WARNING : TYPO, NO BASH, NO FLAME, NO HATE, NO PLAGIAT, YUNJAE GS, BORING

Joongiekitty presents~

"Bagaimana kalau kita ke game center ?" kunyahan Changmin pada red velvet miliknya sama sekali tidak mengganggunya untuk bersuara. "Tidak !" dengan tegas Junsu mendaratkan telapak tangannya di restoran cepat saji tempat mereka beristirahat setelah menonton film action di bioskop langganan mereka. Hingga Changmin tergugu kaget dan menghentikan aktifitas makannya sejenak. Mood gadis itu memang sudah buruk sejak yang lain memilih film action daripada film romantis kesukaannya.

Park Yoochun menggenggam tangan kekasihnya, menurunkan tangan halus yang lebih kecil dari atas meja. Sambil tersenyum segan pada orang-orang di sekitar mereka yang mungkin agak terganggu dengan suara khas kekasihnya.

"Kau pasti asyik sendiri dan melupakan kami para gadis" seolah tak peduli Junsu tetap menggerutu heboh "Benar begitu kan Joongie ?" menoleh hanya untuk mendapati sang sahabat larut dalam dunianya sendiri.

"Kim Jaejoong" dengan gemas diguncangnya bahu gadis itu, membuat Jaejoong tersentak kaget dan menatap Junsu dengan pandangan terganggu "Apa ?"

Mendesah keras Junsu menghempaskan punggungnya dengan kasar "Kenapa semua orang menyebalkan sekali hari ini" disambarnya kasar tas ransel yang ia letakkan dibawah lalu melenggang begitu saja meninggalkan sahabat-sahabatnya.

"Kurasa tamunya datang hari ini" dengan ringisan pasrah Yoochun mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang pada Yihan "Jika kurang tambah dengan uangmu, aku akan menyusul Junsu. Tidak usah menunggu kami" diacaknya pelan rambut Jaejoong "Aku akan menjemputmu besok hm ?" lalu melangkah dengan tergesa.

Jaejoong menatap keduanya dengan pandangan datar. Ia tahu mood Junsusedang buruk, tapi hatinya sendiri sedang kacau. Menunduk Jaejoong menatap ponsel dalam genggamannya, layarnya menampilkan pesan Line yang belum terbaca. Ponsel Yunho tidak aktif, sejak siang tadi.

Bayangan gadis cantik yang membuat moodnya turun drastis seharian kembali berlarian di otak Jaejoong. Yunho bersama gadis lain dan ponselnya tidak aktif. Memang pemuda itu menghubungi Yihan dan mengatakan ada tugas namun kenapa tidak dengan dirinya? Apa susahnya menelpon Jaejoong dan mengatakan ia pergi kemana, dengan siapa, hingga Jaejoong tidak perlu gelisah seperti ini.

Ahh benar, mata Jaejoong memanas. Bukankah ia sendiri yang mengatakan pada Yunho untuk tidak menghubunginya saat berada diluar? Agar teman-temannya tidak tahu? Jaejoong ingin menangis saja rasanya. Aku sangat keterlaluan

Seharusnya ia sadar bukan jika pria setampan Yunho tidak mungkin disia-siakan para gadis di Toho. Meskipun dari yang Jaejoong tahu selama ini kekasihnya itu selalu bersikap cuek dan acuh namun itu tidak menutup kemungkinan jika mungkin saja Yunho akan menemukan gadis yang membuatnya nyaman kan? Seperti gadis cantik tadi siang mungkin

Tanpa sadar Jaejoong menghembuskan napas frustasi, ingin rasanya segera pulang dan menangis dalam pelukan mommy-nya. Katakanlah Jaejoong manja, memang itu yang selama ini ia lakukan. Saat sedih atau ada masalah ia akan menumpahkan semuanya dalam pelukan sang ibu dan setelahnya ia akan dapat melalui semuanya dengan kepala dingin.

"Ada apa denganmu manis ?" Yonghwa bertanya lembut. Jaejoong menatapnya sejenak sebelum kembali mengalihkan pandangannya pada benda pipih penghubungnya dengan Yunho "Aku baik-baik saja. apakah tidak apa-apa jika aku pulang duluan? Aku ingin naik bus hari ini"

Memang seharusnya ia pulang bertiga dengan Yoochun dan Junsu. Sayangnya Park jidat itu harus mengurus si bebek pemarah. Keempat pria yang tersisa saling melempar pandang satu sama lain, lalu mengendikkan bahu pasrah. Red velvet Changmin bahkan tidak menarik lagi

"Kupanggilkan taksi saja Joongie, bus tidak aman" setelahnya Seunghyun sibuk memesan taksi untuk menjemput Jaejoong di alamat restoran. Sementara Jaejoong sendiri terlalu malas untuk berdebat. Yang terpenting ia menjauh sejenak dari sahabatnya. Jaejoong sedang ingin sendiri saja.

Meregangkan tubuhnya yang kaku akibat duduk dalam waktu lama Yunho menggerutu pelan hingga gadis disampingnya-yang masih sibuk dengan tugas yang sejujurnya milik Yunho-tertawa geli. Yunho tidak tega meninggalkan Joy mengerjakan proyek miliknya sendirian, walau bagaimanapun gadis itu sudah repot-repot membantunya.

Jadi sebagai ucapan terimakasih Yunho membantu sebisanya, sekedar mengelem, menempel, menggunting atau apapun yang gadis itu perintahkan. Namun membuat purwarupa tidak sesederhana yang Yunho bayangkan. Bersyukur ia tidak membiarkan teman barunya itu mengerjakan seluruhnya sendirian. Yunho tidak bisa membayangkan seberapa lelahnya.

"Untuk sementara biarkan saja disini, nanti sehari sebelum hari dikumpulkan baru kau ambil kemari. Aku takut rusak, lagipula lemnya belum terlalu kering" Yunho mengangguk saja mendengar itu. Saat ini mereka memang berada di rumah gadis itu, setelah sebelumnya berdebat akan dikerjakan dimana tugas merepotkan ini pilihan mereka jatuh pada rumah Joy yang kebetulan lumayan dekat dengan tempat belanja mereka. Ini pertama kalinya Yunho main ke rumah teman yang benar-benar asing sejak ia tiba di Korea.

"Habiskan minumanmu lalu pulanglah, kau kelihatan lelah" gadis itu berdiri membereskan sisa-sisa barang mereka "Kau mengusirku ?" Yunho bertanya dengan mata terpejam, kepalanya menyandar pada sisi sofa.

Terkekeh Joy melempar gumpalan kertas hingga mata Yunho terbuka, mendelik sebal padanya "Aku hanya kasihan melihat tampang kusutmu itu Jung-ssi" dering telepon membuat Joy berdecak meletakkan kembali barangnya dan beranjak mengangkat panggilan entah dari siapa.

Melihat itu Yunho teringat ponselnya sendiri. Tangannya meraup ransel dan mencari dimana benda persegi itu berada. Setelah mendapatkannya Yunho dibuat geram karena layar gelap yang terpampang, kehabisan baterai.

Untung saja Yunho selalu membawa power bank kemana-mana. Sekedar berjaga untuk keperluan darurat seperti sekarang. Begitu ia nyalakan puluhan notikasi berebut masuk hingga ponselnya tidak berhenti bergetar. Alis Yunho menukik Chat dari Jaejoong

Tidak biasanya gadis itu menghubunginya disiang hari, bukankah gadis itu sedang bersama teman-temannya ? dan Yunho yakin Jaejoong juga pasti tahu kalau ia sedang mengerjakan tugas lewat pesannya pada Yihan.

Tidak ingin membuat gadisnya menunggu lebih lama Yunho segera mengetikkan pesan balasan. Bahwa tugasnya baru saja selesai dan ponselnya mati kehabisan baterai. Tidak sampai semenit pesan itu telah masuk dan dibaca oleh kekasihnya.

Satu menit dua menit pesan balasan dari Jaejoong tak kunjung ia terima hingga Yunho berinisiatif menelpon gadisnya yang pencemburu itu. Pada deringan kedua panggilannya diangkat namun diseberang sana Jaejoong membisu

"Halo Joongie kau disana ?" beberapa saat hanya keheningan yang menyapa Yunho

Yunho mengangguk terimakasih saat Joy menyodorkan segelas air dingin yang membuat kerongkongan Yunho bersujud memuja, buru-buru meneguknya "Yeoboseo ?" keheningan disisi lainnya membuat Yunho yakin ada sesuatu yang salah.

Benar saja, belasan detik berlalu dalam keheningan "Sayang kau mendengarku ? katakan sesuatu" panggilan itu membuat Joy tersedak biskuit yang tengah dinikmatinya.

'Kau punya kekasih ?' mulutnya berkomat kamit tanpa suara membuat Yunho mengangguk cepat. Gadis itu mematung dan mengabaikan sisa biskuitnya, sepenuhnya menaruh perhatian pada Yunho dan kekasihnya yang entah siapa.

Dengan penuh rasa ingin tahu Joy mencondongkan tubuhnya menempelkan telinganya pada sisi lain ponsel Yunho, mencoba mendengarkan suara sekecil apapun yang bisa saja dilewatkannya. Telunjuk Yunho mendorong dahinya menjauh membuat Joy mengerang sebal karena rasa ingin tahunya yang belum terpuaskan. Saat itu juga Jaejoong memutus panggilan membuat Yunho berdecak.

"Mati ?" dengan wajah polos Joy melongok pada layar ponsel Yunho membuat sekali lagi dahinya menjadi landasan telunjuk Yunho. Dalam sekali teguk Yunho mengosongkan gelasnya, lalu terburu merapikan alat-alat yang menurut Yunho adalah sekumpulan neraka kecil. Tadi prakarya sekarang kekasihnya, sialan !

"Aku harus pulang" ujarnya pada Joy "Terimakasih untuk hari ini" mengangguk gadis itu diam saja mengikuti langkah Yunho hingga gerbang depan rumahnya. Dari ekspresi dan bahasa tubuhnya Joy dapat menebak kalau pemuda itu tengah gelisah.

Membuatnya menggigit bibir karena dalam pandangannya wajah frustasi Yunho begitu menggemaskan. Dalam diam gadis itu menemani Yunho hingga sang pemuda mendapatkan taksi dan melambai singkat padanya. Meninggalkan Joy dalam kepulan asap tipis dan bayangan taksi Yunho yang perlahan memudar.

Ini memang pertama kalinya ia berinteraksi dengan Yunho, namun bukan berarti ia tidak mengetahui tentang Yunho selama ini. Dari obrolan teman-temannya yang selalu bersemangat membicarakan si-pemuda-tampan-asal-Kanada ia bisa dibilang lumayan mengenal Yunho.

Karena itu sejujurnya bisa berbicara panjang lebar dengan Yunho saja sama sekali tidak pernah muncul dalam bayangannya, bahkan dalam mimpi terliarnya sekalipun. Pemuda itu selalu terlihat cuek dan tidak peduli pada sekitar. Hingga para gadis yang ingin mendekatinya hanya dapat menggigit jari, takut dipermalukan seperti Go Ahra beberapa waktu lalu.

Bibir Joy mengerucut lucu. Jung Yunho sama sekali tidak seperti yang orang-orang katakan. Pemuda itu cerewet, wawasannya luas dan sama sekali jauh dari kata canggung atau dingin. Namun yang paling mengejutkan Joy adalah kenyataan bahwa pemuda itu telah memiliki kekasih. Meskipun ia tidak tahu gadis itu siapa namun Joy yakin gadis itu pastilah sangat special hingga mampu membuat Yunho bertekuk lutut.

Nyaris seharian ini menghabiskan waktu bersama Yunho membuat Joy sadar tipe seperti apa Yunho. Pemuda itu senang berteman, maksudnya benar-benar hanya teman. Sama sekali tidak ada pandangan menggoda atau kode-kode tertentu yang seringkali diberikan beberapa lelaki yang 'berteman' dengannya.

Joy tetaplah seorang gadis pada umumnya, dan bisa memandang Yunho dalam jarak dekat membuatnya sadar betapa rupawan seorang Jung Yunho. Sedikit memanfaatkan keadaan mencoba peruntungannya sendiri. Tentu saja hatinya juga melompat-lompat lucu hingga Joy geli dibuatnya, namun ia tahu Yunho tidak memiliki ketertarikan yang sama.

Belum lagi pemuda itu telah memiliki seseorang yang istimewa, seolah Tuhan menegaskan bahwa ia tidak dapat melewati batas teman pada Yunho. Menghela napas Joy berbalik dan menutup gerbang rumahnya. sepertinya biskuit dan coklat dingin dengan potongan strawberry kombinasi yang bagus untuk hatinya yang patah.

Yunho melempar dirinya ke atas ranjang empuk yang menjadi tempatnya melepas penat sejak beberapa bulan yang lalu. Jemarinya dengan lincah menari di atas layar sentuh yang menampilkan percakapannya dengan sang kekasih. Sejak sore tadi saat Yunho menelponnya entah kenapa kekasihnya itu merajuk dan tidak mau mengangkat penggilan darinya.

Dan disinilah Yunho berbaring dalam keadaan kusut belum mandi dengan wajah keruh, demi Tuhan! Chat darinya hanya di baca tanpa dibalas. Tega sekali bukan..

Katakan padaku ada apa hmm? Apa aku melakukan sesuatu yang salah sayangku? Kenapa mendiamkanku begini ?

Membalik tubuhnya Yunho berdecak keras, baru saja satu masalah selesai sekarang muncul masalah baru. Astaga… kapan gadis nakal itu akan berhenti menyiksanya. Mendesah keras Yunho meninggalkan ponselnya dan beranjak ke kamar mandi. Mendinginkan kepalanya sekaligus menghilangkan lengket di tubuhnya akibat keringat.

Selesai mandi dengan air-air nakal yang menetes dari ujung-ujung rambutnya yang mulai panjang memberikan kesejukan tersendiri pada diri Yunho. Masih belum ada balasan dari Jaejoong. Dalam satu ayunan lengan panjangnya menjangkau jaket yang tergantung di belakang pintu. Tergesa menaiki tangga menuju lantai tiga Yunho mendorong pintu kamar Yihan hingga menjeblak terbuka.

"Huaaaaa !" tangan Yihan menyilang didepan dada telanjangnya, menatap Yunho dengan mata melotot "Apa-apaan ini hyung" racaunya sebal "Pinjami aku mobilmu" tangan Yunho menengadah terbuka mengabaikan wajah blank Yihan atau keadaannya yang setengah telanjang.

"Mau kemana kau malam-malam begini ?" meskipun kakinya menghentak dengan alis menukik Yihan tetap mengambil kunci diatas meja dan melemparnya pada Yunho

"Kencan" Yunho berlalu bahkan tanpa mengucapkan terimakasih "Ya ! kau mau pamer karena sudah punya kekasih eoh?" Yihan hanya berteriak pada udara kosong karena punggung Yunho sudah menghilang dibalik debaman pintu kamarnya.

Yunho setengah berlari menuruni anak tangga mansion besar yang terlihat lengang, berpapasan dengan ayahnya didepan pintu menuju garasi

"Yun-"

"Nanti Papa, aku ada urusan penting. Aku tidak akan pulang malam, aku mencintaimu" Yunho menepuk bahu ayahnya sambil lalu, membuat Il Woo mengendikkan bahu pasrah. Putranya itu lebih hiperaktif sejak berteman dengan Yihan, yah perkembangan yang bagus. Setidaknya Yunho punya teman.

Yunho meraba saku celana santai yang dikenakannya, memastikan dompet dan ponsel aman ditempatnya masing-masing. Dengan mudah Yunho mengemudikan mobil Yihan yang sudah sangat sering dinaikinya meskipun hanya duduk di kursi penumpang. Yunho bisa mengendarai mobil hanya saja selama di Kanada ia lebih suka berjalan kaki atau naik kendaraan umum. Tak sampai satu jam mobilnya- baiklah mobil Yihan, sudah terparkir manis di halaman rumah Jaejoong.

Jaejoong menyuapkan makan malamnya tanpa semangat, sejujurnya ia enggan untuk sekedar mengisi perutnya yang terasa melilit namun melihat mommy cantiknya yang susah payah memasak meskipun baru pulang sejak kemarin membuat Jaejoong tidak tega.

"Habiskan makananmu dan belajarlah, lalu pergi tidur" Tae Hee mengecup pucuk kepala putrinya yang dibalas anggukan malas oleh Jaejoong "Mommy mandi dan tidurlah, pasti lelah bukan. Joongie tidak apa-apa makan sendiri" senyum manis ia lontarkan pada sang ibu.

Ia tahu bekerja sebagai dokter itu melelahkan jadi Jaejoong tidak boleh manja dan membiarkan ibunya beristirahat setelah membantu persalinan para ibu yang bertaruh nyawa melahirkan putra putrinya. Suatu saat nanti jika Jaejoong punya anak ia ingin ibunya lah yang membantu persalinannya. Ia ingin ibunya menjadi tangan pertama yang menyentuh anaknya kelak.

Memikirkan tentang anak membuatnya kembali teringat akan kekasih tampannya yang berhasil memporak-porandakan hatinya seharian ini. Jadi nanti ia akan punya anak dengan Yunho? Seorang bayi kecil yang akan tenggelam dalam lengan kekar kekasihnya. Jaejoong menepuk keras kedua pipinya astaga buang pemikiran gila dari otakmu itu Jaejoongie. Moodnya kembali memburuk, Jung pabbo ! Jung Yunho menyebalkan ! Dasar pria gila ! Genit !

Bel rumah yang ditekan dua kali membuat Jaejoong mengerang, moodnya sedang buruk dan seorang tidak tahu diri bertamu ke rumahnya di malam hari. Jaejoong yakin itu pasti ulah jahil Changmin yang ingin menumpang makan atau Yoochun yang suka mengganggunya tanpa tahu waktu. Awas saja akan Jaejoong pukul kepala mereka dengan stetoskop mommy-nya.

Jaejoong menyentak pintu terbuka dan mendorongnya sekuat tenaga pada detik yang sama. Menahan napas dengan mata melotot apa yang dilakukan Jung Yunho malam-malam begini di rumahnya ?

"Joongie, bisakah kau buka pintunya ? kita harus bicara" suara lembut Yunho membuat Jaejoong menggigit bibir bawahnya sendiri. Tetes-tetes hangat yang telah berhasil ia tahan seharian mulai berlomba keluar dari sudut matanya.

"Aku minta maaf jika aku bersalah, bisakah kau buka pintunya dan katakan padaku apa kesalahanku hm ?" jemari Yunho mengetuk pintu yang membatasi mereka dengan pelan "Jika aku bersalah katakan padaku, jangan mendiamkanku atau menjauh dariku. Keluarlah dan kita bicara"

Jaejoong membiarkan isakan keras lolos dari bibirnya. Inilah hal yang paling ia benci, sisi Yunho yang seperti inilah yang membuatnya tidak akan pernah menang melawan pemuda itu. Setiap kali ada sesuatu yang membuatnya terganggu pemuda itu akan selalu membicarakannya dengan tenang, dengan sisi dewasa yang membuat Jaejoong terkagum-kagum.

"Sayangku ?" tangan Yunho memutar kenop pintu, sedikit panik mendengar Jaejoong terisak disisi lainnya. Gadis itu hanya diam menunduk dengan bahu berguncang saat Yunho melongokkan kepalanya ke dalam, membuka pintu perlahan.

Sebelah tangannya terulur meraih kepala Jaejoong dalam usapan karena celah kecil pintu sama sekali tidak mengijikannya untuk masuk lebih dalam. Gadis itu berdiri membatu di tempatnya, bahkan tidak peduli saat dahinya terantuk daun pintu.

"Kenapa kekasihku ini menangis hm ?" perlahan Yunho meraih lengan Jaejoong dan menggesernya ke samping hingga ia lebih leluasa membuka pintu. Lengan Yunho yang lain meraih dagu gadisnya begitu mereka berdiri berhadapan. Mencoba mengintip wajah gadis yang selalu mengisi bayang-bayangnya sejak menginjakkan kaki di Seoul.

Suara berderap membuat Yunho reflek mundur selangkah, Kim Tae Hee turun dalam balutan piyama, menatap keduanya dengan penuh minat. Yunho membungkukkan badannya gugup. Sama sekali tidak memikirkan kemungkinan ibunda Jaejoong ada di rumah.

"Anyeonghasimnika" sapanya gugup. Dengan senyum manis meskipun kedua alisnya bertaut heran Tae Hee balas menyapa pemuda tampan yang baru sekali ditemuinya itu. Ingin tertawa melihat jari-jari Yunho yang bertaut kaku.

Tanpa berkata apapun Jaejoong keluar, hampir saja Yunho berteriak menahannya namun Tae Hee lebih dulu melakukannya. Yunho hanya berdiri menatap lekat pada Jaejoong yang berjalan membuka pintu mobilnya dan masuk begitu saja ke kursi penumpang. Mengbaikan tatapan Yunho dan sang ibu. Gesture itu menjadi kode bagi Yunho bahwa gadis itu sama sekali tidak ingin sang ibu tahu tentang masalah mereka.

"Ehm…. Ada sesuatu yang harus saya urus dengan Jaejoong. Saya berjanji akan menjaganya dan membawanya pulang dengan selamat" Yunho menatap mata wanita yang telah melahirkan Jaejoong, mencoba meyakinkan.

"Kalian mau kencan ?" pertanyaan yang dilontarkan ibu Jaejoong membuat Yunho menunduk gugup dan berdehem canggung.

"A-animnida. Ehm.. saya-" tawa Tae Hee meluncur begitu saja melihat tingkah lucu teman baru sang putri. Dari betapa gugupnya pemuda itu Tae Hee tahu ada yang berbeda dari teman Jaejoong yang satu ini. Sedikit spesial mungkin ?

Dengan senyum keibuan Tae Hee mengangguk "Jangan pulang terlalu larut arra" pintanya yang disambut anggukan antusias Yunho. Menunduk Tae Hee melanjutkan "Joongie sangat cengeng, biar kuberitahu kau satu hal…." Dengan patuh Yunho mengangguk seperti anak kecil.

Jaejoong buru-buru mengalihkan pandangannya lurus kedepan begitu Yunho yang sedari tadi diperhatikannya berjalan ke arah kursi pemudi. Ia penasaran apa yang dikatakan pemuda itu pada ibunya namun tentu saja rasa gengsi Jaejoong mengalahkan rasa ingin tahunya.

Mata Jaejoong kembali bergulir ke samping saat Yunho telah duduk sempurna di kursinya. Tanpa mengatakan apapun pemuda itu melajukan mobilnya membelah jalanan Seoul yang tak pernah tidur. Jaejoong menegang saat tangan besar Yunho meraih jemarinya. Meremasnya lembut lalu membelai telunjuknya dengan ibu jari Yunho yang terasa kasar diatas jari mungil Jaejoong.

Ia sandarkan dahinya pada sisi pintu mobil, membiarkan Yunho berkendara dalam keheningan. Membiarkan Yunho mendekap jemarinya dalam genggaman hangat yang diam-diam Jaejoong rindukan. Perasaannya semakin tercampur aduk, perasaan hangat menyenangkan yang membuat perutnya melilit dan kegelisahan yang ia tahan sehari ini.

Jaejoong diam seperti patung tak bernyawa, ia tahu berkali-kali Yunho melirik padanya. Namun rasa sesak di dadanya menahan Jaejoong untuk balas menatap pemuda yang menyempurnakan hidupnya sejak beberapa bulan lalu. Mata Jaejoong bergulir kedepan saat mobil yang dikendarai Yunho berjalan melambat dan langit malam Seoul berganti dengan atap-atap lantai parkir.

Yunho mengambil spot yang tertera dalam kartu parkir yang ia terima dan mematikan mesin mobil. Jaejoong masih tetap diam, menoleh kaget saat lengan Yunho terulur melepaskan safety belt yang dikenakannya dan membuka pintu. Jemari Jaejoong reflek mengepal saat sapuan ibu jari Yunho yang menemaninya selama perjalanan meninggalkan tempatnya.

Pemuda itu melangkah mengitari mobil dan membuka pintu untuknya. Kini bukan hanya ibu jari Yunho, seluruh jemari pemuda itu bertaut erat dengan miliknya. Menggenggam tangan Jaejoong sambil terus melangkah meninggalkan deretan mobil yang berjejer rapi.

Alis Jaejoong sedikit mengerut saat sadar bahwa Yunho membawanya ke pusat perbelanjaan yang terletak tidak jauh dari rumahnya di tengah kota Seoul. Dengan langkah ragu Jaejoong mengikuti ayunan-ayunan pasti Yunho. Mereka memasuki kedai es krim yang sering menjadi langganan Jaejoong bersama Junsu dan kadang-kadang Changmin.

Yunho mendudukkannya pada salah satu kursi yang kosong dan berjalan ke counter untuk memesan. Rasanya seperti de javu bagi Jaejoong. Memandangi Yunho yang mengantri untuknya membuat Jaejoong teringat akan kencan pertama mereka, hari dimana Yunho menyatakan kepemilikannya yang diterima Jaejoong dengan senang hati.

Punggung itu masih punggung yang sama, masihlah seorang pemuda yang sama. Punggung tegap yang hanya dengan menatapnya saja Jaejoong merasa tenang dan aman. Punggung yang begitu nyaman dijadikan penopang kapanpun Jaejoong merasa lelah. Rasanya meskipun seluruh dunia memusuhinya punggung tegap itu akan tetap berada di depannya, melindungi Jaejoong, mengamankannya.

Dan mata Jaejoong kembali memanas bukan oleh rasa gelisah, namun rasa bersalah. Sangat tidak adil saat Yunho memperlakukannya bak ratu dan ia meludahi wajah Yunho dengan tuduhan tidak berarti. Sangat kekanakan bagaimana ia begitu egois menyembunyikan Yunho dari dunianya sementara pemuda itu justru memuja Jaejoong layaknya ia adalah dunia bagi Yunho.

Jaejoong memberikan tembok besar yang mengurung Yunho dalam lingkup kecilnya sementara pemuda itu menyerahkan seluruh semesta miliknya. Sangat kejam, karena bahkan setelah semua perlakuannya yang mungkin menyakiti Yunho pemuda itu tetap berjalan kearahnya tanpa mempedulikan serpihan rasa egois yang ia tebar di sepanjang jalan.

Jaejoong menyapu lelehan hangat dari pelupuk matanya. Merasa begitu buruk dan tidak punya hati. Yunho memang tidak pernah mengeluh dan hanya akan tersenyum saat Jaejoong menolak segala bentuk kebersamaan yang diinginkan kekasihnya. Menuruti segala keinginan Jaejoong tanpa mempedulikan hatinya sendiri.

Jemari Jaejoong saling memilin diatas meja. Pernahkah ia berpikir tentang perasaan Yunho ? tentang hatinya ? tentang keinginan-keinginan Yunho yang dipendam demi kebahagiaannya ? kebahagiaan apa yang pernah ia berikan pada pemuda itu ? apa yang pernah ia berikan pada Yunho ? pernahkah sekali saja Jaejoong bertanya apa yang diinginkan Yunho ? apa yang membuatnya senang ? apa yang membuatnya marah ? atau apa yang membuatnya takut ?

Jaejoong hanya sibuk dengan dunianya sendiri, dengan segala persepsi dan sudut pandangnya tanpa peduli mungkin saja ia sudah menusuk Yunho ribuan kali dengan kalimat-kalimat yang dilontarkan bibirnya. Bagaimana jika suatu hari Yunho mulai lelah padanya ? bagaimana jika Yunho menemukan gadis yang akan memperlakukan Yunho dengan sama berharganya ?

Dahi Jaejoong menunduk menempel pada permukaan meja yang dingin. Menangis tanpa suara, merasa jijik dengan segala keegoisannya sendiri. Dekapan telapak tangan hangat yang Jaejoong hafal di sisi wajahnya membuat satu isakan Jaejoong lolos dari bibirnya, lalu disusul dengan isakan lain yang lebih keras hingga bahu Jaejoong bergetar.

Yunho duduk merapat, lutut mereka bersentuhan dibawah meja. Tangannya memberikan pijatan-pijatan lembut di tengkuk kekasihnya, membiarkan cup es krim berembun di atas meja, tidak tersentuh. Yunho tidak tahu kesalahan yang ia buat begitu besar hingga Jaejoong menangis tersedu di tempat umum. Melihat pundak kecil Jaejoong bergetar tersendat karena tangis meremukkan jantung Yunho hingga aliran darahnya seolah terhenti.

"Maaf" bisiknya pelan "Apapun yang aku lakukan maafkan aku" rencananya kesini adalah membuat Jaejoong berhenti merajuk dengan membelikan satu cup jumbo es krim vanilla seperti saran ibunda gadis kesayangannya itu.

Isakan Jaejoong bertambah kencang hingga penjaga kasir sempat menoleh pada meja mereka dan kembali sibuk dengan kegiatannya entah apa. Yunho menangkup sisi wajah gadis yang masih setia menyembunyikan wajahnya semakin erat, bibirnya bergumam pelan menenangkan kekasihnya. Keadaan yang lumayan sepi membuat Yunho sedikit lega, setidaknya tidak ada mata yang menatap mereka ingin tahu.

Yang Yunho tidak tahu, kata maaf darinya justru semakin meledakkan rasa bersalah yang tersulut dalam diri Jaejoong. Dengan kedua tangan mungilnya ia tangkup telapak tangan Yunho "Maafkan aku" bisiknya serak "Aku cinta Yunnie, jangan tinggalkan aku"

Yunho menatapnya bingung, menyapu air mata di wajah Jaejoong dengan jari-jari panjang. "Siapa yang akan meninggalkanmu ?" menatap mata sembab Jaejoong Yunho tersenyum manis "Aku juga mencintaimu, jadi kenapa aku harus meninggalkanmu ?"

Kini Jaejoong mengistirahatkan sisi wajahnya pada telapak tangan Yunho yang terbuka "Karena aku sudah begitu jahat selama ini. Dan mungkin saja Yunnie bosan dan memilih gadis lain" Jaejoong mencicit kecil hingga Yunho gemas.

Jadi ia didiamkan seharian ini hanya karena itu ? karena Jaejoong takut kehilangannya? Ingatkan Yunho untuk menggigit pipi tembam kekasihnya kapan-kapan "Memangnya apa yang kulakukan sampai kau berpikir begitu hm ?"

"A-aku akan mengatakan semuanya pada Yoochun dan yang lain. Aku tidak ingin kehilangan Yunnie, tapi Yunnie juga harus berjanji tidak akan meninggalkanku ne ?"

Yunho terdiam, kaget mendengar jawaban kekasihnya yang sama sekali tidak berkaitan dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Yunho berdehem "Kenapa tiba-tiba sekali ?" raut bingung Yunho membuat air mata Jaejoong kembali jatuh

"Jadi sekarang Yunnie tidak mau diakui sebagai kekasihku ? apa karena sunbae cantik tadi siang ?" Jaejoong merengek di tengah-tengah acara sesenggukan "Apa sudah terlambat ? sekarang Yunnie lebih menyukai sunbae itu dari pada aku ? eothokkae ? jangan tinggalkan aku" Jaejoong kembali menangis menumpukan dahinya pada permukaan meja.

Yunho bingung antara ingin tertawa melihat cara menangis kekasihnya yang begitu lucu dan frustasi karena sungguh ia sama sekali tidak mengerti apa yang sedari tadi diracaukan kekasihnya itu. Kenapa Yunho harus meninggalkannya sementara ia begitu memuja Jaejoong ? dan sunbae, siapa sunbae-

Ah…. Joy Yunho bersandar dengan raut geli, memperhatikan Jaejoong yang masih terisak di atas meja. Jadi ini semua karena gadis itu cemburu pada Joy ? astaga, Yunho tidak habis pikir apa yang ada dalam kepala si cantik itu. Bisa-bisanya berpikiran Yunho akan meninggalkannya dan beralih pada Joy.

Kepala Yunho turut menunduk, menenggelamkan wajahnya di helaian kelam Jaejoong dengan senyum lebar yang berusaha ia tahan. Berkali-kali mengecup bagian kepala kekasihnya yang dapat ia jangkau, sekaligus mencuri kesempatan untuk menghirup aroma khas Jaejoong.

"Namanya Joy" bisiknya dengan kedua tangan kembali meraih tiap sisi wajah Jaejoong "Aku meminta bantuannya untuk mengerjakan tugas kesenian dan ponselku kehabisan baterai" jelasnya tanpa berusaha menutupi apapun. Jaejoong menatapnya dengan mata polos yang makin berbinar karena air mata.

Yunho bertanya-tanya bagaimana mungkin ada gadis yang selalu terlihat cantik dalam keadaan apapun "Aku hanya mencintaimu, tidak ada Joy atau siapapun yang mampu membuatku berpaling. Hanya kau, hanya Kim Jaejoong" menekan pergelangan tangannya yang tertutup tshirt over sleeves berwarna abu gelap dengan lembut pada kedua mata Jaejoong yang reflek tertutup. Menyingkirkan sisa-sisa air mata yang mengotori mata jernih gadisnya.

Semua jarinya menyapu pipi halus Jaejoong untuk menghilangkan bekas-bekas tangis, ya Tuhan wajah Jaejoong sampai memerah karena tangisnya barusan. Memandang Jaejoong tepat di mata lalu mengecup dahinya sejenak.

Jaejoong sama sekali tidak mengerti bagaimana kerja otaknya sendiri. Hanya dengan kata-kata Yunho yang tidak seberapa semua beban yang dipanggulnya seharian seolah hangus menjadi abu. Menghilang, tanpa sisa sedikitpun. Bahkan Jaejoong yakin jika saat ini Yunho berbohong pun ia akan percaya.

"Yunnie masih mencintaiku ?" lirihnya. Senyum tampan Yunho cukup menjadi jawaban tersirat untuk Jaejoong "Masih" jawabnya yakin "Besok juga masih, minggu depan, bulan depan, dan tahun depan juga masih. Selamanya masih mencintaimu"

Jaejoong masih terdiam dengan wajah sembab. Ia bahkan tidak peduli pada sekitar, mengabaikan kenyataan bahwa beberapa saat lalu baru saja menangis dengan memalukan di tempat umum. Yang menjadi fokusnya hanya wajah tampan sang kekasih yang setia memandangnya.

Bahu Jaejoong merosot turun, lega. Ia tahu Yunhonya, masihlah Yunho yang sama dengan Yunho yang meminjamkan handuk dipertemuan pertama mereka. Dan Jaejoong tidak butuh hal lain untuk membuat hatinya berbunga. Masa bodoh dengan siapapun gadis di luar sana yang mencoba merebut Yunho darinya. Karena pria itu sudah memberikan seluruh hatinya pada Jaejoong seorang.

Membalas senyum Yunho Jaejoong melipat kedua tangan dan menumpukan dagunya disana. Sama sekali tidak ingin kehilangan menatap wajah Yunho yang tidak dilihatnya seharian.

Dengan kedua tangan yang ikut terlipat rapi di atas meja, Yunho meraih cup es krim menggoda yang sempat dilupakan kehadirannya. Dengan senyum simpul Yunho memasukkan sesuap besar benda manis yang melumer begitu menyentuh lidahnya.

Jaejoong mengangkat wajahnya matanya bergantian menatap Yunho dan cup es krim "Yunnie~ bukannya itu untukku ?" wajahnya miring ke satu sisi.

Bibir Yunho terkatup rapat, menahan diri untuk tidak menyambar bibir kekasihnya yang tengah memasang pose imut hingga perut Yunho melilit geli. Disendoknya es krim vanilla dan menyodorkannya di depan mulut Jaejoong.

Bahu Jaejoong terangkat geli merasakan sensasi dingin dalam mulutnya, bermenit selanjutnya dihabiskan Yunho degan suapan-suapan es krim ke mulut kekasihnya. Begitu habis rona wajah Jaejoong telah kembali seperti sebagaimana yang biasa terlihat.

Gadis itu terlihat riang menggandeng lengannya menyusuri deretan-deretan berbagai macam butik dan resto sebelum memekik tertahan. Membuat Yunho yang sedari tadi berjalan santai sambil merasakan hangatnya tangan mungil Jaejoong berbalik menatap kekasihnya yang berhenti selangkah di belakang.

"Kenapa sayang ?" Yunho mengikuti arah pandang Jaejoong dengan alis berkerut saat tidak melihat apapun selain sebuah butik dengan brand terkenal yang sering Yunho lihat papan iklannya.

"Kau ingin membeli baju Joongie ?"

Gadis itu menghentakkan kakinya kesal "Bukan" Yunho semakin bingung dibuatnya "Kau melihat seseorang yang kita kenal ?" mata Yunho memicing mencoba melihat dengan lebih teliti

"Bukan Yunnie, lihat" jemari Jaejoong merujuk pada bayangan mereka yang bersisian. Terlihat begitu cocok satu sama lain hingga Yunho tersenyum. Tunggu sebentar-

Berdehem Yunho mengalihkan pandangan dan kembali menarik tangan Jaejoong untuk berjalan, bahunya bergetar menahan tawa. "Kau menertawakanku ?" kepalan mungil tangan Jaejoong yang bebas menyapa bahunya, sontak Yunho melepaskan tawa tanpa berniat menghentikannya.

Bagaimana mungkin ia tidak sadar jika kekasihnya itu hanya menggunakan piyama. Dibelakangnya Jaejoong merengek agar segera meninggalkan tempat ramai ini sebelum orang-orang memperhatikannya. Astaga begitu konyolnya mereka. Pantas saja sedari tadi Yunho merasa beberpaa orang yang bersimpangan melirik mereka.

Diraihnya kepala Jaejoong hingga wajahnya tenggelam di dada Yunho, pemuda itu masih saja tertawa apalagi mendengar gerutuan tertahan Jaejoong dalam dekapannya. Berjalan menuju lift dengan kepala Jaejoong dalam kungkungan lengannya, terseok lucu.

Jaejoong bersenandung lucu di dalam mobil, mengikuti lagu anak-anak yang entah kenapa ada di playlist mobil Yihan. Yunho hanya menyetir dengan santai sambil sesekali menoleh pada kekasihnya. Mobil yang dikemudikan Yunho menepi saat melihat penjual teopokkie, sundae dan kue ikan. Segera saja Yunho turun dan memesan beberapa untuk dibungkus. Jaejoong membuka kaca mobil memperhatikan Yunho, masih dengan lantunan lagu The Three Bears yang kini mengalun.

Memiringkan kepala Jaejoong baru sadar kalau punggung Yunho begitu lebar, dan hangat. Jaejoong terkikik seperti beruang.

Pemuda itu kembali masuk dan meletakkan berbagai makanan hangat khas Korea yang memicu air liur Jaejoong. Diambilnya satu tusuk sundae dan melahapnya riang. Memastikan kondisi jalan mobil Yunho kembali meluncur di jalanan mulus.

Uluran makanan dari Jaejoong ia lahap dalam sekali suapan. Masih pukul delapan, dan Yunho belum berencana untuk pulang. Jadi Yunho menghidupkan GPS dan mengetik tempat yang ingin ia kunjungi sejak beberapa munggu lalu.

Melaju tanpa hambatan lima belas menit kemudian mobil Yunho berhenti memasuki pelatan sebuah rest area. Sejenak Jaejoong menganga menatap keramaian kota di bawah sana. Yunho memarkir mobilnya disebuah rest area yang terletak di perbukitan. Hingga Jaejoong buru-buru turun dengan bungkusan kue ikan masih ditangannya.

Lampu-lampu kota bagaikan bintang yang bertebar, dan Jaejoong seolah berada jauh di atas langit. Ia bahkan baru tahu ada tempat seperti ini di kota. Yunho merangkul pinggangnya untuk duduk di satu set bangku yang terletak sedikit di tepi. Dibatasi dengan palang besi berwarna hijau.

"Duduklah, aku akan membeli minum untuk kita" usapan Yunho dikepalanya ia abaikan. Saat ini tidak ada yang lebih memikat Jaejoong selain gugusan bintang cahaya dibawahnya. Jaejoong berpegang erat di palang pembatas dan menumpukan dagunya disana. Tidak peduli akan dingin besi yang menusuk, Jaejoong merasa momen ini sungguh salah satu momen paling sempurna dalam hidupnya.

Yunho kembali dengan dua cup minuman hangat, Jaejoong menerimanya dengan gembira begitu aroma susu vanilla meraba penciumannya. Yunho duduk merapat padanya, membuat tubuh keduanya menguarkan hawa hangat untuk satu sama lain.

"Ini indah sekali, aku yang sejak kecil tinggal disini bahkan tidak tahu kalau ada tempat seperti ini" Yunho terkekeh, merapikan rambut kekasihnya yang tertiup angin nakal

"Aku tahu tempat ini dari buku turis yang dibawa papa beberapa waktu lalu" lengan Yunho beralih merangkul bahu Jaejoong. Dengan senang hati gadis itu meletakkan gelasnya di meja dan melingkarkan tangannya di sekeliling pinggang Yunho tanpa mengalihkan pandangannya dari keindahan Seoul di malam hari.

Bibir Yunho beberapa kali mengecup kepalanya sebelum diganti dengan usapan-usapan tangan besar Yunho "Ini adalah hari paling sempurna dalam hidupku" ia mendongak menatap Yunho dengan wajah cerah

"Hidupku juga" sahut si pemuda. Cahaya bulan dan penerangan membuat wajah Jaejoong begitu terbias sempurna. Yunho bersyukur masalahnya dengan Jaejoong hari ini selesai tanpa berlarut-larut. Yunho bisa gila jika kekasih manisnya ini mendiamkannya lebih lama.

Setitik rasa bangga menodai kilatan mata Yunho saat sadar kekasihnya ini merasa cemburu dengan kehadiran gadis lain disisinya. Mulai saat ini Yunho berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu memprioritaskan Jaejoong diatas segalanya. Hingga gadis itu tidak perlu khawatir dan bertanya-tanya.

Diraupnya dagu sang kekasihn hingga gadis itu memejamkan mata saat bibir Yunho menyapa miliknya. Malam yang sempurna. Jantung Jaejoong meledak-ledak. Ini adalah tempatnya, semua yang dirasa tepat untuknya, berada dalam dekapan Yunho dan merasakan kehangatannya sepanjang malam.

TBC~

Nyahaaaaaa… ini banyak word ya.. banyak word… demi kalian reader cakepku tercinta :* :* :*

Sayang banget deh kalo kalian mulai kepo gitu hehehe… buat yang penasaran soal Joy terjawab sudah ya… dia bukan pengganggu –di chap ini- wkwkwkwk…

Sumpah ini lama-lama meleleh sendiri kalo bayangin itu bocah berdua mesra-mesraan mulu TT oh ya buat yang suka nanyain acc watty hehehe kayaknya buat sementara belum dulu deh. Mungkin nanti kalau yg di ffn ini udah tamat. Di re upload di wattpad :D

Kalau ada yang baca XD

Sejujurnya saya lebih nyaman di ffn karena ya… karena lebih nyaman *apaan sih*

Yaudahlah daripada makin gajelas, cukup sekian. *bow

So~ berminat meninggalkan jejak ?