Title : Primrose
Author : chickenKID and dinodeer
Cast :
• Luhan
• EXO – Sehun
Support Cast : Wu Yifan, Krystal (F(x)), Minhyuk (CN Blue), Suho (EXO), Lay (EXO), Chanyeol (EXO), Baekhyun (EXO), Chen (EXO), Kyungsoo (EXO), Lee Jinki/ONEw (SHINee), Key (SHINee), Jonghyun (SHINee), Taemin (SHINee), Kai (EXO, Jiyeon (T-Ara) dan cast akan bertambah seiring berjalannya waktu.
Pair : HunHan-ChanBaek
Genre : Fantasy, Romance and Friendship
Rated : T
Length : Chaptered
Previous Chapter :
'Lepaskan aku bodoh' batin Luhan. Kemudian ia mulai memberontak, namun sayang tenaga Sehun sangat besar hingga seincipun ia tak dapat melepaskan tangan Sehun di kedua lengannya. Wajah Luhan sudah memerah, ini pertama kalinya ada yang melakukan hal itu padanya hingga.
"Mph" terdengar lenguhan dari mulut Luhan. Luhan perlahan mulai menghentikan sikap memberontaknya. Pikirannya kini mulai melayang antara sadar atau tidak sadar, namun ia mulai diam sekarang.
DEG DEG DEG
Dadanya kini mulai berdetak tidak karuan. Ia merasa mungkin ini hanya mimpi, tapi lumatan bibir Sehun pada bibirnya sangat terasa nyata.
"Baiklah Luhan, mulai sekarang aku tak hanya menganggapmu sebagai masterku" Luhan kembali mengingat perkataan Sehun.
'Hei Sehun-ah apa maksudmu melakukan ini padaku?' batin Luhan lagi.
Primrose
Chapter 10
Sehun masih mencium Luhan, dengan masih menutup matanya Sehun mencumbu bibir Luhan.
"Engh" Luhan melenguh kembali. Kepalanya berputar-putar sekarang. Entahlah kenapa ia merasa seperti itu. Ini memang pertama kalinya ada yang melakukan hal itu kepadanya. Ini pertama kalinya ada yang menciumnya seperti itu kepadanya. Sialnya itu adalah Sehun, Opast yang katanya sudah mempunyai ikatan perjanjian dengannya. Tapi Luhan sama sekali tak merasa jijik dengan apa yang tengah dilakukan Sehun kepadanya sekarang ini.
Luhan tak tahu setelah ini akan bagaimana jadinya hubungan dirinya dengan Sehun. Namun kenapa sekarang ia malah mulai menikmati ciuman itu? Sedangkan Sehun kini mulai melepaskan tangannya di kedua lengan Luhan. Ia menyimpan satu tangannya di wajah Luhan, sedangkan tangan yang satu lagi ia gunakan untuk menahan berat tubuhnya agar tak menindih Luhan.
"Emh Eng" lenguhan kembali terdengar dari mulut Luhan. Yah, mungkin sekarang Luhan mulai menikmati ciuman Sehun. Hormon kelaki-lakiannya memang tak dapat berbohong, ia kini laki-laki dan ia tak dapat menolak semua itu. Tangan Luhan yang sudah di lepas Sehun dengan perlahan beralih ke arah leher Sehun. Kemudian ia kalungkan kedua tangannya pada leher Sehun. ia biarkan Sehun terus mencumbu bibirnya. Dan Luhan sudah membalas ciuman Sehun sebisanya sejak tadi. Luhan sudah tidak tahu lagi apa yang tengah di lakukannya sekarang, yang ia tahu ia harus memenuhi hasrat yang kini tengah membuncah di dalam dirinya.
Napas Luhan mulai tak teratur, ia kini membutuhkan banyak oksigen. Sehun merasakan tubuh Luhan yang kini mulai bergetar, kemudian Sehun melepaskan ciumannya. Wajah Luhan memerah saat ini. Napasnya terengah-engah dengan sedikit saliva mengalir dari sudut bibirnya. Keadaan Luhan lumayan kacau saat ini. Sehun hanya tersenyum kemudian mengusap saliva yang tadi mengalir dari sudut bibir Luhan.
"Aigoo, pertama kalikah?" tanya Sehun. Luhan mendengus sebal.
"Kenapa kau lakukan itu padaku?" tanya Luhan. Ia menatap Sehun yang kini masih berada di atasnya dengan satu lengan menahan tubuhnya agar tak menindih Luhan. Sehun hanya terdiam tak menanggapi ucapan Luhan. Kemudian Sehun menyeringai.
"Ah sepertinya aku harus pergi sekarang" ujar Sehun. ia beranjak dari posisi menindih Luhan, kemudian pergi meninggalkan Luhan yang masih terbaring di ranjangnya.
'Apa itu? Dia tak menjelaskannya? Oh Sehun sialan!' batin Luhan. Sedangkan Sehun hanya terkekeh mendengar kata hati Luhan. Saat ia membuka pintu kamar Luhan ia terkaget melihat Krystal tengah terdiam di sana. Wajah Krystal merah padam, dan ia membulatkan matanya saat melihat Sehun tiba-tiba keluar dari kamar Luhan.
"Ha-hai Sehun" ujar Krystal tergagap. Sehun langsung menutup pintu kamar Luhan. Menghadap Krystal yang tengah tergugup di sana.
"Kau mengintip kami?" tanya Sehun menaikkan sebelah alisnya.
"Ti-tidak, aku tidak mengintip, aku bahkan tidak tahu kalau kalian tadi berciuman" jawab Krystal. Sehun hanya terdiam memandang Krystal. Krystal langsung tersadar dengan ucapannya.
"Aa-h bukan itu maksudku. Aku ke sini hanya untuk memanggil Luhan, dia di panggil oleh Suho Oppa" jawab Krystal lagi. Wajahnya masih memerah sekarang.
"Terserahlah" ujar Sehun kemudian ia melangkah pergi meninggalkan Luhan.
Krystal menghela napasnya. Kemudian ia segera membuka pintu kamar Luhan.
"Ho, akhirnya kau akan menjelaskan- eh Krystal?" Luhan terbangun dari posisi terbaringnya saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia kira itu Sehun, tapi ternyata dugaannya salah. Di sana terlihat Krystal tengah menatapnya sambil tersenyum-senyum.
"Kau kenapa?" tanya Luhan.
"Luhannie~" ujar Krystal. Ia langsung berlari berhambur medmeluk Luhan.
"Krystal" ujar Luhan kaget.
"Apa ia sudah mengatakannya?" tanya Krystal masih sambil memeluk Luhan.
"Mengatakan? Apa?" tanya Luhan.
"Aigoo, kau tak usah malu-malu begitu. Tadi aku mendengar kau melenguh di kamar ini" ujar Krystal melepas pelukannya dan menyikut lengan Luhan dengan wajah sedikit memerah.
"Ka-kau? Mendengarnya?" tanya Luhan. Krystal mengangguk.
"Kau tak usah malu padaku. Aku siap mendengarkan ceritamu Luhan. Jadi apakah Sehun sudah mengatakannya?" tanya Krystal lagi.
"Mengatakan apa? Ia sama sekali tak menjelaskan apapun padaku. Bahkan setelah me-menci ah maksudku setelah melakukan itu ia tak mengatakan apapun" ujar Luhan, wajahnya sedikit memerah ketika mengingat ciuman yang Sehun berikan padanya.
"Aigoo, si Ohorat itu masih saja lamban" gerutu Krystal.
"Eh ngomong-ngomong kenapa ada apa kau kembali lagi ke sini? Ah apa jangan-jangan sejak tadi kau tak pernah pergi dari depan pintu kamarku?" ujar Luhan.
"Ti-tidak, aku bukan tukang intip. Lagipula tadi aku benar-benar pergi. Namun Suho Oppa menyuruhku memanggilmu untuk menghadap padanya. Tapi saat aku baru saja akan membuka pintu terdengar suara aneh di dalam hingga membuatku tak jadi membuka pintu kamarmu" ujar Krystal.
"Suho Oppa memanggilku?" tanya Luhan. Krystal mengangguk.
"Temui dia sekarang" ujar Krystal.
_Hun for Han_
Suho's side
Suho sedang berendam di dalam air suci. Ini memang sesuatu yang harus ia lakukan ketika bulan merah tiba. Berendam di dalam air suci. Suho sedikit mengerang saat ia merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
"Kau tidak apa-apa Suho-nim?" Lay tiba-tiba datang menghampiri Suho.
"Lay, aku tak tahu kapan rutinitasku akan berakhir. Aku-aargght" Suho kembali mengerang ketika sesuatu dalam tubuhnya memaksa untuk keluar. Lay langsung menghampiri Suho. Ia mengambil gayung dan mengambil air suci yang tengah merendam Suho. Ia kemudian menumpahkan air itu pada kepala Suho. Ia terus menerus melakukan itu hingga sesuatu dalam tubuh Suho mulai tenang.
"Rutinitasmu ini akan berakhir jika perang telah usai Suho-nim" ujar Lay. Ia seperti tengah memandikan Suho sekarang ini.
"Ne, dan sebelum perang berakhir tolong jangan pergi dari sisiku Lay. Hanya kau yang tahu kondisiku. Dan jangan beritahukan yang lain tentang kondisiku ini" ujar Suho.
"Ne, aku mengerti Suho-nim" jawab Lay.
"Terimakasih Lay, terimakasih" lirih Suho.
Tok-tok-tok
Terdengar suara ketukan dari luar.
"Suho-nim, Luhan ingin menemui anda" suara cempreng milik Chen terdengar dari luar.
"Aku mengerti, sebentar lagi aku akan menemui dia. Suruh Luhan untuk menunggu" ujar Suho. Lay langsung membawa handuk Suho dan menyerahkannya. Suho menerimanya kemudian keluar dari kolam yang berisi air suci. Ia mengeringkan tubuhnya. Lay membawakan pakaian untuk Suho, kemudian Suho memakainya.
"Aku akan mengatakan semuanya pada Luhan Lay, do'akan aku semoga Luhan tak apa-apa" ujar Suho. Lay mengangguk.
"Jaga diri anda Suho-nim, aku selalu mendo'akan kebaikanmu" ujar Lay. Suho tersenyum.
"Terimakasih" Ujar Suho, kemudian ia keluar dari ruangannya. Menemui Luhan yang kini tengah menunggunya.
"Hyung" ujar Luhan menghampiri Suho.
"Kita berbicara sambil berjalan-jalan di halaman mansion ini sebentar" ujar Suho. Luhan mengangguk kemudian mengikuti langkah Suho.
Suho dan Luhan kini tengah berjalan di halaman mansion. Sepanjang perjalanan Suho masih belum juga mengeluarkan suaranya. Luhan terlihat gelisah sekarang karena Suho tak juga mengeluarkan suaranya.
"Anu Suho Hyung, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Luhan. Suho sedikit menegang saat Luhan bertanya padanya.
Langkahnya terhenti sekarang, menyebabkan Luhan ikut menghentikan langkahnya. Kini mereka tengah berada di taman yang ada di halaman mansion milik Suho.
"Luhan, aku harap kau tidak akan marah setelah aku mengatakannya" ujar Suho. Luhan mengerutkan keningnya bingung.
"Semoga kau mengerti kenapa aku melakukan ini" Lanjut Suho lagi. Luhan hanya terdiam mendengarkan. Entah kenapa kini hatinya berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Sebenarnya aku berbohong saat aku mengatakan aku adalah kakakmu" ujar Suho, Luhan membulatkan matanya.
"Maafkan aku, awalnya kupikir dengan begitu kau mau ikut denganku" ujar Suho.
"Maafkan aku yang telah memanfaatkan keadaanmu yang ada di panti asuhan saat itu. Kupikir dengan membuatmu berpikir aku adalah keluargamu satu-satunya kau akan dengan mudah ikut denganku. Maaf jika aku mengatakan kebohongan ini padamu" ujar Suho. Luhan terdiam kembali, ia menundukkan kepalanya.
"Jadi kau bukan saudara kandungku?" tanya Luhan. Suho berbalik menghadap Luhan.
"Jadi aku memang tak punya keluarga?" tanya Luhan lagi. Suaranya bergetar menahan tangis yang bisa saja keluar jika Luhan mau.
"Maafkan aku, aku tak menyangka bahwa ternyata reinkarnasi Kris itu malah menjadi kakakmu di panti asuhan" ujar Suho.
"Kris dan aku adalah teman lama" ujar Suho. Luhan langsung mengangkat kepalanya menatap Suho. Luhan ingat Chanyeol mengatakan bahwa Kris adalah penyebab terjadinya perang di mulai. Tapi kenapa Suho mengatakan bahwa Kris adalah teman lamanya?
"Apa maksudmu?" tanya Luhan. Suho menghela napas sejenak.
"Aku akan menceritakannya, bagaimana perang ini berawal" ujar Suho. Dan entah mengapa Luhan kini tengah menelan ludahnya mendengar perkataan Suho.
Flashback
Kris tengah memandang sebuah pohon yang berada di depan rumah besar keluarga Lessieona. Pohon itu tak pernah ditumbuhi bunga, padahal pohon-pohon di sekitarnya adalah jenis pohon yang sama. Entah mengapa hanya pohon ini saja yang tidak pernah ditumbuhi bunga.
"Kau senang sekali memandangi pohon itu" Suho menghampiri Kris yang tengah berdiam diri di depan pohon tidak berbunga itu.
"Kau tahu, aku sangat tertarik pada pohon ini. Kurasa pohon ini berbeda. Ia memiliki keunikan tersendiri" jawab Kris.
Kris dan Suho tinggal bersama di rumah keluarga besar Lessieona. Mereka telah berteman dekat sejak kecil karena di besarkan bersama. Kini umur mereka sudah menginjak 21 tahun.
"Selamat siang Suho-nim" sapa beberapa pelayan di rumah itu.
"Siang, kalian tidak menyapa Kris juga?" tanya Suho. Mereka semua langsung terdiam.
"Sudahlah, lagipula aku tak butuh sapaan mereka" ujar Kris. Kemudian ia pergi meninggalkan para pelayan itu. Suho langsung mengejarnya.
"Kau ini kenapa sih?" tanya Suho.
"Kau tahu Suho, kenapa aku sangat menyukai pohon itu?" tanya Kris. Suho mengerutkan keningnya bingung.
"Karena pohon itu mirip sepertiku. Aku berbeda dengan manusia-manusia yang berada di rumah ini" jawab Suho.
"Apa yang kau katakan? Kau ini Lessiona sama sepertiku. Kau ini keluarga Lessiona, kau ini termasuk ke dalam keluarga besar Lessiona" ujar Suho.
"Kuharap mereka semua juga menganggapku seperti itu Suho, tapi mungkin hanya kau yang menganggapku begitu"
"Kris-"
"Kau tak usah mengkhawatirkanku, aku tak apa-apa" perkataan Suho di potong oleh Kris.
"Aku sedang ingin sendirian, jangan cari aku!" ujar Kris. Kemudian ia meninggalkan Suho yang hanya menatap punggungnya.
Kris adalah anak dari seorang Opast dan Lessiona. Ayahnya adalah seorang Opast sedangkan Ibunya adalah seorang Lesseona. Ayahnya meninggal karena hukuman dari keluarga Opast. Jelas saja hubungan mereka adalah hubungan terlarang. Sedangkan keluarga Ibunya memaafkan Ibunya dan tidak memberinya hukuman. Namun Ibunya meninggal saat ia melahirkan Kris. Jelas saja, Kris mempunyai darah seorang Opast. Ia mempunyai kekuatan yang hebat karena teraliri darah Opast dan Lessieona. Karena itulah Ibunya mati saat melahirkannya. Karena tenaganya terkuras habis saat melahirkannya. Maka dari itu ia di besarkan dalam keluarga Lessieona. Namun statusnya yang mempunyai keturunan Opast membuatnya sedikit diperlakukan tidak baik oleh keluarganya. Sering sekali Kris mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan Lessieona yang lain. Satu-satunya teman yang selalu setia berada di sampingnya adalah Suho. Kris bersyukur ia masih memiliki seorang teman.
Suatu hari ada seorang Lessieona yang mati tebunuh. Dan itu adalah ulah para Zeust. Suho yang kala itu sudah dewasa dan di berikan kepercayaan untuk memimpin para Lessieona di bantu oleh Kris pun merasa harus membereskan masalah itu. Walaupun Zeust dan Lessieona bermusuhan namun para leluhur mereka membuat perjanjian untuk tidak saling menyerang. Dan membatasi wilayahnya masing-masing. Namun karena ada seorang Lessie yang diserang di daerah mereka, Suho tak bisa tinggal diam. Ia pun menyiapkan pasukannya untuk membalas serangan Zeust.
"Kris, kau di sini jaga yang lain. Aku harap kau melindungi semuanya, aku dan pasukanku akan pergi ke luar pelindung dan membalas serangan Zeust" ujar Suho. Kris mengangguk mengerti.
"Urusan di sini, kuserahkan padamu Kris" ujar Suho.
"Aku mengerti" jawab Kris. Kemudian Suho keluar dengan menggunakan phoenix peliharaannya, yang berubah menjadi burung berukuran besar. Sedangkan yang lain menunggangi kuda.
"Semuanya. Bersiap jika ada serangan di sini. Aku akan menghadapi lebih dulu jika mereka menyerang rumah kita" ujar Kris. Semua pandangan tertuju padanya.
"Kenapa kami harus menurut padamu yang jelas-jelas mempunyai darah Opast di dalam tubuhmu?" seseorang berbicara. Kris langsung menoleh melihat orang itu.
"Ssst, kau tak boleh berbicara seperti itu. Kris-nim adalah orang yang dipercaya oleh Suho-nim. Kita harus menurutinya" seseorang berujar.
"Aku tidak mau menuruti perintahnya. Kenapa dia yang di tugaskan di sini? Lebih baik kita dilindungi oleh darah Lessieona murni seperti Suho-nim" ujar seseorang lagi. Kemudian suasana mulai riuh menyebutkan namanya. Kris terdiam mendengar semua pembicaraan Lessieona-Lessieona di sana serta para pelayan di sana. Tangannya sudah terkepal erat menahan amarah.
"Padahal aku benar-benar tulus melindungi kalian, sayang aku tak bisa memenuhi permintahan Suho sekarang"ujar Kris. Ia menyeringai.
Suho side
Sudah sejauh ini ia dan pasukannya keluar dari rumah besar para Lessieona namun tak ada satu pun tanda-tanda Zeust datang.
Suho merasa janggal akan keadaan itu. Pasalnya ia menyangka bahwa ia dan pasukannya akan menemukan banyak Zeust dari jenis apapun itu dan bertarung melawan mereka. Namun dugaannya salah besar saat kini bahkan tak ada satu Zeust pun yang terlihat.
"Suho-nim, ada apa ini?" tanya salah satu pasukan Suho.
"Aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Kalau begini lebih baik kita kembali saja" ujar Suho. Semua pasukan mengangguk sebelum kemudian mengikuti Suho untuk kembali. Namun apa yang Suho lihat selanjutnya membuat dadanya bergemuruh seketika. Tubuhnya tiba-tiba bergetar saat ia sampai di rumah para Lessieona.
"A-ada a-pa i-ini?A-apa yang te-telah terjadi?" salah satu pasukan Suho membulatkan matanya bertanya dengan terbata-bata. Suho tak dapat menjawab pertanyaan salah satu pasukannya itu karena ia juga tak tahu apa yang telah terjadi. Suho turun dari Phoenix miliknya. Rumah para Lessieona itu telah runtuh namun belum rata dengan tanah. Hanya terdapat beberapa retakan es di sana. Tanaman-tanaman telah hancur dengan basah air yang banyak terciprat di mana-mana. Juga darah yang merah tercampur di sana. Suho langsung masuk ke dalam walaupun bangunan rumah besar itu yang sudah tak utuh lagi. Mayat keluarga Lessieona banyak berserakan di lantai. Ada yang masih utuh ada juga yang bahkan tidak bisa dikenali. Air mata sudah mengalir di pipi Suho melihat itu semua. Saat Suho ke halaman belakang ia melihat banyak sekali pohon yang telah tumbang. Kecuali satu pohon, yaitu pohon yang sangat disukai oleh Kris. Pohon berbeda yang tidak pernah memiliki bunga. Di sana ia melihat Kris tengah terdiam di depan pohon tersebut. Tampilan Kris sangat berantakan, dengan darah yang banyak terciprat di bajunya. Suho berlari berniat menghampirinya.
"Kris apa yang ter-" pertanyaan Suho terhenti begitupula dengan langkahnya untuk menghampiri Kris ketika ia melihat ternyata begitu banyak Zeust di sana dari mulai Durrast, Horrast hingga Opast. Suho membulatkan matanya.
"Kris" panggil Suho. Kris berbalik menatap Suho dengan tatapan yang kosong. Di sana Suho baru sadar dengan air yang banyak mengalir di sekitar rumahnya yang sudah hampir hancur itu akibat es yang banyak mencair karena cuaca panas. Es yang banyak menjadi penyebab tanaman hancur berkeping-keping. Suho sadar bukankah itu adalah kekuatan yang dimiliki Kris? Seketika ia membulatkan matanya.
"Kris kau-" Suho menahan napas di sana. Dadanya sakit seketika saat sadar Krislah yang telah membantai para Lessieona yang tinggal di rumah ini bersama para Zeust yang kini tengah banyak berkerumun di sekitarnya.
"Kau bajingan!" ujar Suho dengan nada bergetar sebelum air matanya mulai mengalir deras. Bagaimana bisa ia dihianati oleh orang yang sudah dia anggap sebagai keluarga? Ini semua salahnya karena ia mempercayakan Kris untuk menjaga di rumah besar keluarga Lessieona ini. Jika ia tak mempercayakannya, mungkin semua ini tak akan terjadi. Suho murka, karena itulah ia mengeluarkan kekuatannya. Namun tanpa sempat serangan Suho mengenai Kris, Kris sudah menghilang bersamaan dengan para Zeust itu. Suho kemudian berteriak putus asa sambil menangis tersedu-sedu di sana. Pada akhirnya semua itulah yang menjadi awal mula bagaimana perang di mulai.
Flashback Off
Luhan telah menangis mendengar semua cerita dari Suho.
"Dia itu Kris, musuh kita, musuh bangsa Lessieona. Walaupun dulu ia sempat menjadi Hyung yang sangat kau sayangi, kuharap kau tak sungkan saat perang telah tiba. Karena bagaimanapun perang pasti terjadi dan kita tak dapat menghindari hal tersebut" ujar Suho.
"Kau mungkin menyalahkanku atas semua peperangan yang selama ini tak pernah usai. Aku minta maaf akan hal itu, namun semakin lama aku hidup di kehiduapan yang berbeda, aku mungkin juga mulai lelah untuk menghadapi semua ini dan ingin perang berakhir untuk selamanya"
"Aku ingin kau mengerti atas kebohonganku. Kau tahu Luhan, di dalam tubuhku ini bersemayam banyak Zeust yang sudah berabad-abad tahun lamanya. Itulah yang membuatku tetap hidup dan awet muda seperti sekarang. Tak seperti kalian yang hidup dan mati hingga generasi yang berbeda. Aku malah terus hidup sejak perang pertama di mulai saat itu. Karena itulah aku mulai lelah. Aku ingin perang cepat berakhir dan aku bisa mati dengan tenang" lanjut Suho.
"Aku ingin kita menang dalam perang kita di kehidupan yang sekarang. Namun entah mengapa aku merasa tubuhku semakin lama semakin lemah. Padahal aku yang menyebabkan semua ini terjadi. Namun Zeust yang berada dalam tubuhku sering sekali menyiksaku dengan terus memaksa untuk keluar dari tubuhku. Karena itulah aku selalu harus mandi air suci ketika kekuatan para Zeust meningkat pada saat bulan merah. Maafkan aku, tapi aku sangat berharap kau membantu keluargamu Luhan. Kau mau membantu kami para Lessieona untuk memenangkan perang. Karena itulah hari ini aku berbicara denganmu di sini agar kau tak sungkan saat melawan Kris di perang nanti. Kuharap kau mengerti. Sekali lagi maafkan aku" Suho menunduk dengan terus merapalkan kata maaf. Luhan yang sejak tadi menangis kini mendekati Suho, ia menepuk pundak Suho untuk menenangkan perasaannya yang sangat kacau sekarang. Walaupun dirinya yang menangis, namun ia tahu Suho lah yang sedang menanggung banyak beban. Ia terus menepuk pundak Suho dengan lembut, berharap itu akan sedikit membuat Suho lebih tenang. Setidaknya untuk saat ini.
"Terimakasih Luhan, aku bersyukur kau masih ingin berada di pihak kami." Ujar Suho.
Luhan tersenyum. "Aku mengerti kenapa Hyung melakukan itu, jadi Hyung tak perlu meminta maaf lagi padaku," timpal Luhan. "Aku memang tak berguna untuk pertarungan, tapi aku ingin membantu, apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan?" lanjutnya.
Suho terdiam sebentar. "Ah, kau tahu Luhan kau memiliki kekuatan penyembuh, dan semua benda yang kau buat itu akan diberkati, hingga bisa sedikit melindungi orang lain. Dulu kau juga pernah membuatnya, dan cukup ampuh saat pertarungan." Tutur Suho.
"Benda yang kubuat?" tanya Luhan.
Suho mengangguk. "Iya, kau bisa membuat kalung untuk para Lessieona, kalung itu diberkati jika kau yang membuat" ujar Suho. Luhan mengangguk mengerti.
"Kalau begitu kita masuk saja sekarang, disini sudah mulai dingin." Ujarnya sambil berjalan menuju mansion. Luhan mengikuti Suho berjalan menuju mansion
_Skip Time_
Ceklek.
Luhan membuka pintu kamarnya pelan. Semua yang dikatakan Suho padanya membuat pikirannya bercampur aduk.
"Guk!"
Suara gonggongan anjing membuat Luhan tersadar dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri dan mendapati ternyata Pixies tengah berada di samping tempat tidurnya. Luhan mendekati anjing kecil milik Sehun itu lalu mengelus kepalanya pelan.
"Kenapa kau bisa ada disini?" tanya Luhan heran.
"Guk!"
Pixies hanya menggonggong. Luhan terkekeh kecil menyadari keanehannya berbicara dengan seekor anjing.
"Pemilikmu mana?" tanya Luhan.
"Guk!"
Luhan hanya mengelus-elus puncak kepala Pixies yang membuat Pixies juga mendekatkan kepalanya ke tangan Luhan. Luhan mendesah kecewa. Sejak kejadian tadi dia belum bertemu lagi dengan Sehun, Sehun bahkan belum menjelaskan tentang hal yang ia lakukan padanya.
Blush.
Wajah Luhan tiba-tiba saja memerah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat mencoba mengusir ingatan tentang ciuman yang Sehun berikan padanya dari kepalanya. Luhan menggigit bibirnya pelan.
"Aish, Sehun itu menyebalkan." Decaknya sebal.
Wajah Luhan masih memerah. Tangannya kirinya yang tadi tak melakukan apa-apa kini jari telunjuknya tengah menyentuh bibirnya.
"Baiklah Luhan, mulai sekarang aku tak hanya menganggapmu sebagai masterku,"
Ucapan Sehun kembali terngiang-ngiang di kepala Luhan.
"Tak menganggapku sebagai master lagi lalu menciumku, aish apa sih yang dia pikirkan?" gerutu Luhan kesal dengan wajah memerah.
Luhan menghela napas pendek.
"Sudahlah Luhan! Jangan mengingat hal itu lagi, lebih baik sekarang kau membuat kalung saja, seperti yang Suho Hyung bilang,"
Luhan berdiri lalu berjalan ke arah lemari kecil yang berada di samping tempat tidurnya. Ia menarik laci pertama dan mengeluarkan kotak yang cukup besar yang berisi manik warna-warni beserta benang. Luhan membuka kotak itu dan melihat isinya.
"Untung saja aku membawa manik berwarna hitam, tidak mungkin kan aku membuat kalung dengan manik berwarna warni untuk Sehun dan Chanyeol," gumamnya.
Luhan pun mengeluarkan manik berwarna hitam dan benang berwarna putih yang cukup tebal. Ia pun mulai membuat kalung untuk semua orang dan ditemani oleh Pixies yang menatap Luhan dengan pandangan berbinar-binar.
_Hun for Han_
"Selamat pagi!" seru Luhan saat baru saja masuk ke ruang makan.
"Selamat pagi Luhan!" sapa semua orang.
Luhan tersenyum lalu duduk di tempat biasa, di samping Krystal.
"Itu apa?" tanya Krystal heran sambil menunjuk kotak berukuran sedang yang sedang Luhan pegang.
"Ah, aku membuat sesuatu untuk kalian," ujar Luhan. Ia pun membuka kotaknya lalu mengeluarkan kalung salib berwarna hitam yang terdiri dari manik-manik hitam yang Luhan buat kemarin dengan tali berwarna putih.
"Luhannie, seharusnya kau buatkan aku yang lebih cantik lagi," keluh Krystal saat melihat kalung itu.
"Maaf Krys, kemarin aku lupa untuk membuat kalung manik warna warni untukmu, dan ternyata aku sudah membuatkan salib yang cukup jadinya kau kuberikan kalung ini juga," jelas Luhan.
Krystal tersenyum. "Aku bercanda kok, terimakasih kalungnya ya," ujar Krystal.
Luhan pun membagikan kalung yang ia buat pada semua Lessieona yang sedang duduk di ruang makan hingga tinggal tersisa satu kalung lagi. Luhan menatap Sehun yang seperti biasa tengah duduk di dekat jendela. Ia pun berjalan menghampiri Sehun dengan jantung yang berdetak kencang. Luhan menarik napas beberapa kali sebelum akhirnya sampai di depan Sehun.
"I-ini untukmu," ujar Luhan kaku sambil menyerahkan kalung itu pada Sehun. Luhan tak mampu memandang wajah Sehun, karena jika ia memandangnya kejadian kemarin langsung terbayang di pikiran Luhan dan hal itu akan langsung membuat wajahnya memerah. Luhan yakin yang lain pasti akan meledeknya jika wajahnya memerah hanya karena melihat Sehun.
"Sarapan datang!"
Seruan Kyungsoo membuat Luhan tersadar kalau ia sudah berada di hadapan Sehun cukup lama. Tanpa menunggu jawaban Sehun terlebih dahulu, Luhan langsung kembali ke tempat duduknya di samping Krystal.
Dugh.
Krystal menyikut lengan Luhan pelan. Luhan menoleh dan mendapati Krystal tengah menatapnya sambil tersenyum geli.
"A-apa?" tanya Luhan tergagap. Namun Krystal tak menjawabnya, ia hanya terkekeh kecil sebelum akhirnya kembali fokus pada sarapan paginya.
Luhan mengerucutkan bibirnya sebal. Sebenarnya ia malu untuk bertemu Krystal karena yeoja itu kemarin memergoki dirinya dan Sehun tengah berciuman di kamar Luhan.
Deg Deg Deg
Jantung Luhan menjadi berdetak lebih cepat saat mengingat kejadian kemarin. Ia kemudian menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya mulai memakan sarapan paginya.
"Terimakasih atas makanannya!" seru Krystal saat ia sudah selesai sarapan. Ia menoleh ke arah Luhan lalu menepuk pundaknya pelan
"Aku tunggu di ruang tamu ya, kau makannya lama sekali sih," lanjut yeoja berambut hitam panjang itu. Luhan hanya menjulurkan lidahnya kesal setelah itu ia kembali melanjutkan makannya.
"Terimakasih atas makanannya." Ujar Luhan sambil menaruh sumpitnya di atas mangkuk kecil. Luhan menoleh ke sekelilingnya dan mendapati kini di ruang makan hanya ada dirinya dan Sehun. Luhan beranjak dari kursi lalu memakai ranselnya.
"A-aku ke sekolah dulu ya Sehun-ah," ujar Luhan tanpa memandang Sehun lalu berjalan menuju pintu ruang makan. Sehun tak memberikan jawaban apapun sampai akhirnya
Grep.
Luhan merasa satu tangan kini tengah menahan tangannya. Luhan memejamkan matanya, ia sangat gugup sekarang, lalu kembali menarik napas panjang dan berbalik.
"A-ada apa?" cicitnya tanpa melihat wajah Sehun.
Sehun berdecak pelan kemudian menjulurkan tangannya ke arah dagu Luhan dan memaksanya untuk menatapnya. Namun yang Sehun lihat adalah Luhan kini justru sedang menutup matanya.
"Sudah kubilang kalau kau berbicara harus menatap mataku. Kalau matamu menutup begitu kau justru seperti minta dicium olehku," Ucapan Sehun membuat Luhan langsung membuka matanya dan kini mata Luhan sudah menatap mata perak Sehun.
Blush.
Wajah Luhan memerah. Apalagi saat ini ia dan Sehun tengah bertatapan dengan jarak cukup dikatakan dekat.
"K-kau ingin b-bicara a-a-apa?" tanya Luhan tergagap.
Sehun mendekatkan wajahnya ke arah Luhan. Luhan yang melihatnya langsung kembali menutup matanya. Wajahnya semakin memerah saat ia merasakan hembusan napas di telinga kanannya.
"Pakaikan padaku kalung darimu," bisiknya di telinga Luhan.
Luhan langsung mendorong dada Sehun agar menjauh. Ia merasakan wajahnya memanas, tidak bahkan tubuhnya memanas sekarang hanya karena bisikan Sehun ditelinganya. Luhan menghela napas panjang sebelum akhirnya menatap wajah Sehun dengan wajah memerahnya.
"L-lakukan saja s-sendiri!" seru Luhan.
"Tidak mau. Aku ingin dipasangkan olehmu." Ujar Sehun kukuh.
"A-aku tidak mau. Aku pergi!" seru Luhan lagi sambil membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk pergi dari ruang makan.
"Kalau begitu aku tidak akan memakainya," ujar Sehun.
Luhan menggeram kesal lalu kembali berbalik. "Kau tidak menghargai kalung buatanku!" serunya.
"Aku akan memakainya kalau kau memakaikannya untukku." Ucap Sehun tegas.
"T-tidak mau!" seru Luhan kesal dan malu.
"Kalau begitu aku tidak akan memakainya." Ujar Sehun datar.
Luhan berdecak sebal. Padahal sebenarnya ia membuat kalung itu tujuannya untuk Sehun saja awalnya, tapi ia pun ingat dengan teman-teman Lessieonanya dan akhirnya memutuskan untuk membuat kalung untuk semuanya saja. Tapi Sehun malah berkata tidak akan memakai kalung buatannya kalau bukan ia yang memasangnya!
"Argh! Baiklah! Berikan padaku kalungnya!" seru Luhan kesal sambil mendekati Sehun.
Sehun menyerahkan kalungnya ke tangan Luhan.
"Kalau begitu berbalik." Titah Luhan.
"Untuk apa?" tanyanya.
"Kau kan ingin aku memasangkannya, sekarang kau berbalik agar aku bisa memasangkannya." Ujar Luhan.
Sehun menggeleng. "Pasangkan saja dari depan." Titahnya.
Blush.
Wajah Luhan memerah. Ia tak mungkin memasangkan kalungnya dari depan. Pasalnya kalungnya tidak terlalu panjang itu artinya nanti jaraknya dan Sehun akan terlalu dekat dan jantung Luhan tidak bisa menolelir hal itu.
"Tidak, aku pasangkan dari belakang." Ucap Luhan sambil berjalan ke belakang Sehun. Namun Sehun langsung membalikkan tubuhnya hingga mereka pun kembali berhadapan. Luhan kembali berjalan ke belakang Sehun dan Sehun kembali membalikkan tubuhnya. Hal itu terus terjadi hingga akhirnya membuat Luhan kesal.
"Aku bisa terlambat kalau begini!" serunya kesal.
"Kalau begitu pasangkan saja dari depan, mudah kan?" ujar Sehun santai.
Luhan menghela napas pendek. Ia pun akhirnya memasangkan kalung di leher Sehun dengan kedua tangan yang melingkar di leher Sehun. Sehun yang lebih tinggi darinya beberapa senti membuat Luhan kepayahan untuk memasangkan kalungnya.
"Merunduk sedikit, aku sulit memasangkannya," ujar Luhan.
Sehun pun merundukkan tubuh beberapa senti hingga kini wajah mereka sejajar.
"Seperti ini?" tanya Sehun sambil menatap wajah Luhan yang kini hanya berjarak sepuluh senti saja.
Blush.
Wajah Luhan lagi-lagi memerah. Luhan yang kaget karena sikap Sehun langsung menunduk. Sementara Sehun terkekeh kecil karena tingkah Luhan yang sudah jelas-jelas malu untuk melihat wajahnya. Setelah beberapa menit dengan posisi seperti itu akhirnya Luhan berhasil memasangkan kalung buatannya di leher Sehun. Luhan langsung melepaskan kedua tangannya dari leher Sehun.
"Sudah seles-"
Grep.
Belum sempat Luhan membereskan ucapannya Sehun langsung merengkuhnya ke dalam pelukan membuat wajah Luhan berada di depan dada Sehun.
"A-a-a-apa y-yang k-k-kau la-la-lakukan?!" seru Luhan tergagap sambil meronta berusaha melepaskan diri dari pelukan Sehun. Namun bukannya melepaskan Sehun malah semakin mengeratkan pelukannya.
"Sehun-ah! Lepask-"
"Apa kau tidak ingin tahu alasan kenapa aku melakukan hal itu tadi malam?" bisik Sehun di telinga Luhan.
Luhan terdiam. Beberapa detik kemudian Luhan merasakan kalau tubuh Sehun menegang setelah itu ia langsung melepaskan pelukannya. Entah kenapa Luhan merasa kecewa karena Sehun tiba-tiba melepaskan pelukannya.
"Kau harus ke sekolah sekarang nanti kau terlambat." Ucap Sehun.
"Sehun-ah soal yang kema-"
Cup.
Sebuah kecupan yang mendarat di kening Luhan langsung membuat Luhan membatu seketika.
"Aku akan menjelaskannya, tapi tidak sekarang." Ucapnya.
Luhan masih terdiam dengan mata yang menatap Sehun dengan tatapan kosong dan wajah yang memerah.
"Luhannie! Kau lama sekali! Ayo cepat berangkat!" tiba-tiba saja Krystal datang dari pintu ruang makan dan menarik tangan Luhan yang masih terlalu syok dengan perlakuan Sehun itu. Setelah Krystal dan Luhan menjauh Sehun segera berjalan keluar mansion dan mendapati seorang yeoja berambut hitam panjang tengah berdiri di dekat pohon besar beberapa meter dari gerbang mansion.
"Ada apa kau kesini?" tanya Sehun datar setelah ia mendekati yeoja itu.
"Begitukah ucapan 'hai' mu padaku?" tanya Jiyeon-yeoja yang berdiam di bawah pohon- sinis.
"Tak perlu berbasa-basi lagi, apa yang kau lakukan disini?" tanya Sehun lagi.
Jiyeon berdecak sebal. "Kupikir setelah reinkarnasi kau akan kembali pada kami namun ternyata kau masih berpihak pada Lessie rendahan seperti dia."
Sehun terdiam.
"Sehun-ah, kumohon kembalilah ke pihak kami." Pinta Jiyeon.
"Kau kesini hanya ingin mengatakan itu? Maaf tapi aku tak berniat." Tolak Sehun.
"Kau pasti diterima lagi di Opast, kau adalah Agarest kami, pangeran kami, aku yakin mereka tak akan protes kalau kau kembali lagi sekarang," ujar Jiyeon.
"Aku tak akan pernah kemba-"
"Aku menyukaimu Sehun-ah!" seru Jiyeon. "Setidaknya bisakah kau kembali karena aku?" pintanya.
Sehun berdesis pelan. "Aku tak akan pernah mengkhianati Luhan."
Jiyeon menggeram kesal. "Kenapa kau rela menjadi pengkhianat hanya karena dia?!" serunya kesal. "Kenapa harus dia?! Kenapa harus dari Lessieona?!" teriak Jiyeon lagi.
Sehun hanya diam tak menanggapi teriakan Jiyeon.
"Aku tak mengerti kenapa kau rela meninggalkan kelompokmu hanya karena manusia rendahan seperti dia." Desis Jiyeon sebal.
Sehun masih diam.
"Sebenarnya aku ingin membawamu kembali dengan damai, tapi sepertinya aku harus membawamu secara paksa."
Sehun yang awalnya tidak sadar dengan maksud ucapan Jiyeon langsung membelalakkan matanya saat merasakan wangi mawar yang tercium oleh hidungnya.
"Sial! Aku tak sad-"
"Hiks, Sehun-ah,"
Tangisan seseorang membuat kepala Sehun menoleh dan mendapati seorang yeoja berambut coklat madu panjang tengah menangis di dekat sebuah pohon yang berjarak dua meter darinya. Mata Sehun terbelalak saat melihat yeoja itu. Kakinya mulai berjalan ke arah yeoja itu dengan langkah pelan.
"Luhan," lirihnya.
"Kau hiks pem-pembohong! Hiks k-kau mengkhianatiku hiks,"
Sehun merasa hatinya kini tengah tercabik karena melihat orang yang ia cintai menangis. Ia sudah lupa bahwa sosok yang sedang menangis itu hanyalah ilusi yang tercipta akibat kekuatan Jiyeon. Kekuatan yang Jiyeon miliki adalah wangi yang dapat menciptakan ilusi orang yang sangat ingin dilindungi. Kekuatan ini hampir mirip dengan hipnotis Key yang mencari kelemahan dari korbannya, hanya perbedaannya adalah apabila hipnotis Key akan membuat korbannya menjadi bonekanya, sedangkan kekuatan Jiyeon akan membuat jiwa korban terhisap dan akhirnya akan mati. Jiyeon mendengus kesal melihat Sehun yang sudah terlihat sangat terluka karena melihat Luhan dulu saat ia seorang yeoja menangis.
"A-aku tidak berbohong, aku tidak akan pernah mengkhianatimu," lirih Sehun sambil terus berjalan mendekati Luhan yang tengah menangis.
"Aku tak percaya Sehun dengan begitu mudahnya terperangkap dalam ilusiku," gumam Jiyeon pelan.
Luhan masih menangis sesenggukan sambil menundukkan kepalanya. Sehun kini sudah berada di depan Luhan. Ia mengangkat kepala Luhan dan menyibak rambut panjang yang menghalangi wajahnya sehingga menampilkan wajah Luhan dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Sehun mengelus pipi Luhan lembut.
"Jangan menangis Luhan," lirih Sehun.
"T-tapi hiks Sehun bo-bohong kan? Hiks S-Sehun mendekatiku agar hiks bisa mem-bunuhku kan?" tanya Luhan dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
Mendengar ucapan Luhan, Sehun langsung merengkuh Luhan ke dalam pelukannya. Ia menempatkan kepalanya di pundak Luhan dengan kedua tangan yang memeluk Luhan erat.
"Siapa yang mengatakan itu? Aku tidak akan pernah melakukan itu! Aku akan selalu disampingmu Luhan, sampai kapanpun." Ujar Sehun.
Sementara Luhan semakin terisak di pelukan Sehun. Jiyeon yang melihatnya hanya menyeringai, saat ini jiwa Sehun sudah semakin terhisap oleh sosok Luhan yang merupakan ilusi yang diciptakan karena kekuatan Jiyeon.
"K-kenapa hiks S-Sehun baik padaku? K-kenapa Sehun mau hiks berkhianat pa-hiks-da bangsamu sendiri?" tanya Luhan sambil terisak.
Sehun terdiam mendengar pertanyaan Luhan. Kemudian ia melepaskan pelukannya lalu menatap Luhan dan mengusap air mata yang mengalir di wajahnya. Sebuah senyum terukir di wajah Sehun saat melihat Luhan.
"Memangnya ada alasan lain selain karena aku mencintaimu?" tanya Sehun lembut.
Mata Luhan membelalak kemudian wajahnya memerah. Ia menunduk malu namun akhirnya wajah itu pun tertutup karena Sehun langsung memeluk Luhan lagi dan membuat wajah Luhan terperangkap di depan dada Sehun.
Sementara itu sepasang mata dari arah mobil menatap Sehun aneh. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk mansion kemudian berjalan keluar mobil dan berjalan ke arah Sehun.
"Sehun-ah, kau kenapa?" tanyanya. Namun Sehun tak menjawab pertanyaannya dan masih dalam posisi seperti memeluk seseorang.
Namja berambut coklat itu mengerutkan keningnya heran. Ia pun berjalan untuk mendekati Sehun lalu berteriak kencang.
"SEHUN-AH!"
Sehun tersentak karena mendengar teriakan seseorang. Ia hendak menoleh untuk melihat siapa yang memanggilnya namun tangan Luhan mencegahnya untuk menoleh.
"Kau mau melihat apa?" tanyanya. "Kau akan pergi?" lirih Luhan.
Sehun menggeleng pelan. "Tentu saja tidak, aku hanya merasa ada orang yang memanggilku," tutur Sehun.
Jinki, namja yang memergoki tingkah aneh Sehun kembali mengerutkan keningnya. Pasalnya ia sudah berteriak namun Sehun masih tak memberikan respon apapun. Ia juga tak melihat ada siapapun lagi di sekitar Sehun.
"Cih, pengganggu." Gerutu Jiyeon kesal.
Jinki saat ini memang tak dapat melihat Jiyeon karena itulah salah satu kelebihan Opast, mereka bisa menampakkan diri dan membuat dirinya tak terlihat di depan manusia biasa. Yang hanya dapat melihat Opast hanyalah bangsa Zeust dan Lessieona saja. Berhubung Jinki hanyalah manusia biasa, dia hanya dapat melihat Opast jika Opast tersebut menampakkan dirinya.
"Tinggal sedikit lagi Sehun jatuh ke dalam ilusiku, setelah itu aku akan menghentikan ilusinya sehingga hanya setengah jiwanya yang terhisap. Dan ia akan menjadi milikku selamanya," gumam Jiyeon sambil menyeringai.
"Lalu apa yang harus kulakukan pada manusia rendahan itu? Hm, biarkan saja lah, lagipula dia tidak melihatku sekarang," lanjutnya.
Grep.
Luhan tiba-tiba menggenggam pergelangan tangan Sehun erat dan menatap namja berambut merah itu.
"Sehun-ah, ayo ikut bersamaku," pinta Luhan.
"Memangnya kita akan kemana?" tanya Sehun heran.
Luhan tersenyum. "Tentu saja ke tempat yang hanya untuk kita berdua," jawabnya.
"Memangnya ada tempat seperti itu?" tanya Sehun lagi.
"Tentu saja ada Sehun-ah, karena itu ayo ikut aku!" ajak Luhan riang sambil kembali menarik Sehun. Namun Sehun diam.
Ilusi Luhan memandang Sehun dengan tatapan sendu. "Kau tidak akan mengkhianatiku kan?" lirihnya.
"Tentu saja aku tidak aka-"
Pletak.
Ucapan Sehun terpotong saat tiba-tiba saja merasakan sebuah batu baru saja mendarat di kepalanya.
"Ya! Siapa yang melakukan itu?!" geram Sehun.
"SEHUN! KAU TULI! DENGAR AKU! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN BODOH?!"
Sehun langsung menolehkan kepalanya saat mendengar suara teriakan seseorang dan mendapati Jinki yang hanya berjarak beberapa meter darinya terlihat menatapnya dengan napas yang terengah-engah.
"Manusia rendahan itu!" geram Jiyeon sambil berjalan cepat mendekati Jinki yang tak bisa melihatnya.
ZRASH
SET
"Kalau kau dekati dia aku akan tebas kau sekarang juga Jiyeon."
Jiyeon diam dengan bulir keringat yang kini sudah mengalir di pelipisnya. Ia tak menyangka hanya karena sebuah batu dan teriakan manusia bisa mematahkan ilusinya. Sehun tadi sudah menebas ilusi Luhan yeoja yang diciptakan karena kekuatan Jiyeon, dan kini pedangnya berada hanya dua senti dari leher Jiyeon.
"Kau sedang apa Sehun? Apa disana terjadi sesuatu?" tanya Jinki heran.
Sehun menoleh. "Hyung, kau masuk saja sekarang, aku ada urusan dulu dengan seseorang dari mantan kelompokku." Ujar Sehun.
Jinki mengangguk mengerti. "Ah, baiklah! Jangan sampai mati ya Sehun!" serunya sambil berlari menuju mobilnya yang masih terparkir di depan gerbang mansion.
Sehun menggeleng-geleng heran karena kelakuan Hyung yang katanya penasehat Lessieona itu. Pandangannya kini teralih ke arah Jiyeon yang masih memandangnya pucat pasi. Jiyeon mundur beberapa langkah lalu menghela napas panjang.
"Aku tidak menyangka kau bahkan dapat menghunuskan pedangmu padaku. Baiklah Sehun aku menyerah," ujarnya.
"Enyahlah," geram Sehun.
Jiyeon tertawa. "Sayangnya kita akan bertemu lagi di perang nanti Sehun," ujarnya sambil terus berjalan mundur. "Sebagai musuh." Setelah mengucapkan itu Jiyeon segera berlari menjauhi Sehun yang hanya diam menatap kepergian Jiyeon.
"Dan nanti aku akan menebasmu saat perang." Ujar Sehun pelan.
_Hun for Han_
"Luhannie! Luhannie! Luhannie! Ayo ke kantin bersamaku!" seruan Krystal dari luar kelas Luhan membuat seisi kelas menatap Luhan. Sementara Luhan hanya menatap teman sekelasnya canggung.
"Aku tidak tahu kalau mereka berdua pacaran,"
"Ya, tapi mereka cocok, Luhan sangat tampan dan Krystal sangat cantik walaupun seram."
"Ah, padahal aku baru saja menjadi fans Luhan,"
"Oh tidak, Krystal-kita menyukai pretty boy seperti dia?"
Bisikan teman sekelasnya yang sebenarnya terdengar jelas di telinga Luhan hanya bisa membuatnya menghela napas pendek.
"Kau terlalu berisik bodoh." Ujar Chanyeol saat ia baru saja keluar dari kelas. Sementara Krystal hanya menjulurkan lidahnya pada namja jangkung itu. Minhyuk yang sejak tadi sudah menjaga jarak dengan adiknya itu hanya mengangguk setuju pada ucapan Chanyeol. Baekhyun dan Luhan hanya diam melihatnya sampai sebuah tangan melingkar di tangan kirinya.
"Ayo pergi Luhannie!" seru Krystal.
Wajah Luhan sedikit memerah. Sementara Chanyeol hanya mengikuti mereka berdua malas-malasan dari belakang. Sedangkan Minhyuk dan Baekhyun juga ikut berjalan di belakang Luhan dan Krystal, namun tidak malas-malasan seperti Chanyeol.
"Krys, jangan melakukan ini, orang-orang akan mengira kita pacaran," bisik Luhan.
"Kau ini berbicara apa sih, kita kan sama-sama yeoja, lagipula kau sudah punya Sehun, tidak mungkin kita akan pacaran santai saja!" bisik Krystal.
Wajah Luhan kembali memerah.
"Aku ini namja!" bisiknya keras. "lagipula aku dan Sehun tidak hubungan apa-apa!" lanjutnya.
Krystal menyeringai kecil. "Lalu pelukan tadi pagi itu namanya apa?" bisik yeoja itu sangat pelan hingga hanya Luhan saja yang bisa mendengarnya.
Blush!
Wajah Luhan kini semakin memerah.
"K-ka-kau me-me-melihatnya?!" seru Luhan.
Krystal mengangguk. "Lagipula kalian sudah ciuman kan? Aku juga sudah mengetahuinya kok," bisik Krystal lagi.
Luhan langsung melepaskan tangan Krystal dan menatap yeoja berambut hitam panjang itu dengan wajah yang warnanya sudah menyerupai kepiting rebus.
"J-j-j-ja-jangan mem-mem-buatku me-me-mengingatya lagi!" seru Luhan kesal.
Krystal tertawa. Sementara Chanyeol menatap mereka berdua tak peduli dan akhirnya berjalan duluan ke kantin. Minhyuk yang merasa tidak mengerti dengan percakapan dua yeoja (Minhyuk masih belum terbiasa untuk menganggap Luhan sebagai namja) dihadapannya itu. Baekhyun yang bingung harus melakukan apa akhirnya mengikuti partnernya ke kantin.
"Ohoho, wajahmu memerah. Kau menyukai Sehun kan?" tanya Krystal.
"Tidak!" seru Luhan. Seruan Luhan kali ini membuat banyak orang menatap mereka heran. Namun sepertinya Luhan dan Krystal tidak terlalu peduli atau mungkin tidak menyadari dengan hal itu.
"Tenang saja Luhannie, aku menyutujui kalian berdua kok! Sejak dulu aku sudah menyutujui kalian, kalian sudah mendapat restuku dari dulu!" seru Krystal sambil menepuk bahu Luhan beberapa kali.
"Kau menyetujui kami?" tanya Luhan heran. Entah kenapa wajah yang tadi memerah karena malu kini tergantikan oleh rona merah tipis karena senang.
Krystal tersenyum geli.
"Ohoho, kau senang karena aku menyetujui kalian?" tanyanya.
Wajah Luhan kembali memerah. "T-t-tidak!" serunya malu.
"Sudah kubilang kan aku merestui kalian, jadi tidak perlu malu begitu." Ujar Krystal sambil kembali berjalan mendekati kantin.
"Berhenti Krystal, kumohon." Pinta Luhan dengan wajah memerah sambil menyejajarkan langkahnya dengan Krystal.
"Iya baiklah." Ujar yeoja itu.
"Gomawo," ujar Luhan pelan.
"Untuk merestui kalian?" tanya Krystal heran.
Luhan menggeram kecil. "Bukan!"
Krystal tertawa. "Jadi, setelah ciuman kalian sudah sampai tahap mana lagi? Apa sudah melakukan 'itu' kah?" tanyanya geli sambil berlari duluan ke kantin.
"Krystal! Berhenti menanyakan hal aneh!" seru Luhan dengan wajah dan telinga yang memerah.
_Skip Time_
Bel pulang sekolah sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu dan kini di gerbang sekolah ada empat namja dan satu yeoja yang tengah membicarakan sesuatu.
"Aku harus pergi membeli tanaman herbal untuk tugas biologiku, kalian akan langsung pulang?" tanya Minhyuk.
Chanyeol mengangguk malas. Baekhyun mengangguk namun tidak malas seperti Chanyeol. Krystal menggeleng cepat, sedangkan Luhan hanya diam.
"Aku dan Luhan akan pergi ke kafe untuk membicarakan hal penting." Jawabnya.
"Hal penting?" tanya Minhyuk.
"Namja tidak perlu tahu, ini urusan yeoja," jawab Krystal lagi.
"Tapi aku namja,"
"Tapi Luhan namja,"
Ucap Luhan dan Minhyuk berbarengan.
"Itu tidak penting, yang penting sekarang kami akan ke kafe duluan!" seru Krystal.
"Kau harus hati-hati adik bodoh!" seru Minhyuk cukup kesal.
"Kau juga kakak bodoh!" balas Krystal sambil terus berjalan bersama Luhan.
Minhyuk menghela napas berat.
"Aku dan Baekhyun pulang duluan," ujar Chanyeol.
Minhyuk mengangguk. "Ya, tolong bilang Suho Hyung aku mencari bahan untuk tugas dulu," ujar Minhyuk.
Chanyeol hanya mengangguk malas kemudian akhirnya berjalan dengan Baekhyun menjauhi gerbang sekolah. Minhyuk pun segera berjalan menuju toko tanaman herbal yang cukup jauh dari sekolahnya. Ia berjalan pelan sambil mengecek tanaman apa yang harus ia beli dari catatannya sampai telinganya mendengar teriakan seseorang.
"Tolong! To-tolong aku!"
Minhyuk menatap sekelilingnya. Padahal jalan yang ia lewati itu kini dilewati banyak orang namun tak ada seorang pun yang bergerak untuk mencari tahu siapa yang meminta tolong. Kebanyakan dari pejalan kaki sekarang tengah memainkan ponsel mereka sambil menyambungkan headset ke telinga mereka. Minhyuk menggeram kesal. Ia pun akhirnya mencari sumber suara, menuju ke sebuah jalan yang cukup lebar yang ada diantara dua buah gedung berlantai dua.
"Tolong aku!"
Suara teriakan itu kembali terdengar dan semakin dekat. Minhyuk pun mempercepat larinya, ia pun akhirnya menemukan seseorang saat ia baru saja berberlok dari jalan yang ia lalui tadi. Ia menemukan seorang namja yang tengah memakai seragam sambil menunduk kini tengah mengaduh kesakitan karena kakinya tertimpa oleh beberapa balok kayu. Minhyuk segera mendekatinya dan mengangkat balok kayu yang ternyata cukup berat itu.
"Kau baik-baik saja?" tanya Minhyuk setelah ia berhasil mengangkat semua balok kayu dari kaki namja yang sepertinya seumuran dengannya itu. Namja tadi masih menundukkan kepalanya. Beberapa saat kemudian namja itu mengangkat kepalanya dan tersenyum yang langsung membuat mata Minhyuk terbelalak.
"Terimakasih sudah menolongku," ujarnya.
Minhyuk langsung berdiri setelah melihat mata namja baru saja ditolongnya itu memilik tatapan yang kosong dan ia merasakan firasat buruk, aura jahat sepertinya akan datang. Baru saja ia hendak berlari dari sana, tiba-tiba saja ia merasakan udara disekitarnya menjadi dingin, balok kayu pun kini terlihat sudah terselimuti oleh es.
"Sial!" geram Minhyuk sambil berlari.
Langkahnya berhenti saat ia merasakan kakinya kini sudah tidak dapat bergerak lagi. Ia melihat ke arah kakinya dan matanya terbelalak saat melihat sudah ada es yang membekukan kakinya. Ia mengeluarkan kedua pedang yang merupakan sejantanya lalu mengancurkan es itu. Ia pun kembali berlari.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki yang terdengar santai dibelakangnya membuat Minhyuk mau tak mau semakin mempercepat larinya. Namun langkah kakinya kembali terhenti saat jalannya kini sudah terhalang oleh dinding es. Bahkan ia sudah terkepung dengan dinding es yang berada di sekelilingnya.
"Sial!" gerutunya lagi sambil kemudian mencoba mengancurkan dinding es itu dengan kedua pedangnya.
"Percuma saja, kau menghancurkannya, aku akan membuatnya lagi." Suara seseorang membuat Minhyuk terpaksa menoleh dan mendapati seorang namja dengan tatapan dingin tengah berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Kris." Geram Minhyuk.
"Ah, kau mengingatku rupanya." Ujarnya. Disebelahnya kini ada Key, Opast yang paling dibenci adiknya itu, dan dibelakangnya berdiri namja yang tadi Minhyuk tolong dan ia yakin adalah boneka Key.
"Aku ingin berbincang, tapi nanti. Selamat tidur Minhyuk-ssi,"
JLEB.
Yang Minhyuk ingat saat itu hanyalah rasa sakit diperutnya dan seringaian Kris sebelum akhirnya semuanya gelap.
To Be Continued
saya gak mau banyak omong
semoga chapter ini tidak mengecewakan geh, Aamiin~
terimakasih bagi yang sudah melike dan mengkomen di chapter sebelumnyaa *bow
kalian luar biasa~ komen dan like kalian yang buat kami semangat mengerjakan FF ini ^^
so, tinggalkan jejak lagi yaa, like dan komenannya jangan lupa ^^
maaf untuk typo yang bertebaran yaa, chickenKID dan dinodeer sudah berusaha meminimalisir typo *bow
Please respect our fanfic with your review jusaeyo~ #Yehet
*TebarSenyumnyaHunHan ^o^/
_chickenKID & dinodeer_
Top of Form
