A/N: Di chapter ini masih belum ada scene-scene YAOI-ness dsb. Ada sih scene AceLu dikiit. #Plak. So, yang udah ngebet pengen liat tuh scene, jangan terlalu berharap banyak. Fluff, romance ataupun konflik bakalan ada di kedepan nanti. Jadi, harap bersabar~ Nih multichapter lumayan panjang. Saya gak mungkin nge-rush plotnya. Let it flow. Serahkan semuanya pada saya selaku author dan Tuhan di fic ini. #Grins #Tampoled
Btw, ini saya lagi mode Berserk. Jadinya bisa updet cepet. Gak tahu ke depan nanti. Semoga aja bisa updet sesuai jadwal lagi. =="
One Piece © Eiichiro Oda
Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)
Genre: Romance/Humor/Drama
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)
Don't like? Don't read!
-Chapter 9-
Disguise Mask
.
Sembunyikanlah...
Seluruh jati diri di balik topeng kepalsuan itu.
Sembunyikanlah...
Seluruh ketakutan dan rahasia di balik topeng kebohongan itu.
Sembunyikanlah...
Seluruh kecemasan dan dinding skeptis di balik topeng fana itu.
Akan tetapi...
Apakah topeng-topeng itu sanggup untuk menyembunyikan isi hatimu yang sesungguhnya?
Dari dia yang kau kasihi...
.
'Shit! Kenapa mereka bisa ada di sini? Mati aku...'
.
.
Kabur.
Kabur. Kabur. Dan kabur. Hanya kata itu yang ada di benak Ace saat ini. Ia harus kabur. Ia harus pergi. Ia harus melenyapkan diri. Harus! Sebelum semuanya terbongkar. Sebelum semuanya menjadi berantakan. Sebelum semuanya menjadi fatal.
Ia. Harus. Segera. Kabur.
Persetan dengan perutnya yang kini mengadu kelaparan. Persetan dengan seluruh makanan yang ia pesan. Identitasnya saat ini lebih penting. Ia harus segera melenyapkan diri dari tempat itu. Luffy dan kawan-kawannya yang lain semakin melangkahkan kaki mereka menuju ke arahnya. Ini sungguh gawat. Mereka tak boleh tahu.
Kabur. Menghilang. Ditelan bumi. Atau apapun. Benak musisi Black Spade itu semakin kacau. Para pengunjung di restoran elit itu mungkin tak menyadari bahwa paparan pucat kini terlukis di paras Ace. Pemuda tampan itu mulai keringat dingin. Gemetar. Selihai-lihainya ia menyamar saat ini, Luffy pasti akan mengenalinya. Anak itu sudah terlalu familiar dengan entitas fisiknya. Ace sungguh tak ingin mengambil resiko untuk berdiam diri lebih lama lagi di tempat itu.
Dan lagi, yang tak habis ia pikir adalah...
Kenapa Luffy bisa datang kemari?
Equilibrium Ace berpikir keras. Ah, jelas saja anak itu datang kemari. Karena apa? Karena pertama, anak itu maniak makan. Kedua, anak itu gampang lapar dan terakhir, ini adalah restoran tempat ia 'biasa' makan.
'Sial. Aku berniat menghindari Luffy dan kawan-kawannya tapi kenapa juga aku malah bersembunyi di tempat ini? Sebuah tempat yang berpotensi besar untuk didatangi Luffy setiap saat? Baka! Aku benar-benar bodoh!' Ace hanya dapat menyalahkan diri sendiri. Terlambat. Menyesali apa yang sudah ia perbuat sungguh percuma.
"Tuan, ini dia pesanan Anda." Beberapa waiter sudah tampak menyelubungi meja Ace dan meletakkan puluhan piring di hadapan vokalis itu. Sial. Distraksi itu hanya akan mengulur waktu saja. Ace harus segera pergi dari situ. Luffy dan kawan-kawannya semakin mendekat saja tiap detiknya.
"Ah, maaf. Saya tak jadi makan di sini. Tenang, seluruh biayanya akan tetap saya bayar nanti. Orang suruhan saya akan kemari dan membayar tagihannya. Saya harus pergi sekarang. Permisi!"
"Eh, tu-tunggu sebentar, Tuan! Kenapa Anda tidak jadi makan-" tak mempedulikan pertanyaan beberapa waiter itu, Ace langsung saja berdiri dari kursinya dan lekas menyerobot keluar dari kumpulan pelayan itu. Namun, lepas dari kungkuman distraksi itu bukanlah hal yang cukup mudah.
Sepuluh orang pelayan dengan senjata nampan dan juga meja dorong penuh piring.
Sungguh sebuah benteng yang sulit untuk ditaklukkan.
.
.
"Nah, kita duduk di sini saja."
Meja nomor 18.
Sebuah meja yang dipilih oleh Nami. Meja itu sangat luas dan cukup untuk ditempati enam orang sekaligus. Luffy dan Usopp lekas terduduk di kursi itu. Sedangkan Zoro tampak memanggil seorang pelayan untuk memesan makanan; Nami menghela napas pasrah.
"Kali ini kuturuti keinginanmu, Luffy. Setelah kau puas makan, kita harus segera menyelesaikan tugas-tugas itu. Mengerti kau!" Nada ancaman itu tak membuat Luffy gentar sedikitpun. Pemuda energetik itu hanya mengangguk paham dan membelai hamparan perutnya yang keroncongan.
"Aku mengerti, Nami."
"Eh, Tunggu sebentar, Tuan! Kau tak bisa menerobos seenaknya seperti itu!"
"Minggir! Aku harus segera pergi dari sini!"
KRANGTAAAANG!
"HEI! ANDA MENYENGGOL PIRING KAMI!"
"Ada ribut-ribut apa itu? Apa yang terjadi di sana?" Nami dan yang lainnya mulai menautkan alisnya. Lekaslah mereka mengarahkan pandangan pada sumber keributan itu. Hampir semua pengunjung yang ada di Restoran Baratie juga melakukan hal yang sama. Kini, meja nomor 26 telah menjadi sebuah pusat perhatian.
"Apa-apaan Anda ini? Bisakah tenang sedikit? Kami akan segera menyingkir!"
"Tolong, cepatlah! Aku harus buru-buru!"
"Su-Suara itu..." Luffy tampak beraut serius. Pemuda bermata obsidian itupun lekas memfokuskan pandangan pada panorama gulat yang terjadi diantara puluhan pelayan dan seorang pelanggan di meja nomor 26. Dahinya berkerut. Ia yakin dengan apa yang ia dengar.
"Luffy, kau kenapa?" Nami mulai heran saat melihat kawan lugunya itu sudah tampak berdiri dari kursi. Luffy tak menjawab pertanyaan itu dan hanya diam memperhatikan keributan yang terjadi. Ia benar-benar begitu serius.
"Ayo, cepatlah! Limoku sudah menunggu di luar!" Ace bersikeras. Ingin sekali ia menghajar seluruh waiter yang menyelubunginya itu agar ia bisa kabur dengan cepat. Keributan yang terjadi di mejanya benar-benar telah menjadi pusat sorotan yang terlalu mencolok. Dan kumpulan waiter lelet itu semakin mengikis habis dinding kesabarannya.
Baka... Semua ini hanya akan mengulur waktu!
Dengan batas kesabaran terakhir, musisi Black Spade itupun lekas mendorong salah seorang waiter dan melangkah keluar dari areal mejanya. Tak mempedulikan keluhan waiter yang ia dorong, pemuda bermata obsidian itupun langsung berjalan dengan cepatnya menuju pintu keluar.
Hingga pada akhirnya...
"Ace?"
DEG!
Jantung Ace seakan copot. Seseorang telah memanggil namanya. Suara cempreng itu terlalu familiar di telinganya. Langkahnya terhenti secara mendadak. Kedua obsidiannya membelalak lebar di balik kacamata hitam yang ia pakai itu. Dengan terpaksa, ia pun menoleh ke belakang diiringi dengan rasa takut yang berlebihan.
Dan mimpi buruknya menjadi kenyataan.
Monkey D. Luffy... telah berdiri dua meter darinya.
Dengan senyum lebar dan ekspresi kelewat girang.
'Mati aku...'
"Ace! I-Itu benar kau 'kan! Itu kau!" Luffy seakan berada di puncak euforia. Ia yakin bahwa ia tak salah lihat. Figur pemuda yang berdiri dua meter darinya itu benar-benar adalah Ace. Ternyata yang dikatakan oleh Ivankov memang benar. Roommate-nya itu sudah tampak mengenakan jaket hitam dan kacamata hitam. Ia tak sadar bahwa raut pucat telah terlukis di paras vokalis Black Spade itu.
'Aku harus segera kabur!'
"Ace! Tu-Tunggu! Kau mau kemana, Ace! ACEEE!" Luffy sungguh syok. Tak menyangka bahwa Ace akan mengambil langkah seribu dan segera menjauh darinya. Ini tak bisa dibiarkan. Ia harus segera mengejar roommate-nya itu. "TUNGGU, ACE! JANGAN LARIII!"
"Luffy! Tunggu! Kau kenapa!" Nami dan Usopp keheranan. Keduanya pun segera berlari mengikuti pemuda bermata obsidian itu dari belakang. Seluruh pengunjung tampak tercengang dengan panorama kejar mengejar itu.
Restoran Baratie benar-benar berantakan!
"ACEEEEE!"
'Shit! Kenapa Luffy cepat sekali larinya!' Ace benar-benar panik. Ia berusaha memperlebar jarak dengan mahasiswa Mugiwara itu. Dan sebagai anak yang keras kepala, sudah pasti Luffy akan terus mengejarnya hingga dapat. Semua ini bagaikan Deja vu. Musisi Black Spade itu mendadak teringat dengan insiden Garp beberapa hari yang lalu. Luffy menjeratnya di lorong apartemen agar ia tidak bisa pergi. Dan jika anak itu nekat melakukan apa saja agar ia dapat bersama dengan Ace, maka itu artinya...
"ACEEE! AKU AKAN MELOMPAT KE ARAHMU! SEKARAAAAAANG!"
"NA-NANI!" Ace benar-benar syok. Ucapan Luffy tak main-main. Dengan jarak yang masih terlampau jauh, pemuda naif itupun nekat melompat ke arah Ace. Semua orang terbelalak melihat aksi itu. Ace bahkan tampak menganga dengan lebarnya.
"ACEEEEEE!"
"LU-LUFFY! AWAAAAS!" Nami menjerit histeris. Seorang waiter mendadak berjalan di sela-sela rute lompatan Luffy. Semua orang bertampang horor. Luffy dan waiter itu akan bertubrukkan. Dan gawatnya, paras Luffy juga terancam terhantam dengan beberapa gelas beling di atas nampan yang dibawa oleh waiter itu. Ini sungguh buruk.
"AAAAHHHH!"
"Luffy!" Ace bereaksi. Ia mulai pucat dengan apa yang ia pandang. Roommate-nya itu bisa terluka. Amarahnya pun memuncak. "MENYINGKIRLAH, BRENGSEK! KAU BISA MENYAKITI LUFFY!"
"He-Hei! Tu-Tunggu-OWHH!"
KRANTAAANGG!
Dengan sadis dan tanpa rasa belas kasihan sedikitpun, Ace langsung mendorong waiter itu hingga terjatuh ke lantai. Nampan yang dibawanya terpental dan suara pecahan gelas yang begitu nyaring lekas mengisi momen dramatis itu. Ace tak mempedulikan itu. Ditatapnya Luffy yang hampir mendarat ke bawah. Ia harus menangkap tubuh roommate-nya itu sebelum terlambat.
"AAAAHHH!"
"LUFFY!"
"A-ACEE-OUUFFHH!"
BRUUUUKKK!
Suara hantaman keras terdengar. Keduanya terjatuh ke bawah. Semua orang yang melihat itu hanya dapat menahan napas dengan tegangnya. Terperanjat. Luffy tampak memejamkan kedua obsidiannya, gemetar.
Ia sudah mendarat tepat di atas tubuh roommate-nya itu.
"Apa kau tidak apa-apa, Luffy?"
"A-Ace?" kedua mata Luffy perlahan terbuka. Roommate-nya itu sudah tampak tersenyum lega padanya. Ace benar-benar sangat lega.
"Syukurlah kau tidak apa-apa..."
"Aceeee!" Dengan cepatnya, mahasiswa Mugiwara itupun memeluk tubuh Ace dan membenamkan wajahnya di sela leher Ace. Yang dipeluk tampak terbelalak syok. Memerah.
"Lu-Luffy..."
"Terima kasih sudah menyelamatkanku, Ace!"
"Baka! Kau membuatku khawatir, Luffy! Bagaimana kalau aku tidak ada tadi? Kau bisa terluka, Bodoh! Dasar, cerobooooh! Jangan berbuat seperti itu lagi, mengerti kau!" Peringatan panjang lebar Ace hanya dibalas dengan tawa. Mahasiswa Mugiwara itu semakin mempererat cengkramannya dan langsung menghimpitkan parasnya di pipi vokalis Black Spade itu.
"Aku tak takut terluka karena apa? Karena kau pasti akan melindungiku 'kan, Ace? Shishishi... Aku menyukaimu, Ace... AKU SANGAT MENYUKAI ACEEEE!"
"O-OMG! So sweet..." Beberapa gadis yang kebetulan melihat scene itu mendadak mimisan. Darah mengucur dari hidung diiringi dengan serpihan rona merah di paras mereka masing-masing. Para pengunjung yang lain tampak terperanjat secara mendadak. Usopp sweatdropped melihat panorama itu.
"Tak kusangka bahwa di restoran ini ternyata dihinggapi beberapa fujoshi," gumamnya singkat. Dengan tampang aneh tentunya.
Kini, kembali pada panorama utama.
Paras Ace benar-benar memerah bagaikan darah. Dan roommate-nya itu hanya tertawa dan terus saja memeluknya seperti itu. Dasar bodoh. Apa mahasiswa Mugiwara itu tak memiliki rasa malu sedikitpun, hah? Bukannya ia tak senang mendengar pengakuan Luffy. Jujur, Ace sendiri juga berdebar-debar tak karuan dan ingin membalas pengakuan Luffy dengan segenap rasa yang sama. Hanya saja, ini adalah tempat umum. Wajar jika rasa malu itu ada jika ungkapan personal digembar-gemborkan seperti ini.
Dan musisi Black Spade itupun lagi-lagi harus menelan kenyataan pahit.
Karena apa?
Karena saat ini, kawan-kawan Luffy sudah menatapnya dengan sangat... serius.
"Ah, maaf. Anda pasangan kamarnya Luffy, ya?"
...
Damn it...
"Jadi, Ace-san memakai jaket hitam tebal seperti itu dan berpenampilan serba tertutup di musim panas ini karena alergi terhadap matahari, begitu? Anda juga sering berkeliling ke berbagai negara. Hidup nomaden dan berpindah-pindah di kawasan yang terbilang elit?"
"Ah, ya. Begitulah."
Kini, Nami sudah tampak memandang Ace dengan rasa antusiasme tinggi. Terduduklah mereka semua di meja nomor 18. Ace harus menahan diri untuk tidak menampakkan gelagat aneh. Vokalis Black Spade itu hanya bisa menunduk. Terus memakai tudung topi dari jaketnya untuk menutupi hamparan rambutnya. Kacamata hitam itu juga masih setia membentengi kedua obsidiannya. Hamparan bedak di kedua pipinya masih cukup mampu untuk menyamarkan bintik-bintik hitam di wajahnya. Sejauh ini, penyamarannya masihlah cukup ampuh untuk menyelamatkan identitas aslinya. Terutama dari Nami dan kawan-kawan Luffy yang lainnya. Usopp juga tak terlalu memperhatikan kemiripan sosok Ace dengan Gol D. Ace. Namun, lain halnya dengan Zoro yang hanya diam dengan pandangan skeptis.
Gawat. Pemuda marimo itu tak bisa dianggap remeh.
"Wow, menarik sekali. Aku tak menyangka bahwa roommate Luffy bisa semenarik Anda, Ace-san! Selain mandiri, Anda juga bisa diandalkan!" Nami tampak berbinar. Sebulir keringat mengalir di samping kening Ace. Impresi Nami benar-benar sangat berlebihan. Luffy hanya bisa tertawa di sela-sela makan.
"HeeHeeHee! Kubilamng jugaaf afa, Naammi? Ace itu mmmenarikk!"
"Luffy, jangan berbicara saat kau makan!" Ace mengeluh pasrah. Dengan cekatan, ia mulai merapikan mulut Luffy yang sudah berantakan makanan dengan kain serbet. Siapapun bisa melihat bahwa Ace sungguh sangat peduli dengan Luffy. Usopp bahkan Zoro tampak menautkan alis mereka melihat interaksi itu. Luffy sepertinya senang sekali dengan perlakuan Ace. Mereka tak pernah melihat Luffy sesenang itu dengan seseorang sebelumnya.
Ini menarik.
Eksistensi Ace pasti merupakan sesuatu yang 'spesial' di hati mahasiswa Mugiwara itu.
'Selain baik dan sangat ramah, orang ini juga sangat keren dan tampan! Begitu gentleman! Postur tubuhnya seksi! Di-Dia juga mirip sekali dengan Gol D. Ace! Minus bintik-bintik hitam di wajah. Suaranya juga mirip! Semua yang dikatakan Luffy benar. Roommate-nya yang satu ini memang keren. Bahkan yang dikatakan oleh pria eksotis tadi terbukti! Pria ini Dewa! DEWAAAA!' Nami berusaha keras untuk menahan gejolak kekagumannya. Ia tak bisa menafikkan pesona seorang Portgas D. Ace. Pria itu dengan idolanya, sungguh bagaikan pinang dibelah dua. Mahasiswi berambut oranye itu tak sadar jika serpihan rona merah sudah menyebar luas di paras cantiknya. Ia bahkan hampir saja mimisan.
Tak ada rotan, akar pun jadi!
Tapi sebelum itu...
"Uhh... maaf jika pertanyaanku ini sifatnya personal, Ace-san. Tapi, aku sungguh ingin tahu. Apakah Anda dengan Luffy adalah... sepasang kekasih?"
...
Hening.
Kini pandangan Usopp dan Zoro tampak menyorot ke arah musisi Black Spade itu. Luffy bahkan terdiam dan menghentikan kunyahan makannya. Nami menunggu jawaban dan Ace... terlihat membisu untuk sesaat.
Pertanyaan itu...
Ia harus menjawab apa?
Status hubungannya dengan Luffy masihlah belum jelas. Ia bahkan tak tahu harus menggambarkan ikatan mereka seperti apa. Luffy terlihat memendam perasaan suka terhadapnya. Dan perasaan suka itu masih bisa berpotensi untuk berubah menjadi... cinta. Tapi, mengingat betapa naifnya Luffy saat ini, mungkinkah rasa itu berkembang?
Lalu Ace...
Ia sendiri juga dilema. Ia sangat sadar bahwa ada perasaan yang begitu kuat dan dalam yang ia tujukan untuk Luffy. Ia tak bisa melihat Luffy terluka. Ia tak bisa menjauh dari Luffy. Ia bahkan tak sanggup melihat Luffy menjadi sedih. Ia hanya ingin anak itu tersenyum. Tersenyum bahagia saat menatap ke arahnya. Ia hanya ingin Luffy bahagia. Hanya itu.
Dan tali kedekatan mereka...
Sungguh menyiksa rasanya jika Ace harus menjauhkan diri dari Luffy. Setiap kali ia melangkah pergi, intuisinya selalu menjerit, menginginkan Luffy untuk mengejarnya. Ia ingin Luffy untuk menjeratnya. Ia ingin Luffy untuk menahan kepergiannya. Ia ingin eksistensinya selalu dibutuhkan oleh Luffy. Ia tak ingin dibenci oleh Luffy. Hancur. Itulah yang akan terjadi padanya jika Luffy sampai membencinya.
Aku menyukaimu, Ace...
Dan frase itu. Untaian frase yang seringkali digemakan oleh Luffy padanya. Untaian frase yang membuatnya tak sanggup untuk membunuh perasaan terpendam yang ia rasakan untuk anak itu. Untaian frase yang sanggup melumpuhkan logika Ace...
Salahkah...
Salahkah jika Ace diam-diam berharap bahwa Luffy akan mengubah frasenya menjadi sebuah kata... cinta?
Salahkah jika perasaan terlarang itu menjadi bernyawa dan tetap eksis di hati mereka?
Mungkin itulah sebabnya mengapa Ace takut. Mengapa ia selalu takut untuk mengakui bahwa memang ia memendam perasaan untuk Luffy.
Karena ia takut...
Luffy tak pernah... mencintainya.
Belum lagi dengan perbedaan derajat mereka yang terlampau jauh itu. Takdir tak akan pernah mengijinkan mereka untuk bersatu. Ia akan berusaha keras untuk membunuh benih perasaan itu. Dan ia 'harus' segera membunuh benih itu.
Sebuah benih perasaan yang 'tidak ingin' Ace sebut sebagai cinta.
Ia akan mati-matian untuk melenyapkan perasaan itu. Meskipun ia tahu bahwa usahanya sia-sia. Meskipun ia tahu bahwa betapa sakit dan tersiksanya dia dalam membunuh perasaan itu.
Ia tak peduli.
Saat ini bukanlah sebuah saat... untuk terus bermimpi.
Ia harus meninggalkan Luffy nantinya.
"Aku dan Luffy... bukanlah sepasang kekasih."
Hening.
Sebuah jawaban mutlak yang cukup mengagetkan. Usopp tampak terbelalak. Zoro terdiam, memendam persepsinya sendiri. Nami tersenyum puas. Dan Luffy... tak merespon apapun.
Ace hanya memalingkan pandangan ke samping. Tak sedikitpun melirik ke arah Luffy. Ia tak sanggup.
"Ah, kalau begitu ini nomor ponselku, Ace-san. Siapa tahu, suatu saat nanti kau membutuhkan teman untuk ngobrol. Aku akan selalu siap setiap saat untukmu. Apalagi kita sama-sama menggemari Black Spade. Aku yakin kita banyak kecocokkan." Dengan sangat optimis, Nami memberikan secarik kertas yang bertuliskan nomor ponsel miliknya. Kedua obsidian Ace memandang getir. Dan di saat nalarnya berusaha keras untuk memaksakan jemarinya agar menyentuh kertas itu...
Luffy pun membuka suara.
"Kami memang bukan sepasang kekasih, Nami. Tapi aku yakin, jika saatnya tiba dimana rasa suka yang kupendam untuk Ace telah berubah menjadi cinta, kami pasti akan menjadi kekasih. Aku yakin itu."
"Luffy..." tak ada yang bisa menggambarkan betapa syoknya Ace saat ini. Musisi Black Spade itu terbelalak lebar. Kaget. Tak menyangka bahwa Luffy akan mengucapkan hal seperti itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Nalar pun turut tenggelam dalam rasa kalut yang begitu dalam.
Nami, Zoro dan Usopp juga tampak terkejut. Mereka tak menyangka bahwa Luffy bisa tertarik dengan seseorang sampai seperti ini. Sebuah pandangan kurositas tinggi terpancar dalam mata Zoro. Sepertinya ia mulai mengerti dengan apa yang telah terjadi diantara kedua pemuda berambut raven itu.
Ia sudah merencanakan sesuatu.
Dan Luffy pun menikam Ace dengan tatapan determinasi. Sebuah senyum tersimpul di paras manisnya. "Aku pernah bilang padamu 'kan, Ace? Jika nantinya aku harus jatuh cinta, maka orang yang ingin kucintai itu adalah kau dan sampai akhir nanti, aku hanya ingin bersamamu. Aku bersungguh-sungguh dengan semua ini! Dan hal ini akan menjadi impian terbesarku mulai sekarang, nee! Shishishishi..."
Impian terbesar...
Mendengar itu, Ace lagi-lagi terdiam dan terpaku. Tak memiliki daya menguntai kata. Lagi-lagi ia tak bisa berkilah dan menyangkal keinginan Luffy. Ia tak sanggup menghancurkan harapan pemuda itu.
'Mengapa kau selalu memberiku harapan semu ini, Luffy?'
"Ah, baiklah. Aku mengerti, Luffy. Yaa... semoga hubungan kalian bisa cepat-cepat naik tingkatan. Sebagai teman, aku hanya bisa berharap yang terbaik untuk kalian berdua." Nami tersenyum tipis. Dari awal, sudah jelas bahwa yang memenangkan hati Ace adalah Luffy. Nami tahu itu. Ia tak bisa mengacaukan hubungan mereka. Luffy adalah sahabat baiknya dan ia akan turut berdoa untuk kebahagiaan Luffy.
Lagipula, Portgas D. Ace yang ada dihadapannya ini bukan Gol D. Ace 'kan?
Selama calon kekasih Luffy bukanlah idolanya, maka Nami akan ikhlas-ikhlas saja menerima realitas itu.
Sungguh miris.
Gadis itu sungguh tak memiliki pemahaman dengan apa yang sudah terjadi sebenarnya.
"Aku sungguh tak menyangka bahwa yang memesan banyak makanan tadi adalah roommate-nya Luffy. Ternyata ia tak berbeda darimu, Luffy. Kalian memiliki banyak persamaan~ sama-sama maniak makan."
"Sanji?" Usopp menaikkan sebelah alisnya saat juru masak Baratie itu kini sudah menghampiri meja mereka. Sebuah senyum tersimpul di mulutnya dan ia pun menyodorkan tangan di hadapan Ace. "Kita belum berkenalan ya? Hehehe. Aku Sanji."
"Portgas D. Ace. Senang bisa mengenalmu, Sanji-kun." Ace memperkenalkan diri dengan sangat santun. Ditatapnya lekat sosok pemuda pirang itu dengan seksama.
'Jadi dia yang namanya Sanji? Yang sempat ditolak oleh Nami dan membuat Luffy membenci Black Spade?' Ace tentu tak bisa menyalahkan Sanji akan hal itu. Sampai kapanpun juga, ia tak bisa memaksa Luffy untuk menggemari band-nya. Putra Zeff itu lekas terduduk di samping Luffy. Ia sedikit terkejut saat mendapati seseorang di mejanya itu.
"Zo-Zoro? Kau di sini juga semenjak tadi?"
"Ah, iya, Sanji. Aku sudah di sini bersama Luffy dan yang lain." Zoro tampak menggaruk belakang kepalanya. Canggung. Dan Usopp pun melotot syok.
"Zoro? Sanji? Apa aku tak salah dengar, hah? Kalian saling memanggil nama asli? Tak ada lagi umpatan-umpatan jablay laknat atau playboy jahanam atau yang lainnya...?" Usopp benar-benar bertampang horor sekarang. Nami juga tampak terbelalak, tak percaya. Luffy mematung dengan kedua obsidian yang begitu lebar. Ace bingung, tak mengerti apa-apa.
"Ah, kami sudah memutuskan untuk... berbaikan, Usopp. Yaa, begitulah..." Zoro benar-benar terlihat canggung. Reaksi kawan-kawannya itu sungguh terlalu berlebihan. Sungguh separah itukah pertikaiannya selama ini dengan Sanji? Sampai-sampai mereka akur pun jadi dicurigai seperti ini?
Sanji tampak beranjak dari kursinya, mencoba mengendalikan diri agar tak terlihat gugup. "Uhh... Sebaiknya aku mengambilkan minuman untuk kalian. Kau juga sepertinya belum menyantap apa-apa dari tadi 'kan, Zoro? Biar kuambilkan lemon tea untukmu. Tenang, kau tak perlu membayarnya, Marimo. Se-Seluruh hidangan di Baratie kini gratis untukmu. Ah, aku permisi dulu semuanya."
Dan juru masak Baratie itupun cepat-cepat menuju dapur. Tak menghiraukan ekspresi horor yang terlukis di paras Usopp dan Nami.
"GRATIS? Sejak kapan Sanji-kun jadi sebaik itu padamu, Zoro? Biasanya yang diberi gratis itu aku 'kan? Kenapa sekarang malah kau yang digratiskan, hah! Dan kenapa Sanji-kun bisa gugup begitu?" Nami benar-benar tampak syok. Ia memandang Zoro dengan tatapan skeptis.
"Uhh... i-itu, aku juga tak paham maksudnya apa. Mu-Mungkin ini bentuk... itikad baik Sanji?" Zoro mencoba berasionalisasi. Namun, sayangnya, Usopp tak percaya dengan semua itu.
"Tadi pria eksotis di apartemen Luffy bilang bahwa Ace-san pergi karena ingin membelikan cincin kawin untuk Luffy. Dan sekarang, Sanji tiba-tiba bersikap baik dan perhatian padamu? SANJI PERHATIAN DENGAN ZORO? Ya ampun, du-dunia sepertinya memang hendak kiamat. Oh Tuhan, ampuni dosa-dosaku selama ini! A-Aku masih belum ingin mati sebelum mendapatkan Kaya!" Usopp tampak mendramatisir situasi. Semua hanya bisa ber-sweatdropped massal melihat gelagat lebay pemuda berhidung panjang itu.
Nami pun lekas melirik ke arah Zoro. "Ini tak bisa dibiarkan, Zoro. Kau harus segera mencari tahu! Sebenarnya apa yang sudah terjadi pada Sanji-kun. Kau mungkin tak menyadarinya, Zoro, tapi tadi aku sempat melihat pandangan Sanji terhadapmu. Ia menatapmu dengan sangat lembut!"
"Hah? A-Apa? Lembut?" Zoro terbelalak syok. Ia lekas memalingkan pandangan dari Nami. Serpihan rona merah menjalar di parasnya. Sanji menatapnya dengan lembut? Yang benar saja? "Ah, a-aku akan mencari tahu akan hal itu. Pasti."
"Uhh... Maaf, tunggu sebentar, Usopp-kun tadi berkata apa? Aku pergi untuk membeli cincin kawin?" kini giliran Ace yang terbelalak kaget. Luffy hanya menikamnya dengan cengiran dan mulai tersenyum padanya.
"Iva-chan bilang padaku bahwa kau membelikanku cincin kawin, Ace. Apa itu benar, nee? Apa kau ingin melamarku untuk menikah denganmu?"
"Na-Nani? Melamar?" serpihan rona merah menghantam paras Ace seketika. Ia gelagapan. "Ke-Kenapa kau bisa memiliki pikiran seperti itu, Luffy! Te-Tentu saja aku tak akan melamarmu apalagi membelikan cincin kawin! Tetangga eksotismu itu benar-benar sudah menyebarkan opini sembarangan!"
Jantung Ace semakin berdebar kencang. Luffy mulai cemberut mendengar pernyataan roommate-nya itu. "Ja-Jadi, Ace tak mau melamarku, nee? Kau tidak suka padaku ya, Ace..."
"Apa? Bukan begitu! Tentu saja aku sangat menyukaimu, Luffy! A-Aku pasti akan melamarmu tapi tidak sekarang!"
"HAH? Jadi Ace-san memang berencana melamar Luffy?" salah paham, Usopp melotot mendengar itu. Ace lekas membungkam mulutnya sendiri. Ia sudah keceplosan.
"Ah, Lu-Lupakan apa yang baru saja kukatakan tadi. Kalian tahu sendiri 'kan, bagaimana kawan naif kalian yang satu ini..."
"Hei! Kau sudah menyindirku, Ace!"
"Hahahahaha! Iya, Ace-san benar. Ini Luffy yang kita bicarakan. Harap maklum, minna. Hahaha!" Semua mulai tertawa kecuali Luffy. Yang disindir hanya dapat melipat kedua tangannya di dada dan tak melunturkan kerut cemberut di mulutnya. Ace hanya tersenyum melihat itu.
Ia lega karena tak ada yang menganggap bahwa ucapannya itu... serius.
Termasuk Luffy.
"Baiklah, semua tugas kita sudah beres dan besok kita sudah bisa merajam Smoker-sensei dengan tumpukan laporan ini!" Simpulan senyum nista terlukis di paras Nami. Kini ia, Usopp dan juga Zoro sudah berada di depan kamar Luffy. Kumpulan mahasiswa Mugiwara itu telah berhasil menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Malam menjelang dan saatnya untuk pulang.
"Hati-Hati ya di jalan! Sampai ketemu besok, nee!" Luffy tampak melambaikan tangannya ke arah Nami dan Usopp yang sudah berjalan menuju lift. Sesaat kemudian, Zoro tampak tak bergeming dari tempat ia berdiri. Luffy sedikit bingung melihat gelagat kawannya itu. "Zoro? Kenapa kau belum pulang, nee?"
"Ah, itu... ada sesuatu yang ingin kubicarakan dengan Ace-san, Luffy."
"Denganku?" Ace yang sedari tadi berdiri di samping Luffy tampak beraut serius. Mahasiswa berambut hijau itu menganggukkan kepalanya.
"Benar. Berdua saja."
Hening.
Sepertinya yang hendak dibicarakan Zoro memang sangatlah penting dan serius. Ace lekas menatap ke arah Luffy. Dan roommate-nya tampak mengangguk mengiyakan. Ia percaya sepenuhnya pada Zoro.
"Baiklah, silahkan kalian berbicara. Kutunggu kau di kamar ya, Ace." Dan sebuah anggukkan kepala dari Ace telah menjadi jawaban dari pernyataan Luffy. Mahasiswa Mugiwara itupun lekas melangkah masuk ke dalam kamarnya.
"Baiklah, apa yang ingin kau bicarakan denganku, Zoro-kun?"
Keduanya kini sudah berada di beranda lantai atas apartemen Beauty Dadan. Ace tampak skeptis untuk sesaat. Keheningan pun terjadi. Mahasiswa berambut hijau itu lekas bersandar di hamparan dinding dan menikam Ace dengan tatapan serius.
"Aku ingin membicarakan jati diri Anda yang sesungguhnya, Ace-san."
"Jati... diriku?" Ace terperanjat. Dan Zoro tak melunturkan keseriusannya.
"Benar. Jati diri Anda. Bukan sebagai Portgas D. Ace. Namun sebagai... Gol D. Ace, sang vokalis... Black Spade."
TBC
A/N: Bunuhlah saya karena sudah memberikan cliffhanger secara bertubi-tubi seperti ini #Jedeeer. Kecuali kalau Anda adalah reader masokis yang cinta dengan cliffhanger. Maka nikmatilah surga Anda. Wahahaha! xD #Gubraks
Monkey D. Dragon: Saatnya balesan review #Stoic
Gol D. Roger: Wits us.
Ace: O_o kenapa bapak dan calon mertua gue yang balesin reviewnya?
All: #Jawdropped OAO" Author mah aneh-aneh!
Roger: Kali ini review datang dari Demon D. Dino. Tak masalah Anda ketinggalan chapter, yang terpenting Anda masih setia mengikuti fic ini. Hehe! #Smirk
Dragon: Yoshioka Beillschmidt datang kemari setelah sekian lama tak mampir di fandom ini. Terima kasih untuk pujiannya dan padatnya paragraf di fic ini itu adalah stylenya author. Kalo disingkatin ya, bakal susah pastinya. Karena emang gaya nulisnya udah begono dari awal. Udah gaje!
Author: #Pundung
Roger: Thanks ya untuk reviewnya. ZoSan pasti berkembang nanti. Dan nasib anak gue si Ace juga ada diujung tanduk tuh. Berikutnya dari Felix D. Bender!
Ivankov: My direct kiss to the jidat(?) ditolak mentah2! Huwaaaah! TTATT #BunuhDiri
All: #Sweatdrop
Dragon: Chapter kemarin gak maksain kok. Alurnya emang begitu. Untuk kiss, lime, lemon (ngawur! Ratenya T woyy!) AceLu dsb. Sabar ya. Pasti ada kok di kedepan nanti. Gue juga udah nyiapin kamera! #Grins
Luffy: Hieeee! Bapakku mesuuum! OAO"
Roger: Dan Vii no Kitsune! Sabar, nak! Ntar juga bakalan banjir scene AceLu. Tenang aja. Nih fic bakalan panjaaang. Jadi gak usah terburu-buru. Biarkan semuanya mengalir~ Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian~
Ace: Lha, apa hubungannya? =="
Dragon: Konflik bakalan muncul kok sebentar lagi. Sabar~ Dan Black Spade akan konser beberapa minggu lagi.
Roger: roronoalolu youichi ternyata pindah haluan dari Zoro ke anak gue!
Zoro: Teganya kau khianati aku! #OOC
Ace: #Sweatdrop
Robin: Saya muncul sekitar 2-3 chapter lagi mungkin. Sabar ya! ^^;
Dragon: Berikutnya dari lunaryu yang mendeklarasikan rasa cintanya pada author gaje kita. o_o"
Author: #Jingkrak2 Gaje sambil bawa bendera bergambar 'Love'!
All: #Jawdropped
Ivankov: Nyahahahah! Pandanganku benar 'kan, boy~ Ace-Boy itu DEWAAA! KYAAAAAA! I LOVE YOU, ACE-BOY! #FansboyScream
Ace: Astojim... #Horor
Marco: Wahahahaha! Tuh kan, gue bilang apa? Gak hanya Ace, Gue itu juga SEKSEH tahu! hahahaha! xDD #OOC
Roger: Makasih untuk semua pujiannya, lunaryu-san. Ini juga kebetulan Viero mendadak berserk jadi dia bisa updet cepet. Semoga dia bisa updet cepet lagi. Thanks reviewnya! ^^
Dragon: Berikutnya dari Al-Chan 456! Err... reviewnya jangan disingkat-singkat ya, coz kami rada gak paham maksudnya apa... =="
Roger: Si nanas mau dimakan? O_o"
Marco: #MendadakHoror
Dragon: Thanks reviewnya! Berikutnya dari BlackLadY Ace ketahuan kok. Ketahuan si Zoro pula.
Zoro: Aku emang teliti orangnya. #Smirk
Roger: dan untuk via sasunaru! Sama! Gue juga pengen ngeliat anak gue nikah ama si brondong Luffy! X33 #MendadakOOC
AceLu : #Sweatdrop O_o;
Dragon: Woi, nak Zoro! Kau suka Sanji gak?
Zoro: Ah, itu... #Blush
Roger: Thanks reviewnya! Dan berikutnya dari Arale L Ryuuzaki! Maaf, masih belum ada scene YAOI ZoSan di Baratie. Tapi di kedepan nanti, bakal ada kok. Tenang aja. Sabar yaa! Mungkin di chapter 11, si ZoSan bakal nongol lagi! m(_ _)m
Dragon: Lalu muthiamomogi! ZoSan bakal berkembang di chapter 11 kemungkinan. Sekarang masih chapter 9. Sabar aja~
Roger: Btw, Nih anak kok maniak banget ama Mute-series ya? =="
Dragon: Dan ada Domisaurus yang lagi rajin login~ Dia dateng langsung graok kepala Iva-chan =="
Ivankov: HELEEEP! KEPALA GUE TERANCAM EKSOTIS!
All: #Jawdropped
Ace: Jiah... ngapain pake Helm segala? Gue berasa kayak kena antraks... =="
Zeff: Lha, gue setuju kok! Gue restuin! Hidup ZoSan! #Kibar2 Bendera Zosan
ZoSan: #Sweatdropped
Roger: Thanks reviewnya! Lalu ada N.h! yang ngenalin anak gue cuman si Zoro!
Dragon: Terakhir dari Fi suki suki! Author udah nepatin janji 'kan? Hehehe...
Ace: Salah, bukan penyanyi! Gue 'kan rockstar berarti Rocker juga manusia! xD
Sanji: #Sweatdrop Gue juga manusia kali. Jadinya bisa berubahlah~ =_=;
Roger: Thanks buat reviewnya! :D
Dragon: See you all in the next chapter. And like always~ Don't forget to REVIEW! Jaa~
