KHR © Amano Akira

Our Children

You're my Son—

D18, 8059, 6927, AlxAlaude, U02, SpadeGio

Family/Humor

Warning: OOC, OC, Mpreg, Shounen Ai

Chapter 10, Kissu

"Hah, Eathan menyebutkan kata-kata terlarang?"

Dino, yang mendapatkan kunjungan gaib(?) lagi dari sang pendahulu tampak mengerutkan alisnya dan menatap Al dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak lagi bertanya kenapa malam-malam seperti ini—catatan saat itu Dino melihat jam yang ada di tangannya dan menunjukkan pukul 2 pagi waktu setempat—sang pendahulu berada di hadapannya.

"Aku tidak mengerti lagi—terlebih saat Eathan menyebutkan kata terlarang itu," menunduk dalam dengan wajah pucat dan aura gloomy yang tampak sangat terlihat depresi, "bagaimanapun Eathan baru berusia 5 tahun dan sejak kapan ia mengerti kata-kata incest!"

Saat itu Dino bersyukur kalau pendahulunya adalah sosok yang tidak kasat mata alias transparan atau sekarang mungkin meja yang ada di depan mereka akan melayang dan hancur.

"Ahaha, memangnya siapa yang ia sukai—memang kalian punya anak yang lainnya?"

"Ryo—" menunduk dengan suara yang pelan hampir tidak bisa didengar oleh sang Don Cavallone Decimo yang ada di depannya.

"Eh? Apa yang anda katakan—aku tidak bisa mendengarnya," entah kenapa Dino merasa kupingnya harus dibersihkan karena ia mendengar kalau nama yang disebutkan oleh Al saat itu adalah—

"Kubilang, Eathan menyukai Ryo—"

—Ryo.

"Jangan sampai Kyouya mengetahui ini…"

"Aku mengerti—" dan keheningan melanda keduanya setelah itu—bahkan laporan yang berada di tempat itu terbengkalai begitu saja karena perkataan dari Alfonso Cavallone tadi.

Alphonso yang baru saja kembali dari masa depan, tampak cukup lelah lahir dan batin. Menghela nafas, berjalan keluar dari markas Cavallone menuju ke markas Vongola untuk menemui Eathan dan juga Ryo yang berada disana.

"Ryo, Eathan—kalian di dalam?" membuka sebuah pintu yang biasanya digunakan untuk bermain semua anak-anak.

CHU!

Sepertinya ia harus memeriksakan diri ke Psikiater karena apa yang ia lihat dan ia dengar beberapa hari ini. Bukan, bukan Ryo dan Eathan yang berciuman, tetapi tampak Giorno dan Serra yang sedang mencium Ryo saat itu.

"Papa, papa!" Eathan yang melihat Al tampak masuk segera berlari dan mengangkat-angkat tangannya keatas menyuruh ayahnya untuk menggendongnya. Menyadarkan diri dari keterkejutannya akan adegan yang ada di depannya, Al menggendong Eathan dan tersenyum padanya.

"Ada apa Eathan?" Eathan menggerakkan tangannya dan memegang pipi ayahnya dengan kedua tangannya sebelum mendekat dan mengecup bibir ayahnya.

Wajah Al seketika memerah saat melihat bagaimana anaknya melakukan hal yang tidak terduga itu.

"E—Eathan apa yang kau lakukan?"

"Eh? Uhm—Zio Spade berkata kalau kita menyayangi seseorang, cara menunjukkannya itu seperti itu," jawab Eathan polos sambil memiringkan kepalanya. Entah Alfonso harus senang karena kepolosan anaknya itu atau kesal dengan ajaran sesat dari Spade.

"Jadi, Giorno dan juga Serra melakukan itu pada Ryo karena mereka menyayangi Ryo?"

"Tidak, mereka berdua ingin mengambil Ryo dari Eathan—" menunjuk Giorno dan juga Grazia yang menempel pada Ryo yang hanya diam sambil dan tersenyum canggung karena perlakuan mereka berdua, "—padahal Eathan yang pertama menyukai Ryo, tetapi yang mencium Ryo duluan itu Giorno dan juga Serra!"

"Tetapi Eathan sudah mencium papakan?"

"Itu berbeda—Eathan lebih menyukai Ryo daripada papa," mengerucutkan bibirnya, Eathan tampak melompat turun, tidak perduli dengan ayahnya yang tampak memojok di sudut ruangan sambil membentuk lingkaran dengan telunjuk dan mengeluarkan aura gloomy.

"Eathan, kau tahu sudah saatnya untuk makan—" Alaude masuk ke dalam ruangan dan menemukan Al yang tampak masih memojok di ujung ruangan, "—ada apa dengannya…"

"Grazia, kau juga ikut kami ke ruang makan…"

"Giorno, Serra—sudah saatnya makan malam," Giotto dan juga G tampak ikut menjemput anak-anak mereka. Menatap para orang tua mereka, Grazia, Giorno, dan juga Serra tampak berdiri dan berlari kearah mereka.

Ryo yang melihat mereka tampak hanya diam sambil tersenyum kaku dan menundukkan kepalanya. Tentu saja tidak ada yang bisa menjemputnya disini seperti yang dilakukan oleh Alaude dan juga yang lainnya.

"Ryo apa yang kau lakukan, ayo cepat—" Alaude yang melihat Ryo tampak tidak bergerak memanggilnya. Membuat anak laki-laki itu tampak terkejut dan terdiam sejenak. Berdiri dan berjalan cepat—tersenyum kearah sang Cloud Guardian Vongola Primo itu.

"Ya!"

"Kau tahu Spade—saat ini aku benar-benar ingin membunuhmu," Al yang tampak berada di ruang makan bersama dengan seluruh guardian Vongola tampak menatap Spade dengan aura hitam walaupun dengan senyuman di wajahnya.

"Oya, memang apa salahku?" dengan tampang tidak berdosa, Spade menatap Al yang sudah menyiapkan cambuk di tangannya. Sementara Grazia tampak turun dari kursinya yang berada di antara kursi G dan juga Ugetsu sambil membawa sebuah garpu yang ditusukkan pada manisan nanas(?).

"Grazia, kau tidak boleh makan sambil berjalan—" Ugetsu menatap anaknya yang tampak mendekati Ryo yang sedang memakan makanannya dengan tenang. Duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Ryo dan menghadap pada Ryo yang tampak balas melihat gadis itu.

"Ryo, Ryo—kau suka nanas bukan?" Ryo tampak senang mendengar kata nanas itu dan mengangguk dengan semangat sambil menatap dengan mata yang berbinar-binar, "kalau begitu kemari—" Ryo tampak mendekatkan dirinya pada Grazia.

CHU!

Ia memang mendapatkan manisan nanas itu, dari mulut Grazia yang menciumnya.

"Bagaimana rasanya Ryo?"

"Enak—" tidak memperdulikan cara 'unik' yang dipakai oleh Grazia untuk memberikan manisan itu, Ryo tampak memakannya dengan tenang bahkan tampak menikmatinya.

Sementara tiga orang bocah lainnya yang tampak melihat dari awal tampak menghentikan acara makan mereka sambil menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya.

"Grazia, kau curang!"

"Seharusnya aku yang melakukan itu!"

"Ryo bagaimana kalau kuberikan permen rasa nanas seperti yang dilakukan oleh Grazia tadi?" nah yang terakhir itu adalah Eathan yang tampak sudah siap dengan permen, dan sepertinya sukses memancing Ryo dengan itu.

Oh ada yang terlupakan—para orang tua yang sedaritadi berada di ruangan yang sama sekarang tampak mematung. G tampak menganga dan menjatuhkan garpu yang ia pegang—Ugetsu tampak tertawa datar sambil menatap anaknya dan juga yang lainnya.

Alfonso tampak menggelengkan kepalanya dan berjanji pada dirinya untuk menemui psikiater secepatnya setelah ini.

Knuckle tampak segera menghilang dan menuju ke gereja berdoa untuk para anak-anak dan juga dirinya yang sudah 'terkontaminasi'.

Lampo? Tampak terjatuh ala anime dari kursinya karena melihat bagaimana sifat Spade sudah menyebar luas di dalam mansion ini.

Giotto menatap anaknya dan juga yang lainnya seolah sedang menatap hantu. Sementara Spade tampak ber 'nfufufu' ria sambil menatap anaknya dengan tatapan—'bangga'?

"Nanas pedophile—" suara yang berat dan rendah itu membuat Spade menoleh untuk menemukan Alaude yang sudah bergerak dengan beberapa borgol yang ada di tangannya, "—apa yang kau ajarkan pada Eathan setelah ciuman dan juga kata 'incest' huh?"

"Nfufufu—aku tidak mengerti apa yang kau katakan Alaude," Spade tampak menatap Alaude, lalu G yang ada di sampingnya sudah mengeluarkan pistol miliknya dan siap melubangi semangka itu.

"Kau brengsek, apa kau tidak punya fikiran untuk mengajarkan mereka semua hal mesummu itu?"

"Maa—maa, mengajarkan hal seperti itu tidak baik Spade-dono," Ugetsu yang biasanya paling tenang sepertinya sekarang tampak tersenyum sambil mengeluarkan aura dingin yang mungkin sama dengan Alaude kali ini—dengan pedang di tangannya.

"Oya—mereka hanya bertanya dan aku menjawab apakah aku salah? Benarkan Gio—" Spade menoleh pada Giotto yang ada di sampingnya—sudah membawa sarung tangan I-Glovenya dan tampak sudah berada di HDW Mode.

"Tidurlah di gunung es semangka pedophile!"

"Ahahaha, hari ini sangat menyenangkan—" Ryo yang tampak berjalan bersama dengan Alaude. Untuk keselamatan Ryo sendiri, yang sepertinya sudah membuat semua anak-anak guardian Vongola tertarik padanya, akhirnya untuk sementara ia akan tidur bersama dengan Alaude dan juga Al.

"Zio Spade memang benar-benar lucu, Grazia dan juga yang lainnya juga—" menceritakan semua cerita dari awal hingga akhirnya untuk menemukan Alaude yang tidak menjawabnya. Ryo menoleh dan menatap Alaude yang menyadari kalau ia sedang di tatap.

"Ada apa?"

"Zio Alaude memang benar-benar mirip otou-san," tersenyum manis sambil menatap sang Cloud Guardian Vongola Primo.

"Banyak yang mengatakan hal itu—" Alaude tampak tetap menatap ruangan yang ada di sekeliling mereka.

"Bukan wajah—memang mirip," Ryo tampak mengangkat tangannya ke atas, dan Alaude mengerti kalau anak itu memintanya untuk menggendong. Tanpa banyak berbicara Alaude membungkuk dan menggendong Alaude, "Zio Alaude punya kehangatan yang sama seperti otou-san!"

"Kau bahkan baru pertama kali memintaku menggendongmu…"

"Uhum—bukankah setiap malam Zio selalu datang dan mengucapkan selamat malam pada Eathan dan Ryo?" memiringkan kepalanya dan menatap Alaude yang tampak mengerutkan alisnya mendengar itu. Bagaimana anak itu bisa tahu sementara ia melakukannya—ya, dia memang melakukannya—saat semuanya sudah tertidur.

"Zio Alaude—" Ryo tampak memainkan ujung pakaiannya sambil menundukkan kepalanya, "—apakah Ryo akan melukai orang-orang lagi kalau Ryo ada disini?"

"Mereka bisa menjaga diri mereka sendiri—" Alaude tampak tidak menatap Ryo dan masih berjalan menuju ke kamar, "—harusnya fikirkan saja dirimu Ryo…"

"Ryo tidak apa-apa, papa sering mengatakan kalau ia lebih suka kalau orang-orang yang disayangi oleh papa tidak terluka dan ia saja yang terluka—" Alaude membuka pintu kamarnya dan menaruh Ryo diatas tempat tidur, "—Ryo ingin jadi seperti papa, makanya kalau memang Zio Alaude dan yang lainnya bisa tidak terluka, Ryo tidak apa-apa kalau terluka…"

Alaude tampak terdiam sejenak dan memakaikan pakaian tidur Ryo padanya.

"Kalau kau benar-benar ingin mereka senang—kau harus memastikan kau dan mereka sama-sama tidak terluka," menepuk kepala Ryo dan menidurkannya, Ryo tampak hanya diam dan menatap Alaude, "—mereka berdua tidak akan mungkin senang kalau melihatmu terluka."

Entah kenapa saat berada dalam posisi tidur ia tampak melihat bayangan Alaude yang menemaninya tidur. Bukan bayangan ayahnya—seolah ia pernah bersama dengan pria yang mirip dengan ayahnya itu.

"Tidurlah, aku harus mengerjakan laporanku lagi—" menepuk cukup keras kepala Ryo membuat yang bersangkutan tampak menutup matanya refleks.

"Terima kasih sudah menemani Ryo, Zio Alaude!" tersenyum manis, Ryo tampak menatap Alaude yang membulatkan matanya samar sebelum tersenyum tipis dan menepuk lembut kepalanya sebelum berjalan untuk menyelesaikan laporan yang ada di kamarnya.

"Apakah benar tidak apa-apa Eathan-nii?" Ryo menatap Eathan yang berada di sampingnya, tampak senang dan menggandeng tangan Ryo.

"Tidak apa-apa—papa dan ayah sudah mengizinkan kok—" Ryo tampak ragu namun mengangguk. Eathan berhenti dan berhadapan dengan Ryo, "aku hanya perlu sedikit flamemu dan kita bisa kembali ke masamu walaupun kau tidak bisa menyentuh apapun Ryo."

"Jadi Ryo tidak akan melukai otou-san—" tersenyum senang sambil melihat Eathan yang mengangguk. Ryo menutup matanya saat tiba-tiba cahaya terang dan asap yang mengepul di sekeliling mereka muncul.

Saat Ryo membuka mata, yang ia temukan adalah kamarnya yang tampak rapi dan juga bersih. Sinar matahari pagi yang menyinari tampak menerangi ruangan itu walaupun lampu tidak dihidupkan saat itu.

"Ini kamar Ryo Eathan-nii—" berjalan dan melihat sekeliling, Eathan yang kali itu baru melihat dengan teliti mencoba untuk mengamati sekelilingnya. Sekelibat bayangan tempat ini begitu saja muncul di kepalanya, "—Eathan-nii tidak apa-apa?"

"Ah tidak apa-apa Ryo—" tersenyum dan menepuk kepala Ryo, Ryo sendiri tampak berjalan dan mencoba untuk mencari sosok orang tuanya dan juga saudara-saudaranya. Eathan tampak berjalan dengan setia di samping Ryo sambil menoleh kekiri dan kekanan.

"Tuan muda Ryo—kapan anda kembali?" beberapa anak buah Vongola tampak terkejut dengan kedatangan Ryo yang tiba-tiba itu. Beberapa dari mereka—yang saat kemunculan Eathan dulu ada tampak menatap Eathan dan tidak terkejut.

"Ah Tetsu-jii-san!" Ryo berlari saat menemukan pria berambut Elvis di depannya itu. Mendengar suara yang sangat familiar membuat Kusakabe menoleh untuk menemukan kedua anak laki-laki yang sangat mirip itu.

"Ryo-san, kapan anda kembali?"

"Baru saja—tetapi Ryo Cuma mau melihat papa dan juga otou-san!" Ryo tampak tersenyum dan Eathan hanya menoleh pada Kusakabe yang menyadari kehadiran Eathan. Lagi-lagi sekelibat ingatan tampak muncul saat ia seolah pernah melihat Kusakabe sebelumnya.

"Senang bertemu dengan anda lagi Eathan-san—anda tidak berubah sama sekali," senyuman dari tangan kanan Cloud Guardian Vongola itu tampak membuat Eathan bingung. Ia tidak ingat pernah datang kemari karena itu sudah sangat lama.

"Apakah papa dan otou-san ada disini Tetsu-jii-chan?" Ryo tampak tidak sabar untuk bertemu dengan orang tuanya.

"Ah Dino-san sedang berada di markas Cavallone untuk mengadakan pertemuan—Kyo-san baru saja kembali dan berada di ruangannya, ingin aku antarkan kalian berdua?"

"Ah, aku akan menunggu saja—" Eathan tampak menggelengkan kepalanya dan menolak untuk mengganggu Ryo bertemu dengan ayahnya.

"Tidak apa-apa Eathan-san, Kyo-san pasti senang bertemu dengan anda," Kusakabe tampak tersenyum dan Eathan hanya bisa mengangguk ragu sebelum berjalan bersama dengan Kusakabe.

"Apakah otou-san baik-baik saja Kusakabe-jii-chan?"

"Ya—dan adik anda juga begitu," Kusakabe tampak tersenyum dan Ryo hanya mengangguk-angguk lega mendengarnya, "Kyo-san akan menunggu anda sampai Ryo-san mau kembali kemari. Kyo-san tidak sama sekali menyalahkan Ryo-san atas kejadian waktu itu."

"Tetapi tetap saja—Ryo yang membuat otou-san terluka," Ryo tampak sedikit murung dan menundukkan kepalanya sejenak, "Ryo tidak ingin otou-san terluka."

"Baiklah kalau begitu—" Kusakabe tersenyum dan berhenti di depan sebuah pintu geser kamar Hibari. Berbicara dengan nada cukup keras untuk meminta izin sebelum membuka pintu, "Kyo-san, ada yang ingin bertemu dengan anda…"

Hibari yang saat itu tampak sedang beristirahat menoleh dengan tatapan bingung sebelum pintu terbuka dan memunculkan kepala kecil Ryo yang tampak menatap ragu untuk masuk.

"Otou-san…"

"Ryo?" Hibari mengerutkan alisnya dan memberikan isyarat untuk anaknya mendekatinya. Ryo yang tampak ragu pada akhirnya berjalan mendekati Hibari. Ryo tampak akan menyentuh Hibari saat sadar kalau keadaannya saat ini tidak bisa membuatnya menyentuh Hibari.

"Ada apa dengan wujudmu itu?"

"Eathan-nii membantu Ryo untuk kembali dan bertemu dengan otou-san," Ryo tersenyum dan menoleh pada Eathan yang ternyata masih berada di balik pintu dan mengintip pada celah pintu walaupun Kusakabe sudah menyuruhnya untuk masuk, "Eathan-nii masuklah—Ryo ingin memperkenalkan pada otou-san!"

"Selamat pagi—Kyouya-san," tampak ragu dan juga gugup, Eathan tampak menyilangkan tangannya di belakang badan dan menundukkan kepalanya, "maaf sudah membawa Ryo sembarangan…"

"Kau sudah menyelamatkan Ryo, apa yang perlu aku maafkan—" Hibari tampak melihat Eathan yang menatapnya. Saat Eathan menatapnya, barulah ia mengerti kenapa Ryo selalu mengatakan ayahnya mirip dengan ayah Eathan. Bukan hanya wajah, namun aura dari Hibari memang mirip dengan Alaude.

Tetapi—ada satu hal yang membuat Eathan merasa kalau ia pernah bertemu dengan Hibari. Bukan mirip—namun memang benar-benar pernah bertemu dengan pria itu.

"Ba—bagaimana keadaan otou-san?"

"Hn—" Hibari tampak mengatakan dua huruf itu tetapi Ryo tahu maksud dari itu. Dan ia tampak lega dengan apa yang ia dapatkan, "—kau sendiri?"

"Eathan-nii baik padaku, begitu juga dengan yang lainnya—" mengangguk dan menceritakannya dengan semangat. Hibari memang tidak suka dengan keributan, tetapi Ryo adalah hal yang berbeda—sifatnya sangat mirip dengan kekasihnya Dino yang bersemangat—bahkan kelewatan bersemangat.

"Ah otou-san, tadi pagi manisan yang diberikan oleh Grazia sangat enak—" baru saja akan menyentuh ayahnya sebelum ia sadar kalau saat ini ia tidak bisa menyentuh Hibari. Hibari yang melihat perbedaan raut wajah Ryo segera sadar maksudnya.

"Jangan bersikap seperti seorang herbivore—" menatap Ryo dengan tatapan datarnya, Ryo tampak mengerutkan alis sebelum menoleh agak ke atas untuk memprotes apa yang dikatakan oleh ayahnya itu.

"Ryo bukan herbivore otou-san!"

"Kalau begitu jangan menyalahkan dirimu sendiri," Ryo tampak membulatkan sedikit matanya sebelum menunduk dan tidak menatap ayahnya, "kau bahkan tidak bermaksud untuk melakukan itu, untuk apa kau menyalahkan dirimu sendiri…"

"Tapi—kalau Ryo ada disini otou-san akan terluka…"

"Aku tidak—" suara Eathan membuat Ryo tampak menoleh begitu juga dengan Hibari. Menatap bingung Eathan yang sedikit gugup karena tatapan ayah dan anak itu, "ah—maksud Eathan, bukankah Eathan dan yang lainnya tidak apa-apa saat Ryo bersama dengan kami? Bahkan saat Giorno, Grazia, dan juga Serra mencium Ryo juga tidak apa-apa."

"Mereka apa?"

Eathan menutup mulutnya dengan kedua tangan—ayahnya sudah berpesan untuk tidak mengatakan tentang ciuman itu pada Hibari.

"Benar tidak apa-apa?" Eathan menoleh pada Ryo dan mengangguk sebelum memberikan mist flame di sekeliling Ryo dan tubuh Ryo tidak menjadi transparan sama sekali. Hibari membiarkan Ryo tidak menyentuhnya untuk sementara.

Ryo sendiri tampak ragu sebelum tangan kecilnya tampak menyentuh dengan gemetar tubuh Hibari perlahan. Saat ia menyentuh Hibari, dengan segera ia mendekap erat ayahnya itu—dan membenamkan wajahnya di tubuh Hibari.

"Otou-san…" Hibari hanya menghela nafas melihat Ryo yang tampak lega karena Hibari tidak apa-apa, "Ryo merindukan otou-san…"

"Aku tahu—"

"Jadi, kau akan bersama dengan Eathan dulu?" beberapa menit bersama dengan Hibari, Ryo memutuskan untuk kembali ke masa Eathan. Kali ini bukan karena ia melarikan diri tetapi karena alasan lainnya.

"Ya, lagipula dengan begini otou-san akan bekerja lebih tenang—Ryo akan datang kapan-kapan!" Ryo tampak mengangguk semangat sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi, "Ryo tidak sabar melihat adik Ryo—makanya otou-san jangan bekerja terlalu keras!"

"Baiklah—" menghela nafas dan tersenyum samar, Ryo tampak berjalan kearah Eathan sebelum sadar akan sesuatu. Ia berbalik dan berlari kecil kembali kearah Hibari sambil menaikkan kedua tangannya meminta Hibari untuk berjongkok.

Sedikit bingung, tetapi Hibari memutuskan untuk menuruti dan tangan Ryo tampak memegangi kedua pipi Hibari—mencium bibir Hibari dengan cepat sambil tersenyum sebelum mundur perlahan.

"Ryo sayang otou-san dan papa, begitu juga dengan adik nanti!" Ryo tampak tertawa senang sebelum berlari kearah Eathan yang akan membawa mereka kembali ke masa lalu, "sampai jumpa otou-san!"

Dan flame mist mengakhiri pertemuan mereka dan meninggalkan Hibari yang mematung sendirian. Suara pintu geser terbuka untuk menunjukkan Dino yang tergesa-gesa masuk.

"Kusakabe berkata kalau Ryo kema—Kyouya?" Dino menatap Hibari yang menundukkan kepalanya, tampak sweatdrop saat melihat aura gelap gulita yang tampak mengelilingi Hibari.

"Aku akan membunuh nanas busuk itu—" dengan begitu Hibari berlalu untuk memberikan mimpi buruk pada seseorang—yang entah bagaimana bisa ia ketahui—memiliki hubungan dengan orang yang mengajari Ryo hal itu.

"E—Eh, Kyouya?!"

"Zio Alaude, Zio Al—Ryo kembali," tampak senang saat kembali ke mansion Vongola dan bertemu dengan Alaude dan Al, Eathan juga tampak berjalan di sampingnya dan tersenyum. Melihat perubahan raut wajah Ryo membuat keduanya tampak saling menoleh sebelum Al menatap Eathan.

"Ryo sudah mau bersama dengan Kyouya-san," Eathan yang mengerti apa maksud tatapan dari Al dan juga Alaude tampak tersenyum lebar sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala, "tetapi karena tidak ingin merepotkan Kyouya-san, Ryo akan tinggal disini!"

"Ah begitukah—baguslah Ryo," Al tampak menepuk kepala Ryo yang mengangguk senang, "sekarang, bermainlah dengan Eathan dan yang lainnya…"

"Ya!"

Eathan baru saja berbalik dan akan berjalan keluar dari ruangan orang tuanya sebelum Ryo yang berada di belakangnya tampak berlari kecil.

"Eathan-nii!"

"Ya, Ryo?" berbalik, dan Ryo menarik lengan pakaian Eathan sebelum mengecup bibir Eathan saat itu, membuat yang bersangkutan langsung mematung dengan wajah memerah.

"Ryo sayang sekali pada Eathan-nii!" tidak mengerti dampak dan sebenarnya Ryo tidak mengerti maksud dari ciuman itu—Ryo tampak berjalan melewati Eathan yang masih mematung sebelum terduduk dengan wajah yang memerah.

Sementara Alaude dan Al tampak benar-benar speechless melihat apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka karena ajaran dari Spade.

Entah mereka harus senang karena kepolosan mereka, atau mereka harus bersedih karena anak-anak itu sudah terkontaminasi oleh hal seperti itu.

…To Be Continue…

Cio : LOL XD Spade nista sangat! XD Anak polos gitu diajarin hal yang ambigu…

Sebenarnya yang dibilang sama Spade itu "Kalau mau menunjukkan rasa sayang pada seseorang—paling mudah dengan menciumnya." tetapi malah kelewatan ambigu di mata anak-anak unyu itu XD

Dan untung Ryo ga terlalu lama takut sama Hibari, walaupun pada akhirnya dia mutusin buat tinggal sama Eathan dulu ^w^

Omake

-Kenapa Grazia, Giorno, dan Serra suka sama Ryo?-

[ Giorno + Serra ]

"Kenapa harus Ryo?" Giotto menatap si kembar yang sedang berada di kamar mereka sementara Alaude membawa Ryo ke kamarnya. Si kembar yang tampak sedang dipakaikan pakaian tidur oleh Spade tampak menatap ayahnya sebelum saling bertatapan.

"Karena Ryo manis—" Giorno menelengkan kepalanya ke kanan.

"Karena Ryo Lucu—" Serra menelengkan kepalanya ke kiri.

"Pokoknya Eathan tidak boleh menjahili Ryo atau mengambil Ryo dari kami—" tampak berkata bebarengan sambil menatap ayah dan papanya dengan tatapan kesal dan penuh harapan.

Giotto mendadak sakit kepala—sementara Spade memiliki firasat kuat kalau ia akan tidur di luar lagi malam ini.

[ Grazia ]

"Yah, aku tidak masalah kalau Grazia menyukai Ryo—" Ugetsu tampak menghela nafas sambil memakaikan piyama Grazia dan membaringkannya di atas tempat tidur. Tentu saja, Grazia adalah perempuan dan tidak salah kalau menyukai seorang laki-laki bukan.

"Tetapi apakah tidak terlalu cepat untuknya?" G tampak ikut menghela nafas dan menatap anaknya yang tampak bermain dengan boneka yang ada di dekapannya.

"Oh, tetapi Grazia bukan suka dengan Ryo seperti Eathan, Giorno, dan Serra kok papa—" G dan Ugetsu saling bertatapan tidak mengerti apa yang sebenarnya dikatakan oleh Grazia, "—Grazia cuma menganggap Ryo seperti kakak sendiri!"

Mengangguk-angguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Grazia.

"Tetapi kenapa Grazia mencium Ryo?"

"Oh, itu karena Zio Spade bilang Grazia bisa memanas-manasi Giorno, Serra, dan juga Eathan supaya bisa dilihat siapa yang menjadi semenya Ryo—" tertawa pelan sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang ia ucapkan sendiri, "—memang sebenarnya apa arti seme dan uke itu papa?"

Dan malam itu, markas Vongola dipenuhi dengan para pemburu semangka yang mencari buruan mereka.

Q&A

Alwayztora – Hadiahnya me update cepetan nih :'3 makasih ripiu setianya XD

DemonIB – me akan memperbanyak humornya mulai sekarang XD walaupun ga tahu garing apa ga…

Mitoo YuuHi – Makasih Riviunya~ ^^ ini sudah di update~

ByuuBee – Baru tahu kalau Cavallone itu bisa mengautis seperti itu? XD dan tentu saja yang mengajarinya adalah Spade—siapa lagi? XD