SECRET

BTS fanfiction

KookV

Rating: T-M

Pairing: Jungkook (seme) X V or Kim Taehyung (Uke)

Warning: BL, M-preg, Typo

Cast: All BTS member and other

Halooo ini chapter sepuluh selamat membaca maaf atas segala kesalahan terima kasih atas kesediaan para pembaca membaca cerita saya. Happy reading all….

Previous

Mengumpat di dalam hati, padahal sudah sekuat tenaga Taehyung menahan isakannya tetap saja satu isakan lolos. "Taehyung apa kau baik-baik saja?!" Pertanyaan cemas Jungkook, Taehyung berdiri dari kursi kerjanya, memutar tubuhnya, memunggungi Jungkook. Berharap Jungkook membaca tindakannya sebagai penolakan dan pergi.

Salah, karena tangan besar Jungkook memegang kedua bahunya dan memutar tubuhnya. Membuat mereka berhadapan. "Apa kau menangis Tae?" Suara Jungkook terdengar lembut, hangat, dan penuh perhatian.

Taehyung memilih untuk tidak menjawab pertanyaan Jungkook, namun dia tidak tahu apa yang menggerakkan tubuhnya. Hingga membuatnya memeluk tubuh seorang Jeon Jungkook erat.

"Sssstttt…., semua akan baik-baik saja Tae, aku berjanji padamu." Bisik Jungkook sambil melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Taehyung, sesekali mengusap lembut punggung Taehyung untuk memberinya sedikit ketenangan.

BAB SEPULUH

Pelukan itu terasa hangat dan nyaman. Taehyung ingin menarik dirinya, menghindari Jungkook. Dia hanya takut jatuh untuk kedua kalinya dalam pesona seorang Jeon Jungkook, dan Taehyung belum siap untuk semua itu. Taehyung masih sadar dimana posisinya sekarang, siapa Jungkook sekarang.

Sementara Jungkook tidak tahu apa Taehyung akan menerimanya dengan tangan terbuka atau penolakan menyakitkan lain yang akan didapatnya. Satu hal, Jungkook hanya ingin mendapatkan jawaban dari Taehyung, sekarang atau tidak sama sekali.

Perlahan kedua tangan Jungkook yang berada di punggung Taehyung terlepas, kedua tangan itu lantas bergerak ke atas membingkai wajah Taehyung. Perlahan, membuat wajah Taehyung terangkat dan Jungkook bisa melihat dengan jelas. Kedua mata sembab Taehyung, kedua pipi basah Taehyung terlihat jelas sekarang.

"Maaf aku tidak selalu ada untukmu, maaf karena aku mengambil semua impianmu, maafkan aku. Aku tidak tahu apa ucapan maafku ini cukup. Aku tahu aku tidak bisa memperbaiki semuanya. Taehyung….," Jungkook menjeda kalimatnya.

Jungkook bukan seorang penakut, namun berbicara dengan Taehyung mencurahkan semua isi hatinya, ternyata begitu menakutkan, nyaris membuat kedua lututnya gemetar. "Bisakah kita mulai semuanya dari awal? Aku tidak memaksamu jika kau tidak suka. Kau tidak perlu mencintaiku lagi, kau tidak perlu menerimaku. Aku hanya ingin…, aku ingin dekat denganmu dan Youngjae. Aku rindu senyumanmu saat kita bertemu dulu, maksudku—aku tidak ingin setiap kali kita bertemu kau memandangku seolah kau siap membunuhku. Mungkin kau memang menginginkannya…,"

"Tidak." Potong Taehyung. "Tentu saja aku tidak ingin membunuhmu." Berusaha untuk terdengar jelas ditengah isakan tertahannya, Taehyung melanjutkan ucapannya. "Mungkin aku pernah memikirkannya dulu. Saat melihat semua orang yang berhasil mewujudkan impian mereka, atau saat aku mengalami masa-masa sulit dengan Youngjae. Aku berharap kau menderita. Maaf, aku sempat memikirkan hal itu tentangmu."

Jungkook tersenyum perih. "Kau tidak perlu meminta maaf, aku tidak menyalahkanmu. Kau bisa membenciku sebanyak yang kau inginkan Kim Taehyung." Jungkook tidak tahu kapan dirinya mulai menangis, hingga dia tak sengaja menatap pantulan bayangannya dari lemari penyimpanan berpintu kaca, di belakang tubuh Taehyung.

Mungkin menyedihkan, namun Jungkook tak peduli apapun sekarang. Dia hanya ingin mengatakan semua isi hati dan pikirannya kepada Taehyung. "Kau bisa membenciku sebanyak yang kau inginkan, jika itu membuatmu lebih baik, jika itu bisa memperbaiki semuanya. Mungkin tidak semuanya, hanya sedikit. Hanya sedikit aku tidak meminta lebih."

Taehyung menundukkan kepalanya kembali. Jungkook bisa mendengar tawa pelan Taehyung sebelum wajah Taehyung kembali terangkat, dan mereka bertatapan. "Sebenarnya—aku tidak tahu situasi seperti apa yang harus diperbaiki di antara kita atau bagaimana memulainya. Semua seperti benang kusut di dalam kepalaku. Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi denganmu, aku tidak mempersiapkan apapun. Saat aku pergi, aku sudah melepaskan semuanya. Impianku, kehidupanku, harapanku, dan kau."

"Kau berada pada situasi yang tak bisa kau kendalikan."

"Ya." Taehyung membalas singkat.

"Aku mencintaimu Taehyung, aku masih mencintaimu hingga detik ini."

"Jika—seandainya malam itu aku datang padamu dan mengatakan semuanya. Apa yang akan kau lakukan Jungkook?"

"Mengatakan jika kau mengandung anakku?"

Taehyung mengangguk lemah. Jungkook menatap kedua mata Taehyung lekat. "Aku akan ketakutan, tapi aku tidak akan pergi."

"Benarkah?" suara Taehyung terdengar ragu.

"Aku tidak akan pergi. Sekarang jika kau memilih kembali padaku tapi kau merasa ragu karena statusku sebagai idol, aku akan meninggalkan semuanya untukmu. Aku serius Kim Taehyung, jangan tersenyum meremehkan. Aku bukan remaja lagi."

"Kau hanya dewasa di usia Korea."

"Apa yang bisa aku lakukan agar kau mencintaiku?"

Taehyung tersenyum tipis, kedua tangannya menggenggam kedua pergelangan tangan Jungkook. Melepaskan tangan itu dari wajahnya, melangkah mundur menjauhi Jungkook. "Aku mencintaimu, kemarin, hari ini, dan mungkin untuk hari-hari selanjutnya. Tapi rasanya sulit untuk melihatmu seperti yang dulu Jungkook. Cinta saja tidak cukup, maafkan aku."

"Jika aku menemukan orang lain?"

"Aku akan berbahagia untukmu."

"Apa kau benar-benar sudah menutup hatimu?"

"Jika kau berada di posisiku, kau akan paham tentang pilihanku."

"Apa aku menyakitimu begitu dalam?"

Taehyung menggeleng cepat. "Bukan kau yang melukaiku, tapi cintamu yang melukaiku. Dan aku tidak siap untuk memulai semuanya lagi, denganmu atau dengan orang lain."

Jungkook membiarkan lebih banyak air mata keluar membasahi wajahnya. "Aku—tidak tahu apa harus merasa lega atau sedih. Kau tidak memberiku kesempatan, begitu juga dengan orang lain."

"Kau bisa memikirkan apapun yang kau inginkan Jeon Jungkook."

"Taehyung, aku tidak tahu kenapa kau membangun dinding yang begitu kokoh di hatimu. Aku takut memikirkan bagaimana akhir cerita ini, aku sudah berusaha untuk menjangkau hatimu….,"

"Mungkin hatiku sudah membeku. Pergilah aku sudah mendengar semua yang ingin kau katakan."

"Baiklah aku akan pergi. Aku akan melakukan semua yang kau inginkan." Ucap Jungkook nyaris berbisik. Taehyung menggigit pelan bibir bawahnya sembari menundukkan kepalanya, ia hanya tidak sanggup melihat wajah sedih dan kecewa Jungkook.

Jungkook mendekat cepat tanpa Taehyung sadari memeluk pinggang Taehyung, membuatnya tidak bisa menghindar atau bergerak pergi. "Kau bisa terus menolak dan menghindariku Kim Taehyung, tapi aku tidak akan menyerah untuk memintamu kembali."

Taehyung hanya bisa terperanjat mendengar keseriusan dalam nada bicara Jungkook. Dan diapun masih terpaku di tempat ketika Jungkook dengan cepat menunduk, dan mengecup singkat bibirnya sebelum akhirnya dia benar-benar pergi dari hadapan Taehyung.

.

.

.

"Kenapa kalian lama sekali?!" SeokJin berteriak marah. Suga dan Jungkook hanya diam sambil menulikan kedua telinga mereka. "Apa kalian benar-benar bosan berada di ruang latihan?! Kami bertiga juga bosan!"

"Maaf." Ucap Suga, hal yang sangat mengejutkan. Biasanya Suga akan bersikeras meski dirinya salah. "Aku salah, maafkan aku Hyung."

SeokJin masih terlihat marah, wajahnya bersemu merah menahan semua emosi. Namjoon yang seharusnya menjadi ketua justru menutup mulut. Namjoon dan siapapun tidak akan berani jika yang tertua sudah marah. "Kita lanjutkan diskusi dan latihan kita setelah semuanya tenang." Namjoon berusaha menengahi, ia lantas menarik tangan kanan SeokJin meninggalkan ruang latihan.

"Kami menunggu kalian berdua sangat lama." Ucap Hoseok, dia yang biasanya selalu tertawa dan bertingkah konyol kali ini berubah serius. "Bisakah kalian menempatkan urusan BTS di atas urusan pribadi kalian?"

"Maaf." Jungkook melempar tatapan penuh penyesalan. "Aku menemui Taehyung dan kami terlibat pembicaraan serius."

"Aku tahu kau memiliki banyak hal yang harus diselesaikan dengan Taehyung, aku tidak menyalahkanmu hanya saja—jangan lupakan kami."

Jungkook menggeleng pelan. "Aku tidak akan mengorbankan BTS." Ucapnya kemudian tersenyum tipis.

Hoseok tersenyum, ia memang tidak bisa marah dalam waktu yang lama. "Kurasa Suga hyung tidak akan mengatakan apapun meski aku paksa, sepuluh menit lagi kurasa SeokJin hyung dan Namjoon kembali. Aku ingin keluar sebentar, kirimi aku pesan jika mereka kembali."

"Tentu." Jungkook yang membalas sedangkan Suga memilih diam.

Mendudukan dirinya bersandar pada dinding ruang latihan, tak lama Jungkook menyusul dan duduk di sisi kiri tubuh Suga. Hanya mereka berdua di dalam ruang latihan. "Ada sesuatu yang mengganggumu Hyung?"

"Tidak."

"Jangan bohong, wajahmu itu benar-benar kusut."

"Jimin sial setelah aku memeluknya dan mengatakan isi hatiku dia justru pergi, lain kali aku pukul wajah tampannya itu." Batin Suga kesal.

"Hyung kenapa melamun?!" Jungkook memanggil Suga sedikit keras sambil menarik lengan kiri Suga.

"Siapa yang melamun!" teriak Suga bukannya takut Jungkook justru tertawa melihat ekspresi wajah Suga.

"Jelas sekali, apa yang mengganggumu Hyung?"

"Tidak ada!" Ketus Suga sambil berdiri. "Hubungi aku jika SeokJin hyung dan Namjoon datang."

"Kemana?!" Jungkook berdiri cepat berniat menghalangi Suga.

"Butuh udara segar." Balas Suga sebelum berlari cepat menuju pintu ruang latihan.

"Aku ditinggalkan sendiri….," gerutu Jungkook sebelum memutuskan untuk duduk, bersandar pada dinding ruang latihan. Dan entah akan melakukan apa sembari menunggu semua member kembali.

.

.

.

"Hai."

"Apa?!" Ketus Suga saat dirinya tak sengaja berpapasan dengan ketika meninggalkan ruang latihan.

"Aku sudah memikirkannya dengan serius. Baiklah, aku ingin memulainya denganmu Suga hyung."

"Tidak." Tegas Suga.

Jimin terperanjat. "Ke—kenapa begitu?"

"Pasti kau menerimaku karena tidak ada harapan dengan Taehyung kau harusnya langsung menjawab di toilet tadi bukannya pergi begitu saja dan membuatku berdiri di sana seperti orang bodoh padahal aku ini jenius dalam musik dan kau satu-satunya orang yang membuatku bertingkah di luar perhituanganku membuatku hilang kendali dan melakukan sesuatu yang sangat memalukan seperti menyatakan perasaanku dan…..hmmmphh."

Jimin menghentikan racauan Suga dengan sebuah kecupan di bibir. Kedua mata sipit Suga membola, Jimin tersenyum lebar, membuat kedua matanya tertarik ke samping. "Untuk orang sekecil dirimu kau cerewet juga Hyung."

"A—apa?" Suga menatap Jimin sambil mengerjap-ngerjapakan kedua matanya lucu.

"Hyung kau lucu." Gemas Jimin sambil menarik kedua pipi Suga.

Suga menarik lepas kedua tangan Jimin dari pipinya. "Kau mengatakan aku kecil? Maksudmu pendek?!" Teriak Suga.

"Ah bukan seperti itu Suga hyung bukan seperti itu!" Panik Jimin.

"Kurang ajar kau mengataiku pendek kemudian mencium bibirku tanpa permisi. Jimin!" Dengan beringas Suga menyerang Jimin, menariki rambut hitam lebat Jimin.

"Hyung sakit! Astaga hentikan!" Sambil berteriak-teriak Jimin mencoba melepaskan tangan Suga dari rambut malangnya. "Bukannya Suga hyung mencintaiku?! Jadi aku pikir tak masalah menciummu Hyung."

"Kurang ajar! Dasar tidak sopan kau bocah ingusan!"

"Ampun Hyung, aduh! Tenagamu besar juga Hyung. Lepaskan rambutku Hyung….," rengek Jimin, Suga tidak peduli karena dia masih sangat kesal ciuman pertamanya diambil dengan cara yang benar-benar murahan oleh seseorang yang lebih muda darinya.

.

.

.

"Sebenarnya—aku tidak tahu situasi seperti apa yang harus diperbaiki di antara kita atau bagaimana memulainya. Semua seperti benang kusut di dalam kepalaku. Aku tidak pernah berpikir akan bertemu lagi denganmu, aku tidak mempersiapkan apapun. Saat aku pergi, aku sudah melepaskan semuanya. Impianku, kehidupanku, harapanku, dan kau."

Semua kalimat Taehyung terlintas di dalam pikiran Jungkook. Membuatnya kembali kehilangan arah dan merasa putus asa. Di sisi lain ia ingin mendapatkan Taehyung namun adakalanya ia ingin melepaskan Taehyung. Apa Taehyung tidak mengerti, bukan hanya dirinya yang menderita? Kenapa Taehyung begitu keras menolak kehadirannya? Padahal jelas-jelas Taehyung mengatakan cinta.

"Kim Taehyung, terima kasih sudah membuatku berantakan." Jungkook bergumam pelan. Jungkook bergegas berdiri dari duduknya ketika mendengar derit suara pintu ruang latihan. "Sudah kembali Hyung, maafkan aku Hyung aku tidak akan….," menggantung kalimatnya karena seseorang yang ia sangka sebagai SeokJin dan Namjoon ternyata Taehyung.

"Apa aku mengganggumu?"

Masih terkejut, Jungkook hanya mampu menggeleng pelan. Taehyung mendekat dengan tangan kanan memegang ponsel, dan Jungkook bisa mendengar suara tangis dari ponsel Taehyung.

"Youngjae merajuk dia ingin berbicara denganmu, ibuku sudah mencoba membujuknya. Dia menangis hampir satu jam dan bisakah kau….,"

Tanpa menunggu Taehyung menyelesaikan kalimatnya, Jungkook langsung menyambar ponsel di tangan Taehyung, memunggungi Taehyung dan mulai berbicara dengan Youngjae.

"Bisakah kau berbicara dengan Youngjae dan mencoba menenangkannya." Taehyung berucap pelan, melanjutkan kalimatnya yang tertunda tanpa diketahui oleh Jungkook.

"Hai Jae."

"Kookie! Kookie Kookie Jae lindu Kookie."

"Kenapa menangis? Kenapa jadi nakal?" Jungkook bertanya dengan suara lembut.

"Jae tidak nakal!" Youngjae berteriak di seberang, membuat Jungkook harus menahan tawa mendengar lengkingan suara lucu Youngjae.

"Jae membuat Nenek sedih karena merajuk. Kenapa?"

"Nenek dan Tae jahat!"

"Nenek dan Tae jahat? Apa Nenek dan Tae mencubit Jae?"

"Jae tidak boleh pakai popok lagi."

Jungkook langsung memutar tubuhnya dan menatap Taehyung. Taehyung menatap bingung. "Tae tidak boleh pakai popok lagi?" Ulang Jungkook.

Taehyung melempar tatapan datar. "Dia sudah besar dan harus belajar menggunakan toilet." Balas Taehyung dengan nada malas.

"Jae sudah besar, popoknya harus dilepas. Jae ingin melindungi Nenek dan Tae kan?" Jungkook mungkin berbicara dengan Youngjae namun kedua matanya menatap lekat wajah Taehyung. "Setelah besar, Jae harus melindungi Tae. Memastikan tidak ada siapapun yang membuat Tae menangis, membuat Tae selalu tersenyum. Ya, Jae harus melakukannya karena—karena Kookie tidak bisa membuat Tae tersenyum, karena Kookie selalu membuat Tae menangis dan bersedih."

"Jika Kookie nakal pada Tae, Jae akan mencubit Kookie."

"Ya. Jae bisa mencubit Kookie sebanyak yang Jae inginkan."

"Jae akan jadi besal, Jae tidak akan pakai popok lagi."

"Itu baru benar sudah jangan nakal lagi, Kookie sayang Jae, sampai jumpa Sayang."

Ketika Jungkook menurunkan ponselnya, Taehyung tahu di seberang sana ibunya pasti sudah memutus sambungan telepon Jungkook dan Youngjae. Menelan ludah kasar, Taehyung mengulurkan tangan kanannya. Menghindari tatapan Jungkook. "Terima kasih sudah menenangkan Youngjae."

"Kau tidak perlu sungkan meminta bantuanku, aku ayah Youngjae apa kau lupa hal itu?"

"Hmm." Taehyung hanya menggumam, mengambil kembali ponselnya dan bersiap untuk pergi. Jungkook menahannya dengan memeluk pinggang Taehyung. "Jungkook lepas."

"Aku mencintaimu."

"Beri aku ruang untuk bernapas." Taehyung berucap pelan, dan ucapannya itu berhasil membuat Jungkook menyerah dan melepaskan pelukannya. Tanpa menoleh ke belakang Taehyung berjalan meninggalkan ruang latihan.

TBC

Terima kasih untuk semua pembaca, terima kasih untuk review kalian amandayupi, Linkz account, Hastin99, Sasaya chan, ranran, gouhope, Anonym, maiolibel, njymvkh, funf, Taetae22, taelien, ayalien, GaemGyu92, dpramestidewi, Gummysmiled, kimjihyeonie, purplesya, Yuko384, VampireDPS, Clou3elf, Rizuku, Yeoja821, Tikha Semuel RyeoLhyun, Dwimin chan, Asmaul, catpill, braveyoon, exoinmylove, athensvt, whalme160700, srirahayuKookV, juney532, rahma12desti, Kyunie, retiana. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.