Warning : OOC, ada OC, banyak typo dll
Disclamer : Diabolik Lovers bukan punya Author. Author hanya meminjam karakternya untuk membuat fanfic gila ini :D
Serangan Gerhana Bulan
Karena tugas piket yang harus dan mau tidak mau dilakukan, dengan terpaksa Yuki pulang sendirian hari ini. Usai menyelesaikan tugasnya dan berpisah dengan teman sekelasnya itu, ia berjalan dijalan gelap yang terlihat lebih gelap dari biasanya. Namun, berkat player yang tak pernah lepas dari kantung jaketnya, ia tak perlu takut akan gelapnya malam dan terus melangkah. Sesekali ia bergumam mengikuti lirik lagu yang ia dengarkan, mencoba tidak memikirkan hal – hal aneh. Meski begitu, bohong jika ia mengatakan tidak penasaran akan serigala yang ia lihat disekolah tadi. Yuki nampak mengenal serigala itu, begitu juga dengan serigala itu yang memang mengenal Yuki. Memikirkan hal itu membuat langkah kakinya berhenti. Ia memaksa kepalanya untuk mengingat hal penting yang mungkin saja ia lupakan. Nihil, tak ada sama sekali.
"Ternyata kau disini," ujar seseorang. "Oi, apa yang sedang kau lakukan?"
Yuki tak langsung meresponnya, membuat orang didepannya itu kesal. Segera saja ia menyentil kening Yuki.
"Aow! Apa yang-?! Yuuma-san?" seru Yuki terkejut. "Sedang apa Yuuma-san disini?"
Yuuma mendecak kesal. "Ruki menyuruhku untuk menjemputmu," jawabnya. "Kenapa aku yang harus menjemputmu? Lagi pula ada apa dengan Ruki sampai menyuruhku melakukan ini?"
Yuki hanya bisa terkekeh mendengar gerutuan Yuuma yang sudah berjalan duluan didepannya. Ia bergegas menyusul cowok itu dan menyajarkan langkahnya meski sedikit sulit mengingat perbedaan tinggi badan mereka. Sesampainya dimansion, ia langsung disambut dengan pelukan hangat Kou yang baru saja pulang dari pekerjaannya. Melihat keakraban Yuki dan Kou membuat Yuuma sedikit risih dan memutuskan untuk masuk kedalam duluan. Setelah bercengkrama ria, Yuki dan Kou memutuskan masuk dan memakan apa yang sudah disiapkan oleh Ruki. Seperti biasa, keadaan ruang makan tak hanya diisi dengan dentingan alat makan. Cengkarama antara Kou dan Yuki mendominasi ruangan itu yang terkadang diikuti oleh Yuuma serta tak luput dari teguran Ruki. Suasana diruang makan sungguh hangat, sama sekali tidak terpikirkan jika sebulan yang lalu mereka baru bertemu dan saling mengenal. Yah, walaupun dalam waktu yang masih sangat singkat itu, Yuki belum mendapat waktu untuk mengenal mereka lebih dalam. Namun, dalam hatinya yang paling dalam, ia justru sangat mengenal Mukami bersaudara. Bahkan anehnya, ia tahu semua kebiasaan mereka berempat hingga mendapat pandangan aneh pada awalnya. Sekarang, mereka sama sekali tidak terlihat memedulikan dan membiarkan gadis itu bertindak sesukanya, asalkan masih terkendali.
"Gochisousama deshita," ujar Yuki.
"Huwah... kenyang. Rasanya perutku ingin meledak," sambung Yuuma. "Ternyata masakan buatan Ruki memang yang paling enak."
"Baguslah kalau begitu," sahut Ruki. "Tunggulah. Aku akan membuatkan kalian teh."
"Ruki-kun benar – benar serius ya," timpal Kou begitu Ruki sudah tak ada diruang makan. "Aku tidak mungkin bisa menirunya."
"Ruki... pasti bisa... menjadi suami... yang baik... dimasa depan..." ucap Azusa, menyuarakan pendapatnya yang dibalas dengan anggukkan setuju oleh Yuki.
"Yah, memang tak bisa dipungkiri kalau Ruki mengerjakan semuanya dengan sempurna," sergah Yuuma. Ia menyeringai bangga. "Tapi, aku juga tidak kalah dengan Ruki."
Raut wajah Yuki langsung berubah. Kedua alisnya terangkat, tak percaya dengan ucapan percaya diri yang keluar dari mulut Yuuma. Yang ditatapi membalas menatap tajam sebelum melanjutkan kalimatnya. Terjadi sedikit adu argumen antara Kou dan Yuuma mengenai siapa yang akan menjadi suami terbaik dimasa depan. Azusa pun ikut menyuarakan pendapatanya meski terlihat bingung dengan apa yang menjadi kelebihannya. Yuki yang sejak tadi memperhatikan sama sekali tak menanggapi seperti biasanya. Nampaknya, pemikiran miliknya itu masih berkutat pada kejadian ia bertemu dengan serigala hitam tadi. Rasanya ada yang aneh dengan serigala hitam itu, entah apa yang bisa dikatakan aneh. Memang, ketika ia menemukannya, seluruh tubuh serigala itu dilapisi dengan cahaya merah redup. Ia sempat berpikir, apakah serigala yang ia lihat itu hanyalah bayangan atau ilusi dari imajinasi liarnya. Karena tak mungkin seekor serigala dilapisi oleh cahaya. Tapi, tanpa disentuh pun ia bisa merasakan bahwa serigala itu bukanlah ilusi, bukan juga bayangan. Benar – benar seekor serigala yang sepertinya menunggu kehadiran Yuki.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Ruki yang tiba – tiba sudah disampingnya.
Yuki terkesiap namun kembali bersikap normal. Aroma teh yang menggoda membuatnya menolah pada meja makan dan ia bergumam terima kasih pada Ruki. Ia sesap teh dicangkir porselen putih itu, merasakan hangat dan manisnya teh yang dicampur oleh madu, membuatnya sedikit tenang.
"Wajah kalian kok terlihat kusut," timpal Yuki yang menyadari perubahan suasana diruang makan. "Ada apa?"
"Kau tidak mendengar ucapan kami tadi?" tukas Yuuma yang dibalas dengan gelengan pelan Yuki.
"Kami baru saja membicarakan murid pindahan yang katanya akan datang minggu depan," ujar Kou.
Alis Yuki bertaut. "Oh, murid pindahan yang datang dari Inggris itu?" tanyanya memastikan. "Sedang menjadi topik hangat loh. Dari Inggris, dua orang, dan katanya cowok berwajah tampan. Yah, walaupun aku tak tahu apakah itu benar atau tidak."
"Kurasa... ada baiknya kita berhati – hati," saran Ruki dengan raut wajah serius.
"Kenapa?" tanya Kou.
"Minggu depan akan ada gerhana bulan. Saat itu, keadaan vampire seperti kita akan berbeda dari biasanya," jelas Ruki.
"Berbeda maksudnya?" tanya Yuki penasaran.
"Ah... mungkin... benar juga..." sahut Azusa. "Kalau tak salah... gerhana bulan... yang dulu... kelima inderaku... rasanya... mati..."
Yuki menekan jari telunjuk dan ibu jarinya didagunya, berpikir sejenak. "Mungkinkah kondisi kalian saat gerhana bulan berkebalikan saat bulan purnama?" tebaknya menyimpulkan secara sederhana. "Saat bulan purnama kekuatan kalian meningkat berkali lipat, sedangkan saat gerhana bulan kekuatan kalian menghilang."
Ruki mengangguk.
"Huwah... Yuki-chan kau cukup tahu mengenai kami ya," timpal Kou.
Yuki terkekeh. "Aku cukup suka dengan hal – hal yang mistis. Yah, walaupun kalau dalam kehidupan nyata aku terkadang suka tidak tahan."
"Aneh," ejek Yuuma. "Tapi, apa hubungannya gerhana bulan dengan murid baru?"
"Lebih baik bersikap waspada, karena pada saat itu kondisi kita tidak seperti biasanya yang dikarenakan gerhana bulan," jelas Ruki. "Akan bahaya kalau ada apa – apa saat kita sedang tidak siap."
Yuki dan yang lainnya mengangguk mengerti. Seperti yang dikatakan oleh Ruki, bisa saja ada kejadian tak terduga saat gerhana bulan terjadi. Terlebih lagi, hubungan Mukami bersaudara dan Sakamaki bersaudara, dari yang ia dengar, sangatlah tidak baik. Alasannya hanya satu, memperebutkan Komori Yui seorang. Pertama kali mendengarnya, ia sama sekali tidak paham mengapa kesepuluh cowok itu mau repot memperebutkan satu gadis, padahal masih ada banyak gadis disekolah. Tapi, kembali mengingat siapa mereka ada satu hal yang ia pahami. Mungkin, darah yang dimiliki Komori Yui berbeda dengan darah kebanyakan orang sehingga mereka mau melakukan apa saja demi mendapatkan setetes darah gadis itu.
Usai makan malam, Yuki membantu Ruki merapikan peralatan makan yang mereka pakai. Suasana didapur sangat hening, hanya terdengar dentingan halus dari piring yang dibersihkan. Biasanya, Yuki akan mengajak Ruki berbincang meski hanya pembicaraan biasa yang selalu ditanggapi tak serius oleh cowok tertua Mukami bersaudara. Tapi, kali ini. Yuki lebih memilih diam dan mengerjakan bagiannya dengan tenang. Ruki yang menyadari kebisuan Yuki pun tidak bertanya ada apa. Ia hanya melirik sesekali, seolah mengecek keadaan gadis itu.
Selesai dengan pekerjaannya, Yuki segera undur diri untuk pergi kekamarnya. Dirinya langsung menghempaskan tubuhnya diatas ranjang begitu sampai dikamar. Akibat kebanyakan makan, ia merasakan kantuk yang luar biasa. Selain itu, ia akui hari ini ada banyak sekali kejadian hingga membuatnya lelah, tubuh juga jantungnya. Ia menyamankan dirinya diatas lembutnya sprei ungu muda dan menutup matanya. Tak perlu waktu lama baginya untuk pergi kealam bawah sadar miliknya.
xxx
Ditengah hutan lebat disuatu tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya, dirinya melihat tiga orang tengah berdebat. Walau sebenarnya yang berdebat itu hanya dua orang, satu memakai jubah dengan tudung yang hampir menutupi semua wajahnya, sedangkan yang satu lagi berambut cokelat pendek dengan kacamata. Seorang lagi, berambut putih panjang dengan syal yang menutupi mulutnya, diam mendengarkan setiap argumen yang dilontarkan kedua orang itu. Argumen itu terlihat panas hingga si kacamata mengacungkan pedang yang sejak tadi dipegang kearah si tudung. Tentunya si tudung itu ketakutan dan berusaha untuk meredakan emosi si kacamata. Namun, ternyata usahanya sia – sia. Si tudung itu akhirnya mengeluarkan pedangnya yang ternyata tersembunyi dibalik jubah panjangnya. Ia mengira akan ada sedikit adegan pertarungan antara si kacamata dengan si tudung. Tapi, tampaknya tidak ada karena si tudung mengarahkan mata pedangnya kearah matanya, sukses membuat terkejut semua orang termasuk dirinya. Si tudung mengorbankan mata kirinya hanya untuk mendapatkan kepercayaan kedua orang didepannya dan terlihat berhasil.
Ia penasaran dengan apa yang menjadi pembicaraan mereka hingga si tudung mengorbankan matanya. Ia ingin mendekat, namun kakinya tak bisa bergerak seolah tertanam diatas tanah yang dipijak. Pandangannya mendadak berubah, hutan lebat yang ia lihat kini berubah menjadi sebuah padang rumput yang luas. Ditengah padang rumput itu, ia melihat ketiga orang tadi sedang menatap kearah kota kecil didepannya. Ia nampak mengenali kota itu, namun pikirannya tak bisa diajak bekerja sama. Akhirnya ia hanya bisa melihat apa yang akan dilakukan oleh tiga orang itu. Suara siulan terdengar dan tak membutuhkan waktu yang lama, banyak serigala muncul disana, mengelilingi mereka. Ia bisa merasakan kalau serigala itu bukanlah serigala biasa, karena disekeliling tubuh mereka diselimuti cahaya merah redup. Dengan sekali petikan jari, para serigala itu kembali menghilang. Mata birunya tak sengaja menatap bulan purnama yang anehnya bersinar merah, perlahan menghilang.
Gerhana... bulan...
Mendadak ia mendengar teriakan seseorang meminta tolang. Tak hanya itu, ia juga mencium aroma darah yang membuatnya ketakutan. Padang rumput luas itu kini berubah menjadi pemandangan mengerikan. Ia tahu suaranya tak bisa keluar apalagi bergerak barang sedikit pun. Ia hanya bisa menyaksikan para serigala yang ia lihat menyerang seorang cowok yang tengah melindungi seorang gadis. Serangan para serigala itu sungguh brutal, tak menyisakan celah sedikit pun untuk membalas. Bantuan datang pun, para serigala itu semakin liar dan tak ampun untuk mencakar bahkan menggigit lawannya. Tapi, entah kekuatan si bantuan itu memang hebat atau keberuntungan sedang dipihaknya, para serigala itu mundur seolah diperintah seseorang.
"Ternyata, ada seorang penyusup."
Ia langsung menoleh kebelakang, namun terlambat bereaksi. Pedang panjang berhasil tertancap didadanya. Tanpa merasakan sakit atau apa, ia tersungkur diatas tanah dengan darah yang keluar dari lukanya.
Yuki refleks bangun dari tidurnya dan langsung menyentuh dadanya yang baik – baik saja. Napasnya sedikit tak beraturan dan keringat sebesar bulir jagung turun dari pelipisnya. Mimpi yang ia lihat barusan bagaikan kejadian nyata. Bahkan kedua tangannya masih gemetar dan tak mau berhenti meski ia sudah menyuruhnya untuk berhenti. Ketukan halus mengagetkannya. Ia bergegas membuka pintu dan melihat Azusa berdiri didepan.
"Ada apa, Azusa-san?" tanya Yuki, berusaha terlihat tenang. Ia tak ingin terlihat menyedihkan hanya karena melihat mimpi buruk tadi.
Azusa tak langsung menjawab, ia justru memperhatikan wajah Yuki dengan seksama. Cowok itu nampak ingin bertanya sesuatu, namun ditunda mengingat ada hal penting lain. "Ruki... memanggil kita..."
"Baiklah. Tunggu sebentar," sahut Yuki. Ia segera mengambil jaket yang tersampir dikursi dan memakainya. Setelah itu berjalan mengikuti Azusa yang membawa mereka keruang keluarga. Ia bisa merasakan suasana yang begitu tegang berasal dari Ruki.
"Doushita no, Ruki-kun?" tanya Kou yang menyadari ketegangan Ruki.
"Aku mendapatkan surat peringatan dari Sakamaki," jawab Ruki. "Saat ini, mereka sedang berada didunia bawah."
"Makai? Kenapa?" timpal Yuuma.
"Sepertinya mereka diserang oleh serigala. Anak tertua dari kembar tiga mengalami luka parah," sambung Ruki. Alis Yuki bertaut, heran. Mengapa yang disampaikan oleh Ruki sama dengan mimpi yang ia lihat tadi. Saat ia bangun tadi, mungkin karena terlalu terkejut ketika mendapatkan rasa sakit yang terasa sungguhan akibat tertusuk pedang, ia langsung melupakan siapa yang diserang oleh serigala itu. Berkat ucapan Ruki, perlahan ia mulai mengingat mimpi itu dan benar.
Sakamaki Ayato diserang oleh serigala ketika cowok itu melindungi Komori Yui.
"Ada apa Yuki-chan?" tanya Kou yang menyadari perubahan raut Yuki. "Apa kau tau sesuatu?"
"Entah ini kebetulan atau apa, aku melihat mimpi ketika Ayato-san diserang serigala ketika melindungi Yui-chan," jelas Yuki. Ia bisa melihat ekspresi terkejut dari mereka berempat. Seolah ingin mendengarkan lebih, tanpa menunggu untuk ditanya ia segera melanjutkan. "Serangan para serigala itu cukup brutal hingga Ayato-san tak bisa berbuat apa – apa. Tapi, tak lama kemudian Subaru-kun datang menolongnya. Kurasa, jika Subaru-kun tidak datang mungkin saat ini Ayato-san sudah mati."
"Kau benar – benar melihat Sakamaki Ayato diserang dalam mimpimu?" tanya Ruki tajam.
Yuki mengangguk. "Selain itu, kemarin aku melihat serigala yang diselimuti cahaya merah dibelakang sekolah. Ah, beberapa hari lalu ditaman juga aku melihatnya."
"Jika memang benar yang dikatakan anak ini, kenapa serigala menyerang vampire?" tanya Yuuma.
"Benar juga ya. Apa mungkin mereka hanya kebetulan menyerang vampire?" sambung Kou.
Ruki menggelengkan kepalanya. "Keluarga bangsawan didunia bawah terdiri dari empat klan," ucapnya menjelaskan. "Kelelewar, Elang, Ular, dan Serigala."
Yuki sedikit memiringkan kepalanya. "Kurasa, klan Serigala ini tidak ada kaitannya dengan penyerangan ini. Benar, kan?"
"Kalau bukan mereka, lalu siapa?" tanya Yuuma tak sabaran.
"Aku hanya tahu dari buku yang pernah kubaca sebelumnya," sahut Ruki. "Dulu, terdapat keluarga bangsawan bernama First Blood didunia bawah. Mereka juga disebut sebagai pendahulu, dalam arti kata penghuni pertama dunia bawah. First Blood ini memiliki kekuatan yang hampir menyamai keempat keluarga bangsawan."
"Jadi, serigala yang menyerang Ayato-san kemungkinan berasal dari First Blood ini?" tanya Yuki menyimpulkan.
Ruki menganggukkan kepalanya. "Akan tetapi, mereka kalah oleh Karl Heinz-sama saat terjadinya perang besar. Kemudian, mereka dikurung disuatu istana yang ada didunia bawah."
Yuki mengangguk mengerti. Namun, jika memang yang dikatakan oleh Ruki adalah benar, lalu siapa yang menyerang Sakamaki Ayato. Apa tujuan, siapapun yang memerintahkan para serigala itu untuk menyerang. Lagipula siapa dua orang yang ia lihat dalam mimpi itu. Kenapa rasanya ia begitu tertarik dengan mereka, seolah dirinya memiliki hubungan yang dalam. Iris birunya melebar, baru saja teringat akan sesuatu. Jika ia memang tak salah lihat serigala dalam mimpi itu berusaha untuk mencelakai Yui. Tapi, terhalang oleh Ayato yang melindunginya.
"Ano... bolehkah Yui-chan menginap disini?" tanya Yuki. "Dalam mimpiku, serigala itu berusaha untuk melukai Yui-chan tapi gagal karena dilindungi Ayato."
"Selain itu, jika memang Sakamaki berada didunia bawah dan tak boleh sembarangan orang masuk kesana, bukankah berbahaya membiarkan Yui-chan sendirian saat ini?" sambungnya.
Begitulah hingga akhirnya untuk beberapa hari kedepan, Yui menginap dimansion Mukami. Tentunya dengan paksaan dan berbagai bujukan dari Yuki. Ia memang belum yakin akan firasatnya ini. Namun, sesuatu membisiki dirinya untuk tidak membiarkan Yui sendirian. Terlebih gerhana bulan semakin dekat dan terjadi kejadian mengerikan itu. Bicara mengenai gerhana bulan, peristiwa langka itu akan terjadi malam ini. Kondisi Mukami bersaudara semakin terlihat tidak baik akibat gerhana bulan. Aura mereka disaat seperti ini sungguh gelap hingga Yuki tak berani ingin menghibur mereka.
"Apa mereka baik – baik saja, ya?" tanya Yuki sedikit khawatir.
Yui menggelengkan kepalanya, tidak tahu. Yuki menghela napas panjang. Helaan napasnya semakin panjang ketika mendapati Mukami bersaudara diruang keluarga dengan aura yang lebih gelap. Wajah pucat mereka nampak mengerikan. Terlebih untuk Azusa yang terlihat seperti diambang kematian. Sejak beberapa hari yang lalu, kondisi mereka sudah dibilang tidak biasa akibat gerhana bulan. Ia selalu berharap gerhana bulan ini akan berakhir dan mereka semua kembali normal. Gerhana bulan berakhir dan tidak ada penyerangan tiba – tiba dari serigala itu.
Sayang, Tuhan berkehendak lain.
Ketika mereka berbincang sederhana diruang keluarga, mendadak terdengar lolongan serigala diluar. Tanpa perlu menjadi makhluk supernatural pun, Yuki bisa mengetahui bahwa serigala itu tengah mengepung mereka diluar. Detik kemudian, para serigala itu menyerang mereka dengan masuk paksa lewat jendela. Beruntung mereka segera bertindak untuk membawa Yuki dan Yui menjauh dari sana dengan Azusa sebagai pemandu mereka. Meski Yui sedikit memberontak, namun berhasil patuh akibat melihat serangan serigala yang cukup brutal. Azusa membawa mereka keruang bawah tanah dan mengunci mereka disana.
"Kalian berdua... pergilah kedunia bawah... Pintu menuju... dunia itu... terdapat... diujung lorong ini..." ujar Azusa.
"Chotto matte kudasai! Azusa-san wa?!" tanya Yuki khawatir.
"Aku akan... menjadi umpan... supaya mereka tidak... mengejar ka-..."
Belum sempat Azusa menyelesaikan kalimatnya, seekor serigala menyerangnya dari belakang yangd disusul dengan beberapa ekor serigala lain. Melihat itu, dengan berat hati Yuki mengikuti perintah Azusa. Ia segera menarik tangan Yui agar gadis itu mengikutinya.
"Matte, Yuki-chan! Kita tak bisa membiarkan Azusa-kun sendirian!" seru Yui.
"Aku juga tidak mau!" tukas Yuki tak mau kalah. Mereka terus berlari menyusuri koridor dengan penerangan redup tanpa tahu arah mana tujuan mereka. Hanya mengikuti insting, Yuki terus membawa Yui berlari. Pada akhirnya, diujung koridor itu terdapat sebuah pintu ganda besar yang terbuat dari besi kokoh.
"Tidak sebelum aku mengirimmu kedunia bawah terlebih dulu."
Gouchisousama deshita : Terima kasih atas makanannya
Doushita no : Ada apa
Makai : dunia bawah (dunia bawah disini maksudnya adalah dunia tempat para iblis, vampire, dan makhluk astral lain tinggal. Dan pastinya berbeda dengan dunia manusia. Bisa dibilang ini tempat asalnya vampire yang ada dicerita DL ini.)
Chotto matte kudasai : Tolong tunggu sebentar
Matte : Tunggu
Author : Yahoo... kembali lagi dengan Author tak jelas ini. Hiyah... udah berapa tahun nih nggak ada didunia fanfic? Adakah setahun? Hahaha, kayaknya nggak mungkin ya. Maunya sih langsung aja membalas review dari minna. Tapi, kok rasanya sepi ya. Apa kupanggil seseorang saja? *liat kebelakang
Un, lebih baik sendiri. Okeh deh, langsung saja
08Diandra : Waduh... jadi enaknya gimana tuh? Yah, tapi tetep ditunggu terus ya perjalanan Yuki-chan dkk
yuuki kagami : Hemm... segitunya kah yuuki-chan tidak sabar dengan Yuki dkk hahaha
blue sapphire sophia : Eh? Padahal aku sama sekali nggak bermaksud bikin blue-chan senyum - senyum sendiri loh. Itu murni hasil pemikiran gila ku, yang anehnya makin kemari makin gila (loh?) Dichapter ini udah kukasih jawabannya siapa serigala itu. Kira - kira bisa kan menebaknya ho ho ho
Shinozaki Karen : Waduh waduh jangan jungkir balik, nanti badanmu kenapa - napa. Obat? Aku nggak pake obat apa - apa tuh. Hahaha, wajah Subaru pas tsundere itu emang yang terbaik deh. Kawaii banget #digampar Subaru
Eh? Yuki-chan sama Ruki-kun atau Kou-kun? #berpikir sejenak, tiba - tiba menyeringai membuat Yuki merinding. Hemm... kayaknya bisa tuh hahaha. Terima kasih udah mendukung Eren-chan. Tetap stay dengan petualangan Yuki-chan dkk ya
Lightning Shun : Halo juga Lightning-san dan... #blushing bareng Yuki. dan Naoto-san... Haduh, jadi lupa kan mau balas apa. #mikir Oh iya, kemungkinan ada pasukan serigala. Siapa pasukan serigalanya, akan kuberitahu dichapter depan. Tapi, bisa lah nebak siapa hahaha. Eh? Lowongan OC? #lirik Yuki sambil menyeringai
Hahaha, maap ya kalo ada typo. Terkadang suka lupa pas pengen ngecek lagi. Udah dikejar deadline, jadi terkadang langsung aja update tanpa ngecek lagi. Gomen nee. Hehehe, arigatou. Tetap ditunggu terus ya. Hem yah, hanya sedikit. Kita liat nanti saja yak. Sudah kuperlihatkan kok Mukami bersaudara dichapter ini. Eh? #nerima bunga A-arigatou Lightning-san
Na-naoto-san, kalo Subaru-kun mungkin nggak akan ngapa - ngapain kamu karena dia itu tsundere pake banget #digampar Subaru. Tapi, tolong hati - hati ya sama Mukami bersaudara. Soalnya... #mendadak merinding karena ngerasain aura gelap dari Mukami bersaudara Tapi, terima kasih loh perhatiannya. Ukh... akan kuingat itu, Noctis-san.
Wah... terima kasih loh minna buat reviewnya. Author jadi semangat lagi nih buat ngelanjutin. Tetap tunggu yak.
Dan, maaf menganggu kesenangan minna, Author mau ngasih berita buruk. Kemarin kan Author sempet nanya enaknya sebulan sekali atau 2 bulan sekali update. Pengennya sih 2 bulan sekali, biar cepet kelar nih fanfic dan minna juga nggak penasaran. Tapi, dilihat lagi keadaan Author yang udah semester akhir dan musti bolak balik ketemu pembimbing, Author nggak yakin kalo bisa update 2 bulan sekali.
Hontou ni Gomen!
Author benar - benar minta maaf sedalam - dalamnya #sujud berkali - kali
Tapi, tentunya Author akan berusaha update terus biar minna nggak penasaran dengan akhir cerita ini. Kalo bisa terus berikan semangat minna ya. Semangat dan review minna adalah obat paling mujarab buat Author untuk bangkit dari keputusasaan hiks
Okeh, sampai sini aja deh kayaknya Author note dichapter ini. Sampai jumpa lagi dichapter selanjutnya. Bye Bye
