Sasuke menatap wanita berambut merah muda yang kini berada di ruangannya dengan tatapan dingin. Wanita itu terlihat agak lelah dan menatapnya dengan mata yang terlihat sayu.

"Kau mengunjungiku?"

Sakura menganggukan kepala. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Malam ini ia memutuskan untuk lembur hingga pukul setengah sepuluh dan mengunjungi Sasuke setelahnya.

Tadi pagi Ino memaksanya untuk menemani Sasuke malam ini. Dan Itachi bahkan mengirimkan pesan padanya dan memintanya untuk menemani Sasuke malam ini. Maka Sakura terpaksa menemani Sasuke demi menjaga imejnya dihadapan Itachi.

"Ya. Aku juga akan menginap malam ini."

"Pulang saja."

Sakura merasa jengkel, namun ia berusaha menahan diri karena mengingat nasihat yang diberikan Ino padanya.

"Anikimu mengirimkan pesan padaku dan menyuruhku menemanimu malam ini."

Sasuke menghembuskan nafas keras-keras. Sepertinya Itachi sangat berharap Sakura menemaninya sampai menghubungi wanita itu secara langsung.

"Merepotkan," ucap Sasuke dengan dingin. "Lagipula kau mau tidur dimana?"

Sakura agak heran dengan ucapan Sasuke. Tumben sekal lelaki itu terkesan agak mempedulkan dirinya. Namun ia memutuskan untuk sengaja membalasn sikap sinis lelaki itu.

"Bukan urusanmu," sahut Sakura dengan sinis. Ia tak menghiraukan Sasuke dan langsung berjalan menuju sofa. Ia segera membuka tas nya dan mengeluarkan sebuah syal yang agak tebal dan cukup besar untuk bisa dijadikan selimut seadanya serta sebuah jaket.

"Sakura-" Sasuke mengakhiri ucapannya dengan nada parau. Semula ia berniat memanggil Sakura dengan suara yang agak keras. Namun mendadak dadanya terasa sesak sehingga suaranya seolah tercekat dan suaranya terdengar parau pada akhirnya.

Sakura segera menatap Sasuke. Ia baru saja akan membuka mulutnya, namun ia terpaksa mendekati Sasuke dan berkata, "Apa?"

"Kau mau tidur di sofa?"

Sakura menganggukan kepala, "Kau keberatan ada aku di kamarmu? Malam ini anggap saja aku tidak ada. Kalau perlu kau tidak usah melihat kearahku."

Sasuke menggeleng. Ia tak keberatan jika harus berbagi kamar dengan wanita itu. Namun ia merasa khawatir jika wanita itu harus tidur di sofa.

"Tidak, aku-" Sasuke memutus ucapannya. Ia tak begitu pandai mengekspresikan apa yang ia pikirkan dengan kata-kata, dan ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan maksudnya.

"Aku tidak mau kau tidur di sofa."

"Aduh, aku juga sebenarnya mengantuk sekali sesudah lembur seharian. Aku rasanya tidak kuat lagi mengemudi. Jadi untuk biarkan aku tidur di sofa beberapa jam. Setelah itu aku akan pulang, oke?"

Sasuke malah semakin khawatir jika Sakura mengemudi sendirian di tengah malam. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanita itu.

"Temani aku sampai pagi."

Sakura mendengus sebal. Apa-apaan dengan lelaki itu? Sebelumnya lelaki itu memaksanya pulang dan tidak membiarkannya tidur di sofa. Sekarang lelaki itu meminta ditemani sampai pagi? Benar-benar aneh.

"Ck… kau aneh. Tadi kau menyuruhku pulang dan tidak membiarkanku tidur di sofa. Sekarang malah memintaku menemanimu sampai pagi," sahut Sakura sambil berdecak kesal.

Sasuke tak menjawab Sakura. Ia membiarkan wanita itu mengeluh sepuasnya. Sebetulnya bahkan ia sendiripun merasa kalau ucapannya saat ini terdengar aneh dan ia tak terlalu mempedulikannya.

.

.

Sakura terbangun di tengah malam dengan sekujur tubuh yang terasa pegal. Sofa yang berada di dalam kamar Sasuke keras dan tidak nyaman untuk duduk, apalagi jika digunakan untuk tidur.

Sakura merasa benar-benar mengantuk, namun ia sama sekali tidak bisa tidur. Mendadak ia merasa haus dan segera mengecek tasnya, berharap kalau ia akan menemukan sebotol air. Namun ia tak mendapati botol air di dalam tasnya dan baru teringat kalau ia meninggalkan botol itu di mobilnya. Ia sama sekali tidak berniat menuju mobilnya di tengah malam.

Dengan terpaksa ia bangkit berdiri dan berjalan menuju kulkas dengan langkah yang agak pelan. Kulkas kecil itu terletak tak jauh dari kasur Sasuke dan mau tak mau ia menatap lelaki itu ketika akan berjalan menuju kulkas.

Entah kenapa Sakura tak bisa melepaskan pandangannya dari wajah lelaki itu. Wajah lelaki itu bagaikan obat terlarang yang membuatnya kecanduan untuk melihatnya lagi dan lagi. Ekspresi wajah Sasuke terlihat agak lembut ketika sedang tertidur jika diamati dengan detil. Dan Sakura merasa jika wajah Sasuke begitu enak dilihat.

Lampu kamar sedang tidak dimatikan sehingga Sakura bisa melihat wajah Sasuke dengan jelas. Ia tak tahu apakah lelaki itu bisa tidur dengan nyenyak di dalam kamar yang terang atau tidak. Sasuke mungkin tak bisa mematikan lampu dan ia begitu mengantuk hingga tak berpikir untuk menanyakan Sasuke.

Sakura segera berjongkok dan membuka kulkas itu. Ia berharap bisa menemukan sekaleng minuman apapun dan ia langsung mengambil sekaleng minuman isotonik yang pertama kali dilihatnya.

Sakura segera membuka kaleng itu dan menghabiskan setengah kaleng dengan cepat. Minuman itu terasa begitu menyegarkan untuk tenggorokannya yang terasa kering.

"Sakura?"

Sakura menoleh ketika mendengar suara lelaki yang menyebut namanya. Ia mendapati Sasuke yang sudah terbangun dan kini menatapnya dengan wajah yang terlihat mengantuk.

"Ah? Maaf membuatmu terbangun."

Sasuke menggelengkan kepala. Ia memang merupakan tipe orang yang sangat mudah terbangun. Meski ia tak bisa mendengarkan suara apapun, namun ia bisa merasakan orang yang bergerak-gerak didekatnya dan ia bisa langsung terbangun.

"Apa yang kau lakukan?"

"Oh, aku kebetulan terbangun dan merasa sangat haus. Aku minta, ya," ucap Sakura sambil menunjukkan minuman kaleng yang sudah ia habiskan isinya.

"Hn."

Sakura segera berjalan menuju tempat sampah dan membuang kaleng minuman. Ia secara refleks mengangka tangannya dan meregangkan badannya hingga terdengar suara seperti kertakan. Tubuhnya terasa tidak nyaman setelah tidur di sofa keras itu.

"Sofanya tidak nyaman, kan?"

Sakura menatap Sasuke, merasa kaget karena lelaki itu mengetahui apa yang ia rasakan.

"Oh? kau pernah mencoba duduk di sofa ini?"

"Tidak," jawab Sasuke sambil menatap sofa itu sekilas sebelum menatap Sakura, "Kemarilah."

Sakura segera menghampiri Sasuke dan menatap lelaki itu dengan bingung. Tumben sekali lelaki itu memintanya untuk menghampirinya.

"Ada apa?"

Sasuke melepaskan bed cover yang menutupi tubuhnya. Ia tak peduli jika Sakura mungkin akan merasa risih menggunakan bed cover bekas miliknya.

"Pakai ini."

Sakura menatap bed cover itu dan agak ragu menerimanya. Sebetulnya ia merasa agak risih menerimanya. Terutama karena bed cover itu bekas dipakai orang yang sedang sakit.

Seolah mengerti kekhawatiran Sakura, Sasuke segera berkata, "Pakai saja untuk alas sofa."

Sakura merasa agak tidak enak. Ia masih ingat betapa dinginnya tangan Sasuke saat mengenggam tangannya waktu itu. Dan kini lelaki itu hanya memakai selimut tipis. Bagaimana kalau lelaki itu kedinginan dan sakitnya bertambah parah? Bisa-bisa Sakura harus menghabiskan lebih banyak waktu untuk menunggui lelaki itu.

"Nanti kalau kau kedinginan bagaimana? Waktu itu saja tanganmu terasa seperti balok es."

Sasuke agak terkejut ketika mendengar ucapan Sakura. Ternyata ia benar-benar mengenggam tangan Sakura waktu itu. Ia tidak menyalahkan wanita itu, tapi entah kenapa ia merasa agak kecewa dengan penolakan yang sangat kasar meski saat itu ingatannya agak samar karena pandangannya kabur.

"Aku baik-baik saja."

"Arigatou,' ucap Sakura sambil menerima bed cover yang agak berat itu. Ia baru berjalan beberapa langkah ketika ucapan Sasuke membuatnya terhenti.

"Maaf sudah memegang tangamu dengan paksa waktu itu."

Tubuh Sakura seolah membeku seketika. Ia tertegun hingga terdiam sesaat. Ia berpikir kalau saat itu Sasuke tak mengingat sama sekali hingga bersikap biasa saja keesokan paginya. Ia tak mengira kalau ternyata Sasuke masih mengingat saat itu, termasuk ketika ia menarik tangan lelaki itu dengan sangat kasar.

Perasaan Sakura menjadi tidak enak. Sebetulnya lelaki itu tidak sepenuhnya salah. Mungkin saja saat itu ia benar-benar kedinginan hingga memutuskan untuk memegang tangan seseorang. Terlebih lagi saat itu lelaki itu tak bisa mendengar sehingga otomatis juga tak bisa mengatakan apa yang sedang ia rasakan saat itu. Sakura merasa bersalah karena sudah bersikap kasar. Namun ia merasa ragu untuk meminta maaf.

"Oyasumi," sahut Sakura sebelum berjalan menuju sofa kemudian.

Ia segera melipat bed cover itu menjadi dua dan meletakkannya diatas sofa tempat tidurnya. Ia segera berbaring diatas sofa yang terasa lebih nyaman dibanding sebelumnya. Ia segera memejamkan mata setelah menutupi tubuhnya dengan syal seadanya, berusaha tak memikirkan perasaan bersalah yang mendadak ia rasakan.

.

.

Tubuh Sasuke sudah terasa lebih baik dibanding hari pertamanya di rumah sakit, dan ia berharap dokter segera membiarkannya pulang. Rasanya sudah lama sejak kali terakhir ia memegang ponselnya dan sudah hampir satu minggu sejak kali terakhir ia masuk kantor.

Sasuke yakin kalau para pegawainya pasti sudah bertanya-tanya mengenai dirinya yang mendadak hilang. Dan Naruto, salah satu sahabat yang hampir setiap hari mengirimkan pesan padanya, pasti juga merasa heran karena mendadak ia tidak membalas pesan berhari-hari.

Dokter masih tidak mengijinkan Sasuke menonton televisi atau memegang ponsel karena radiasi dapat membuat kepala Sasuke sakit dan pusing. Dan Sasuke juga tak berniat meminta siapapun untuk menghubungi teman dan para bawahannya. Mungkin terdengar aneh, namun ia tipe orang yang lebih suka dikunjungi sedikit orang ketika sakit, atau terkadang ia malah memilih untuk sendirian dan beristirahat jika sedang sakit.

Sasuke menatap jam digital yang tertera di dinding dan menyadari jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Ia melirik Sakura yang masih tertidur pulas di sofa dan merasa agak khawatir. Di satu sisi ia berniat membangunkan wanita itu agar tidak terlambat ke kantor, namun di sisi lain ia ingin membiarkan wanita itu beristirahat.

"Sakura."

Sakura masih tak bergeming. Ia kini berbalik badan dengan posisi yang menghadap Sasuke dan masih tertidur lelap.

Sasuke tak memiliki pilihan lain. Ia segera turun dari kasur dan menyentuh tiang infus serta mendorongnya bersama dengannya. Kepalanya masih terasa agak tidak enak ketika ia berdiri, namun ia tetap melangkah menuju sofa dan menepuk lengan Sakura beberapa kali.

"Mmm..?" gumam Sakura tanpa membuka matanya.

"Kau tidak mau berangkat kerja?"

Sakura terkejut ketika mendengar kata 'kerja'. Ia segera membuka matanya dan terkejut ketika mendapati Sasuke berada dihadapannya sambil menatap kearahnya dengan wajah tanpa ekspresi.

"AAAAAAAHHHHHH!" Sakura menjerit keras secara refleks.

Sasuke menutup telinganya secara refleks. Telinganya terasa sakit dan berdengung mendengar teriakan Sakura. Dan ia merasa khawatir kalau perawat akan mendengar suara teriakan Sakura dan mendatangi kamarnya.

"Maaf. Kau membuatku kaget," ucap Sakura dengan perasaan tidak enak. Ia segera mengucek matanya.

"Sekarang jam berapa, sih?" ucap Sakura sambil menguap dan menatap Sasuke dengan mata yang tampak sayu.

"Setengah delapan."

Sakura merasa panik seketika. Ia masuk kantor pukul sembilan, namun ia masih harus pulang ke rumah, mandi dan sarapan. Untuk perjalanan ke kantor sendiri membutuhkan waktu tiga puluh menit dari rumah.

"Aduh! Aku bisa telat ini!" seru Sakura sambil bangkit berdiri dengan cepat.

Sakura langsung memakai sepatunya dan Sasuke secara refleks bergeser untuk memberikan jalan pada Sakura.

"Aku pergi dulu. Hubungi aku kalau terjadi sesuatu," ucap Sakura sebagai basa-basi meski ia tak berharap Sasuke akan menghubunginya.

Tanpa menunggu jawaban Sasuke, Sakura setengah berlari menuju pintu dan keluar dari ruangan Sasuke, khawatir kalau ia akan telat hari ini.

-TBC-


Author's Note:


Ga nyangka fanfict ini udah 10 chapter termasuk prolog, padahal rencana awalnya fanfict ini maksimal 10 chapter.

Baru ngeh kalau ternyata fanfict ini agak mirip sama fanfict Sixth Sense yg baru tamat beberapa bulan yg lalu. Aku jadi takut fanfict ini terasa monoton, terutama buat kalian yang udah baca fanfict Sixth Sense. Apalagi fanfict ini alurnya bakal agak lambat

Untuk chapter ini, aku bener" mengharapkan pendapat kalian, soalnya aku pribadi ngerasa chapter ini agak hambar & monoton.