BHinata berjalan memasuki mansion. Tubuhnya dibalut gaun satin warna ungu tua yang menampakkan pundaknya. Terdapat belahan kaki di depan yang mencapai lututnya. Surai indigo disanggul dengan rapi. Wajah yang dipoles natural menambah kesan tegas dan anggun dalam dirinya. Ia menyapa orang-orang yang menyapanya. Hinata memutuskan untuk berdiri dekat pintu kaca yang menghubungkan dengan taman. Dari kejauhan tampak pesta pertunangan akan segera dimulai.
"Mau minum, Nona?"
Hinata mengambil segelas anggur putih dan menyesapnya pelan. "Terima kasih."
Iris keperakan Hinata mengamati prosesi pertunangan yang sedang dimulai. Ia melihat Gaara dengan surai merah bata yang tersisir rapi dengan tuksedo. Di sisi lain, Saara tampak memesona dengan gaun satin berwarna merah marun. Hinata tersenyum tipis melihat temannya tampak berbahagia.
"Tak kusangka kita bertemu di sini, Hyuuga."
Hinata mendongak, terkejut melihat sosok di sampingnya. "Kau. Sedang apa kau di sini?"
Sasuke menyeringai. Ia mengeluarkan undangan yang ditinggalkan Hinata. "Kau yang mengundangku, Hyuuga."
Hinata menghela napas dan membuang muka. "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, Uchiha."
Sasuke mengangguk pelan. Iris jelaganya mengamati prosesi pertunangan yang hampir selesai dilaksanakan. Tepuk tangan yang riuh mengisi mansion megah tersebut. Sasuke sedikit mengernyit karenanya. Ia melirik Hinata yang tak nyaman.
"Mau pergi?"
.
.
.
I Realized (c) Yuki Ryota
SasuHina
T++
.
.
.
Hinata berjalan di rerumputan diikuti oleh Sasuke. Kini, mereka berada di taman mansion Sabaku yang luas. Hinata menghentikan langkahnya dan duduk di kursi taman. Sasuke memutuskan untuk duduk di sampingnya walaupun ia mengetahui bahwa Hinata merasa tidak nyaman karena kedekatan jarak keduanya.
"Maaf jika menyakitimu tempo lalu." Sasuke menatap Hinata lekat-lekat.
Hinata menghela napas dan menyandarkan punggungnya. "Aku sudah melupakannya." Hinata menyesap anggur putih.
Sasuke ikut menyandarkan tubuhnya. Ia melihat Hinata yang mulai tenang. "Bagaimana kabar Namikaze?"
Hinata menghela napas kasar. "Bisakah kita tidak perlu membahasnya? Jika kau mau memancing-"
"Aku hanya bertanya." Potong Sasuke. Ia menatap Hinata intens membuat Hinata bergerak tidak nyaman. "Kau tidak perlu bereaksi seperti itu."
Hinata menatap jemarinya yang bertautan. "Dia baik."
Sasuke membalasnya dengan gumaman. Ia menyandarkan kepalanya seraya menatap langit kelam bertabur bintang. Hening mengisi keduanya. Terdengar jangkrik dan hewan-hewan malam di sekitar mereka. Hembusan angin malam dan derak ranting menambah syahdu.
"Untuk apa kau kemari?" Tanya Hinata. Ia menatap heels yang ia kenakan.
"Hanya ingin bertemu denganmu."
Jantung Hinata bertalu-talu mendengarnya. Ia tahu bahwa Sasuke hanya menggombal tapi ia tidak dapat menghilangkan dentuman hebat dalam jantungnya. "Untuk apa? Bukankah kita selalu berdebat jika bertemu?"
Sasuke menggenggam tangan Hinata. Menghantarkan panas tubuh pria itu kepada tubuh Hinata yang mendingin. "Untuk memperjelas hal yang kukatakan tempo lalu."
Hinata menatap kedua iris Sasuke yang juga menatapnya. Tatapan Sasuke seolah-olah memakan dirinya hidup-hidup. Begitu tenang dan dalam yang mampu menghanyutkan jiwa dan raga. Ia menyadari jika Sasuke memang seorang pria yang tampan dan menawan tapi ia tidak menyangka Sasuke begitu karismatik. Ia menyadari tubuhnya memanas saat merasakan kedekatan di antara mereka.
"Tidak ada hal yang harus diperjelas," bisik Hinata.
Hinata dapat merasakan tubuh Sasuke mendekati dirinya. Ia merasa mendapatkan anugerah ketika dapat menyelami netra kelam yang begitu indah tersebut. Ia amati alis Sasuke yang lebat dan pas yang membentuk ketegasan dalam tatapannya. Hidung mancung yang begitu menggoda. Bibirnya yang tipis merupakan perpaduan sempurna dalam setiap komponen di rupa Sasuke. Jangan lupakan pipi tirus yang membentuk garis rahang tegas dan penuh karisma. Hinata merasa tergilitik saat melihat pahatan Tuhan di hadapannya.
"Ada." Tangan Sasuke meraih rahang Hinata dan mengusap pipi wanita itu. "Aku akan membuatmu melupakan Naruto dan mencintaiku Hinata."
Iris Hinata membola. Ia terlalu larut dalam sebuah afeksi hingga mengendurkan pertahannya. Lagi-lagi Sasuke mengajaknya berdebat. "Kau-"
Iris Hinata membola karena terkejut. Ia dapat merasakan gumpalan daging yang basah menghisap bibirnya. Ia menatap ke iris Sasuke yang sedang menatapnya serius. Hinata memberontak. Ia memukul dada bidang Sasuke berkali-kali, berharap dapat memukul mundur pria itu, namun sia-sia. Hinata mendorong dada Sasuke yang tetap bergeming. Hinata merasa frustrasi karenanya.
Dengan satu tarikan, Sasuke melingkarkan lengan kekarnya pada pinggang Hinata dan memeluk tubuh sintal wanita itu. Bibir tipisnya menghisap bibir bawah Hinata menghantarkan sensasi memabukkan bagi Hinata. Menciptakan gelenyar aneh di tubuhnya
"Mmh..." desah Hinata pelan saat merasakan lidah Sasuke menyapu bibirnya.
Ini sungguh gila. Kerasionalan menghendaki diri untuk memberontak tapi ia menemukan bahwa ia begitu menikmati perlakuan Sasuke yang lembut tapi memabukkan tersebut.
Lidah Sasuke berhasil memasuki rongga Hinata dan menyentuh lidah wanita itu. Hinata yang tekejut meremas kemeja depan Sasuke. Jari-jarinya yang lentik tanpa sadar meraba dada bidang pria itu. "Ahnn... Sukeeeh~"
Mendengar desahan Hinata membuat Sasuke semakin bergairah. Ia memiringkan kepalanya untuk memudahkan akses. Ia memainkan lidah Hinata, menghisap pelan, dan merasakan sari-sari manis anggur putih yang tersisa di mulut Hinata. Sasuke melepaskan ciuman dengan bibir mereka saling bertautan dan saliva di kedua ujung bibir mereka.
"Kau begitu memesona, Nata." Sasuke menghirup napas pelan, mencium aroma vanilla yang menguar dari tubuh Hinata. Begitu memikat dan memabukkan. Ia memejamkan mata merasakan suasana intim yang terjalin di antara mereka.
Tanpa Hinata sadari, ia melingkarkan kedua lengannya di leher Sasuke seraya memjamkan mata. "Uchiha..."
Sasuke membuka mata dan mencium sekilas bibir Hinata. Iris jelaganya menatap iris keperakan Hinata yang sayu. "Tadi kau memanggilku Suke bukan?"
Wajah Hinata memerah mendengarnya. Ia memalingkan muka yang membuat Sasuke terkekeh. Sasuke berbisik di telinga Hinata. "Kau bahkan mendesahkan namaku, Nata."
Sasuke menatap bibir Hinata yang kemerahan dan membengkak. Ia menatap Hinata yang sedang menatapnya tajam. "Panggil aku Sasuke."
Detik selanjutnya Sasuke menghujam Hinata dengan ciuman dan lumatan yang memabukkan dan penuh gairah. Hinata bahkan sangat sulit mengimbangi kekuatan Sasuke dalam berciuman. Pria itu seolah-olah sudah ahli dalam mempermainkan bibir wanita.
Sasuke hisap, jilat, dan lumat bibir wanita itu. Dan terakhir menghisap bahkan memainkan lidah Hinata.
"Aahn~" jemari Hinata meremas surai lembut Sasuke. Menempelkan tubuhnya pada Sasuke seolah meminta kenikmatan lebih pada pria itu. Sasuke melepaskan tautan bibir mereka sebelum menghisap kembali bibir Hinata. Tubuh mereka kini menempel tanpa jarak kecuali garmen yang memisahkan keduanya. Hinata dapat merasakan tubuh Sasuke yang keras dan panas.
Ciuman mereka terlepas. Saliva masih tertaut di bibir mereka. Bibir Hinata semakin basah oleh saliva keduanya. Beberapa tetes saliva mengalir di sudut bibir wanita itu. Sasuke mengusap bibir Hinata dengan jempolnya daan mengecupnya singkat.
Hinata merasa lemas tak berdaya. Tubuhnya terasa linglung akibat kejantanan yang dipancarkan Sasuke. Dengan sigap Sasuke merengkuh tubuh Hinata. Pikiran Hinata memberontak dan mengatakan bahwa ini salah karena Sasuke adalah musuhnya tapi ia sangat menikmati ciuman pertamanya itu.
"Kau hebat bisa mengimbangiku." Sasuke merendahkan kepalanya dan mencium pundak Hinata.
"Aku mengakui kekalahanku, Uchiha." Hinata berujar sambil mengatur napasnya. Ia mengakui kekalahannya yang tidak bisa melawan pesona Sasuke yang begitu kuat dan tak terbantahkan.
Sasuke menggeleng. "Aku yang telah kalah pertama kali. Aku yang pertama kali jatuh dalam pesonamu."
Hinata terdiam. Ia tak sanggup berucap. Tenaganya seolah diserap habis oleh Sasuke. Ia hanya dapat menghirup aroma mint yang memancar dari tubuh atletis itu. Mereka berpelukan dalam diam. Merasakan desau angin malam yang menyapu lembut tubuh mereka. Keduanya menyadari bahwa mereka telah jatuh dalam pesona masing-masing
.
.
.
Neji menyusuri rak-rak buku di hadapannya. Ia oleh Hizashi yang notabene ayahnya disuruh untuk mengambil sebuah berkas yang tertinggal. Berkas tersebut cukup penting hingga membuat Neji harus ke runah ayahnya.
"Sepertinya berkasku tertinggal di buku 'God'." Petunjuk Hizashi tertanam rapi di otaknya.
Jari-jari panjang Neji menelusuri buku-buku yang disusun rapi hingga akhirnya jarinya berhenti di sebuah buku tebal berjudul God. "Pasti ini."
Trak
Neji melihat bahwa sepotong koran jatuh di lantai saat ia mengambil buku. "Apa ini?" Neji mengambil koran tersebut. Ia meletakkan buku dan potongan koran di atas meja kerja ayahnya.
Neji yang diselimuti rasa penasaran membuka potongan koran tersebut. Irisnya membola kala melihat judul yang dicetak tebal terpampang.
"Kecelakaan Hizashi Hyuuga."
"Ayah?" Gumam Neji pelan.
"Hizashi Hyuuga politisi Konoha yang melakukan dinas di Jerman mengalami kecelakaan di sebuah terowongan. Mobil mengalami kerusakaan yang cukup parah. Namun, Hizashi tidak dapat ditemukan."
"Apa ini? Kenapa berita tentang kecelakaan ayah? Bukankah ayah dirawat di rumah sakit?" Neji mengernyit bingung melihat isi koran tersebut. Sampai akhirnya ia menemukan tulisan ayahnya di sebuah sudut koran.
"Heaven? Apakah ini buku?" Neji kembali mencari uku dan ia menemukan sebuah buku harian dengan bercetak heaven di dalamnya.
Kedua iris Neji membola. Ia melihat seluruh bukti penyebab kecelakaan ada di sana. Pria bersurai coklat tersebut tak dapat menahan rasa keterkejutannya saat melihat tulisan tangan ayahnya yang menceritakan kecelakaan yang terjadi 5 tahun silam.
Aku menduga bahwa aku diserang oleh orang tak dikenal. Tubuhku terbalik dan aku melihat sopirku tak sadarkan diri. Saat itu aku pulang dari merayakan ulang tahun Neji yang ke 20 tahun. Saat aku terluka parah muncul pemuda yang memekik dan menolongku. Aku tak mengenal pemuda itu sampai akhirnya aku mengetahui namanya adalah Naruto Namikaze. Aku dilarikan ke klinik kecil. Aku ragu bahwa aku dapat sembuh di sana. Ternyata klinik kecil tersebut adalah klinik yang memiliki alat kesehatan terlengkap yang pernah ada. Sayangnya sopirku tidak bisa diselamatkan.
Aku mulai mencari tahu siapa dalang di balik rencana pembunuhanku dan aku menemukan bahwa dalang tersebut adalah Rikudo dan Madara Uchiha. Aku terkejut mengingat Fugaku uchiha berteman baik dengan kembaranku, Hiashi. Aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatanku sebagai politikus dan membantu kakakku memvangun peruahaannya. Sejak saat itu perlahan namun pasti, kakakku menetahui bahwa orang yang mencoba membunuhku adalah Uchiha dan hubungannya dengan Fugaku mulai merenggang hingga saat ini.
"Jadi inikah alasan Paman tidak mengizinkanku pergi dengan Sasuke?"
.
.
Hinata terbangun oleh dering ponselnya yang berisik. Ia segera mengangkat panggilan. "Halo dengan Hyuuga Hinata di sini."
"Hinata kau harus ke Konoha dalam waktu dekat."
Hinata merasa tubuhnya disetrum listrik. Suara yang ia dengar adalah suara ayahnya. "Ayah?!"
"Kau harus pulang ke Konoha."
Belum reda keterkejutan karena ayahnya menelpon sekarang ia dikejutkan oleh berita mendadak dari ayahnya. "Kenapa?"
"Ayah berniat untuk mengabarimu saat kau sampai di rumah. Tapi percayalah, keadaan Hyuuga sedang mendesak dan ayah ingin kau pulang."
Hinata merasa dirinya telah bangun sempurna ketika mendengar apa yang diucapkan ayahnya. "Bagaimana dengan pekerjaanku?"
"Neji akan mengurusnya. Kau harus pulang."
Hinata menghela napas kasar. Ayahnya yang susah ditebak dan bertindak semuanya mengingatkan Hinata akan pria yang mengacaukannya akhir-akhir ini. Tanpa ia sadari pipinya bersemu.
"Baiklah."
"Kau akan berangkat lusa. Persiapkan dirimu."
Panggilan terputus sebelum Hinata sempat bertanya makna tersembunyi dibalik ucapan Hiashi. Hinata menghela napas dan memutuskan untuk mandi.
.
.
.
Hinata bergegas ke tempat kerjanya. Sesampainya di perusahaan ia dikejutkan oleh sebuah kardus besar di mejanya.
"Ada apa ini?" Tanya Hinata pada Shion yang notabene rekan kerjanya.
Shion menitikkan air mata dan memeluk Hinata. "Kau akan pergi untuk menikah."
Hinata melonggarkan pelukan Shion. "Apa?"
Anne mendatangi Hinata. "Kudengar kau diberhentikan karena kau akan menikah di Konoha."
"Apa?! Tidak mu-"
"Persiapkan dirimu."
Suara Hiashi menggema di pikiran Hinata. Hinata mulai menyadari apa maksud perkataan ayahnya. "Ayah! Permisi, aku harus pergi."
Anne menahan kepergian Hinata. "Jika kau ingin bertemu Neji, ia berada di Berlin sekarang."
Hinata menarik surainya frustrasi. "Astaga. Kenapa bisa begini?!"
Shion kembali memeluk Hinata erat. "Hinataaa. Jangan tinggalkan akuuu."
Apa yang sebenarnya dipikirkan ayah?! Kenapa aku tiba-tiba dijodohkan?!
.
.
.
Hinata melangkah dengan anggun menuju bar. Ia dapat merasakan seluruh tatapan menuju ke arahnya. Tentu saja ia menarik atensi banyak orang. Dengan tubuh sintal yang berbalut dress bertali spaghetti yang menampakkan belahan dadanya dan hanya menutupi setengah paha begitu memikat banyak orang.
Hinata berjalan ke arah bar. "Berikan aku whisky kualitas terbaik."
Hinata segera menenggak minumannya dalam sekali tenggak saat minuman telah tersaji di hadapannya. "Satu lagi "
Hinata yang seolah tidak peduli membuat orang-orang takut untuk mendekatinya. Hinata pun juga tidak peduli. Ia hanya ingin beban di hatinya berkurang. Ketika ia hampir mabuk, seloki di tangannya dirampas oleh seorang pria.
Hinata mendongak hendak memaki. "Hei apa yang kau- Sasuke?"
Sasuke melepas jas kerjanya dan menyampirkan di punggung Hinata. "Kita pulang."
Hinata melotot ke arah Sasuke. "Apa yang kau lakukan?! Aku masih ingin minum!"
Sasuke menarik tangan Hinata dan menggendong wanita itu. "Pulang." Jika Hinata tidak sedang mabuk mungkin ia akan ketakutan mendengar nada rendah Sasuke yang mencekam dan mengintimidasi.
Sesampainya di mobil Sasuke, Hinata didorong masuk oleh Sasuke. Ingin rasanya Sasuke 'menghajar' wanita itu tapi ia harus ingat bahwa tidak boleh memanfaatkan wanita yang mabuk. Sasuke dengan gesit mengendarai mobilnya setelah memasang sabuk pengaman pada dirinya dan Hinata. Ia biarkan Hinata meracau hingga wanita itu terlelap.
.
.
.
Hinata mengerjapkan irisnya ketika mendapati pening di kepala. Ia menatap sekeliling dan menyadari bahwa hari masih gelap dan ia berada di mobil seseorang.
Tunggu, mobil?
Hinata segera membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobil dengan terhuyung-huyung. Ia melihat siluet yang membuatnya takut tapi ketika pening kembali menghantamnya, ia lupa rasa takutnya.
"Ada aspirin di mobilku." Suara ini...
Hinata mendongak dan menatap pria jangkung yang memapahnya. "Kau..."
Sasuke menatap Hinata datar. Ia membuka pintu mobil dan mengambil aspirin serta air mineral kemudian menyodorkan pada Hinata. "Minumlah."
Hinata mengikuti perintah Sasuke mengingat ia dalam kondisi lemah. Sasuke berjalan menuju depan mobil dan bersandar di kap. Iris jelaganya mengamati pemandangan. Setelah minum obat, Hinata merasa dirinya membaik. Ia mendekati Sasuke.
"Kenapa kau membawaku kemari?"
Sasuke berjalan. "Ikuti aku." Hinata mengikuti Sasuke dan betapa terkejutnya ia ketika melihat pemandangan di balik tubuh atletis pria itu.
Hinata merasa begitu segar ketika melihat pemandangan malam kota di bawah bukit yang begitu indah. Hinata tak henti-hentinya berdecak kagum. Angin lembut menyapu wajah, menghantarkan rasa nyaman dan segar. Hingga akhirnya Hinata merasakan kehangatan di tubuh. Lengan kekar Sasuke melingkar di perutnya.
Hinata dapat merasakan bahwa ia begitu dekat dengan Sasuke. "Aku tak menyangka kau mengetahui tempat semacam ini."
Sasuke mengecup puncak kepala Hinata. "Aku tak menyangka membawamu kemari."
"Ini indah." Hinata masih mengagumi keindahan di depannya dan melupakan keindahan yang sedang merengkuhnya.
Iris Sasuke menatap Hinata. "Ya. Indah."
Lama mereka berada dalam posisi tersebut hingga akhirnya Hinata berbalik dan melonggarkan pelukan Sasuke di tubuhnya. "Kenapa kau membawaku kemari?"
"Kenapa kau pergi ke bar?"
Hinata menghela napas kasar. "Menyalurkan setres." Ia berjalan menuju kap mobil dan mendudukinya. "Kau?"
"Itu bar langgananku."
"Ah..." hening sesaat sebelum Hinata melanjutkan. "Aku harus ke Konoha lusa."
Entah apa yang menimpa Hinata hingga ia mengatakan hal tersebut pada Sasuke. Sasuke berjalan ke arah Hinata dan duduk di samping wanita itu. Pria bermarga Uchiah itu menatap langit yang bertabur bintang tanpa mengomentari apapun.
"Hinata." Panggil Sasuke dalam membuat Hinata menoleh.
"Apa?"
"Maukah kau bersamaku?" Sasuke berjalan mendekati Hinata dan duduk di kap mobil.
Hinata menatap Sasuke bingung. Ia sangsi. "Apa maksudmu?" Hinata berpikir untuk menolak Sasuke dengan mengatakan ia akan dijodohkan. Namun Sasuke tiba-tiba memeluknya.
"Kau tak tahu betapa kesalnya melihatmu berpakaian terbuka?" Bisik rendah Sasuke. Sasuke melonggarkan pelukannya. Ia menatap Hinata dalam-dalam. Jemari panjangnya mengusap rahang Hinata.
Tanpa Hinata sadari, ia memejamkan mata. Menikmati senruhan Sasuke pada dirinya ketika pria itu mendekatkan dirinya pada Hinata. Ia mencium dan menghisap pelan bibir wanita itu kemudian melepaskannya. Iris jelaganya menatap iris jernih Hinata. Mereka dapat merasakan napas masing-masing, menciptakan aura intim yang begitu intens.
"Sasu-" Sasuke kembali melumat bibir Hinata pelan. Kali ini lebih lama dan bertenaga. Setelah itu ia melepaskan tautan keduanya.
Hinata dapat merasakan aroma napas Sasuke yang begitu segar. Tanpa ia sadari Sasuke telah berdiri di hadapannya dan memegang kedua pahanya untuk melingkari pinggang pria itu. Hinata menyelami netra Sasuke yang berkabut. Ia dapat merasakan panas dan gairah memancar dari tatapan Sasuke yang seolah membakar napsunya.
Hinata mengalungkan tangannya dan meremas pelan surai Sasuke. "Sasuke..."
Sasuke mendekatkan bibirnya dan hanya menyisakan beberapa senti dari bibir Hinata. Hidung mereka saling bersentuhan dan tatapan mereka menyatu. "Aku tidak bisa menahannya Hinata. Sulit bagiku untuk menahannya."
"Aku akan menghajarmu..." detik selanjutnya Sasuke menghujam Hinata dengan ciuman, lumatan, dan hisapan. ia bergerak bak ahli menaklukan setiap wanita. Dengan lihai ia memanjakan Hinata membuat wanita itu begitu panas dan bergairah.
Hinata mencakar punggung Sasuke yang masih terbalut kemeja putih. Sasuke lepaskan jas di tubuh Hinata. Lalu menghentikan aktivitasnya dan membuka kemeja. Ia merasakan angin malam menyapu tubuh atletis membuat Hinata terkejut.
Sasuke kembali menarik tubuh Hinata. "Berikan jejakmu."
Malam itu mereka habiskan waktu bersama di atas bukit di bawah bintang yang bertaburan. Mereka habiskan waktu untuk melupakan masalah yang terjadi dalam diri masing-masing.
.
.
.
Hinata meraih ponselnya yang berbunyi kencang. Ia mematikan alarm dan kembali tidur. Ia merasakan sedikit pusing dan pegal di tubuhnya akibat cara tidur yang salah. Ia mencoba membuka mata pelan. Irisnya membola saat melihat Sasuke yang bertelanjang dada dan tidur di kursi kemudi sedangkan ia hanya berselimut jas pria itu yang kebesaran.
Hinata panik. Pikirannya kembali pada malam panas yang mereka habiskan. Mereka bercumbu di kap mobil dan melanjutkannya di dalam mobil. Hinata mengintip di balik jas. Ia menghela napas lega saat ia masih mengenakan gaunnya.
Wajah Hinata memerah padam dan bahkan ia dapat merasakan tubuhnya memanas saat mengingat bagaimana Sasuke tampak begitu jantan dan maskulin serta kuat dan posesif di saat yang bersamaan.
Lamunan Hinata buyar kala mendengar dering ponselnya. Ia meraih ponsel dan menjawab panggilan tersebut. "Halo?"
"Apa kau sudah bersiap? Asisten Han akan menjemput di apartemenmu. Cepatlah bersiap."
Hinata mengernyit. "Apa maksud Ayah?"
"Kau akan pergi ke Konoha hari ini."
"Ayah aku tidak bisa pergi hari ini. Masih ada pekerjaan yang harus kuurus sebelum pergi.'
"Itu bisa diurus Neji. Sekarang cepat kau bersiap."
Sambungan terputus. Hinata mengeluh. Ia meraih tasnya dan mengenakan jas musim dingin Sasuke yang sangat kebesaran. Ia segera keluar dari mobil dan berlari menuju jalan beraspal yang terletak 200 meter dari lokasi Sasuke berada. Ia menghentikan taksi yang lewat. Bayangan bahwa ayahnya akan curiga karena belum siap menghantui dirinya. Ia lupa untuk meminta maaf maupun melampiaskan kekesalannya pada Sasuke.
Hinata menggigit bibirnya. Ia berharap bahwa ia akan sampai apartemennya tepat waktu.
.
.
.
Sesampainya di apartemen, Hinata menghela napas lega karena asisten Han belum datang. Ia segera mandi dan ganti baju serta mengemasi barang.
Hinata berjalan menuju dapur dan melahap persediaan sandwich yang tersisa. Beberapa saat kemudian bel di apartemennya berbunyi. Hinata berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Pak Han tolong bantu aku mengangkat koper." Hinata berjalan mengambil koper yang telah letakkan di ruang tamu. Asisten Han mengikuti Hinata dengan patuh.
Hinata mengemasi makanan yang tersisa di kulkas. "Apa kau sudah sarapan, Pak Han? Aku punya beberapa roti."
Asisten Han tersenyum. "Tidak perlu. Lebih baik kita pergi sekarang."
Hinata mengangguk dan mengambil tas yang berisi makanan dan tas jinjingnya. Ia mengikuti Han menuju sebuah mobil audi hitam metalik. Setelah memasukkan koper ke bagasi, ia dan Pak Han memasuki mobil. Hinata duduk di samping kursi kemudi.
Hinata kembali memakan sandwichnya dengan tenang. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara.
"Nona, apa banyak nyamuk kemarin?"
Hinata mengerutkan dahi bingung. "Apa maksudmu?"
Han memegang lehernya. "Lehermu terdapat gigitan nyamuk."
Hinata tersedak mengundang kekhawatiran Han. "Apa Nona tidak apa-apa?" Han menyerahkan air mineral yang masih disegel.
Hinata meneguknya dan mengangguk. Seketika wajah Hinata memerah padam. Bayang Sasuke yang bertelanjang dada memenuhi pikirannya. Hinata menyentuh jejak Sasuke dan menunduk malu. "Nyamuk cukup besar menggigitku semalam. Sulit bagiku menghindarinya karena aku tertidur."
"Ah, aku mengetahu obat nyamuk yang cocok untuk itu-"
Hinata tidak dapat mendengar asisten Han berbicara lebih lanjut. Pikirannya terbayang oleh kejadian malam tadi. Pikirannya tak dapat melupakan alis Sasuke yang tebal, irisnya yang menghanyutkan, hidung mancung, bibir tipis, pahatan sempurna otot di tubuhnya, dan bagaimana lihai pria itu mempermainkan jiwa dan raganya.
Namun hal yang tak pernah Hinata lupakan adalah saat bersama dengan pria itu dan melihat pemandangan menakjubkan di bukit bersejarah tersebut.
.
.
.
Hinata berjalan untuk memasuki pesawat yang telah dijadwalkannya. Ia membalikkan tubuh dan melambaikan tangan pada Asisten Han.
Asisten Han membungkukkan badan. "Semoga perjalananmu lancar, Nona."
Hinata berjalan dengan ragu. Ia tidak menyadari hal besar yang memporak-porandakan hidupnya telah terjadi di depan mata.
.
.
.
TbC
