^^ HAPPY BIRTHDAY KWON SOONYOUNG! ^^
.
Tanaman ini masih bisa tumbuh lagi kalau dimasukkan ke tanah. Kenapa malah dibuang?
#soonhoon #hozi #seventeen #t #yaoi
SUNBAE
10
Rringg, baru juga suara dering terdengar satu kali di line seberang, gema tersebut sudah berhenti tanda telpon telah diangkat.
"Hyung—"
"Hello, who's there?"
"O-oh, Noona?"
"Yeah? Who's this?"
"Soonyoungie, Kwon Soonyoung. Apa Hyung ada? Aku mau bicara dengan Hyung," jawab Soonyoung yang sekejab menuai pekikan terkejut sekaligus senang dari suara wanita yang langsung terdengar memekakkan telinga menyebut namanya.
"SOONYOUNGIE!? AIGOO LONG TIME NO SEE, SOONYOUNG-AH! AKU MERINDUKANMUU~~~"
"N-ne, aku juga merindukanmu, Noona." Soonyoung nyengir. "Anu, apa Hyung sedang sibuk? Aku harus bicara dengannya, ini penting," lanjut namja tersebut memasang suara serius.
"Ah? Ok, ok, dia di sini. Sebentar ya~" terdengar telpon seperti diletakkan di permukaan meja, ditinggalkan begitu saja, sebab yang kemudian menggema adalah suara panggilan menyerukan nama seseorang dari kejauhan.
Tenang sejenak. Soonyoung menunggu dengan sabar, tangannya menempelkan ponsel ke telinga dan matanya terpaku menatap ke depan, ke sebuah pot yang tergeletak diam di bagian paling atas rak kayu yang menyimpan pot-pot lain, tak jauh beda dengan kondisi sekitarnya yang juga dipenuhi oleh deretan pot dalam berbagai bentuk serta ukuran.
Tluk, terdengar suara berisik seolah telpon diambil dari atas meja.
"Halo?"
Mata Soonyoung melebar. "Hyung!?"
"Eoh, ada apa, Soonyoungie? Tumben kau menelpon duluan. Butuh uang saku tambahan?" suara lembut seorang namja menjawab seruan Soonyoung di seberang sana disusul oleh cekikikan ramah yang menyenangkan.
"Bukan." Namja sipit tersebut merengut, Hyung-nya yang satu itu memang gemar sekali menggodanya. "Aku mau konsultasi."
"Konsultasi apa? Kau belum di-notice sunbae-mu yang kau bilang imut itu?" ledekan kembali keluar yang membuat Soonyoung makin mengerucutkan mulut.
"Hyuuung~ aku mungkin tidak beruntung tapi AKU TIDAK SESIAL ITU!" Soonyoung menyalak.
Sebuah tawa renyah menyahut dari seberang. "Aku tahu, aku tahu. Jangan marah, kalau kau marah kau bisa terlihat kiyowo nanti dan sunbae-mu tidak akan suka karena kau sama sekali tidak terlihat keren."
"Hyung, berhenti mengejekku!" Soonyoung mendengus. "Aku serius, ini sangat penting!"
"Oke, oke." Suara tawa riang di seberang perlahan mereda. "Jadi kau ingin tanya apa?"
Soonyoung mengambil napas panjang, "Ada anak yang sekarat. Aku tidak tahu dia bisa bertahan atau tidak tapi aku sudah melakukan pertolongan pertama semampuku."
"Tropis?" suara namja di seberang mendadak menjadi serius.
"Eum." Soonyoung mengangguk. "Aku sudah memberinya pupuk di bawah akar, tanah lembab, air dan sinar matahari yang banyak. Tapi bukan itu yang mau aku tanyakan."
"Lalu?"
Soonyoung menghela napas, matanya tak dapat beranjak dari pot kecil berisi tanaman yang daun-daunnya mulai lemas dengan warna semi kecoklatan. "Aku tidak yakin, tapi—"
Hening sejenak.
"—sepertinya dia bukan anak biasa."
Kembali hening.
"Entah dia kelinci percobaan atau persilangan atau stem, aku masih belum bisa menentukannya. Yang pasti, dia tidak normal."
"Ada banyak kemungkinan." Suara di seberang melunak. "Kau bilang kalau anak itu sekarat 'kan? Wajar jika masih belum ketahuan untuk sekarang. Tunggu sampai dia pulih, baru kau bisa mengamatinya."
"Aku akan mengirimkan fotonya padamu, Hyung," ujar Soonyoung.
"Eh? Kenapa?" kakak Soonyoung terdengar kaget.
" 'Kenapa' ?" Soonyoung menyahut cepat. "Aku tidak mau menebak-nebak sendiri. Lagipula Hyung 'kan lebih banyak tahu daripada aku. Tentu saja Hyung harus membantuku."
"Bilang saja kalau kau malas, dasar," geram suara di speaker ponsel Soonyoung yang sukses membuat pemuda tersebut tergelak.
"Ah, Hyung~ kau tahu saja. Aku 'kan jadi malu~"
"Aku tidak sedang memujimu woy. Ngomong-ngomong, bukannya di Korea sekarang jam 7 pagi? Kau tidak sekolah?"
"Hahaha, tentu saja aku sekolah—" Soonyoung tertegun sejenak. "Jam berapa?" desisnya.
"Jam 7."
Wajah pemuda itu memucat seketika. "WAAA, AKU TERLAMBAAAAATTT!"
-o-
Apes memang, dasar apes, rutuk Soonyoung, matanya menatap lesu pada langit yang berwarna biru cerah dengan beberapa awan kecil menggantung dan samar terlihat bergerak seiring dengan sepoi angin terasa sejuk mempermainkan ujung rambut poninya yang lengket ke kening akibat keringat yang deras mengalir. Sambil tetap menjaga tempo, Soonyoung—sekali lagi—berlari di sepanjang garis putih yang mengelilingi lapangan—kali ini—sepak bola. Jika kemarin dia ditunggui oleh kapten klub basketnya, Seungcheol, sekarang Soonyoung diawasi oleh seorang pria tengah baya dengan pakaian training, peluit menggantung di leher serta gulungan koran berada di genggaman tangannya.
Seperti yang diduga namja tersebut, dia terlambat masuk sekolah. Begitu berhasil memanjat dinding, kain bajunya segera dicekal oleh guru BP. Setelah sesi ceramah di ruang konseling, Soonyoung diijinkan ikut pelajaran namun harus melakukan hukumannya saat jam istirahat siang bersama guru olahraga dan jam istirahat siang itu adalah sekarang.
Aku capek... batin Soonyoung. Ingatannya kembali pada kemarin sore, saat Seungcheol juga membuatnya lari seperti ini sampai seratus putaran dengan dalih latihan tambahan meski menurut Soonyoung dia seperti sedang dihukum. Entah hukuman untuk apa, Soonyoung sendiri tidak paham. Yang dia tahu hanyalah dia terpaksa berjalan dengan menggunakan tongkat supaya bisa sampai ke rumah sebab kedua kakinya hampir tidak mampu lagi ditegakkan.
Soonyoung masih berada di pertengahan menyelesaikan tiga putaran terakhir saat mendadak ayunan stabil kaki panjangnya memelan dan akhirnya berhenti sama sekali. Namja tersebut terengah, sepasang mata sipitnya mengarah ke satu titik, ke obyek yang membuatnya berhenti berlari. Sebuah sosok mungil berambut coklat berponi yang membawa beberapa tumpuk buku tebal dan tengah berjalan menuju gedung perpustakaan.
Wah, sunbae ganti warna rambut, puji Soonyoung dalam hati. Kiyowo~
Namun kemudian sinar mata senang dan kagum pemuda tersebut memudar seiring dengan diingatnya kembali kejadian kemarin sore di perjalanan pulangnya setelah melakukan maraton mengerikan dari Seungcheol. Dia melihat sosok Jihoon melintas di lapangan menuju tempat pembuangan sampah sekolah. Nampak kakak kelasnya itu seperti membuang sesuatu di sana lalu pergi. Soonyoung tidak punya prasangka apapun, dia hanya berharap kalau apa yang diletakkan Jihoon bukan sisa makanan maupun sampah basah menjijikkan sebab dia ingin menyimpan benda itu, benda yang pernah dimiliki oleh idolanya. Dengan mengerahkan sisa kekuatan yang ada, Soonyoung menuju tempat pembuangan sampah, tapi yang dia temukan di sana justru sesuatu yang sama sekali tak terpikirkan olehnya.
Sebuah tanaman dengan akar dan daun yang hampir kering. Terlihat kering karena sepertinya setelah tercabut dari tanah, dia tidak segera ditanam kembali ke dalam tanah basah dan dibiarkan kena angin. Soonyoung lantas teringat pada pot yang dia pecahkan bersama Seokmin di halaman belakang sekolah. Dan jika dihubungkan dengan kemarahan Jihoon, lalu sikapnya yang membuang tanaman, jangan-jangan...
Pot itu milik sunbae? Pikir Soonyoung menerjemahkan benang merah yang ada.
Tapi kenapa? Tanaman ini masih bisa tumbuh lagi kalau dimasukkan ke tanah. Kenapa malah dibuang? Adalah pertanyaan Soonyoung yang berikutnya. Dengan masih dibebani oleh rasa penasaran tersebut, namja itu membawa pulang tumbuhan yang dibuang Jihoon ke rumahnya.
Hingga kini pun Soonyoung masih belum mengerti kemungkinan alasan kenapa Jihoon membuang tanaman tersebut hanya karena potnya pecah. Menurut pengalamannya berkebun sejak kecil, tumbuhan tidak akan mati meski potnya pecah selama dia langsung mendapatkan tempat dan tanah baru. Tapi Jihoon langsung membuang tanaman itu seolah tak ada lagi harapan untuknya hidup.
Ada apa? Apa ada makna khusus di balik tanaman ini? Soonyoung tidak dapat menemukan jawabannya.
PRIIIITTTT, jeritan lantang peluit disusul oleh sebuah seruan suara berat sukses membuat Soonyoung melompat kaget di tempat. "SIAPA YANG MENYURUHMU BERHENTI LARI, HAH!?"
"MA-MAAAAAF!" Soonyoung kembali melesat.
"TAMBAH 5 PUTARAN LAGI!"
"APA!?"
-o-
"Jihoon bilang dia mau ke perpustakaan."
Adalah isi pesan yang diterima Jisoo sebagai balasan chat yang dia kirim ke username Jeonghan. Dan tidak sampai lima belas menit, di sinilah dia berada. Melangkahkan kaki nyaris tanpa suara di antara deretan rak tinggi penuh buku-buku dan melewati meja demi meja bersikap seolah tidak menyadari tatapan merona serta bisik-bisik kagum dari para siswi yang membicarakannya sambil sesekali mencuri pandang.
Jisoo langsung menuju rak buku paling ujung, dengan sebuah meja yang menempel di dinding tepat di bawah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan cerah langit biru siang itu. Tempat favorit Jihoon di perpustakaan, meja yang selalu dia gunakan dan sudut dimana kau bisa menemukannya di perpustakaan sekolah yang super besar layaknya perpus universitas tersebut.
Bingo! Senyuman tak mampu Jisoo tahan, merekah di wajah tampannya yang mungil begitu kedua mata indahnya melihat sosok orang yang dia cari tengah duduk dengan setumpuk buku di atas meja dan kepala tergeletak di sebelahnya. Jihoon pasti tidur. Sudah menjadi kebiasaan pemuda itu untuk mencuri waktu tidur siang di jam istirahat yang memang panjang—satu jam—pergi ke perpustakaan hanyalah dalih, alasan sebenarnya adalah dia ingin tidur.
Dengan pelan Jisoo mengambil tempat duduk di sebelah sahabatnya yang masih mendengkur lirih, sama sekali tidak menyadari kedatangan orang di dekatnya. Jisoo memperhatikan wajah terlelap Jihoon, kedua matanya yang menutup, hidung kecilnya yang kembang-kempis, serta bibir tipisnya yang sedikit bercelah. Kembali, pemuda bertindik salip itu tersenyum.
Tapi perlahan senyuman Jisoo memudar saat dia menyadari bagian bawah mata Jihoon nampak sedikit gelap dan bengkak. Dihelanya napas panjang.
Kau menangis lagi? Batin namja berponi tersebut, mengangkat tangan dan dengan hati-hati menyentuhkan ujung telunjuk pada kantung mata Jihoon.
"Aku tahu, kau sangat bersedih karena kehilangan tanaman berharga dari kakakmu," bisik Jisoo dengan suara kecil, masih mengusap wajah Jihoon dengan ujung jarinya. "Tapi melihatmu terus-terusan murung dan menangis seperti ini benar-benar menyiksaku. Kalau ada yang bisa aku lakukan, bilang saja Jihoon-ah. Katakan saja semuanya. Aku tidak keberatan, aku tidak akan menolakmu. Asal kau berhenti menangis." Jisoo mendekatkan kepalanya pada Jihoon.
"Jangan sedih, kami akan terus di sini membantumu—" sorot mata namja tersebut berubah sendu. "—Baby..." dan perlahan dia mengikis jarak, mempertemukan bibirnya dengan milik Jihoon yang masih pulas terlelap.
-o-
Soonyoung meraih handuk dari gantungan pintu toilet untuk mengeringkan wajah serta kepalanya yang barusan diguyur air dari shower di sebelah closet. Sebenarnya dia ingin mandi karena badan serta bajunya sudah basah kuyup oleh keringat hasil dari siang-siang lari mengelilingi lapangan. Namun ternyata jam istirahat berakhir lebih cepat dari perkiraan membuat namja itu hanya sempat menyegarkan kepala dan mukanya.
Ya ampun, salah apa aku sampai harus kena sial bertubi-tubi seperti ini, keluh Soonyoung dalam hati. Belum selesai dia mengeringkan rambut, mendadak ponselnya yang berada di saku blazer bergetar. Soonyoung mengambil benda itu dan tanpa melihat siapa yang menelponnya dia langsung menggeser tanda penerima.
"Ya, halo?" sapanya mendahului.
"Soonyoung-ah?"
"Oh? Hyung? Ada apa?" wajah Soonyoung nampak terkejut mendengar suara kakaknya yang tadi pagi dia hubungi.
"Soal anak yang sekarat itu, kau mendapatkannya darimana?"
"Huh?" alis Soonyoung mengerut. Sesaat setelah dia menelpon Hyung-nya, pemuda itu memang langsung mengirimkan foto tumbuhan Jihoon yang dia bawa pulang ke rumah dan mencoba untuk dia 'selamatkan'. Tanaman itu pula yang dia bicarakan dengan kakaknya pagi tadi.
"Darimana kau mendapatkan anak itu?" suara sang Hyung terdengar serius, tidak meledek seperti biasanya.
"Punya temanku. Memang ada apa, Hyung?" jawab Soonyoung.
"Siapa temanmu? Lebih tua atau seumuran atau lebih muda? Laki-laki atau perempuan? Siapa namanya?"
"Hyung, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Soonyoung makin mengerutkan alis tidak mengerti.
Hening sesaat. Terdengar helaan napas panjang di seberang.
"Anak itu adalah anak yang pernah aku berikan pada seseorang. Meski cuma gambar tapi aku bisa mengenalinya, karena aku sendiri yang menumbuhkannya ... dua tahun lalu."
Soonyoung terdiam.
"Kalau kau perhatikan dengan cermat, anak itu akan sama persis seperti salah satu anak di kebun kita."
Soonyoung masih bergeming. Hening. Dan butuh beberapa detik hingga kemudian mata sipitnya membulat tersadar.
"Jangan bilang—" dia terbata. "Jangan bilang dia adalah salah satu dari anak kembar hasil percobaanmu itu, Hyung!?"
Sunyi menyapa sejenak di seberang telepon sebelum sebuah desisan menjawabnya. "Iya, dia adalah anak kembar itu."
"Tap-tapi kenapa? Kenapa anak itu bisa ada pada temanku, Jimin Hyung?" Soonyoung masih belum bisa mengerti. Tanaman milik kakaknya, berada di tangan Jihoon. Bagaimana bisa?
"Aku tidak tahu, seingatku aku hanya memberikannya pada..." suara kecil tersebut berbisik parau di telpon. "...Yoongi."
-part ten-
Tebak-tebak berhadiah XD
Sekaligus buat ngerayain ultah si mata kesobek yang 10+10 = 20
Tua ih tua XD kekekekekekeke
