Note : Banyaknya rahasia yang terungkap tergantung konsenstrasi dan seberapa banyak ingatan kalian di chapter sebelumnya. Kalau kalian bisa saling mengaitkan satu cerita dan cerita lainnya, lebih dari 50% rahasia Wonwoo terungkap. Dan itu bukan hal yang sulit. Karena aku juga sudah menjabarkan sedikit demi sedikit dari ch pertama.

Happy reading!

.

"Kim Mingyu, boleh aku tidur denganmu?" tanya Wonwoo yang membuat tubuh Mingyu membatu seketika.

"Mingyu, kau dengar aku?"

"Ah … itu … sangat boleh. Eh … maksudku kau … iya boleh tidur di sini."

Mingyu langsung menggeser tubuhnya hingga menyentuh dinding. Tidur telentang dengan manatap langit-langit kamar. Ia menahan nafas saat Wonwoo mulai berbaring. Sekujur tubuhnya benar-benar kaku karena Wonwoo tidur menyamping ke arahnya.

"Maaf menganggumu. Tapi aku janji untuk kali ini saja. Aku akan menyamping supaya tidak terlalu sempit."

Mingyu mengangguk cepat. Ia tidak tahu Wonwoo melihat angggukannya atau tidak. Karena ia sama sekali tidak berani menolehkan kepalanya. Yang ia pikirkan bagaimana cara memejamkan mata di tengah-tengah detakan jantung yang menggila.

.

.

.

Seorang pemuda berusia dua puluh dua tahun berjalan menyusuri kota kecil. Kota Zurich yang dikenal sebagai kleintropolis. Kota dengan kehidupan paling mahal di dunia yang ada di Swiss. Dan di kota kecil itu, ia berjalan dengan menggunakan penyamaran. Pakaian serba hitam, kaca mata, syal dan masker yang menutupi wajahnya.

Meski Zurich adalah kota paling mahal, namun tidak sebesar kota-kota yang ada di Eropa. Selama melangkahkan kakinya, ia tidak pernah melewati gedung-gedung yang menjulang. Hanya bangunan-bangunan dan beberapa gereja yang beraksitektur unik. Membuatnya seolah-olah berada di zaman Eropa masa lampau.

Langkahnya terhenti di depan sebuah apartemen yang hanya terdiri dari dua lantai. Setelah mengecek jam yang melingkar, ia kembali melangkahkan kakinya. Masuk ke dalam dengan mengabaikan tatapan orang-orang lainnya.

"Guten Morgen!" ucapnya setelah melepas maskernya. Menampakkan wajah tampan tanpa cela.

Seorang pemuda yang tengah bermain PSP menolehkan kepalanya. Menatap pemuda lain yang baru saja menyapanya dengan bahasa Jerman yang begitu kental. Tanpa permisi, pemuda berkulit putih yang menjadi tamunya langsung duduk. Mengambil tempat tepat di depannya.

"Kau datang sendiri?" tanyanya tanpa mematikan PSP di tangannya.

"Hem," dehemnya sembari melepas syal di lehernya. Membuka kaca mata dan semua yang menjadi penyamarannya. Tangannya terangkat untuk merapikan rambutnya yang berwarna dark borwn.

"Darf ich Sie?"tanyanya langsung. Ia tahu pemuda yang lebih tua itu tidak suka berbasa-basi.

"Saat ini hanya ada kita berdua. Kau ingin apa dariku?" tanyanya balik sekaligus teguran untuk merubah bahasa yang digunakan.

Pemuda yang lebih muda tidak menjawab. Ia diam beberapa saat sambil merogoh parka-nya. Mengeluarkan secarik kertas dan menyerahkan pada pemuda berambut hitam.

"Ini apa?" Ia mengerutkan dahinya melihat beberapa digit nomor.

"Aku tahu Hyung tidak bodoh! Dan Hyung tahu apa keinginanku. Tapi baiklah, aku akan memperjelasnya. Aku minta Hyung carikan data-data dari nomor itu."

Pemuda yang lebih tua mengangguk. Dan berjalan ke lemari pendingin. Menuang segelas air mineral dan meminumnya beberapa teguk.

Pemuda berambut dark brown itu mengedarkan pandangannya ke sekitar kamar. Tidak ada yang berubah. Masih sama seperti terakhir kali ia berkunjung. Rapi dan begitu bersih.

"Kau bisa membayarku berapa?" tanyanya setelah kembali ke tempat duduknya. Sebuah kursi yang terletak di depan meja kompurternya.

"Berapapun," jawabnya tanpa beban.

"Kau yakin sanggup?"

"Hyung jangan membuatku tertawa. Tidak mungkin aku bisa tinggal di kota termahal kalau aku tidak memiliki uang," jawabnya malas. Namun mampu membuat pemuda tampan itu menampilkan senyumnya.

"Killer smile Hyung itu tidak akan mempan padaku. Saat Hyung mendapatkan nomor dan keberadaanya, aku beri apapun yang Hyung mau." Ia mengucapkannya begitu mantap dan penuh kesungguhan.

Pemuda yang lebih tua kembali melihat nomor di kertas putih. Memperhatikannya dengan seksama dan memandang wajah tampan dan kertas itu bergantian.

"Lupakan soal uang dan apa yang aku inginkan. Tapi apa kau akan ke Korea setelah mendapatkannya?" tanyanya karena mengingat hal lain yang cukup penting. Mengenal pemuda itu bertahun-tahun, membuatnya tahu semua cerita yang pemuda itu jalani.

"Aku akan kesana. Tinggal selangkah lagi aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Aku sudah berusaha dan menahan semuanya selama ini. Hyung juga tahu aku sudah menanti kesempatan ini bertahun-tahun. Dan pada saat itu tiba, mereka tidak akan bisa memperlakukan kami seperti boneka."

Bukan hal mengejutkan saat tamunya mengucapkannya dengan penuh amarah. Ia sangat tahu dan terlalu sering mendengarnya. Bahkan ia terlalu paham tanpa bertanya lebih.

"Akan Hyung kirimkan. Selambat-lambatnya tengah malam," ucapnya tanpa ragu. Bukan karena imbalan yang akan ia dapatkan. Tapi karena ingin mewujudkan kebahagiaan itu. Kebahagiaan yang sudah direncanakan, bahkan ditunggu sejak belasan tahun.

Ia langsung tersenyum mendengar jawaban yang lebih tua. Usaha dan pengorbanannya selama bertahun-tahun seolah akan terbayar lunas.

"Tunggulah Won-ie! Tunggulah sampai Hyung menjemputmu!"

.

.

.

Hansol berjalan dengan pandangan lurus. Sebelah tangannya memegang tali ransel yang tersampir di pundaknya. Berulang kali ia menggeleng kecil. Helaan nafas panjang juga berulang kali ia keluarkan, menandakan remaja itu tengah berpikir keras.

"Jangan membuat aku semakin merasa bersalah Hyung. Jangan membuatku menjadi manusia paling berdosa."

Dahi Hansol semakin berkerut mengingat ucapan Minghao beberapa waktu yang lalu. Selama jam pelajaran hingga perjalanannya menuju rumah, pikirannya tersita dengan masalah Minghao yang berhubungan dengan Wonwoo.

"Kalau Minghao hyung berbicara seperti itu, itu artinya Wonwoo hyung tidak salah kan? Tapi kenapa sampai ada darah di seragam Minghao hyung?"

Hansol menghentikan langkahnya sejenak. Mencoba mengingat lebih jelas keadaan Minghao yang terlihat begitu kacau. Wajah memucat, air mata yang mengalir dan darah di seragam sekolahnya.

"Kalau yang terluka Minghao hyung, seharusnya ada luka yang terlihat. Tapi ini hanya jejak darah saja. Apa itu artinya Wonwoo hyung yang terluka? Karena ekspresi yang Minghao hyung tunjukkan bukan ekspresi kesakitan tapi … tapi …."

Remaja berusia empat belas tahun itu tertegun dengan pemikirannya sendiri. Ia belum melihat Wonwoo semenjak kejadian itu. Dan ia sadar semua pemikiran anak-anak lainnya adalah salah. Tapi kebencian seolah menutupi hati mereka. Setelah memukul kepalanya sendiri, ia kembali melanjutkan langkahnya.

"Aku lebih suka melakukan sesuatu tanpa orang lain tahu."

"Aku tidak peduli orang lain menyakitiku. Asal aku tidak menyakiti mereka. Dan luka ini bukan masalah besar. Kalau kau dewasa nanti, kau pasti akan tahu maksudku."

"Apa ini juga hal yang sama seperti yang dia lakukan pada Seokmin hyung dan Jun hyung?" batin Hansol.

Ia hanya bisa bertanya pada dirinya sendiri. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaannya. Entah itu angin, orang lain, bahkan Wonwoo sendiri. Karena ia yakin Wonwoo tidak akan pernah mau menjawab semua pertanyaannya.

"Setidaknya dalam semur hidup, kalian bisa merasakan semua itu. Dan mungkin di surga sana, orang tua kalian masih memantau kalian. Masih menjaga kalian dari jauh. Kalau aku jadi kalian, aku akan berbahagia untuk itu. Kalian tidak tahu apa-apa tentangku. Jangan berbicara seolah-olah hidup kalian paling menyedihkan,"

"Apa itu artinya Wonwoo hyung lebih menderita dari pada kami? Berarti Wonwoo hyung benar-benar merasa kesepian dan kesedihan seorang diri?"

Ia kembali menerawang semua yang mereka alami sejak Wonwoo berada di SVT house. Yang ia tahu, tidak ada yang berbuat baik pada Wonwoo selain Seungcheol. Tapi Wonwoo lebih memilih diam. Wonwoo tidak pernah membalas semua ucapan buruk tentang dirinya sendiri.

"Katanya, kesedihan paling mendalam itu adalah kesedihan yang tidak terucapkan oleh kata-kata. Aku jadi tidak bisa membayangkan kesedihan yang sudah bertumpuk yang Wonwoo hyung rasakan."

Saat ia merasa sedih, Seungcheol, Jeonghan dan Jisoo selalu mencoba mengerti dirinya. Meski ia sendiri kesulitan untuk mengungkapkannya. Tapi setidaknya, ada yang mengerti dirinya. Ada tempatnya untuk membagikan beban dan kesedihannya. Termasuk Seungkwan yang menjadi alasannya mau tinggal bersama anak-anak lainnya.

"Kalau semua itu benar, sama saja aku menjadi orang yang paling jahat. Aku pernah menilainya buruk tanpa tahu kenyataannya," batin Hansol frustasi sambil berulang kali mengacak rambutnya. Sampai tidak mendengar seseorang yang berulang kali berteriak memanggil namanya.

"Yak Hansol-ah! Aku lelah memanggilmu sedari tadi."

Hansol terkejut mendapat geplakan di kepalanya. Saat ia menoleh ke belakang, Seungkwan sudah berdiri dengan memasang wajah kesal.

"Aku tidak dengar," ucapnya sambil melanjutkan langkahnya. Mood Hansol tidak begitu baik. Ia sedang tidak ingin mendengar ocehan teman seusianya itu.

"Memangnya apa yang kau pikirkan sampai tidak mendengar suaraku? Atau kau sengaja tidak mendengarku. Kau mau mengabaikanku ya?" tanya Seungkwan yang sudah menyamakan langkahnya dengan Hansol.

"Kenapa kau diam saja? Kau tidak sedang pura-pura tuli kan?" tanyanya yang lagi-lagi tidak mendapat jawaban.

"Kenapa hari ini sikapmu berbeda? Kau tidak seperti biasanya. Jangan-jangan benar yang mereka ucapkan kalau kau bosan denganku. Kau tidak suka karena aku terus mengikutimu ya? Kau bosan karena aku—"

"Apa yang kau bicarakan?" tanya Hansol malas tanpa menoleh ke arah Seungkwan. Ia sedang ingin sendiri dan menenangkan pikirannya.

"Kenapa dengan ekspresimu itu? Kau sudah tertular sikap sombong dan angkuh Wonwoo seperti Mingyu hyung?"

Ucapan Seungkwan langsung membuat langkah Hansol terhenti. Ia menolehkan kepalanya. Menatap Seungkwan dengan tatapan tajamnya.

.

.

.

"A-aku … aku sudah berjanji untuk tidak melukai orang lain."

"Itu bukan melukai namanya. Lain kali kau bisa melakukannya. Aku pernah melihatmu. Dan kau tahu? Itu sangat bagus. Aku kagum padamu."

"Darahmu … kau … kau … juga sangat pucat. Maaf—"

"Ini bukan masalah besar. Asal kau berjanji untuk merahasiakan semuanya. Cukup kau dan aku yang tahu."

"Wonwoo-ya, maaf—"

"Dan satu lagi, lupakan tentang hari ini. Bersikaplah seperti biasa."

Minghao duduk di tepi ranjang dengan meremat celana sekolahnya. Kejadian kemarin masih terekam jelas di ingatannya. Kejadian yang terus membuatnya dihantui perasaan bersalah.

"Aku benar-benar manusia jahat. Aku benar-benar buruk," batinnya frustasi. Ia menghela nafas kasar. Dan beranjak dari kamar saat Jeonghan memanggilnya dari dapur.

Langkahnya di depan pintu terhenti. Bahkan tubuhnya berhenti bergerak saat Wonwoo melewatinya. Pemuda berkulit pucat itu tidak menoleh ke arahnya. Melewatinya dengan wajah dingin seperti biasa. Bahkan mengabaikan keberadaan Jisoo yang tepat berdiri di depan pintu utama. Wonwoo seolah tidak melihat keberadaan Jisoo di sana.

"Sebenarnya kau orang seperti apa?" ucap Minghao dalam hati. Ia langsung berjalan cepat ke dapur karena Jeonghan berteriak untuk ketiga kalinya.

Sedangkan Jisoo yang berdiri di pintu memutar tubuhnya. Mengikuti pergerakan Wonwoo yang menjauh dari rumah. Wonwoo berjalan dengan pandangan lurus ke depan. Dan tidak jauh dari Wonwoo, Jisoo bisa melihat Hansol mengatupkan bibirnya yang hampir terbuka. Remaja empat belas tahun itu melunturkan senyum yang sempat tersemat.

.

.

.

Mingyu mondar-mandir di kamarnya. Lelah terus bergerak, ia memilih duduk di ranjang. Namun ke dua kakinya tetap bergerak, tidak bisa diam. Siswa berusia tujuh belas tahun itu berdiri dari duduknya. Berdiri di depan lemari dan membuka pintunya.

Lemari yang tidak lebih tinggi darinya itu ia tutup. Kembali mondar mandir sampai membuat Chan pusing melihatnya. Bocah mungil itu duduk di tepian ranjang. Pandangannya tidak lepas dari pergerakan tidak jelas yang Mingyu lakukan berulang-ulang.

"Hyung cedang pucing?" tanya Chan setelah Mingyu kembali duduk di tepi ranjang. Semenjak Mingyu mengantarnya ke rumah sakit, Chan sudah berani berinteraksi dengan Mingyu. Meski interaksi Mingyu dan Wonwoo tidak mengalami perubahan.

"Emm." Mingyu mengangguk dan kembali mondar-mandir. Kali ini ia mengambil salah satu buku pelajarannya. Namun belum sampai satu menit, ia langsung menutupnya dan memasukkannya ke dalam ranselnya.

"Hyung makan apa?"

"Huh!" Mingyu menghentikan pergerakannya. Memandang Chan bingung.

"Gyu Hyung makan apa campai bica cetinggi itu?" ulang Chan memperjelas pertanyaannya.

"Memangnya kenapa Chan-ie?"

"Chan-ie ingin cepelti Gyu Hyung. Chan-ie ingin cetinggi Gyu Hyung. Kalena kata Wonwoo Hyung, olang yang tinggi cepelti Hyung itu kelen."

"Benarkah?"

Chan berjengit mendengar suara Mingyu yang terlewat bersemangat. Mingyu langsung jongkok di depannya dan memegang kedua pundaknya.

"Jadi Hyung terlihat keren?" tanya Mingyu memelankan suaranya. Namun tidak menghilangkan semangatnya. Matanya tampak berbinar dengan senyum yang begitu cerah.

"Kata Wonwoo Hyung kelen," jawab Chan yang membuat senyum Mingyu semakin terkembang.

"Terima kasih Chan-ie. Kau penyemangat kecilku. Besok, Hyung akan belikan lollipop untuk Chan-ie," ucap Mingyu dengan menangkup wajah Chan gemas. Membuat bocah mungil itu mengerjapkan matanya bingung.

Mingyu buru-buru membuka lemarinya. Mengganti kaos tanpa lengan yang ia kenakan dengan kaos lengan pendek berwarna hitam.

"Kepercayaan diriku bertambah," batinnya girang yang langsung melesat keluar.

Chan masih memasang tampang bingungnya. Ia bertanya tapi Mingyu begitu senang dan sangat bersemangat. Bahkan langsung pergi dengan senyum cerah tanpa menjawab pertanyaannya.

"Kenapa Gyu Hyung aneh? Chan-ie mau tidul lagi caja," ucapnya sambil mengucek matanya. Merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung memejamkan matanya.

Mingyu keluar rumah dengan penuh semangat. Mengabaikan anak-anak lain yang masih terjaga dan duduk di ruang tengah. Ia ingin menemui Wonwoo. Beberapa kali mengikuti teman sekamarnya itu, membuatnya tahu apa yang Wonwoo lakukan di malam-malam seperti ini.

Dugaannya sangat tepat. Ia mendapati Wonwoo duduk menyendiri di ayunan pertama kali mereka berbicara. Saat tidak bisa tertidur, atau terbangun tengah malam, Mingyu tahu Wonwoo memilih diam dan duduk di ayunan.

Mingyu masih berdiri dari persembunyiannya. Memandangi Wonwoo yang sepertinya tengah melamun. Ia ingin melangkah dan mendekati Wonwoo, tapi kakinya terasa kaku. Bahkan tangannya benar-benar dingin.

"Kalaupun ramalan itu benar, yang bisa kau lakukan hanya ada satu cara. Buat dia mencintaimu! Sesulit apapun itu, kau tidak boleh menyerah."

Mingyu meringis mengingat nasehat Minho untuknya. Ia memang sudah mengumpulkan tekadnya. Bahkan sudah sangat semangat mendengar ucapan Chan. Tapi semuanya menguar begitu saja saat ini. Hanya melihat Wonwoo dari kejauhan saja, membuat nyalinya menciut.

"Bagaimana aku bisa melakukannya kalau mendekatinya saja aku setakut ini. Bahkan melihat matanya saja aku tidak sanggup," rutuk Mingyu dalam hati.

"Pukulanku tidak bisa menghilangkan nyawa orang. Tapi setidaknya bisa menghilangkan kesadaran atau mematahkan beberapa tulang."

Mata Mingyu membola sempurna. Ia membekap mulutnya erat meskipun tidak ada kata yang akan terlontar. Pendengarannya tidak salah. Ia bisa mendengar jelas apa yang Wonwoo ucapkan. Terdengar mengerikan meski Wonwoo hanya menunduk.

"Jadi dia tahu kehadiranku?" tanyanya dalam hati.

Mingyu menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal. Bukan pertemuan seperti ini yang ia harapkan. Tapi dirinya terlalu pengecut mendekati Wonwoo secara terang-terangan.

"Tidak ada sambutan yang lebih manis?" tanya Mingyu sambil keluar dari persembunyiannya. Mencoba bersikap santai meski lututnya terasa bergetar.

Mereka memang pernah tidur seranjang. Tapi tidak mengubah hubungan keduanya. Setelah malam itu, mereka sama-sama diam seolah tidak ada hal yang terjadi. Wonwoo masih sama seperti hari-hari sebelumnya. Diam dan memasang wajah datarnya.

"Semua hal yang manis tidak ada dalam hidupku," sahut Wonwoo yang masih enggan menatap Mingyu.

"Kau salah! Karena senyummu sangat manis."

Mingyu hanya mengucapkannya dalam hati. Ia tidak berniat untuk mengungkapkannya. Ia tidak yakin orang seperti Wonwoo suka dikatakan manis. Dan ia takut beberapa tulangnya patah.

"Apa yang kau lakukan malam-malam seperti ini di sini?" tanya Mingyu sambil duduk di ayunan lainnya.

"Itu pertanyaan untukmu," ucap Wonwoo datar. Menoleh ke arah Mingyu sekilas dan kembali menunduk.

"Haah … benar tidak manis," gumamnya tanpa sadar.

"Terima kasih!"

"Eh … bukan itu maksudku! Aku tidak sedang …."

Mingyu mulai kelabakan menanggapinya. Tapi Wonwoo justru sangat santai. Ia mulai mengangkat kepalanya. Menatap lurus kedepan dengan pandangan kosong.

Pemuda bermarga Kim itu mengurungkan niatnya untuk berbicara. Melihat raut wajah Wonwoo membuatnya enggan untuk bersuara. Dalam diam, Mingyu memandangi wajah Wonwoo lamat-lamat.

"Chan-ie tidak terbangunkan?" tanya Wonwoo.

"Tadi terbangun. Tapi sepertinya sudah tidur lagi." Mingyu sedikit tidak yakin dengan jawabannya. Karena saat ia pergi, Chan masih duduk di ranjang.

"Kenapa kau mau berbicara saat hanya ada kita berdua? Kenapa sifatmu berbanding terbalik saat berada di rumah," batin Mingyu saat mengingat hubungan mereka selama ini.

Mereka sekamar sudah beberapa bulan. Tapi mereka layaknya musuh yang tidak saling bertegur sapa. Bahkan ia tidak pernah melihat senyum Wonwoo saat berada di rumah.

"Kau suka di sini sendiri?" tanya Mingyu karena tidak kunjung ada percakapan. Ia ingin lebih dekat dengan Wonwoo. Ia ingin mengenali lebih dalam teman sekamarnya itu. Meski tahu tidak akan mudah, Mingyu akan tetap melakukannya.

"Hem." Hanya gumaman yang ia dapatkan.

"Aku bisa menamanimu." Mingyu masih terus berusaha mendapat respon Wonwoo.

"Aku tidak membutuhkannya."

"Baiklah! Mulai malam ini, aku akan menemanimu saat kau sendiri."

Sontak, Wonwoo langsung menatap Mingyu. Dan Mingyu melakukan hal yang sama. Hanya saja, Mingyu tidak bisa mengartikan tatapan Wonwoo. Sedihkah? Marahkah? Bencikah? Atau justru perasaan lainnya. Wonwoo benar-benar tidak terbaca.

"Aku tahu, sendiri terkadang adalah pilihan yang tepat. Tapi tidak semuanya bisa dilakukan seorang diri. Aku bisa mengulurkan tanganku untukmu." Bukan rayuan atau hanya sekedar basa-basi. Tapi Mingyu ingin melakukannya. Menemani Wonwoo yang selalu sendiri dalam diamnya.

Wonwoo tidak menanggapi atau hanya sekedar memandang Mingyu tajam. Yang pemuda bermata rubah itu lakukan justru menghindar. Melangkahkan kaki menjauhi Mingyu.

"Sesulit apapun itu, kau tidak boleh menyerah."

Mingyu mengikuti langkah Wonwoo saat kalimat Minho kembali teringat. Ia benar-benar harus berjuang dan berusaha keras. Selain berusaha mendekati dan mendapatkan Wonwoo, ia berusaha mati-matian melawan kegugupannya.

Sedari tadi ia menekan kuat-kuat rasa takut dan gugupnya. Dadanya sampai terasa sakit karena jantungnya terlalu kencang berdetak. Karena memang tidak ada yang bisa ia lakukan selain membuat Wonwoo untuk balik menatapnya.

"Kalau orang itu bukan Wonwoo, aku juga akan kesulitan karena rasa takutku. Tapi ini jauh lebih sulit karena Wonwoo begitu penuh rahasia," batinnya yang sudah berjalan tepat di belakang Wonwoo.

"Di kedai itu, sup ayamnya cukup enak. Aku ingin kau mencobanya."

Setelah mengumpulkan keberaniannya, Mingyu menggenggam pergelangan tangan Wonwoo. Menariknya meski ia tahu Wonwoo akan menolak.

"Aku tidak akan menerimanya. Aku tidak ingin siapapun membelikan makanan untukku. Dan Seungcheol hyung juga sudah tahu itu."

Masih dengan wajah dinginnya, Wonwoo mencoba melepas tangan Mingyu. Dan tanpa berusaha keras, Mingyu langsung melepaskan genggamannya. Pemuda yang lebih tinggi itu tampak diam seolah memikirkan sesuatu.

"Jadi … aku sudah didahului dua kali ya. Dan kali ini Seungcheol hyung," batinnya sedih. Namun beberapa detik kemudian ia tersenyum. Kembali menggenggam tangan Wonwoo dan menariknya menjauh.

"Kau bisa membayarnya nanti di rumah. Atau kau bisa berhutang. Tapi kau harus temani aku makan di sana. Anggap ini bayaran karena aku sudah berbaik hati berbagi ranjang beberapa waktu yang lalu."

Mingyu tidak sungguh-sungguh mengatakannya. Tapi ia bisa menebak Wonwoo tidak suka berhutang budi. Dan tebakannya benar. Wonwoo memilih diam dan mengikuti langkahnya.

"Aku tahu tidak mudah membuka hatimu, memasuki kehidupanmu, apalagi mendapatkan hatimu. Tapi aku akan melakukannya. Bukan hanya untukku, tapi juga untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu dalam kesedihan dan kesepian seorang diri." Tekad Mingyu dalam hati.

.

.

.

"Hyung!"

Jeonghan yang berada di kamar Jisoo menoleh ke pintu. Mendapati Seungkwan dengan wajah kusutnya. Seungcheol yang hampir memejamkan mata langsung mendudukkan diri. Ia tahu ada yang ingin Seungkwan bicarakan.

"Hyung sudah melihat ekspresi seperti itu sejak kemarin," ucap Seungcheol.

"Ada yang menganggumu?" tanya Seungcheol lembut. Jisoo dan Jeonghan memilih diam dan memperhatikan Seungkwan. Laki-laki yang lebih muda itu duduk di tepi ranjang Seungcheol.

"Aku dan Hansol bertengkar," adu Seungkwan. Ketiganya memilih bungkam. Membiarkan Seungkwan melanjutkan ucapannya.

"Teman sekelasku mengatakan kalau Hansol lelah berteman denganku. Hansol risih karena aku tidak bisa diam. Dan mereka bilang, Hansol bosan melihatku," ucap Seungkwan dengan suara bergetar.

Remaja berusia empat belas tahun itu mengusap setitik liquid bening di sudut mata. Rasa sedih tidak bisa disembunyikan setiap mengingatnya. Ia tidak benar-benar marah dengan Hansol. Justru ia takut kalau Hansol benar-benar bosan berteman dengannya.

"Lalu setelah itu apa yang terjadi?" tanya Jisoo yang tengah duduk bersila di atas ranjangnya.

"Aku mencari Hansol dan ternyata dia berjalan meninggalkanku. Aku memanggilnya berulang kali, tapi dia tidak mau menjawab. Jadi aku marah dan memukulnya. Ekspresi wajahnya kemarin semakin membuatku yakin kalau Hansol bosan berteman denganku, jadi aku semakin marah. Kami sempat beradu mulut dan setelahnya aku meninggalkannya."

Ketiganya sama-sama menghela nafas. Sebenarnya bukan masalah yang besar, tapi akan menjadi kesedihan tersendiri saat masalah itu menyangkut Hansol. Teman sekamar Jeonghan yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Seungkwan.

"Mereka hanya iri dengan kedekatan kalian Kwan-ie," ucap Seungcheol yang diangguki Jisoo dan Jeonghan.

"Iri?" tanya Seungkwan.

"Iya, mereka iri dengan kedekatan kalian. Kalian bukan hanya dekat, tapi seperti keluarga yang saling menyayangi, menolong, membantu dan selalu ada satu sama lain. Kalian bukan anak berusia lima tahun, tapi kalian tidak malu berbagi bekal. Bahkan Hansol juga rela menggendongmu sampai sekolah saat kau terjatuh dari pohon. Kau juga tidak takut memukul anak-anak yang pernah mengganggu Hansol. Padahal kau tidak pernah berkelahi."

Mendengar penjelasan Seungcheol, mata Seungkwan semakin memanas. Bibirnya justru bergetar menahan tangis. Ia tidak akan melupakan bagaimana Hansol selalu ada untuknya. Bahkan di sekolah, ia seolah bergantung pada remaja seusianya itu.

"Dan kau ingat saat kalian masih kecil dulu? Saat pertama kali kita bertemu Hansol? Karena seorang bernama Boo Seungkwan, Hansol bersedia ikut dengan kita ke rumah ini."

"Kau jangan menangis. Kau tidak boleh sedih. Kata Eomma, orang yang tidur selamanya itu akan pergi ke surga. Ayo kita berteman! Aku akan membagikan mainanku denganmu. Jadi jangan merasa kesepian dan jangan bersedih lagi! Namaku Boo Seungkwan."

Seungkwan mengusap air matanya kasar sambil tertawa. Seharusnya ia tidak boleh terpengaruh dengan orang lain. Seharusnya ia percaya dengan Hansol seperti yang selama ini mereka lakukan.

"Hyung, aku menyayangimu."

Seungkwan langsung memeluk Seungcheol yang duduk di sebelahnya. Pemuda yang lebih tua tersenyum lebar dan menepuk punggung Seungkwan.

"Kau harus meminta maaf Kwan-ie! Dan kalian harus berbaikan. Hyung tidak mau melihat kalian diam-diaman seperti itu."

Seungkwan mengangguk semangat dan tersenyum cerah. Setelah memastikan tidak ada air mata yang tersisa, Seungkwan melangkah keluar. Mencari keberadaan Hansol. Semenjak pertengkaran waktu itu, mereka sama sekali tidak bertegur sapa. Bahkan di sekolah mereka seperti orang yang tidak mengenal.

Di kamar Jeonghan, ia tidak menemukan keberadaan Hansol. Di kamar anak-anak lain, ia juga tidak menemukannya. Setelah berjalan keluar rumah, ia melihat Hansol duduk termenung di halaman rumah.

Hansol sedikit terkejut saat tiba-tiba Seungkwan duduk tepat di hadapannya. Remaja seusianya itu mengulurkan tangan ke arahnya.

"Maafkan aku," ucap Seungkwan karena Hansol tidak memberikan reaksi.

"Aku salah karena lebih percaya mereka. Seharusnya aku tidak berbicara seperti itu."

Hansol tidak langsung menjawab. Ia memandang wajah Seungkwan dan tangan yang terulur itu bergantian. Membuat Seungkwan risau. Takut Hansol tidak akan memaafkannya.

"Dan kau yang paling tahu aku tidak pernah bisa marah denganmu," ucap Hansol dengan balas menjabat tangan Seungkwan. Diiringi senyuman yang membuat Seungkwan tersenyum cerah.

Saat jabatan tangan itu terlepas, Seungkwan mengucek matanya. Hansol yang melihatnya mengerutkan dahi.

"Kenapa sekarang kau menangis?" tanyanya.

"Bertengkar denganmu itu tidak enak. Aku sedih karena kau tidak mau berbicara denganku," ucap Seungkwan dengan air mata semakin berlinang. Mau tidak mau membuat Hansol tertawa.

"Aku juga tidak seharusnya menyamakanmu dengan Wonwoo hyung. Karena kalian berbeda. Kau tidak sepertinya." Senyum Hansol luntur beberapa detik. Namun setelahnya ia mencoba kembali tersenyum.

"Kau tidak sedih?" tanya Seungkwan karena Hansol masih menertawakannya.

"Aku sedih."

"Kenapa tidak menangis?"

"Aku tidak mau."

"Tapi aku menangis karena aku sedih."

"Aku juga sedih. Tapi tidak harus menangis."

"Kenapa tidak? Kata Seungcheol hyung menangis itu manusiawi."

"Aku laki-laki."

"Yak, kau mengatakan aku perempuan? Aku juga laki-laki bodoh! Cepat menangis!"

"Aku tidak mau!"

"Cepat! Kau harus menangis untukku. Kau sedihkan? jadi kau harus menangis sama sepertiku."

"Aku bilang tidak mau ya tidak mau."

Seungcheol yang mengintip bersama Jeonghan dan Jisoo memijat pelipisnya. Ada saja tingkah adik-adiknya yang membuatnya sakit kepala.

"Melihat kejadian akhir-akhir ini, aku baru sadar kalau mereka sudah mulai tumbuh dewasa," gumam Jeonghan.

"Kau benar! Banyaknya masalah, perselisihan, salah paham, membuktikan kalau mereka bukan lagi anak kecil. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang terjadi," balas Seungcheol yang diangguki Jisoo.

"Sepertinya aku harus mengajak mereka bermain bersama. Bagaimana kalau kita bermain bola di lapangan?" usul Seungcheol yang disambut pekikan semangat Seungkwan. Ternyata telinganya cukup tajam mendengar kalimat terakhir pemuda yang lebih tua.

"Kau kumpulkan mereka semua kalau begitu. Aku dan Jisoo akan menunggu di lapangan."

Mata Seungcheol sedikit membola saat Jeonghan menarik teman sekamarnya. Jeonghan menyerahkan semuanya padanya. Dan sepertinya Jisoo tidak keberatan. Mereka justru melenggang dengan santai.

Mengumpulkan anak-anak lainnya, dan menunggu mereka bersiap bukan hal yang mudah. Karena selalu saja ada keributan yang membuat kepalanya sakit. Ia memang menilai adik-adiknya sudah beranjak dewasa. Namun tidak dengan beberapa sifat kekanakan yang tidak akan pernah hilang.

Seungcheol berkacak pinggang di depan pintu. Setelahnya ia menghembuskan nafasnya kasar. Tidak ada pilihan selain menghadapi delapan anak dengan berbagai sifat ajaib.

"Semuanya, dengarkan baik-baik! Cepat ganti baju kalian karena kita akan bermain bola di lapangan. Hyung tunggu lima menit dari sekarang!" teriak Seungcheol dari ruang tengah.

"Yeay bermain bola!"

"Aku mengantuk Hyung!"

"Aigoo … padahal aku baru saja selesai mandi."

"Hyung, aku tidak punya celana."

"Aku juga Hyung. Celanaku belum di cuci."

"Eh… celanaku kenapa menghilang? Yak, siapa yang mengambil celana yang aku gantung di balik pintu? Cepat kembalikan!"

"Kenapa mendadak Hyung? Aku belum mempersiapkan fisik dan mentalku untuk bermain bola."

Mendengar semua teriakan, ocehan dan suara berisik dari kamar, Seungcheol hanya bisa menghela nafas. Yang ia perlukan hanya kesabaran ekstra menghadapi anak-anak lainnya.

.

.

.

"Seungcheol pasti menggerutu karena kita meninggalkannya," ucap Jisoo yang berjalan tepat di samping Jeonghan.

"Aku yakin dia sudah kebal," balas Jeonghan sambil terkekeh. Ia bisa membayangkan bagaimana frustasinya Seungcheol di sana. Menghadapi anak-anak dengan segala tingkah ajaib bukan hal mudah.

"Soo-ya, bukannya itu Chan?" tanya Jeonghan ragu. Ia tidak begitu yakin dengan apa yang ia lihat. Seorang anak kecil duduk sendiri di pinggir lapangan.

"Menurutku itu Chan."

Keduanya berjalan mendekati Chan. Jeonghan tersenyum cerah ingin menyapa bocah mungil itu. Sudah sejak lama ia ingin berinteraksi dengan Chan.

"Chan, sedang apa di sini sendiri? Di mana Wonwoo hyung?"

Bocah bermata sipit itu terlonjak. Reaksinya benar-benar menunjukkan keterkejutan. Ia memutar pandangannya menghadap Jisoo dan Jeonghan.

Saat melihat keduanya, Chan tampak ketakutan. Ekspresi yang sama seperti yang ia tunjukkan beberapa waktu lalu. Dan lagi-lagi, membuat hati dua pemuda itu tersengat.

"Meleka olang jahat. Meleka yang membuat hyung-ie cedih," batin Chan sambil berdiri dari duduknya. Dengan perlahan, ia memundurkan langkahnya. Menatap was-was ke arah keduanya.

"Chan jangan—"

Belum sempat Jeonghan meneruskan kalimatnya, bocah berambut hitam lurus itu langsung berlari. Dahi mereka mendadak penuh kerutan. Tatapan lurus dengan berbagai pertanyaan yang muncul.

"Jisoo-ya, apa aku semenyeramkan itu? Apa aku semenakutkan itu?" tanya Jeonghan lirih dengan memandangi kepergian Chan.

Jisoo yang berdiri di sebelahnya tidak bisa menjawab. Karena ia merasakan hal yang sama. Bahkan rasa itu selalu ada semenjak percakapannya pertama kali dengan Wonwoo.

"Sangat menyakitkan saat mengetahui seseorang takut denganmu. Bahkan hanya dengan melihat wajah," ucap Jeonghan getir.

Ia kembali teringat kejadian beberapa waktu lalu. Ia masih mengingat dengan jelas saat Chan memohon pada mereka untuk tidak memarahinya. Dengan wajah penuh ketakutan, Chan memohon supaya mereka tidak memukulnya.

"Dia hanya anak kecil Jisoo-ya. Tidak seharusnya dia sendiri seperti itu. Aku tidak akan menyalahkan Wonwoo, karena aku ingin berhenti menilai buruk tentangnya. Karena aku sadar bahwa apa yang terjadi selama ini bisa menjadi cermin untukku. Dan seperti yang kau lihat, Chan takut melihatku."

"Bukan hanya denganmu Jeonghan-ah. Tapi denganku, dan mungkin dengan kita semua." Jisoo tidak sedang menghibur Jeonghan, tapi itu lah yang ia rasakan.

"Aku ingin mengulurkan tanganku untuknya, tapi Chan terlalu takut bahkan hanya melihat wajahku. Melihat dia sendiri seperti itu, aku ingin memeluknya. Seperti yang dulu kita lakukan pada Seungkwan."

Jisoo mengangguk dengan tersenyum paksa. Tentu ia tidak akan melupakannya. Sebelum bertemu dengan anak-anak lainnya, hanya Seungkwan adik terkecil mereka.

"Saat di panti dulu Seungkwan juga seusia dengan Chan. Tidak jarang kita mendengar Seungkwan menangis, merajuk, bahkan memaksa meminta yang dia suka. Dan kita selalu berusaha menuruti semua keinginannya. Tapi aku tidak pernah melihat Chan seperti itu."

Dalam diam, Jeonghan sering memperhatikan Chan. Ia menganggap Chan bagian dari SVT house seperti yang lainnya. Meski tidak ada hal lain yang ia lakukan selain memperhatikannya dari jauh.

"Aku tidak tahu bagaimana kehidupannya. Tapi sepertinya, Chan mengalami hal yang tidak mudah. Mungkin tidak berbeda dengan kita, atau justru lebih buruk. Dia butuh orang-orang yang menyayanginya Jisoo-ya."

Mereka berdua masih berdiri di tempat masing-masing. Terpekur dengan pemikiran, membuat mereka enggan beranjak.

"Bisakah Hyung anggap dia ada?"

"Hyung tidak perlu menyayanginya seperti Hyung menyayangi yang lainnya. Tapi setidaknya anggap dia ada. Anggap dia saat berada di tengah-tengah kalian. Perlakukan dia seperti manusia Hyung!"

Jisoo tertohok untuk kesekian kali saat kalimat itu kembali berputar di ingatannya. Sampai saat ini, ia tidak melakukan apa yang Wonwoo minta. Waktu semakin merangkak, tapi ia tetap dalam kebisuan. Tanpa upaya untuk memperbaiki semuanya.

"Jeonghan-ah, manusia memang sering melakukan kesalahan dan merasa bersalah. Tapi kita punya Tuhan yang selalu menyediakan maaf untuk semuanya." Jisoo berucap setelah memantapkan dirinya. Ia memutuskan untuk tidak terlarut dalam kebingungan.

"Dan kita masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya. Perlahan-lahan kita akan membuktikan kalau kita juga menyayangi Chan seperti yang lainnya. Aku tahu tidak mudah. Tapi aku ingin merangkul Chan seperti anak-anak lainnya."

"Kau benar! Aku akan berusaha untuk mendekatinya. Karena aku tahu, Chan butuh kasih sayang dari kita semua," ucap Jeonghan sumringah. Rasa bersalah yang sedari tadi menyesakkan, perlahan-lahan terasa terangkat.

"Hyung!"

Keduanya sama-sama terlonjak mendengar suara pekikan. Tanpa menoleh, mereka tahu Seokmin berada di belakang mereka.

"Kalian berdua sedang membicarakan apa? Tidak dengar Seungcheol hyung berteriak sedari tadi?"

Jisoo dan Jeonghan saling pandang. Setelahnya mereka tersenyum dan mengangkat bahunya. Berlari meninggalkan Seokmin yang menghasilkan gerutuan dan protesan.

.

.

.

Sebelas anak laki-laki menyudahi acara bermain bola dengan tubuh berpeluh. Saat anak-anak lain memilih duduk di pinggir lapangan berusaha menetralkan nafas, Soonyoung dan Seokmin masih tampak bersemangat. Mereka terus bergerak dan sesekali saling mengoper bola.

Jihoon berdiri dari duduknya. Ia lupa meletakkan botol air mineralnya. Bukan hal yang sulit meminta air yang lainnya, tapi ia ingin menemukan barangnya.

"Di mana aku meletakkannya tadi?" batinnya sambil mengedarkan pandangannya.

Tatapanya terhenti pada sebuah botol berwarna coklat. Berukuran lima belas centi meter yang terletak di ujung lapangan. Pemuda bertubuh mungil itu langsung melangkahkan kakinya.

"Kau mau kemana Jihoon-ah?" tanya Seungcheol yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Jihoon.

"Mengambil botolku Hyung," jawabnya tanpa menoleh.

Saat hampir mendekati botolnya, Jihoon menghentikan langkahnya. Menengadah menatap langit. Beberapa layang-layangan menari-nari di langit sore. Mengingatkannya pada sosok sang sahabat.

"Hoonie-ya, lihat itu! Layang-layangannya sangat banyak. Aku ingin cepat besar supaya bisa memainkannya sendiri."

"Kalau kita sudah besar nanti, kita akan membuat layang-layang yang bagus."

"Aku akan membuat nama kita berdua. Dan menerbangkannya ke tempat yang sangat tinggi."

"Kau sangat suka dengan layang-layang ya?"

"Iya, aku suka. Layang-layang itu sangat menakjubkan. Pasti layang-layang itu bisa melihat semuanya dari atas sana. Pasti sangat indah melihat semua pemandangan dari tempat setinggi itu. Kalau bisa, aku ingin seperti layang-layang."

"Kenapa ingin seperti layang-layang? Mereka terlalu tinggi."

"Karena aku ingin melihat semuanya dari atas sana. Aku juga bisa melihatmu dari jauh. Kalau aku tidak bisa menemuimu, aku masih bisa melihatmu. Pasti menyenangkan bisa melihat apapun yang kau lakukan."

"Kalau begitu, aku akan sembunyi di bawah tempat tidur supaya kau tidak bisa melihatku."

"Kenapa kau jahat sekali?"

"Supaya kau tidak pergi ke tempat setinggi itu. Kalau kau di sini, kau kan bisa mencari dan menemukanku."

Jihoon tersenyum getir. Ia tidak tahu sahabatnya benar-benar pergi ke tempat yang begitu tinggi dan jauh. Tempat yang sama sekali tidak bisa ia jangkau.

Jihoon menunduk dan menghembuskan nafasnya kasar. Ia memilih meraih botolnya. Membuka dan meminumnya beberapa teguk. Mencoba menghilangkan rasa sesak dan tenggorokan yang terasa tercekat.

Ia memilih duduk di ujung lapangan. Jarak mereka yang cukup jauh, membuatnya tidak khawatir akan ada yang melihat matanya yang memerah. Lagi pula, mereka sedang bercanda di pinggir lapangan. Tidak akan ada yang memperhatikan wajah sendunya.

Jihoon kembali mendongak, melihat layang-layangan di atas sana. Ada yang tetap bergerak tenang meski terkena angin. Dan ada juga yang tampak terombang-ambing tidak tentu arah.

"Apa kau begitu menyukai mereka sampai-sampai kau lebih memilih berada di atas sana dari pada bersamaku? Bagaimana di atas sana? Apa di sana indah? Kau bisa melihat semuanya? Dan apa kau juga bisa melihatku di sini?"

Jihoon membiarkan matanya yang terasa semakin memanas. Kembali menjelajahi sejarah kenangannya bersama sang sahabat. Jihoon masih mengingat bagaimana bahagianya sahabatnya saat bisa melihat layang-layangan.

Meski potret wajahnya semakin memudar di ingatannya. Bahkan ia sudah tidak bisa mengingat senyum sahabatnya karena terombak waktu. Tapi Jihoon tidak pernah melupakan semua kenangan mereka. Ia selalu menghadirkan masa bersama sahabatnya walau ada rasa sakit luar biasa yang menyelinap.

"Apa di atas sana sangat tinggi? Apa aku tidak bisa ke sana untuk menemuimu? Dan saat ini kau melihatku kan? Kau pasti tahu kan kalau aku kesepian dan merasa sedih. Jadi seharusnya, kau juga mengajakku bersamamu."

Jihoon terlalu terlarut dalam pikiran dan kesedihannya. Ia sampai tidak menyadari Soonyoung terus memperhatikannya. Bahkan saat pertama ia meninggalkan anak-anak lainnya, Soonyoung terus mengikuti pergerakannya.

Soonyoung mencoba mendekat. Ia tahu ada yang Jihoon pikirkan. Bahkan tanpa bertanya, semua tergambar jelas dari wajah Jihoon. Dan pancaran mata itu, Soonyoung tahu ada yang membuat Jihoon bersedih.

"Kau menyukai layang-layangan?"

Jihoon tersentak mendengar suara Soonyoung. Ia baru sadar kalau Soonyoung sudah duduk di sampingnya. Ikut mendongakkan kepala seperti yang ia lakukan. Jihoon menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Tampaknya, Soonyoung tahu ia menangis. Tapi Soonyoung sengaja tidak bertanya padanya.

"Aku sering melihatmu berlarut-larut memperhatikan layang-layangan," lanjut Soonyoung.

"Aku tidak suka mereka. Bahkan aku berharap mereka tidak pernah ada. Bisa berada di ketinggian dan melihat semuanya pasti sesuatu yang menyenangkan. Sampai-sampai mereka memilih terbang terlalu tinggi. Menghilang dan tidak kembali," ucap Jihoon semakin lirih di akhir kalimat.

Soonyoung menurunkan pandangannya. Memperhatikan cahaya mata Jihoon yang semakin meredup. Saat bersama yang lain, Jihoon selalu tampak biasa. Menampilkan sisi cerianya seperti yang lain. Namun Soonyoung tahu, senyum yang Jihoon tunjukkan adalah senyum semu.

"Andai aku tidak menjulurkan talinya terlalu panjang, mungkin dia tidak akan terbang setinggi itu. Dan andai saja aku tidak membiarkan talinya lepas, mungkin juga dia tidak akan meninggalkanku." Meskipun suara Jihoon terdengar begitu lirih, tapi Soonyoung masih mendengarnya dengan jelas.

"Sahabat masa kecilmu." Soonyoung ikut menanggapi dengan suara lirihnya. Ia tidak lagi memandang layang-layangan seperti Jihoon. Memilih rumput sebagai objek matanya.

"Aku jadi ingin tahu seperti apa dia," ucap Soonyoung sambil tersenyum tipis.

Ia ingin tahu seperti apa seseorang yang sudah menarik perhatian dan seluruh ingatan Jihoon. Meski sudah sangat lama berlalu, tapi sedikitpun Jihoon tidak pernah melupakannya. Bahkan ia yakin Jihoon tidak akan bisa melupakannya.

"Kau ingin melihatnya?" tanya Jihoon.

"Aku ingin melihatnya," balasnya. Soonyoung ingin tahu sahabat masa kecil yang begitu istimewa bagi Jihoon. Pemuda bermarga Kwon itu menoleh karena tidak kunjung mendapat jawaban. Jihoon justru tersenyum miris dan menunduk.

"Sudah lama. Sangat-sangat lama saat kami masih bersama. Aku … aku sudah tidak bisa mengingat wajahnya dengan jelas. Perlahan-lahan, wajahnya semakin terkikis dari ingatanku. Tidak ada yang bisa aku lakukan untuk mempertahankan ingatanku tentang wajahnya."

Soonyoung tertegun beberapa saat. Ia seolah bisa merasakan apa yang Jihoon rasakan. Bukan hanya setahun dua tahun semua yang terlewati. Bukan sebuah kesalahan saat Jihoon mulai melupakan wajah sahabatnya.

"Jadi?"

"Aku tidak tahu. Hanya ingatan tentang kenangan kami yang aku punya. Bayangan wajahnya … mulai mengabur. Andai saat ini dia berdiri di depanku, aku pasti tidak akan bisa mengenalinya."

Jihoon mengucapkannya dengan begitu terluka. Ia ingin marah, ia ingin membenci waktu dan ingatannya yang membuatnya mulai melupakan wajah sahabatnya. Tapi ia sadar, waktu tidak akan pernah bisa ia takhlukkan. Seberapapun kuat ia menjaga ingatan itu, pada akhirnya ia yang akan kalah.

"Ingatanmu tentang wajahnya mungkin semakin lama semakin memudar. Tapi semua kenangan kalian sudah terpahat di hati dan hidupmu," ucap Soonyoung tulus.

"Kau benar!" jawab Jihoon sambil tersenyum tipis. Ia mengalihkan pandangannya pada anak-anak lainnya. Setelahnya kembali menunduk menatap rerumputan.

"Tapi rasanya tidak adil. Dia bisa melihatku dari atas sana. Sedangkan aku tidak bisa melihatnya. Aku tidak tahu seperti apa dia saat ini. Tumbuh menjadi tinggi atau tidak. Berubah menjadi tampan atau jelek."

Jihoon mengucapkan sambil tersenyum. Dan kali ini Soonyoung melihat sebuah ketulusan dan kerinduan. Membuatnya semakin iri dengan sosok yang begitu berharga bagi Jihoon.

"Kalau kau tidak keberatan, aku ingin mendengar cerita kalian. Dan sahabatmu itu, siapa namanya?"

"Kau ingin tahu namanya?"

"Ya. Karena kau belum pernah menyebutkannya sekalipun padaku."

"Aku tidak tahu namanya," jawab Jihoon lirih yang membuat mata sipit Soonyoung melebar.

"Tidak tahu? Kau tidak tahu namanya?" tanya Soonyoung tidak percaya. Ia merubah posisi duduk. Menghadap Jihoon yang hanya menganggukkan kepalanya.

"Kau bercanda Jihoon-ie?" Soonyoung kembali memastikan. Namun anggukan yang ia dapat membuat mulutnya terbuka.

"Jadi bagaimana kalian—"

"Aku memang tidak tahu nama lengkapnya. Yang aku tahu, dia selalu menyebutku Hoonie dan aku menyebutnya Wonie."

.

.

.

TBC

Rahasia Jihoon, Wonwoo, Mingyu dan rahasia lainnya sudah banyak terungkap di ch ini. Tergantung konsentrasi dan ingatan kalian yang menentukan seberapa banyak rahasia yang terungkap. Di chapter kemarin masih banyak yang tidak konsentrasi. Masih ada yang tanya siapa orang yang Mingyu suka.

Special Thanks :

Jarmyeon/ Tfiy/ Chocohyuk/ Aryaahee/ Blxcklily/ Mikiminee/ Hnjasmine/ Gamesml/ Btobae/ Chonurullau40 Aka Miss Zhang/ Wonuemo/ Syahaaz/ Wangjeonim/ Ketiiiliem/ 7teenking/ Kwon Summer/ Arlequeen Kim/ Qtsw Af/ Devilprince/ Hime Karuru/ Wonnderella/ Geuxx29/ Exoinmylove/ Goddamnjisoo/ Albinohun/ Kwonhosh/ Egy Nanonano/ Khasabat04/ Mongyu0604/ Nayounq/ Lunch27/ Diciassette/ Babosal/ Hamipark76/ Asfifreezy/ Byeons/ Baebypark/ Jeonjk/ Park Rinhyun-Uchiha/ Chan-Min/ Yeseulpark/ Justnyao/ Kimanita/ Ananda12alpam/ Herdikichan17/ Shmnlv/ Ndahh25/ Putrifitriana177/ Tinkuerbxlle/ Beanienim/ Meanieslave/ Clarahyun/ Xolovelydesy/ Wonuu17-06/ Wonrepwonuke/ Queenxxx/ Atma Venusia/ Safabelle/ Krishunkaihun/ Xiayuweliu/ Kookies / Nichanjung/ Shinhy / Mirror / Skyblueandwhite/ Carats / Dinda Lollipop/ Meaniefeels/ Yulianita05/ Jwwnuna / Youngchanl/ Guest / Nashecha F / Rlike / Ria / Emocan9697 / Guest / Desi Vbaexian1048/ Kimxjeon/ Mbee / Kimkei / SVT Love Carrat / Syabilasubhi/ Monsterkim/ Karina / Yuuwongyu/ Dongiie/ Jihoonie / Rie Cloudsomnia / Guest / Maiolibel / Daeminjae/ Virra Viany/ Refanditaalvino30/ Bininyewonu / Ananda12alpam/ Boobeepboo / Name Dewi / Minxyu/ Blackjackcrong/ Lune Sonya/ Viaaxoxo/ Mingyuyaa / Nadiya99 / Unpsy / Bonablebleyu/ Arylee187/ Karuhi Hatsune/ Shaxobyarm/ Narti C/ Orang167/ Jeonghaneko/ Itsathenazi/ Meaniemeanie/ Vetrisiajyp/ Febryanikim / Vetrisia Jyp / Itsmevv/ Auliamrq/ Guest / Jasmore1/ Mingyuain/ Guest / Choohee / Win Win / Rahasia / Zizisvt / Guest / Meanieship794 / Guest / Gyurievil/ Pearl Metal Gold / Unknown / Wonuyaa / Sint / Ningprihas / Myname Is Meanie / Guest / Svtjeon / Photograph17 / wonuyaaawn