Disclaimer: Kayaknya bukan punya saia deh One Piece itu. Tapi mungkin suatu saat Odachi pasti mewariskannya pada saia… huahahaha… *dilempar celana boxer dari jemurannya Sanji*

Summary: Chapter TEN: AYO KITA MAEN KETUK LIMAAAAA! Permainan macam apa tuh? gak rame deh kayak nya...

A/N: Berikut ini cuman sekedar chapter koneksi menuju cerita selanjutnya yang agak mencapai klimaks dari line story (gile, klimaks storynya aja di chap 12, gimana selesai ceritanya...?). Jadi, chapter ke sepuluh dan ke sebelas nanti isinya curhatan en ambisi masing-masing mugiwara. Don't worry, virus kocak gak kan pernah bisa sembuh dari fic ini.

ENJOY.


Chapter TEN

Mugiwara Didn't Know The Truth

[Previous Chapter's Flashback]

Kohza menegepalkan kedua tangannya dengan erat, dan tiba-tiba saja loncat dari vespa dan berlari memasuki Lobby, meninggalkan Luffy yang kakinya tertindas vespa. "BRENGSEK LO KOHZA!" umpat Luffy seiring ia memajukan bokongnya dari bangku bonceng menuju bangku depan, dan membawa vespanya mepet di balik tembok besar pembatas milik hotel tersebut. Ia terpaksa melakukan itu karena bulu kuduknya mulai merinding dipelototin abang satpam yang jaga di pos hotel itu.

Ia mendesah, tak lama, hapenya berdering. Dengan sigap, ia mengambil hapenya itu dari kantong celana SMA-nya. Ia mati rasa memandang nama yang terpampang di layar hapenya.

"Hancock?"

"Halo…?" sahut Luffy pada hape itu dengan suara gemetar. Tak lama terdengar suara ribut dan bising dari seberang. Juga beberapa suara teriakan wanita dan suara desahan laki-laki. Luffy sejenak memelototi hapenya, kemudian menempelkannya lagi pada telinganya.

"Ha… Hancock…? Halo Hancock?" panik Luffy.

Meski dipanggil berkali-kali, Luffy tetap tak mendengar jawaban apapun dari seberang. Tak ada suara sedikit pun, kecuali desah nafas seseorang. Luffy berpikir bahwa seseorang di seberang sana sedang mendengarkan suaranya. Ia pun akhirnya turut terdiam, mencoba mendengarkan juga suara seberang.

Dengan telaten ia dengarkan. Ia pun menutup matanya agar lebih berkonsentrasi mendengarkan suara seberang telepon itu.

Drap… Drap… Drap…

Ada suara orang berlari.

"UWWWOOO~!"

Suara orang berteriak…

Drap… Drap… Drap…

Drap… Drap… Drap…

Suara orang berlari pun semakin banyak sekarang. Eng? Kok rasanya suaranya makin mendekat?

"HUUUUWWWOOOOO~! CIAAAAATTTT!" tereak Kohza ala mantri sepatu tiba-tiba. Dengan tampang dungu dan 'maksa', Ia melompati tembok pagar tepat di atas Luffy.

"LUFFY! KEMON NGACIRRR!" tereak Kohza setelah mendarat dengan tidak suksesnya di atas jok vespa. Luffy papat makin menjadi karena ternyata banyak orang berjas item, pake kacamata item plus kulit item mengejar Kohza en teriak-teriak ke arah Kohza seolah Kohza merupakan lakon maling celana dalam. Kohza pun segera tancap gas vespa en kabur.

[flashback end]


"Gile si Kohza senpai itu! Larinya kayak kebo!" komen Luffy lebay setelah selesai menceritakan dengan baik dan tidak benar.

"Trus lo berdua kabur gitu aja?" tanya Shanks menilik. Luffy mengangguk.

"Pantesan lo dateng kesini kayak abis dikejar-kejar penagih utang!" komen Franky bejad.

"Gue malah mikir lo tadi dikejar karena maling ayam tetangga, fy!" komen Ussop monyongin bibir dengan tampang males.

"Um… Luffy," sela Nami, "Lo yakin yang lo liat itu Vivi?"

Luffy mengangguk lagi, "YAP! HAQUL YAQIN!"

Sanji sendakep dengan tampang 'gue-curiga-sama-pentium-otak-lo' dan komen, "Masalahnya, Luffy, elo tu paling sotoy soal liat wajah orang."

Margarett menimpali, "Iya! Masa' muka gue yang cantik ini aja gak bisa lo bedain sama yakuza cewek!"

"Kali ini gue yakin! Soalnya Kohza-senpai juga bilang begono…!" tampik Luffy membela diri.

Nami dengan tampang kesel, menarik pipi Luffy hingga melar, "Awas kalo lo kali ini salah lagi!"

"Awww~! Nahmwi! Huwaakiiittt~! Sumfaaaahhh ane zuzuuuurrrr~!" erang Luffy bersumpah-sumpah ala iklan obat flu. Nami mendengus kemudian melepaskan pipi Luffy, dan Luffy pun telak mental ke belakang sofa. "Awwwhhh~" keluh Luffy ngelus-ngelus pipinya.

"Jadi baiknya gimana nih om?" tanya Luffy duduk kembali di atas sofa. Paman Shanks hanya tertunduk membuat helai rambut kemerahannya menutupi matanya dan sama sekali tak tampak oleh yang lain. Semua hening menunggu jawaban dari paman yang selalu jadi kebanggaan Luffy ini. Hingga beberapa menit, Shanks tak kunjung menjawab, "Paman?" tegur Luffy sekali lagi.

Suasana hening… tapi dengarkan baik-baik suara…

"Grooookk… zzzz…. Groook… zzzz…"

"JANGAN TIDUR!" teriak Mugiwara kompak, dan sekalian nyiapin barang-barang untuk dilemparin lagi. Sebelum hujan barang-barang aneh terjadi lagi, Ace menendang kepala Shanks.

"Hah? Oh ya… terserah kalian…" ngelindur Shanks sambil dengan pelan membaringkan diri di atas sofa, melanjutkan kegiatan molornya. Mugiwara yang udah siap mengangkat barang mereka masing-masing untuk dilemparin ke kepala dongkolnya Shanks, dicegah Garp.

"Udah… udah… Kasian Si Shanks. Dia pasti kecapean!"


Akhirnya, karena sudah kemalaman, Mugiwara yang lain memutuskan untuk menginap di rumah Luffy lagi. Selain karena itu, masing-masing juga punya alasannya sendiri kenapa gak pulang ke rumah. Seperti misalnya Sanji yang karena di rumah gak ada siapa-siapa kecuali pembantu, Zoro yang katanya udah pewe, Chopper dan Ussop yang pengen minjem PS 2-nya Luffy, Robin dan Margarett yang penasaran sama perpustakaan rumah Luffy yang lengkap. Kalo Nami…

Balkon kamar Luffy di lantai dua…

Luffy tersenyum sendiri menikmati angin malam yang sejuk itu. Sekarang masih pukul 7.30. Tentu saja anginnya masih segar dan tak terlalu dingin dirasakan kulit. Lagipula, kulit Luffy kan kayak kulit buaya, jadi angin malam begini hanya angin penyejuk kulit baginya.

Dari balkon kamarnya di lantai dua, Luffy menyangga kepala dengan tangan kanannya di atas kayu pager balkon. Kepalanya yang biasanya tegak, kini menunduk ke bawah. Matanya yang besar, sedang asyik memperhatikan seorang gadis di halaman belakang rumahnya. Gadis manis itu mengenakan jaket coklat milik Luffy dan sedang jongkok memperhatikan beberapa Bunga Lili yang dulu ditanam Luffy, Ace dan Shanks.

Wajah Luffy memerah perlahan tanpa ia sadari. 'Waa… Te-ternya…ta… di… dia…'

Ngeeek… bagh!

"Luffy, lo tau di mana sejarah jilid empat?" tanya Robin tiba-tiba setelah membuka pintu kamar Luffy. "Di Perpus lo gak ada! Padahal gue nemu yang jilid lima…" lanjut Robin sambil memperhatikan buku yang dibawanya. Suaranya memang cukup keras, namun, Luffy tak menjawab.

"Oy… Luffy…!" panggil Robin sekali lagi.

Luffy masih terdiam.

"Luffy…" desis Robin.

Luffy masih juga tak menjawab.

"KETUAAAAA~!" tereak Robin kemudian melempar buku sejarah jilid lima.

"Apaan sih?" omel Luffy yang ubun-ubun kepalanya hampir ngebelah dua kalo aja Luffy tadi gak tiba-tiba nunduk (kebetulan yang sangat baik) karena objek fokus matanya berpindah tempat memasuki rumah.

"Lagi ngeliatin apaan sih? Kayaknya serius banget?" Robin memandang ke bawah balkon. Matanya yang teliti, tentu saja sempat menangkap sesuatu berkepala oren baru saja memasuki rumah.

"Ohh…" pandang Robin dengan mata aneh ke Luffy.

"Apa…?" sewot Luffy. Ia agak nerpes, untuk menghilangkan rasa nerpesnya ia pun ngupil dan membuang pandangan ke arah lain.

Robin menggeleng sambil tertawa kecil, "Fu fu fu… ternyata ketua mulai masuk tahap puber!"

"Hah?" bingung Luffy.

"Lagi merhatiin Nami kan?"

"Ah! Begitulah!" sahut Luffy dengan riang dan sangat lugu. Untuk beberapa saat, keadaan terkesan hening dengan hanya diiringi nyanyian karaoke dari jangkrik kurang kerjaan yang duet dengan Brook di semak dan pohon sebelah.

Tak lama, Robin angkat bicara, "Sebetulnya…" katanya sambil menopang tubuhnya di atas pagar balkon, "…gue pingin tau… apa hati lo emang bener bakal mendarat untuk Nami? Apa cowok emang selalu konsisten?"

"Eh? Maksud?"

Robin berpaling pergi, "Sudahlah… lupakan…"

Robin keluar dari kamar Luffy dan dengan pelan menutup pintu kamar Luffy. Tak lama ia hendak menjejakkan kaki menuju tangga, seseorang yang ia kenal, dan sempat terlintas di pikirannya tadi, berjalan santai ke arahnya.

"Eng?" sumringah Zoro mendapati Robin. "Ah! Lo di sini ternyata!"

"Zoro?" delik Robin tak menyangka orang yang ada di kepalanya muncul di hadapannya. "Lo nyari gue?"

"Iya! Gue nyariin elo," sejenak Robin menunjukkan ekspresi bertanya-tanya. Zoro langsung melanjutkan kalimatnya, "Sebenernya ada hal yang udah lama pengen banget gue tanyain sama lo…" Zoro menggaruk kepala belakangnya.

Robin tersenyum kecil, "tumben, Tuan Ahli Pedang."

"A-ah… berisik. Udah gue bilang jangan panggil gue dengan nama kayak gitu…" tampik Zoro dengan wajah merah menahan malu mendengar sebutan itu keluar dari bibir Robin.

Robin sekarang tak mampu menahan tawanya, ia tertawa kecil dan berkata, "Ya, ya… Sorry. Muka lo lucu banget kalo gue gangguin gitu," wajah Zoro makin memerah dan tampangnya makin kesal. Robin membelokkan subjek pembicaraan, "…oke kalo gitu… apa yang mau lo tanyain?"

"Oh, soal itu…" Zoro hendak bertanya, namun menyadari sesuatu, "Bisa kita pergi ke tempat lain? Di sini gak aman…" swt Zoro melihat seekor tuyul berambut item acak-acakan ngintip mereka dari balik pintu kamarnya sendiri dengan tampang gak mutu. 'Tampang lo gak nahan, Luffy…' batin Zoro swt.

Robin menyetujui, Ia pun mengikuti Zoro berjalan menyusuri tangga bawah sambil ngebatin dan berdoa, 'semoga dia gak tersesat…'

Untungnya Zoro kali ini pake GPS untuk menuju halaman rumah bagian depan (Canggih tuh si Zoro, dari lantai dua ke halaman depan rumah Luffy aja pake GPS segala). Zoro pun mengajaknya duduk di bangku taman yang hanya terbuat dari semen itu.

"Gue mau tanya," kata Zoro to da point seiring mereka duduk, "…Orang yang ngambil perusahaan orang tua gue itu… sebenernya orang yang sama ama orang yang ngebunuh orang tua lo, bukan?"

Robin mendelik. Ekspresinya yang gugup karena Zoro tiba-tiba bertanya seperti itu, tak dapat disembunyikan dan tampak jelas di mata Zoro. Hanya dalam waktu singkat, kulit Robin berbalut keringat dingin. Zoro ingin menenangkannya, tapi ia tak tahu bagaimana caranya. Zoro pun hanya membiarkannya berbicara apapun sesuka hatinya.

Namun Robin hanya menunduk dan memeluk dirinya sendiri. Pundaknya agak gemetar dan bibirnya terkatup rapat.

"Gue tau ini menyakitkan, Robin. Gue minta maaf tiba-tiba nanya gini, tapi gue juga pengen tau…" Zoro berusaha mengintip mata Robin yang tersembunyi di balik helai-helai rambutnya, "…Lo gak pernah cerita apapun selama ini ke gue, soal orang yang ngebunuh orang tua elo…"

Robin menarik nafas dalam berusaha menenangkan diri. Namun gemetar tubuhnya tak mau pergi. "…bukan…" katanya dengan suara kecil. Zoro agak mendekatkan telinganya agar suara Robin terdengar jelas.

"…bukan…?"

Robin mengangguk, "…Bukan Mihawk yang ngebunuh orang tua gue…"

Zoro mendelik, "Jadi bukan Mihawk…? Tapi… gue yakin Mihawk ada hubungannya sama orang-orang yang ngebunuh orang tua lo, Robin!"

Robin memandang Zoro lekat, "Darimana lo tau…?"

Sejenak Zoro terdiam. Ia tak menjawab dan tak mau memandang Robin balik. Hingga ingatan kecil melintas di kepalanya, "…gue sempet liat Mihawk akhir-akhir ini mondar-mandir di rumah lo yang lama, dia bawa beberapa temennya…"

"Eh?" Robin makin gemetar, "…lo yakin?"

Zoro mengangguk yakin.

Robin mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tersenyum pahit. "…Sudahlah… jangan memikirkan hal yang bikin gue tambah pusing, Zoro…"

"Iye… Sorry…" kata Zoro acuh dengan mata sayunya. Selang keheningan, terdengar suara orang menangis. Zoro kontan menengok ke arah Robin.

Robin memeluk tubuhnya sendiri makin erat. Lengan tangan atas yang dicengkramnya, semakin bergetar hebat. Air mata mengalir membasahi pipi dan turun menetes di atas pahanya.

"Ah! Sorry!" spontan Zoro salah tingkah melihat seorang gadis menangis di depannya. 'Gawaaat…' batinnya. "Sorry! Robin! Sorry…! Oy… Jangan nangis…!"

Robin yang menunduk, mungkin tak mendengarkannya. Ia hanya tetap menangis, dengan berbagai kenangan pahit selama masa kecilnya hinggap di kepalanya. Kepalanya begitu terasa sakit dan matanya begitu pedih. Ia sebenarnya tak ingin air mata jatuh di hadapan seorang lelaki seperti janjinya pada diri sendiri dahulu. Namun rasa sakit di hatinya menghancurkan bendungan luapan perasaan sedihnya.

"Robin…" lirih Zoro yang ikut prihatin melihat keadaan Robin. "Gue ngerti perasaan lo…"

Robin berusaha menghapus air matanya yang tak kunjung kering itu, ia berusaha menatap Zoro dengan senyum ramah yang biasa ia tunjukkan pada nakama-nakamanya. Namun karena air matanya tetap mengalir, senyum ramah itu malah terlihat bagai senyum derita.

Zoro pun dengan sigap, menariknya ke dalam pelukan.

Robin mendelik seiring Zoro memperkuat dekapannya di badan hangat Robin. "Gue ngerti perasaan lo, Robin…" bisiknya hangat sambil memejamkan matanya, mencoba menyampaikan rasa sakitnya yang sama pada Robin. Agar Robin kini mau lebih membuka dirinya pada orang lain, dan tak lagi menyembunyikan masa lalunya.

"CIEEEE~! AHEM AHEM…!" suasana berisik dari pintu depan rumah Luffy jelas merusak suasana.

Zoro melepas pelukannya dan lompat dari kursi nunjuk-nunjuk para tuyul di pintu, "Sejak kapan kalian di sini, hah?"

"Wah… wah… biasanya gue yang disorakkin…" kata Luffy cool, "CIE~! PRIKITIEWWWW~~!" norak Luffy kemudian dengan tampang indikasi 'berbahagia-bisa-balas-dendam!'. Ke'norak'an Luffy rupanya disusul ke'norak'an lainnya dari Franky, Brook, Ussop dan Chopper yang kompak tereak, 'CIHUY~! PASANGAN MESRA DI TAHUN 2010!' sambil melambai-lambaikan tangan dan lonjak-lonjakan ga jelas ala penonton konser band abal-abal.

"Kalian…! AWAS LO SEMUA!" Zoro dengan muka merah kebakar sangking malunya dengan sigap mencabut katananya dan nguber kelima orang stress itu dengan ganasnya. Alhasil terjadilah petak umpet gak jelas di pekarangan rumah Luffy.

Robin yang telah melupakan tangisnya, kini tertawa bahagia memandang Mugiwara. Tak lama, Margarett, Sanji dan Nami tersenyum menghampirinya dan menawarkannya masuk ke dalam rumah karena cuaca malam yang semakin dingin.


"Hey, minna~! gue bikin kentang goreng nih…!" kata Sanji riang membawa dua bakul gede berisi kentang goreng, disusul Margerett yang membawa satu bakul gede di belakang Sanji. Manusia-manusia kelaparan kita yang selalu heboh itu pun dengan laknat dan buas menyerbu bakul-bakul itu. Namun semua digetok sepatu oleh Sanji. "HEH! GAK SOPAN! Lady's first!"

Sambil menangis meratapi mukanya yang bengep dihajar Sanji, para cowok mempersilahkan yang cewek makan duluan.

"Enak!" kata Nami.

"Enak!" kata Robin.

"Enak!" kata Margarett.

"UEEENAAAAKK~!" kata Brook. Mugiwara pun kompak melempar sendal jepit masing-masing,

"TENGKORAK STRESS!"

Dan akhirnya Mugiwara pun sama-sama makan kentang goreng sambil sekedar mengobrol atau bercanda, ada yang sambil maen PS, ada juga yang sambil baca buku. Tak lama kemudian, Luffy bersorak.

"Guys! Maen yuuuu~! Gak rame nih kalo nginep gak sambil maen…!"

"Hem.. hem.. boleh! Tapi maen apa ya yang rame?" kata Nami sambil melahap kentang gorengnya. Memperhatikan mulut Nami yang blepotan dengan remah kentang goreng, Luffy menelan ludah. Ussop mandang Luffy dengan tampang, 'nafsu?'. Luffy geleng-geleng snap out.

"Hey, Luffy! Kita mau maen apa?" tanya Chopper.

"Krauss… krauss… Glek! Umm… Maen strip poker lagi?" tanya Luffy yang disambut hangat tinjuan Nami dari bawah dagu hingga menyebabkan semburan dahsyat ketang hasil kunyahan dari mulutnya. Semua masang payung.

Luffy babak belur, "eng… ya udah terserah kalian deh mau main apa… gue ikut ajah…"

"Gimana kalo maen monopoli?" tawar Ussop menyodorkan seperangkat lengkap monopoli beserta mas kawinnya.

"Alah… mainan anak kecil tu…" komen Zoro kemudian melemparkan beberapa potongan kentang goreng ke mulutnya.

"Kalo maen gapleh?" tanya Franky sambil memain-mainkan kartu gapleh di tangannya ala penjudi profesional. Mugiwara mandangin Franky dengan tatapan 'muka-lo-emang-muka-ngajak-sesat'.

"Ogah ah, gak rame!" cibir Ussop.

"Jadi maunya maen apa donk?" tanya Franky putus asa (karena merasa ajakan sesatnya tak berhasil).

Robin tiba-tiba menutup bukunya dengan agak keras. Ia menaruh buku Sejarah jilid lima itu di sampingnya. "Guys, udah pernah denger nama permainan Ketuk Lima?"

"Haa?" cengo Mugiwaraners yang lain memiringkan kepala mereka.

"Masa' kalian belom pernah denger?" Timpal Zoro memajukan tubuhnya sedikit dari tembok yang disandarinya tadi, "Ketuk Lima itu permainan menantang dan juga seru…" lanjutnya dengan menyeringai serem.

"Gu… gue punya perasaan gak enak nih… gulp!" merinding Ussop sambil menarik kerah leher kaosnya.

"UWAAA~! KAYAKNYA ASYIIIKKK~!" seru Luffy, Chopper dan Brook berbinar-binar.

"Permainan apa sih? Kok gue baru denger?" tanya Nami.

Robin tersenyum menanggapi komen-komen dari nakama-nakamanya. Ia pergi ke dapur, kemudian lekas kembali dengan membawa piring ceper, dan lilin yang masing-masing berjumlah sepuluh, satu buah botol kaca, serta bilah sumpit bambu sekitar satu ikat. Jumlah yang pas untuk orang-orang yang ada di ruangan itu. "Nah, ayo kita duduk membuat lingkaran kecil."

Mugiwara pun menurut karena penasaran dengan permainan yang akan Robin tunjukkan. Zoro membantu Robin dengan mematikan lampu ruang tengah setelah Robin menyalakan lilin yang ada di atas masing-masing piring yang tertelungkup di depan masing-masing Mugiwara. Ussop yang mau kabur karena hawa-hawanya udah mulai gak enak, akhirnya di rantai oleh si bejat Sanji.

Robin membagikan satu bilah sumpit pada yang lain. "Ini kan sumpit, Robin?" tanya Margarett memperhatikan sepasang sumpit bambu di tangannya.

"Nah, kalian udah megang sumpit masing-masing?" tanya Robin yang langsung disahut oleh masing-masing jawaban. "Yak, kalo kita bakar ujung sumpit bambu kemudian mengetuk-ngetukkan pada piring makan sebanyak lima ketuk, maka akan terjadi hal yang menarik…"

"Maksuuudddd…?" kompak Mugiwaraners keringat dingin.

Zoro menyeringai. Di balik cahaya samar-samar lilin, seringainya bahkan lebih seram daripada senyum iblis, "Akan datang iblis neraka… gyahahaa~"

Mugiwaraners tahan napas, urat dan sarafnya pun tegang.

"Zoro!" tegur Robin pada nakamanya yang ngawur level empat ini, "Bukan itu!"

Mugiwara tarik napas lega.

"Terus apa donk, Robin…?" tanya Chopper.

"Bakal dateng pasukan monyet setengah kodok dari planet mars!" seru Luffy ngawur level tak tertandingi, "Iya 'kan Robin?"

Nami narik pipi Luffy dengan bejad lagi, "…Luffy, kepala lo tu isinya jengkol?" komen Nami sangking keselnya.

"Kalian ini gak beres semua…" lirih Robin pelan sweatdrop, "…Hal yang menarik itu bukan maksudnya ada yang dateng ato apa…" pandang Robin pada Zoro dengan tatapan 'semua ini gara-gara lo!'. "Tapi, permainannya berlanjut jadi menarik. Kalian sih, gue belom ngejelasin apa-apa udah pada nanya 'maksud?'."

"Ohhh…" kompak Mugiwaraners. Mugiwara pun mempersilahkan Robin untuk menjelaskan lebih detail.

"Gini lho, permainannya. Pertama bakar dulu ujung bambu di lilin temen sebelah lo, sampe agak item. Habis itu, ketukin di piring temen sebelah elo lima kali," Robin mengetukkan bambu berujung hitam itu ke piring Margarett yang kebetulan di sampingnya. "…Trus, lo tanya sama temen lo hal apa aja. Kalo temen lo gak bisa jawab ato gak mau jawab dengan jujur, matiin lilin yang ada di atas piring temen lo. Trus suruh dia lakukan apa aja di tengah gelap, dan gak boleh nyalain satu sumber cahaya sedikit pun. Sebenernya, ini cuman permainan untuk nguji kejujuran dan keterbukaan temen lo…"

"Ohh…" kompak Mugiwara kecuali Zoro yang cuman terkekeh-kekeh mandangin temen sebelahnya, yaitu Ussop. Ussop bergidik ngeri membaca ekspresi Zoro.

"Tapi inget, pertanyaannya cuman boleh yang jawabannya hanya 'ya ato tidak' aja. Jangan lupa juga nyimpen bambu yang udah di bakar di lilin temen lo itu di bawah piring temen lo—kalo temen lo jujur. Tapi kalo temen lo gak jujur atau gak mau jawab, taro bambunya di samping piring lo sendiri aja. Permainan ini terus berputar sampe semua lilin habis atau semua lilin udah mati. Jumlah sumpit yang ada di bawah piring lo, nunjukkin se-terbukanya elo sama temen," jelas Robin.

"Intrupsi!" acung Nami.

"Ya, Nami?" tunjuk Robin.

"Kalo kayak gitu berarti kita nanya sama orang yang sama berjam-jam donk? Kan orang yang ada di sebelah kita kan orang nya sama?"

"Ah ya. Untuk mengantisipasi itu, gue udah nyiapin botol. Kita puter aja botol ini. Okeh?" Mugiwara mengangguk, Robin melanjutkan, "…oh ya, siapa yang mau muterin botol ini duluan?"

"GUE~ GUE~!" tereak Luffy semangat karena dari tadi matanya cuman punya tenaga empat watt denger penjelasan ribet dari Robin. Robin pun menyerahkan botol tersebut pada Luffy.

Luffy pun dengan semangat '45 muterin botol di tengah-tengah lingkaran kecil mereka. Botol itu pun berputar dengan kencang, kemudian perlahan dan sedikit demi sedikit memelan. Seiring botol itu memelan, semua menahan nafasnya. Dan ketika botol itu berhenti, semua menarik nafas lega karena botol tersebut tidak berhenti menunjuknya. Kecuali Nami yang kemudian menjerit depresi.

"GYAHAHAAAA~~!" tawa Luffy dengan semarak. Hal bodoh apa yang akan ditanyakan Luffy?


TSUZUKU

Bisakah kalian menebak pertanyaan dalam pikiran Luffy?


(Masih niat bikin SBS abal-abal, walopun dituntut 300 juta berry sama yg punya...)

Kuchiki Rukia-taichou: Ahh... bener kok... *asal ngomong* Wokeh, ini apdet...

BlackWhite Feathers: Maaf apdetnya gak kilat... keenakan liburan jadi lupa nulis fanfic... huehehehe...

edogawa Luffy: Ohh my nakama! bocah pairing ya? hem... aku udah agak ngerti, sih... Thanks!

ruki4062jo: Ohh, iya ya? harusnya kan namnya orang keempat? wokeh wokeh...

Akane-chan: roll on the floor? bisa sekalian ngepel donk? *digaplok* gak papa... aku juga telat apdetnya kok...

MelZzZ: ohh... maksudnya jancuk...? *ditendang karena mengeluarkan kata" kasar* syukur deh kalo lulus... traktir donk kalo lulus... XD

Ferrisa-chan: hem... (gak komen apa2 karena reviewnya isinya cuman curhatan doank...)

Ryuku S A J: sip...

Tika-Chan Shinigami: Ya! Luffy kan fans beratnya upil ipil! *nunjuk Luffy yg lagi beli kaos upil ipil* bukan om-om mesum! tapi mesum-mesum om! sip, ini juga apdet...

Chappy D. AniTsu: Uwahh... berarti penname ku terkenal juga ya? bagus bagus... okeh, thx ripiu nya... *menunduk*

Izu-chan: Iya, semoga arwah kecoak diterima disisinya... amiiiin...


REVIEW DIHARAPKAN BAGI YANG MERASA WARAS...

(DAN TIDAK WARAS)

V

V

V