LUFEXO

Thanks for 7hanami, 88.it's.me, Ohluhan07, Wina Kim, SelynLH7.

Yang nanyaJeonghan siapa, masih inget temennya Baekhyun yang ngecat rambut Sehun kan?

Enjoy the typos and happy reading.

Pintu kemudi terbuka menampilkan Jeonghan yang menempelkan ponsel di telinganya. Sambungan telepon yang tertuju pada kekasihnya itu tidak mendapat sambutan. Padahal sebelum dia pergi ke minimarket, kekasihnya masih berada di apartemennya untuk menginap. Decakkan sebal keluar dari bibirnya yang selalu tersenyum miring itu. Dengan tubuhnya yang lebih kecil dari Sehun, dipapahnya orang pingsan itu ke dalam apartemennya. Dia bersumpah akan menyincang kekasihnya jika menemukannya sedang tertidur.

" Setidaknya kau tidak terlalu berat, Sehun," gumamnya sambil melangkah ke dalam lift.

Suara dentingan disambut kaki Jeonghan yang melangkah keluar lift dengan sedikit tergesa karena Sehun mulai terasa berat. Belum lagi Jeonghan harus mengawasi plastik belanjaan di tangan Sehun. Dia sedikit mengikatnya agar tidak jatuh, tapi tenang saja. Semoga itu tidak melukai Sehun. Semoga.

Kata sandi pintu apartemen dengan cepat berhasil dipecahkan dan Jeonghan meluncur ke kamar tamu memindahkan Sehun. Setelah si pria tampan itu terbaring di kasur dengan tangan yang sudah terbebas dari plastik, Jeonghan mengernyit bingung karena tidak mendengar suara S.Coups, kekasihnya. Dengan beberapa oktaf dari suaranya, teriakan demi teriakan mengalunkan nama panggilan sayang–Coupseu–tidak mendapat tanggapan. Kakinya yang mengitari semua ruangan di apartemennya itu terhenti di depan lemari es. Secarik memo dengan coretan,

' Maaf tidak menunggumu kembali, tapi ini benar-benar mendesak. Aku pergi.

Kekasih tampanmu, S.Coups '

Jeonghan meremas memo itu dan membuangnya ke tempat sampah sambil menyumpah serapah sang kekasih. Diambilnya ponsel dan menghubungi nomor pria itu.

" KAU PIKIR AKU INI APA HAH ?!" Teriaknya saat S.Coups mengangkat sambungan. Tidak ada jawaban dari sana, hanya helaan nafas.

"Jeongi aku–"

" TERSERAH KAU SAJALAH SEKARANG!" Teriak Jeonghan yang langsung memutuskan sambungan. Isakannya mulai terdengar memenuhi apartemen itu. Belanjaannya tergeletak mengenaskan di meja dapur. Dirinya terduduk sambil terus terisak.

Entah karena mendengar jeritan Jeonghan atau karena apa, Sehun kembali sadar dan mengerjapkan matanya menatap langit-langit kamar yang terlihat asing. Didudukkannya tubuh demamnya itu, seketika denyutan kepala muncul kembali dirasakan. Tangannya memijat sedikit pelipisnya sambil menurunkan kaki dari kasur. Tangannya menggapai nakas di sebelah saat mencoba berdiri dan melangkah. Mendengar isakan di luar kamar membuat Sehun melangkahkan kakinya mendekat ke asal suara. Dirinya teringat Luhan yang meneleponnya dengan isakan.

" Jeonghan?" Gumamnya saat melihat pria dengan rambut sebahu itu. Yang dipanggil mengelap aliran air mata dan menatap Sehun.

"Maaf aku melupakanmu. Kau tidur saja, aku akan membawakanmu obat. Nanti aku akan menghubungi Baekhyun," seru Jeonghan cepat dengan tangannya yang bergetar bergerak mencari kotak obat dengan brutal. Sehun yang melihat itu hanya mengangkat alisnya dan mendekat ke Jeonghan. Disentuhnya bahu Jeonghan,

" Kau baik-baik saja kan?" Tanyanya yang langsung membuatnya terkejut karena Jeonghan memeluknya. Sehun hanya mengerjapkan matanya. Tadinya dia ingin mendorong Jeonghan menjauh, tapi karena tangisan Jeonghan semakin keras dan pelukannya mengerat, Sehun hanya meringis sambil mengusap punggung Jeonghan. Tahu begini mending dia langsung balik ke kamar, pikir Sehun. Dia kan masih sangat pusing, dan sekarang dipaksa berdiri sambil menahan beban Jeonghan. Sehun menghela nafasnya. Eh tapi, dia tidak boleh begitu. Anggap saja Jeonghan ini Luhan yang meneleponnya tadi. Sehun menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan pikirannya dan mengusap punggung Jeonghan lembut sembari menggumamkan kata-kata penyemangat.

Setidaknya dia berbuat baik bukan?

Sehun sudah berganti baju milik S.Coups–kekasih Jeonghan. Walaupun lebih kecil dari ukurannya, setidaknya dia sudah memakai pakaian kering sekarang. Jeonghan sudah berhenti menangis dan langsung memasak bahan yang dibelinya. Dia bilang Sehun hanya perlu istirahat dan menganggap apartemen ini seperti miliknya. Jadi di sinilah Sehun. Berbaring miring di atas sofa dengan bantal di bawah kepalanya. Matanya tidak terlepas dari televisi yang menayangkan drama komedi. Sesekali suara tawanya ditahan karena dia merasa sungkan dengan Jeonghan yang habis menangis tadi.

"Sepertinya kau sudah sembuh," seru Jeonghan berdiri di depan Sehun.

" Ayo makan dulu, nanti kau bisa bebas menonton," lanjutnya yang melihat Sehun mengernyit karena dia menghalangi pandangan Sehun.

Sehun mendudukkan dirinya dan berdiri yang langsung ditarik Jeonghan ke dapur.

"Makan yang banyak ya," ucap Jeonghan yang duduk berhadapan dengan Sehun. Sehun hanya mengusap tengkuknya canggung dan tersenyum tipis. Setelah satu suapan telah melewati tahap pengecapan, Sehun sepertinya sudah tidak canggung lagi karena makan dengan sangat lahap. Jeonghan saja menatapnya geli.

" Aku menelepon Baekhyun dulu ya," ujar Jeonghan yang diangguki Sehun. Selagi Jeonghan menelepon Baekhyun, Sehun menghabiskan makanannya. Suhu tubuhnya sudah turun akibat makan sepertinya. Tidak lama setelah nasinya habis, Jeonghan kembali. Dia bilang sepupu Sehun akan menjemputnya kemari karena Baekhyun sudah memberi tahunya. Sehun hanya menggangguk sambil berjalan menuju wastafel.

" Kau ingin cuci piring?" Tanya Jeonghan. Sehun mengangguk lalu melanjutkan jalannya. Jeonghan mengikuti Sehun dan turut membantu.

Sehun menggosok piring dengan busa, Jeonghan membilasnya. Sesederhana itu sampai Jeonghan terpeleset dan jatuh ke pelukan Sehun–ini tidak disengaja. Sehun terdiam, begitu juga Jeonghan. Satu yang Jeonghan sadari saat itu, degup jantungnya bertambah bertatapan dengan Sehun yang sangat tampan itu. Tapi sayangngnya Sehun hanya mengerjap polos tanpa merasakan apa-apa kecuali canggung. Dan sedikit pegal karena Jeonghan diam saja.

Bersyukur bunyi bel menyadarkan Jeonghan. Ditariknya kedua kaki untuk menumpu beban tubuhnya. Berdiri sambil tersenyum canggung dan berkata,

" A-aku akan membuka pintunya..dulu," lalu melesat meninggalkan Sehun yang mengangkat bahunya acuh mengikuti langkahnya ke ruang depan.

Sehun sudah tahu jika kemungkinan besar yang datang adalah Kai. Tapi dia tidak tahu jika pria manis pujaannya juga ikut menjemputnya. Sehun tersenyum melihat Luhan, mengabaikan jika dia baru saja jatuh demam karena mengejar—sudahlah lupakan.

" Sepupuuuu!" Teriakan Kai menyurutkan senyumnya.

" Kau sakit ?" Tanya Kai menempelkan tangannya ke dahi Sehun. Yang ditempeli mengernyit sebelum tersipu melirik Luhan yang menatapnya sedikit cemas.

" Dia demam tadi, tapi sepertinya sudah menurun setelah bangun tidur," Kai mengangguk mendengar penjelasan Jeonghan. Sehun? Dia bahkan lupa ada pria itu di sini. Jahat memang.

" Begitu. Terima kasih Jeonghan-ssi, aku- maksudku kami akan pulang sekarang. Sekali lagi terima kasih dan maaf merepotkanmu," ujar Kai pamit sambil menarik Sehun yang terus diam tapi melirik Luhan sesekali. Jeonghan mengantar mereka sampai ke depan pintu sambil terus menatap Sehun.

" Bajumu aku akan kembalikan nanti," seru Sehun sadar kenapa Jeonghan melihatnya terus. Jeonghan kaget dan tersenyum canggung. Sebenarnya bukan itu maksudnya menatap Sehun.

Setelah berhasil duduk berdua di dalam mobil bersama Luhan, Kai menjadi supir sekarang. Luhan belum mengatakan sepatah kata pun pada Sehun. Sehun ingin menyapa lebih dulu tapi-

" Sehun,"

Sudah didului Luhan.

" Maaf sudah memintamu menemuiku hari ini. Aku tidak tahu jika kau tidak berada di rumah," Sehun tersenyum mendengar penuturan Luhan.

" Tidak apa, aku senang kau menghubungiku jika sedang ada masalah," balasnya. Luhan hanya tersenyum senang.

" Ngomong-ngomong kenapa kau menghubungiku tadi?" tanya Sehun.

Luhan menundukan kepalanya. Sehun yang melihat meringis sedikit.

" Maaf–"

" Aku dan Jinki sudah putus," potong Luhan. Sehun terbelalak,

" Lalu pria tadi?" gumamnya spontan. Luhan menatap Sehun bingung.

" Pria tadi?" Sehun menatap Luhan sambil menggaruk tengkuknya.

" Lupakan saja."

Luhan mengangguk seolah mengerti. Hening. Hanya sayup radio yang terdengar. Kai yang memang tidak suka suasana canggung mengeraskan volume radio. Tapi sepertinya itu malah membuat dua orang di belakangnya canggung. Sebenarnya Luhan tidak tahu apa penyebabnya, tapi...semenjak Sehun mengecupnya di Seoul Forest dia merasakan sesuatu ketika dia menatap Sehun. Lain Luhan, lain juga Sehun. Memang tidak ada yang aneh dengan lagu Akmu berjudul I Love You itu. Tapi Sehun serasa diejek untuk menyatakan cintanya sesegera mungkin.

Sehun mengalihkan pandangannya ke jendela menatap jalan serta lalu lalang. Sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya. Sehun memanggil Luhan agak keras karena lagu dari radio benar-benar kencang. Luhan menatap Sehun dengan kerjapan polos,

" I LOVE YOU OO SARANGHAE OOO SARANGHAE OOO!"

Bukan! Itu bukan Sehun. Itu suara sepupu hitam-coret-seksinya yang mengikuti alunan reff lagu Akmu. Sehun menggeram kesal sementara Luhan berjengit kaget. Dia pikir Sehun menyatakan cinta, sayangnya tidak.

Tidak mau idenya gagal, Sehun memanggil Luhan lagi. Tapi,

" I LOVE YOU OOO–"

" Sepupu keparat!" umpat Sehun. Dia mendengus mendengar Kai yang lagi-lagi meneriakan bagian reff tepat setelah dia memanggil Luhan. Luhan sendiri terkekeh melihat Sehun.

"Ada apa Sehun?" Tanyanya.

Sehun memandang Luhan dengan pandangan penuh arti. Berdehem pelan,

" Ikut aku bertemu eomma di Goyang."

Luhan terkejut. Kalimat Sehun seperti ingin memperkenalkannya dengan orang tua pemuda itu sebagai ehem seseorang yang penting. Kekasih misalnya?

Mengetahui kesalahan dalam kalimatnya, Sehun melanjutkan ucapannya dengan salah tingkah.

" M-maksudku, kau kan habis putus, jadi aku pikir kau butuh liburan. Eommaku punya toko jjajjangmyeon dan tteoppokki, jadi...yah...mungkin...kalau kau mau saja sih," putusnya dengan memalingkan wajah nya malu dan menggerutu tidak jelas karena kalimat anehnya. Luhan tersenyum simpul.

" Baiklah, aku ikut," ucapan Luhan membuat Sehun menatap pria mungil itu dengan cengiran lebar.

" Kai kita langsung ke Goyang!" Seru Sehun.

" Tapi Lu–"

" Keraskan volume radionya!" Potong Sehun. Kai meniup poninya kesal. Sepertinya dia baru sadar hanya menjadi supir sedari tadi.

Dan kemudian, alunan musik berbau cinta menyeruak dari radio mobil itu. Sehun terus menatap Luhan yang menaruh perhatian pada jendela di bagiannya. Mengusap pelan punggung tangan Luhan, Sehun bertatapan dengan netra coklat Luhan. Tersenyum membalas tanya yang tergambar di wajah Luhan, ditelusupkannya jari ke sela jemari pria manis itu. Mengeratkan genggaman yang dibalas senyuman juga oleh Luhan.

Ini awal dari cinta pertamanya, pikir Sehun. Dan dengan jatuhnya kepala lelap Luhan ke bahu lebarnya, Sehun tersenyum girang. Masa bodoh soal pria yang mengantar Luhan pulang dengan mobil Audi mahal yang menyipratkan air kepadanya tadi. Sehun akan menyatakan perasaannya sesegera mungkin. Kalau bisa sih saat Luhan bangun.

" Aku mencintaimu Lu."

Sayangnya Sehun masih gugup dan belum memiliki keberanian yang cukup. Jadi saat Luhan tidur dulu aja, ini pun sudah bersyukur. Anggap saja ini latihan, iyakan Sehun?

Sehun mengusap pelan pipi Luhan, mencoba membangunkan calon ehem kekasihnya hehehe. Amin.

Luhan mengerjap membiaskan cahaya ke matanya. Mengangkat kepala yang bersandar ria pada bahu Sehun.

" Maaf," gumamnya. Sehun tersenyum sambil berkata tidak apa. Mereka saling menatap, terpesona dengan iris yang ditatap. Mendekat...mendekat...dan,

" Kalian lam–oh! Maaf!"

Sepupu sialan! Dasar hitam! Tidak tahu situasi! Serius Sehun ingin menendang Kai yang tiba-tiba datang dan mengacaukan adegan ciumannya-jika berhasil-dengan Luhan di mobil.

Luhan merona dan keluar dari mobil Kai. Sehun mengikuti kemudian. Kai tertawa garing berjalan duluan tetapi mengaduh kesakitan karena ditendang Sehun. Luhan yang berada di samping Sehun hanya bisa melihat kedua sepupu itu sambil menahan tawa.

Hari sudah gelap dan jam menunjuk angka 8 dengan jarum pendeknya saat Sehun masuk ke dalam rumahnya dan di peluk erat ibunya.

" Kau kemana saja Sehun," ibunya itu memeluknya erat dengan hidung memerah. Sehun meringis ditatap oleh Luhan. Sebenarnya dia sedikit malu.

" Aku baik-baik saja, eomma tidak perlu sampai menangis seperti ini," Sehun paham dengan sikap ibunya ini. Semenjak Ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, ibunya semakin sensitif jika menyangkut anak-anaknya. Luhan menggaruk tengkuknya canggung. Dia sedikit menyesal ikut pergi ke Goyang jika begini. Tapi, ketika pria dengan mata bulat menatapnya seakan dia seorang artis, Luhan hanya bisa tersenyum.

" Kau...bukan pacar hyungku kan?" Tanyanya. Entah Luhan harus berterima kasih atau tidak, berkat pertanyaan pria itu Sehun dan seluruh orang di sana menatapnya. Luhan mengerjap melirik Sehun.

" Dia pacar mu?" Itu Ibunya Sehun. Bibinya, Kim Heechul memekik girang dengan Kai yang semakin dipeluk erat oleh ibunya itu.

" Eung...belum," ujar Sehun. Luhan menatap Sehun penuh tanya sementara Ibunya Sehun tersenyum.

" Sudah kuduga, tidak mungkin pria secantik dirimu mau dengan hyung ku yang jelek," ujar pria tadi. Sehun segera melepas pelukan ibunya dan mengejar Seungkwan yang pergi berlari. Kai entah sudah pergi kemana, mungkin tidur. Diakan sudah menyetir jauh.

" Siapa namamu nak?" Ibu Sehun bertanya melihat Luhan menunduk bingung.

" Nama saya Luhan," jawabnya.

Setelahnya, ketiga pria manis berbincang dengan camilan di ruang tengah. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang salah saat dia mengatakan siapa orang tuanya. Mungkin karena mereka tahu kalau orang tua Luhan itu pengusaha terkaya di Korea, pikirnya. Tapi saat Luhan menyebut nama ayahnya, Ibu dan bibi Sehun menatapnya sedikit terkejut. Luhan bingung sejujurnya, tapi beruntung Sehun muncul dan mengajak mandi. Tidak bersama tenang saja.

" Kau bisa gunakan baju ku," ujar Sehun. Luhan hanya mengangguk dan langsung masuk ke kamar mandi. Badannya sudah sangat lelah, setelah mandi dia pasti bisa langsung tidur. Melihat itu, Sehun keluar karena tidak ingin membuat Luhan tidak nyaman. Berniat ke dapur untuk minum, Sehun bertemu ibunya.

" Sehun."

Sehun tersenyum bergumam apa pada ibunya.

" Luhan itu pria yang kau ceritakan tempo hari, benar?" Sehun tertawa sambil mengangguk. Ibunya tersenyum lirih menghela nafas.

" Apa kau sangat mencintainya?"

" Tentu saja, kenapa memangnya ?" Tanyanya melihat perubahan ekspresi ibunya itu.

" Jika aku mengatakan ayah nya yang menabrak appa mu bagaimana?" Suara ibunya itu pelan. Terlampau pelan sampai Sehun memajukan tubuhnya dan mengernyitkan dahi.

" Apa maksud eomma?" Tanyanya dengan suara tercekat.

" Saat appa mu mengalami kecelakaan, dia sempat sadar saat dibawa ke rumah sakit. Dia bilang orang yang menabraknya itu salah satu pengusaha di Seoul. Sebelumnya aku tidak mengerti, tapi saat tuan Lu Hui datang di dua hari setelah pemakaman appa mu, aku mengetahui sesuatu. Dia yang membuat appa mu meninggal."

Sehun hanya terdiam menatap ibunya. Pikirannya kacau mengetahui fakta yang baru saja dia ketahui.

" Malam itu tuan Lu memberi aku uang, dia bilang maaf untuk tidak membawa appa mu secepatnya ke rumah sakit karena dia sedang diburu waktu. Aku menyaci makinya dan menyumpah serapah di depannya sambil melempari garam padanya. Tapi dia diam. Tuan terhormat itu diam, bahkan pengawalnya tidak berani menyentuh eomma," Isakan ibunya terdengar membuat Sehun memeluknya.

" Jangan menangis," ujar Sehun. Dia belum mengerti apa yang ingin dibicarakan ibunya itu.

" Kau boleh bersama Luhan karena dia anak yang baik, tuan Lu Hui juga baik, toko ini ada berkat dia. Tapi, bagaimanapun rasa kecewa masih ada di hati eomma, dan eomma tidak yakin dia menerima kita Sehun. Mereka memiliki kehidupan jauh tidak tersentuh di atas kita Sehun," ibunya melanjutkan ucapannya sambil tetap menangis. Sehun hanya tetap memeluk ibunya menutupi air mata yang menetes di wajahnya.

Menit berlalu hingga belasan, pelukan kedua ibu-anak itu terlepas. Sehun beranjak ke kamarnya setelah mendengar perintah ibunya. Pikirannya bercabang ke sana kemari. Ibunya tidak melarang dia bersama Luhan, itu bagus. Dia memang sedikit kesal pada ayah Luhan, tapi bukankah pria itu sudah menebus kesalahannya dengan membuatkan ibunya toko ini?

Pintu kamarnya dibuka, menampilkan Luhan yang sudah terlelap di kasurnya. Sehun mendekat menatap wajah Luhan yang tertidur pulas. Mulut yang sedikit terbuka tidak membuat pesona hilang sedikit pun.

Mengusap surai lembut Luhan, Sehun mengecup dahinya.

" Aku harus bagaimana Lu? Aku sudah sangat jatuh padamu," lirih Sehun.

Malam itu, Sehun tidur terduduk di pinggir kasur dengan menggenggam tangan Luhan.

TOB ECO NTI NUE