Pair : Taekook, Minyoon, Namjin, etc

Main Cast : Kim Taehyung, Jeon Jungkook

Other Cast : Member BTS, Seventeen,GOT7,EXO dan Grup Idol lainnya

Rate : T – M

Genre : Romance, Friendship

Warning : Ingat ini hanya cerita fanfiction (bikinan Fans) jika ingin Judge pakai bahasa yang baik. DON'T LIKE DON'T READ. Typo berserakan. Bahasa berantakan. MPREG Guys !

Semua karakter hanya untuk mendukung cerita, jadi kalau ada yang ga enak dengan peran, INGAT ! Cuma peran eh ! di dunia nyata jangan benci mereka yaaa…

.


.

-In Tempore-

.

.

Happy Reading !

.

.


Chapter IX :Deep !

.

.

Taehyung merasa kebingungan karena tadi Bambam menyebutkan agar dia ke Mansion sesegera mungkin tanpa memberikan alasan yang jelas. Dengan menggunakan taksi Taehyung menuju ke kediaman keluarganya itu.

" Aku datang ! " teriak Taehyung sambil berjalan menuju ruangkeluarga rumah mewah itu. Taehyung dikejutkan dengan Jungkook yang tengah duduk manunduk dengan muka memerahnya. Di depan Jungkook ada ibu dan adiknya.

" Kau sudah datang,hyung ?" tanya Bambam. Bukannya menjawab pertanyaan Bambam, Taehyung malah menghampiri Jungkook.

" Kau kenapa, Bae ?" tanya Taehyung. Dia memeluk Jungkook tanpa malu.

" Aigoo ! dunia milik berdua. Tae, duduk di sebelah Jungkook " perintah Baekhyun. Taehyung mengambil tempat di samping Jungkook namun tangan mereka masih saling bertautan.

Sebentar mereka terdiam, Chanyeol ikut bergabung dengan mereka. Kepala keluarga di rumah itu baru selesai mandi dan duduk di sebelah nyonya rumah yang tengah mengintrogasi anak sulungnya dan calon menantunya.

" Ada apa, sayang ? hm ?" tanya Chanyeol yang tengah mengusakkan hidungnya di ceruk Baekhyun, membuat Baekhyun mengelinjang kegelian.

" Dad ! jangan bermesraan dulu, aku dan Mommy sedang mengintrogasi hyung dan Kookie " ucap Bambam kesal. Dia benar-benar harus menahan kesabaran karena disetiap kesempatan di Mansion ayahnya akan selalu menempeli ibunya.

" Kenapa dengan mereka ? punya masalah lagi ?" tanya Chanyeol penasaran.

" Mereka sudah bercinta Dad !" jawab Bambam. Taehyung dan Jungkook yang menjadi tersangka di tunding secara terang-terangkan benar-benar malu terbukti dengan wajah keduanya yang memerah.

" Benar Tae ? Wah.. kemajuannya cepat sekali " bangga Chanyeol.

" Hm, kalian benar-benar membuat kejutan untuk kami. Jadi kapan mau menikah? Harusnya secepat mungkin" tanya Baekhyun tidak sabar.

" Mom aku be—hm, itu—" Jungkook sangat gugup sehingga kalimat yang ingin dia sampaikan tersangkut di tenggorokan.

" Mommy, Jungkookie masih harus kuliah, aku tidak ingin membatasi ruang gerak Jungkook dengan pernikahan. Lagipula terlalu dini untuk memutuskan hal serius seperti itu " ucap Taehyung, dia tahu benar kalau tunangannya itu benar-benar belum siap dengan pernikahan.

" Benar begitu Jungkook ?" tanya Chanyeol. Jungkook mengangguk kaku. Takut dan gugup ia rasakan saat ini, di introgasi oleh orangtua Taehyung, apalagi setelah mereka bedua ketahuan habis bercinta.

" Pernikahan tidak akan menghambat kalian sayang, Jungkook bisa saja kuliah dengan status sebagai pasangan hidupmu. Memangnya kalian hidup hanya untuk bercinta? Just for sex?" tanya Baekhyun gamblang. Mereka berdua kompak menggeleng.

" Kalau begitu bagaimana kalau 3 bulan lagi kalian menikah ? nanti kami akan mengunjungi Sehun dan Luhan untuk membicarakannya. Hm, apa masih berlaku waktu 100 hari kalian ?" mendengar pertanyaan Baekhyun, Jungkook kembali menggeleng.

" Tidak Mom. Nyatanya tidak perlu waktu 100 hari " jawab Jungkook. Total sekali hari ini wajah mulusnya dibuat merona.

" Assaa! Kalau begitu aku bisa menikah cepat dengan Mark-gege" semangat Bambam, yang mendapat delikan dari Chanyeol dan Baekhyun.

" Wae? Aku salah ?" tanya Bambam kepada mereka.

" Tidak akan ada acara pernikahanmu sampai kau wisuda dan hyung dan noona-mu menikah, arra ?" peringat Chanyeol dengan suara beratnya. Bambam merengut.

" Mom—"

"—Jangan mengadu kepada Mommy, peraturannya sudah seperti itu. Mark pasti akan mengerti. Nah, ini kunci mobil dan ATM-mu Tae, kau sudah berhak mendapatkannya kembali " tukas Baekhyun, meletakkan 2 buah benda kepunyaan Taehyung di atas meja di depan mereka. Taehyung yang awalnya tidak menyangka langsung bergerak menuju Baekhyun dan langsung memeluk orang yang berstatus ibunya tersebut.

" Mom.. Gomawo.." bisiknya. Mereka yang ada disana hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Chanyeol cepat-cepat melepaskan Taehyung dari Baekhyun.

" Jangan lama-lama peluknya, property Daddy itu !" cetus Chanyeol. Tidak terima Taehyung larut dalam pelukan hangat istrinya.

" Tenang Dad ! aku juga sudah punya property sendiri" ucap Taehyung bangga, lagi-lagi membuat kedua pipi Jungkook memerah.

" Huh, aku jadi merindukan Mark-ku" gumam Bambam.

..

Selesai makan malam bersama keluarganya, Taehyung dan Jungkook berniat kembali menuju apartemen mereka. Tentu saja dengan kesayangan Taehyung yang sudah lama tidak dia naiki.

" Halo sayang ! huh.. aku rindu sekali " gemas Taehyung sambil memukul pelan kap mobilnya, Jungkook hanya menggeleng melihat mood Taehyung yang terus meningkat sejak kunci mobil dan ATM-nya di kembalikan oleh Baekhyun.

" Kau sangat mencintai mobilmu ini, eoh ?" sindir Jungkook karena Taehyung terus mengelus setir yang ada di depannya.

" Iya, salah satu yang sangat aku cintai selain dirimu " jawab Taehyung.

" Kau menyamakan aku dengan mobil ? dengan benda beroda empat ini ? Jinjja !" tanya Jungkook tidak percaya.

" Astaga sayang, tentu saja beda kelas. Kalau kau, aku sangat sangat sangat sangat –"

"-stop it Kim !"

" Aku belum selesai, aku sangat sangat mencintaimu. Kau tunanganku, arra ?" jelas Taehyung. Jungkook hanya mendengus geli.

" Hm, kau mau kemana setelah ini ? berbelanja ?" tawar Taehyung.

" Sialan, sombong sekali ! mentang-mentang akses sudah kembali " cibir Jungkook.

" Aku hanya memanfaatkan apa yang ada untuk membantu membahagiakanmu, Bae " tanggap Taehyung, menjalankan mobilnya keluar dari garasi Mansion.

" aku mau pulang saja " jawab Jungkook.

..

Tepat di basemen apartemen mereka, ketika Taehyung hendak turun dari mobil setelah memarkirkan mobil, Jungkook menghentikan Taehyung dengan menggenggam tangan pemuda tampan itu.

" Ada apa, eoh ?" tanya Taehyung. Jungkook hanya menatap Taehyung. Berusaha berpindah ke tempat Taehyung yang masih duduk di belakang setir kemudi. Untung saja mobil Taehyung itu tergolong jenis yang memiliki luas lebih sehingga Jungkook tidak terlalu sulit untuk menjalankan keinginannya. Kini Jungkook sudah berada di atas pangkuan Taehyung, sementara Taehyung hanya memperhatikan gerak gerik si manisnya. Jungkook melingkarkan kakinya di pinggang Taehyung, menyusul lengannya juga ikut ia kalungkan di leher Taehyung. Dan Taehyung secara spontan ikut memegang pinggang Jungkook yang ada di pangkuannya.

" Hm, bogoshipo" bisik Jungkook sebelum menyatukan bibir mereka berdua. Jungkook menghisap bibir bawah Taehyung, entahlah dia merasa bibir tebal itu menjadi candu yang tidak akan pernah bosan ia kecap. Setelah puas bermain dengan benda kenyal itu, Jungkook menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Taehyung. Menghembuskan nafasnya disana.

" B-bae.." lirih Taehyung. Jungkook tahu benar jika itu adalah salah satu titik kelemahan Taehyung.

" Hei, kau tidak berniat bercinta disini, kan ?" tanya Taehyung. Melonggarkan pelukan Jungkook dan mengangkat wajah kekasihnya itu.

" Kenapa? Tidak boleh ?" tanya Jungkook.

" Aku mau saja, hanya nanti aku tidak mau kau merasa sesak karena sempit" ucap Taehyung. Bukannya menjawab Jungkook kembali menyatukan belah bibir mereka. Kali ini Taehyung ikut bertindak. Melumat bibir Jungkook yang kemudian mengobrak-abrik yang ada di dalam mulut Jungkook dengan lidahnya. Taehyung adalah pencium yang sangat handal dan Jungkook memang mengakui keahlian dominan-nya itu. Ciuman Taehyung turun ke leher Jungkook sementara tangannya sudah menaikkan baju Jungkook, mengelus lembut dada menuju perut rata Jungkook, ciuman kembali ke bibir menggoda Jungkook. Jungkook yang merasa kegelian tidak sengaja menggigit bibir Taehyung.

" Agh.." rintih Taehyung. bibir bawah bagian kirinya berdarah, rasa karat bercampur dengan salivanya.

" Maaf, aku tidak sengaja. Maaf Tae" ucap Jungkook khawatir dan merasa bersalah dengan apa yang sudah ia lakukan. Taehyung hanya tersenyum dan kembali melanjutkan kegiatan mereka.

Taehyung kembali mencium Jungkook dengan panas, dan tangan Taehyung yang semula mengelus punggung Jungkook sudah turun ke bagian bawah, meremas pantat berisi Jungkook. Menyebabkan Jungkook meleguh di sela ciuman mereka. Jungkook juga merasakan kejantanan Taehyung sudah menegang di bawah sana, dan tangan Jungkook ikut turun, membalas dendam untuk meremas penis Taehyung yang sudah menegang.

" kau nakal, Bae !" seru Taehyung dengan suara beratnya. Jungkook hanya tersenyum dengan mata sayunya. Mereka sudah di rasuki nafsu mereka. Dan Taehyung menyuruh Jungkook untuk bangkit sedikit agar dapat membuka dan menurunkan celana mereka. Taehyung juga membalikkan tubuh Jungkook sehingga punggung Jungkook ada di depannya. Taehyung memang tidak membuka seluruh celana mereka, akan rumit jika mereka telanjang dan ketahuan nanti.

Taehyung mengecup ceruk Jungkook dari samping, menjamah tubuh si manis yang dapat ia jangkau. Tangan Taehyung memanjakan penis Jungkook yang ada di depannya dengan cara mengocok pelan kejantanan itu. Jungkook mendesah, kepalanya sudah mengadah ke atas menikmati sentuhan Taehyung, dia berkeringat entah karena berada di lingkup sempit atau memang karena gairahnya sedang memuncak. Celana Taehyung yang sudah juga terbuka membuat kejantannya terjepit antara pipi bokong Jungkook. Sedikit menggoda hole yang minta segera dimasuki. Taehyung mengangkat sedikit tubuh Jungkook, merasa Taehyung akan memasuki dirinya, Jungkook juga membantu dengan mengangkat agak tinggi agar Taehyung dapat memposisikan kejantanannya tepat di depan hole-nya.

" Ahhhhnnn.. ahhh.. Taehh… " desah Jungkook kala kejantanan itu total terbenam juga di iringi geraman nikmat sang dominan. Merasa Jungkook sudah siap dengan sedikit menggerakkan pinggulnya, Taehyung membantu dengan manaik-turunkan tubuh Jungkook yang ada di pangkuannya. Andai saja ada orang yang ingin memarkirkan atau mengambil mobil dari basemen itu maka mereka akan melihat fenomena mobil bergoyang.

" Aaahhh… thereee…"

" fasterhhh Taeehh.. ahhhhh… kimh…" Taehyung semakin tergoda dengan desahan merdu Jungkook yang terus menari di atas tubuhnya. Terus menggenjot dengan kecepatan yang lebih kencang, tangan dan bibirnya juga terus mengeksplor tubuh sempurna yang sedang ia nikmati, bagi Taehyung Jungkook adalah satu-satunya orang yang akan terus bercinta dengannya, tidak ada siapapun selain pemuda kelinci berparas manis yang ia cintai.

" Taee.. come.. aku sampaaaiii… aaahhhnn… " Jungkook melepaskan hasratnya ketika tangan Taehyung masih mengocok kejantanannya. Dan Jungkook mendapatkan orgasme pertamanya pada kegiatan mereka kali ini. Taehyung kembali melanjutkan kegiatannya, sampai ia juga menjemput kenikmatan yang sangat menyenangkan itu.

" Kookiee.. aku juga inginh sampaiiihh.." Taehyung baru saja ingin mengangkat tubuh Jungkook agar ia dapat mengeluarkan cairannya diluar hole Jungkook. Sedikit terkejut dengan apa yang di lakukan Jungkook karena ia menahan Taehyung agar kejantanannya tetap berada di dalam hole yang terus menjepitnya.

" Tidak apa Tae, keluarkan saja.. hah.. hah.." ujar Jungkook sambil menetralkan nafasnya. Jungkook benar-benar tidak mempermasalahkan jika sperma Taehyung di semburkan dalam tubuhnya. Dia tidak keberatan. Mendengar apa yang di katakan Jungkook, Taehyung melepaskan orgasmenya di dalam tubuh Jungkook. Ia memeluk Jungkook dari belakang, erat sekali.

" Mianhae, Kookie-ya" bisik Taehyung. Jungkook mengindahkan perkataan Taehyung, dia memasang kembali celananya, sebelum membalikkan badan dan kembali melingkarkan kakinya di pinggang Taehyung lagi.

" kenapa minta maaf ?" tanya Jungkook penasaran. Tangannya memainkan kerah baju Taehyung, sesekali tangannya mengusap dagu tajam Taehyung. Taehyung ikut melingkarkan tangannya di pinggang Jungkook, mengamati apa yang di lakukan si manis.

" Karena menyemburkan spermaku di dalam tubuhmu, sayang. Aku tidak masalah jika kau hamil, tentu saja aku sangat senang. Tapi aku takut kau belum siap " jawab Taehyung. Jungkook tersenyum sebelum mengecup pelan bibir Taehyung.

" Aku juga tidak masalah jika itu anakmu. Hm, pasti menyenangkan jika disini nanti ada adik bayi " ucap Jungkook yang kemudian mengelus perut ratanya. Membuat Taehyung spontan mencubit pipi menggemaskan Jungkook yang polos.

" Ugh, sakit Tae.." keluh Jungkook kesal. Taehyung melepaskan cubitannya dan kemudian memeluk Jungkook, sedikit erat.

" Terimakasih karena sudah menerimaku, Jungkook " ucap Taehyung.

" Hm, iya Taehyungie " jawab Jungkook dengan anggukannya.

" Kookie ?" panggil Taehyung. Jungkook hanya bergumam sebagai jawaban.

" Mau melanjutkan ronde kedua ? Jujur saja aku tidak kuat jika kita terlalu lama seperti ini. Celanaku belum naik sayang, dan sebentar lagi yang dibawah akan kembali bangun kalau kau tetap duduk di atasku " jelas Taehyung. ucapan vulgar Taehyung membuat Jungkook merona hebat. Jungkook langsung melepaskan pelukannya dan mendelik ke arah Taehyung.

"Bajingan Pervert!" umpat Jungkook yang justru membuat Taehyung terkekeh karena si manis mampu mengeluarkan kata-kata kotor dari bibir polosnya.

..

Mereka menaiki lift dengan Jungkook yang berdiri di samping Taehyung, tangan keduanya bergenggaman erat. Taehyung sudah menawarkan punggungnya untuk Jungkook namun si manis menolaknya dengan dalih rasa malu. Taehyung tahu Jungkook saat ini sangat tidak nyaman. Selain bokongnya sakit, Jungkook pasti resah karena mereka langsung berpakaian setelah bercinta kilat tadi. Lift terbuka di lantai tiga, seorang wanita tua dan cucunya masuk. Menatap Taehyung dan Jungkook yang sedikit berantakan.

" Hi adik kecil !" sapa Jungkook kepada bocak perempuan yang menatapnya. Si nenek juga menatap Jungkook yang di balas bungkukan sopan dari Jungkook, sementara Taehyung hanya diam memandangi mereka.

" Eonnie, yeppeuda !" seru gadis kecil itu. Membuat Jungkook merona.

" Aku namja adik kecil. Bukan yeoja " ucap Jungkook.

" Tetap saja cantik " balas gadis kecil itu tanpa mau kalah.

" Oppa juga tampan, cocok dengan eonnie, iya kan Halmonie ?" tanya si gadis meminta persetujuan neneknya.

" Iya, mereka cocok " si nenek tersenyum kepada Jungkook. Mengamit tangan Jungkook yang kosong. Si nenek mengelus tangan kepunyaan Taehyung tersebut.

" Kalian sangat serasi. Aura kalian sangat bagus dan saling melengkapi, warna yang sangat indah. Apapun yang terjadi tetap percaya kepada pasangan kalian masing-masing, seberat apapun masalah yang menimpa kalian. Kalian akan bersatu mesti banyak yang ingin memisah kalian, cinta akan membuat kalian kembali bersama. Ayo Nara-ya " setelah berkata seperti itu, si nenek mengajak cucunya keluar dari lift karena tujuan mereka sudah sampai. Mereka keluar di lantai 6.

" Bye, Eonnie ! Oppa !" teriak si kecil sebelum pintu lift tertutup.

Jungkook dan Taehyung hanya berpandangan tidak mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh nenek tadi. Apa itu sebuah pesan ? nasehat ? atau apa ?

..

Saat ini mereka berada di kamar mereka. Taehyung sudah mandi dan berganti dengan pakaian santai. Sementara Jungkook masih berada di kamar mandi untuk membersihkan diri. Mereka berniat untuk tidur setelah ini. Meskipun belum larut, mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua di atas kasur.

Taehyung mendengar bel berbunyi,dan ia segera membukakan pintu untuk tamunya. Dia melihat Daniel dan Seongwoo yang tengah tergesa.

" Ada apa ?" tanya Taehyung penasaran.

" Jimin, Jimin sakit " ucap Seongwoo.

" Terus kenapa kalau Jimin sakit? Bukankah ada Yoongi-hyung yang mengurusnya ?" ucap Taehyung balik bertanya.

" Bukan itu hyung, tadi Jihoon menangis menelpon Jinyoung, dia mengatakan kalau Jimin-hyung lagi sakit karena tiga hari tidak berhenti menangis, tidak makan dan mengurung dirinya dalam kamar. Dan kau tahu ? Jimin-hyung hamil !" gusar Daniel. Taehyung terkejut mendengar fakta itu.

" Astaga, Jimin !" gumam Taehyung. Taehyung memang tidak mengetahui jika Jimin hamil. Dan tidak menaruh curiga sedikit pun tentang Jimin yang tidak masuk kerja jumat kemarin.

" Kalian mau kesana ?" tanya Taehyung. mereka serempak mengangguk.

" Makanya kami kemari, kalau kau mau ikut kita pergi bersama saja. Jinyoung sudah menunggu di mobil" jawab Seongwoo.

" Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mengambil ponsel dan dompet dulu " ucap Taehyung. meninggalkan pasangan itu di depan pintu dan berlalu ke kamarnya.

Di dalam kamar, Jungkook yang tengah mengeringkan rambutnya heran melihat Taehyung yang tengah terburu-buru.

" Sayang, aku pergi melihat Jimin sebentar" ucap Taehyung. dia mendekat ke arah Jungkook yang berada di depan cermin itu. Taehyung mencium bibir Jungkook, meminta izin kepada kekasihnya. Ketika Taehyung hendak berbalik namun sedikit terhalang karena Jungkook menarik ujung baju Taehyung. membuat Taehyung menatap Jungkook yang juga sedang menatapnya.

" Ada apa, hm ?" tanya Taehyung lembut. Menggenggap tangan Jungkook yang masih dingin karena baru selesai mandi.

" Aku ikut, boleh ?" tanya Jungkook. Wajahnya benar-benar polos di tambah tatapan lembut dari mata bulatnya. Taehyung terkekeh melihat tingkah Jungkook, dan dia mencubit pipi menggemaskan itu.

" Astaga ! kenapa kekasihku ini sangat menggemaskan, eoh ? " ucap Taehyung, mengecup kembali bibir indah Jungkook. Taehyung mengambil jaketnya yang tergeletak di atas sofa, jaga-jaga untuk Jungkook yang nanti akan kedinginan.

..

Di dalam mobil mewah Daniel, Taehyung duduk bertiga dengan formasi Jinyoung, Taehyung dan Jungkook. Sementara di depan ada pasangan Ongniel. Mereka melesat ke apartemen Jimin.

" Kenapa bisa Jimin-hyung sakit, Tae ?" tanya Jungkook. Dia sudah memakai Jaket Taehyung yang besar, menyebabkan tubuhnya tenggelam dalam pakaian hangat itu. Taehyung hanya mengidikkan bahu, tak tahu. dia hanya mengelus surai Jungkook yang membuat pemuda manis itu mengantuk.

" Tidurlah, kau pasti kelelahan" ucap Taehyung. Jungkook menggeleng. Dia tidak mau tidur.

" Hyung, bisakah kita membeli makanan untuk Jimin-hyung ? Jihoonie bilang kalau Jimin-hyung tidak mau makan selama tiga hari ini, dan enggan keluar dari kamarnya. Jihoon sepertinya sangat khawatir hyung " ucap Jinyoung kepada kakak sepupunya tersebut.

" Selain makanan, bisakah mampir sebentar ke apotik hyung ?" lanjut Jungkook. Membuat semua orang yang ada disana mengernyit tidak mengerti apa tujuan dari pertanyaan si cantik ini.

" Kenapa kita ke apotik Kookie ?" tanya Seongwoo.

" Hanya membeli beberapa obat untuk Jimin-hyung, Ongie-hyung " jawab Jungkook seadanya. Taehyung hanya tersenyum tipis melihat kepedulian kekasihnya itu. dia mengecup pelipis Jungkook yang dapat dia jangkau.

" Tae-hyung berhentilah bermesraan, kau membuatku benar-benar tidak memiliki pasangan disini " tekan Jinyoung.

" Kau kan memang tidak punya pasangan , memangnya kau punya ? Siapa ? Jihoon ?" tanya Daniel menahan tawa, menggoda adik sepupunya itu menyenangkan.

" Bukanlah! Jihoon hanya sahabatku, bahkan si pendek itu sudah berpacaran dengan Guanlin adik kelas di sekolah, benar-benar bergerak cepat si tiang listrik itu untuk mendapatkan Jihoon " jelas Jinyoung.

" Terus kau ada yang kau inginkan menjadi kekasihmu ?" tanya Jungkook, sedikit penasaran.

" Ti—"

" Ada ! aku tahu jika Jinyoung diam-diam sering memandangi anak pemilik apartemen paling ujung. Daehwi ? Hm iya namanya Daehwi, satu sekolah dengan Jinyoung" ucap Seongwoo antusias, membuat rona merah di pipi Jinyoung.

"h-hyung.. aku tidak menyukainya " ucap Jinyoung malu-malu.

" Aku tidak masalah kau berpacaran dengan siapapun, asal jangan membobolnya " tukas Daniel mengingatkan.

" Kau juga sudah membobol Seongwoo hyung, kenapa aku tidak boleh membobol anak orang ?" tanya Jinyoung. Sedikit kesal karena dilarang.

" Aku sudah bekerja, aku sudah bisa bertanggung jawab jika sewaktu-waktu kekasihku hamil, kalau kau ? dengan apa kau akan mempertanggung jawabkan jika Daehwi itu ha—ya ya sayang sakit !" teriak Daniel karena rambutnya di tarik oleh Seongwoo.

" Jadi kau hanya ingin bertanggung jawab jika aku hamil, hah ? jadi kau tidak benar-benar ingin menikahiku ?" teriak Seongwoo yang membuat penumpang kursi belakang serempak menutup kuping mereka.

" Astaga, tentu saja tidak ! aku benar-benar akan menikahimu, hamil atau tidak hamil. Anggap saja itu perumpamaan agar Jinyoung tidak sembarangan memasukkan penisnya ke ho—Astaga sayang, sakit !" jambakan itu kembali mendarat di surai Daniel karena omongan vulgarnya.

..

Jungkook turun dari mobil mewah itu setelah Daniel tepat parkir di depan sebuah apotik besar.

" Perlu ditemani ?" tanya Taehyung, Jungkook mengangguk semangat sekali, membuat orang-orang yang ada di dalam mobil itu menahan gemas ingin mencubit kekasih Taehyung tersebut.

" Wah, kenapa jadi mirip kelinci begitu Kookie-hyung, dia sama saja dengan Jihoon, makhluk-makhluk menggemaskan " tukas Jinyoung yang melihat kejadian itu.

" Memangnya Daehwi tidak termasuk ?" tanya Seongwoo.

" Iy- eh Hyung !" teriak Jinyoung, baru sadar kalau dia di goda kembali.

Sementara itu Jungkook dan Taehyung sudah berada di depan counter obat-obatan. Taehyung sedikit menganga melihat kekasihnya banyak hafal tentang obat-obat untuk demam.

" Untuk apa infus sayang ?" tanya Taehyung, tidak mengerti kenapa Jungkook membeli infus, cairan, jarum suntik dan sebagainya. Jungkook tidak mengindahkan pertanyaan Taehyung dan sibuk berbicara dengan penjaga apotik dan mengingat apa saja yang akan dia beli. Taehyung hanya sibuk mengelus tangan Jungkook yang ada digenggamannya, tangan mereka terus terkait satu sama lain tanpa terlepas, membuat beberapa orang yang ada di sekitar apotik sangat tertarik melihat kemesraan sederhana tersebut.

" –baiklah terimakasih, ayo Tae !" ajak Jungkook, urusannya telah selesai. Taehyung yang masih dengan dunianya sendiri sama sekali tidak terusik sampai tangan kanan Jungkook mengelus pipinya.

" Eoh ?" sadar Taehyung. matanya menatap Jungkook yang tengah tersenyum kepadanya.

" Sudah selesai, ayo !" ucap Jungkook lembut. Mereka langsung melesat ke apartemen Jimin setelah membeli makanan untuk Jihoon dan teman-teman Jinyoung yang ada disana, sementara untuk Jimin, Taehyung yang akan memasakkan makanan untuk sahabatnya itu nanti.

..

Pintu apartemen mewah itu terbuka setelah Daniel memencet bel beberapa kali. Jihoon dengan mata sembabnya membuka pintu tersebut. Dia langsung menghambur ke dalam pelukan Jinyoung, sahabatnya.

" Hei, sudah jangan menangis. Tidak mau kalau jelek, nanti Guanlin tidak mau lagi denganmu " ucap Jinyoung. Mereka memang melihat sosok pemuda yang kadar swag-nya hampir sama dengan Yoongi. Pacar Jihoon, si pemuda jangkung adik kelas Jihoon dan Jinyoung. Dan ada tiga orang lagi yang duduk di sofa ruang tamu apartemen itu. Woojin, Hyungseob dan Daehwi.

" Hiks, hiks.. tapi Jiminie-hyung masih belum mau makan. Nanti keponakanku juga ikut sakit bagaimana, Youngie? Hiks hiks" isak Jihoon. Guanlin menghampiri Jihoon. Mengambil Jihoon dari pelukan Jinyoung dan mengusap pelan punggung Jihoon yang sudah berada di dalam kedapannya.

" All is well honey ! hyung, kau bawa makanan untuk Jihoon ?" tanya Guanlin. Jinyoung mengangguk dan mereka semua masuk ke dalam.

" Daniel, itu yang namanya Daehwi" Seongwoo berbisik kepada Daniel tapi Jinyoung masih mendengarnya. Dan Jinyoung memberi tatapan kesal kepada kakak-kakaknya itu.

" Hm, itu ya sayang. Semoga pendekatanmu lancar brother !" bisik Daniel kepada Jinyoung sambil menepuk pelan bahu Jinyoung sementara Taehyung dan Jungkook sudah berjalan ke arah ruang tengah..

" sudah sana lihat Jimin-hyung. aku akan menemani Jihoon disini dulu" ucap Jinyoung. Sepasang kekasih tersebut meninggalkan segerombolan anak muda itu di ruang tamu menyusul pasangan yang sudah dulu ke ruang tengah.

Yoongi sedang membenamkan kepalanya di lipatan tangannya di atas meja. Mengangkat kepala dengan lesu ketika menyadari kantung yang di letakkan di atas meja dan menyentuh tangannya.

" Hyung, kenapa bisa seperti ini, Jimin dimana ?" tanya Taehyung. dia duduk di kursi di hadapan Yoongi, memang pasangan mini itu meletakkan meja makan mereka di ruangan ini. Dekat dengan ruang santai menonton televisi.

" Aku tidak tahu Tae. Tiba-tiba saja Jimin mengamuk ketika aku tidak bisa pulang hari Jum'at lalu. Aku langsung pulang kemarin karena Jihoon mengabari kalau Jimin demam dan tidak mau makan. Aku tidak tahu jika akan seperti ini jadinya. Aku hanya menghadiri acara penghargaan karena lagu yang aku produseri untuk Suran dan tiba-tiba saja Jimin mengamuk" jelas Yoongi.

" Tentang Jimin-hyung hamil, bagaimana bisa hyung? kata Jinyoung, Jimin-hyung hamil sudah tiga bulan, bukankah kau disini belum genap tiga bulan " tanya Daniel penasaran.

" Waktu itu aku menyusul Jimin liburan ke rumah orangtuanya, ke Kanada. Dan aku waktu itu bercinta tidak memakai pengaman, dan Jimin hamil sekarang " jawab si pemilik Gummy-smile itu.

" Terus dimana Jiminie sekarang, hyung ?" tanya Seongwoo. Yoongi hanya menunjuk pintu berwarna hitam di sebelah kanan mereka. Pintu itu tertutup.

" Kau tidak berusaha membujuk Jimin,hyung?" tanya Taehyung.

" Astaga Tae, sudah mau mati rasanya aku membujuk Jimin setidaknya untuk makan. Tapi dia mengancam akan bunuh diri jika aku mendekat. Dan setiap kali aku ingin membuka pintu dia akan melempari barang-barang. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya dan bayiku " jelas Yoongi frustasi. Jelas sekali Yoongi berbicara dengan matanya yang berlinang. Air matanya mengalir begitu saja. Bukan Jimin saja yang sakit tapi dia juga.

" Jiminie-hyung ! hyung.. ini aku Jungkook. Hyung ! kau mendengarku ?" ucap Jungkook di depan pintu kamar Jimin. Jelas sekali dari arah dalam jika Jimin saat ini sedang terisak. Jimin sedang menangis pilu.

" Chim.. kau baik-baik saja ? aku akan membalas semua orang-orang yang menyakitimu. Chim, apa kami boleh masuk ?" kini Seongwoo juga menyusul Jungkook untuk membujuk Jimin. Setidaknya mereka berdua dapat masuk dan melihat keadaan sahabat mereka itu.

" Hyung.. apa boleh kami masuk ? hyung jangan menyiksa diri. Apa kau mau menyakiti bayimu ? bayi yang tidak berdosa yang ada di perutmu ? kau boleh membenci Yoongi-hyung atau siapapun yang menyakitimu, kami selalu disampingmu, mendengarkan ceritamu hyung. kau tidak tahu jika Jihoon juga sedang menangis dan belum makan dari kemaren karena memikirkanmu dan bayimu ?" bujuk Jungkook.

Sementara Jimin yang sedang meringkuk di sudut ruangan di kamar itu masih terisak dan mengelus bayinya. Betapa bodohnya dia menelantarkan bayinya. Dia memang marah kepada Yoongi tapi tidak kepada janin yang ada di dalam perutnya.

" Jimin, kami masuk !" ucap Seongwoo. Kekasih Daniel itu membuka pintu perlahan. Jimin memang tidak menolak dan mengusir mereka. Para seme di sana cukup takjub kepada calon Psikolog tersebut.

Jungkook dan Seongwoo masuk ke dalam kamar utama di apartemen itu. Berantakan. Itulah keadaan yang mereka dapat sekarang. Mereka langsung menghampiri Jimin yang sedang meringkuk terisak di sudut ruangan. Taehyung dan Daniel menyusul mereka.

Taehyung langsung menggendong Jimin dan meletakkan di ranjang yang tengah di bersihkan oleh Jungkook dan Seongwoo.

" Kenapa kau bisa selemah ini, hm ? kenapa tidak menghubungiku ataupun Seongwoo kalau kau memiliki masalah Chim?" Jimin yang masih terisak, jari-jari lemahnya masih meremas baju Taehyung. Tangan Jimin Taehyung genggam dengan lembut, serta mengelus rambut Jimin dengan sayang. Betapa Taehyung sangat menyayangi sahabat kecilnya ini.

" Badannya panas sekali " ucap Taehyung. Yoongi yang melihat Jimin dari pintu hanya mampu menatap sedih kekasihnya itu, merasa sangat tidak berguna sekali dirinya.

Seongwoo berlalu ke dapur dan menyiapkan kompres untuk Jimin. Daniel duduk di seberang Taehyung dan mengusap peluh Jimin. Jungkook dengan sigap mengeluarkan peralatan infus yang dia beli tadi.

" Kau bisa melakukannya, Kookie ?" tanya Daniel sedikit tidak percaya. Jungkook segera menyiapkan semua apa yang di perlukan untuk membuat tenaga Jimin sedikit membaik. Dia juga meminta Taehyung untuk melepaskan genggaman tangannya dari Jimin. Alhasil sekarang Jimin berada di pelukan Taehyung.

" Tae.. aku lelah " bisik Jimin. Airmatanya juga dari tadi tidak berhenti mengalir.

" Hyung bertahanlah demi bayimu. Kami disini " Ucap Daniel. Dia tak kuasa melihat semua ini, hyung yang dia sayang sedang terbaring lemah.

" Sayang, hati-hati !" ucap Taehyung ketika melihat Jungkook sedang memasukkan jarum infus ke pembuluh Jimin.

" Hyung, sedikit banyaknya aku sudah belajar di rumah sakit saat aku hidup disana. Yap selesai !" ucap Jungkook.

" Jiminie-hyung. jangan menyiksa diri lagi. Keponakanku harus baik-baik saja " ucap Jungkook dengan tenang.

Seongwoo masuk ke dalam ruangan itu dan membantu mengompres Jimin. Mengetahui Jimin sudah tertidur, Taehyung keluar dari ruangan itu dan memasakkan makanan untuk Jimin.

Rombongan Jihoon masuk dan membantu membereskan kamar yang berantakan itu.

" Jungkook-hyung, Seongwoo-hyung, Gomawo sudah membantu membujuk Jiminie-hyung" ucap Jihoon. Jungkook langsung berdiri dan memeluk bocah bongsor itu.

" Sama-sama Jihoonie. Jangan menangis lagi, arra? Mari berdoa agar Jiminie-hyung dan keponakan kita baik-baik saja " ucap Jungkook. Jungkook itu adalah penenang di saat orang-orang merasa khawatir.

"Hyung..hiks.. kau baik sekali hiks " isak Jihoon.

" Hei, kau tidak kasihan dengan kekasihmu, dia khawatir karena kau menangis terus " ucap Jungkook. Memang benar kekasih Jihoon itu dari tadi sangat gusar karena tidak bisa menenangkan Jihoon yang terus menangis.

..

Makanan Jimin sudah siap, tinggal menunggu Jimin bangun dan menyuruhnya untuk mengisi perut yang entah kapan terakhir kali dia isi.

Sekarang Daniel, Taehyung dan Yoongi sedang duduk di ruang tamu untuk berbicara.

" Jadi tidak ada sesuatu yang membuat Jimin sebegitu marah dan demam seperti ini, hyung ?" tanya Taehyung. sebut saja Taehyung adalah orang yang sangat protektif kepada orang-orang yang sangat dia sayang.

" Aku tidak tahu apa yang terjadi Tae " jawab Yoongi seadanya.

" Hyung. Jiminie-hyung seperti itu karena menonton salah satu acara yang menayangkan gossip tentang hubungan Yoongi-hyung dengan artis pendatang baru itu. Ditambah Yoongi-hyung yang pulang telat membuat Jimin-hyung semakin berasumsi jika Yoongi-hyung memang memiliki hubungan khusus dengannya. Dia langsung saja pergi ke kamar setelah itu, mengabaikan aku yang memanggilnya " ucap Jihoon yang datang kepada mereka. Disebelahnya ada Guanlin yang menemani.

" Astaga ! Jiminie benar-benar salah paham " gusar Yoongi.

" Aku terlambat pulang karena ikut mengantarkan Namjoon untuk operasi. Kalau tidak percaya tanya saja dengan Jin-hyung dan Jennie" ucapnya lagi. Mereka yang ada disana tahu jika Namjoon sedang menjalani operasi kecil untuk mengatasi Deviasi septum-nya, dan itu sebabnya mereka tidak ada disana.

" Ya Tuhan.. mengapa menjadi rumit begini" ucap Yoongi frustasi sambil mengacak rambutnya.

..

" Tae ! Jimin bangun !" teriak Seongwoo, membuat suasana kaku itu mencair. Mereka segera mengarah ke kamar itu, Taehyung juga sempat mengambil makanan yang dia masak dan membawanya untuk Jimin.

"Aku tidak mau dia ada disini " ucap Jimin. Dia memalingkan wajahnya agar tidak menatap Yoongi. Sementara Jungkook yang duduk di dekatnya menghela nafas sejenak.

" Jadi sekarang hyung mau apa ?" tanya Jungkook langsung.

" Aku ingin putus darinya " ucap Jimin tegas.

" Ya ! Jimin !" teriak Yoongi kalang kabut. Baru saja dia ingin berbicara lagi tapi Jungkook mengisyaratkan dengan tangannya agar Yoongi tetap tenang.

" Hyung, lihat aku !" ucap Jungkook.

" Kau yakin benar-benar ingin mengakhiri hubungan kalian seperti ini ? Aku tidak berhak ikut campur dengan masalah kalian. Tapi tolong pikirkan semuanya dengan kepala dingin, aku tidak ingin keputusan kalian membuat kalian saling menyesal. Mau mendengarkan alasan Yoongi-hyung ? agar kau juga merasa tenang jika nanti kau memutuskan untuk berpisah dengannya. Mau ?" tanya Jungkook lembut. Percayalah saat ini Taehyung semakin jatuh cinta kepada manusia imut tersebut. Jimin mengangguk lemah.

" Kami tinggalkan kalian berdua. Yoongi-hyung tolong suapi Jiminie-hyung. jika ada apa-apa kami berada diluar " ucap Jungkook. Tersenyum kepada Jimin agar kekuatannya sedikit bertambah.

..

Taehyung-Jungkook dan Daniel-Seongwoo sedang duduk di sofa ruang tamu. Sementara Jihoon dan teman-temannya duduk di ruang santai. Bahkan Jungkook sudah menyuruh mereka untuk tidur karena besok akan sekolah dan mereka bersikeras untuk menunggu Jimin. Menunggu permasalahan selesai terlepas dari keputusan pasangan yang sedang berunding di dalam kamar itu.

" Aku tidak menyangka jika hubungan bisa serumit ini " ucap Daniel. Pemuda tampan itu sedang tidur dipaha Seongwoo. Sementara di seberangnya ada Jungkook yang berada di dalam pelukan Taehyung.

" Namanya hubungan Niel-ie. Tidak semuanya berjalan sesuai dengan keinginan kita " ucap Seongwoo sambil mengelus surai Daniel.

" Mengantuk, sayang ?" tanya Taehyung kepada Jungkook. Jungkook mengangguk, memang hari ini sangat melelahkan baginya. Satu hari yang benar-benar di luar ekspektasinya.

" Kookie-ku sangat keren hari ini. Membuatku semakin jatuh cinta " ucap Taehyung. Mengecup pelipis Jungkook dengan sayang.

" Ongi-ku juga keren hyung. Calon Psikolog idaman !" ucap Daniel dengan senyuman yang menampilkan barisan giginya. Sontak pujian dari para dominan itu membuat Jungkook dan Seongwoo merona.

Hanya saja mereka tidak tahu jika setelah ini badai akan menghampiri hubungan kedua pasangan itu dengan berbagai masalah. Pasangan Taehyung Jungkook dan Daniel Seongwoo.

.

.

.

To Be Continued.

.


.

Maafkan diriku yang sering terlambat update. Tugas menumpuk

Doakan supaya cepat selesai. Maaf belum bisa balas review.

Terimakasih sudah menyediakan waktu untuk membaca cerita mereka.

.

.

Aku menyayangi kalian.