Chapter 10 – Choice


Summary

Ketika Yona dijatuhkan pada tiga pilihan oleh Yasmine, ia lalu membuat pilihan keempat yang akan menentukan hidup dan mati Hak, bahkan dirinya sendiri.


"sebelum itu terjadi, pergilah ke neraka duluan" ujar seseorang menusuk Amara dari belakang dengan belati.

Sesosok jubah merah maroon mendarat disertai suara gemerincing lonceng di gelang kakinya, melepas tudung jubah dan cadarnya setelah mendarat di belakang Amara dan menusuk Amara, membuat orang-orang yang melihatnya terpana.

Gadis itu memiliki warna kulit yang putih pucat seperti salju, warna bibirnya yang merah terlihat kontras dengan warna rambut lurusnya yang putih bersih seperti salju, kedua bola mata berbentuk mata kucingnya memiliki warna hijau yang unik, mata kanannya berwarna hijau muda rerumputan sedangkan warna mata kirinya memiliki warna hijau permata Jade, terdapat tatto kupu-kupu Ageha di wajah bagian kiri dengan mata kirinya sebagai pusatnya. Bola mata hijau yang unik itu menatap dingin Amara yang ia tusuk dengan belati di tangannya.

Amara berlutut di tanah sambil muntah darah karena luka yang ia dapat "kenapa... apa yang anda lakukan, nona Yasmine? bukankah anda juga setuju untuk menjatuhkan kerajaan Kouka?! Karena itu kita harus membangkitkan Kokuryuu sebagai langkah awal...".

"jangan salah paham, yang kumaksud bahwa aku setuju untuk menjatuhkan kerajaan Kouka adalah aku setuju untuk menggulingkan raja Kouka yang saat ini berkuasa sampai titik terendah dalam hidupnya dan menderita sampai ia merasa hidup segan mati tak mau, tapi aku tak pernah bilang kalau aku setuju Kokuryuu dibangkitkan karena itu akan membahayakan wadahnya, yaitu Hak" ujar Yasmine mengambil sabit milik Amara.

"siapa kau?" tanya Soo Won.

"namaku Yasmine Dilwale Mira... nama ayah kandungku adalah Ulla Dilwale Khun dan nama ibu kandungku adalah Maya Sahara Sandra...".

Melihat orang-orang disitu menatapnya dengan mata terbelalak, Yasmine terkekeh "benar, aku putri bungsu mereka dari 3 bersaudara dan sekarang...".

Yasmine mengarahkan sabit milik Amara yang kini ada di tangannya ke leher Amara "karena kau sudah membunuh kakak laki-lakiku, kau tak bisa protes jika kau kubunuh, kan? aku tak sebaik ibu dan kakakku, jadi... apa ada kata-kata terakhir?".

"hentikan, Yasmine" ujar Maya yang asli muncul di depan mereka, menahan tangan Yasmine dan menyuruh Amara pergi.

Saat Amara pergi bersamaan dengan bergemuruhnya langit akibat petir pertanda hujan akan turun, Yasmine menatap dingin Maya "kenapa malah menghentikanku, ibu? Ibu tak marah melihat kakak dibunuh?".

"tak mungkin seorang ibu tak marah jika anaknya mati terbunuh... jika itu juga terjadi padamu atau Leila, tentu aku juga akan marah seperti saat ini... saat aku harus kehilangan putraku..." ujar Maya menutup mata sesaat, sorot matanya tampak begitu tenang "tapi tak ada orang tua yang berharap anaknya menjadi pembunuh... tak mungkin aku akan diam saja melihat putriku akan melumuri tangannya dengan darah, meskipun itu kau lakukan demi membalas dendam kematian kakakmu".

"kalau begitu, jangan menghentikanku!?" ujar Yasmine emosi.

"apa kau pikir ibu tak menahan amarah? mengertilah?!" ujar Maya mencengkram kerah baju Yasmine "bukankah ibu sudah sering bilang, jangan sampai kau terjatuh ke jalan binatang?! kau harus menahan amarahmu!? Jangan meneruskan rantai kebencian yang tak berujung, harus ada seseorang yang memutuskan rantai kebencian?! seburuk apapun perbuatan lawan, salah jika kau membalas atau mengadilinya dengan berbuat kejahatan juga karena itu berarti kau sama saja dengannya!? Meski terasa sakit dan menyedihkan, jangan kehilangan dirimu sebagai manusia".

Saat hujan turun, seolah menyamarkan air mata yang mengalir dari mata Maya, Yasmine hanya diam saat melepas jubah merah maroonnya yang ia kenakan pada Maya. Yasmine kini hanya mengenakan kostum penari berwarna hitam dengan renda merah maroon dan korsase bunga mawar di tengah rompi atasan yang hanya menutupi sebagian dadanya, kedua lengannya tertutup oleh panjang lengan baju berbentuk kimono dengan ujung berenda, sementara rok biru muda berenda yang dikenakannya memiliki lipitan yang memanjang dari paha hingga kaki sehingga kaki langsingnya terekspos dari paha, syal renda mawar warna hitam melingkar di lehernya, sementara di kedua sisi kepalanya dijepit dengan beberapa tusuk konde berbentuk bunga melati. Kostum yang ia kenakan membuat dada dan punggungnya terlihat, sehingga tatto harimau putih di pinggul, tatto ular hitam di punggung dan tanda lahir berbentuk bunga melati yang besar di dadanya terekspos meski mereka heran melihat perban melilit leher serta kedua tangan dan kaki Yasmine.

"baik hati, ya... memang karena ibu seperti inilah, ayah memilih ibu meski ibu manusia... tapi sayangnya, aku tidak sebaik ibu..." ujar Yasmine menyeringai dan menjentikkan jari "mangsa yang sudah diincar, tak akan dilepaskan...".

Tidak jauh dari sana, terlihat tanah dekat Amara berpijak mencuat keluar dan berubah bentuk menjadi harimau putih berukuran raksasa yang menerkam Amara dari bawah sehingga hanya kepala Amara yang tersisa di tanah.

"Yasmine, kau...!?" ujar Maya mengangkat tangannya, tapi sebelum sempat Maya menampar Yasmine, Yasmine menahan tangan Maya dan menangkap tubuh Maya yang tak sadarkan diri setelah Maya meringis kesakitan sambil memegangi dadanya.

Mizuki menghela napas "jadi orang yang terlalu baik seperti nyonya Maya memang kadang menyusahkan, tapi susah juga jika terlalu keras seperti nona Yasmine".

Kayano geleng-geleng kepala "nona besar, setidaknya tolong tahan diri... setidaknya, anda bisa menahan diri di depan ibu anda sendiri dan membunuhnya di tempat lain, kan? penyakit nyonya Maya jadi kumat lagi, kan?".

"sudahlah... Kayano, jaga ibuku sebentar... Mizuki, netralisir tubuh mereka dari efek cuci otak Amara selagi aku mengurus mereka" sahut Yasmine menunjuk Yona dkk setelah menyodorkan Maya pada Kayano lalu menyerahkan Mulan dan Kyouka yang tak sadarkan diri pada Mizuki "mumpung sedang hujan, kekuatanmu penuh, kan? setelah itu secepatnya kita bawa ibuku ke villa rahasia kita".

"baik, nona besar" ujar Kayano dengan sigap menyelimuti Maya.

"adikku, cepat bangun!?" ujar Mizuki menampar Kyouka bolak balik.

Yasmine menghampiri Yona dkk dan menepuk lengan Ura "Ura, bawa kakakku".

"tunggu, Hak mau kau bawa kemana?" tanya Yun.

Yona menahan Ura saat Ura hendak membawa Hak "jangan, harus dirawat disini dulu?!".

"tapi pernapasan buatan dan pijat jantung tak ada gunanya lagi" ujar Hakuyo.

"biar aku yang lakukan?!" sahut Yona.

Saat Yayoi hendak menggunakan kekuatan penyembuhnya pada Hak, Ura menahannya karena tak ingin Yayoi terkena efek samping dari luka kegelapan lagi.

Beberapa saat Yona melakukan pernapasan buatan dan pijat jantung pada Hak dibantu Yayoi yang menggunakan kekuatan penyembuhnya pada Hak, namun sia-sia.

"Yona, sudahlah..." ujar Lily yang memeluk Yona dari belakang sambil menangis, ia bisa ikut merasakan sakitnya.

"tidak mau... lepaskan!?" sahut Yona yang memberontak saat Lily dan Jae Ha menahannya ketika Ura membopong Hak.

Yasmine menarik kerah baju Yona dan menampar Yona "jika kau juga orang yang berada di 'atas', seharusnya kau sadar kalau kematian atau pengorbanan dari 'bawah' adalah hal yang tak dapat terhindarkan...".

"tunggu, apa kau tak sadar situasi macam apa yang terjadi disini?" ujar Lily menarik Yona dan mendorong Yasmine.

"setidaknya aku tahu perasaanmu dan aku mengerti kenapa kau memikirkannya, tapi sekarang kau harus membuat pilihanmu sendiri... tentukan sendiri, apa kau akan berhenti berjalan setelah kau kehilangan dan menyia-nyiakan pengorbanan mereka yang gugur atau tetap berlari di atas jalan berduri dan dipenuhi kubangan darah ini?" ujar Yasmine menepis tangan Yona, lalu berbalik memunggungi Yona "Mizuki, adikmu sudah bangun, kan? bisa kita pindah tempat sekarang? hujannya makin deras, ibuku bisa tambah sakit".

"aktifkan segel air!?" ujar Mizuki menempelkan tangannya ke tanah, sehingga sinar putih yang membentuk tanda bunga teratai bersinar di tempat Yona dkk dan Yasmine berpijak.

"teleport" ujar Kyouka memegang bahu Mizuki sehingga Yona dkk bersama Yasmine, Maya, Mulan dan Kayano menghilang dari tempat itu.


"...raja Soo Won, apa kita bisa membicarakan soal perjanjian kerja sama di lain waktu?" tanya Tao

"...kelihatannya kita sama-sama memerlukan waktu untuk mendinginkan kepala atas apa yang baru saja terjadi, jadi aku setuju saja" sahut Soo Won meminta pasukannya mundur.


Mereka berpindah tempat di villa rahasia milik Yasmine dan Maya.

Yasmine menancapkan Tsu Quan Dao milik Hak dan katana yang terselip di pinggulnya di atas tanah, sedangkan kedua tangan Yasmine memegang pedang bersarung coklat, gagang pedang itu berukiran naga emas yang melingkar, di mulut naga dan mulut sarung pedang itu tertempel permata biru batu Lapis Lazuli "kau punya tiga pilihan... pertama, cabut Tsu Quan Dao jika kau ingin mengakhiri perjalanan untuk menyambut pagi yang hangat di balik selimut empuk dan berada di bawah dunia yang disinari mentari, kau tidak perlu lagi mengalami hal yang menyakitkan ini dan hidup damai dengan bersembunyi seumur hidupmu di tempat aman, aku bisa menyiapkan tempat itu untukmu dan teman-temanmu... kedua, cabut belati milikku jika kau bersedia ikut denganku, mencari cara untuk membawa kembali kak Hak ke dunia ini dengan konsekuensi kau harus pergi tinggalkan kerajaan Kouka bersama teman-temanmu dan kak Hak yang mendapat nyawa barunya, tidak perlu lagi terlibat dengan intrik politik kerajaan Kouka... dan ketiga, jika kau ambil pedang raja Hiryuu yang ada di tanganku, silahkan teruskan perjalananmu untuk melindungi kerajaan Kouka, dengan atau tanpa perlindungan kakakku dan menyambut pagi di tengah dinginnya hujan yang serasa membekukan tulang... tanpa kak Hak juga sudah ada ke-4 ksatria naga yang akan melindungimu, kan?".

Yona menyeka air matanya dan berdiri, mengambil belati milik Yasmine di tangan kanannya dan tangan kirinya menggenggam pedang raja Hiryuu yang ada di tangan Yasmine "pilihan keempat... kau bantu aku bawa kembali Hak kemari jika masih ada cara membawanya kembali ke dunia ini dan kami akan meneruskan perjalanan kami... karena bagiku takkan ada yang bisa menggantikan kakakmu".

Yasmine tertawa keras, terkekeh sambil menutupi wajahnya "kau benar-benar serakah... bagus, aku suka itu... kalau begitu, apa kau siap melakukan apapun itu untuk membawa kembali kakakku kemari meski dengan taruhan nyawamu? Salah-salah, malah bisa saja kau yang mati saat berusaha membawanya kembali kemari".

"apapun terserah... aku tak mau kehilangannya secepat ini... dengan cara seperti ini..." isak Yona.