Minnaaaaaaaaaaaa, Ru kembali hadir membawa chapter 10. Ini dia, chapter 10 Magic ~Body and Soul Change~
.
.
Magic ~Body and Soul Change~
Chapter 10 : Ru Memory ? (Part Two)
Disclaimer: Riichiro Inagaki and Yusuke Murata
Rated : T
Genre(s) : Supranatural, Friendship, Humor (yang ngga terlalu berasa), Romance (yang rada aneh)
Warning:OOC (pasti), OC bertebaran dimana-mana, Gaje (pasti ada, ga mungkin ga ada kalo yang bikin saya) abal tingkat dewa, sesuka hati yang bikin cerita, typo(jaga-jaga), tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, silahkan tekan tombol back selagi sempat dan belum menyesal, silahkan bakar fic ini ketika anda selesai membacanya dan ngga suka, tapi sebelumnya tinggalin review dulu ya, ceritanya bakalan ngaco dan ngawur tingkat dewa, alurnya (agak) cepet.
Story: Arumru-tyasoang
Written by: Arumru-tyasoang
Summary: benda sihir aneh membuat Mamori dan Hiruma menjadi aneh. Kedatangan anak baru dari Indonesia membuatnya tambah kacau. Sebenarnya apa yang sebenarnya terjadi dengan Hiruma dan Mamori?
Apa tujuan dari kedatangan murid baru itu?
Don't Like? Don't Read!
Flashback 3 tahun yang lalu
"Ini adalah ruang untuk berlatih pertahanan sihir hitam. Yah, seperti yang kau ketahui, tidak semua sihir itu putih, jadi kita harus melatih diri kita agar bisa melawan jika suatu saat harus melawan kekuatan sihir hitam." Kata So sambil menunjuk sebuah ruangan yang berada dikanan mereka.
Ruangan yang ditunjuk So sangat besar dengan dinding yang sangat tebal dan kokoh. Bagian dalam ruangan itu berwarna hitam dan dengan tembok bata yang berwarna hitam. So mengajak Ru kekelasnya karena sebentar lagi akan masuk.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Hah... ternyata mengelilingi akademi ini sendirian bukan hal yang buruk." Kata Ru ke dirinya sendiri. Saat ini ia sedang berkeliling akademi sendirian karena So tidak bisa menemaninya karena saat jam istirahat ini ia harus mengerjakan tugas, dan baru bisa menemani saat istirahat kedua.
Ia memilih untuk mengelilingi akademi ini sendirian karena bosan di kelasnya. Saat melewati taman belakang sekolah yang sepi, ia melihat seorang anak laki-laki yang kira-kira seumuran dengan So sedang berlatih spell, karena ia tidak ingin mengganggu ia langsung berjalan melewati taman itu. Namun sial bagi Ru saat ia ingin berjalan lagi, sebuah ledakan kecil terjadi didekat kakinya sehingga ia kaget dan terjatuh karena ledakan itu.
Anak laki-laki dengan rambut mirip Gray di anime Fairy Tail itu langsung menghampiri Ru dan segera membantu Ru berdiri dan meminta maaf. Ru langsung menggangguk memaafkan orang itu.
"Maaf, aku sedang latihan spell Sakura Explosion untuk test hari ini. Namaku Hi, kau baik-baik sajakan? Kau murid baru ya? Sepertinya aku tidak pernah melihatmu." Ucap Hi tanpa henti.
Kemudian Ru berdiri dan mengangguk menjawab pertanyaan Hi tadi. "Iya, aku memang murid baru." Jawab Ru sambil tersenyum. "Ah, kalau aku boleh tau, spell Sakura Explosion seperti apa ya?" tanya Ru.
Kemudian, Hi menyerahkan buku spell ke Ru dan Ru langsung membaca penjelasan cara-cara penggunaan spell itu. Tiba-tiba ia langsung berkonsentrasi, mengarahkan kedua tangannya di depan dada, dan mengucapkan 'Sakura Explosion'. Seketika, muncullah kelopak bunga sakura yang sangat banyak, lalu meledak. Hi cukup terkejut dengan aksi anak perempuan itu. Bisa-bisanya ia sekali membaca petunjuk dari buku itu, langsung mempraktekkannya dan berhasil memunculkan jumlah kelopak sakura yang sangat banyak, hampir sama dengan jumlah kelopak sakura yang dimunculkan oleh Yoshino sensei yang mengajarinya materi ini.
"Wah... ternyata aku bisa, menyenangkan sekali." Kata anak perempuan itu sambil tersenyum senang. "Ah, iya, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Ru, aku murid baru tingkat pertama. Salam kenal." Kata Ru sambil membungkukkan badannya. "Ah, aku mau melanjutkan berkeliling lagi. Terima kasih sudah mau meminjamkan buku tadi sehingga aku bisa mencoba spell yang sangat menarik seperti itu." Ucap Ru sambill beranjak pergi.
Hi masih terkejut mendengar perkataan anak perempuan itu jika ia masih tingkat pertama, tapi sudah berhasil melakukan Sakura Explosion tanpa cacat sedikit pun, dan dengan jumlah kelopak sakura yang amat sangat banyak. Padahal, spell itu adalah spell yang baru mereka pelajari jika mereka sudah di tingkat ketiga.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Baiklah anak-anak, karena kalian sudah berada di tengah semester, seperti yang sudah dijelaskan di awal semester, kalian akan mempraktekan salah satu spell, spell apa saja yang benar-benar sudah kalian kuasai langsung didepanku." Ucap Tachibana sensei, guru spell dasar.
Tachibana sensei memperhatikan raut wajah muridnya sambil berjalan mengelilingi mereka. Saat ini mereka berada disebuah lapangan yang cukup luas yang berada di belakang akademi yang memang selalu digunakan untuk tempat mempertunjukan spell. Tidak jauh dari tempat itu, ada murid-murid tingkat ketiga yang sepertinya akan menunjukan spell mereka yang jaraknya lumayan jauh dari murid angkatan pertama, namun baik murid angkatan pertama maupun angkatan ketiga dapat melihat satu sama lain dengan lumayan jelas.
"Daikichi, kau terlebih dahulu. Tunjukan spell yang benar-benar kau kuasai." Perintah Tachibana sensei. Kemudian seorang anak laki-laki dengan rambut cepak dan tubuh yang proporsional maju ke tengah lapangan dimana murid-murid tingkat pertama yang sekelas dengan Ru itu berkumpul.
"Ice Rain." Teriak Daikichi. Kemudian turunlah hujan es dari langit. Setelah itu, ia memberikan tanda hormat ke Tachibana sensei lalu kembali duduk dipinggir lapangan.
Setelah Daikichi, semua teman-teman sekelas Ru sudah maju dan menampilkan spell yang telah mereka kuasai. Akhirnya giliran Ru untuk mencoba menampilkan spell yang ia kuasai.
"Ah, kau itu yang baru saja masukkan?" tanya Tachibana sensei ke Ru. Ru hanya menganggukan kepalanya. "Kalau kau belum bisa tidak apa-apa karena kau terlambat masuk ke akademi. Kau bisa kembali ke tempat dudukmu." Kata Tachibana sensei. Namun bukannya kembali ke tempat duduknya dipinggir lapangan itu, Ru malah menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin mencoba sensei. Tadi saat istirahat aku sudah mencoba sebuah spell yang menyenangkan." Kata Ru sambil tersenyum. Akhirnya Tachibana sensei mengizinkan Ru untuk menunjukan spell yang sudah ia kuasai tersebut.
"Ah, teman-teman, bisa kalian pindah kebelakangku?" tanya Ru ke teman-temannya yang duduk di depannya. Akhirnya, teman-teman Ru pindah kebelakangnya, dan Ru mulai bersiap dengan spellnya.
Ia menarik napas perlahan, mencoba konsentrasi, mengarahkan tangannya ke depan dada, dan berteriak dengan cukup keras hingga bisa terdengar oleh murid tingkat ketiga, "Sakura Explosion."
Setelah Ru meneriakan Sakura Explosion, muncullah kelopak bunga sakura yang sangat banyak, lalu meledak. Hal itu mengagetkan semua orang. Tidak hanya Tachibana sensei dan teman sekelas Ru, tapi juga murid tingkat ketiga yang berada di sisi lapangan yang lain dan Yoshino sensei yang mendampingi murid tingkat ketiga karena tidak hanya berhasil melakukan spell itu, kelopak sakura yang bermunculan sangat banyak. Tentu hal itu mengagetkan Tachibana sensei, Yoshino sensei dan juga murid tingkat ketiga. Mereka sangat kaget karena ada murid tingkat pertama yang berhasil menggunakan spell itu dengan sangat baik. Bahkan tidak semua murid tingkat tiga bisa menyelesaikan spell itu dengan sempurna.
"Ru, kapan kamu mempelajari spell itu?" tanya Tachibana sensei saat Ru sudah selesai menampilkan spell yang ia kuasai.
"Ah, baru saja saat istirahat tadi sensei." Jawab Ru sambil tersenyum ke arah Tachibana sensei.
"Benarkah?" tanya Tachibana sensei tidak percaya. Dia masih tidak habis pikir, bagaimana seorang murid tingkat pertama yang baru saja masuk dan belum mendapatkan materi tentang penerapan spell sedikitpun bisa menunjukan spell yang baru akan dipelajari di tahun ketiga.
"Benar sensei." Jawab Ru serius.
Saat Tachibana sensei masih sibuk dengan pikirannya, Yoshino sensei menghampirinya. Kemudian mereka berbicara sambil berbisik sambil sesekali melirik ke arah Ru. Ru menjadi tidak enak karena hal itu.
"Ah, Ru, perkenalkan, aku Yoshino sensei yang mengajari tentang sihir explosion bagi murid tingkat ketiga." Kata Yoshino, seorang sensei perempuan yang manis dengan rambut coklat sepundak yang ia ikat pony tail sambil menjabat tangan Ru.
"Ah, aku Ru, Yoshino sensei." Jawab Ru sambil membungkukkan badannya.
"Bisa kau ikut denganku? Aku ingin kau menunjukan Sakura Explosion mu tadi ke murid-muridku." Kata Yoshino sensei. Ru hanya mengangguk. Kemudian mereka berjalan ke sisi lapangan yang lain.
"Sebentar, itu berarti aku harus menunjukan spell ini ke murid tingkat ketiga? Aihhh... aku tidak sanggup kalau begitu." Kata Ru dalam hati. Namun karena ia sudah mengangguk menyetujui permintaan Yoshino sensei, akhirnya ia hanya bisa pasrah.
"Baiklah kalian semua. Karena aku sedang tidak dalam kondisi yang baik untuk mencontohkan Sakura Explosion, jadi aku akan digantikan oleh Ru yang merupakan siswi tingkat pertama. Ru silahkan mendemonstrasikan Sakura Explosion." Kata Yoshino sensei.
Ru mengangguk sebentar lalu melakukan Sakura Explosion yang membuat murid tingkat ketiga itu berdecak kagum karena kemampuannya yang hebat padahal baru saja ia masuk ke akademi.
"Sudah sensei." Ucap Ru saat ia sudah mendemonstrasikan Sakura Explosion. Yoshino sensei hanya tersenyum ke arah Ru yang dibalas dengan senyuman oleh Ru.
"Ah, Ru, apakah kau sudah lama berlatih Sakura Explosion?" tanya Yoshino sensei dengan suara yang sangat pelan hingga hanya Ru yang bisa mendengarnya.
"Tidak sensei," jawab Ru sambil menggelengkan kepalanya. "Aku baru saja mempelajarinya saat istirahat tadi. Saat berkeliling akademi sendirian dan ada seorang anak laki-laki yang tidak sengaja hampir mengenaiku dengan Sakura Explosion saat ia sedang berlatih karena katanya hari ini dia tes spell itu." Jawab Ru.
"Test hari ini? Berarti salah satu diantara mereka yang memperlihatkan Sakura Explosion." Kata Yoshino sensei dalam hati sambil melihat ke arah murid-muridnya.
"Lalu karena aku penasaran, aku meminjam buku yang menjelaskan Sakura Explosion dan langsung mempraktekannya, dan ternyata berhasil." Lanjut Ru.
Yoshino sensei yang mendengar hal itu tidak percaya, karena dengan mudahnya Ru menguasai Sakura Explosion. Jika ia sudah menguasai Sakura Explosion meskipun belum mendapatkan pelajaran tentang menggunakan spell, seharusnya Ru langsung naik ke tingkat selanjutnya, dan memasuki kelas khusus bagi murid yang memiliki bakat dan kemampuan diatas yang lainnya yang saat ini baru empat orang calon murid yang terseleksi masuk ke kelas khusus itu.
"Ah, itu dia sensei yang meminjami saya buku tentang Sakura Explosion." Kata Ru sambil menunjuk salah satu anak laki-laki yang berada di tepi lapangan.
Ternyata yang ditunjuk Ru adalah Hi yang merupakan salah satu calon murid yang akan masuk kelas khusus karena kemampuannya itu. Yoshino memanggil Hi dengan isyarat, lalu Hi datang menghampiri mereka berdua.
"Hi, benar kau yang meminjamkan buku spell ke Ru?" tanya Yoshino sensei. Hi hanya mengangguk menjawab pertanyaan Yoshino sensei. Ru kebingungan melihat sensei dan senpainya itu.
"Apakah kau mengajarkan caranya?" tanya Yoshino sensei ke Hi.
"Tidak sensei, aku hanya meminjamkannya buku spell, dan tiba-tiba saja ia mempraktekan spell tersebut dan berhasil." Jawab Hi menjelaskan. Yoshino sensei hanya mengangguk mendengar penjelasan Hi.
"Baikklah, Ru, kau bisa kembali ke sana," kata Yoshino sensei mengizinkan Ru kembali ke sisi lapangan yang lain. Ru hanya tersenyum, mengangguk lalu kembali ke sisi lapangan dimana teman-teman sekelasnya berada. "Dan kalian, lanjutkan mempraktekkan Sakura Explosion. Ingat, ini akan mempengaruhi nilai kalian." Teriak Yoshino sensei yang langsung disambut dengan murid yang maju satu persatu ke tengah lapangan dan menunjukan Sakura Explosion.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Huwaaa, tadi benar-benar membuatku takut." Kata Ru sambil berjalan mengelilingi akademi sendirian lagi karena ia baru akan mengelilingi akademi bersama Sora lagi jika tugas Sora yang ia kerjakan di perpustakaan sudah selesai.
Saat berjalan menuju perpustakaan, Ru melewati sebuah majalah dinding dan membaca artikel-artikel yang dipasang di mading itu. Ia tidak menyangka jika mading di dimensi sihir tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan mading di tempat ia biasa tinggal.
Ru agak kaget ketika melihat seorang anak laki-laki yang menyuruhnya menyingkir sebentar dan menempelkan artikel baru mengenai american football. Anak laki-laki itu menurut Ru seumuran dengan So, dan Hi. Dengan rambut hitam kelam yang agak berantakan, kulit kecoklatan, dan gigi taring bawah yang agak terlihat ketika anak laki-laki itu tersenyum (anak laki-laki itu sempat tersenyum setelah ia menempelkan artikel baru) membuatnya terlihat misterius, namun tampan.
Ru sempat terpesona dengan penampilan senpainya itu. Karena merasa diperhatikan, anak laki-laki itu menengok ke arah Ru dan Ru agak kaget karena tiba-tiba saja senpainya itu melihat ke arahnya.
"Kau suka artikelnya?" tanya anak laki-laki itu.
"Iya, suka sekali, ternyata tidak jauh berbeda ya mading di dimensi sihir dengan mading di tempat aku biasa tinggal." Jawab Ru sambil tersenyum lebar.
"Akhirnya ada juga yang menyukai artikel yang dipasang di mading." Ucap anak laki-laki itu sambil tersenyum ke arah Ru. "Ah, ya, perkenalkan, namaku Kuro, siswa tingkat ketiga, penanggung jawab mading." Kata anak laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.
Ru menyambut uluran tangan itu lalu menjabatnya. "Ru, murid tingkat pertama. Salam kenal senpai." Kata Ru sambil tersenyum.
"Jika kau berminat, kau bisa membantuku mengerjakan artikel untuk mading." Kata Kuro menawarkan Ru. Ru hanya mengangguk menerima tawaran senpainya itu. "Ah, masih ada yang harus ku kerjakan. Sampai jumpa, jika kau berminat kau bisa mengunjungi ruangan di dekat perpustakaan setiap hari Senin dan Jumat." Kata Kuro sambil berlari pergi dan melambaikan tangannya ke Ru.
"Baiklah senpai." Jawab Ru sambil melambaikan tangannya ke arah Kuro yang berlari menjauh. Kemudian ia melanjutkan perjalanannya ke perpustakaan.
"Maaf ya tidak bisa menemanimu saat istirahat tadi untuk mengelilingi akademi." Kata So meminta maaf. Mereka sekarang berjalan mengelilingi bagian lain dari akademi, menuju kantin.
"Tidak apa-apa kok So senpai, aku tadi bisa berkeliling sendirian dan untungnya tidak tersesat, padahal biasanya aku suka tersesat jika harus mengingat arah. Ehehe." Kata Ru sambil berjalan disamping So. So hanya tersenyum mendengar perkataan adik kelasnya itu.
"Nah, ini kantin. Kau pasti tahu kan fungsi kantin. Kalau begitu kita ke tempat selanjutnya." Ajak So. Ru hanya mengangguk mengikuti So yang keluar dari kantin.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Terima kasih senpai karena mau mengantarkanku berkeliling akademi ini." Kata Ru sambil membungkukkan badannya berterima kasih.
"Ya, sama-sama. Jika kau kesulitan dan butuh bantuan kau bisa menghubungiku." Kata So. Setelah itu So kembali ke kelasnya. Masih ada lima belas menit hingga bel masuk berbunyi. Ru memutuskan untuk mengelilingi akademi sebentar sambil berjalan menuju kelasnya.
Saat sedang asyik melihat ke pemandangan di akademi sambil berjalan, tanpa sengaja ia menabrak seorang anak laki-laki yang seumuran dengan So sehingga buku yang dibawanya terjatuh.
"Maaf senpai, maaf, aku terlalu asyik melihat pemandangan sehingga menabrak senpai." Kata Ru sambil membantu membereskan buku-buku yang berserakan. Setelah selesai membantu membereskan buku-buku yang berjatuhan itu, Ru masih meminta maaf ke senpai yang sudah ditabraknya.
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa," kata senpai itu sambil tersenyum ke arah Ru yang masih membungkukkan badannya meminta maaf. "Hei, kau itu murid tingkat pertama yang tadi mempraktekan Sakura Explosion kepada murid-murid tingkat ketiga kan?" tanya anak laki-laki itu memastikan.
"Iya senpai." Jawab Ru sambil mengangguk.
"Wah.. kau hebat ya, padahal kami yang murid tingkat ketiga saja belum tentu bisa melakukan spell itu dengan sempurna. Perkenalkan, namaku Shun." Kata anak laki-laki itu sambil menjabat tangan Ru.
"Ru, murid tingkat pertama." Jawab Ru sambil membalas jabatan tangan senpainya itu. Senpainya itu memiliki warna rambut hitam kelam yang tidak tertata dengan rapi hampir mirip dengan model rambut Kuro namun rambutnya lebih tebal, mata yang berwarna sama dengan rambutnya, tinggi badan kira-kira tujuh sentimeter diatas Ru, dan kulitnya yang putih bersih.
"Tetap semangat belajar ya. Aku permisi dulu." Kata Shun sambil beranjak pergi.
"Ya!" jawab Ru sambil melanjutkan jalannya menuju kelasnya.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Tiga bulan berlalu sejak Ru masuk ke akademi. Malam itu, sesudah makan, Ru dipanggil oleh pimpinan ke ruangannya. Sesampainya disana, ternyata juga sudah ada beberapa orang yang sudah ia kenal. Disana ada So, Hi, Kuro, dan Shun, juga pimpinan yang sudah memanggil mereka.
"Maaf jika membuat kalian menunggu." Kata Ru ketika ia masuk. Pimpinan yang melihat Ru datang hanya tersenyum dan menyuruh Ru berdiri disamping Kuro. Kelima murid akademi itu berdiri di depan meja pimpinan dan menunggu untuk mengetahui untuk apa mereka dipanggil.
"Maaf jika aku mengganggu jam istirahat kalian. Aku memanggil kalian karena ada hal penting yang harus aku bicarakan dengan kalian." Kata pimpinan membuka pembicaraan itu dengan nada serius. Semuanya mendengarkan perkataan pimpinan dengan serius.
"Kalian pasti tahu mengenai kelas khusus. Kelas khusus itu sudah lama tidak dibuka karena tidak ada calon yang memenuhi kriteria. Aku ingin mengucapkan selamat kepada kalian karena kalian terpilih menjadi murid kelas khusus." Ucap sang pimpinan sambil tersenyum ke arah kelima muridnya itu. Ekspresi kelima muridnya itu langsung berubah terkejut mendengar perkataan pimpinan.
"Maaf pimpinan, tapi kenapa aku bisa masuk kelas khusus?" tanya Ru tidak mempercayai bahwa dirinya bisa masuk kelas khusus sedangkan ia baru saja masuk akademi selama tiga bulan.
Pimpinan tersenyum mendengar pertanyaan Ru itu, "Tentunya karena kalian berlima memenuhi kriteria tersebut." Jawab pimpinan.
Ru masih belum percaya jika ia masuk kelas khusus, begitu juga dengan empat orang anak laki-laki yang merupakan kakak kelas Ru itu.
"Baiklah, karena sepertinya kalian tidak percaya akan aku jelaskan mengapa kalian masuk kelas khusus." Ucap pimpinan untuk menghilangkan ekspresi heran pada muridnya itu.
"Untuk kalian berempat," kata pimpinan sambil memandangi So, Kuro, Shun, dan Hi secara seksama. "Kalian terpilih karena selain kalian yang sudah masuk kelas percepatan sehingga sekarang kalian langsung berada di tingkat ketiga padahal seharusnya kalian masih berada ditingkat dua, ada hal lain yang menyebabkan kalian masuk kelas khusus." Kata pimpinan sambil memandang serius keempat orang tersebut.
"Untuk So, selain kau yang sangat ahli dalam spell pengobatan hingga kemampuanmu menyamai gurumu sendiri, kau juga paling ahli dalam mendeteksi spell, dan itu membuat kau memenuhi kriteria sebagai murid kelas khusus."
"Untuk Shun, semua guru memuji kemampuanmu dalam spell ilusi untuk menjadi kenyataan dan kau mendapatkan nilai sempurna dalam spell penyamaran kedua hal itu membuatmu memenuhi kriteria." Kata pimpinan sambil berjalan ke sisi jendela besar yang terdapat di ruangannya dan melihat bulan purnama yang tertutup awan. Kelima muridnya hanya memandangi pimpinan akademi itu.
Setelah menarik napas panjang, pimpinan kembali melanjutkan penjalasannya, "Untuk Hi, kau paling ahli dalam spell yang menggunakan magic floor, dan kau yang paling ahli dalam spell yang berhubungan dengan ice ataupun spell untuk membekukan musuh."
"Untuk Kuro, hal itu karena kau mendapatkan nilai sempurna pada penyembunyian spell, dan juga kau yang paling ahli dalam pertahanan terhadap sihir hitam." Ucap pimpinan menjelaskan alasan Kuro masuk kelas khusus. Awan gelap yang menutupi bulan purnama mulai bergeser saat pimpinan belum menjelaskan alasan Ru yang masuk ke kelas khusus.
"Dan yang paling terakhir yang masuk kelas khusus adalah kau Ru. Kau adalah calon terkuat yang ada karena kemampuan sihirmu yang diatas rata-rata. Jangan protes dahulu." Seru pimpinan ketika Ru terlihat ingin memprotes perkataan pimpinan. Ru hanya diam karena ia tidak diizinkan memprotes.
"Alasan kenapa kau menjadi calon terkuat karena kau sudah menguasai spell untuk murid tingkat ketiga dan tingkat keempat. Kalau kau mau tahu beberapa contoh spell tingkat ketiga adalah Sakura Explosion. Selain itu kemampuan kau dalam spell bertukar tubuh sangat hebat, dan harus kau ketahui, itu adalah spell untuk murid tahun keempat. Entah bagaimana caranya kau sangat ahli dalam spell-spell tersebut, tapi guru-guru yang mengetahui kemampuanmu itu langsung mengusulkan agar kau memasuki kelas khusus." Kata pimpinan menjelaskan.
Kelima murid akademi itu hanya diam mendengar semua penjelasan dari pimpinan dan tidak mempercayai bahwa mereka telah memasuki kelas khusus yang sudah lama tidak dibuka.
"Baiklah, dengan ini kalian resmi menjadi murid kelas khusus dan kalian langsung memasuki pelajaran untuk murid tingkat keempat mulai besok. Kembalilah kesini besok pagi sebelum kalian memasuki kelas." Kata pimpinan meresmikan kelima muridnya itu menjadi murid kelas khusus, bertepatan dengan itu, awan gelap yang menutupi bulan purnama yang bersinar terang menghilang.
Tiba-tiba, Ru yang tadinya sedang berdiri menghadap pimpinan mendadak berlutut dan memegangi kerah bajunya dengan napas yang tersengal-sengal. Menyadari keanehan yang terjadi pada adik kelasnya, membuat Shun, Kuro, Hi, dan So memandangi adaik kelasnya itu. Mereka sangat terkejut ketika melihat mata Ru yang tadinya berwarna hitam kelam berubah menjadi merah darah dengan tatapan seakan-akan ingin membunuh. Tanpa dikomando, ke empat murid laki-laki itu langsung membuat kekkai disekitar Ru.
Pimpinan agak terkejut saat melihat keempat muridnya itu sudah membuat kekkai di sekeliling Ru dan mereka. Ia tidak menyangka jika Ru akan mengalami efek bulan purnama secepat ini karena seharusnya ia baru akan mengalami pengaruh efek bulan purnama saat umurnya tepat tiga belas tahun enam bulan.
"Shun, cepat bantu aku membuat magic floor!" perintah Kuro dengan agak panik, dan bersiap membuat magic floor.
Padahal Kuro dan Shun sudah terbiasa dengan pemandangan seperti ini karena mereka masih memiliki darah black magic yang mengalir di tubuh mereka, namun mereka menjadi sangat panik karena yang mengalaminya adalah seorang adik kelas dan jika dilihat dari umurnya Shun dan Kuro yakin bahwa ini adalah efek bulan purnama pertama baginya, dan biasanya yang pertama adalah yang paling parah.
"Tch, aku tidak bisa membantumu, aku masih belum mahir dalam magic floor dan harus ada seseorang yang menahan kekkai ini agar tidak terlepas secara tiba-tiba." Jawab Shun kesal. Ia masih berdiri di pinggir kekkai agar kekkai yang dibuat oleh mereka berempat tidak terbuka karena serangan Ru.
Hi yang sedari tadi hanya mendengarkan perdebatan Shun dan Kuro langsung menuju Kuro dari tempatnya berdiri di pinggir kekkai tersebut. "Aku bisa membantumu membuat magic floor!" seru Hi. Akhirnya Kuro dan Hi berdiri menurung Ru diantara mereka dengan jarak yang lumayan jauh agar mereka masih tetap aman meskipun Ru mendadak menyerang mereka.
"Magic Floor!" seru Kuro dan Hi bersamaan. Kemudian muncullah lantai yang berbentuk lingkaran dengan bentuk bintang dan bulan sabit ditengahnya dan Ru tertahan di tengah magic floor tersebut namun ia masih meronta-ronta berusaha keluar dari magic floor buatan dua orang murid tingkat ketiga itu.
"Shun, apa kau masih ingat apa spell untuk menahan pengaruh efek bulan purnama?" tanya Kuro dari pinggir magic floor tempat Ru tertahan.
Shun masih mengerahkan tenaganya bersama dengan So untuk menahan kekkai yang sudah retak tersebut agar tidak pecah dan akan merusak barang-barang di sekitarnya. "Entahlah, aku tidak terlalu ingat spellnya." Jawab Shun sambil menahan kekkai tersebut.
"Kuro, Hi kalian menyingkir dari magic floor, bantu Shun dan So untuk menahan kekkai." Perintah pimpinan yang entah sejak kapan sudah berada di dalam kekkai, padahal tadi ia berada di luar kekkai.
Mendengar perintah itu, Kuro dan Hi langsung menyingkir menuju pinggir kekkai untuk menahannya. Sebenarnya kekkai tidak perlu ditahan, namun jika yang membuatnya masih belum terlalu mahir, maka diperlukan seseorang ataupun beberapa orang yang menahan kekkai tersebut, tergantung seberapa besar kekkai yang mereka buat.
Kuro dan Hi yang menyingkir dari magic floor sempat membuat Ru sedikit terlepas dari pengaruh magic floor dan hampir berhasil keluar dengan tatapan ingin membunuh siapa saja yang ada dihadapannya. Pimpinan langsung mengambil alih keadaan dengan menahan Ru menggunakan Shine Seal. Sebuah segel yang terbuat dari sinar yang berbentuk seperti tali, namun pimpinan sengaja hanya menahan kedua tangan dan kaki muridnya itu sehingga ia tidak bisa bergerak lagi.
"Dengan bantuan bulan purnama yang bersinar terang menerangi malam yang gelap, dan matahari yang selalu ada menerangi di siang hari, bantulah aku menahan efek darah black magic yang mengalir ditubuhnya." Rapal pimpinan. Seketika, muncullah cahaya putih dari magic floor yang menyelubungi Ru, kemudian cahaya itu berangsur menghilang dan Ru tak sadarkan diri di tengah magic floor.
"Nanti istirahatkan Ru di sofa untuk sementara, kita tidak bisa membiarkan murid-murid tahu kejadian yang terjadi hari ini." Kata pimpinan menjelaskan ke muridnya tersebut. Kuro dan Hi memindahkan Ru ke sofa yang tadi ditunjuk oleh pimpinan dan keempat murid itu mengelap keringat yang berada di dahi mereka karena tidak menyangka akan mendapatkan sebuah pengalaman baru untuk menghentikan efek bulan purnama yang hanya bisa digunakan oleh penyihir kelas atas.
"Ternyata benar pilihan kami untuk memasukan kalian ke kelas khusus. Kalian memang memiliki kemampuan di atas rata-rata murid yang berada di kelas percepatan. Mulai besok kalian akan memulai kelas baru kalian," ucap pimpinan sambil tersenyum ke arah empat muridnya yang kelelahan tersebut. "Beristirahatlah sebentar disini, aku akan mengambilkan makanan dan mkinuman untuk kalian yang sudah bekerja keras untuk hari ini." Kata pimpinan sambil keluar dari ruangannya. Membiarkan kelima muridnya itu beristirahat.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Dua tahun sudah berlalu saat pertama kali mereka meredam efek bulan purnama pertama kali Ru. Saat ini hampir semua murid laki-laki itu bisa menahan efek bulan purnama Ru, tapi yang paling ahli adalah Kuro dan Hi.
Saat ini Ru berpacaran dengan Kuro karena sikap Kuro yang easy going dan hal-hal baik lainnya yang ada pada Kuro. Meskipun mereka berpacaran, mereka berdua sudah professional untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk berpacaran dan juga kapan waktu untuk serius, karena meskipun mereka belum lulus dari akademi, mereka sudah mendapatkan tugas untuk menjaga keseimbangan antara dimensi sihir dengan dimensi manusia biasa.
Tanpa mereka sadari, Kuro dan Shun perlahan berubah. Hingga akhirnya mereka sadar saat Kuro dan Shun melakukan penyerangan untuk mengambil DeAngel Ea-ring's. Semua orang tentu shock dengan hal yang dilakukan oleh Kuro dan Shun terutama Ru, dialah yang palings shock mengetahui itu semua. Apalagi jika mengingat bagaimana Kuro yang saat itu masih berstatus sebagai pacarnya menatapnya dengan pandangan yang dingin, tajam dan menusuk. Mengingatnya saja sudah membuat Ru menjadi sesak.
Akhirnya Kuro dan Shun pergi ke Black Spell Dimension, tempat dimana orang-orang pengguna sihir hitam tinggal.
Ru benar-benar terpuruk tidak menyangka jika dua orang yang amat ia sayang, yang sudah ia anggap keluarga, bahkan salah satunya adalah pacarnya sendiri akan melakukan hal itu. Ru masih terpuruk meskipun sudah tiga hari berlalu sejak kepergian Shun dan Kuro ke Black Spell Dimension karena mereka berdua merencanakan kebangkitan black magic yang tersingkir sejak tiga ribu tahun yang lalu.
Melihat keadaan Ru yang parah itu membuat Hi tidak tega dan berusaha menghiburnya. Tidak hanya Hi, bahkan So ikut menghibur Ru. Akhirnya Ru mau kembali tersenyum, meskipun senyum yang ia tunjukan berbeda dengan senyum yang biasa ia tunjukan kepada orang-orang di sekitarnya, terutama saat ia bersama dengan Kuro. Hi agak frustasi melihat kelakuan adik kelasnya itu, jujur saja ia menyukai Ru, meskipun saat itu Ru berpacaran dengan Kuro, dan saat Kuro pergi ia berpikir untuk selalu menghibur Ru namun hasil yang ditunjukan tidak semaksimal yang ia harapkan.
Akhirnya, Ru tersadar untuk tidak terlalu bersedih, dan ia mulai membuka hatinya untuk Hi, orang yang selalu mendukungnya disaat ia benar-benar terpuruk karena kehilangan Kuro. Dan akhirnya, mereka menjadi sangat dekat seperti sekarang ini.
Flashback End
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Ru benar-benar tidak menyangka jika hidupnya akan berubah secara drastis hanya dalam waktu tiga tahun. Saat ia tersadar dari memori dan kenangan masa lalunya itu langit malam sudah sangat gelap dan jam di dinding kamarnya sudah menunjukan jam dua malam. Melihat waktu yang ditunjukan, membuat Ru masuk ke kamarnya dengan terburu-buru lalu menutup jendela kamarnya yang terhubung dengan beranda. Kemudian ia langsung mematikan lampu kamarnya untuk tidur.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
"Bangunlah, sudah saatnya kau bangun dan bersiap menyelesaikan semuanya yang dimulai tiga ribu tahun yang lalu." Ucap sebuah suara perempuan yang entah dari mana datangnya.
Ru masih bingung dengan keadaan sekitarnya ini. Ia berada di sebuah tempat yang sangat asing. Berada di sebuah tempat gelap namun ada beberapa cahaya putih di depannya. Ru berjalan menuju cahaya putih itu sambil berspekulasi bahwa saat ini ia sedang berada di mimpinya.
Saat ia hampir dekat dengan cahaya putih di depannya, tiba-tiba muncullah seorang wanita yang memakai sebuah dress putih panjang dengan rambut black olive ikal sebahu, warna kulit coklat dan iris hitam yang kelam, entah mengapa Ru merasa bahwa wanita tersebut terlihat mirip dengan dirinya.
"Kau harus cepat bangun dan bersiap menyelesaikan yang belum aku selesaikan dengan baik tiga ribu tahun yang lalu." Ucap wanita itu. Mendengar suarany membuat Ru yakin bahwa suuara yang ia dengar pertama kali adalah suara wanita itu.
"Bangun? Apa maksudmu nona? Aku tidak mengerti." Jawab Ru dengan tatapan heran.
"Kau adalah aku, karena kau adalah reinkarnasi diriku. Dan aku adalah Putri Bulan, sehingga kau adalah reinkarnasi Putri Bulan." Jelas wanita itu sambil membelakangi Ru.
Ru sangat terkejut dengan perkataan wanita itu, bagaimana bisa dirinya yang sangat ceroboh adalah Putri Bulan yang berhasil menghentikan Black Era. Tanpa Ru sadari, tempat dia berpijak sudah menjadi ruangan putih yang terlihat tanpa batas itu.
"Aku tahu kau tidak percaya dengan perkataanku, tapi luka bulan sabit itu yang menunjukan bahwa kau itu adalah aku, karena luka bulan sabit itu kau dapatkan saat umurmu tujuh tahun. Sama denganku yang mendapatkan luka ini saat berumur tujuh tahun." Kata Putri Bulan sambil menunjukan luka di tangan kanannya yang sama persis dengan luka yang berada di tangan Ru.
Ru sangat terkejut dengan kenyataan ini. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa ia adalah Putri Bulan, bahkan luka yang mereka miliki sama. Saat ingin bertanya-tanya lagi, tiba-tiba Putri Bulan itu pergi dari hadapan Ru yang membuat Ru sangat terkejut.
"Maaf, aku tidak bisa berlama-lama, aku hanya bisa sebentar bertemu denganmu untuk menyadarkan dirimu. Kau harus bersiap. Sebentar lagi perang akan kembali dimulai, tapi tenang saja karena temanmu yang bertukar tubuh akan kembali ke tubuh mereka semula. Jika kau ingin bertanya cukup berdiam diri sebentar karena kau adalah diriku." Kata suara itu yang Ru yakini sebagai suara Putri Bulan yang sayup-sayup menghilang.
.
Magic ~Body and Soul Change~
.
Selama perjalanan menuju Deimon, Ru terlihat berpikir dengan keras mengingat mimpinya tadi. Ia masih belum bisa mempercayai mimpinya itu. Tidak hanya Ru yang terlihat berpikir, Sora pun terlihat berpikir mengingat perkataan pimpinan kemarin sore.
Hi yang ikut ke Deimon karena ia harus mendaftar di sekolah itu agak bingung melihat kedua orang itu yang sedang berpikir dengan keras, namun ia tidak mau mengganggu kedua orang yang sibuk dengan pikirannya masing-masing itu. Hingga sampai di Deimon, So dan Ru masih terlihat berpikir padahal latihan pagi akan segera dimulai.
"Hoi anak baru sialan! Murid baru pindahan sialan! Cepat ganti baju kalian atau kalian akan merasakan peluru baruku ini!" teriak Hiruma – yang sebenarnya Mamori – menyadarkan Ru dan Sora yang daritadi sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Hi, kau tunggu dulu sampai latihan pagi selesai ya, nanti kami akan mengantarmu ke ruang kepala sekolah. Kau tunggu saja di pinggir lapangan." Teriak Ru sambil berlari ke clubhouse untuk berganti baju, begitu juga dengan Sora. Hi hanya menuruti perintah Ru dan duduk di tepi lapangan amefuto melihat beberapa anggota DDB yang sudah mulai latihan.
"Jadi kau benar akan sekolah disini muka mengantuk sialan?" tanya Hiruma yang berada di tubuh Mamori sinis.
Hi terkejut saat mendengar seorang perempuan yang berbicara dengannya dengan nada sinis seperti itu. Ia kaget karena ia dipanggil muka ngantuk sialan. Ia berspekulasi Hiruma yang berada di tubuh Mamori memanggilnya seperti itu karena mukanya yang dari kemarin bertemu pertama kali dan sekarang selalu terlihat mengantuk.
"Seperti yang kau lihat kan, aku akan masuk sekolah ini, untuk mencegah hal buruk terjadi." Jawab Hi dingin.
"Keh, semoga saja hal buruk tidak terjadi, kecuali kalian yang sepertinya sangat berpotensi membuat hal buruk terjadi," kata Hiruma dingin. "Awas saja jika kalian mengacaukan dan membahayakan tim kami." Kata Hiruma yang berada di tubuh Mamori dingin, lalu berjalan ke lapangan untuk memulai latihan. Hi shock saat mendengar Hiruma mengatakan hal itu.
"Dasar setan freak, tukang perintah." Umpat Hi sambil melihat Hiruma yang berada di tubuh Mamori.
.
.
TBC (To Be Continued)
.
.
Yeaaaaaaaaaaahhhh minnaaaaaa, akhirnya Ru kembali hadir dengan chapter 10 ini. Sumpah deh Ru bener-bener minta maaf karena kegagalan dan feel yang kurang di chap 9 kemaren. Gak tau kenapa Ru jadi kehilangan feel buat chap 9 kemaren. Mana abis itu kena wabah WB lagi. Bener-bener parah deh. Pokonya Ru minta maaf ya *bungkuk 90 derajat*.
Di chap 10 ini diceritain lagi masa lalu Ru dan kenyataan kalo Ru itu Putri Bulan. Nah udah pada bisa nebak siapa Pangeran Mataharinya? Pasti langsung pada tau deh. Yang tau Ru kasih cium di pipi deh #eh.
Buat yang nunggu chapter 11 nya, Ru harap semuanya bersabar ya. Karena Ru mulai disibukkan dengan tes-tes dan juga Ru pengen ikutan salah satu lomba dance barengan sama senpai Ru. Wkwkwk, jadi maaf ya kalo lama updatenya.
Sekarang waktunya bales review:
LalaNur Aprilia: hehe, maaf ya masih rahasia. Tapi sebentar lagi bakalan ke buka semuanya kok soalnya sebentar lagi semua konflik bakalan aku buka. Hehehe. Review lagi ya.
Yuki Kineshi: maap gk bisa update kilat *bungkuk bungkuk*. Maap ya chapter kemaren kurang garem, gula, lada, ketumbar, kecap *dibekep*. Ini aku usahakan lebih baik, gimana? Pasti masih kurang ya? *pundung*. Review lagi ya
Deahiruto 15: makasih buat pujiannya buat fic ini. Review lagi ya
: makasih udah suka sama chapter 8 ya. Nanti aku usahakan HiruMamo lagi, hehehe, ini updateannya, review lagi ya.
Waaahh.. gak nyangka deh ini jadi chapter terpanjang, tapi gk jelas juga *pundung*. Ru harap semua bisa suka chapter ini, karena habis ini satu persatu konflik akan dimulai, dan juga bakalan ada perang kecil-kecilan (?). nah, Ru harap masih ada yang sudi mau ngereview fic Ru ini yang mungkin akan habis di kira-kira 10 an chapter lagi (banyak juga ya). Ah ya, maaf kalo masih banyak typo. Ru ngedit ini jam 12 malem sambil ngerjain tugas dan ngomongin masalah costum dance ke senpai Ru. Jadi maaf ya kalo ada yang kelewat.
Oke deh, sekian author cuap-cuap ngga guna kali ini, maaf gk bisa ngasih side story, review lagi ya minna. See ya in chapter 11 ^^d
Sign,
.
.
arumru-tyasoang
