Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
Catatan :
Tolong baca ini yaa... jadi fic ini terinspirasi dari berbagai Film, komik, webtoon, anime, dan segala macam hal-hal karya yang memiliki plot alur tentang vampire/drakula, sudah lama pengen banget bikin fic bikinian, so, mungkin akan ada beberapa alur yang mirip.
.
Peringatan...!
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung suku, ras, agama dan apapun, hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
rate masih bebas, jika terjadi hal "buruk" rate akan berubah menjadi M
.
Enjoy for read
.
But
.
Don't like Don't Read
.
.
~ Sweet Blood ~
[ Chapter 9 : Keraguan ]
.
.
.
Pagi harinya, Sakura hanya mematung di depan gerbang sekolah, terlalu banyak hal yang harus di pikirkannya.
"Kau menghalangi jalan." Bisik seseorang, bahkan orang itu terlalu dekat dan berada tepat di belakangnya.
"Sa-Sasuke! Kau mengagetkanku." Ucap Sakura, terkejut.
"Pagi-pagi sudah melamun."
"Aku tidak melamun, oh iya, Sasuke bisakah jika saat di sekolah kita-"
"-Baiklah." Ucap Sasuke.
"Apa? Aku belum mengatakannya." Ucap Sakura, bingung, dia hanya ingin tidak ada yang tahu jika dia dan Sasuke sudah memiliki hubungan.
"Aku sudah tahu apa yang ingin kau katakan."
"Apa kau bisa membaca pikiran?"
"Menurutmu?"
"Uhk, kau itu kan va-" Ucapan Sakura terputus, Sasuke segera menutup mulut gadis itu dengan tangannya.
Mendekat ke arahnya. "Di sini begitu banyak telinga, kau tidak boleh mengucapkan hal itu seenaknya." Ucap Sasuke, pelan, sangat pelan hingga hanya gadis itu yang mendengarnya.
"Ma-maaf." Ucap Sakura dan segera menjauh dari Sasuke, tadi itu sangat dekat.
Saat masuk kelas, suasana yang tenang, tapi mata seluruh murid terfokus pada pintu kelas, Sakura masuk bersama Sasuke, mata gadis berambut softpink ini malah tertuju pada Naruto, mereka sudah berkencan kemarin, hanya sehari saja, bahkan dia tahu jika kakaknya lebih menyukai Naruto dari pada Sasuke.
Sasuke menatap Sakura, tatapan yang aneh dan hanya tertuju pada Naruto, memikirkan apa yang sudah terjadi pada mereka saat kencan bersama, Sasuke sudah memastikan tidak ada yang terjadi, tapi tatapan itu membuatnya tidak senang, sengaja menyentuh lengan Sakura saat melewatinya, gadis itu sejak tadi hanya melamun.
.
.
.
Di kantin.
"Bagaimana?" Ucap Ino, menatap penasaran akan kencan Sakura dan Naruto, Tenten pun ingin tahu bagaimana kencan mereka kemarin.
"Jadi, apa? Hanya kencan biasa." Ucap Sakura, sibuk melahap makan siangnya.
"Kami pikir kau akan jatuh cinta pada pemuda berisik itu." Ucap Ino.
Menghentikan makannya dan terdiam, lagi-lagi memikirkan sikap Naruto dan sekarang dia sudah memiliki Sasuke.
"Meskipun dia berisik, aku lebih setuju kau bersama Naruto." Ucap Ino.
"Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi." Ucap Sakura.
"Apa kau benar menyukai Sasuke?" Ucap Tenten, sedikit merasa aneh dari sikap Sakura, mereka jadi sering terlihat bersama.
"Ti-tidak." Ucap Sakura bahkan tidak ingin menatap kedua temannya itu, mengalihkan tatapannya di seluruh area kantin ini.
Di meja lain, Naruto mulai memiliki teman, dia sudah tidak membuat masalah lagi dan menurut beberapa murid laki-laki, Naruto pemuda yang asik, sedangkan Sasuke, pemuda itu akan tetap dengan wajah tenangnya dan tidak ingin membaur dengan siapapun.
Sasuke sangat tenang di meja makannya meskipun sendirian, seorang gadis datang dan duduk bersamanya, gadis itu adalah Hotaru, Sakura tahu jika mereka sangat dekat setelah Sasuke menceritakan segalanya tentang siapa Hotaru itu, gadis cantik itu juga sudah memiliki pasangan hidupnya yang sama-sama satu bangsa.
"Apa mereka sedang pacaran?" Bisik Ino pada Sakura.
"Aku juga penasaran, selain sering terlihat bersama Sakura, si Uchiha itu sering bersama artis dari kelas lain itu." Ucap Tenten.
"Jangan mencampuri urusan orang lain." Ucap Sakura, tidak peduli dan segera menghabiskan makanannya.
Sementara itu di meja Sasuke.
"Kau tidak makan bersama Sakura?" Ucap Hotaru.
"Ini hanya permintaannya, dia tidak ingin ada yang tahu hubungan kami." Ucap Sasuke.
"Begitu yaa, kalian ini sangat lucu, memiliki hubungan secara sembunyi-sembunyi?"
"Aku juga tidak tahu, dia yang memintanya."
"Mungkin saja dia malu pada teman-temannya jika tahu sudah memiliki pacar." Ucap Hotaru dan terkekeh.
"Oh, iya, kau pasti akan mendengar banyak berita dari manapun, apa kau tahu jika ada beberapa orang yang membuat masalah di kalangan kita?" Ucap Sasuke, sedikit memelankan suaranya.
"Kalangan pemberontak yaa, padahal kita sudah hidup aman begini mereka masih saja mencari masalah."
"Kau benar, mereka hanya akan membuat kehidupan damai yang susah payah di pertahankan bangsa terdahulu menjadi hancur."
"Aku belum pernah bertemu mereka, hanya mendengar beberapa isu dari bangsa kita yang bekerja sama denganku."
"Aku harap kau berhati-hati juga, mereka bahkan tidak segan akan memakan bangsanya sendiri."
"Akan aku ingat itu, mungkin kita harus sering-sering berdiskusi dengan Rinji, seperti memberi tahu peringatan ini, jika mungkin dari kita yang menemukan bangsa pemberontak itu, kita bisa saling berbagi informasi."
"Aku tidak ingin bertemu dia." Ucap Sasuke dan terlihat malas.
"Tetap saja kan, kita ini sebangsa, setidaknya harus saling membantu."
.
.
.
.
Kediaman Uchiha.
"Maaf, aku sungguh lancang untuk mendatangi kediaman senior seperti ini." Ucap Serra.
"Aku sendiri tidak menyangka jika kau menghubungiku hanya untuk bertemu secara pribadi." Ucap Itachi.
Sebelumnya, junior yang sering di jahilinya ini menghubunginya dan sangat ingin bertemu, Itachi hanya memintanya untuk bertemu di kediamannya saja, rumah yang besar dan mewah bagi penglihatan Serra, dia tahu jika seniornya itu bukan orang yang biasa-biasa saja bahkan bagi bangsanya, mereka tengah berada di ruang tamu dan Itachi menyambutnya dengan begitu baik, pikirnya Serra akan dendam padanya, tapi pemuda itu seperti masa bodoh dengan apa yang sudah di lakukan Itachi padanya.
"Santailah, aku senang kau datang dan tidak marah-marah padaku. Oh iya, sebentar lagi kau akan selesai yaa, aku akan menunggumu di latihan ujian akhir." Ucap Itachi, dia masih harus mengawasi Serra sebelum dia benar-benar menjadi seorang anggota kepolisian.
"Aku tidak akan marah pada senior, lagi pula itu sudah menjadi patokanmu untuk melatih anggota, aku jadi terbiasa akan sikap tegas dan disiplin berkat senior." Ucap Serra, sedikit menyanjung seniornya itu, meskipun dia masih sulit melupakan beberapa hal yang memalukan di lakukan Itachi.
"Baiklah, aku yakin kau datang ke sini bukan untuk membahas masalah latihan kita nanti, ada apa Haruno Serra?"
"Aku tidak akan basa-basi, aku tahu Uchiha Sasuke itu adalah adikmu, tapi bisakah senior membuat mereka tidak bersama? Aku bukannya memiliki maksud lain pada adik senior, tapi aku dan komandan Minato sudah sepakat akan menjodohkan anaknya dan adikku." Ucap Serra.
"Aku minta maaf atas sikap adikku, aku juga tidak tahu dia sampai harus mengganggu adikmu, aku setuju saja jika kau ingin mereka tidak perlu dekat lagi." Ucap Itachi.
"Terima kasih, senior."
"Aku juga tahu kau tidak ingin adikmu bersama orang seperti kami."
"Senior benar-benar tahu."
Kenyataannya yang terjadi pada anggota kepolisian satuan khusus, hanya mereka yang akan tahu kebenaran tentang bangsa vampire, semuanya tahu akan hal itu, bangsa vampire itu ada, di jaman dulu mereka di buru, sekarang anggota polisi dan vampire bekerja sama, mereka saling membantu dan menciptakan sebuah perdamaian ini, jika ada masalah yang terjadi di medan perang, bangsa vampire akan berada di garis depan dan bangsa manusia yang akan membantu mengamankan dari belakang.
"Sasuke hanya vampire muda yang masih sulit mengontrol emosinya, dia belum stabil dan tidak menyadari apa dampaknya jika dia bersama seorang manusia, ayahku sudah menegur sikapnya, jadi aku harap kau tenang saja Serra."
"Sekali lagi terima kasih, senior, aku tidak begitu lama." Ucap Serra dan pamit.
"Ah, sampai ketemu di tempat latihan, pinky boy." Ucap Itachi dengan nada bercanda.
"Ja-jangan memanggilku seperti itu lagi senior!" Protes Serra.
Itachinya tersenyum melihat reaksi juniornya itu, setelah Serra pulang, tatapan serius yang terlihat di wajahnya.
"Hayate." Panggil Itachi.
"Ada apa, tuan?" Ucap Hayate.
"Jemput nona Karin dari bandara dan jika bisa saat kau menjemput Sasuke, bawa Karin bersamamu." Ucap Itachi.
"Baik, tuan." Ucap Hayate.
Berjalan pergi setelah mendengar perintah tuannya, hari ini seorang gadis yang akan di jemput, gadis biasa yang juga memiliki derajat dan merupakan salah satu bangsa vampire di kalangan elit.
.
.
.
.
"Kau akan menahanku di sini terus?" Ucap Sakura, kelas sudah kosong dan Sasuke tidak membiarkan Sakura pulang.
"Mungkin saja." Ucap Sasuke, santai.
"Aku harus pulang, jika tidak, kakakku itu akan curiga dan malah mendatangi sekolah." Ucap Sakura, dia sampai harus berbohong pada Ino jika seorang guru sedang meminta bantuannya, Ino jadi harus pulang lebih dulu darinya.
"Kau hari ini sedikit aneh, ada yang mengganggu pikiranmu?"
"Tidak ada."
"Kau melamun sepanjang hari atau ada orang lain yang sedang kau pikirkan?"
Sakura kembali mengingat saat bersama Naruto, dia tidak mungkin memiliki perasaan pada pemuda itu, hanya sedikit peduli padanya.
"Tidak ada."
"Mungkin aku terlalu cepat mengatakan perasaanku padamu, atau seharusnya aku tidak mengatakan padamu." Ucap Sasuke, dia bisa melihat tatapan gadis itu terkejut.
"Bu-bukan seperti yang kau pikirkan!" Ucap Sakura, dia tidak ingin Sasuke salah paham.
"Kau tidak menyukaiku?"
"Aku menyukaimu." Ucap Sakura, namun tatapan itu tidak seperti apa yang di ucapkan.
"Tapi kau terlihat kebingungan."
"Aku-" Sakura terlihat menghela napas. "Bukan seperti itu, sungguh, aku hanya kadang memikirkan sesuatu yang konyol."
"Apa itu?"
"Orang tuamu yang menentang kita dan kakakku yang semangat menjodohkanku dengan Naruto, semuanya ini tidak bisa membuatku tenang."
"Aku sudah katakan padamu, orang tuaku akan mengerti, sedangkan kakakmu itu, aku akan tetap mempertahankanmu, kau tidak percaya padaku?"
Menatap pemuda itu, Sasuke sangat jarang mengucapkan kalimat seperti itu, seakan dia benar-benar berjuang untuk Sakura.
"Kau harus percaya padaku, karena aku sudah memberimu penanda, kau adalah milikku." Ucap Sasuke, memperpendek jarak di antara mereka.
Sakura menutup matanya, bibir itu terasa dingin, mau bagaimana pun juga dia sadar, Sasuke adalah vampire, hanya sebuah ciuman sederhana.
"Percaya padaku." Ucap Sasuke, kembali menegaskan ucapannya itu.
"Aku percaya." Ucap Sakura, sedikit malu setelah ciuman itu.
"Minggu ini kita harus kencan, kau sudah kencan dengan pemuda berisik itu."
Sakura mengangguk senang. Kembali wajah Sasuke mendekat, Sakura segera menjauhkan wajahnya.
"Na-nanti ada yang melihat kita, kita harus pulang sekarang." Ucap Sakura, panik.
"Belum, aku belum puas bersamamu, setelah kau pulang, kakakmu yang cerewet itu akan mengurungmu dan tidak ingin kau keluar." Ucap Sasuke.
Sebuah senyum di wajah Sakura, ucapan Sasuke jadi terkesan dia sedang ngambek, tatapan dingin yang sinkron dengan nada bicaranya itu.
"Kau harus belajar menciumku." Ucap Sasuke.
"Jadi benar yaa, vampire itu cukup agresif."
"Tidak juga, Izumi hanya mengarang semua itu." Ucap Sasuke, kembali menjelek-jelekkan karya kakak iparnya.
"Kau harus menghargai kakak iparmu itu." Protes Sakura.
"Dari pada kau terus membaca hal konyol itu, kau bisa bertanya padaku, aku akan menjawab semuanya tentang bangsaku." Ucap Sasuke.
"Benarkah?"
"Hn."
"Bagaimana saat kita kencan? Aku bisa bertanya semuanya?" Ucap Sakura, ini membuatnya cukup antusias, akan ada banyak hal yang bisa di ketahuinya nanti.
Sasuke mengangguk, keduanya berjalan keluar kelas, cukup lama keluar dari kelas setelah jam pulang yang sejak 30 menit yang lalu telah berlalu.
Di depan gerbang, Hayate sudah menunggu tuan mudanya, namun, seseorang lagi berjalan keluar dari dalam mobil. Sakura menatap Hayate dan kini menatap seorang gadis yang terlihat lebih dewasa dari mereka. rambut merah terangnya, pupil yang sama dengan warna rambutnya, menggunakan kacamata dan pakaiannya cukup seksi.
"Sasuke!" Ucap ceria gadis itu, berjalan lebih cepat, bahkan tak segan untuk memeluk erat Sasuke.
"Karin? Kau ada di Konoha?" Ucap Sasuke, sedikit tidak percaya jika gadis itu berada di Konoha.
"Paman Fugaku memintaku untuk datang ke sini, kau tidak senang aku datang?"
"Tidak juga, apa Hayate yang menjemputmu?"
"Tentu saja, awalnya aku harap kau menjemputku, sayangnya kau belum pulang sekolah saat aku sudah tiba di bandara, kau tidak bosan bersekolah selama bertahun-tahun, aku saja sudah bosan."
"Maaf, aku tidak menjemputmu dan aku cukup menikmati setiap masa sekolahku meskipun kadang akan jenuh." Ucap Sasuke.
Sakura menatap sedikit tidak senang akan gadis itu, sampai memeluk Sasuke dan pemuda ini tenang-tenang saja saat ada gadis lain memeluknya di depan pacarnya sendiri.
"Oh iya, dia?" Ucap Karin, menatap ke arah Sakura, sejak awal dia tidak suka gadis ini berjalan bersama Sasuke.
"Dia-"
"-Makananmu? Kau membuat target Sasuke?" Potong Karin, dia mencium bau Sasuke pada gadis ini.
"Bukan, kau harus mendengarkanku lebih dulu." Ucap Sasuke, sedikit kesal akan ucapannya di potong.
"Aku tidak mau mendengarnya, tapi kau berani juga menandai gadis manusia." Ucap Karin.
"Kami pacaran!" Ucap Sakura, tidak ingin tinggal diam dan mendengar ucapan gadis di hadapannya ini.
"Pacaran? Apa?" Ucap Karin dan tawa keras darinya. "Jangan bercanda, aku sampai sakit perut mendengarnya." Tambah Karin.
Sakura semakin kesal melihat tingkah gadis ini, menatap ke arah Sasuke, pemuda ini hanya berwajah tenang seperti tidak terjadi apa-apa.
"Dengarkan, apa yang bisa kau harapkan dengan memiliki hubungan bersama Sasuke? Kau akan mati dengan mudah dan cepat, sedangkan Sasuke, dia akan terus abadi, pikirkan sekali lagi jika kau mengatakan hal yang konyol seperti itu." Ucap Karin.
"Karin, cukup." Ucap Sasuke, segera menghentikan ucapan gadis itu.
"Kau sungguh memiliki hubungan dengannya? Kau gila! Bagaimana manusia bisa bersama kita!"
"Akan aku lakukan bagaimana pun caranya agar kami bersama." Ucap Sasuke.
"Terserah! Kau harus tahu, aku datang ke sini bukan karena keinginanku, paman Fugaku yang memanggilku, kita akan di jodohkan, segera."
Sakura terkejut mendengar ucapan Karin, dengan entangnya mengatakan mereka akan di jodohkan.
.
.
[Sakura Pov.]
Berjalan masuk ke kamar, aku sampai mengabaikan kakakku yang dengan senang hati menyambutku, memikirkan kembali ucapan gadis berambut merah itu, dia dan Sasuke akan di jodohkan, tentu saja kedua orang tuanya Sasuke akan senang, mereka sebangsa, sama-sama vampire, hal itu wajar, lagi-lagi keraguan ini muncul. Sebelum pulang, Sasuke meminta maaf dan tidak bisa menemaniku pulang, dia harus mengajak gadis itu pergi sebelum mengatakan apapun yang hanya akan membuatku marah.
"Kau pulang dan tidak peduli padaku, ada apa?" Ucap kakak, dia datang ke kamarku dan hanya ingin menanyakan apa yang terjadi padaku.
"Aku sedang lelah." Bohongku.
"Kau pulang sangat telat."
"Aku sedang membantu guru menata buku di perpustakaan." Bohongku lagi.
"Baiklah, jika terjadi sesuatu, kau harus rajin berbicara padaku, aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah dan aku menjadi orang yang bahkan tidak tahu apapun keadaan adikku sendiri." Ucap kakak.
Aku tahu, kakak sangat peduli dan begitu menyayangiku, sejujurnya aku cukup senang saat dia kembali, meskipun sikap over-protectif dan menyebalkan.
"Aku akan mengatakan apapun jika aku dalam masalah." Ucapku, sekedar membuat kakak merasa tidak khawatir lagi.
"Baiklah." Ucapnya dan berjalan keluar.
Haa..~ aku ingin istirahat saja, memikirkan beberapa hal yang membuatku bingung.
.
.
Esoknya, seperti biasanya, pergi sekolah bersama Ino, tiba di kelas, aku jadi sulit menatap Sasuke, menatap ke arah Naruto, dia sadar jika aku menatap ke arahnya, terlihat seperti orang konyol, dia begitu senang melihatku, melambaikan tangan dan mengucapkan 'selamat pagi' setengah berbisik, tanpa sadar aku mengabaikan Sasuke.
Aku tidak tahu jika hubungan kami akan seperti ini saja, mungkin sejak awal aku harus menolak Sasuke, ucapan ayah Sasuke bahkan masih membuatmu terus mengingatnya, mereka seperti tidak akan pernah menerimaku.
Aku jadi kepikiran jika rasa sukaku pada Sasuke ini hanya sebatas aku mengaguminya, mungkin, dia seorang vampire, salah satu sosok karakter yang begitu membuatku takjub.
"Ahk!" Rintihku dan menggosok jidatku.
"Kau melamun lagi." Ucap Sasuke, dia masih sering menyentil jidatku begitu saja.
"Sasuke."
"Hn?"
"Kau sungguh-sungguh padaku?" Tanyaku, keraguan ini semakin membesar dan aku jadi sulit untuk menerima keadaan.
Cup...~
"Aku bersungguh-sungguh."
Menutup bibirku dengan kedua tanganku, orang ini sangat mudah sekali mencium, kenapa di saat seperti ini masih saja melakukannya! Kami masih berada sekolah, meskipun bukan di area yang kadang sedang ramai murid, Sasuke selalu menyendiri dan memilih mengajakku ke tangga menuju atap sekolah, tapi kita tidak akan bisa ke sana, pintu menuju atap di kunci oleh guru.
"Masih saja malu pada pacarmu sendiri." Ucapnya, lebih kepada sedang menyindirku.
"Te-tentu saja!" Ucapku, terdengar sangat panik, aku hanya tidak ingin ketahuan oleh siapapun.
"Kau memikirkan Karin?" Tebak Sasuke dan menatapku, tatapan dingin itu akan sulit terbaca. "Tidak perlu memikirkannya, dia hanya mengatakan hal seperti itu agar kau marah."
"Aku tidak marah!" Protesku, uhk, kenapa nada bicaraku seperti benar-benar marah. "Aku tidak marah." Ucapku dengan nada lebih pelan. "Lagi pula yang di katakannya juga ada benarnya, jika orang tuamu lebih menyukainya-"
"-Hanya orang tuaku yang menyukainya, tapi aku tidak." Potong Sasuke. "Aku lebih memilih di musnahkan mereka dari pada harus bersama wanita lain."
Deg.
Pernyataan macam apa itu?
Kenapa dia sampai rela hanya karena gadis manusia sepertiku?
"Kau tahu apa yang kau katakan itu sangat berlebihan." Ucapku. Kau harus sadar Sasuke, ini dunia nyata, bukan sebuah film yang akan dengan mudah kau membuatnya seperti yang kau mau.
Sebuah pelukan erat darinya.
"Jika kau tetap percaya padaku, akan aku lakukan apapun." Ucapnya.
Lagi-lagi mengucapkan segalanya dengan sangat mudah, melepaskan pelukan Sasuke.
"Beri aku waktu, aku benar-benar masih bingung akan apapun." Ucapku, mungkin ini akan lebih baik.
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu." Ucapnya, Sasuke sangat keras kepala.
"Jika kau ingin aku percaya padamu, beri aku waktu." Ucapku, mencoba untuk membujuknya lagi.
"Baiklah." Ucapnya dengan nada terdengar kecewa, aku tahu, kau pasti tidak akan menyukainya, tapi ini demi aku juga, aku harus benar-benar memikirkan segalanya sebelum mengambil keputusan ini.
Memegang kedua pipi Sasuke, sedikit mendekatkan wajahnya ke arahku, menutup mataku, kali ini aku yang akan berani melakukannya, hanya agar dia juga percaya padaku, mengecup perlahan bibir dingin itu.
Kau harus percaya Sasuke.
Menjauhkan wajah kami, aku melihat pupil hitam pekat itu menatap lekat padaku, wajahku pasti sudah sangat merona, aku malu sendiri melakukannya lebih dulu.
Sebuah seringai di wajah Sasuke.
Apa? Aku tidak sedang memancingnya, bukan sebuah kecupan lagi yang di mintanya, kali ini ciuman yang cukup dalam hingga aku harus menjauhkan wajahnya dariku, napasku memburu, aku kesulitan bernapas sekarang.
"Sudah! Jangan lakukan lagi!" Protesku.
Sasuke tertawa pelan dan memelukku erat, sejenak saat bersama aku melupakan segalanya, melupakan kakakku yang marah, melupakan ucapan keluarga Sasuke, melupakan apapun, hanya aku dan Sasuke yang ada di sini.
"Aku mencintaimu." Ucapku, aku ingin mengutarakannya lagi di saat rasa itu benar-benar muncul di dadaku dan terus bergejolak.
"Apa? Aku tidak mendengarnya." Ucap Sasuke, aku yakin di sedang mengerjaiku.
Mendekat ke arah telinga dan terus berbisik.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
"Kau pandai menggoda, Sakura." Bisik Sasuke.
"Diam!" Bentakku, malu.
.
.
.
.
Minggu.
Aku sudah katakan padanya untuk memberiku waktu, tapi Sasuke tetap saja keras kepala, hari ini dia memaksaku kencan, bagaimana pun caranya aku harus berbohong kakakku, kakakku sampai menatap tidak percaya dan aku harus tegas padanya, maafkan aku, kak, bukannya aku ingin berbohong padamu, tapi aku benar-benar sulit untuk mengatakan 'tidak' pada Sasuke.
Kami pergi nonton bersama lagi, aku jadi mengingat apapun setiap kali kami nonton bersama, dari saat aku memaksanya nonton, dia datang tiba-tiba dan sekarang kami benar-benar nonton bersama kembali dan sudah memiliki hubungan, senang sih, apalagi punya pacar tampan seperti dia.
"Lain kali aku yang pilihkan." Ucapnya, dia menatap kesal padaku, lagi-lagi ada sebuah film tentang vampire yang baru di tayangkan.
"Aku tidak mau, film yang kau pilih sangat membosankan." Ucapku.
"Lalu untuk apa kau menonton seperti ini jika memiliki pacar yang sama, hanya saja mereka membuat alurnya terlalu berlebihan, apa tuh yang takut bawang putih, takut air suci." Ucapnya, dia sedang menyindir sosok vampire yang di buat dalam film ini.
"Kali ini akan berbeda." Ucapku, aku sudah membaca sedikit sinopsisnya, kali ini tentang 'Hunter vampire', aku yakin ini tidak akan membosankan dan akan ada banyak adegan action dari pada romantis.
Film segera di mulai, aku pikir dia akan berceloteh untuk menggangguku selama film dimulai, melirik ke arah Sasuke, dia terdiam sepanjang film, ada apa? Apa dia menyukai film seperti ini atau ada hal yang mengganjal di pikirannya?
Setelah film berakhir, sekitar satu jam lebih, Sasuke mengajakku makan, dan di saat seperti ini akan lebih baik ada pembicaraan, lagi pula dia sudah berjanji padaku akan menjawab setiap pertanyaanku tentang bangsanya.
"Apa kau masih ingat akan pria yang kita temui? Dia bahkan berencana melukaiku." Ucapku, aku masih kepikiran akan pria itu, jika saja Sasuke tidak segera datang, aku yakin darahku sudah di isap habis olehnya.
"Dia sama dengan kami, hanya saja dia menentang keputusan yang diambil oleh bangsaku, kami sudah sepakat tidak mengkonsumsi-" Ucapannya terputus dan aku mengerti jika yang Sasuke maksudkan adalah kami-manusia.
"Jadi anggap saja dia orang abnormal?" Ucapku.
"Iya, anggap saja seperti itu, ini bisa menjadi masalah jika nantinya akan ada orang lain yang seperti dia dan dalam jumlah yang banyak."
Ini terdengar cukup mengerikan, membayangkan saja hidup para manusia akan tidak tentram, setiap harinya di takuti rasa akan di isap darahnya oleh seorang vampire.
"Tenanglah, bangsaku tidak mungkin membuat hal ini terjadi, selama bertahun-tahun kami berupaya untuk menghilangkan orang semacam itu, kau tidak perlu takut." Ucapnya, Sasuke seakan tahu jika aku pun terus memikirkan hal menakutkan ini.
"Dan satu hal lain lagi perlu kau ketahui." Ucapnya.
"Apa?"
"Kakakmu, bukan hanya mengikuti latihan militer biasa, dia tercatat sebagai anggota kesatuan khusus dan hanya mereka yang tahu jika kami itu ada."
Aku cukup terkejut mendengar ini, pantas saja selama ini kakak terus marah padaku, menganggap Sasuke tidak harus bersamaku, apa dia berharap aku hidup dengan pasangan normal saja, kakak terus keras kepala dengan apa yang dia inginkan.
"Jadi kakak juga tahu jika kau adalah-" Aku hanya menggantungkan kalimatku dan Sasuke mengangguk pasti, kami masih berada di restoran dan aku tidak bisa seenaknya mengatakan 'vampire' di tempat ramai, Sasuke saja sangat pandai berbicara tanpa menyebutkan bangsanya. "Bagaimana dengan Naruto? Kenapa dia begitu tahu tentangmu?" Aku jadi penasaran dengan segala hal setelah pembicaraan ini.
"Aku tidak ingin berbicara tentangnya." Ucap Sasuke dan dia terlihat tidak senang, uhk, apa dia cemburu? Apa dia tidak ingin aku juga mengetahui tentang siapa sebenarnya Naruto? Egonya jauh lebih tinggi dari apapun.
Dreet...~ dreet...~
Ponselku bergetar dan sebuah pesan masuk, sebuah nomer.
::09XXXXXXX
Ini aku, Karin, maaf jika cara bicaraku padamu cukup menyebalkan saat itu, bagaimana jika kita bertemu? Aku harap kau punya waktu dan aku ingin berbicara denganmu, sebagai teman.
Pesan ini, Karin mengajakku untuk bertemu, apa yang ingin di bicarakannya? Dan lagi dia minta maaf atas sikapnya sebelumnya, aku sendiri tidak berniat untuk mencari musuh, apalagi Karin juga vampire, yang ada aku akan kalah darinya.
"Ada apa?" Tegur Sasuke, dia terus menatap ke arahku.
"Bu-bukan apa-apa." Ucapku, aku rasa Sasuke tidak perlu tahu ini, lagi pula tidak ada masalah, bukan?
"Kau menatap ponselmu terus?"
"Hanya pesan dari kakak, dia menyuruhku pulang cepat." Bohongku.
"Setelah ini aku akan mengantarmu pulang."
"Apa kau yakin akan mengantarku pulang?" Ucapku, Sasuke seakan tidak peduli dengan ucapan kakakku.
Setelah makan bersama, Sasuke benar-benar mengantarku hingga ke rumah, seperti biasanya kakak akan mengamuk.
"Kau! berani-beraninya ke rumah kami! Pergi! Jangan pernah mengajak adikku lagi pergi bersamamu!" Marah kak Serra, aku sampai harus memeluk pinggangnya dan menariknya menjauh dari Sasuke, dia sudah siap untuk memukulnya.
"Terima kasih untuk hari ini, sampai ketemu di sekolah." Ucapku, segera mendorong kakakku masuk dan menutup pintu.
Fiuuh...~ beraat! Apa kakak tidak tahu jika dia sangat berat! Aku sampai kesulitan untuk menahannya yang ingin memukul Sasuke.
"Kenapa terus mengabaikan ucapanku!" Dia jadi marah padaku.
"Kenapa kakak selalu saja marah pada Sasuke? Apa Sasuke punya salah dengan kakak?" Ucapku, aku bingung sendiri akan sikap berlebihan kakakku.
"Aku sudah katakan padamu, jika dia tidak sama seperti kita, kau tidak akan bisa hidup bahagia bersamanya." Ucapnya, marah bercampur khawatir, mengingat kembali ucapan Sasuke, kakak adalah anggota satuan khusus, dia tahu siapa kakak Sasuke, dan juga Sasuke.
"Apa karena Sasuke seorang vampire, kakak jadi bersikap seperti ini padanya?" Ucapku.
Tatapan kakak cukup terkejut, ternyata benar seperti yang di katakan Sasuke, dalam anggota kepolisian satuan khusus semuanya akan tahu jika vampire itu ada dan hidup bersama manusia dalam satu lingkungan.
"Apa si Uchiha itu yang mengatakannya padamu?" Tanyanya dan aku hanya mengangguk. "Kali ini, aku mohon padaku, dengar sedikit saja ucapanku, kau tahu mereka, kau pasti tahu semua hal dari mereka, jadi aku ingin kau bisa mendapat pasangan yang normal saja, aku tidak ingin melihat adikku terlibat dengan bangsa mereka." Ucapnya dan berharap aku mendengarnya.
"Apa kakak benci pada mereka?"
"Aku tidak benci dan aku tidak punya masalah apapun dengan mereka, mereka berhak untuk hidup, karena bagaimana pun juga mereka jauh lebih penting dalam anggota kepolisian, tapi kau harusnya mengerti akan situasi ini, vampire dan manusia itu tidak mungkin bersama."
Kakak benar, manusia dan vampire, hidupnya saja sudah berbeda, apalagi jika hidup berdampingan? Hampir semua manusia yang hidup bersama vampire akan menjadi vampire nantinya.
"Kau harus hidup menjadi seorang manusia hingga kau tua nanti, aku hanya ingin sebuah hal kecil itu darimu."
Aku jadi merasa kasihan pada kakakku, sejujurnya jika di katakan benci, aku hanya tidak suka akan sikapnya dulu, sekarang cukup berubah dan lebih over-protectif padaku, dia hanya ingin melindungiku karena kakak pun tahu jika vampire ada di dunia ini.
Mengangguk pelan, berharap dia mengerti jika aku masih ragu untuk memutuskan hubungan ini, aku sangat menyukai Sasuke dan nantinya akan sulit jika harus berpisah atau menjauh darinya.
"Terima kasih Sakura." Ucap Kakakku, dia sampai memelukku dengan rasa khawatirnya, apa dia sangat takut jika hidupku nanti akan berubah? Dari seorang manusia menjadi vampire? Aku sendiri takut untuk memikirkan hidupku yang berubah, aku masih ingin hidup seperti seorang manusia biasa.
[Ending Sakura pov.]
.
.
TBC
.
.
halo, apa kabar? untuk reader yang masih nunggu kelanjutan fic ini?
akhirnya bisa di up juga... *terharu* sejujurnya karena kebanyakan sibuk, selain kerja, sibuk karena buat fic lain *lirik yang sebelumnya) ide asli fic ini jadi terlupakan dan bakalan cukup tergeser dari ide yang pengen author buat, *hiks* padahal pengen buat romance saja, tapi cukup bosan jika romance saja tanpa action dan hal lain yang lebih keren, kan pengen di buat mirip film vampire, atau komik tentang vampire atau apapun. semacam mungkin akan terjadi masalah yang lebih rumit antara bangsa vampire yang melanggar aturan vampire sampai muncul konflik yang melibatkan banyak hal, uhk di pikirkan saja bakalan seru, jadi romance akan tetap di buat semanis mungkin *iuuuhhh~ jijik sendiri dengarnya* :v
oh iya, mau mengucapkan terima kasih *lewat fic ini* yang udah sempat mau tukar pikiran tentang doppelganger, memang masih simpang siur dan seputar hal yang belum bisa di benarkan, jadi penasaran nih saya..
beberapa hari ini saja ndak buat fic, tangan ini kangen buat ngetik! otak ini kangen untuk memikirkan ide fanfic! pokoknya kangenlah, dengan begini author akan berani membuat fic baru lagi *cari masalah emang* tetap fic ini menjadi utama, tahun ini harus di selesaikan, hehehe.
baiklah, terlalu panjang ini XD
.
.
See you next chapter.
