Hei, maafkan aku udah terlalu lama bikin fanfic ini menjamur. Ada yang masih ingat denganku? Aku rasa aku udah lamaaa banget ya ga update, padahal masih ada flash fic ngegantung…. Aku bener-bener ngerasa bersalah sama kalian u.u

Aku buat ini untuk menutup flash fic yang menggantung dan memberitahu kembalinya aku nih. Maaf ngebuat kalian berjamur. Makasih buat yang menanti ini.

btw, chap ini pendek loh ya. 551 words aja. Maafkan loh ya

Happy reading!

Yang namanya bisa sekelas dengan seseorang yang disukai sejak lama itu memang menyenangkan, tapi bagi Sehun yang pemalu, tetap saja rasanya canggung. Di tambah orang itu begitu popular dan super sibuk untuk kegiatannya, itu sangat menghambat majunya hubungan Sehun dan sang gebetan sekalipun mereka berada di kelas yang sama. Namun ada hal yang bisa Sehun syukuri, karena hampir tiap ada tugas kelompok guru-guru membuat Sehun dan sang gebetan berada dalam kelompok yang sama.

"Sehun-ah, bagaimana kalau kita bagi tugas saja? Aku ada latihan basket sebentar lagi, aku rasa kalau kita membagi tugasnya akan lebih cepat selesai," seseorang di depan Sehun menatap Sehun.

"Jongin benar! Ayo kita bagi saja."

"Ehm…," Sehun membaca soal-soal yang tersisa. "Kalian pergi latihan saja, biar ini aku selesaikan. Bagian yang tersisa mudah kok!" Sehun tersenyum simpul.

"Eh? Tidak bisa begitu, nanti yang bekerja hanya kau, dong? Akhirnya kita makan nilai buta, begitu? Tidak, ayo kita bagi. Luhan kau soal nomor delapan, Sehun nomor sembilan, dan aku yang ke sepuluh. Ayo kerjakan," Jongin mengomando.

"Jongin, tapi nomor sepuluh itu panjang jawabannya, biar aku saja yang nomor sepuluh. Kalian kan perlu latihan basket untuk lomba beberapa hari lagi."

"Kau mengejek otakku yak arena kau itu pintar?" Jongin berujar dengan wajah kesal.

"Duh, ribut saja kalian ini! Tinggal di kerjakan apa susahnya, heh?"

Jongin tersenyum senang dan Sehun hanya mengangguk pasrah karena ucapan Luhan. Mereka bertiga pun mengerjakan tugas masing-masing.

.

.

"Senang ya satu kelompok terus," ujar Luhan saat berjalan beriringan dengan Jongin.

"Satu kelompok dengan Sehun? Tentu saja aku senang. Dia manis sekali tahu tiap mengerjakan soal, aduh… aku ingin cepat-cepat menyatakan perasaanku pada Sehun, tapi aku malu. Bagaimana ini, Lu?"

Luhan terkekeh mendengar ucapan Jongin. "Mudah saja, tinggal sering-sering kau ajak dia mengobrol, lalu lanjut ke hubungan lebih jauh seperti berkencan atau mentraktirnya. Yeah, seperti itu lah!"

"Tapi memang Sehun mau denganku?" Tanya Jongin yang lebih untuk dirinya daripada untuk Luhan.

"Cari saja jawabannya pada Sehun. Ayo latihan!"

Jongin terkejut begitu dirinya sadar kalau mereka berdua sudah sampai ruang ganti. Jongin dengan cekatan berganti pakaian dan menuju lapangan basket.

.

"Jongin, Luhan, semangat!" Sehun berteriak dari tempat penonton. Yang disemangati tersenyum sambil melambai sebentar ke arah Sehun.

Jongin dan Luhan bermain sangat bagus, sang pelatih terlihat begitu puas melihat mereka berdua—begitu pendapat Sehun. Saat melihat Jongin dan Luhan berjalan ke pinggir lapangan, Sehun segera menghampiri mereka dan menyerahkan masing-masing satu botol minuman dingin.

Jongin tersenyum menerimanya lalu menegaknya sementara Luhan tanpa basa-basi langsung menegaknya dan menyiramkan sisanya ke kepalanya yang terasa panas. Sehun terkekeh melihat Luhan.

"Jangan tertawa, ini rasanya benar-benar panas," Luhan melemparkan botol kosongnya ke tong sampah yang tersedia. "Kau begitu sigap member kita minum, mungkin setelah ini aku perlu mempertimbangkanmu menjadi manager team basket sekolah kita."

Sehun kembali terkekeh mendengar ucapan Luhan. "Ada-ada saja kau ini. Lagi pula aku melakukannya karena menurutku permainan kalian begitu keren."

"Aku memang keren sih tanpa perlu bermain basket, tapi aku rasa aku masih kurang keren tanpa ada kekasih. Jadi daripada menerima tawaran Luhan menjadi manager team, bagaimana kalau menjadi kekasihku saja, Hun?" ujar Jongin tak terduga. Luhan menganga, Sehun masih loading.

"Sebenarnya…," Sehun bergumam lalu menjedanya, membuat Jongin yang berharap-harap cemas dan Luhan yang masih terkejut itu menunggu dengan napas tertahan. "Aku juga suka Jongin sejak lama," jawab Sehun malu-malu meong.

"CIEEE!" Luhan menggoda Jongin yang kini sudah terbang.

FIN.