hal itu hanya dengan sekali mendengar apa yang dikatakan Itachi. Entah benar atau salah Itachi memilih rekan untuk rencananya. Tapi di atas semua itu Itachi tau orang di yang berada di depannya masih sangatlah jauh di bawahnya.
"Kau bicara seperti itu memang benar. Tapi asal kau tau, semua itu bisa saja meleset. Aku tau semuanya juga berdasarkan apa yang kau ketahui, dan jika itu semua salah aku pun akan gagal, kau tau itu." ucap Itachi.
Pein dan Itachi terus berbicara hingga mereka akan mendapatkan keputusan 'terbaik' yang akan mereka ambil untuk langkah selanjutnya.
.
(~^3^)~ (^o^)/
.
Sasori sedang terduduk di atas sebuah gedung. Matanya melihat suasana kota yang begitu ramai. Jari-jarinya terus menerus bergerak di atas angin—seperti melakukan gerakan memencet not pada piano. Tanpa takut sedikit pun Sasori duduk tepat di bagian ujung tembok. Dia tidak takut jika akan ada orang yang berbuat jahil atau apa pun dan menjorokkannya ke depan—hingga dia kehilangan nyawa. Tidak, dia tidak takut sama sekali. Dia sudah tau semua resiko itu.
"Di sebuah berita, seorang laki-laki menjadi gila dan terus menerus membunuh orang secara berturut-turut," ucapnya entah pada siapa dengan lirih. Angin berhembus dengan kencang, membuat surai merahnya bergoyang, dan matanya menutup menikmati semilir angin malam. "Dan setelah di ketahui semua itu karena laki-laki itu adalah seorang gay—sama sepertiku," ucapnya lagi. "Entah kapan kalian akan saling membunuh, tapi aku akan tetap pada pendirianku. Melindunginya dan memberikan yang terbaik untuknya." Lanjutnya.
"Keluarlah, aku tau kau disitu... Deidara." Ucap Sasori melirikkan matanya kesamping. Walaupun dia tidak bisa melihat orang itu tapi bayangan hitam itu terlihat jelas dari sudut matanya.
Tap tap tap
Suara langkah kaki begitu terdengar di pendengarannya, tidak seperti tadi hampir tidak terdengar, seperti seorang penjahat yang menguntit.
Seorang pemuda dengan rambut pirang panjang, tubuh ramping terbungkus sebuah pakaian hangat mendekat ke arah Sasori. "Ternyata kau peka juga," ucap pemuda itu—Deidara.
Sasori menengus mendengar apa yang di katakan Deidara. Di angkatnya kakinya itu dan berbalik melihat pemuda pirang panjang di belakangnya. Mereka saling melihat, "Sosokmu begitu mencolok bagaimana mungin aku tidak merasakannya." Jawab Sasori dengan santainya.
Deidara hanya diam, tidak ada kemauan untuk menyanggah dan beradu mulut dengan pemuda di depannya. Mereka memang sudah saling mengenal—baik.
"Duduklah," ajak Sasori menggerakkan kepalanya—memberikan isyarat.
Deidara tersenyum lalu melangkah mendekati Sasori. Terduduk berdua sambil melihat langit tanpa bintang. Polusi udara yang begitu pekat membuat bintang-bintang indah itu terhalang. "Kau sungguh-sungguh akan melindunginya bukan?" tanya Deidara memecah keheningan.
"Tentu, dia orang yang berharga untukku... dan juga untukmu bukan?" jawab Sasori ambigu. Entah dia bertanya atau menjawab.
Hening..
Mereka hanya diam, tidak ingin memberatkan kembali pikiran mereka yang sudah begitu berat.
.
.
.
Tbc
A/N: huweee chapter ini bener-bener kelewatan gaje T^T... Udah lama gak update malah begini huhuhu.. gomen.. oh iya pemberitahuan, mungkin fic ini kurang lebih 10 chap lagi bakalan tamat hehe. Soalnya mulai dari chapter sekarang akan mulai masuk konflik hehe.. Setelah sekian lama bingung mau sampe chap berapa ternyata kepikiran juga hehe
Thanks spesial for: Amach cie cerry blossom, Uzumaki Prince Dobe-nii, Guest(1), Akira Naru-desu, Euishifujoshi, Kim Seo Jin aka CloudKimmy, GerhardGeMi, Kkhukhukhukhudattebayo, Farenheit July, Keiji Wolf, Yue. Lawliet, Indahyeojasparkyuelfsaranghae Kim Hyun Joong, RaFa Llight S.N, Princess Love Naru is Nay, Laila. R. Mubarok, Iztha dark neko, Imperial Nazwa-chan, Kinana, Yu, TheBrownEyes'129, haruna yuhi, erunaru. Chan, guest(2), achiez.
Makasih udah mereview^^... karena baca review kalian aku jadi inget harus update, jadi semangat deh hehe..
So, mind to review?
