a/n : Oke, sebenarnya saya ingin menyudahi fic ini. Banyak alasan basi yang akan saya keluarkan karena chapter 9 saya umumkan The End padahal janjinya sampai chapter 10. Typo, juga chapter yang kebanyakan membuat saya memutuskan untuk menamatkan chapternya menjadi 9 chapter saja. Rasanya pengen jedotin jidat ngeliat banyak typo di fic Nonaku Hinata. Pas mo benerin jadi ngerasa mual sendiri. Akhirnya terbengkalai. Hehehehe…
Tapi dipikir lagi akhirnya lanjutin aja deh, nanggung, nanggung jawab maksudnya.
Desclaimer : Masashi Kishimoto
Warning : Typo/Gaje/dll,
NONAKU HINATA
.
.
.
Chapter 10
.
.
.
Last Chapter
.
.
.
Kicawan burung-burung terdengar mengalun lembut ditelinga. Ini adalah awal musim semi, burung-burung sudah mulai kembali bersarang disela-sela ranting pohon. Kuncup-kuncup bunga sakura mulai menampakkan dirinya. Udara sudah mulai sedikit lebih hangat dipagi hari. Yah… ini adalah waktu yang tepat untuk suatu kehidupan baru.
Kita lihat bagaimana sebuah babak baru dari kehidupan pangeran tidur yang memulai kehidupan barunya dipagi hari yang cerah.
Sinar matahari merembes masuk melalui jendela kaca berbentuk kurva. Perlahan-lahan sinarnya merayap masuk menerangi ruangan yang bisa kita katakan jauh dari kesan rapih. Ceceran baju tergeletak tak berdaya di lantai. Membentuk jejak-jejak dari sebuah kejadian dimalam sebelumnya. Dimulai dari depan lemari es kecil yang masih terbuka, berjalan terus sampai menuju sofa biru yang ada disisi kanan ruangan.
Terlihat dua orang anak manusia sedang tertidur pulas di sofa panjang sambil saling mengeratkan diri dengan yang lainnya. Hanya selembar selimut bulu berwarna coklat yang mereka pakai untuk menutupi keadaan mereka yang polos layaknya bayi yang baru saja terlahir ke dunia.
"Emm,"
Erangan lembut terdengar dari seorang wanita berambut indigo panjang. Jemari kecilnya merayap, meraba alas dimana ia tidur. Hangat, itu yang dirasakannya. Perlahan wanita itu mengerjapkan mata menatap kagum dengan pemandangan di bawahnya. Seorang pria dengan wajah tampan nan mengaggumkan bagaikan malaikat yang turun dari langit.
Yah, malaikat turun dari langit.
Turun dari langit…
Turun dari langit…
Dari langit…
Langit…
Wanita itu mengerjapkan matanya tidak percaya. Tersentak, ia langsung bangun dari tidurnya dan,
"Ahg!" Pekiknya, menyadari tubuh kecilnya terguling jatuh dari sofa dengan posisi bottom yang langsung menyentuh lantai. Rasanya sakit sekali, terbukti dari pinggangnya yang terasa terus berdenyut-denyut nyeri.
'Apa yang terjadi?' Batin si wanita dalam hati. Semua tubuhnya terasa remuk. Hangover yang terjadi malah semakin memperburuk keadaannya.
Merasa terganggu, seorang pria yang bersamanya perlahan mengerang pelan diikuti dengan kelopak matanya yang perlahan membuka. Si wanita yang tersadar cepat-cepat mengambil asal baju yang ada di dekatnya, memakainya untuk menutupi tubuh polosnya yang penuh dengan kissmark.
Si pria memposisikan tubuhnya menjadi setengah terduduk sebelum tersadar sepenuhnya ada seorang wanita dilantai yang sibuk memakai baju untuk menutupi tubuhnya yang polos. Perlahan seringai si pria muncul. Tubuhnya ia condongkan mendekati si wanita yang sedang memunggunginya. Tangan kanannya meraih dagu si wanita mendorongnya pelan kesamping agar ia bisa memberikan ciuman selamat paginya.
"Selamat pagi." Ujarnya sambil tersenyum atau lebih tepatnya menyeringai dalam kemenangan.
Si wanita terkaku sesaat. "Pa-pagi." Jawabnya tanpa sadar.
…
"Hah!"
Hinata tersentak dari tidurnya dengan bulir keringat sebesar biji jagung yang membasahi kening. Deru nafasnya perlahan berhenti ketika pandangannya perlahan menjadi jelas. Foto keluarganya tergantung di dinding menandakan dia ada di rumahnya. Yah, di rumah.
Merasa malu juga syok karena dia melakukan hal bodoh dua hari yang lalu dengan tidur bersama majikannya membuatnya merasa dirinya benar-benar tidak berguna. Apa yang harus dikatakannya pada orang tuanya yang sudah tidak ada, Neji, lalu Hanabi. Apa jadinya kalau ia hamil. Mungkin saja ia tidak akan hamil kalau saja Sasuke pakai pengaman. Apa mungkin Sasuke pakai pengaman?
Perlahan senyum Hinata mengembang. Ia pikir Sasuke adalah seorang cassanova yang memiliki pergaulan bebas yang pastinya menyimpan hal seperti 'itu' menghindarinya dari tanggung jawab kepada puluhan wanita yang mungkin saja ia taburkan benihnya. Bisa sajakan Sasuke memakai pengaman tetapi kalau tidak?
Yah, kalau tidak…
Kalau tidak…
Kalau ti…
Hah, rasanya Hinata ingin menangis. Hanya satu cara untuk tahu apa Uchiha itu pakai pengaman atau tidak.
Hinata menggelengkan kepalanya dengan wajah memerah.
Ah, Hinatakan terlalu malu untuk mengatakan, 'Kemarin, kau pakai pengaman tidak?'. Sumpah, ini yang pertama kali. Ingat pun tidak sama sekali, yang ia tahu ia bangun dengan polos di atas tubuh Sasuke dengan badan pegal. Bodohnya lagi, seperti orang gila ia menjawab sapaan selamat pagi dari majikannya itu.
Hinata tertawa miris. Otaknya bekerja membuat sebuah teori gembel, berfikir ia tidak akan hamil karena ia baru melakukannya sekali dan tidak sengaja jadi tidak mungkin ia hamil. Benar-benar teori yang berkesan tidak nyambung dan dipaksakan.
Seminggu yang lalu, ia kabur dari mansion tidak peduli Si Uchiha berteriak padanya untuk pulang dan bertanggung jawab lewat telefon dan mungkin ini yang terakhir. Ultimatum agar ia pulang dari jangka waktu 24 jam kalau tidak ia akan menelfon Neji jam dua belas siang nanti. Hah, rasanya ia ingin membenturkan kepalanya ke dinding melihat sekarang sudah jam delapan pagi.
Batin Hinata terus bergejolak memilih pulang kemansion atau tidak. Ia pulang, setiap hari harus menanggung malu bertemu dengan orang itu. Ia tidak pulang, semua akan dibeberkan pada Neji. Ibarat kata orang Indonesia, semua ini bagai buah simalakama. Maju kena, mundur kena. Pilihan yang sulit.
…
Naruto kembali menghembuskan nafasnya, bosan. Sejak saat itu, ia terus bergelut dengan selimutnya. Masih teringat jelas kilasan-kilasan kejadian saat itu, saat dirinya memergoki tunangannya sedang bersama sahabatnya. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Ia terlalu naïf ketika berharap perasaan tumbuh seiring berjalannya waktu. Sekarang beginilah dia, menyesali keputusannya yang menggebu-gebu untuk cepat-cepat mengikat janji suci dengan seorang wanita yang jelas-jelas ia sadari tidak mencintainya dan tetap saja ia menutup mata untuk kenyataan pahit itu. Kembali ia menghembuskan nafas.
Dilihatnya foto yang mereka bertiga, dia, Sakura, dan Sasuke. Kenangan yang indah. Seulas senyum teruntai manis di wajahnya.
"Naruto!" Panggilan lembut membuyarkan lamunanya. Ia berbalik, melihat seseorang wanita yang sedang berdiri diambang pintu, menatapnya dengan raut wajah penyesalan.
Naruto tersenyum, "Ada apa?"
Hanya dengan dua kalimat itu bisa membuat wanita tersebut tidak dapat menahan air matanya. Ia menangis.
"Kau masih terlihat manis walau sedang menangis." Sebuah cengiran khas diberikan oleh Naruto.
Wanita itu menggit bibirnya kemudian berjalan mendekati Naruto. Sebuah hantaman keras yang diberikan wanita itu dikepala Naruto, sukses membuat Naruto langsung terhempas diranjang.
"BAKA!" Lelehan air mata semakin deras mengalir di wajah Si wanita.
"Ah… Pukulanmu memang hebat, Sakura." Dua jempol diacungkan oleh Naruto sambil meringis kesakitan dengan benjolan dikepala.
"Kenapa kau bodoh. Aku kan mabuk!" Sakura berteriak sambil menangis. Perlahan ia naik keatas ranjang dan langsung memeluk Naruto sambil menangis sesegukan. "Maaf, jangan tinggalkan aku yah," Ujarnya sambil terisak.
Naruto membelai lembut kepala Sakura, "Aku di sini."
…
"Sudah pulang, Nona." Sindir Sasuke yang melihat Hinata mengendap masuk ke mansion lewat pintu belakang layaknya seorang pencuri. Hinata tersentak kaget melihat Sasuke yang tidak biasanya ada di pintu belakang padahal sebelumnya Hinata sudah susah payah memutar dan berakhir di taman sakura yang ada di belakang mansion tetapi ujung-ujungnya ketemu juga. Lagi pula apa Sasuke tidak bekerja?
"Maaf," Ujarnya sambil menunduk dalam.
"Berani sekali kau meninggalkan tanggung jawabmu." Cibir Sasuke.
"Maaf," Sekali lagi Hinata menunduk dalam. Ia mengeluarkan amplop coklat berisikan dua ratus juta yang pernah diberikan oleh Neji untuknya. "Ini, tolong terima uang dua ratus juta ini. Mulai sekarang aku sudah tidak punya hutang padamu lagi."
Sasuke mengendus kesal, tidak mengerti dengan tingkah Hinata. Dua ratus juta adalah hal kecil untuknya. Dia tidak butuh uang itu. Apalagi setelah kejadian hari itu. Entah kenapa dia selalu bertanya, terbuat dari apa otak Hyuuga satu ini? Begitu naïf atau bodoh?
Neji saja jelas-jelas tahu dia ingin sesuatu dari Hinata. Terbukti dari cara Neji yang tanpa ragu menolak kesempatan emas berbisnis dengannya di tengah krisis global yang terjadi hanya karena tidak ingin mengorbankan Hyuuga yang satu ini.
"Kau pikir 200 juta cukup? Harga uang semakin lama semakin menurun. Kau pikir 200 juta yang kemarin sama dengan 200 juta yang sekarang, heh?" Tanya si Uchiha ketus.
"Selama ini akukan bekerja tidak beri gaji. Apa belum cukup?" Hinata memelas.
"Makan dan tidur." Ujar si Uchiha mencari-cari alasan.
Kembali Hinata tertunduk lesu. "Jadi berapa kurangnya?"
"Banyak!"
"Berapa?"
"Pokoknya banyak!" Sasuke tetep kekeh menjawab pertanyaan Hinata dengan jawaban yang absurb. "Jangan membantah!"
Hinata mengembungkan pipinya, merajuk. "Sebenarnya apa sih mau mu?" Ia mengacungkan jarinya dengan tidak sopan menunjuk-nunjuk batang hidung Sasuke. "Jangan-jangan kau suka padaku yah, jadi tidak ingin melepasku!" Ujarnya dengan rasa percaya diri entah dari mana. Sepertinya Hyuuga Sulung ini sudah stess jadi mengucapkannya dengan blak-blakan.
Sementara Sasuke, ia syok. Hinatanya bersikap diluar dugaannya. Berfikir Hinata akan menunjukkan sikap tertindas seperti biasanya ternyata yang terjadi membuatnya jantungnya seakan berhenti berdenyut dan darahnya mulai naik merambat ke wajah. Sumpah, sebenarnya Sasuke malu. Malu mengingat kejadian malam itu walaupun bukan yang pertama untuknya tetapi tetap saja rasanya kaya dreams come true. Yah, dia juga laki-laki. Berlatar kehidupan jet set, hal ini bukanlah hal tabu untuknya. Kalau diingat lagi walaupun dia merasa bersalah memanfaatkan Hinata yang sedang mabuk, sungguh ia sangat menikmatinya. "Apa? Jangan mimpi!" Ujar Sasuke ketus, berusaha menyembunyikan perasaannya yang berteriak-teriak, 'Nikahi aku, Hinata!'.
Hinata tambah cemberut rasanya ingin menangis mengetahui dia tidak dianggap seperti kekasih-kekasihnya yang lain. Rasanya Hinata ingin gantung diri mengingat ia tanpa sadar berharap sedikit beruntung dari wanita yang lainnya. "Kau! Dasar laki-laki berengsek! Padahal –hiks- aku pikir kau orang baik!" Ujar Hinata menangis tanpa sadar sambil berusaha memukuli Sasuke dengan tasnya.
"Hei, jadi maumu apa!" Sekarang Sasuke berbalik bertanya, berharap jawabannya sesuai harapan. Heh, untuk kali ini Uchiha ini terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaanya setelah semua yang ia lakukan yang berujung drama picisan anak SMU.
"Beri aku tunjangan!"
What! Sasuke bengong. Seketika tikungan muncul diurat dahinya. Ia mendecak, menepis dengan kasar tangan Hinata yang terus saja memukuli tubuhnya. Hinata tersontak kaget melihat perubahan sorot mata Sasuke yang berubah menjadi lebih tajam dan gelap membuat tubuhnya tanpa sadar gemetar.
"Aku muak padamu!" Ujar Sasuke penuh penekanan. Beberapa saat kemudian, tangan Hinata ditarik dan diseret keluar mansion.
…
"Bagaimana?" Tanya seorang wanita bersurai merah jambu dengan antusias memamerkan gaun putihnya pada pria bule yang sedang duduk didepannya sambil memasang senyum kecil yang dipaksakan. Menyadari hal itu, Si wanita duduk disebelah sang pria sambil menggenggap tangannya.
"Aku rasa, pernikahan itu terlalu terburu-buru." Ujar sang pria, Naruto, sambil tertunduk lesu memandangi marmer di bawahnya. Seketika Si wanita langsung membelalakkan matanya.
"Ma-maksudmu?" Ujar si wanita, Sakura, dengan nada suara sedikit bergetar. Sungguh, ia takut jika ternyata yang baru saja ia sadari hal ini yang selalu ia inginkan, ternyata akan berakhir karena tindakan bodohnya hampir dua bulan yang lalu.
"Ini terlalu cepat…" Naruto memberanikan diri menatap wajah syok calon istrinya. "…kau tahu, kita masih muda. Pernikahan ini sebaiknya kita –"
"Batalkan, begitu?" Sakura melepaskan genggaman tangannya. Berganti ia yang kini memandangi marmer yang ada di bawahnya. Ia sadah ia memang bodoh, masih saja memendam perasaan semunya pada pria yang sama sekali tidak ia butuhkan.
"Sakura," panggil lirih Naruto memastikan wanita yang ada disebelahnya baik-baik saja.
"Kau bilang, kau mau menerimaku apa adanya. Kau bilang, lupakan masa lalu dan kembali memulai dari awal. Kau juga bilang, kau mencintaiku. Tetapi sekarang…" Sakura menyeka genangan air matanya. "…kau berniat membatalkan pernikahan kita."
"Aku tidak begitu. Kita tidak membatalkannya hanya menu –"
"Sampai kapan! Setahun, dua tahun, tiga tahun!" Sakura berteriak mengabaikan suranya mungkin akan didengar oleh para pegawai tempatnya memesan gaun pengantin.
"Sampai kita siap."
"Aku atau kau? Aku memang salah, Naruto. Bukan dia yang selalu ada di sampingku tetapi kau. Perlahan tanpa aku sadari aku tergantung padamu tetapi semua percuma. Ketika aku sadar aku sudah mencintaimu, kau malah ingin mundur." Sakura berusaha tabah walaupun pada kenyataanya sulit sekali melakukan hal itu.
"Apa kau mencintaiku?"
"Kenapa bertanya! Tentu saja, bodoh!"
Seukir senyum tulus terpatri diwajah Naruto. Entah bagaimana menggambarkannya. Satu hal yang ia tahu, sekarang cintanya tidak lagi bertepuk sebelah tangan. "Maaf yah," ujarnya sambil memeluk calon pengantinnya.
…
Mentari bersinar menerangi sebuah perhelatan suci dimana sepasang manusia sedang mengucapkan ikrar sakral pernikahan di altar dengan disaksikan oleh ratusan mata yang mengabadikan momen indah tersebut. Bunyi koor khas upacara pernikahan sudah tidak lagi terdengar digantikan dengan ucapan pendeta yang menuntun kedua anak adam untuk mengucapkan janji setia mereka. Sepasang pengantin saling tersenyum malu melihat wajah mereka bersemu merah seusai sesi memberikan sebuah ciuman setelah pengucapan ikrar mereka. Riuh tepuk tangan para tamu undangan seakan merayakan momen berharga ini dimana julukan sebagai nyonya Uzumaki sudah ada yang menempati. Yah, ini adalah pernikahan pasangan Uzumaki Naruto dan Uzumaki Sakura. Kebahagiaan terpancar jelas pada semua tamu undangan terkecuali kedua orang ini, yang saling memperhatikan dari jarak mereka yang terbilang jauh.
Seorang wanita bersurai indogo panjang sedang melirik takut dari stand makanan pada seorang pria bersurai raven yang sedang duduk angkuh di bangku paling depan yang menatapnya dengan tatapan diam sejuta makna yang mengerikan. Si wanita berusaha mengatur nafasnya yang putus-putus sambil menyantap salad buah yang dilidahnya entah kenapa sangat pahit.
"Hinata!" Panggil seorang pria bersurai coklat panjang dengan bola mata yang identik dengannya. Orang itu, Neji, sepupunya. Hinata, gadis itu, tersenyum lembut sambil menghampiri sepupunya. "Niisan, Hanabi di mana?"
"Dia masih di Hongkong. Bagaimana kabarmu? Apa dia memperlakukanmu dengan buruk?"
"Dia sangat lembut padaku." Ujar Hinata sambil tersenyum.
"Syukurlah." Neji menghembuskan nafas lega sambil mengelus kepala Hinata. "Sebentar lagi aku akan ke Hongkong. Aku akan menelfonmu sesering mungkin."
"Hai!"
"Sampaikan salamku pada suamimu."
Hinata mengangguk, lalu melambaikan tangan mengiringi kepergihan sepupunya itu yang semakin menjauh. Kembali ia memfocuskan diri pada acara pernikahan pasangan Uzumaki yang sekarang sedang melakukan sesi pelemparan bunga. Ia menghembuskan nafasnya, lelah. Sebenarnya ia sedikit iri dengan perayaan pernikahan ini, pernikahan yang tertutup dari kamera. Tidak seperti pernikahannya –sama sekali tidak ada gaun putih pernikahan beserta alunan music indah yang mengiringi pernikahannya– yang ada hanya mantel tebal yang dibeli dengan diskon beserta alunan bising dari keyboard. Yah, dia hanya menikah secara hukum dicatatan sipil yang besoknya terjadi keributan, dimana Neji membawa katana berniat membunuh suaminya.
Tidak ada hal romantic, dimana sang pria berlutut memberikannya cincin berlian. Oke, untuk berlian itu memang ada dan sekarang tersemat dijari manisnya. Hinata tanpa sadar tertawa mengingat kenapa ia bisa menikah, menikahi seseorang yang mungkin tidak pernah terbesit dipikirannya. Karena takut dengan pandangan mata orang itu yang menusuk, akhirnya ia menandatangani formulir pernikahannya dan menanggalkan Hyuuga, berganti menyandang nama Uchiha di depan namanya. Yah, ia menikahi Uchiha itu yang sekarang sedang berjalan kearahnya sambil melepas jas kemudian memasangkannya pada Hinata.
"Jangan bertingkah. Kau masih flu, kenapa memaksakan diri."
"Hanya flu," Ujar Hinata tidak mau kalah. Sasuke mengendus, kesal. Ia menangkup wajah Hinata dengan kedua tangannya.
"Matamu masih berair." Perlahan Sasuke mengarahkan bibirnya mencium kelopak mata Hinata secara bergantian. "Hidungmu juga." Sekarang ciumannya beralih pada hidung Hinata yang memerah. "Yang ini hukuman tidak mendengarkan perkataanku." Untuk yang terakhir, Sasuke melumat bibir mungil Hinata tanpa mengindahkan semua pasang mata yang cengo menatap mereka berdua.
"Ch, yang punya acara siapa sih?"
"Sasuke dengan si cupu Hyuuga?"
"Apa aku mimpi? Mimpi buruk?"
"Tidak mungkin!"
Begitulah, timbul berbagai macam komentar yang pastinya kebanyakan tidak setuju tetapi siapa yang peduli?
Walaupun pernikahan Hinata bukanlah salah satunya yang sempurna, bukan berarti ia tidak bahagia. Satu hal yang Hinata sesali, kenapa harus sekarang Sakura memberikan surat cintanya dari Uchiha Sasuke dan membeberkan kalau Uchiha itu cinta mati padanya sejak senior high school. Kalau saja Hinata tahu hal itu sejak senior high school, mungkin saja Hinata bisa mendapatkan kenangan masa remaja yang menyenangkan. Dan satu lagi, sepertinya Hinata harus memikirkan cara menghukum sang Uchiha karena orang itu sengaja menipunya dengan menggunakan account Miko-chan sebagai teman dunia mayanya. 'Cih, pengecut.'
Hah, rasanya Hinata ingin sekali berterima kasih pada Haruno Sakura.
…
Neji melangkahkan kakinya menapaki lantai bandara sambil melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang. Ia menyelipkan rokok disela-sela bibirnya dan segera ia menyalakan pematik apinya sebelum sebuah suara mengintrupsi kegiatannya.
"Apa kau tidak membaca tulisan dilarang merokok disini, heh!" Seorang wanita berambut pirang yang dikuncir empat dengan sinis bertolak pinggang sambil menunjuk papan 'no smoking' yang tertempel di kaca bandara. "Kenapa pria suka sekali merokok yah." Ujarnya ketus sambil berjalan mendekati Neji.
Neji hanya mengendus tidak suka. "Jangan mengikuti terus!" Ujar Neji malas yang berkesan mengusir.
"Ch, apa ini sambutan untuk wanita yang meninggalkan pertunangannya karenamu, heh! Sungguh sambutan yang hangat."
Neji hanya memandangi sekilas, kemudian acuh dan berjalan terus meninggalkan Si wanita.
"Dasar Mr. Jaim," gumam si wanita sambil mengikuti langkah Neji.
The End
A/N: Semoga tidak mengecewakan. Semoga feelnya ga pecah, karena setengah fic ini saya tulis dengan rentang waktu yang jauh sekali. Sekian.
Kritik dan saran silakan klik tombol review.
Ucapan terima kasih
Akdifta, edwelmahima, haru, rika nanami, Fujisawa Yukito, GoodNight, Yuuaja, kuronekomaru, , OraRi HinaRa, Mystogan darkness, harnaru chan muach, metatromagi, atacchan, violetEyes-wizard, YamanakaemO, LA2, uchihyuu nagisa, HIzuka Miryuki, ulva-chan,minatsuki heartnet, mery chan, Yuiki Nagi-chan, Anna Just Reader,Mimi love, keiko-buu89, kimidori Hana,Ma Simba, Ai HinataLawliet,Hyou Hyouichiffer, Yumi michiyo, penelopi, Himeka Kyousuke, anak ayam, Lawliet cute, , Mamizu mei, dan kamu yang udah baca sampai saat ini.
Thank you!
