Balasan Review

Betiace Yup, makasih udah mau nunggu. Yah, semoga endingnya bahagia :)

Mell Hinaga Kuran Nantikan aja deh yaa, haha


Saguru Hakuba

Aku tidak tahu apa yang membuatnya begitu senewen kemarin. Dua hari yang lalu kami masih baik-baik saja dan sepanjang hari kemarin dia berubah ketus padaku. Barangkali sedang PMS. Entahlah. Kabarnya wanita bisa jadi sangat sensitif karena masalah ini. Tapi aku senang karena berhasil kencan dengannya. Ya, aku bicara tentang Ai Haibara. Perempuan misterius itu. Ia membuatku penasaran setengah mati bahkan sejak pertemuan pertama kami di pesawat. Lalu ia muncul di kampusku. Bukankah ini berarti takdir?

Dan kembali ke topik yang kusinggung tadi, hari ini aku akan kencan dengannya. Well, meski secara teknis aku setengah memaksanya untuk pergi denganku. Tapi mau bagaimana lagi? Cara biasa tidak akan mempan untuk mendekati gadis seperti dia. Untuk wanita seperti dia, strateginya memang harus lebih jitu.

Dan, demi Tuhan, kelas hari ini terasa panjang sekali. Hari ini tidak ada kelas Profesor Walter, yang artinya aku tidak bisa melihatnya. Melihat gadis itu, maksudku. Bukan Profesor Walter. Aku tidak bisa berhenti memikirkannya sejak kemarin. Dan sebelumnya aku tidak begini terhadap gadis lain. Dia benar-benar spesial kan?

Pada akhirnya jarum panjang pada jam di dinding kelas merujuk ke satu angka yang menandakan kelas sudah berakhir. Sambil bersiul-siul aku membereskan peralatanku ke dalam tas. Dan di sanalah dia. Di depan pintu kelasku. Malaikatku yang cantik sudah menunggu. Yes, dia menepati janjinya. Astaga, biar sedang jutek begitu wajahnya tetap manis.

Ada rasa senang yang membuncah secara tiba-tiba, mengetahui ia bersusah payah mencari kelasku hari ini. Sambil tersenyum lebar aku menghampirinya.

"Aku tahu apa yang kau pikirkan." Suaranya yang dingin sudah lebih dulu menusuk telingaku. "Aku bukannya sengaja mencari-cari kelasmu karena begitu inginnya pergi bersama, jadi jangan salah sangka."

Aku melongo menatapnya selama beberapa detik. Sebenarnya aku juga tidak berpikiran kalau dia akan sebegitunya tidak sabar kencan denganku kok. Tapi karena aku menghargainya, dan demi keselamatan jiwaku siang itu, aku pun berkata, "Lalu karena apa?"

"Lebih baik aku yang mencari kelasmu lebih dulu daripada kau yang mencariku dan dengan heboh mengajakku pergi. Bisa-bisa gosip aneh akan muncul di antara dosen dan mahasiswa." Ia melipat kedua tangan di depan dada.

Aku manggut-manggut. Jadi dia benar-benar ketakutan kepergok kencan dengan mahasiswa ya? "Ya sudah. Kita segera pergi saja ya? Atau kau mau kita pergi secara terpisah dan bertemu di kafe saja supaya tidak ada yang curiga?"

"Kalau aku harus pergi sendiri, sebaiknya dibatalkan saja. Aku tidak tahu kafe mana yang kamu maksud dan aku juga sebenarnya tidak niat-niat amat pergi denganmu." Ini ciri khasnya yang lain. Ia langsung melenggang pergi setelah mengucapkan kata-kata yang menghujam perasaan. Ia bahkan tidak akan repot-repot menunggu jawabanku terlebih dulu. Ckckck. Dosa apa aku sampai bisa jatuh cinta pada gadis berdarah dingin begini?

Aku langsung berlari mengimbangi langkahnya. "Hei, oke oke, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud membuatmu pergi sendirian. Tadi itu murni hanya usul. Hanya usul." Aku menekankan dua kata terakhir. Tapi sekarang wajahnya sudah melunak. Bolehkan aku menyimpulkan bahwa dia sudah tidak marah lagi padaku?

"Kita tetap pergi kan?" tanyaku. Dia terdiam beberapa detik sebelum menjawab.

"Ayo," jawabnya sambil tersenyum sekilas. Betul-betul sekilas sampai aku merasa ragu apakah dia memang tersenyum padaku tadi.

Kami baru saja akan menuju parkiran mobil ketika sebuah suara yang familiar menyapaku. Aku menoleh. Ai juga ikut berhenti dan menoleh.

"Cecile?" sapaku.

"Hai. Oh, dan hai juga, Haibara." Ia tersenyum sekilas pada Ai, yang dibalas dengan sebuah anggukan dan senyum samar.

"Ada apa Cecile?"

"Ehm itu...sebenarnya aku ingin mengajakmu makan siang hari ini, berhubung kelas hari ini selesai lebih cepat. Eh, tapi sepertinya kau ada janji dengan Haibara ya? Kalian mau ke mana?"

Aku betul-betul beruntung hanya Cecile yang memergokiku. Seperti yang pernah kukatakan, Cecile itu anak yang lumayan polos. Dia tidak akan curiga macam-macam deh. Percaya padaku. Tapi sayangnya gadis di sebelahku berpikiran sebaliknya, karena sekarang dia mulai berdiri mendekat ke sampingku dan mencubit punggungku dengan keras.

"Aww," pekikku pelan sambil menahan rasa sakit. Kalau aku teriak mungkin setelah itu ia bakal menggebukiku sampai mati. Demi nyawaku saat ini, sebaiknya aku bertahan saja.

"Kami mau belajar bersama. Eh, maksudku, aku yang belajar padanya. Ada hal yang tidak kumengerti tentang penjelasan Profesor Walter kemarin." Ucapanku jadi terbata-bata karena rasa sakit di punggungku ini mengacaukan fokusku. Untung saja aku tidak kelepasan bicara dan bilang bahwa aku akan kencan dengan asisten dosenku sendiri. Dan untung saja yang bertanya padaku hanya Cecile, gadis lugu yang sama sekali tidak curiga kalau pria pujaannya sedang mendekati gadis asisten dosen yang lebih tua darinya.

"Itu benar." Gadis itu kini tersenyum pada Cecile dengan mimik tak bersalah. Lihat saja pembalasanku nanti. "Kau mau ikut belajar dengan kami?"

Kini gantian aku yang memelototinya. Ini kan harusnya jadi kencan kami. Oke, oke, secara teknis aku yang memaksanya, tapi tetap saja. Lagipula mau belajar itu hanya alasan karanganku. Aku sama sekali tidak membawa buku atau catatan atau dokumen apa pun yang terkait dengan mata kuliah Profesor Walter kemarin. Ukh, nampaknya kencanku akan berubah menjadi kelompok belajar para mahasiswa teladan yang menjemukan.

Tapi nasib cintaku memang tidak seburuk itu. Semesta memang sangat bermurah hati mengatur takdirku. "Kalau hari ini aku tidak bisa," tolak Cecile sambil menggeleng lemah. "Setelah makan siang aku masih ada rapat organisasi. Kalau belajar bersama sepertinya tidak bisa. Mungkin lain kali."

"Ya, mungkin lain kali." Dengan penuh semangat aku menyahut ucapan Cecile. Ini memang jahat sekali mengingat aku mengatakannya dengan wajah sumringah. Ah, kini aku jadi merasa bersalah padanya.

"Ehm, tapi kalau besok siang jadwalku kosong. Mungkin kita bisa makan siang bersama?" tawarku padanya. Dan wajahnya langsung memerah seperti kepiting rebus. Hei, aku tidak salah ucap kan? Aku hanya menawarinya makan siang bersama kok.

Tapi lalu ia segera mengangguk kuat-kuat. "Ya. Besok bisa. Baiklah, sampai jumpa besok, Saguru. Haibara." Ia mengangguk ke arah Ai.

Setelah ia berada cukup jauh dari kami, aku baru bisa bernapas lega. Ketika kembali berjalan ke arah mobil aku merasakan nyeri di punggungku. Arghh, pasti jadi biru. "Cubitanmu keras sekali. Aku yakin punggungku kini berwarna ungu."

"Jangan berlebihan," sahutnya tidak peduli sambil masuk ke dalam mobil. Oke, kini aku mulai merasa si malaikat cantik ini rada-rada psikopat. Masa ia mengatakannya tanpa ekspresi apa pun di wajah. Dan nampaknya ia tidak sabar menungguku yang sedang mengusap-usap punggung untuk mengurangi rasa sakit, karena setelahnya ia berkata, "Ck, lama sekali. Nanti kita malah dipergoki orang lain lagi. Apa perlu aku yang menyetir?"

"Baiklah, baiklah. Kita jalan sekarang." Aku menjalankan mobilku sambil meringis menahan sakit dan masih tetap mengusap punggung. Tapi kemudian aku melihat gadis itu diam-diam tertawa geli melihatku. Meski dia memalingkan muka, aku melihat sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas membentuk senyum.

"Apa kau selalu tertawa seperti itu setelah menyakiti orang lain?"

"Tidak," jawabnya tanpa menyembunyikan senyumnya lagi.

"Tidak? Jadi kau hanya tertawa setelah menyakitiku?"

Ia nampak berpikir. "Mungkin." Ia mengangkat bahu.

"Jadi kau hanya tertawa setelah menyakitiku. Apakah itu berarti aku cukup spesial hingga membuatmu sampai seperti itu?"

Sebagai balasan, ia memukul lenganku sekali sambil melotot.

"Aduh, ini namanya penganiayaan. Aku bisa melaporkanmu ke polisi."

"Dan penganiayaan ini akan berlanjut kalau kau terus mengoceh yang tidak-tidak. Dan omong-omong, di mana kafenya? Apa masih jauh?"

"Sebentar lagi," sahutku sambil melihat ke sekeliling. "Ini dia kafenya." Aku mulai masuk ke halaman depan dan memarkirkan mobil di tempat yang kosong.

Kami dapat menghirup aroma khas kopi begitu memasuki pintu depan. Aku memilih tempat favoritku yang menghadap ke jendela.

"Jadi..." Ia mulai membuka pembicaraan. "...seberapa sering kau kencan dengan penggemarmu?"

"Hmm, lumayan. Mereka sering mengajak makan siang, atau nonton bioskop, atau sekadar minum kopi di sini." Aku menyeringai padanya, bangga karena penggemarku yang sangat banyak.

"Jadi kau sudah tahu bagaimana reputasiku di kampus?" tanyaku.

"Tentu saja tidak. Aku kan hanya bertanya karena gadis rambut merah tadi sedang berusaha mengajakmu kencan."

"Cecile bukan penggemar. Aku sudah menganggapnya temanku sendiri."

"Kelihatannya dia gadis baik."

"Memang," sahutku sambil mengangguk.

"Dan dia nampaknya menyukaimu."

Aku melihat apakah ada tanda-tanda kecemburuan di wajahnya. Tapi nihil. Dia hanya mengatakannya karena...entahlah. Mungkin hanya berbasa-basi? Aku menghela napas.

"Aku tahu."

"Kau tidak menyukainya?"

"Aku menyukai orang lain."

"Benarkah? Sayang sekali." Kini wajahnya menampakkan kesedihan. Aneh. Dia sedih karena aku tidak menyukai Cecile? Kenapa? Lalu pertanyaanku terjawab di kalimatnya yang berikut. "Aku tahu perasaan semacam itu."

Oh. "Kau juga pernah menyukai seseorang yang tidak menyukaimu?"

Ia mengangguk sambil tersenyum pedih. Mendadak aku jadi kesal sekali. Kurang ajar. Laki-laki brengsek mana yang melakukan ini padanya? Tanpa sadar aku menggenggam sendok kopiku dengan keras.

"Ah sudahlah," ucapnya sambil tersenyum. "Kita tidak perlu membicarakannya. Lagipula aku akan segera melupakannya. Itu kenangan buruk."

Hei, tapi itu gagasan yang bagus buatku. Bagus, lupakan saja laki-laki itu. Akan kubuat kau jatuh cinta padaku.

"Karena itulah, Saguru." Aku mendongak menatapnya. "Sebaiknya pertimbangkanlah perasaan gadis itu. Menyakiti perasaan seorang gadis itu salah satu dosa terbesar, kau tahu."

Astaga. Bagaimana caranya supaya dia mengerti kalau orang yang kusukai adalah dia? Aku tidak mau menanggapi permintaannya itu. Dengan lihai kualihkan pembicaraan.

"Omong-omong soal patah hati, bagaimana kalau kau menemaniku ke sebuah pesta? Yah, acaranya masih dua minggu lagi sih, tapi aku sudah lebih dulu mendapat undangannya. Siapa tahu pesta bisa menentramkan hati yang sedih akibat patah hati."

"Sejak kapan pesta bisa menentramkan kesedihan karena patah hati?" balasnya.

"Biasanya memang tidak. Tapi kalau teman pestamu aku, tentu akan menentramkan hati." Aku menyeringai sambil mengatakannya.

Dan ia tertawa. Bagus. Dia tertawa karena leluconku. Ini kemajuan yang berarti. "Kau ini percaya diri sekali."

"Jadi bagaimana? Mau menemaniku?"

"Jenis pesta apa dulu yang akan kau datangi? Kalau pesta seperti di club malam, maaf saja, aku tidak betah dengan situasi semacam itu."

"Oh, tidak. Sama sekali bukan pesta semacam itu. Ini pesta formal para detektif. Jadi, semua orang akan memakai jas dan gaun, dan..."

"Pesta untuk para detektif?" selanya. "Detektif siapa? Oh, maksudku, apakah semua detektif akan diundang?"

"Tentu saja yang diundang hanyalah para detektif yang namanya sudah terkenal di tingkat dunia. Panitia Komunitas Detektif Dunia yang mengadakannya. Kau mungkin tidak pernah dengar, memang komunitas ini baru terbentuk." Ia tampak menimbang-nimbang tawaranku. Lalu aku menambahkan, "Tapi setiap orang boleh membawa satu orang teman ke sana. Tentu saja temannya itu tidak harus detektif juga."

Ia kemudian menggeleng dan berkata, "Bukan itu yang aku pikirkan. Tapi kurasa aku akan ikut denganmu ke pesta itu."


"Wah, wah, tumben sekali kau tidak pulang dengan Carl." Seorang wanita paruh baya tengah berdiri di dekat taman di depan rumahnya sambil menyirami tanaman di sana. Ia menatapku sambil tersenyum ramah.

"Hai, Ellie. Tidak, Carl bilang dia akan ada rapat lagi."

Lalu wanita bernama Ellie itu memberikan tatapan penuh arti kepada Ai. Artinya kurang lebih, "Siapa laki-laki ini?"

Dengan nada malas, Ai memperkenalkan kami berdua. "Ellie, perkenalkan, ini Saguru Hakuba. Saguru, ini Ellie Walter, istri Profesor Walter."

"Kau mahasiswanya Carl?" Ellie memandangku terheran-heran. Wajar saja. Mahasiswa mana yang mengantar pulang asisten dosennya sih?

Aku membalas senyumnya dengan senyum memikatku yang terkenal. "Itu benar."

Ellie mengangguk-angguk mendengar jawabanku, tapi nampak jelas di wajahnya, kalau ia masih memikirkan bagaimana aku dan Ai bisa pulang bersama.

"Ehm.. Aku hanya ke sini mengantar Haibara. Dan ini sudah sore, sebaiknya aku kembali pulang sekarang." Aku menunduk singkat pada Ellie, lalu melirik si gadis jutek dan mengedipkan sebelah mataku padanya.

"Sampai jumpa besok." Salam perpisahanku dibalas dengan pelototan tajamnya. Yah, aku sudah tidak terkejut sih. Lama-lama aku terbiasa juga dijuteki begini.

"Lain kali ikutlah makan malam dengan kami." Ellie mengatakannya dengan nada sungguh-sungguh, sementara Ai tidak berhenti melontarkan tatapan mengusir supaya Ellie tidak menawariku undangan lainnya lagi.

"Tentu," sahutku sambil masuk ke BMW hitam milikku tanpa memedulikan tatapan tajam si putri es.