Tittle : Eternal Sunshine

Genre : Brothership, Friendship, Family

Rating : Fiction T

Cast : Kyuhyun dan kawan-kawan …. temukan saja ya

Disclaimer : Canon, Typos, Geje, If read don't bash, jangan meng-copi paste meskipun menyertakan nama.

Summary : Kyuhyun percaya matahari akan selalu bersinar kekal. Kyuhyun percaya akan cinta dan kasih sayang, meski di saat ia tak sedang diperlihatkan.

.

.

.

Chapter 10

.

.

.

Minho menggigit ujung pensilnya dengan pandangan yang tidak terusik dari buku-buku itu. "Changmin hyung, apa aku boleh menyerah? Pikiranku rasanya mendadak rusak jika berhadapan dengan angka-angka ini."

"Lalu untuk apa kalian ke sini? Setelah bersusah payah membujukku untuk mengajari, pada ujungnya kau Minho-ya, malah ingin menyerah begitu saja."

"Hyung, jangan bawa-bawa aku juga. Ini masalah Minho. Aku hanya mengantarkan dia.", protes Jonghyun.

Minho dan Jonghyun sedang berada di rumah Changmin. Meraka datang beralasan untuk membahas tugas kuliah yang tidak bisa dimengerti oleh Minho.

Changmin menghela nafasnya, "Minho-ya, jika Jonghyun saja bisa, mengapa kau tidak minta diajarkan oleh dia saja?"

"Aku tidak suka jika bertanya pada Jonghyun. Setiap kali aku salah, dia akan memukul jari-jariku menggunakan penggaris. Dia menakutkan sekali, hyung.", tukas Minho sambil mengerutkan dahinya.

"Jadi apa gunanya kita membahas ini lagi? Toh sepertinya kau memang tidak ada niat untuk mengerjakannya."

Minho mengerling. "Sebenarnya setiap kali aku memulai untuk serius, entah mengapa mataku seperti dihipnotis oleh ribuan angka itu, aku menjadi mengantuk. Ini menjengkelkan." katanya seraya meletakkan sembarang buku itu di atas meja.

"Kau lihat sendiri kan, hyung, siapa yang menyebalkan di sini.", ucap Jonghyun.

Changmin hanya terkekeh.

"Tapi aku..", Minho tiba-tiba menghentikan ucapannya. Ia menyadari ada cengkraman manik kokoa Jonghyun yang tajam seperti pisau dapur milik neneknya.

"Ya, aku sudah tahu itu," sahut Jonghyun sambil mengambil alih buku itu dan melihat isi di dalamnya.

Beberapa saat Jonghyun lantas tersenyum ringan. Well, ia akui sebenarnya Minho bukan orang yang bodoh, hanya saja dia malas dengan mata kuliah yang didominasi oleh angka-angka. Semakin hari selalu mencederai pikirannya. Begitulah yang sering Minho katakan pada Jonghyun. "Changmin hyung, maafkan atas kelakuan temanku yang selalu menyusahkanmu.", ucap jonghyun sambil menampilkan tawa keringnya pada Changmin lalu berpaling kembali menatap Minho penuh sebal.

Alis Changmin berjinjit seketika sebelum akhirnya turut menatap Minho yang tiba-tiba menggaruk kepalanya bertingkah kikuk. Changmin tahu mereka berdua datang ke rumah sebenarnya bukan untuk membahas pelajaran. Terutama Minho, ia bukan tipe anak manis yang akan membantu orang tuanya di rumah ketika mendapatkan waktu liburnya. Minho akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bertemu sahabat-sahabatnya, meski dengan alasan yang tak masuk akal sekalipun. Changmin mungkin tak pernah keberatan, selama ia bisa mengatur waktu pertemuan mereka, ia akan senang sekali jika bisa berkumpul dengan sahabatnya. Namun terkadang Minho suka bertindak seenak hatinya, seperti halnya saat ini, ia tidak peduli meski harus menyeret Jonghyun juga. Changmin hanya bisa menggelengkan kepala, "Dasar bocah nakal," katanya sambil tertawa.

Changmin beranjak meninggalkan buku-buku yang masih berserak di atas meja, dan berbaring di tempat tidurnya. Sementara Jonghyun dan Minho mulai asik menikmati orange juice buatan eomma Changmin

"Kemarin malam Kyuhyun meneleponku, katanya dia merindukan kalian.", ucap Changmin sambil memandang langit-langit di kamarnya.

"Aku sudah tahu, kemarin sore dia juga mengirim e-mail padaku dan mengetik 'Aku rindu Jonghyunieku' sebanyak lima puluh kali.", ucap Jonghyun dengan wajah datar.

Changmin dan Minho dibuat tertawa. Bisa membayangkan bagaimana reaksi Kyuhyun jika mereka bertemu. Kyuhyun akan dengan mudah meninggalkan imagenya sebagai sunbae mereka dan berpolah layaknya anak lima tahun yang bertemu teman bermainnya. Mengingat Jonghyun dan Minho sedang disibukkan dengan jadwal kuliah, sehingga mereka jarang bertemu akhir-akhir ini.

Tak lama kemudian mereka berdua bergabung bersama Changmin di atas tempat tidur king size itu. Ikut memandangi langit-langit kamar yang dipenuhi hiasan stiker bintang. Jonghyun tahu jika Changmin tak menyukai hal yang berbau kekanak-kanakkan, maka ia pun bertanya, "Hyung, sejak kapan kau mengoleksi benda seperti itu di kamarmu?"

"Minggu lalu Kyuhyun datang memberikan stiker-stiker itu padaku. Dia mengatakan jika aku tak menempelnya, maka aku akan tertimpa kesialan."

"Dan kau percaya?", tanya Minho mendongak.

Changmin menggeleng. "Tidak. Aku menempelnya karena malas mendengar ocehannya saja."

"Ckckck...", Jonghyun dan Minho menggelengkan kepala.

Sesaat ketiganya membisu, seolah kehabisan topik pembicaraan. Minho sempat memejamkan mata, mendadak mengantuk setelah mencium aroma segar manila di ruangan Changmin. Yah, pada dasarnya ia memang mudah sekali mengantuk dan tertidur, dua orang yang ada di sampingnya tahu benar akan hal itu.

"Kau mengantuk?" tanya Changmin, dan menatap wajah lelaki itu lekat-lekat.

"Lumayan."

"Tidur saja."

Minho menggeleng. "Tidak, aku ke sini bukan untuk tidur.", jawabnya dengan tatapan datar dari sepasang mata kodoknya yang terlihat sedikit sayu karena mengantuk.

Changmin balik menatap Jonghyun yang ada di sebelah lainnya. "Dan kau Jonghyunie, kau mengantuk juga?"

"...", Jonghyun hanya menggelengkan kepala cukup sekali, bahkan tanpa menoleh.

Keduanya memang suka menunjukkan sikap aneh dan menyebalkan. Mereka sering kali melayangkan komplain satu sama lain, terutama pada Jonghyun. Tetapi Jonghyun sama sekali tak pernah ambil pusing. Ia kerap bersikap seperti itu jika malas untuk berkata 'Tidak' atau menjawab pertanyaan yang menurutnya merepotkan untuk dijawab, pada siapa pun dan di mana pun.

"Bagaimana perkembangan hubungan Kyuhyun hyung dengan Kibum hyung?" tanya Minho tiba-tiba sambil mengubah posisinya menjadi duduk.

"Masih sama. Akhir-akhir ini Kyuhyun bahkan lebih banyak diam jika bersamaku."

"Mungkin banyak hal yang sedang dia pikirkan, hyung.", sahut Minho.

"Entahlah, aku berharap dia baik-baik saja."

"Apa Kibum hyung belum kembali ke rumahnya? Sampai kapan dia akan memperlakukan Kyuhyun hyung seperti itu? Keras kepala sekali.", gerutu Minho dengan nada kesal.

"Aku tidak tahu jauh mengenai itu. Yang aku yakini, Kibum hyung pasti memiliki alasan yang cukup mengapa dia sampai melakukan itu pada Kyuhyun."

"Changmin hyung benar, kita tidak tahu pasti alasannya. Jadi sebagai sahabat kita hanya berharap semoga hubungan mereka bisa kembali membaik.", lanjut Jonghyun.

Changmin lantas terdiam dengan pandangan kosong. Minho yang memperhatikannya menjadi tak tahan melihat lelaki yang sudah seperti saudara bagi mereka. "Ada yang mengganggu pikiranmu, hyung?"

Dengan helaan nafasnya Changmin menjawab, "Kyuhyun.. dia juga sempat mengatakan akan menemani Siwon hyung memenuhi undangan rekan bisnisnya di Nowon."

"Lalu, apa yang membuatmu tampak tidak tenang begini?", tanya Jonghyun penasaran.

"Aku merasa dia sedikit ragu untuk ikut, karena apartemen rekan bisnisnya ada di lantai 27. Itu akan memakan waktu yang cukup lama di dalam lift."

Minho menepuk dahinya dengan keras, "Astaga, aku lupa jika Kyuhyun hyung menderita Claustrophobia."

.

-o-

.

Setelah pembicaraan serius antara Heechul, Donghae dan Kibum malam itu, semua tampak jauh lebih tenang. Setidaknya Kibum tidak membuat kening Heechul berkerut banyak. Mereka senang, Kibum justru terlihat lebih leluasa untuk bergerak. Setiap kali bibirnya seperti tidak berat lagi untuk menampilkan sebuah lengkungan.

"Heechul hyung.." Uap tipis menyembur ketika nama itu disebut. "Sebenarnya kau ingin menonton yang mana, sih?"

"Yang jelas bukan acara masak-memasak ini."

"Tapi kau membuat mataku sakit, tiap detik mengganti channel TV.", dengus Donghae

"Kau bisa menutup matamu dulu, setelah itu kau pasti suka dengan acara pilihanku, maka kita akan bersenang-senang sampai puas." Heechul tersenyum, ia memiringkan tubuhnya sedikit dan mendelik ke arah Donghae dengan sudut bibir meninggi. "Tak ada opsi lain selain menurutiku.", ancamnya.

Donghae menyugar rambut hitamnya yang terlihat lembut lantas mendesah bosan. "Bisakah kau memberitahu apa yang dimaksud dengan 'bersenang-senang'? Terjebak dalam kebingungan itu tidak selalu menyenangkan, jika kau ingin tahu.", tukasnya pada sang hyung.

"Ck, kau rasakan saja sendiri. Itu kan urusanmu."

Tiap kali duduk santai di depan TV bersama Heechul, Donghae tak pernah merasa betah. Heechul kerap membuatnya merasa konyol dan kebingungan. Meninggalkan Heechul dengan kegiatan absurdnya sendirian sering menjadi pilihan yang paling masuk akal bagi Donghae. Namun ia juga tak bisa mengabaikan bahwa kondisi ini memaksanya untuk tetap tinggal. Karena Heechul tidak akan pernah membiarkannya beranjak dari sofa itu dengan segenap ancaman jahatnya. Heechul memang kadang sangat menyebalkan.

Donghae diam. Iris abu-abu gelapnya terlihat jauh lebih terang, menatap teduh dan menuntutnya untuk mengaku telah terbelenggu di kawah hitam ciptaan sang hyung. Belum ada sesuatu yang bisa menghilangkan kerutan di dahinya sementara ini.

Berpuluh menit berjalan…

Acara di TV malam ini sedang sangat membosankan, seperti itulah menurut Heechul. Ia sudah mengubah posisi duduknya sebanyak belasan kali selama siaran berlangsung, tapi kebosanannya tak kunjung mereda dan justru semakin bertambah lantaran Donghae jatuh tertidur sambil memeluk bantal sofa di sebelahnya. Sementara Kibum, ia datang bergabung di ruang keluarga beberapa saat yang lalu, seperti tak bisa diganggu dengan tugas kuliahnya. Ia berkutat penuh dengan kertas-kertas di tangannya.

Ada pemikiran yang agak sedikit melengceng dari batasan yang sudah Heechul tentukan selama ini. Ingin sekali ia menanyakan kapan Kibum akan kembali ke rumahnya, tetapi hal itu selalu ia urungkan. Semuanya terlalu sensitive untuk dibahas, mengingat Kibum baru saja membuka dirinya pada mereka. Tentunya Heechul tidak bermaksud mengusir Kibum, tetapi ia ingin masalah Kibum dan kedua saudaranya cepat terselesaikan.

"Wajahmu sangat aneh kalau sedang serius," kata Heechul memulai.

"Apa?"

"Bukan apa-apa."

Kibum benar-benar tidak bisa mendengar ucapan Heechul. Soal penting atau tidaknya ucapan itu, Kibum tidak peduli, karena yang ada dipikirannya hanya lembaran tugas itu.

"Kibumie, apa kau mau sesuatu untuk menemanimu mengerjakan tugas?"

"Sesuatu? Apa?"

"Cemilan kecil misalnya?"

"Ahh, kita memang cukup lama tinggal dalam satu atap.", Kibum menghentikan kegiatannya. "Tapi aku akui kita jarang bicara tentang hal-hal kecil yang tidak kau ketahui dariku, hyung."

"Apa itu?"

"Aku tidak bisa makan apapun saat sedang belajar."

"Oh ya?"

"Tapi aku ingin berterima kasih padamu karena sudah menawarkanku. Terima kasih, hyung!"

"Tidak usah teriak juga.." sahut Heechul datar. "Aku belum tuli."

Kibum terkekeh, "Maaf.."

Beberapa menit berlalu, "Kibumie, apa… kau pernah bertemu Kyuhyun saat di kampus?", tanya Heechul sedikit ragu.

"Beberapa kali. Kenapa?", jawab Kibum lugas.

"Dia tidak mengatakan sesuatu padamu?"

"Tidak. Karena aku tidak pernah membiarkannya untuk bicara denganku."

Heechul mengangguk beberapa kali, pertanda mengerti. Kibum pasti tidak ingin membahasnya. Sehingga Heechul hanya menjawab, "Emmm.. baiklah.."

"Tapi pagi tadi,, dia menemuiku di kelas dan memintaku untuk pulang."

"Apa?"

Flash back

Selama di Kampus, Kibum tak pernah berbicara pada Kyuhyun, bahkan ia berpura-pura tidak mengenal Kyuhyun. Entah mengapa tiba-tiba saja Kyuhyun nekat ingin berbicara hal penting dengannya di saat jam kuliah Kibum sedang berlangsung. Mau tak mau Kibum keluar dari kelas karena Profesor yang mengajar saat itu telah memberikannya ijin untuk berbicara di luar, tanpa ia minta.

"Kibum hyung.."

"Apa yang kau lakukan, huh!", sungut Kibum kesal.

"Hyung, maaf.. telah mengganggu jam kuliahmu. Karena hanya dengan cara ini, aku bisa menemuimu."

"Ck, apa yang kau inginkan? Cepat katakan!", Kibum tidak sabar ingin segera pergi.

"Hyung, aku tidak meminta waktumu banyak. Aku hanya ingin bertanya, bisakah kau pulang akhir pekan ini?"

"Untuk apa?"

"Ada pertemuan antara keluarga kita dengan keluarga rekan bisnis Siwon hyung. Aku berharap kita bertiga bisa datang, karena Appa dan Eomma masih di luar negeri."

"Kau berharap aku ikut? Untuk alasan apa? Jangan bermimpi Cho Kyuhyun."

"Tapi hyung.."

"Pergilah, jangan pernah mencariku ke kelas lagi.", tukasnya lalu meninggalkan Kyuhyun.

Flash back end

"Lalu kau menjawab apa?"

"Aku tidak bisa."

Setidaknya Kibum masih ingat dengan semua titah Heechul dan Donghae untuknya malam itu. Meskipun sangat enggan untuk bertemu Kyuhyun, tapi dia sudah berusaha mengurangi sikap dinginnya pada semua orang-orang disekitarnya dan juga pada Kyuhyun tentunya.

Rasa benci itu mungkin masih ada, rasa sakit hatinya mungkin akan tetap membekas, tetapi Kibum bukan orang yang akan menjerumuskan diri ke dalam masalah yang tak pernah ia harapkan terjadi di kalayak umum. Kibum masih waras, dia juga masih berhati, meski tak seorangpun tahu sedingin apa hatinya yang sebenarnya.

"Ahh, Cho Kibum... sudah ku duga.", Heechul lalu menghela nafas lelahnya. Kalimat itu diucapkan dalam bentuk gumaman yang mana rupanya telah terdeteksi oleh Kibum.

"Apa yang kau duga, hyung?"

"Tidak ada…"

"Apa kau sedang menuduhkan melakukan hal jahat padanya?", tanya Kibum lagi, namun Heechul menjadi diam dan mengalihkan pandangannya.

Kibum dan dirinya tak ubahnya sepasang orang asing yang kebetulan berada di bangunan yang sama. Selama ini mereka tak pernah menjalin komunikasi secara khusus dan akrab, kecanggungan dan ala kadarnya adalah jenis komunikasi yang justru sering mereka lakukan. Namun ketika Kibum mulai terbuka dan banyak berbicara padanya, Heechul justru menjadi kebingungan untuk menimpali lelaki itu.

"Mengapa jadi begini? Hah, sudahlah. Kita bicarakan lain kali saja."

.

-o-

.

Kebisingan ala perkotaan masih menguasai. Entah sampai di mana mereka sekarang, Kyuhyun tak mau repot ingin tahu dan memilih membiarkan pertanyaan di dalam benaknya lenyap ditelan waktu. Entah mengapa, udara terasa lebih dingin dari yang dibayangkan Kyuhyun dan begitu pikiran berlangsung, di saat bersamaan butiran putih pun turun dari langit-langit kota. Salju. Tanpa sadar, kedua telapak tangan milik Kyuhyun pun sudah tenggelam di saku mantel cokelat tua favoritnya.

Kyuhyun merapatkan mantel, lantas menggosokkan kembali telapak tangannya sekadar untuk menciptakan kehangatan yang tak seberapa. Salju memang selalu indah, tak ada alasan untuk tidak suka—setidaknya itu menurut Kyuhyun. Ia menatap langit yang cukup gelap, lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Entah sejak kapan kawasan yang nampak seperti shopping center itu berubah menjadi kota yang mati. Serta merta gedung-gedung pencakar langit yang lebih mirip gereja katedral kuno menjulang angkuh di permukaan Bumi.

"Kita sudah sampai.", tukas seseorang yang duduk di kursi pengemudi.

Siwon berhasil memecah pikiran samar Kyuhyun yang tak tentu arah selama perjalanan mereka ke tempat sang rekan bisnis.

"Sudah sampai?!", ucapnya terdengar pilon dengan raut yang tidak biasa. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, Kyuhyun percaya, bahwa, terkadang ada hal-hal yang lebih baik menjadi misteri sampai kapan pun, termasuk soal munculnya pikiran samar yang sebelumnya tidak pernah ia undang untuk masuk ke dalam kepalanya.

"Ya, ayo kita turun.", ajak Siwon sambil tersenyum.

Kyuhyun dan Siwon memasuki gedung tinggi itu dengan langkah, ah, mungkin saja berusaha dibuat seringan kapas. Kyuhyun tidak ingin Siwon melihat sesuatu yang janggal dalam dirinya.

Mereka berpandangan dan saling mengedikkan bahu. Tidak ada bedanya. Siwon berdiri di samping Kyuhyun, berharap memberikan kenyamanan dalam situasi dongsaengnya. Tangan kanan Siwon lalu menepuk-nepuk pelan punggung Kyuhyun. Jantung Kyuhyun berdetak sedikit lebih cepat dari normal, namun ia masih bisa mengendalikannya. Semua berlalu selama sedikit menit ketika mereka memasuki ruang lift bersama dengan dua orang lainnya.

"Katakan jika kau tidak kuat, kita bisa keluar di setiap lantai."

"Kau tenang saja.", jawabnya memberikan senyum ringan pada sang hyung.

"Relaks.. bernafaslah dengan teratur.", titah Siwon

"Aku akan berusaha."

Kyuhyun tahu bahwa akan ada saat-saat yang membuatnya tidak nyaman. Seperti sesuatu yang menahan dan mencegahnya untuk menikmati kenyamanan dunia saat ini.

"Eh," ujar Siwon tiba-tiba.

Kyuhyun mengangkat kepalanya dan melihat bingung ke arah Siwon.

Lelaki itu mengambil ponselnya di saku celana, sambil tersenyum sibuk mencari nama di daftar kontaknya. Segera ia melakukan panggilan.

"Tuan Kim, kami menuju lantai 27."

Sejauh ini keadaan Kyuhyun masih terkontrol. Siwon tidak berhenti memperhatikannya dan ia begitu bersyukur karena Kyuhyun tidak menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan. Dan beruntung tidak banyak orang yang menaiki lift mencapai lantai atas, sehingga Kyuhyun merasa sedikit lebih leluasa untuk bernafas.

Ketika mencapai lantai ke 12, tiba-tiba Kyuhyun meremas erat tangan Siwon.

"Kau tidak apa-apa? Apa kita perlu keluar dulu?", Siwon mulai khawatir.

Kyuhyun menggeleng, "Tidak perlu. Tapi mengapa ini lama sekali..", keluhnya.

"Tinggal beberapa lantai lagi kita sampai. Kau pasti bisa, okay.", Siwon merangkul dongsaengnya dan memberikan semangat.

Saat panel control lift mulai menunjukkan bahwa mereka sedang berhenti di lantai 19, rupanya ada tiga orang memasuki lift. Kyuhyun menelan ludahnya, menarik nafas sedalam mungkin, tetap berusaha mencari ketenangan pada dirinya. Berharap di lantai berikutnya tak ada seorangpun yang masuk lift lagi, atau setidaknya ada yang keluar dari lift itu.

Ini sudah lebih dari cukup mengganggu kenyamanannya. Sementara Siwon mempererat rangkulan pada sang dongsaeng, tetap menyisakan beberapa centi space di depan mereka, agar Kyuhyun bisa bernafas tenang. Lift kembali berjalan, namun entah mengapa Kyuhyun semakin merasa tak karuan. Kakinya serasa lemas, ia berdiri dengan gelisah. Perasaan bingung, cemas, dan rasa mual mulai menghujam perutnya. "Hyung…", panggilnya seperti bisikan.

.

.

.

Tbc

.

.

.

Terimakasih untuk readers dan reviewers… ^^

Sampai jumpa lagi di chapter depan.

Author : Belle