Selamat Membaca!
Sorry For Typo ^^
.
Luhan terbangun karena ponselnya terus saja berdering. Ia mengambil ponselnya dengan meraba-raba nakas di sebelahnya. Ia menemukan tasnya dan merogoh mengambil ponselnya.
"Yeoboseyo,"
"Ne Mama aku sudah bangun, mengapa Mama menelfonku–"
Luhan mengingat sesuatu, sepertinya ia tidak pulang tadi malam. Lalu.. mengapa kamarnya terlihat berbeda? Ah aroma ini juga bukan aroma kamarnya. Luhan membolakan matanya ketika melihat isi bingkai yang tergantung di dinding.
"MAMAAAA" teriak Luhan.
.
.
Can I Be With You?
-Our Destiny-
Chapter 2-5
.
.
Luhan menyilangkan kaki kanannya ke kaki kiri, tangannya bersedekap di dada dengan wajah yang memerah menahan amarah. Pandangannya lurus ke depan lebih tepanya menatap punggung laki-laki yang seenaknya tidak mengembalikannya ke rumah tapi malah membawanya ke apartemennya.
Ya, Sehun tadi malam memang tidak mengantarnya kembali ke rumah karena rumah Luhan sangat sepi. Ternyata orangtua Luhan sedang mengunjungi neneknya di Busan. Tapi tidak dengan membawanya ke apartemen laki-laki itu kan?
Sehun meletakkan dua buah piring berisi nasi yang baru saja selesai ia goreng. Ia melepas apronnya dan duduk dengan tenang di hadapan Luhan sedangkan Luhan masih menatap Sehun tajam dan tidak berniat menyentuh sarapannya sama sekali.
"Oh ayolah Lu, berhenti menatapku seperti itu. Tatapanmu bisa membunuhku," kekeh Sehun.
"Kau! Bukannya meminta maaf malah tertawa seperti itu," kesal Luhan, ia mempoutkan bibirnya.
"Aku harus bagaimana Lu?–"
"Arrasseo, mianhae Lu. Aku tidak tega membangunkanmu, jadi aku membawamu saja ke apartemenku. Demi Tuhan Lu! Aku tak macam-macam padamu," ucap Sehun ketika melihat raut wajah Luhan semakin memerah.
Tidak tahu saja Sehun jika gadis di hadapannya memerah karena amarah sekaligus malu.
"Cepat makan sarapanmu Lu, setelah itu kita pergi bersama," ucap Sehun. Luhan masih tetap tak meyentuhnya, ia sudah terlanjur sebal pada lelaki di depannya.
"Cepat atau aku akan menciummu jika kau masih memainkan bibirmu seperti itu," Sehun meletakkan sendoknya dan menatap Luhan dengan smirk-nya.
Luhan semakin kesal, ia malah semakin memainkan bibirnya, "coba saja kalau kau–" berani Luhan tak bisa melanjutkan ucapannya karena kini bibir Sehun tepat di bibirnya. Luhan hanya bisa membelalakan matanya.
Sehun yang sangat tinggi memudahkannya untuk memajukan tubuhnya menyebrangi meja dan menyapa bibir Luhan. Cukup lama mereka bertautan, lalu Sehun melepaskan ciumannya. Sekilas mengecup bibir Luhan, Sehun kembali ke tempat duduknya semula.
Luhan masih membeku, jantungnya masih berdetak tak beraturan begitu juga dengan darahnya yang mengalir terlalu cepat. Pipinya memerah dan sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merahnya. Sehun hanya terkekeh melihat Luhan yang seperti salah tingkah.
Luhan melirik makanannya dan mengambilnya dengan cepat. Ia memakan sarapannya untuk menyembunyikan jika dirinya memang salah tingkah.
"Bagaimana jika tidak ada aku bersamamu Lu?" Tanya Sehun terkekeh.
Luhan mengangkat wajahnya dan menatap Sehun bingung. "Aku harus menciummu dahulu agar kau memakan sarapanmu,"
Luhan membelalakan matanya, "OH SEHUN!" pekik Luhan kesal. Tawa Sehun meledak saat itu juga dan memenuhi setiap sudut apartemennya.
.
.
Kini Luhan dan Sehun dalam perjalanan menuju Blue Entertainment karena Sehun harus mengikuti meeting penting sedangkan Luhan harus melatih pada trainee pagi ini. Luhan masih mendiamkan Sehun karena kejadaian tadi.
"Lu," panggil Sehun.
Luhan tidak menyahut, ia masih asik dengan pemandangan di luar jendelanya. Sebenarnya ia sengaja tidak menyahuti Sehun. "Luhan," tidak ada sahutan.
"Luhaniee," Sehun mencoba memanggil lagi. Tetap tidak ada sahutan juga.
"Lu–"
"Kau menyebalkan Oh Sehun! Kau berisik sekali!" Luhan akhirnya menyahuti walaupun dengan nada kekesalannya.
"Aku memanggilmu berkali-kali–"
"Aku mendengarmu, tetapi aku malas menjawabnya," Luhan menatap berang Sehun. Sehun terkekeh melihat gadis disebelahnya kesal tetapi menurutnya sangat imut.
"Tapi aku tidak akan meminta maaf karena menciummu,"
Luhan menoleh pada Sehun, "Mwo?!"
"Bukankah seharusnya kau berterimakasih padaku karena kau jadi memakan sarapanmu. Bagaimana jika kau kelaparan dan sakit karena tidak sarapan?"
"Aku bisa membeli makananku sendiri Oh Sehun!" ternyata Luhan benar tak main-main saat ini.
"Arrasseo, ayo turun. Kita sudah sampai," ajak Sehun.
Mereka berjalan beriringan karena Sehun selalu menyamakan langkahnya dengan Luhan meskipun gadis itu selalu mempercepat langkahnya, ia malas jika harus berjalan bersama lelaki menyebalkan.
"Lu, kau benar masih marah?" tanya Sehun yang berhasil menyamai langkah Luhan untuk kesekian kalinya.
Luhan tak menjawab dan hanya berjalan lurus ke depan.
"Luuuu,"
"Kau membuat semua mata tertuju pada kita Tuan Oh. Kau tak mau kan derajatmu turun karena merengek padaku?" ucap Luhan cepat ketika ia memerhatikan sekitarnya yang tengah menatapnya, ah lebih tepatnya menatap ia dan Sehun dengan selidik, heran, dan penasaran.
Luhan mengedarkan pandangannya dan melihat para karyawannya memang melihat ke arahnya dan Luhan. Para karyawannya membungkuk hormat ketika Sehun lewat.
"Baiklah, ayo pergi,"
"Y..yak!" pekik Luhan.
Sehun merangkul Luhan seenak jidatnya dan membawa Luhan menuju lift dengan cepat.
Luhan keluar dari lift terlebih dahulu daripada Sehun karena ia berhenti di lantai 4 dan Sehun harus terus menuju ruangannya di lantai 5. Luhan keluar lift tanpa berbalik pada Sehun, ia terus berjalan dan mendengar pekikkan Sehun yang memalukan.
"Chagi! Nanti siang kita makan bersama!"
Luhan mempercepat langkahnya karena di lorong itu lumayan banyak pelatih dan trainee yang berlalu lalang. Ia merutuki Sehun yang benar-benar semena-mena. Chagi? 'Benar-benar Arggghhh!' Kesal Luhan.
.
.
"Five.. Eight.. Seven.. Eight One more!"
"Hey Girl! Don't do that!"
"Luruskan! Jangan ditekuk!"
Kini Luhan sedang berada di ruang latihan, tengah mengajari para trainee-nya. Jumlahnya ada 5 orang, sebentar lagi mereka akan didebutkan, yah tepatnya 8 bulan dari sekarang.
"Oke! Kerja bagus semuanya!" teriak Luhan ketika melihat para trainee-nya sangat lihai dalam gerakan yang ia buat. Cukup rumit, tegas, dan elegan adalah jenis gerakan yang saat ini Luhan berikan pada 5 gadis itu.
"Gamsahamnida Eonnie," ucap gadis berambut pirang, ia paling tua di antara yang lain. Yang lain membungkukkan badan mengikuti eonnie paling tua diantara mereka.
"Baiklah, kita akhiri latihan kali ini. Aku harap kalian bisa lebih giat lagi, ingat debut kalian sebentar lagi," titah Luhan.
"NEE!" ucap mereka serentak dengan semangat. Luhan tersenyum dan mulai membereskan barang-barangnya.
Ceklek!
Seseorang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Kelima trainee itu membungkuk hormat ketika melihat siapa yang masuk. "Annyeonghaseyo, Presdir!" sapa mereka serempak.
"Ne," jawab Sehun singkat lalu memberi jalan pada para trainee-nya agar bisa keluar.
"Kenapa kau disini?" tanya Luhan tanpa mengalihkan pandangannya pada Sehun.
"Aku kan bilang kita akan makan siang bersama,"
"Aku ingin menjenguk Kyungsoo,"
"Ya. Kita akan menjenguk Kai dan Kyungsoo, tetapi setelah kita makan siang,"
"Kyungsoo akan mengomeliku kalau aku tidak ada di sampingnya saat ia sadar,"
"Kau terlambat Lu. Kyungsoo sudah sadar sejak pagi," kekeh Sehun.
"Jinja?! Ayo ke rumah sakit sekarang!"
Sehun menatap Luhan, "makan siang dahulu Lu,"
"Kalau begitu biar aku ke rumah sakit sendiri," Luhan mengambil tasnya dan berjalan melewati Sehun.
"Arrasseo, ayo kita ke rumah sakit sekarang"
Sementara Luhan dan Sehun dalam perjalanan, Kyungsoo mencoba memfokuskan penglihatannya dengan mengerjapkan matanya. Ia baru saja siuman dan kembali tertidur karena efek obat yang ia minum. Kyungsoo bangun dari posisi tidurnya dan melihat ruangannya kosong, berarti Baekhyun sudah pulang, pikirnya.
Kyungsoo berjalan sambil membawa tiang infusnya ke luar ruangan, ia bermaksud untuk mengunjungi Kai yang ada di sebelah ruangannya.
CEKLEK
Kyungsoo melihat Kai masih berbaring di sana dengan damai. Kyungsoo menutup pintu dan mendekati Kai. "Hai Kai-ya," sapa Kyungsoo sambil tersenyum sedih.
Kyungsoo memandangi wajah Kai yang sudah tidak sepucat kemarin, "apa kau tidak ingin bertemu denganku? Kenapa kau tak membuka matamu?" tanya Kyungsoo tercekat. Ia melepas pegangannya pada tiang infusnya dan membelai wajah Kai.
"Kau harus bangun," lirih Kyungsoo. Ia menggenggam tangan Kai dan menyandarkan kepalanya di ranjang.
"Aku merindukanmu," bisik Kyungsoo. Kata itu terus ia ucapkan sampai matanya tertutup karena lelah.
Beberapa menit kemudian, Kyungsoo merasakan sesuatu yang familiar mengusak lembut kepalanya. Rasanya hangat dan ia merindukan perasaan ini, perasaan yang hanya mampu dibuat oleh satu orang laki-laki yang ia cintai namun juga membuatnya kecewa.
Jantungnya berpacu dengan cepat, ia tak berani mengharapkan jika sekarang dalam keadaan sadar. Apa ia bermimpi karena tertidur di ruangan Kai? Kyungsoo mengangkat kepalanya dan melihat sebuah tangan yang ia tebak beberapa menit lalu membuatnya nyaman terangkat.
"K..Kai?"
Kyungsoo mematung ditempatnya karena melihat laki-laki yang berstatus sebagai mantan kekasihnya itu membuka mata tengah menatapnya lemah.
Ia hanya bisa menatap balik tatapan lemah itu. Jujur saja, ia terlalu merindukan tatapan laki-laki itu hingga tak mampu mengalihkan pandangannya. Terlalu lama ia menatap hingga tak satupun kata yang bisa keluar dari bibirnya. Sekedar mengatakan 'hai' atau 'kau baik-baik saja' lidahnya terasa kelu. Apa yang harus ia lakukan?
"Kyung–"
"A..aku a..kan panggilkan dokter," ucap Kyungsoo ketika dirinya kembali ke kesadarannya.
GREP
Kai menggapai tangan Kyungsoo dan menahannya agar tidak menjauh darinya. "Kajima," ucapnya hampir seperti gumaman.
Kyungsoo masih dalam posisi membelakangi Kai, ia tidak bisa bergerak sekedar untuk berbalik. "Kajima,"
"Bisakah kau tetap bersamaku? Sebentar saja" pinta Kai.
Air mata Kyungsoo saat ini seperti sedang tidak bisa diajak bekerjasama. Air mata itu begitu saja lolos dengan mudahnya dari matanya yang menyerupai mata owl itu. Hatinya seperti dicabik, rasanya sangat menyakitkan, kalian tahu? Kyungsoo merutuki dirinya sendiri karena telah menyakiti lelaki yang masih dicitainya. Tetapi hati kecil Kyungsoo juga merasa dirinya tersakiti karena ulah Kai beberapa tahun lalu.
Bisakah Kai menjelaskannya dan mengucapkan kata 'maaf' untuknya? Mungkin itu akan membuat Kyungsoo tak akan sesakit ini.
Kyungsoo menghapus cepat air matanya dan sedikit berdehem, "aku akan–" Kyungsoo menghentikan ucapannya karena suaranya terdengar sekali jika ia menangis.
"Aku akan memanggil–"
"Kyungsoo-ya," Kai hendak menarik Kyungsoo agar berhadapan dengannya, tetapi sepertinya niatnya itu harus diurungkan karena–
"KYUNGIII" pekik Luhan ketika membuka pintu ruang Kai dirawat. Luhan dan Sehun baru saja sampai dan tak menemukan Kyungsoo di ruangannya, itu membuat mereka khawatir.
"Lu, jangan berteriak," Sehun mengingatkan.
"Biarkan saja. Siapatahu Kai bangun mendengar teriakanku," Luhan menghampiri Kyungsoo bermaksud mengembalikan sahabatnya itu ke ruangannya kembali. Luhan melihat pemandangan yang membuatnya terkejut karena melihat Kai telah membuka matanya.
"KAI!"
"Wae?!" tanya Sehun panik.
"Kai sudah si..siuman," ucap Luhan, kentara sekali ia bahagia.
"Aku akan panggilkan dokter," Sehun segera keluar dari ruangan dan berlari mencari dokter yang menangani Kai.
Luhan menghampiri sahabat Sehun itu "Kai syukurlah," ia mengisyaratkan angka dua dengan jarinya, "Ini berapa?" tanya Luhan tiba-tiba.
"Luhanie, kau pikir aku buta?" kekeh Kai lemah.
"Ani. Aku takut otakmu bermasalah," cengir Luhan.
"Ish rusa ini!"
Kyungsoo masih terpaku di tempatnya, ia bahkan tak mendengar ocehan dari sahabatnya dan sahabat Sehun itu.
Dokter yang menangani Kai masuk disertai 2 perawatnya. "Kalian bisa tunggu di luar, kami akan memeriksa keadaan pasien," pinta Dokter.
"Ne dok," jawab Luhan lalu mengambil alih tiang infus Kyungsoo, tetapi Kai menahan tangan Kyungsoo membuat keduanya menoleh.
"Kajima," bisik Kai.
"A..arasseo," jawab Kyungsoo lalu mereka berdua meninggalkan Kai agar dokter bisa memeriksa kondisinya.
Sementara Kai diperiksa, Luhan memaksa agar Kyungsoo beristirahat di ruangannya.
"Aku tidak mau Lu," tapi Kyungsoo selalu menjawab seperti itu.
"Kau masih sakit Kyung!"
"Ani, aku hanya perlu istirahat semalam Lu. Aku baik-baik saja,"
"Tapi–"
"Iya Lu, Kyungsoo sudah baik-baik saja." Ucap Sehun.
"Ish! Yasudah, awas kalau kau kembali pingsan!" kesal Luhan.
"Arrasseo nona rusa!"
Dokter dan dua perawatnya keluar dari ruangan Kai dengan wajah yang bisa dikatakan akan membawa kabar baik.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Sehun.
"Pasien baik-baik saja, keadaannya sudah membaik. Bisa dikatakan tubuhnya akan pulih dengan cepat" ucap sang dokter tersenyum.
"Syukurlah," ucap Luhan lega.
"Baiklah, saya kembali dulu. Permisi," pamit dokter itu.
"Ne, gamsahamnida dok," ucap ketiganya sambil sedikit membungkuk.
"Bisa kalian jaga Kai? Sekretarisku memberitahu bahwa aku ada meeting siang ini, kalau kalian tidak keberatan, jaga Kai sampai aku datang. Aku juga akan menjemput Yixing Noona karena Suho Hyung sedang ada dinas," pinta Sehun.
"Tentu saja, Kai juga teman kami," ucap Luhan.
"Gomawo, aku akan kembali sore nanti" Sehun melambai pada mereka berdua.
"Oh ya Lu, jangan lupa kau harus makan siang!" Sehun mengingatkan. Kyungsoo menatap sahabatnya dan Sehun dengan curiga, 'apa mereka sudah bersama?' batin Kyungsoo.
"Arrasseo bawel!"
"Kajja," ajak Luhan sambil membantu Kyungsoo membawa ifusnya.
"Lu," panggil Kyungsoo menahan lengan Luhan.
"Wae?" Luhan berbalik.
"Engg.. ani," jawab Kyungsoo, tetapi tangannya masih menahan lengan Luhan.
"Jangan khawatir. Bukankah kalian sudah akrab tadi?" tanya Luhan bermaksud menggoda sahabatnya itu.
"Maksudmu?"
"Eyyyy.. tadi bahkan kau berpegangan tangan dengannya," Luhan menyenggol lengan Kyungsoo sambil tersenyum menggoda.
Kyungsoo membulatkan matanya, semburat merah mulai menghiasi pipinya. Oh, ia merona, kekeh Luhan.
"A..ani," sergah Kyungsoo.
"Eyy," Luhan makin menggodanya.
"Ish!" Kyungsoo sebal dan mempoutkan bibirnya.
"Kau imut Kyung. Kajja masuk,"
CEKLEK
Luhan masuk terlebih dahulu diikuti Kyungsoo di belakangnya. "Hai Kai, bagaimana keadaanmu?" tanya Luhan sambil membawa Kyungsoo duduk di sofa ruang itu.
"Lebih baik," sahut Kai. Ia memerhatikan Kyungsoo dan bermaksud menanyakan apa yang belum sempat ia tanyakan tadi, "apa Kyungsoo juga sakit?" tanya Kai.
Luhan berjalan mendekati ranjang Kai dan mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang Kai. "Hmm, anemia" jawab Luhan. Kyungsoo hanya diam dan memandangi tangannya yang diinfus.
"Anemia?"
"Hm. Ia mendonorkan darahnya padamu. Kau tahu? Kau hampir mati jika Kyungsoo tak mendonorkan darahnya," ucap Luhan.
"Be..benarkah?" gumam Kai. Ada rasa senang mengetahui Kyungsoo yang menyelamatkannya, tapi ada juga rasa sedih yang menjalari hatinya karena membuat Kyungsoo jatuh sakit.
"Jadi karena aku harus menjaga dua pasien, lebih baik kalian istirahat oke. Aku akan menunggu kalian," ucap Luhan lalu tangannya terangkat akan memakaikan ear phone di telinganya.
Sementara Luhan sibuk dengan matanya yang menatap fokus layar ponselnya. Kai menatap gadis yang di sofa dalam diam. Ia melihat malaikatnya itu menutup matanya damai. Kai memutar otaknya sembari menatap Kyungsoo, bagaiamana caranya agar ia bisa berbicara dengan Kyungsoo.
Tak berapa lama kemudian, Kai tersenyum penuh arti ketika kepalanya dipenuhi sejuta alasan agar ia hanya berdua dengan Kyungsoo. Kai dengan hati-hati mengambil wadah tisu di nakasnya lalu mengambil semua isinya dan ia sembunyikan di balik bantalnya. Ia mengembalikan wadah tisu yang sudah kosong tersebut ke nakas.
"Lu," panggil Kai, ia menggoyang-goyangkan lengan Luhan.
"Wae?" tanya Luhan sambil melepas ear phone-nya.
"Lu, bisakah kau membeli tisu di minimarket depan rumah sakit?" pinta Kai.
"Apa sudah habis?" tanya Luhan sambil mencari tisu di nakas.
"Ne. Aku bahkan belum memakainya, aku hanya menemukan bungkusnya saja," jawab Kai lancar seperti tidak ada kebohongan, padahal dalam hatinya ia bersorak senang karena sepertinya Luhan percaya.
"Arraseo, aku juga harus makan siang. Sahabatmu itu akan mengomeliku jika aku tidak makan siang," kekeh Luhan.
"Aku pergi dahulu," Luhan bangkit dari kursinya dan menghampiri Kyungsoo yang masih menutup matanya.
"Kyung,"
Mata Kyungsoo enggan untuk membuka ketika Luhan memanggilnya, tapi ia tetap memaksakan matanya agar terbuka, "em?" gumam Kyungsoo.
"Aku makan siang dahulu. Jika jatah makan siang kalian sudah datang, pastikan untuk memakannya arrasseo?!" ucap Luhan kemudian ia melihat pada Kai. Luhan hafal sekali jika sahabatnya dan sahabat dari Sehun itu membenci makanan dari rumah sakit yang menurut mereka sangat menjijikan.
"Arrasseo," balas Kai.
Kyungsoo hanya mengangguk mengiyakan, ia terlalu lelah untuk membantah saat ini.
Luhan berjalan keluar dan menutup pintu sambil tersenyum kecil. Sebenarnya ia tahu apa yang Kai rencanakan haha. 'lagipula mengapa Kai membutuhkan tisu?' kekeh Luhan dalam hati.
Suasana di ruangan Kai setelah kepergian Luhan menjadi sangat sunyi. Tak ada satupun suara yang mneginterupsi keheningan yang mereka ciptakan. Kyungsoo sendiri hanya menutup matanya kemudian kembali membukanya, mencoba menutupnya kembali, tapi tetap saja akan berujung dengan Kyungsoo yang membuka matanya, entahlah dirinya sangat gelisah hanya berdua dengan Kai.
Kai juga tak tahu harus memulai dengan cara apa. Ide-ide yang ada di kepalanya sudah dirangkai sedemikian baiknya pun menguap entah kemana membuat Kai tak nyaman. Tiba-tiba Kai merasakan kerongkongannya sangat kering, ia sedikit memiringkan tubuhnya dan mencoba meraih gelasnya di nakas.
Kyungsoo yang melihatnya refleks berjalan sambil membawa infusnya dan mengambilkan gelas yang belum sempai Kai gapai. "Ini," Kyungsoo menyodorkan gelasnya pada Kai.
"Gomawo," ucap Kai tersenyum lalu ia mencoba bangun, Kyungsoo meletakkan kembali gelasnya dan membantu Kai bersandar kemudiam ia membantu Kai meminum airnya.
"Maaf menyusahkanmu," Kai tersenyum kecil.
"Ani," jawab Kyungsoo. Suasana kembali terasa canggung untuk keduanya.
"Kyungsoo-ya,"
"Hm?" Kyungsoo menoleh pada Kai.
"Gomawo,"
"Untuk?"
"Menolongku–"
"Gwaenchanha,"
"–dan aku minta maaf–" lanjut Kai.
Jantung Kyungsoo berdetak cepat, apa Kai sudah menyadari kesalahannya? Apa ia akan mendengar permintaan maaf yang selama ini ia inginkan? Kyungsoo terdiam masih menunggu lanjutan kalimat Kai.
"–karena telah membuatmu jatuh sakit, maafkan aku" Kai tertunduk.
Hening.
Kyungsoo merasa hatinya sangat kosong. Tidak tahu apa yang ia rasakan. Pupus sudah harapannya, ia pikir Kai sudah benar-benar mengetahui kesalahannya. Apa Kyungsoo terlalu berharap?
TES
Kyungsoo menghapus cepat air matanya. "Ani, gwaenchanha," ucap Kyungsoo tercekat.
Kai mendongakkan kepalanya karena merasa aneh dengan suara Kyungsoo. "Hei, kau menangis?"
"A..ani hiks," air matanya seakan memberitahu akan kebohongannya. Ia sudah tidak sanggup lagi menahan kekecewaan terlalu lama. Kyungsoo menunduk dan berusaha meredam isakannya.
"Kyung, uljima. Mianhae hmm?" Kai dibuat bingung karena isakan Kyungsoo terus terdengar.
"Aku.. hiks.. aku tidak.. hiks.. menangis!" kesal Kyungsoo, dirinya sangat membenci jika harus menangis di depan Kai seperti ini. Tapi hatinya sudah terlalu lelah, jadi ia tak peduli lagi jika ia harus menangis. Ia merosot dan berjongkok memeluk lututnya. Jarum infusnya yang terlepas akibat tarikan tangannya ia biarkan begitu saja.
Hal itu membuat Kai terkejut, sebenarnya apa yang mengusik Kyungsoo hingga hatinya juga ikut terusik? "Kyungsoo-ya"
"Kau jahat Kai! Kau jahat!" rancau Kyungsoo masih menyembunyikan wajahnya.
Kai berusaha turun dari ranjangnya, ia menapakkan kakinya ke lantai. Dinginnya lantai langsung merasuk ke kulit kakinya, ia berusaha menopang tubuhnya, tetapi kakinya sedikit lemas membuatnya sedikit terhuyung. Jika tidak berpegangan pada pinggiran ranjang, mungkin ia akan menimpa Kyungsoo.
Dengan perlahan ia merendahkan tubuhnya dan merengkuh Kyungsoo dalam sekali tarikan.
"Mianhae Kyung.."
"Kau jahat! Mengapa kau melakukan itu padaku?!"
Kai terdiam, inikah yang membuat hubungan mereka berakhir? Apa yang tidak diketahuinya? Apa Kai telah melakukan kesalahan yang sangat fatal? Mengapa ia sangat bodoh sekedar untuk mengetahui kesalahannya sendiri? Kyungsoo terlihat sangat terluka, ia merutuki dirinya sendiri.
"Kyungsoo-ya," Kai melepaskan pelukan mereka dan beralih memegang kedua pundak gadis di depannya. Ia memaksa Kyungsoo untuk melihat pada matanya, "Bisakah kau katakan, apa sebenarnya kesalahanku hingga aku menyesal telah membuatmu terluka?" mohon Kai dengan lirihnya.
Kyungsoo menatap mata Kai, ia berharap dapat membaca situasi apa sekarang ini. Mengapa Kai tidak juga mengetahui kesalahannya. Kyungsoo merasakan sesak di dadanya ketika menatap mata sedih Kai. Ia mencoba melepaskan kedua tangan Kai yang masih di pundaknya. Saat itu juga, ia berlari menjauhi Kai, ia ke luar ruangan.
Luhan yang ternyata baru saja kembali dari makan siangnya terkejut menemukan Kyungsoo tanpa selang infusnya berlari ke luar dari ruang Kai. "Kai-ya!" pekik Luhan berlari masuk karena takut terjadi sesuatu pada Kai. Tapi tidak, Luhan malah menemukan Kai hendak berlari mengejar Kyungsoo.
"Mau ke mana?" tanya Luhan menghalangi Kai.
"Kyungsoo, aku harus mengejar Kyungsoo!" teriak Kai.
"Kau apakan Kyungsoo hingga ia seperti itu!" teriak Luhan juga.
"Minggir!" Kai menyingkirkan Luhan dari hadapannya dengan sekali Tarik. Tapi Luhan berhasil menarik kerah baju Kai dari belakang.
"Kyungsoo akan makin menderita jika kau mengejarnya sekarang," Luhan memberitahu. Kai berbalik.
"Aku tahu apa masalah kalian, jadi biarkan aku yang menenangkan Kyungsoo," ucap Luhan tanpa menatap Kai.
"Ka..kau tahu?"
"Tentu saja bodoh! Kau itu memang laki-laki paling bodoh dan paling berengsek, kau tahu?!" Lyhan terbawa emosi. Kai hanya terdiam. Lalu Luhan keluar mengejar Kyungsoo yang entah ke mana.
Kai terduduk di lantai rumah sakit yang dingin, ia memegangi kepalanya dengan frustasi.
.
.
to be continued-
.
.
Annyeeoong ^^ maaf ya updatenya telat. Kaisoo sedang memanas nih hihi. Akhirnya ff ini bakalan berakhir juga huhu. Bakalan ya, bukan udah berakhir :p aku usahain besok update buat yang terakhir hehehe.
Aku juga masih ada hutang dengan pembaca Adventurous Dream kkkk udah berapa lama tuh gak diupdate hehe.
Makasi yang masih setia menunggu cerita ini. Jangan lupa ya reviewnya hehehe
Balasan review
Berhubung yang review cuman satu kkk jadi buat ohjasminxiaolu: sudah diupdate yuhuu hehe. Eh aku baru sadar kalo HUNHAN belum jadian di sini kkk, sabar yak hihi :) makasi reviewnya ^^
Gamsahamnida *loveforHUNHAN yeayy!
