Halo, Author disini~
Pertama-tama, terima kasih sudah support fanfic ini ya~
Jadi, balas review dulu yuk~
Raihan Sayuko waah~ terima kasih sudah setia mengikuti HWA :") aqu senang huhu dan maafkan kalau smepat tersendat update-nya yaa huhu :"D masalah tamu kehormatan... hmmm~ siapa yaa~ jawabannya ada di chapter ini~ oh iya, terima kasih juga sudah review~
RosyMiranto18 liburanku sampai... sudah terjawab ya di efbe :3 /YHA
Sun Shangxiang: hmm... untuk OSIS... a-aku belum memikirkannya~ hehe
Sun Ce + Quan: *facepalm*
Sun Ce: oh, masalah quote Sun Ce 1990 yang Author katakan itu... diambil dari itu, lho, film yang lagi famous besrta meme-nya...? Umm.. D*lan 1990?
Yup, karena si D*lan ngomongin soal "rindu itu berat. biar aku saja"~ jadi begitu Sun Ce ngomong hal yang sama (rindunya diganti dokumen)~ POOF! Sun Ce 1990~
Sun Ce: *facepalm part 2*
Panggilan untuk Zhu Ran... mantan landak :(
Zhu Ran: ... nga.
Untuk tamu kehormatannya siapa, silahkan membaca chapter ini~ XD
Lu Xun: ... ah, terima kasih salam-salamnya *senyum*
*Author mati dulu*
Zhao Yun: OH BOLEH KOK, AKU ADA BANYAK, NIH.
Lu Xun: NGA-
Terima kasih sudah review ya~
Ayahina
Sun Quan: ... ga asik :(
Sun Ce: kafenya dekat sama sungai kok, sungai buatannya Zhou Yu karena Xiaoqiao lebih memilih panda-pandanya daripada dia.
Zhou Yu: NGA.
tamu kehormatan? terjawab di sini~
dan.. a-aku merem kok, merem setiap jam 2 pagi :( /YHA
terima kasih sudah me-review ;3
Okelah langsung saja, kepanjangan nih wkwkkwk~ yuk mari yang ingin tahu siapa tamu kehormatannya~
"Tolong lampionnya dipasang satu lagi sebelah sana, ya!"
"Bagaimana menu barunya, bos?"
"Hmm! Enak! Kalau begitu kita masukkan menu ini!"
"Terima kasih, bos!"
Pagi-pagi sekali, kapten tiap bagian dan anak buahnya sudah berkumpul untuk melakukan dekor dan tes menu untuk Chinese New Year yang tinggal beberapa hari lagi. Tidak hanya mereka, tetapi juga Sun Ce, Sun Quan, dan Sun Shangxiang. Bahkan Zhou Yu, Daqiao, dan Lianshi juga ikut hadir pagi itu.
"Lho? Xiaoqiao kemana?"
"Eh? Anu… Dia sibuk mengurus panda-pandanya…"
Mendengar jawaban Daqiao, Sun Ce dan Sun Quan sweat drop, sedangkan Zhou Yu sudah menangis dan mungkin sudah berpikiran bahwa Xiaoqiao lebih cinta pandanya.
"Tidak masalah, Daqiao. Kalau begitu, Daqiao tolong bantu Lu Xun, ya?"
"B-Baik, Sun Ce. Aku akan membantumu!"
Daqiao berlari ke arah Lu Xun dan timnya untuk ikut membantu.
"Lianshi, tolong bantu dapur, ya?"
"Baik, Sun Quan."
Begitu juga dengan Lianshi yang langsung membantu bagian dapur.
"Calon kita memang luar biasa, Quan…" Sun Ce menggelengkan kepala ketika melihat Daqiao membantu melakukan dekor.
"Hm. Harus." Sun Quan tersenyum puas.
"Hmm~ Tuan Liu Bei juga sedang bekerja keras mendirikan toko barang mahal ori~" Sun Shangxiang ikut membanggakan Liu Bei.
Sementara itu, Zhou Yu…
"C-Calonku juga… M-Merawat panda seperti… A-Anaknya sendiri…"
Zhou Yu berkata seperti itu sambil banjir air mata.
"Z-Zhou Yu?! Aku tidak bermaksud begitu, lho?!"
"T-Tidak masalah, Sun Ce… Aku baik-baik saja."
Air mata masih mengalir deras.
"H-Hentikan itu, Zhou Yu—"
"Lalu, Kak Quan, sudah ada informasi lanjutan dari si pengirim?"
Sun Quan menggeleng.
"Hmph… Siapa sebenarnya dia...?"
"Jangan khawatir, Shangxiang. Kita melakukan ini semua bukan demi menyenangkan tamu kehormatan saja. Ini untuk masyarakat juga."
"Kalau begitu, adikku Shangxiang, bisa tolong bantu dekorasi? Temani Daqiao. Biar aku, Quan, dan Zhou Yu yang urus hal lain."
"Oke, Kak Ce."
Pagi-pagi sudah kerja bakti.
Mengurus dekorasi.
Tes Menu.
Memikirkan langkah selanjutnya…
Sun Café benar-benar hidup saat itu.
"Umm… Sun Quan, kita kekurangan bahan untuk buat menu baru…" Lianshi menghampiri Sun Quan yang tengah melihat-lihat dekorasi yang telah terpasang.
"Eh? Kalau begitu… Kak Ce! Bahan untuk menu baru ada yang kurang!"
"Beli saja, Quan! Ambil uangnya di tempat biasanya!"
"Baik, baik!"
Sun Ce menghela nafas panjang.
"Sun Ce, kemarin aku sempat coba menghubungi guru-guru SMA Wu. Sepertinya tamu kehormatan yang dimaksud bukan berasal dari SMA Wu seperti yang duo Shu bilang padamu." Zhou Yu mendekati Sun Ce yang tengah duduk lesu sambil melihat penataan dekorasi café.
"Lalu, kalau bukan dari SMA Wu, dari mana, dong? SMA Shu? SMA Wei-Jin?"
"Hmm… Entahlah, aku tidak mendapat petunjuk sama sekali. Tapi tenang saja, Sun Ce. Seperti yang kamu katakan kemarin, kita melakukan ini bukan untuk tamu kehormatan saja, tetapi masyarakat. Chinese New Year akan tiba, sudah seharusnya kita merayakannya, bukan? Jangan diambil pusing."
"Walau aku sendiri yang mengatakannya, aku tidak bisa tidak pusing memikirkan hal itu."
Zhou Yu menatap Sun Ce yang berkali-kali memijat dahinya.
Tak lama kemudian, dekorasi selesai, begitu juga dengan kostum staff café yang menggunakan seragam serba merah dan bagian kepala dihiasi oleh berbagai aksesoris seperti topeng anjing bahkan telinga anjing.
"Kak Lu kalau pakai telinga anjing begitu lucu sekali, lho! Imut!"
"Eh, iya, Kak Lu imut banget! Aku yakin anak-anak cewek pada naksir nanti!"
"N-Nggak! Aku manly!"
Nggak, Lu Xun.
Sejak kapan kamu manly?
"Yo! Teman-teman, sudah saatnya membuka café, jangan lupa tentang apa yang sudah kalian buat sebelumnya. Pelayanan harus oke, masakan juga harus oke. Selamat bekerja~"
Café pun dibuka, tentu saja dengan suasana yang berbeda.
"Waah! Menu baru! Yuk kita coba!"
"Dekorasinya bagus! Eh, fotoin aku, dong!"
"Kyaa~ Kak Lu Xun imut banget~"
Bla bla bla…
Tanggapan positif menyerbu Sun Café yang kini dibuka dengan suasana Chinese New Year. Sun Ce yang melihat hal itu langsung lega karena tanggapan positif dari pelanggan café. Sun Ce merasa kalau hal ini sudah cukup untuk menyambut tamu kehormatan.
"Belum, belum cukup. Khusus tamu kehormatan, aku harus membuat sambutan yang lebih berkelas!" Sun Ce menampar kedua pipinya untuk membangkitkan semangat.
"Sun Ce, sebaiknya aku ke SMA dulu, ada jadwal mengajar sebentar lagi. Nanti aku kemari lagi."
"Ahaha! Oke, Zhou Yu! Terima kasih, ya!"
"Dengan senang hati."
Zhou Yu beranjak dari sofa kantor yang empuk dan segera pergi ke SMA Wu untuk mengajar.
"Ah, adikku, kamu tidak ada jadwal kuliah hari ini?"
"Hm? Oh, ada nanti siang."
"Kalau begitu lebih baik kamu siap-siap saja. Biar aku yang urus café!"
"O-Oh… Baiklah kalau itu mau Kak Ce. Kalau begitu aku siap-siap dulu."
Kini, tinggal Sun Ce yang masih bertahan di kantornya, duduk di kursi pak bos, menghadap dokumen-dokumen penting milik café, dan masih tersisa beberapa biskuit kemasan di atas meja kerja.
"Tamu kehormatan… Ya…?"
Sun Ce masih kepikiran soal siapa tamu kehormatan ini.
TOK! TOK!
"Masuk!"
Masuklah seorang laki-laki cantik yang kita kenal, Lu Xun.
"Oh? Ada apa Xunnie?"
"Kenapa semua jadi memanggilku Xunnie—Anu, begini, ini soal tamu kehormatan…"
"Hmm? Ada apa? Apa kamu punya gambaran?"
"Apa belum ada petunjuk soal siapa yang akan datang nanti?"
Sun Ce menghela nafas, "belum. Dihubungi pun tidak bisa. Aku heran, kenapa ada orang aneh yang melakukan hal seperti itu."
"Setahu saya, kalau memang akan kedatangan tamu kehormatan, orang itu pasti akan bilang detailnya, bukan? Ini supaya café bisa bekerja lebih keras dan lebih baik untuk menyenangkan hati tamu kehormatan. Bukannya malah dirahasiakan."
"Kau benar, Lu Xun. Tapi mau bagaimana lagi… Pasti ujung-ujungnya ini adalah keisengan seseorang…"
Lu Xun duduk terdiam, menatap seisi ruangan.
"Hmm… Tamu kehormatan yang tidak sopan…" Sun Ce bergumam sendiri.
"Ah, kalau begitu, saya permisi dulu."
"Oh, iya. Selamat bekerja lagi, Xunnie~ Yang semangat~"
Lu Xun tersenyum kecil, kemudian melangkah pergi keluar dari ruangan Sun Ce.
Lagi-lagi Sun Ce menghela nafas.
"Aduh… Terkutuk bagi siapapun yang mengirim pesan aneh itu—Huh?"
Sun Ce menatap layar laptopnya yang menyala.
Ada pemberitahuan e-mail masuk.
###
Sun Quan saat ini sedang berada di kampusnya, Universitas Wu. Terlihat Sun Quan tengah bersama dengan seorang laki-laki yang bisa dikatakan tingginya luar biasa tinggi. Penampilannya sangat mengerikan, setiap ia melihat ke arah seseorang, orang yang ia lihat akan langsung ketakutan. Yup, Zhou Tai, teman satu kampus Sun Quan yang memiliki wewenang untuk mengamankan kondisi kampus.
"… Tamu kehormatan…?"
Sun Quan mengangguk.
"Bukankah itu aneh, kalau memang ada tamu kehormatan, seharusnya diberitahu tamu itu siapa, agar café juga bisa berjalan dengan baik dan tamu kehormatan tidak akan kecewa!"
Zhou Tai mengangguk diam dengan tatapan seramnya.
"Menurutmu, aku harus bagaimana?"
"Perlu kubantu?"
"Ahahaha! T-Tidak usah, Zhou Tai. Cukup beri aku saran saja…"
Iya, kalau Zhou Tai ikut berada di café mungkin pelanggan sudah lari terbirit-birit.
"… Anggap saja dia orang yang sangat penting…"
"Ahahaha! Sedang kami lakukan. Tapi aku penasaran saja dengan tingkah orang ini, begitu."
"… Lupakan hal itu. Kalian harus tetap melakukan yang terbaik. Walau dia bukan tamu kehormatan yang pantas dihormati sekaligus…"
Sun Quan mengangguk, "kau benar… Ya. Oh, terima kasih sarannya, Zhou Tai! Aku harap aku bisa mengajakmu bicara lagi. Sekarang aku ada kelas, aku harus pergi. Terima kasih!"
Zhou Tai hanya terdiam, melihat Sun Quan beranjak dari kursi dan pergi ke kelasnya.
Sun Quan melangkah menuju kelas dengan langkah cepat. Ia harus segera sampai agar tidak terlambat. Hanya saja…
PIP! PIP!
"Siapa lagi ini meneleponku saat aku hendak ke kelas— Huh? Kak Ce? Adakah sesuatu?"
Sun Quan mengangkat telepon.
"Ha—"
"QUAN! K-KAMU SUDAH SELESAI KELAS?!"
"Belum, lah! Baru mau masuk kelas! Ada apa, Kak Ce?"
"Kalau sudah selesai bilang, ya! Jangan pulang ke café dulu kalau sudah selesai kelas! Beri tahu aku, aku akan telepon lagi! Daah, adikku!"
"Eh? Tung—"
TUUT TUUT TUUT
Kini Sun Quan gagal paham, apa yang telah terjadi di café?
Apa ada sesuatu yang janggal?
Atau ada hal apa yang membuat Sun Ce terlihat panik seperti itu?
Yang lebih penting lagi, Sun Quan, cepat ke kelas!
"A-Ah?! Sampai lupa, 'kan!"
Sun Quan berlari sekuat tenaga untuk segera sampai ke kelas saat itu.
Yang sedang terjadi sebenarnya adalah mengenai e-mail yang baru saja Sun Ce dapatkan lewat laptop kerjanya. Sebuah e-mail dari pertandingan boxing tingkat nasional. Ya, Sun Ce masih belum meninggalkan dunia boxing. Sun Ce juga terbiasa berlatih boxing ketika sedang ada waktu senggang dengan teman-teman boxingnya. Teman-temannya menganggap bahwa Sun Ce adalah orang yang luar biasa. Oleh karena itu…
Sun Ce terpilih masuk ke pertandingan boxing babak nasional.
"D-D-DAQIAOOOO! AKU HARUS BAGAIMANAAAA?! BERTEPATAN DENGAN KEDATANGAN TAMU KEHORMATAN, NIH!"
"S-Sun Ce, tenangkan pikiranmu! Tarik nafas, hembuskan! Jangan panik! Semua akan baik-baik saja!"
Daqiao menenangkan Sun Ce yang langsung mengikuti instruksi dari Daqiao.
"Masih ada adik-adikmu, bukan? Aku pikir semua akan baik-baik saja, kok. Ah, tenang saja! Aku juga akan ikut membantu, jadi semua akan baik-baik saja, Sun Ce!"
"U-Uhh… Iya, sih. Tapi aku ingin tahu siapa tamu kehormatan itu…"
"Kami juga akan memberitahumu nanti, iya 'kan, Lianshi?"
Daqiao menatap Lianshi yang saat itu menemani Daqiao melihat keadaan Sun Ce.
Lianshi mengangguk dengan senyum, "benar. Serahkan saja pada Sun Quan."
"Aaah~ Tidak seru… Setelah Quan selesai kuliah aku akan memberitahukan hal ini…"
"Tenang saja, pasti Sun Quan mengerti, kok."
PIP! PIP!
"H-Halo, Quan?!" Sun Ce langsung mengangkat teleponnya.
"… Aku sudah selesai kuliah, ada apa?"
"Lho? Bukannya aku baru saja meneleponmu sepulu menit yang lalu?"
"… Dosennya sakit mendadak."
Sun Ce tertawa.
"Kenapa malah tertawa begitu?! Katakan ada apa, Kak Ce!"
"Anu… Adikku, aku terpilih pertandingan boxing tingkat nasional. Waktunya… Tepat saat tamu kehormatan dijadwalkan datang."
Refleks, Sun Quan berteriak kencang di telepon, sampai-sampai Sun Ce harus menjauhkan telepon dari telinganya.
"M-Maaf, Kak Ce! Luar biasa! Tenang saja, biar aku yang urus! Saat itu memang tidak ada jadwal kuliah, kok! Jadi tenang saja!"
"B-Benar, nih? Kakak nggak bisa urus, lho?"
"Tenang saja. Aku juga akan mengkoordinasikannya dengan Lu Xun."
"Oh, oke. Kalau begitu cepatlah pulang."
Percapakan usai.
"Tuh, 'kan? Apa kataku."
"Iya, kamu benar, Daqiao. Duh, terima kasih ya! Maaf kalau aku terlalu panik tadi!"
Daqiao hanya mengangguk dengan tawa kecil.
###
Tak terasa kedatangan tamu kehormatan tinggal satu hari lagi dan hari ini adalah hari dimana seluruh masyarakat merayakan Chinese New Year. Karena peringatan tersebut, jadwal shift pun diubah, agar para staff dapat merayakannya bersama keluarga. Begitu juga dengan Sun Quan yang kini harus menggantikan Sun Ce untuk urusan café. Ya, Sun Ce saat ini sedang menjalankan pelatihan boxing. Tapi tenang saja, ada Daqiao dan Lianshi yang akan membantu sampai hari dimana tamu kehormatan datang berakhir.
"Kak Quan! Kak Quan!" Sun Shangxiang mendekati Sun Quan yang saat itu sedang mengamati pekerjaan staffnya dari depan pintu kantor.
"Ada apa, Shangxiang?"
"Angpau."
"… Harusnya kamu minta Kak Ce, bukan aku."
"Bercanda! Oh, iya. Aku tidak menyangka kalau café akan seramai ini? Kebanyakan dari mereka membawa keluarganya, 'kan?"
"Ya, mungkin mereka bosan merayakan di rumah, jadi mereka datang kemari…?"
"Lalu, besok adalah harinya, ya?"
Sun Quan terdiam ketika Sun Shangxiang mengingatkannya soal esok hari.
Tamu kehormatan akan datang…
"Shangxiang, sana bantu Lu Xun melayani pelanggan."
"Oke!"
Sun Quan menghela nafas.
Yang ada dipikirannya hanya tamu kehormatan dan tamu kehormatan.
"Aku harap besok tidak terjadi hal-hal aneh…"
"Tidak akan, Sun Quan."
Lianshi mendekati Sun Quan.
"O-Oh… Lianshi, sudah selesai dengan urusan dapurnya?"
"Aku agak lelah dan mereka membiarkanku untuk istirahat sebentar."
"… Maafkan aku, kamu jadi ikut ambil bagian di café."
"Tidak apa-apa, Sun Quan. Sudah menjadi tugasku untuk menolongmu, bukan?"
Sun Quan tertawa kecil, kemudian tersenyum.
"Kalau begitu, istirahatlah sejenak. Jangan terlalu memaksakan dirimu."
"Seharusnya aku yang bilang seperti itu."
Lianshi tersenyum, kemudian pergi untuk beristirahat di ruang khusus istirahat staff café.
Lianshi benar, seharusnya Sun Quan tidak usah terlalu memikirkan siapa tamu kehormatan yang akan datang.
"Ah, lupakan…"
###
Pada akhirnya, hari dimana tamu kehormatan pun tiba. Pagi-pagi sekali, staff yang bertugas pada shift pagi langsung berkumpul dengan Sun Quan dan yang lain untuk melakukan briefing pagi seperti biasa.
Dalam briefing, Sun Quan menjelaskan bahwa tamu kehormatan akan tiba di China pukul sepuluh pagi.
"Oleh karena itu, aku mohon kerjasama dari kalian. Pelayanan harus prima, masakan juga harus terjaga kebersihannya. Lalu dekorasi tolong dijaga baik-baik, kalau ada yang rusak segera ambil di ruang peristirahatan staff café untuk diganti yang baru."
Semua menganggukkan kepala dan menjawab dengan yakin.
"Kalau begitu, selamat bekerja!"
Café resmi dibuka pukul sembilan pagi, lebih cepat dari biasanya, karena tamu kehormatan akan tiba di China pada pukul sepuluh pagi.
Tak terasa pukul sepuluh pun tiba.
Tim pelayanan sudah siap sedia menyambut tamu kehormatan. Lu Xun dan Sun Shangxiang yang telah siap membukakan pintu dan menyambut tamu kehormatan. Begitu juga dengan bagian dapur yang sudah mempersiapkan menu terbaik mereka dengan bantuan Lianshi. Sun Quan dan Daqiao juga telah siap sedia menyambut tamu kehormatan.
PIP PIP!
Pesan baru muncul dari nomor tidak dikenal.
"Teman-teman! Tamu kehormatan akan datang menggunakan taksi dari bandara! Sebentar lagi akan sampai!"
DEG!
Seketika perasaan campur aduk.
Khawatir, panik, dan penasaran.
"Jangan panik! Jangan khawatir! Kita harus melakukannya dengan baik!"
Walaupun Sun Quan sempat berkata seperti itu, tetapi dalam hatinya juga demikian, merasa khawatir, panik, sekaligus penasaran.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan Sun Café. Semuanya langsung mempersiapkan diri, membenahi pakaian mereka, menghangatkan hidangan yang sebelumnya telah disiapkan, dan berusaha tampil sebaik mungkin.
Untuk Sun Café.
Lu Xun dan Sun Shangxiang langsung membukakan pintu café dan memberi salam.
"Selamat datang di Sun Café—Eh?"
Dua orang laki-laki memasuki café dengan menggunakan mantel tebal, syal, dan kacamata hitam. Seorang laki-laki dengan rambut hitam yang ditata rapih menggunakan gel dengan sedikit rambut yang tidak mau ikut ter-gel dan seorang lagi laki-laki dengan…
"Pfft—!"
Salah satu tamu kehormatan tertawa.
Semua yang melihat dua tamu kehormatan yang telah tiba di café ini terdiam karena bingung dan tidak menyangka siapa yang mereka lihat.
Begitu juga dengan Sun Quan yang sempat mempersiapkan diri berada di sebelah Lu Xun, harus terbelalak lebar, syok.
"Selamat pagi! Terima kasih atas sambutan meriah kalian~"
"Err… Apakah ini sedikit… Berlebihan…?"
Laki-laki dengan rambut rapih itu merasa tidak enak ketika melihat reaksi seluruh staff café.
"Tidak, Xu Sheng! Ini yang dinamakan surprise!"
Seorang laki-laki dengan rambut hitam yang agak berantakan itu melepas kacamata hitamnya, matanya langsung menatap Sun Quan dan Lu Xun yang masih terdiam dengan mata terbelalak, kemudian tersenyum.
"Hallo, wie geht's?"[1]
"Z-Z-ZHU RAAAAAAAAAAAAANNN?!"
[1] "Hallo, wie geht's?" itu artinya "Halo, apa kabar?", kurang lebih seperti itu. Sudah lama Author tidak menyentuh buku Bahasa Jerman.
Jadi, jawabannya adalah... TAA-DAA~ Selamat kepada Ayahina karena sudah menjawab dengan BENAR dan APA YANG DIRIMU MINTA TERNYATA MUNCUL JUGA.
HAHAHAHAHHAHAHAHAHHAHAHHAHAHAHHA!
HAHAHHAHAHHAA!
HAA-
Uhh...
Welcome to Here We Are, tamu kehormatan selain Zhu Ran~
Zhu Ran: KOK AKU NGGAK DISAMBUT
Kamu selalu kusambut dalam hatiku kok.
Lu Xun + Sun Quan: *facepalm*
Eh, eh, itu mas-mas rambut rapih tapi nggak rapih-rapih amat~ maksudku Xu Sheng, sini kenalan.
Xu Sheng: H-Hai...? Mohon kerjasamanya.
Jadi, jawabannya tamu kehormatan ada dua ya~ Zhu Ran dan Xu Sheng~ Welcome back to Ipeng si MANTAN LANDAK dan Xu Sheng~
Zhu Ran: MANTAN LANDAKNYA NGGAK USAH TEBAL-TEBAL.
So, sampai jumpa next chapter~ Review akan membuatku semakin semangat dan bahagia, lho~ *wink*
