Disclaimer : Vocaloid bukan punya saya~ XD
Ketika Luka membuka pintu besar berwarna coklat yang terbuat dari kayu mahoni, tampak dua baris butler dan maid yang menyisakan jalan yang digelar karpet merah di antara barisan butler dan maid itu.
"Selamat datang Luka-sama!" Seru mereka serempak sambil membungkukan badan mereka.
"L-luka.. Kau tidak pernah bilang kau itu anak orang kaya." Ujar Neru sambil sweatdrop.
"Memangnya aku tidak pernah bilang ya?" Tanya Luka sambil tersenyum anggun.
Dan sontak dihadiahi gelengan kepala oleh Len, Neru, Rin, dan Kaito. Sementara Luka hanya tertawa kecil.
"Aku ini putri dari restaurant Megurine's, lho." Lanjutnya sambil tersenyum.
"Apaaaa?!" Seru Rin, Neru, Kaito, dan Len bersamaan.
'Pantas saja sifatnya anggun sekali..' Batin Rin sambil melihat ke arah Luka yang masih tersenyum anggun.
"Nah, ayo, kita jangan membuang waktu, akan aku tunjukan kamar kalian." Ujar Luka sambil tersenyum lagi.
Kemudian mereka berlima menaiki tangga menuju lantai dua. Di sana tampak lorong dengan banyak pintu yang besar.
"Nah, silahkan pilih kamar kalian sendiri." Ujar Luka sambil tersenyum lagi dan menunjuk sebuah lorong yang terdapat banyak pintu, jika diperhatikan tampak kunci-kunci yang sudah masuk ke dalam lubang pintu-pintu tersebut.
Rin menyeret kopernya ke sebuah kamar kemudian ia membuka kamar itu dengan kunci yang sudah berada di sana. Kebetulan Len juga membuka pintu kamar diseberangnya. Tapi Rin tidak mengambil pusing akan hal itu, ia segera masuk ke kamarnya - tak lupa menutup pintu berwarna coklat yang terbuat dari kayu mahoni itu. Rin memperhatikan ruangan yang terbilang besar itu, dengan wallpaper berwarna kuning, yang kebetulan merupakan warna kesukaan Rin, kasur queen size lengkap dengan bantal, guling dan sebuah bedcover yang berwarna putih. Tepat di depan kasurnya, yang menyuguhkan pemandangan taman mansion tersebut yang asri dan indah, di ruangan yang Rin tempati untuk sementara itu terdapat sebuah night stand yang lagi-lagi tebuat dari kayu mahoni yang berada di samping tempat tidur queen sizenya itu, sebuah cermin yang cukup besar, lemari yang cukup besar serta meja rias. Di ruangan tersebut juga terdapat pintu yang terbuat dari kaca yang sedikit buram, bukan karena kotor melainkan memang begitu, yang Rin yakini sebagai kamar yang berambut honey blonde itu membuka kopernya dan menyusun beberapa bajunya di dalam lemari yang lagi-lagi terbuat dari kayu mahoni yang mahal itu. Ia kemudian mengambil handuk yang tersedia di sana dan segera mandi untuk melepaskan penatnya.
Rin tengah asik membaca fanfiksi di ponselnya, sampai terdengar suara ketukkan yang tidak terlalu kencang tapi tetap dapat ia dengar di pintunya.
"Rin? Luka sudah menyuruh kita makan malam." Panggil suara itu yang tak lain adalah suara milik pemuda bersurai honey blonde, alias Len Kagaine.
Rin tidak menjawab dan segera berjalan ke pintu tersebut, diputarnya kenop pintu yang berkilat itu dengan perlahan dan menarik kenop pintu tersebut untuk membuka pintu itu, terlihat Len yang sepertinya telah mengganti bajunya dengan hodie berlengan pendek yang berwarna hijau tua serta celana bahan 3/4 berwarna hitam. Mereka berdua jalan dalam diam, tidak ada satu pun dari mereka yang membuka suara. Perjalanan itu terasa sangat lama bagi mereka entah karena lorong mansion itu terlalu panjang atau karena keheningan berat yang melanda mereka.
"Rin." Panggil Len tanpa menoleh sedikitpun pada Rin, tapi ekor matanya melirik gadis yang ciri-ciri fisiknya mirip dengannya, yang kini tengah menggenakan t-shirt berwarna putih dengan tulisan-tulisan berwarna hitam serta rok bahan yang berwarna hitam.
"Apa?" Tanya Rin seraya berhenti sejenak dan menoleh ke sosok yang telah memanggilnya tadi.
Len yang melihat Rin berhenti berjalan juga ikut berhenti, kemudian ia menghadap Rin dan memegang bahunya.
"Nee.. Jika ada seseorang yang menyatakan perasaannya padamu.. Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Len dengan perlahan dan dengan muka yang serius menatap wajah Rin yang entah kenapa mulai memerah.
"A-aku.. Tidak tahu.." Jawab Rin sambil berusaha untuk tidak bertatap mata dengan Len, ia takut jika Len tiba-tiba bisa membaca pikirannya dan mendengar detak jantungnya yang sudah amat sangat kencang dan cepat itu.
Tangan pemuda itu berpindah ke kedua pipi putih nan mulus milik Rin dan tentu saja gadis itu mau tak mau menatap wajah pemuda yang harus Rin akui cukup tampan. Jarak antara wajah mereka semakin dekat, kedua kening mereka telah bersentuan dan sukses membuat wajah Rin memerah.
5 cm
4 cm
Rin masih membuka matanya entah karena syok atau apa yang jelas ia merasakan mukanya memanas dan ia yakin mukanya sudah memerah seperti tomat matang.
3 cm
Rin bisa merasakan hembusan nafas Len yang menerpa kulit wajahnya yang mulus itu.
2 cm
Gadis itu pasrah dan menutup matanya perlahan, ia menunggu sampai bibir Len menempel di bibirnya tapi, anehnya ia tidak merasakan apa-apa. Rin membuka kedua kelopak matanya pelan dan menatap wajah pemuda tersebut yang telah mengembalikan jarak antara wajah mereka berdua, kedua kening mereka juga tidak bersentuhan. Len menatap Rin dalam diam, kedua tangannya masih memeganggi pipi Rin, cukup lama mereka seperti itu, sampai Len memutuskan untuk mengeluarkan suaranya.
"Ah, maafkan perlakuanku." Len meminta maaf secara tiba-tiba seraya melepaskan kedua tangannya dari pipi Rin dan memasukan kedua tangannya ke dalam saku yang terdapat di hodienya itu kemudian ia berjalan menuju ruang makan yang ternyata sudah dekat.
Sementara Rin hanya bisa membatu di tempatnya tadi berdiri, seolah-olah ada sebuat paku yang memaku kakinya sehingga ia tak dapat berjalan pergi dari tempat itu.
"Jika... Ah.. Bukan.. Tadi.. Kami hampir.. Berciuman?" Tanya Rin pada dirinya sendiri sambil menatap pintu ruang makan yang terbuka lebar dengan tatapan kosong.
"Hei! Rin! Kenapa kau berdiri di situ saja?!" Seru gadis yang berambut golden yang diikat side pony tail sambil berlari kecil menghampiri Rin dan seketika itu juga lamunan Rin buyar.
Sementara Luka yang berjalan lebih cepat telah sampai di depan Rin dan memegang kening gadis yang lebih pendek darinya itu.
"Rin? Kau sakit?" Tanya gadis yang berambut merah muda dengan khawatir.
"Tidak kok.. Mungkin karena udara di sini terlalu panas hingga mukaku memerah dan memanas.." Jawab Rin sekenanya tanpa melihat kedua sahabatnya yang tengah memasang wajah kebingungan.
Sementara itu di ruang makan, Len menarik sebuah kursi yang terbuat dari kayu, tepat di samping pemuda yang berambut ocean blue tengah duduk dengan santai sambil mendengarkan musik dari earphone yang menyumbat kedua lubang telinganya.
"Sial.." Gumam Len sambil menutupi mukanya dengan tangan kirinya.
"Harusnya aku lebih bisa menahan diri.. Pasti.. Dia akan membenciku setelah ini.." Lanjutnya sambil terus dalam posisi seperti itu.
Tanpa Len sadari, pemuda di sampingnya, Kaito mendengar gumaman kecil Len. Entah karena pendengarannya yang terlalu tajam atau ada hal lainnya.
'Apa yang dia lakukan pada Rin?..' Batin Kaito sambil melirik sekilas teman dekatnya yang tengah menutupi muka tampannya yang memerah dengan tangan kirinya.
Makan malam mereka lewati dengan tegang kecuali Luka, ya, siapa yang tidak tegang ketika kalian makan malam, di sebuah ruangan yang amat sangat mewah, dengan banyak maid dan butler di dalam ruangan itu. Salah sedikit saja mungkin akan mempermalukan diri mereka sendiri. Meskipun harus mereka akui bahwa makanan yang dihidangkan sangat enak, yang mungkin kualitasnya menyaingi restoran bintang lima yang bisa membuat dompet mereka kosong seketika. Saat ini mereka tengah asik mengobrol ringan sambil berjaaln di lorong mansion tersebut, tentu saja dengan perut yang sudah terisi penuh dengan makanan mewah tadi. Mereka terus berjalan sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu kamar mereka masing-masing yang kebetulan berdekatan.
"Oyasumi!" Seru mereka serempak dan kemudian masuk ke kamar mereka masing-masing.
Rin berjalan dengan gontai ke kasurnya, sepertinya ia kelelahan, setelah membaringkan dirinya ke kasur queen size yang ada di kamar itu, ia melihat ke arah langit-langit kamar itu. Matanya menerawang, mengingat-ingat kejadian saat ia tengah menuju ke ruang makan bersama dengan Len tadi. Sesaat mukanya memerah memikirkan muka Len tadi sangat dekat dengannya bahkan hampir menciumnya.
"Mou! Sebenarnya apa yang aku pikirkan sih?!" Seru Rin frustasi sambil mengacak-acak rambut honey blonde sebahunya itu.
Karena kelelahan akhirnya ia memutuskan untuk tidur, tak lupa melepas dua pasang jepitnya dan bando yang ia pakai itu dan menaruh benda-benda tersebut di sebuah night stand yang tepat di samping tempat tidurnya.
'Ah.. Persetan dengan berganti pakaian.' Batin Rin yang kemudian memeluk guling dan langsung masuk ke dalam mimpinya.
Sinar matahari pagi masuk melalui celah-celah gorden yang kebetulan tepat di depan tempat tidurnya itu, gorden itu sedikit tersibak dan membuat sinar matahari masuk untuk menyinari wajah bak porselen milik Rin dan membuat gadis yang berambut honey blonde itu terbangun karena cahaya matahari pagi yang menyinari tepat di wajahnya itu. Ia mengubah posisinya menjadi duduk dan mengusap-usap matanya. Setelah beberapa saat akhirnya ia bisa menyesuaikan matanya dengan perubahan cahaya dari gelap gulita menjadi terang. Setelah beberapa menit duduk dan merapikan tempat tidurnya, Rin segera menyambar handuk di dekat kamar mandi dan melakukan aktifitas paginya, setelah selesai mandi, ia mengambil baju tanpa lengan berwarna kuning pucat dan celana bahan berwarna putih, segera ia memakainya tak lupa menyisir serta menjepit poninya dengan dua pasang jepit yang diberikan oleh Len dan bando dengan pita yang seperti telinga kelinci itu. Setelah penampilannya cukup bagus, ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang sementara ia tempati itu.
Rin berjalan dengan sedikit lesu, karena terus menerus mengingat kejadian kemarin malam, segera Rin menggelengkan kepalanya kuat-kuat agar ingatan itu hilang namun toh usahanya sia-sia karena sang pelaku yang membuatnya seperti ini menepuk bahunya pelan.
"Ohayou, Rin!" Ujar Len sambil tersenyum ceria, sepertinya mood pemuda yang terobsesi dengan pisang ini sedang baik, hell! Apakah ia tidak tahu jika Rin menjadi salah tingkah dan lesu karena perbuatannya itu?!
"O-ohayou.." Balas Rin dengan wajah yang tiba-tiba memerah. "Ah! Sudah ya." Lanjutnya sambil berjalan ke ruang makan, meninggalkan Len yang tampak kebingungan.
"Dia marah padaku ya?.." Gumam Len pada dirinya sendiri dan memperhatikan punggung Rin yang semakin menjauh.
Rin berjalan masuk ke dalam ruang makan yang tampak ramai, tampak beberapa maid dan butler sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi, secara tidak sengaja ekor mata Rin menangkap apa yang tengah seorang maid bawa dalam nampannya.
'Ah.. Sarapan pagi ini omelet..' Batin Rin sambil tersenyum simpul. Ya, omelet adalah makanan kesukaanya setelah jeruk.
Rin menarik sebuah kursi dengan asal dan duduk di sana, ia memangku dagunya dengan tangan kanannya. Raut mukanya tampak lesu sehingga tanpa sengaja ia menekuk mukanya, bisa dibilang ia tengah cemberut.
"Tidak baik jika pagi-pagi sudah cemberut.." Ujar suara yang maskulin dari samping kanannya.
Rin menolehkan kepalanya dengan malas ke arah kanan dimana ia mendapati pemuda yang berambut biru laut tengah tersenyum lembut padanya.
"Ohayou Kaito." Sapa Rin singkat tentu saja tak bersemangat dan kembali memangku dagunya dengan tangan kanannya itu.
Keheningan melanda Kaito dan Rin, tapi itu tak berlangsung lama karena beberapa menit kemudian Len datang bersama Luka dan Neru. Mereka makan dengan beberapa obrolan ringan. Setelah menghabiskan sarapan pagi mereka, Luka memutuskan untuk membuka suaranya.
"Hari ini kita akan pergi ke pantai!" Seru Luka tiba-tiba dan mengagetkan yang ada di ruang makan saat ini.
"Eh? Ke pantai?" Tanya Rin tak percaya sambil mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Untunglah aku membawa baju renangku!" Seru Neru bahagia sambil tiba-tiba berdiri yang menyebabkan kakinya terantuk meja makan.
"Sakit!" Serunya dan hanya ditanggapi oleh tawaan teman-teman baiknya itu.
Sementara Len tersenyum lebar dan menampakan deretan gigi putihnya, sedangkan Kaito hanya tersenyum akan berita itu.
"Yosh! Jam 12 kita berangkat!" Seru Neru sambil mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan disambut oleh sorakan Rin dan Len. Kaito dan Luka hanya bisa melihat tingkah teman-temannya yang berlebihan itu dan menggelengkan kepala mereka berdua. Kelima remaja itu segera berjalan ke kamar mereka, saat itu jarum jam telah menunjukan pukul sembilan pagi. Rin mengambil sebuah baju renang yang bermodel one piece berwarna peach dan terdapat empat tumpuk renda dengan warna yang senada, dibagian tali baju renang tersebut terdapat sebuah pita kecil berwarna hitam dan Rin juga mengambil sebuah jaket putih, ia kemudian memasukan pakaiannya itu ke dalam tasnya tak lupa beberapa barang yang harus ia bawa lainnya. Setelah semuanya siap ia mengeluarkan earphone hitam miliknya dan mulai mendengarkan lagu dari ponselnya. Tanpa tersadar ia jatuh tertidur di kasurnya.
Rin merasa seperti tubuhnya digoyangkan perlahan.
"Rin.. Bangun, kita sudah mau berangkat.." Ujar sebuah suara yang maskulin dengan lembut sambil menggoyangkan tubuh Rin dengan pelan.
"Sebentar lagi..." Gumam Rin sambil membalikan badannya mencari posisi yang lebih nyaman untuk tidur.
"Ya sudah, aku akan bilang pada Luka, Neru dan Len bahwa kau tidak mau ikut ke pantai..." Ancam suara itu sambil mengoyang-goyangkan tubuh Rin dengan pelan lagi.
"Aku sudah bangun!" Seru Rin langsung mengubah posisinya menjadi duduk dan kepalanya terbentur dengan dagu orang yang berbaik hati untuk membangunkannya.
"Ittai.." Ringis mereka berdua.
"Haah.. Cepat bersiap-siap, kami akan menunggu di pintu depan." Ujar pemuda yang berambut biru laut sambil memeganggi dagunya dan berjalan keluar.
"Ha'i! Terimakasih Kaito." Ucap Rin sambil memeganggi kepalanya tapi tersenyum ke arah Kaito.
Pemuda tersebut melihat ke arah Rin sekilas dan ketika melihat senyuman tersebut sontak kedua pipinya terasa menghangat.. Mungkin karena udara musim panas? Entahlah, yang jelas Kaito mempercepat langkahnya keluar dari kamar tersebut. Rin segera turun dari kasur yang berukuran queen size itu dan berjalan ke arah cermin yang cukup besar dalam kamarnya itu, dia menyisir rambutnya yang mencapai atas bahu tersebut dan merapihkan bando dan jepitannya tersebut. Setelah semuanya siap dan rapi, Rin mengambil tas yang sudah berisi pakaian renangnya dan berjalan keluar dari kamarnya. Rin berjalan di lorong yang menurutnya tak berujung itu, salahkan Luka dan arsitek rumah - ralat mansion ini yang mendesainnya terlalu panjang dan tampak tak berujung, untungnya Rin tidak tersesat dan sampailah dia di pintu depan dimana teman-temannya tampak menunggunya dengan wajah masam.
"KAU LAMA SEKALI!" Seru mereka bersamaan sementara Rin hanya cengegesan dan menggaruk tengkuk lehernya.
"Ahaha.. Maaf, maaf.. Tadi aku ketiduran.." Ujar Rin sambil tertawa pasrah dan memamerkan cengiran khasnya.
"Hah.. Sudahlah, ayok!" Ajak Luka sambil mengisyaratkan mereka untuk mengikutinya, dimana di halaman rumahnya itu telah terparkir sebuah mobil Toyota Alphard keluaran terbaru berwarna hitam.
Tanpa basa-basi, mereka berlima masuk ke dalam mobil tersebut, mengabaikan ucapan selamat jalan dari para maid dan butler itu. Perjalanan berlangsung hanya sebentar, ya, jarak dari mansion tersebut ke pantai tidaklah terlalu jauh, hanya sekitar tiga puluh menit, jika ditempuh dengan mobil itu. Selama perjalanan mereka asik bercanda dan tertawa riang, tak terasa, mobil yang mereka tumpangi sudah berhenti dan pintu yang ada di mobil tersebut terbuka secara otomatis. Sontak kelima remaja tersebut keluar dan tampaklah hamparan pasir putih dimana-mana beserta pohon kelapa. Luka mengatakan sesuatu pada supirnya yang tadi mengantarnya, kemudian pria paruh baya (supirnya Luka) menganggukan kepalanya dan menyetir mobil tersebut meninggalkan Rin, Len, Kaito, Luka, dan Neru di sana.
To be Continued
Yosh~ Balas review-ssu!
To : Kurone Ryu
Ryucchi! *ditendang gara" seenaknya manggil gitu*
Len & Kaito : K-kita gak possesive! *blush*
Me : ternyata kalian tsun-tsun tohh... *senyum nista*
Rin : *senyum* Ha'i~ ini udah update Ryu-kun, maaf jika chapnya kurang memuaskan. *senyum ala malaikat*
Len & Kaito : *nosebleed*
Me : Abaikan saja dua orang itu XD Panggil aku Kumo atau Usagi aja X3 Terimakasih atas reviewnya ya X3
Author curcol place(?) :
Yey! 2k+! *nebar bunga* tetep aja dikit sih... tapi biarlah! *killed*
Oke, saya mau berterimakasih pada Kuro 'Kaito' Neko alias Kaikai(?) alias Onii-chan(?) alias Kaiko-chan(?) al-*stop* yang sudah bersedia ngasih ide dan memberi saran tentang chap ini! X3
Seperti biasa, maaf jika ada typo, alur terlalu cepatt, pendeskripsian kurang, dan lain sebagainya.. Author masih pemula... Q.Q *kicked*
Nee! Silahkan review~ Saran dan masukan akan sangat membantu saya, tidak perlu takut (?) saya menerima dengan senang hati ^^
