Title :
星空のミステイク[Hoshizora no misuteiku]
(Kesalahan Bintang)
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Story :
©Rall Freecss
Cast :
Fem!Kuroko, GoM, etc
Pair :
AkaKuro,
Warning :
GaJe, Typo Everywhere, Fem!Kuroko,OOC, etc :v
Epilogue
"Ne, Akashi-kun." Akashi yang sedang fokus pada buku bacaannya itu menoleh sesaat,
"Apa?" matanya kembali fokus huruf-huruf yang berjajar pada setiap halaman buku itu. Kuroko memandang Akashi datar,
"Kiyo—nii—chan selalu melihat mataku ketika aku berbicara dengannya." Kata Kuroko, sebagai respon, sebuah perempatan muncul di dahi Akashi.
"Jangan seenak jidat membandingkanku dengan orang itu," balas Akashi, tangannya membalik halaman buku yang baru ia beli beberapa saat sebelum pesawat lepas landas itu.
Kuroko memandang keluar jendela, melihat hamparan awan di luar sana. Ya, saat ini mereka sedang berada di dalam pesawat tujuan Tokyo, Jepang.
"Kalau aku terjun dari sini apa yang terjadi?" gumam Kuroko, Akashi menghela nafas,
"Kepala mu tak terbentur apapunkan? Tetsura?" Gadis itu kembali menoleh pada pemilik bola mata dwiwarna itu.
"Tidak terbentur apapun," jawabnya,
"Kalau begitu kau ketularan penyakit melodramatis milik orang itu?" tanya Akashi lagi, Kuroko menenglengkan kepalanya.
"Apa ada penyakit melodramatis?" Kuroko balik bertanya, Akashi menutup buku yang ia baca. Meletakkan buku itu di pangkuannya.
"Jangan jawab pertayaanku dengan pertanyaan, Tetsura."
"Habisnya Akashi-kun menanyakan hal yang aneh." Ujar Kuroko,
"Oh, kau menyalahkanku begitu?" Aksashi menatap Kuroko tajam, seolah ia siap menerkam Kuroko kapanpun ia mau. Kuroko menghela nafas,
"Aku jadi ragu kalau Akashi-kun melakukan hal gila itu atas kemauan sendiri." Kuroko mendengus, "—pasti Momoi-san yang suruh."
Akashi melongo melihat Kuroko, ia terlihat seperti seorang istri yang sedang cemburu pada suaminya karena dekat dengan gadis lain. Tunggu suami? Kau ini menghayalnya ketinggian deh Akashi. Dan Kuroko tidak sedang cemburu karena kau dekat dengan orang lain!
"Itu kemauanku sendiri." Tukas Akashi, Kuroko kembali menatap Akashi dengan tatapan datar yang sangat datar dan hal itu cukup menyebalkan, pikir Akashi.
"Jangan lihat aku dengan tatapan seperti itu." Titah Akashi, Kuroko diam, ia tak mengindahkan perkataan—perintah Akashi barusan.
"Percayalah, itu kemauanku sendiri. Satsuki saja shock saat aku menceritakannya beberapa waktu yang lalu. Begitu pula si Ryouta berisik itu, ia tak henti-hentinya menjerit histeris ketika aku menelponnya."
"Benarkah?" Kuroko berusaha memastikan, Akashi mengangguk. Tangan kanannya mengacak surai aquamarine Kuroko.
"Apakah aku pernah berbohong?" ujar Akashi berusaha meyakinkan,
"Pernah," balas Kuroko datar, Akashi menelan ludah, oh, martabat Akashi Seijuro kini hancur berkeping-keping.
"Kapan?" tanya Akashi, "Mau aku sebutkan semuanya?" Akashi buru-buru menggeleng.
"Aku tak punya waktu untuk mendengarkan celotehmu, nona." Ucap Akashi. Kuroko mendengus,
"Lihat, Akashi-kun tidak berubah sama sekali. Akashi-kun pasti tidak benar-benar menyukaiku."
Akashi menepuk jidat, berusaha menyembunyikan perempatan yang ingin muncul di dahinya yang sudah berkerut itu. Sabar Akashi, sabar.
"Tetsura, apakah tindakanku datang menjemputmu seperti ini belum cukup untuk membuktikan cintaku padamu?" tanya Akashi. Kuroko mengangguk.
"Nona Muda, tau kah kau? Aku harus meninggalkan pertemuan dengan CEO penting hanya untuk menjemputmu di Amerika." Jelas Akashi, Kuroko terperangah,
"Belum lagi, aku harus berurusan dengan para orang tua itu nanti." Lanjutnya,
"Akashi-kun..." Akashi kembali mengacak surai aquamarine Kuroko,
"Sekarang kau percaya padaku kan? Tetsura, dewi ku?" Akashi masuk ke mode gombal, Kuroko mengangguk, Akashi tersenyum tipis. Ia mengecup dahi Kuroko.
"Nah sekarang duduk yang manis di sini dan jangan berisik. Aku harus menyelesaikan bacaanku." Akashi kembali membuka bukunya dan tenggelam pada bacaannya itu. Sementara Kuroko, memandangi Akashi dengan sebalnya.
"Akashi-kun ga asik" batin Kuroko.
" -Mou nai-, Sou kai? Sou kai."
"Kagamii!" Kiyoshi memeluk kouhai yang entah kenapa jadi lengket dengannya itu erat-erat. Jujur saja, ia masih tak bisa melepas gadis yang sangat berharga baginya itu.
Kagami menyodorkan tisu pada Senpainya itu, Kiyoshipun langsung menyeka cairan putih lengket yang keluar dari hidungnya. Oh, itu adalah tisu terakhir dari kotak ke-5 hari ini.
Jika anda melihat ke kanan, anda akan melihat sesuatu yang menakjubkan. Ya, segunung tisu bekas. Sejak mengatakan kalau hari ini akan hujan, Kiyoshi tak henti-hentinya menangis. Yah, karena tangisan itu sendiri adalah hujan yang dimaksud.
Konyol rasanya melihat seseorang yang dijuluki 'Jiwa Besi', malah menangis bombay seperti bayi yang dipisahkan dari dotnya seperti sekarang ini. Habis mau bagaimana lagi, ia baru saja dipisahkan dari gadis yang sangat ia cintai.
Tapi, untuk apa menangisi sesuatu yang kau lepas atas kemauanmu sendiri? Kalau memang tidak rela, kenapa diberikan? Beginilah jadinya kalau punya penyakit terlalu baik dari lahir. Susah sendirikan jadinya. Eh, mending kalau susahnya sendiri, ini malah menyeret-nyeret orang lain.
Kagami hanya bisa diam meratapi nasibnya ini. Menerima kenyataan, kalau ia harus menjadi boneka penenang pada sang Senpai yang sedang patah hati ini.
"Kiyoshi-senpai, kenapa harus aku? Kenapa tidak Hyuuga-senpai saja? Kalian akrab bukan?" Kagami akhirnya buka mulut, Kiyoshi mengusap kedua matanya dengan punggung tangan yang lebar itu. Tangisnya berhenti. Ia melepaskan pelukannya pada Kagami dan duduk dengan benar.
"Kalau aku sama Hyuuga, bisa-bisa air mataku tak berhenti selamanya, Kagami. Bahkan air mataku bisa-bisa berubah jadi darah." Jelas Kiyoshi. Kagami bergidik ngeri, ia baru ingat kalau kapten tim basket mereka itu memiliki kepribadian ganda. Ia langsung terbayang bagaimana nasib Kiyoshi jika memeluk Hyuuga dan menangis bombay seperti ini. Bisa-bisa, air mata yang keluar tidak bening lagi, melainkan merah, seperti yang dikatakan Kiyoshi.
"Huuh, kapan ya, aku bisa menemukan gadis secantik dewi Afrodit seperti Kuroko lagi." Gumam Kiyoshi sambil berpangku dagu.
Kagami mendesah, "Makanya, lain kali jangan pasrah begitu saja. Lakukan perlawanan dong! Kalau lemah begitu, bagaimana mau dapat dewi yang cantik."
Kiyoshi tertawa kecil mendengar nasihat dari sang kouhai itu. Yah, di saat seperti ini, memang berada di dekat pria dengan alis bercabang ini adalah pilihan yang terbaik. Di banding bersama Kapten berkacamata dengan kepribadian ganda itu. Nanti yang ada, bukannya di berikan kata-kata motivator, malah dibuat makin jleb. Bener gak?
"Lacrimosa, koko ni umarete ochita"
"Kurokocchi!/Tetsu-chan!" Kise dan Momoi berlari menuju Kuroko dengan lengan terbuka lebar. Bersiap memberikan gadis Aquarius itu pelukan hangat plus menyesakkan.
"Kise-kun, Momoi-san, tolong hentikan. Aku tidak bisa bernafas." Keluh Kuroko yang kini berada di dalam pelukan Kise dan Momoi.
"Tetsu-chan! Apakah Akashi-kun melukaimu?"
"Kurokocchi! Kau baik-baik saja kan!?"
Tak ada yang mendengarkan suara Kuroko, gadis berubuh mungil itu tetap terperangkap di dalam pelukan yang begitu menyesakkan itu.
CKRIS!
"Yang melukainya itu kalian." Suara sang empu terdengar, Kise dan Momoi buru-buru melepaskan pelukan maut mereka. Kuroko terbatuk-batuk karena penapasannya sempat terhambat beberapa saat yang lalu.
"Jadi, kenapa kalian ada di sini?" tanya Akashi sambil menatap para rekannya [baca : budak] berdiri berjajar di depan masionnya, dengan tatapan medusa.
"Tentu saja menyambut kedatangan kalian berdua ssu!"
Akashi menatap Kise tajam, yang ditatappun langsung bungkam.
"Tenanglah Akashi, kami tidak akan berkumpul disini jika si pirang itu tak memaksa kami untuk datang, nanodayo." Jelas Midorima sambil memperbaiki letak kacamatanya yang jarang-jarang melorot itu.
"Jadi, kau dalang dari semua ini, Ryouta?" tanya Akashi sambil memainkan gunting keramatnya itu. Mebuat Kise langsung gemetar di tempat, ia hanya bisa mengumpat dalam hati atas pengaduan Midorima pada Akashi barusan.
"Midorimacchi hidoi ssu!" umpatnya, Akashi mulai memainkan guntingnya. Kise menelan ludahnya, mempersiapkan diri untuk bertemu sang Kakek di surga.
"Beristirahatlah dengan tenang, Ryou—"
"Akachin, mau maiubo?" tawar Murasakibara. Tunggu, bayi raksasa itu tak cukup bodoh untuk tidak sadar atas situasi saat inikan? Lantas, kenapa malah menawari Akashi maiubo seperti itu? Dia sudah tidak sayang nyawa atau ingin menyelamatkan si pirang berisik itu? Yang mana?
Akashi memandangi Murasakibara dengan tatapan aneh. Ia menepuk dahinya dan menghela nafas berat. Ia menggeleng,
"Tidak, aku tidak butuh Atsushi." Tolak Akashi. Gunting yang harusnya merebut nyawa Kise itu kembali ke saku Akashi. Eh? Apakah ini artinya Kise selamat?
Sungguh, saat ini Kise merasa melihat sepasang sayap malaikat melekat di punggung Murasakibara. Mungkin setelah ini Kise harus mengajak Murasakibara makan somen sebagai ucapan terimakasih karena telah menyelamatkan nyawanya.
"Tetsu-chan! Apakah Akashi-kun melakukan sesuatu padamu?" tanya Momoi, Kuroko menggeleng, ia memegangi perutnya.
"Eh? Ada apa? Tetsu-chan?" Momoi menenglengkan kepalanya,
"Ah, tidak aku hanya merasakan perutku sakit." Jawab Kuroko, Momoi menempelkan telinganya pada perut Kuroko. Tiba-tiba, iris pink itu membulat dan langsung menatap Akashi tajam.
"Akashi-kun..." Suasana tiba-tiba saja menjadi mencekam, ditambah desiran angin yang menerbangkan beberapa helai daun.
"Kau akan menjadi ayah!" seru Momoi sambil mengacungkan jempolnya. Hening.
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?"
"Cho—Akashi! Apa yang kau lakukan pada Tetsu!?"
"Kurokocchi akan punya anak ssu!? Secepat ini ssu!?"
"Kurochin jadi ibu, nanti aku ajak adik bayinya makan bersama boleh?"
"A-aku tidak bisa percaya hal ini. Ini terlalu cepat bagi kalian, nanodayo!"
Semuanya heboh sendiri, sementara Momoi cengar-cengir sendiri menghadapi death glare dari Kuroko dan Akashi.
"Aho! Bagaimana bisa kalian mempercayainya begitu saja!?" Akashi menodong para anak buahnya yang kebodohannya tak ketulungan itu, bahkan bagi seorang Midorima.
"Momoi-san, bercandamu sangat tidak lucu." Kata Kuroko datar, Momoi mulai cengengesan tak jelas. "TeeHee~" ia memukul kepalanya sendiri sambil menjulurkan lidahnya, pasang pose tak bersalah.
"HEEE!? Bohong/ssu!?"
Kise dan Aomine kembali berteriak heboh. Sementara Murasakibara dan Midorima mengangguk-angguk pelan.
"Sebuah kebohongan kah? Astaga, bagaimana bisa aku tertipu, nanodayo." Midorima menepuk dahinya. Sementara Murasakibara, tetap fokus pada maiubonya.
Lelah berdiri di luar, mereka memutuskan untuk mengobrol di dalam mansion Akashi. Mereka duduk melingkar di ruang tengah bangunan besar itu.
"Tertnyata kau begitu romantis, Akashi!" Aomine mengacungkan jempol pada Akashi, setelah mendengarkan kisah perjuangan Akashi membawa Kuroko pulang.
"Tentu saja," ujar Akashi dengan angkuhnya, ia melipat kedua tangannya di depan dada dan mengangkat dagunya tinggi-tinggi.
"Romantis apanya ssu?! Justru si Kiyoshi itu yang romantis!" tanggap Kise, disambut oleh anggukan antusias Momoi.
Akashi mengangkat alisnya sebelah, "Bilang apa barusan?"
Aura hitam pekat langsung mengelilingi Akashi, Kise buru-buru menggeleng kuat, ia tak ingin kehilangan nyawanya di usia semuda ini. Apalgi ia masih punya banyak hutang. Siapa yang mau membayarkan hutang-hutangnya kalau dia mati nanti? Dasar, model kere.
"Jadi, Tetsu-chan, apakah Ibumu tau kalau kau sudah kembali ke Jepang bersama si psikopat itu." Ups, Momoi keceplosan. Dengan kecepatan kilat, sebuah gunting melesat melewati pipi Momoi. Untung tak tergores, kalau sampai tergores, sia-sia sudah perawatan wajah yang Momoi jalani bersama Kise selama ini.
"Siapa yang kau maksud psikopat huh!?" tanya Akashi, Momoi buru-buru menggeleng,
"Tidak, tidak, itu tadi keceplosan." Jawab Momoi, seribu perempatan memenuhi dahi Akashi.
"Apa kat—"
"Jadi, apakah ibumu tau?" potong Momoi cepat, ia tak memberikan Akashi kesempatan untuk melanjutkan kalimatnya.
Kuroko menggaruk dagunya. Benar juga, Kuroko belum mengabari sang Ibu jika ia pulang ke Jepang dan membatalkan pertunangan dengan Kiyoshi.
"Tidak, Mama tidak tau." Hening,
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?"
Kuroko menutup kedua telinganya, begitu pula Akashi. Lagi-lagi suasana menjadi gaduh,
"Tetsu-chan!? Apakah kau ingin membuat keluarga Akashi dan Keluarga Kuroko berperang!?"
"Kau pulang ke Jepang tanpa memberi tahukan ibumu!? Apa yang kau pikirkan, Tetsu!?"
"Kita bisa di tuntut atas tuduhan membawa lari anak orang ssu!"
"Kalian ini!? Kemana hilangnya akal sehat kalian, nanodayo!?"
"Akachin menculik anak orang."
CKRIS! CKRIS!
"Tak bisakah kalian diam, dasar tak berguna!?" hardik Akasi. Semuanya langsung mingkem, diam tak bersuara. Mereka tak ingin hari itu menjadi hari terakhir mereka.
Tiba-tiba ponsel Kuroko berdering, panggilan masuk. Kurokopun menjawabnya.
"Moshi-moshi, Mama?"
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?"
Para rekan [baca : budak] Akashi (minus Kuroko) langsung panik kembali. Mereka lari ke sana kemari seolah gelombang Tsunami akan menerjang mereka. Tunggu, kenapa mereka yang panik? Bukankah yang harusnya panik itu Kuroko?
"TET-CHAN!? Apa yang kau lakukan di Jepang!? Pulang bersama anak itu!?"
"Mama.. dengarkan—"
"Mama tidak habis pikir!? Kenapa kamu tetap mempertahankan pemuda seperti dia huh!? Apakah Teppei yang merupakan teman semasa kecilmu itu tidak cukup?"
"Tapi, Mama, dengarkan—"
"Tetsura, kepala mu tidak terbentur sesuatukan!?"
"MAMA! DENGARKAN AKU!"
Suasana kembali hening, uh—oh, Kuroko marah rupanya. Untuk pertama kalinya ia berteriak seperti itu, apakah ia seemosi itu?
Akashi menyeringai, ia menarik ponsel yang menempel di telinga Kuroko menuju genggagamannya.
"Biar aku yang urus." Ucap Akashi sambil tersenyum kecil pada Kuroko,
" Moshi-moshi 'Mama'? Lama tak mendengar suara anda. Kebetulan ada sesuatu yang ingin Sei bicarakan."
Akashi berjalan menuju ruangan sebelah, meninggalkan sisa-sisa kekelaman yang ada. Semuanya menatap Akashi horor. Mendengar suara lembut Akashi yang di buat-buat itu membuat bulu kuduk mereka (minus Kuroko) berdiri.
Beberapa menit berlalu, Akashi kembali dengan wajah berseri-seri yang terlihat begitu menakutkan. Ia memberikan ponsel biru itu kepada sang empu.
"Syukurlah, sepertinya kita akan segera mendapatkan anak, Tetsura." Ucap Akashi sambil tersenyum lebar, tidak, menyeringai mungkin. Kuroko bergidik, Akashi mengecup dahi Kuroko.
Kise, Aomine, Murasakibara, Momoi, dan tentunya Midorima berusaha mencerna kalimat Akashi barusan.
Loading 15% to 100%
Loading 40% to 100%
Loading 60% to 100%
Loading 85% to 100%
Loading 97% to 100%
Loading Complete.
"HEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE!?"
"Respon kalian lamban," kata Akashi sambil merangkul leher Kuroko. Ia membenamkan kepalanya pada perpotongan leher Kuroko.
Tentu saja, melihat hal itu. Para anak buah Akashi yang selalu berpikiran pendek itu semakin panik dan heboh saja. Melihat hal itu Kuroko terkekeh, lamban laun, kekehan itu berubah menjadi tawa yang jarang-jarang di perlihatkan oleh Kuroko.
"Kurokocchi tertawa ssu!"
"Kau tidak apa-apakan Tetsu?"
"Apakah kepalamu terbentur sesuatu, nanodayo?"
"Tetsu-chan? Kau sehat-sehat saja kan?"
"Kurochin salah makan apa?"
"Tetsura? Apakah kau sebahagia itu akan menjadi pengantinku sampai tertawa lepas begitu?" Akashi menurunkan lengannya menuju pinggul Kuroko. Memeluknya erat, dari belakang.
"Hoi! Jangan bermesraan di sini!" seru cowok gangguro itu, di sambut dengan anggukan Kise. Dasar jomblo, bisanya iri aja sama pasangan lain.
"Oh, kau memerintahku, Daiki? Ryouta?" Gunting keramat Akashi menyelinap keluar dari tempatnya. Keringat dingin langsung membasahi tubuh Kise dan Aomine. Sepertinya, sebentar lagi ruangan ini akan bersimbah darah. Benar tidak?
"Astaga, aku tidak tau harus berterimakasih pada siapa, atau berterimakasih dengan cara apa. Di anugerahi teman-teman yang menyenangkan seperti mereka dan pasangan unik seperti Akashi. Ah, mungkin aku harus berterimakasih pada para bintang di langit. Arigatou, sudah mengabulkan permohonanku. Aku sangat bahagia. Aku senang karena bisa selalu berada di dalam pelukannya yang hangat. Walaupun kadang ia menyebalkan, aku benar-benar bahagia. Arigatou, hontouni arigatou. Aku harap kebahagiaan ini tak akan berakhir."
"Arigatou, Hoshizora-san."
Ohoho, epiloguenya selesai~ Makasih atas Storyboardnya Shizuka Miyuki-senpai~ semoga ini sesuai harapan ya :3
Nah, Readers tachi, gimana? Apakah epilogue ini bisa memuaskan mata anda sekalian. Saya harap bisa ya. Karena di tangan saya, story board yang harusnya bagus banget ini malah jadi benda absurd begini. Yah, maklumi saja. Mengubah benda menjadi absurd itu keahlian saya /plak/
Okeh, sekali lagi makasih yaa uda mau membaca benda ambigu ini :3 Selamat menunggu sequelnya~ (emang ada yang mau baca?) /huss
Last, mind to review? /di sepak/
Jaa ne~ :DD
