BoBoiBoy © Animonsta Studios
Warn! Teen!Boboiboy Elemental, Fang, Yaya, Ying, and Gopal. Semi romance. Typo. [BoldItalic] for message. [Italic] for electronic voice. AU. No power.
Apa yang membuat Halilintar berkata demikian?
Beberapa kali benak Air bertanya. Air bukanlah orang yang notabene mengurus urusan pribadi orang—juga saudaranya. Tapi untuk kali ini, ia sungguh ingin tahu apa yang disinggung Halilintar.
Nama Gempa dinyatakan dalamnya. Bukan hanya sekedar hal itu yang membuat Air kaget. Perangai saudara tertua yang selama ini ia kenal, diungkap kontras dengan apa yang diucap Halilintar. Pada orang lain yang bukan sedarah.
Dua hal mengejutkan yang membuat sang adik bungsu terpukul. Bagaikan terhina karena sebagai saudara, dia tidak tahu apa-apa selama ini. Adakah sesama saudara saling merahasiakan pada saudara lainnya?
Berarti, Air bukan keluarga mereka? Begitu?
"Jadi, kalian dahulu ada lima saudara kembar yang dilantarkan ke panti asuhan? Kau ingat orangtuamu, Halilintar?"
"… Tidak ingat. Kami sejak kecil sudah berada disana. Dulu aku pernah dengar dari Gempa, kalau orangtua kami meninggal saat membawa kami… namun haha, aku tidak tahu."
Gadis berhijab memposisikan duduk menyamping pada ranjang pemilik kamar. "Aku turut sedih. Tapi satu sisi kalian selamat 'kan? Alhamdullillah."
"… Aku juga minta maaf untuk menceritakan keluargaku padamu."
Keduannya terdiam. Air masih menetap dari posisinya. Sang calon penulis tersenyum getir.
"Tolong, bisa rahasiakan semua obrolan kita? Aku tidak mau Air tahu."
"Mengapa?" tanya balik Yaya. "Air bukannya saudara kesayanganmu? Apa yang membuat dia tidak berhak tahu akan Gempa?"
"Air orang yang mudah terpengaruh. Aku tidak tega membuatnya menjadi orang jahat," Halilintar mengepal tangannya. "Aku tidak mau, Gempa dibenci semua adiknya."
"Kau menyiksanya!" tukas Yaya. "Berarti Api dan Taufan pergi karena mereka tidak suka Gempa? Itu hal lucu yang pernah kudengar. Dengar, aku paham masalah keluarga kalian. Tapi bukankah kekanakan kalau kalian pecah hanya karena kalian menganggap Gempa itu egois secara sepihak? Aku tidak tahu laki-laki juga bisa terbawa perasaan—"
"TAUFAN ADALAH ORANG YANG BAIK! KAU TIDAK TAHU DIA!" secara langsung Halilintar membentak. "… kau tidak tahu, dan tidak bakalan tahu Taufan bagaimanapun! Karena kau tidak mengenalnya baik!"
'—sebaik aku.'
Melihat keterkejutan Yaya, Halilintar mengurungkan wajahnya.
"… maaf, harusnya aku tidak mengasarimu. Terima kasih untuk minuman panasnya. Aku tidak batuk saat kau ajak bicara sekarang."
"Sama-sama, ini sudah janjiku pada Gempa," Yaya memberanikan diri menatap Halilintar. "Kau masih berharap Taufan kembali, ya? Taufan pasti saudara yang paling dekat denganmu."
"… sedikit."
Halilintar mulai menceritakan masa lalunya.
=oOo=
Ketika itu Taufan berpapasan di ruang keluarga sambil membawa coklat panas. Pemuda beriris biru kelam hendak bersantai di kamar, tentu saja.
Jam dua siang diunjuk jam dinding ruang keluarga. Taufan awalnya hanya ingin melihat jam. Ketika pikirannya sudah kosong, entah bagaimana kedua matanya malah terfokus hal janggal pada ruang itu.
"Dengar, Api. Kita tidak boleh membuat kesan buruk dengan orang. Kita orang susah, jangan buat lebih dengan berbuat begitu! Bagaimana kalau kau masuk penjara?!"
"Enggak! Aku gak mungkin begitu, aku menemukan dompet orang itu jatuh di jalan lalu aku—aku pungut, aku tidak tahu itu rupanya milik tetangga. Aku benar-benar tidak tahu, Gempa!"
Frekuensi suara Api terdengar melengking. Api benar-benar merasa dipojokkan sampai panik.
"Api, kalau kau benar untuk apa kamu marah denganku?!"
"Demi Allah aku tidak melakukannya!"
"Api!"
"Taruh saja Al-Qur'an di atas kepalaku, kalau mau bukti! Aku benar-benar tidak mencuri!"
"Iya udah, mungkin kamu memang tidak berniat mencuri. Tapi, jangan ambil dompet orang sembarangan apalagi yang bukan punyamu, Api."
"Aku cuma mau tahu siapa pemilik dompet itu! Sudah kubilang, aku tidak mencuri bahkan berniat mengambil! Aku saja tidak tahu kalau dompet itu berisi!"
"Astaga—" Gempa mencengkeram dagu Api. "AKU SUDAH BILANG BAIK-BAIK, SETIDAKNYA JANGAN MEMBALAS NASEHATKU! BEBAL TERUS TELINGAMU ITU!"
Saudara kedua segera mempercepat langkahnya menuju kejadian. Mengabaikan susu coklat hangatnya yang akan tumpah, Taufan segera menendang tubuh Gempa kuat dengan satu kaki. Gempa kehilangan keseimbangannya dan langsung saja terduduk mendarat pada sofa keluarga.
"Apaan sih main fisik? Kau itu sulung, merasa hebat ya sampai tidak mau dengar belaan orang?"
"Khh—" Gempa membiarkan dirinya terduduk. "Tau tidak kalau islam melarang main kasar sama yang lebih tua?!"
"Kau itu keterlaluan, Gempa! Aku sudah melihatmu beberapa kali sok berkuasa! Oh ya tentu, gegara kau kita kembali berkumpul satu atap. Setidaknya, hargai usahamu mengumpulkan kami semua di rumah sampah ini."
"Nah, itu tahu! Aku tahu apa yang terbaik buat kita! Memang aku menasehati kalian untuk apa? Untuk membuat kalian baik!"
"Baik? Hah! KAU ITU MEMOJOKKAN KAMI!"
"KAU HANYA BALAS DENDAM DENGANKU!"
Suara bentakan kakak pertama dan kedua disertai ada benda pecah sentak membuat Halilintar yang masih di kamar kaget. Pemuda beriris merah melangkahkan kakinya laju turun menuju lokasi. Perasaannya kini tidak enak.
Halilintar melihat sebuah cangkir yang kini terkulai pada lantai dengan hanya berupa puing-puing. Disana ada bekas genangan air coklat. Dan, kedua saudaranya yang tua darinya saling melotot.
"Tolong kak Taufan, jangan."
Kedua tangan Taufan digenggam Api. Api berusaha mungkin menahan amukan Taufan, mencegah kalau-kalau mereka sudah pada sesi main tangan yang lebih mengerikan. Hanya saja, Api tidak bisa menghalangi irisnya untuk menatap tajam kakak sulung.
"Apa kau tahu? Aku paling susah untuk bicara pada Ibu Angkatmu. Aku bahkan nyaris mau menculikmu supaya kita bisa bertemu. Rupanya, ini balasanmu?"
"Hoo, kau mau pamrih? Kau seperti orang baik. Padahal dalam hatimu, itu busuk!"
"HAHAHA! KAK TAUFAN, AKHIRNYA BERANI JUGA NGOMONG SAMA PENGUASA LICIK INI!"
Segera saja Api yang tadinya netral, menjadi membela Taufan. Gempa mengerjapkan kedua matanya tidak percaya.
"Dari dulu kau itu cuma mau mengumpulkan kami buat jadi pembantu, bukan?"
Saudara ketiga terkejut mendengar pendapat Api. Apa yang dia katakan?
"Suruh kami tiap hari. Harus baik dengan orang. HAK KAMI MANA, WOI."
"Memang kami tidak bisa mencari biaya hidup sendiri? Kami bisa, kami bisa hidup sendiri malahan."
"YA SUDAH, PERGI DARI RUMAH INI DAN LAKUKAN APA YANG KALIAN SUKAI DISANA!"
Pertama kalinya Halilintar dibuat ketakutan oleh pertengkaran keluarganya sendiri. Juga untuk pertama kalinya, Gempa bisa marah besar sampai mengusir kedua saudaranya.
Mengusir.
Semenjak itu, Halilintar menganggap Gempa benar-benar egois, seperti yang dikatakan Taufan.
=oOo=
Air membenci keluarganya sekarang. Air membenci dirinya.
Selama ini dia memihak Gempa. Dia selalu percaya apa yang dilakukan Gempa kepada adik-adiknya.
Namun setelah mendengar pernyataan Halilintar, dia terpukul.
Lalu, bagaimana dengan Halilintar sendiri? Mengapa dia yang melihat kejadian itu sendiri, masih mau bersama Gempa?
"Lalu, kenapa kau masih disini?"
"Bagaimana, ya…" kedua tangan Halilintar saling bercengkrama. "Aku menerima bagaimana pemikiran Gempa, karena saat kecil aku juga lebih setuju kalau kami lebih baik mengalah saat itu. Aku seharusnya berterima kasih pada Gempa."
Respon Yaya positif. Dia menyumbingkan senyum tipis.
"Andai Gempa tidak menjemputku, aku bakal hidup dengan orang lain yang hanya butuh tenagaku. Aku lebih baik berguna untuk keluarga, daripada untuk orang lain."
—karena Halilintar pernah terluka.
"Hhh," Halilintar berdelik. "Orangtua angkatku memang kaya, punya usaha warung makan. Dia punya anak dan penghasilan dari warung memang cukup tinggi sampai bisa memenuhi permintaan anaknya. Tapi, kenapa harus aku yang bekerja lebih untuk menjaga warung itu? Padahal ada anaknya."
"… lalu?"
"Aku bahkan sekolah jalan kaki. Sedang anaknya, punya kendaraan motor sendiri."
"Itu kejam."
"Aku tahu. Bahkan aku hanya mendapat uang jajan dari hasil menjaga warung—yang hanya cukup membeli satu nasi lemak. Sedang anaknya, bahkan bisa mentraktir kawan sekelasnya saat ulang tahun di warung luar."
"Hali—"
"Juga, aku sering dikatakan pemalas hanya karena ingin izin sakit pada hari kerja."
Itukah yang membuat Halilintar sedikit sensitif saat dia sakit? Yaya mulai paham segala diri Halilintar.
Halilintar menurutnya adalah orang mandiri, yang segan meminta tolong orang lain. Dia saat diemban tugas, akan melaksanakan tugas tersebut sebaik-baiknya. Saat diberi kepercayaan, dia takkan tega menghancurkan kepercayaan itu selagi mampu—tidak heran dia selalu diandalkan menjadi tukang masak keluarga.
Itu yang membuat Halilintar tampak segan dirawat orang lain ketika sakit. Salahkan pada masa kecilnya yang harus berjuang menahan sakit.
Meski begitu, dia punya keinginan untuk sekali-kali merasakan bagaimana enaknya dirawat.
Jelas saja dia takkan segan meminta bantuan keluarga. Bukannya sejak di panti asuhan mereka selalu merawat satu sama lain?
Halilintar bukan manja.
Halilintar hanya rindu kehangatan.
"… cobalah, percaya padaku."
Suara Halilintar terdengar segan membalas, "Aku sudah percaya denganmu, Yaya."
"Makasih…"
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Fang?"
"… benar yang kau katakan, aku tidak jadi mengejarnya. Aku takut dia hanya suka diriku karena aku anak pejabat atau lainnya, yang bukan aku tentunya."
"Menurutku, Gempa lebih cocok punya pasangan keras kepala sepertimu."
"Kamu memujiku atau apa, sih? Dasar!"
"Hahaha…"
Disisi lain, Air sudah menghilang dari tempat bertenggernya.
=oOo=
Hari-hari berjalan seperti biasa. Halilintar yang pulih dari sakitnya, kembali menjadi kepercayaan keluarga untuk mengurus rumah. Hari libur kuliah Air sudah habis, dan Air kembali menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa. Sedang Gempa, ia masih bergelut dengan pekerjaannya.
Tapi ada yang beda.
Beberapa hari Air bisa bangun pagi, meski jadwal kuliahnya siang. Dia jarang mau makan bersama di dapur, karena seusai mandi dia mengambil jatah piringnya menuju kamar. Alasannya karena ia ingin cepat masuk.
Lain dengan Halilintar. Dia jadi sering tersenyum—tipis—sendiri bila memasak. Seusai melaksanakan tugasnya, dia segera mungkin membuka gadget miliknya dan mengajak ngobrol perantara sms. Tapi Gempa tidak jarang melihat dia menyambar ponselnya pada waktu kosong.
Seandainya Gempa bisa menyentuh pundak mereka saja, dia pasti akan menekuk saudaranya lalu bertanya lewat ilmu hipnotis.
Kakak tertua hanya bisa menunggu mereka membicarakan tentang mereka. Masalahnya, pekerjaan Gempa sekarang makin bertumpuk—dan Gempa akui beberapa hari ia terpaksa mengurungkan niatnya sebagai Paman Baik. Gempa sendiri juga tidak punya waktu kosong untuk bisa bersama keluarganya.
Hingga tiba hari dimana Air juga belum pulang sampai waktu malam.
"Air mana, Halilintar?"
Halilintar duduk santai pada sofa ruang keluarga, "Entah. Kukira dia menjemputmu."
"Mobil ada di luar. Aku sampai diantar teman kerjaku karena menunggu Air lama. Memang dia kemana sebelumnya?"
"… tidak tahu."
Gempa menghela napas, "Mungkin dia kerja kelompok. Tapi, dia pasti bakal sms atau tidak menelepon untuk memberi kabar."
"Coba saja saat malam nanti kau gunakan hipnotismu buat bicara dengan Air," saran Halilintar seraya memelankan suaranya.
"… mungkin bisa kucoba nanti. Tunggu, aku sudah bilang jangan mengungkit kemampuanku bukan? Kau lupa?"
"Ini hal serius, Gempa. Kau tidak lihat, Air akhir-akhir ini bersikap aneh? —"
=oOo=
Langit gelap dengan hanya berteman cahaya bulan dan bintang. Sepanjang trotoar beberapa pasangan menikmati malam itu dengan bercanda bersama. Jalanan dipenuhi mobil-mobil dan kendaraan lain, mengarungi dalam kecepatan tinggi.
Disana seorang pemuda memakai topi santai agak menjulang naik. Ia turut meramaikan momen malam itu hanya dengan berjalan-jalan. Kedua tangannya dimasukkan pada sisi-sisi saku jaket hitamnya.
"Hmm, jalanan penuh dengan para lovebirds~ Kalau semua orang itu tau bagaimana pasangan mereka, apa mereka masih bisa pacaran ya?"
Api berbicara dengan dirinya sendiri. irisnya beberapa kali mmeutar melihat sekeliling. Kemudian, Api tersenyum sendiri.
Atas apa yang dia pikirkan, siapapun takkan tahu pada waktu itu. Tidak ada yang tahu siapa dia dan apa personal yang dia sering tampakkan, adalah penyebab mutlak ia tidak dicuragai.
"Berhenti, anak muda!"
Terasa lengan Api dipegang seseorang. Api menghentikan langkahnya, dan penasaran mengundangnya untuk melengok siapa yang telah menahannya.
"Sudah kuduga, kau benar-benar anak yang dahulu mencuri tasku!"
Orang yang menahannya adalah seorang perempuan. Tubuhnya ramping—lumayan untuk ukuran gadis seksi. Tingginya sedikit lebih rendah dari Api. Ia memakai kacamata budar dengan kedua rambut yang dikuncir dua—gaya cewek culun biasanya.
Sialnya, Api sendiri sudah banyak melakukan kasus perampokan di kotanya—bahkan dia dengar sendiri kalau wajahnya sudah terkenal dari buletin (walau ia sendiri tidak menemukan wajahnya juga). Mana Api ingat siapa-siapa yang dia rampok.
"Hngg? Aduh, jangan mencengkeram tangan orang dong—"
Api langsung menjauhi badannya saat sebuah jari telunjuk melesat menuju dahinya. Gigi Api menggertak. Selagi gadis itu mengambil waktu untuk membuat serangan berikutnya, Api segera mengayunkan lengannya memberontak.
"Hehe," Api bersiul takut. "Kejar aku, kalau kau bisa~"
Api langsung saja berlari. Ia mengambil langkah nekad mencuri perhatian khalayak dengan beberapa kali menabrakkan tubuhnya sengaja atau tidak sengaja. Gadis di belakangnya tidak tinggal diam. Dia juga ikut berlari, dan dapat mengelak setiap gerakan culas Api dimana membuat orang-orang sebagai tamengnya.
Tidak menyerah juga perempuan itu mengejar Api. Si pemuda mengambil jalan sempit, jauh dari keramaian kota. Melihat sebuah pagar membentang menghalangi jalanannya, dilesatnya kedua kakinya melompati pagar itu sukses.
"Hhh, apa kau bisa juga melewatinya?" Api menoleh ke belakang sebentar dengan senyum licik.
—tetapi perempuan itu tetap masih mengejarnya, bahkan ia akan mendekat kepada Api.
'Gila itu cewek.'
Sembari berlari Api masih memutar otaknya. Bagaimana untuk mengecoh setan di belakangnya? Larinya laju, sepertinya mantan anak basket. Peribahasa 'cabe rawit' itu bukan kosakata belaka.
Mereka berpapasan pada suatu rumah tanpa berpenghuni dengan petak luas. Rumah yang terlihat seperti jenis negara luar, tanpa penerangan dan tanaman mati dimana-mana.
Kata orang, cewek gampang takut dengan hal mistis. Api mengambil langkah berani untuk berbelok pada rumah itu. Lidahnya berdecak kesal. Pagar rumahnya begitu tinggi, masalahnya.
Api memusatkan tenaga pada ujung kakinya lalu menggebrak pagar. Tidak peduli lagi bahwa engsel pagar reyot lepas sampai rebah. Api terus berlari supaya dengan cepat mencari perlindungan dalam rumah itu.
Ada seseorang dari jendela.
Api tidak salah lihat, tadi ada orang yang menjenguk dari jendela. Laki-laki. Meski hanya sepintas cahaya bulan.
Persetan mau itu setan atau tuyul, Api lebih takut didapat gadis keturunan tionghoa yang kini mengejarnya gigih.
Pintu rumah itu terbuka. Api tidak perlu lagi menggebrak seperti kejadian sang pagar, dan diapun berlari masuk ke dalam rumah itu. Dan kesannya sama seperti rumah-rumah tua tak berpenghuni dalam film horor-horor, bahwa rumah yang ia kunjungi gelap dan banyak debu.
"Mana laki-laki itu? Tch!"
Perempuan berambut kuncir tersebut berjalan pelan. Matanya menjelajah sudut yang dapat dilihatnya.
'Matamu minus, kau pikir dapat melihatku? Eee—'
Tangan Api ditarik dari tempat persembunyiannya. Menyebabkan tubuhnya oleng, tersungkur jatuh dengan kedua pantatnya.
"A—alamak—"
"Stt!"
Tangan orang asing itu membekap mulut Api. Api menduga kalau perempuan tadi telah menangkapnya. Tapi apa, dia menyuruh untuk berdiam padahal hanya berdua dalam rumah itu untuk apa?
"Yak, kayaknya dia udah kabur. Yah, Ying, kau gagal lagi."
Suara decitan lantai menggema dari rumah itu. Itu adalah suara perempuan yang tadi mengejar Api.
Lalu, siapa yang mendekapnya?
Api memberanikan diri menoleh. Baru dia sadari, ia kini ada pada sebuah bilik sempit berdebu. Memiliki satu jendela kayu mengangga, membuat sang bulan bebas membiaskan cahaya rembulannya untuk menerangi ruangan tersebut.
"Air?! Kau—kau kenapa—"
Apa yang terjadi, saat seekor singa menemukan tikusnya bukan tikus yang ia kenal?
Air biasanya akan memeluknya erat dengan derai air mata. Bisanya ia akan terisak, begitu bisa kembali berjumpa dengan kakak kesayangannya—Api.
Ada yang salah.
Ekspresinya.
"Halo, Api."
Dan dia tidak lagi menyebut Api sebagai 'kakak'.
"—karena sebelum Taufan dan Api pergi, mereka juga suka mengurung dalam kamar. Seperti kasus Air."
