Suasana di ruang tv rumah mewah itu kini diliputi oleh sunyi sementara dua sosok yang sedang duduk berdampingan diatas sofa panjang itu hanyut dalam pikiran masing-masing. Tidak ada satu pun dari keduanya yang ingin memulai percakapan yang sudah seharusnya mereka lakukan.

Kongpob berpikir sudah saatnya ia menjelaskan semua hal pada Arthit, mengenai siapa dirinya, apa yang terjadi dan juga mengenai pamannya. Namun Kongpob sendiri tidak begitu yakin dari mana ia harus memulai.

Sementara Arthit masih menimbang apakah ia tidak akan menyinggung perasaan majikannya itu jika dengan lancang bertanya soal foto-foto yang ditemuinya di kamar tambahan itu. Apakah akan terlalu lancang untuknya yang orang asing menanyakan hal yang begitu personal bagi Kongpob padahal pria itu pernah mengatakan bahwa istrinya memang sangat mirip dengannya. Namun, semirip apapun istri Kongpob dengannya, apakah wajar jika istri Kongpob memiliki bekas luka yang sama persis di bagian perut seperti dirinya?

Tidak masuk akal, bukan?

"Kong," suara Arthit membuyarkan lamunan Kongpob, membuatnya mengalihkan perhatiannya sepenuhnya pada sosok istrinya itu, "Maafkan aku jika aku lancang, tapi aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

"Khap?"

Arthit terlihat tidak yakin untuk beberapa saat namun ia menarik nafas panjang, lalu meletakkan foto kecil yang ia ambil dari dompet Kong dan beberapa album foto yang ia temukan di kamar tambahan itu. Membuat mata Kongpob melebar, terkejut karena tidak seharusnya Arthir bisa menemukan album-albun itu. Ah, apakah ia lupa mengunci kembali kamar itu?

"Maafkan aku, tapi aku membuka kamar tambahan itu tidak terkunci... aku berniat ingin membersihkannya tapi malah menemukan foto-foto beserta album-album itu." Arthit berusaha melirik Kongpob yang tengah terdiam itu dari sudut matanya, sedikit takut majikannya itu akan benar-benar marah namun yang didapatinya adalah Kongpob yang sedang tersenyum sembari menatap album foto di depannya.

"P'Arthit khap, aku tidak akan marah hanya karena P'Arthit menemukan album foto milik P'Arthit sendiri." Arthit merengut heran, membuat Kongpob gemas. "Album foto ini, semua adalah milik P'Arthit, khap."

"Milikku? Tapi..."

"P'Arthit," potong Kongpob, mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi hangat, menyapukan ibu jarinya di permukaan kulitnya yang halus dan menyalurkan panas yang menyenangkan pada tubuhnya. "Maukah kau mendengarkan sebuah kisah?"

Arthit kembali merasa bingung dengan semua perkataan Kongpob, namun ia menganggukkan kepalanya. Tidak ada gunanya juga menolak karena ia tahu bahwa Kongpob tetap akan menceritakan kisah yang dikatakannya itu. Lagipula, ia memang ingin tahu banyak hal tentang pria di depannya ini.

"Kisah ini, bercerita tentang Kongpob dan Arthit." Arthit diam membisu, memutuskan untuk mendengarkan saja meskipun ingin sekali menyela ketika ia mendengar nama mereka berdua. "Ini kisah tentang seorang pemuda yang mencintai pemuda lainnya. Kisah cinta keduanya yang sebenarnya tidak begitu dramatis untuk di ceritakan, namun menjadi begitu dramatis ketika mereka dipermainkan oleh takdir."

Kongpob menoleh, menggeser posisi duduknya hingga ia menghadap sepenuhnya pada Arthit, menyentuh tangan istrinya itu dengan lembut dan menggenggamnya erat. Detak jantung keduanya seakan terasa melalui pemukaan kulit yang melapisi nadi-nadi di tangan mereka.

"Ini adalah kisah Kongpob, yang berusaha menarik perhatian kakak kelasnya yang manis. Kisah perjuangan yang berbuah manis ketika kakak tingkat manis itu pada akhirnya menerima perasaanya. Kisah yang ia pikir akan berakhir dengan indah dan penuh kebahagiaan, walau diselipi dengan beberapa kisah pahit di dalamnya seperti ketika orang tua dari kekasihnya itu meninggal dunia karena kecelakaan. Membuatnya menjadi anak sebatang kara." Sebuah senyuman lembut diberikannya kala melihat raut wajah merengut di depannya itu.

"Kedua pemuda itu melakukan apapun agar bisa bahagia, termasuk menikah. Kebahagiaan yang mereka rasakan tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, apalagi dengan kehadiran dua malaikat kecil dalam keluarga kecil mereka."

Arthit sedikti berjengit mundur ketika tangan Kongpob meraih ujung kaos yang dipakainya dan menyingkapnya. Menunjukkan bekas luka panjang yang ada pada perutnya.

"Kebahagiaan itu sekita hilang ketika takdir memutuskan ingin melakukan sebuah permainan kecil dengan keduanya. Kecelakaan merenggut seluruh kebahagiaan yang berhasil mereka raih bersama. Kebahagiaan itu hilang bersama dengan ingatan-ingatan Arthit -ingatanmu."

"Kongpob, apa yang-"

"P'Arthit khap,"Kongpob kembali memotong kalimatnya, membuatnya sangat kesal sekarang. Kekesalan yang kemudian berubah menjadi keterkejutan ketika pria itu menyematkan benda berbentuk lingkaran pada jari manisnya.

Sebuah Cincin.

"Ini adalah cincin yang aku sematkan di jari manismu dengan janji bahwa aku akan membahagiakanmu, akan selalu bersamamu apapun yang terjadi." tangan yang saling menggenggam itu bergetar, berasal dari yang lebih muda. "Janji yang tidak bisa aku penuhi pada akhirnya. Maafkan aku, P'Arthit."

Sebuah bulir air mata menetes dari kelopak mata pria di depannya itu sehingga membuat Arthit panik. Tidak mengerti apa yang harus dilakukannya namun ia mengerti pasti apa yang ingin diketahuinya dari pria ini.

"Kongpob," ia memulai, tidak ingin kembali teralihkan dari tujuan awalnya. "Aku minta maaf jika ini membuatmu tidak nyaman, tapi aku bukan Arthit-mu."

Kepala yang tertunduk itu perlahan mendongak, menatap matanya dengan mata sembabnya. Pria yang ia pikir adalah seorang pria tangguh yang bisa memimpin sebuah perusahaan besar sekaligus merawat dua orang anak itu ternyata bisa rapuh seperti ini.

"Aku bukan istrimu." ucapnya lagi, merasakan sesuatu di hatinya ketika melihat senyuman yang menyiratkan kesedihan di wajah tampan majikannya itu. Mengapa hatinya begitu sakit melihat Kongpob seperti ini, ia sendiri tidak mengerti.

Apa yang dirasakannya ini membuatnya bingung. Apakah ia merasa bersalah kepada Kongpob karena mengatakan kenyataan bahwa ia bukan istrinya, ataukah ia merasa cemburu pada sosok istri yang begitu dicintai Kongpob sehingga pria itu terus saja beranggapan bahwa dia adalah istrinya yang telah pergi?

Sudah cukup ia menyangkal perasaan yang ia rasakan untuk pria yang masih berstatus sebagai majikannya itu. Cukup waktu ia berpikir apakah perasaan yang ia rasakan pada Kongpob adalah hanya sebatas perasaan kasihan atau sesuatu yang lebih. Rasa kasihan adalah salah satu alasan ia menyetujui tawaran Kongpob menjadi baby sitter di rumah itu, kasihan pada Kongpob, dan terlebih pada kedua anaknya yang tidak terawat dengan benar. Namun seiring waktu, ketika ia menghabiskan waktu dengan ketiga penghuni rumah mewah itu, hatinya merasakan sesuatu yang lain.

Cinta?
Arthit tidak begitu paham. Karena selama ini ia tidak pernah merasakan apa yang namanya cinta. Ia bahkan tidak pernah menjalin hubungan dalam hidupnya. Namun ia cukup yakin bahwa apa yang dirasakannya mungkin paling mendekati dengan apa yang orang sebut cinta itu.

"Luka ini," ia berjengit kembali ketika telapak tangan yang ternyata lebar itu kembali menyentuh luka di perutnya, "bukanlah luka dari kecelakaan yang kau alami."

"Apa maksudmu?"

"Ini adalah luka yang kau dapat dari prosedur ketika kau melahirkan May dan M, khap."

Cukup sudah!
Ia menghempaskan tangan Kongpob dari atas perutnya, berdiri dan menatap nanar pada pria yang sepertinya terkejut dengan tindakannya itu.

"Cukup! Aku ini bukan istrimu! Aku ini ARTHIT! Bukan istrimu yang sudah pergi itu!" teriaknya, terlalu lantang hingga ia pun terkejut dengan suara yang dikeluarkannya.

Sejak ia bertemu dengan pria ini, hidupnya tak lagi sama. Ia tak lagi bisa mengendalikan dirinya, apalagi hatinya. Pria ini terus saja mempermainkan hati dan perasaannya dengan anggapan bahwa ia adalah orang lain. Orang yang bukan dirinya.

Arthit membenci itu.

Arthit ingin Kongpob melihatnya sebagai Arthit, bukan orang lain.

"Maafkan aku," tangan hangat itu kembali menggenggam tangannya, menariknya untuk kembali mendekat pada sofa itu. "Maafkan aku..."

Kongpob menarik tubuh Arthit untuk mendekat, memeluknya erat dan membenamkan kepalanya pada perutnya. Bahunya yang bergerak naik-turun menyadarkannya bahwa pria ini kembali terisak pelan.

Mengapa pria ini bisa menangis sepedih ini tidak masuk akal untuknya. Apakah kenyataan yang diucapkannya begitu menyakitkan untuknya? Kenyataan kadang memang menyakitkan namun apakah sesakit itu untuk Kongpob?

Lalu, mengapa air matanya juga menetes melihat sosok di depannya yang terlihat begitu rapuh ini? Mengapa hatinya kembali terasa sangat sakit mendengar suara isakan dan bisikan kata maaf darinya? Mengapa ia seperti bisa merasakan kepedihan Kongpob dari getaran lengan yang melingkar di tubuhnya ini?

"Maafkan aku..."

Mendengar suara yang menjadi sedikti serak dan sedikit teredam karena wajah yang masih setia menempel pada pakaian yang menutupi perutnya itu, membuat pertahannya runtuh. Arthit benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi padanya. Pada hatinya.

Perlahan tubuhnya merosot, membuatnya terduduk di karpet tebal yang melapisi lantai. Lengan yang melingkar di pinggangnya berpindah pada bahunya -memeluk erat lehernya.

"Maafkan aku..."

Tanpa ia sadari, kedua lengannya membalas pelukan penuh depresi Kongpob. Memeluk tubuh pria yang kini menunduk agar tangannya tidak melepaskan pelukan pada tubuhnya.

Hanya isakan yang jelas dari keduanya yang terdengar di ruang tv rumah kediaman keluarga Suthiluck. Isakan dari dua insan yang merasakan kepedihan yang sama.

.

.

tbc