Rated: T
Disclaimer: The chara is belongs to Mashasi Kishimoto
exept Neji n Tenten
xoxo
Warning: Typos, bahasa aneh, barely OOC, too complicated huh? lol
Couple Words From Author:
Holla minna-san :) ah sebelumnya Minato mau ngucapan HAPPY EID MUBARROK MINNA-SAN :) semoga dihari yang fitri ini hati kita dibersihkan dan segala dosa kita diampuni oleh Allah Swt. amiin :):) Yapp, ini adalah chapter terakhir dari AMOUR TACITE (YEAY) masih gapercaya akhirnya Minato bisa selesaiin fic crime pertama Minato. ini pelajaran buat Minato supaya mikir mateng-mateng sebelum publish fic yang genre nya agak complicated seperti crime ini huhuhu. semoga Minna-san gakapok untuk baca fic Minato yang akan datang nee :3 hihihi. Okay Minato bales reviews dulu yaa
Mizugawa Hyuuga: Yeay akhirnya Minato bisa update chap terakhir:):) semoga chap ini bisa mengobati kepenasaran Mizugawa-san yaa :3 terimakasih sudah baca fic ini dan me review :):)
Shinji r: Sudah di update, semoga bisa mengobati rasa penasarannyaa. terimakasih sudah baca dan mereview shinji-san :)
I Love Erza: Aaahh iyah Minato tau setelah Minato baca ulang fic ini agak belibet di awal (mungkin krn Minato nyambi sambil les dll) #alasan. hehehe, yapp Minato berusaha meluruskan semua ketidak jelasan di chap awal di chap 9 dan 10 iniii hehehe, semoga aja ceritanya jadi jelas sekarang dan semoga sesuai dengan harapan Erza-san dan readers yang lainn hehehe. terimakasih lohh sudah membaca fic Minato yang ceritanya sangat aneh inii, dan terimakasih sudah mereview :):)
Yapp, sudah semua yaa. sekarang langsung saja dehh Chappy 10~~
Final Chapter (10)
Dengan gontai, Neji menyeret kakinya untuk melangkah kedepan. Mata lavender laki-laki itu menatap lurus kedepan, bisa ia lihat seorang gadis berambut pendek berdiri beberapa meter dihadapannya. Meskipun keadaan jalanan Konoha saat itu gelap, Neji bisa melihat dengan jelas raut ketakutan dan penyesalan diwajah gadis yang berjarak hanya beberapa langkah darinya. Neji menghentikan langkahnya ketika jarak mereka tinggal kira-kira lima langkah saja.
Angin malam menerpa mereka berdua, jalanan Konoha sangat sunyi malam itu, saking sunyinya Neji bahkan bisa mendengar siulan angin malam yang menerpa tubuhnya. Neji menatap lurus kedepan, menatap Sakura lurus-lurus dan gadis itu pun mengangguk. Beberapa detik kemudian, terdengar suara mesin motor berderu mendekati mereka dari samping. Deru mesin motor itu berhenti, dan suara derap langkah mendekat pun terdengar. Baik Neji maupun Sakura hanya terdiam, menunggu orang itu sampai.
"Sebenarnya apalagi yang ingin kau katakan, Sakura? Bukankah kita sudah sepakat-" suara cempreng laki-laki itu berhenti ketika laki-laki itu berdiri disamping Sakura, dan menyadari kehadiran Neji. Bisa Neji lihat dengan jelas, laki-laki yang baru saja bergabung dengan mereka itu, menoleh menatap Neji, jelas sekali laki-laki itu kaget setengah mati ketika menyadari bahwa laki-laki yang berdiri disebrang Sakura adalah Neji.
Lee berusaha pulih dari kekagetannya, lalu menoleh kearah Sakura, menjulurkan kedua lengannya, mencengkram bahu Sakura dan menggoyangkan gadis itu kuat-kuat, membuat tangisan yang sedari tadi Sakura tahan pecah.
"APA MAKSUDMU SAKURA?! BUKANKAH KITA SUDAH BERJANJI?!" Sakura menangis lalu mencengkram tangan laki-laki itu dan mendorongnya menjauh. Sakura berhasil melepaskan dirinya dari cengkraman Lee.
"Maafkan aku… tapi aku tidak bisa, Lee." Setelah berbisik seperti itu, Sakura berlari sekuat tenaga, meninggalkan Lee dan Neji berdua.
Kali ini Neji tidak hanya berdiri diam, laki-laki itu mencengkram kuat hand gun hitam yang sedaritadi ada ditangannya lalu berjalan menghampiri Lee yang hanya bisa menatap Neji dengan wajah penuh ketakutan dan penyesalan. Laki-laki berambut mangkuk itu mulai menangis, dan melangkah mundur. sekarang ia harus menghadapi kemarahan Neji yang sudah menjulang kelangit.
"K-kumohon… Neji.. de-dengarkan dulu penjelasanku!" Seru Lee yang mulai dilanda panic dan takut. Seolah tidak mendengarkan kata-kata Lee, Neji mempercepat langkahnya dan langsung mendorong Lee hingga membuat laki-laki itu jatuh terjengkang kebelakang.
"Kau sudah berjanji, Lee." Geram Neji dengan rahang terkatup. Lee hanya bisa menangis sesegukan.
"Ku-kumohon.. biarkan aku me-menjelaskan semuanya, Neji! S-setelah aku selesai… k-kau bisa membunuhku.. tapi k-kumohon! Dengarkan penjelasanku dulu!" Neji menatap Lee dengan tatapan nanar, dimatanya Lee lebih rendah dibanding makhluk hina manapun didunia ini.
Tadi sore, setelah ia bertemu Sakura di kantor polisi, Sakura menelpon Neji. Dan gadis itu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Lee hanya bisa menunduk dan menangis, ketara sekali ia sangat ketakutan dan menyesal. Neji memejamkan matanya, lalu menghela nafas panjang sebelum akhirnya memutuskan dan berkata.
"Lebih baik kau cepat, sebelum aku merubah pikiranku." Gumam Neji dengan nada tajam nan mematikan. Lee menatap lurus kedepan, masih menangis, namun mencoba untuk tenang agar bisa menceritakan.
"Ja-jadi saat itu…"
Flashback on
Tenten merentangkan kedua tangannya keudara, seraya menguap lebar-lebar. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya lalu menatap Lee dengan tatapan bosan yang dibuat-buat.
"Lee, film drama musical seperti ini benar-benar membuatku bosan." Ujar gadis itu. Sementara Sakura menghela nafas panjang dan melirik sahabatnya itu.
"Tenten memang mudah bosan, kau tahu itu Lee, dan kau malah memaksanya menonton film drama musical seperti ini." Tenten kembali menguap.
"Kau tahu, menonton film musical percintaan seperti ini membuatku mual. Maksudku, apa yang mereka lakukan? Menyanyi dan berdansa seharian. Yang benar saja, kau bahkan harus bernyanyi dan berdansa kesana kemari sebelum membunuh seseorang dengan belati." Gerutu Tenten sambil menirukan adegan Napoleon atau siapapun tokoh itu yang menggunakan topi seperti Napoleon, menorehkan luka panjang di leher budak dengan belati platinanya. Sakura terkekeh, sementara Lee mendesah lirih.
"Baiklah, baik. Kita tidak akan menonton film ini lagi." Ujar Lee menyerah, laki-laki itu menyambar remote control dan mematikan dvd player. Seketika itu juga, layar tv flat yang tadinya dipenuhi pasukan abad 16 yang tengah berperang dengan meriam dan senapan tua menghilang, digantikan dengan warna hitam legam.
"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Tenten sambil menyenderkan kepalanya ke sofa.
"Bisakah kita membuka botol-botol sampanye yang terlihat sangat menggoda itu?" Tanya Sakura yang sudah tak sabar menegak minuman keras itu. Lee mendengus kesal.
"Bukankah kita harus menunggu Neji dulu? Dimana dia sekarang, Tenten?" Tanya Lee sambil menoleh menatap Tenten, laki-laki itu sebenarnya masih agak bingung dengan sikap Neji yang berlebihan seperti tadi. Untuk sesaat, Lee mengira bahwa Neji keracunan coklat asin. Tenten mengangkat kedua bahunya.
"Dia tidak menjawab pesanku." Sakura mendesah keras-keras lalu dengan santai meraih sebotol sampanye mahal milik Neji, lalu menuangkannya kedalam tiga gelas, lalu meraih salah satu dari tiga gelas itu..
"Sudahlah, lebih baik kita mulai saja sekarang. Neji bilang, dia hanya sebentar bukan?" Tenten tersenyum lalu meraih gelas yang lainnya.
"Iya. Tidak ada salahnya kita memulai duluan." Sahut Tenten yang agak kesal karena kekasihnya itu masih harus disibukan dengan urusan pekerjaannya. Lee tertawa renyah lalu ikut meraih gelas terakhir dan mengacungkannya diudara.
"Mari kita bersulang untuk Tenten dan untuk klan Hyuuga yang telah membuatkan rumah yang indah ini untuk Neji." Seru Lee, Sakura dan Tenten hanya bisa tertawa lalu ikut mengacungkan gelas mereka diudara, membenturkan gelas mereka masing-masing, lalu menegaknya langsung sampai habis. Setengah jam pertama, semua berlangsung biasa saja, sampai akhirnya mereka bertiga benar-benar mabuk.
"Hei, kurasa kita semua sudah cukup mabuk sekarang." gumam Lee yang mulai tak sanggup mengangkat kepalanya.
"Ya, lalu apa yang akan kita lakukan, Tenten? kekasih cantikmu itu belum juga kembali." Sahut Sakura sambil melirik Tenten. tenten terdiam sejenak lalu tersenyum cerah dan menegakan tubuhnya.
"Aku tahu.. aku akan menceritakan ini pada kalian… apakah kalian tahu bahwa Neji adalah seorang gangster? Apakah kalian tahu bahwa Neji pernah membunuh pemimpin gembong narkoba saat itu?" Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Tenten, gadis itu terlalu mabuk hingga kehilangan penyaring antara otak dan mulutnya. Sakura dan Lee menatap Tenten dengan tatapan tidak percaya lalu tertawa terbahak-bahak.
"KAU BENAR-BENAR MABUK TENTEN." Seru Lee disela-sela tawanya.
"Lee benar! Omong kosong macam apa itu!" Timpal Sakura disela tawanya. Tenten mendengus kesal.
"Aku akan menunjukannya pada kalian. Dan akan kubuktikan bahwa apa yang dilakukan Neji seratus kali lebih seru dibandingkan film cengeng yang diidamkan Lee." Seru Tenten sambil menunjukan botol sampanye yang sudah kosong kewajah Lee.
"Boleh saja.. jika kau memang tidak sedang mabuk." Ujar Sakura yang akhirnya kembali tertawa. Tenten memutar kedua bola matanya lalu berdiri.
"Lebih baik kalian semua ikuti aku sekarang." katanya seraya berjalan terhuyung-huyung menaiki tangga. Lee dan Sakura berusaha bangkit dengan kaki mereka yang lemas seperti agar-agar, lalu menyeret kaki mereka mengikuti Tenten. mereka pun sampai disana, didalam kamar Neji.
"Kami-sama Tenten, kau ingin menunjukan senjata Neji atau apa?" Gumam Sakura sambil kembali tertawa. Tenten terkekeh.
"Kalian tunggu saja." gumamnya lalu ngeloyor masuk kedalam. Dengan mudah, gadis itu menemukan kotak besi berbentuk persegi berwarna hitam yang selalu Neji simpan dibawah tempat tidur berukuran king sized nya.
Setelah menggenggam kotak itu, Tenten membawanya keluar dan membukanya dihadapan Sakura dan Lee.
"Ini hanya perkakas, Tenten." seru Lee dengan nada mencemooh. Tenten tertawa meledek, lalu menyingkirkan perkakas itu dan disanalah, tergeletak sebuah hand gun berwarna hitam metallic. Lee dan Sakura memandangi senjata api itu dengan tatapan tak percaya, sementara Tenten tersenyum puas lalu menarik keluar hand gun itu lalu menggoyangkannya dihadapan Lee dan Sakura.
"Sudah kukatakan bukan?" ucapnya dengan nada puas. Lee menjulurkan tangannya lalu merebut senjata itu dari tangan Tenten.
"Kau benar… Neji memang seorang gangster! Ha!" Ucap Lee, Sakura tersenyum lebar.
"Aku tidak menyangka." Gumam Sakura. Tenten tertawa terbahak-bahak lalu berdiri dan berlari menuruni tangga sambil berseru.
"Neji pernah menunjukan ini padaku, dan menceritakan semuanya… dan aku masih heran apakah mereka akhirnya mengetahui bahwa Neji yang melakukannya, lalu apakah mereka akan membalas dendam. Jika iya, apa yang akan mereka lakukan pada Neji dan yang lain?" Racau Tenten.
"Yang lain? Siapa maksudmu Tenten? apakah Neji tidak sendirian?" Tanya Sakura. Tenten mendecak kesal. "Tentu saja tidak, Neji bersengkongkol dengan Sai dan Kiba. Kalian tahu siapa mereka bukan?" Lee terdiam menganga.
"Sai… maksudmu pelukis terkenal itu? Tidak mungkin… dia begitu tidak berdosa." Sakura menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sekarang aku percaya dengan kata-kata apa yang terlihat belum tentu seperti apa yang ada didalamnya." Racau Sakura. Tenten mendengus tak sabaran.
"Ayolah! Kita akan membuat film yang lebih keren dari drama musical kacangan yang dibawa Lee bukan?" Lee dan Sakura tertawa lalu berlari menyusul Tenten ke halaman belakang kediaman Neji.
Mereka bertiga benar-benar mabuk, berlari-lari dihalaman belakang rumah Neji dengan senjata api ditangan. Mereka benar-benar tidak tahu apa yang mereka lakukan. Lee berhenti berlari, seolah kesadaraannya mulai kembali. Laki-laki itu menunduk untuk melihat benda yang sedari tadi ia genggam. Senjata api.
"Bagaimana aku bisa menggenggam senjata api?" gumamnya keheranan. Lee benar-benar linglung, bagaimana ia bisa berada dihalaman belakang dan memegang senjata api, sementara Tenten dan Sakura masih dibawah pengaruh minuman keras dan berlari-lari dari kejaran Lee. Tenten menyadari bahwa Lee tidak lagi mengejar mereka dengan senjata apinya, gadis itu menarik tangan Sakura untuk berhenti berlari lalu menoleh kebelakang.
Gadis itu tersenyum ketika mata hazelnya menangkap sosok Lee yang berdiri membelakanginya. Tenten berbisik kearah Sakura.
"Tunggu disini." Setelah Sakura mengangguk, Tenten melangkah mengendap-endap menghampiri Lee. Lalu berteriak dan berlari mendekati Lee ketika jaraknya semakin dekat. Kejadian itu berlangsung sangat cepat.
Lee yang kaget, langsung memutar tubuhnya dan tanpa sadar mengacungkan hand gun hitam yang ada digenggamannya tepat kekepala Tenten, dan menarik pelatuknya. Baik Lee maupun Tenten, tidak menyangka jika hand gun itu berisi peluru. Peluru berwarna keemasan pun melesat keluar dan menembus tengkorak Tenten. tawa Tenten terhenti, langkahnya pun terhenti. Wajah gadis itu terlihat terkejut, sebelum akhirnya tubuhnya jatuh terjembab kebelakang, dengan lubang bulat menganga dikeningnya.
Flashback Off.
Lee menunduk, kedua bola matanya berlarian menatap jalanan, nafasnya tersengal-sengal, peluh bermunculan keluar membasahi tubuhnya.
"A-aku dan Sa-Sakura langsung tersadar be-begitu melihat tubuh Tenten tidak bergerak. Ka-kami begitu ketakutan… dan kebingungan." Bisik Lee, tubuhnya mulai gemetar karena mengingat kejadian mengerikan itu.
"Sakura histeris… aku.. akupun tidak bisa merasakan apa-apa saat itu. Hanya perasaan takut se-seorang pengecut yang menguasai diriku saat itu. Jadi akhirnya.. aku memaksa Sakura untuk tutup mulut." Neji hanya bisa terdiam, mendengar kronologi pembunuhan Tenten langsung dari pembunuhnya membuat amarah Neji kembali memuncak. Laki-laki itu menggeram frustasi lalu bertanya pada Lee dengan nada tajam yang mengerikan.
"Lalu bagaimana dengan bukti penyerangan dirumahku, apakah kalian memalsukannya?" Lee mengangguk lemah.
"Ka-kami menghancurkan rumahmu, a-aku bahkan harus memukul Sakura dan menjambaknya a-agar terlihat sebagai penyerangan. Sakura pun ha-harus memukulku dengan tiga botol sampanye.."
"Kau seharusnya mendapat lebih dari itu." Potong Neji tajam. "Bagaimana dengan Tenten? apalagi yang kau lakukan? Membuang tubuhnya ketepi jalan seperti mayat seekor anjing liar yang tertabrak?" Gumam Neji lagi-lagi dengan tajam dan penuh benci. Mendengar kata-kata Neji, membuat Lee tersadar akan betapa hinanya dirinya, membuat Lee tidak mengerti bagaimana ia bisa sekejam itu.
"Ka-kami membawa Tenten ke jalan toll, menghancurkan ru-rumahmu, memukul dan membanting sa-satu sama lain.. la-lalu menelpon polisi.. melaporkan penyerangan dirumahmu." Lee memejamkan matanya seraya meringis kesakitan ketika merasakan rasa perih didalam hatinya. Laki-laki itu kembali menangis.
"A-aku teringat dengan ce-cerita Tenten.. ingatanku hanya sa-samar-samar karena aku sedang ma-mabuk… tapi aku ingat betul te-tentang Sunagakure… ja-jadi.. ketika polisi bertanya tentang pelaku pe-penyerangan… aku dan Sakura.."
Neji memejamkan kedua matanya seraya menggeleng frustasi. Ia sudah tahu apa kelanjutan dari kata-kata Lee. Dan ia mengutuk dirinya sendiri sekarang. kenapa dirinya begitu buta. Kenapa dirinya tidak bisa mengendus kebohongan Lee? Apakah perasaannya sudah mengalahkan akal sehatnya? Rasa dendam yang begitu kuat, membuat seluruh indra Neji tidak berfungsi. Laki-laki itu tidak bisa melihat bukti-bukti dengan sudut yang lain, ia tidak bisa mendengar kebohongan dibalik pengakuan terbatas Lee saat itu, ia juga tidak bisa mendengar saran dari Sai yang saat itu sempat meragukan pendapatnya, bahwa bukan Sunagakure dibalik semua ini. Neji sangat membenci dirinya saat ini, merasa dirinya adalah makhluk paling bodoh diseluruh dunia.
Dan karena kebodohannya, Kiba dan Sai terbunuh. Karena kebodohannya, lagi-lagi Neji kehilangan orang yang ia sayangi. Lee berusaha menelan sesegukannya lalu berkata dengan lirih.
"B-Bunuhlah a-aku sekarang, Neji." Neji melirik menatap Lee yang terduduk disampingnya sambil menangis sesegukan.
"Bu-Bunuhlah aku sekarang!" Seru Lee dengan nada frustasi yang memilukan. Neji menggenggam erat hand gun yang sedari tadi ada didalam genggamannya. Ingin sekali Neji mengacungkan hand gun itu dikepala Lee, lalu menembaki laki-laki itu sampai tidak berbentuk. Namun, laki-laki itu menghela nafas panjang lalu mengendurkan genggamannya.
"Aku tidak akan membunuhmu." Ujar Neji dengan mata terpejam, berusaha menahan amarah yang mulai mengendalikan dirinya lagi. Kali ini, perasaan dendam tidak akan menguasainya. Kali ini, kebodohannya tidak akan lagi menggerakan otaknya. Ia akan menjadi seorang jenius Hyuuga yang berfikiran dingin. Dan kali ini, berhati dingin.
"A-apa?" Ucap Lee tidak percaya dengan kata-kata Neji. Lee mengira bahwa Neji akan membunuhnya dengan pistol, atau mungkin memukulinya sampai mati. Lee menengadahkan kepalanya, berusaha meyakinkan dirinya bahwa orang yang berdiri disampingnya benar-benar Hyuuga Neji, kekasih dari Tenten. Neji membuka kedua matanya, lalu menatap Lee dengan tatapan tajam nan dingin.
"Aku akan membiarkanmu hidup, dengan semua rasa penyesalan ini, aku akan membiarkanmu hidup sebagai makhluk paling rendah dimuka bumi ini. Dengan begitu hidupmu tidak akan berarti lagi, kau akan menyadari bahwa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghilangkan penyesalan ini. Aku tidak perlu membunuhmu, karena aku tahu lambat laun kehidupanmu akan mati dengan sendirinya." Seru Neji. Setelah berkata seperti itu, Neji memutar tubuhnya lalu melangkah meninggalkan Lee yang masih terduduk dan termangu. Lee tersenyum hambar, air mata mulai keluar dari matanya yang nyaris berbentuk lingkaran. Lalu ia tertawa, ditengah penyesalan dan kesunyian yang mengerubunginya.
xXx
Neji menghela nafas panjang lalu duduk disisi tempat tidurnya. Ia menggenggam jepitan rambut yang pagi itu Tenten gunakan untuk menyangga rambut coklat pucatnya. Pagi terakhir dimana Neji dapat terbangun dengan Tenten disebelahnya. Neji memejamkan matanya, mengingat saat-saat terakhir mereka untuk terakhir kalinya. Saat Tenten membangunkannya dari mimpi buruknya, saat Tenten duduk untuk menjepit rambut Neji dengan jepitan-jepitan hitam miliknya, saat Tenten berada didalam rengkuhannya dan membalas ciumannya. Neji tersenyum lalu membuka kedua matanya.
Didalam hatinya Neji berterimakasih kepada Kami-sama, yang telah menghadirkan Tenten dikehidupannya, yang memberikan lentera dihatinya yang kelam dan dingin. Senyuman Neji bertambah lebar ketika mendengar pintu rumahnya terbuka. Disusul oleh langkah-langkah kaki yang menaiki tangga menuju kearahnya. Tidak ada rasa takut sedikitpun didalam diri Neji, laki-laki itu bahkan tidak sabar, ia ingin semua ini selesai dengan cepat.
Tubuh Neji bergidik kecil ketika pintu kamarnya terbuka.
"Ternyata kau orang yang sangat jujur, Hyuuga Neji." Mendengar suara dingin itu, entah mengapa membuat Neji tersenyum. Neji bisa mendengar orang itu melangkah mendekat.
"Sungguh, bisnis ku akan maju sangat cepat jika dipimpin oleh orang sepertimu." Neji mendengus lalu berkata dengan nada mengejek.
"Kau sudah mendapatkannya, tapi aku dan teman-temanku membunuhnya." Mendengar kata-kata Neji, membuat Gaara mengacungkan senjatanya ke kepala Neji, menempelkan moncong hand gun nya dikepala belakang laki-laki itu. Kebanyakan orang akan menangis ketakutan, tapi tidak halnya dengan Neji. Laki-laki itu malah tersenyum senang.
"Dan kau juga akan kubunuh, Hyuuga." Geram Gaara.
"Kalau begitu cepatlah." Ujar Neji sambil memejamkan matanya dan menggenggam jepitan hitam yang sedari tadi berada didalam tangannya.
"Ada seseorang yang sudah menungguku." Bisik Neji sambil tersenyum.
"Otakmu benar-benar sudah rusak, Hyuuga. Sepertinya ini bisa menjernihkan pikiranmu." Gaara menarik pelatuk handgunnya, dan saat itu juga peluru berwarna keemasan keluar dari moncong pistol dan menembus kepala Neji. meski begitu, Neji tetap tersenyum.
'Setelah aku membayar semua yang sudah kulakukan, aku akan menyusulmu Tenten. aku janji, tidak akan lama. Kita akan bersama-sama lagi dan kali ini kita tidak akan pernah berpisah.'
Tubuh Neji yang sudah tak bernyawa terhuyung kesamping dan akhirnya tergeletak diatas tempat tidurnya sendiri. fhfghGaara hanya mendengus tak acuh, lalu memutar tubuhnya dan berjalan keluar. Menghampiri anak buahnya yang sudah menunggunya di depan kamar Neji.
"Urusan kita dengan Konoha sudah selesai."
FIN
Yap Minna-san, bagaimanaa akhir dari AMOUR TACITE? hehehe, jadi sebenernya inti masalahnya itu sangat sederhana, dan jadi ribet karena Lee dan Sakura bohong ditambah rasa paranoid Neji yang berlebihan. hihihi, semoga Minna-san puas dengan ending fic ini dan terobati rasa bingungnya. Minato mau ngucapin terimakasih banyak buat para readers yang udah baca fic ini dari awal sampe akhir, atau yang sekedar baca beberapa chap hehehe. juga terimakasih buat yang me reviews :) yahh dari fic ini Minato sudah belajar kalo harus bener-bener matengin konsep cerita, baru tuliss hehehe. okayy, sebelum pamitan Minato mau minta maaf sama Minna-san, kalo fic ini sangat tidak memuaskan :( semoga Minna-san gakapok buat baca fic Minato yang lainnya. Okay sampai bertemu di fic Minato yang akan datangg entah kapaan. xoxo.
