Disclaimer- HETALIA © Hidekazu Himaruya
Genre- Friendship, Romance, supernatural (?)
Rating- T ah tidak M…M apa T yah…. kebimbangan melanda.
Pairing- NethxfemNesiaxAus, IvanxYao...
Warning- OOC, Typo(s), gaje, Yaoi tapi dikit
SHE'S BACK
.
.
Chapter 10
.
.
"Tunggu dulu, maksudmu apa, da."Tampak keterkejutan diwajah Ivan, menatap Yao.
"Maksudnya adalah, Nee-Chan tidak mungkin bisa bersama dengan orang yang akan menikah." Sahut Nesia, memeluk Yao yang tersenyum mencium pipinya.
"A-APA YANG KALIAN LAKUKAN‼" Teriaknya kaget, melihat ulah dua orang di hadapannya.
"Kau berisik sekali, da ze," Sahut Yong menatap Ivan "Sebaiknya kau bersiap, da ze. Dia sudah siap menunggumu di altar," entah darimana, dia tiba – tiba sudah ada.
"M-menunggu? S-siapa?" Kebingungan jelas terlihat diwajahnya. Menatap sekelilingnya, kini tiba – tiba berubah "a-apa yang terjadi?"
"Selamat ya," Senyum Alfred memandang dirinya "Semoga kalian bahagia." Ujarnya.
Dengan masih kebingungan Ivan memandang sekelilingnya, senyum kebahagian jelas tertera diwajah mereka. Menatapnya dengan penuh kebahagian, tuxedo putih dan dasi kupu – kupu digunakannya. Disampingnya seseorang memegang lengannya dengan penuh bahagia. Ditatapnya gadis di sampingnya yang kini tersenyum senang memandangnya.
"N-n-Natali‼" kagetnya, melihat adik perempuannya memakai gaun pengantin.
"…Akhirnya…kita menikah, брат," Senyum Natalia di sampingnya "menikah." Seringainya senang, membuatnya bergidik ngeri. "Menikah." Ulangnya.
.
"Uahhhhhhhhh‼"Teriaknya terbangun dari tidur dengan napas memburu.
Mimpi buruk, sepertinya tidak hanya dialami oleh Nesia saja, buktinya Ivan pun sama. Dengan tubuh berpeluh keringat dirinya terbangun memandang sekeliling. Sedikit bernapas lega begitu melihat sekelilingnya kini sepi, tidak ada siapa pun selain dirinya.
"Aah…, mimpi, ya," Ucapnya bernapas lega "Syukurlah…"
Bahkan sampai dimimpi pun dirinya yang sedang bermesraan bersama Yao diganggu oleh Nesia dan Yong. Belum lagi adik perempuannya pun ikut masuk ke dalam. Benar – benar mimpi buruk, teramat buruk.
.
Tok…tok…tok…
.
Suara ketukan pintu menyadarkan Ivan dari rasa keterkejutannya. Entah mengapa, tiba – tiba dirinya merasakan firasat buruk. Pintu yang awalnya diketuk dengan pelan makin lama, makin kuat. Membuatnya menarik selimut dengan erat, begitu mendengar suara yang dikenalnya dari luar.
"…брат," Panggil suara dari luar "брат."Suara itu makin keras seiring dengan ketukan yang makin kuat.
Beruntung, pintu kamarnya bukan pintu biasa. Dengan kemampuan yang dimilikinya, dia sudah membuat pintu itu tahan banting dari serangan apa pun. Tapi meskipun begitu, mengingat seperti apa adiknya itu, tetap saja tidak bisa membuatnya tenang. Begitu mendengar suara gedoran yang makin kuat.
.
"Natalia…sedang apa kau di sini?" Tanya Nether, melihat gadis itu berusaha membuka pintu dengan paksa.
"…Bukan urusanmu." Ketusnya, menatap Neth yang mengangguk paham.
Kembali dibiarkannya Natali berusaha membuka pintu. Pintu yang terbuat dari bahan berbeda dari lainnya. Sepertinya Ivan mendapatkan izin khusus untuk itu, mengingat bagaimana dia selalu ketakutan setiap pagi karena ulah sang adik.
"Sebenarnya aku tidak ingin mengganggu kesenanganmu, tapi…," ditatapnya Natalia yang masih menggedor pintu "Kau di cari Kakek Roma."Lanjutnya.
.
Dapat dilihatnya, mata itu beralih meliriknya. Kelihatan tidak suka karena diganggu. sebelum akhirnya kembali menggedor pintu di hadapannya sambil menyebut nama sang kakak berkali – kali. Membuat Nether menghela nafas memandang sahabatnya yang dari tadi diam.
"…Kau tahu kan, kalau orang tua itu tidak suka menunggu lama, Natalia," Ucap Arthur, mengingatkan akan sifat orang no satu di asrama ini. "Sebaiknya kau bergegas, sebelum dia menghukummu seperti dulu."
Kembali tatapan sinis diberikan oleh Natalia pada dua sahabat itu. Sebelum akhirnya pergi meninggalkan kamar Ivan, membiarkan Nether dan Arthur yang memandangnya.
"…Seperti biasa, yah. Kau harus turun tangan dulu," geleng Nether melirik Arthur. "Sepertinya dia paling lemah menghadapimu."
"Menurutmu begitu."Tatap Arthur, membuat Nether tersenyum tidak enak.
.
Dengan cepat dibukanya pintu kamar Ivan. Pintu yang hanya bisa dibuka oleh mereka sahabatnya dan tentu saja Yao. Sepertinya Ivan hanya memberikan akses khusus untuk mereka saja. Terbukti bagaimana susahnya Natalia untuk membuka pintu ini.
"…Sepertinya kali ini, kau harus berterima kasih pada kami." Senyum Nether melihat Ivan tampak kusut.
"Hmm, sepertinya begitu," menghela nafas sejenak, menatap keduanya. "Walau aku berterima kasih atas kedatangan kalian yang membantu ku. Tapi, tidak biasanya kalian kemari sepagi ini?" heran Ivan "Berdua lagi, ada apa?"
Tawa kecil terdengar dari suara Nether yang berada di depannya. Terhenti begitu sikut Arthur mengenai perutnya. Berharap Nether tidak mengartikan macam – macam dari perkataan Ivan barusan.
.
"…Tanya saja padanya!" Suruhnya, tidak mempedulikan Nether yang kesakitan "Aku hanya diminta menemani."
Sedikit heran Ivan pun menatap Nether, dan membiarkan Arthur duduk disalah satu kursi favoritnya tanpa dipersilakan. Benar – benar tamu yang sopan, duduk tanpa disuruh. Sedikit menghela nafas, Nether pun memandang Ivan yang kaget, melihat tatapan sahabatnya berubah menjadi tajam.
"Aku sengaja membawa Arthur kemari, karena ada yang ingin kubicarakan dengan kalian berdua."
"…Apa itu sangat rahasia? Sehingga Aussie dan Alfred tidak dilibatkan dalam hal ini, da?" Tanya Ivan.
"...Hah, aku sengaja tidak melibatkan keduanya, karena Aussie sendiri sedang mencari tahu hal ini," menatap kedua rekannya yang mengernyit heran "soal Alfred kurasa dia tidak perlu tahu," Sambungnya lagi, membuat raut kebingungan jelas terlihat pada keduanya 'Bisa repot nanti, bisa – bisa aku kalah dibuatnya.' Batinnya.
Berbeda dengan Nether yang sibuk membatin, keduanya hanya bisa saling berpandangan. Tidak biasanya mereka main rahasia – rahasian seperti ini. Biasanya mereka saling terbuka, mengenai masalah apa pun. Sepertinya ini benar – benar serius melihat wajah Nether yang menatap mereka tanpa berkedip.
.
.
_#IMY#_
.
.
Tap…tap…tap…
Terdengar suara langkah kaki yang berjalan di lorong sebuah bangunan. Sesaat langkah itu terhenti begitu dilihatnya gadis berambut sama dengan Ivan tepat berada didepannya dan memandangnya datar, atau lebih tepat disebut sinis. Lama keduanya saling bertatapan, sebelum akhirnya keduanya mulai melangkah maju, saling berpapasan.
"…Jauhi dia!" perintah Gadis dengan mata setajam pisau, sebelum akhirnya kembali melangkah.
"Heh, seharusnya kau katakan itu padanya," Sahut gadis berambut hitam, menghentikan satu langkah lawannya "yang mendekati Nii-San ku adalah kakak mu, bukan sebaliknya, kau perlu tahu itu."
"Maksudmu брат? Yang benar saja," Berbalik, mendengar lawan bicaranya tertawa "Apa yang lucu?" Tanyanya sinis, menghentikan tawa palsu lawan bicaranya.
"Menurut mu apa, Na… ta… lia," mengeja nama lawannya dilakukan gadis itu "Kurasa seperti apa pun kau menyangkal sudah jelas. брат tersayangmu itu yang mendekati Nii-San ku yang manis."
.
"Manis? Heh…Kau gila Nesia." Ejeknya sinis.
"Aku gila? Hahaha," tawa Nesia memandang Natalia. " Bukannya yang gila itu kau, seorang adik yang begitu mencintai kakaknya. Bahkan berharap untuk men—."
Kalimat itu terpotong dengan tidak elit, karena sebuah pisau yang terbang ke arahnya. Kaget, sontak bergerak Nesia bergerak menghindar, menatap tajam Natalia. Tatapan yang sama diberikan oleh Natalia pada Nesia. Tatapan permusuhan dan kebencian, tatapan yang sama saat mereka pertama kali bertemu.
"Baiklah ladies, cukup sampai disini." Senyum Alfred, sepertinya akhir – akhir ini lebih cocok menjadi hantu, suka muncul tiba – tiba.
.
Membuat keduanya serentak menoleh, menatap tajam pemuda berkacamata itu. Sayangnya, yang ditatap terlalu bebal untuk menyadari kebencian yang sedang dirasakan oleh dua gadis manis di hadapannya ini. Sebaliknya, tatapan negatif yang diberikan oleh keduanya, dirasakan sebagai tatapan positif.
"Aku tau kalian begitu mengagumiku," senyumnya, membuat kedua gadis itu menatap tidak percaya mendengar kalimat narsis dari pemuda ini. "Jadi hentikanlah pertikaian kalian yang sia – sia itu, karena aku—."
Sungguh, saat itu Alfred merasa dia bercanda di waktu yang salah, begitu dilihatnya rona perubahan pada kedua gadis itu. Sama – sama mengeluarkan aura hitam dan kelam, membuatnya menghentikan perkataannya barusan. Belum lagi, pisau yang ada ditangan Natalia sudah siap meluncur dari tangannya. Benar – benar mengerikan, apa mereka tidak punya selera humor?
.
"Baiklah teman – teman, aku hanya bercanda barusan," cengirnya memandang keduanya "Sebaiknya kalian hentikan dulu perselisihan kalian itu, bagaimana kalau kalian bekerjasama saja, bukankah tujuan kalian sama." berusaha mendamaikan keduanya yang saling melirik.
"Tidak!" Serentak keduanya berkata "Aku tidak sudi bekerjasama dengannya," Kembali keduanya bertatapan "Jangan mengikuti omonganku‼"
Sedangkan Alfred hanya bisa tersenyum tidak enak, mendengar keduanya yang entah mengapa bisa serentak berbicara dari tadi. Apalagi melihat tingkah keduanya yang sudah seperti anak TK. Sama – sama tidak mau mengalah, membuatnya bingung untuk membela siapa.
"…Teman – teman—."
"Aku tidak akan pernah mau bekerjasama denganmu!" Kali ini Natalia menatap Nesia, setelah yakin bahwa mereka tidak akan serentak berbicara "Tidak akan pernah, pada orang yang dengan seenaknya menjadikan брат sebagai taruhan!"
"…Lalu, kau kira aku mau bekerjasama dengan orang seperti mu? Maaf saja aku juga tidak sudi!" Tatapnya balik, dengan tajam " Walau itu berarti aku akan kalah dari Nether, aku tidak akan pernah bekerja sama denganmu."
"Heh, baiklah kalau begitu. Aku dengan caraku dan kau dengan caramu, kita tidak akan pernah saling ikut campur." Sahutnya memandang Nesia.
"Baiklah deal."
.
Berbeda dengan keduanya yang tampak sepakat, Alfred sendiri hanya bisa menghela nafas. Bukankah jika seperti ini, mereka sudah disebut sebagi satu tim. Tim yang sama – sama ingin memisahkan pasangan itu. Yah, walau cara yang akan mereka ambil berbeda, tapi bukankah bisa disebut juga mereka bekerja sama. Terserahlah, asal kedua gadis ini tidak ribut dan menimbulkan masalah, toh dia tidak akan rugi. Bagaimana pun juga, yang terpenting pasangan itu berpisah dan dia menang. Tidak sudi dirinya menjadi anak buah dari sahabatnya sendiri, mengingat seperti apa sahabat – sahabatnya itu.
'Ini akan semakin menarik.' Senyumnya senang, melihat tatapan yang diberikan Natalia padanya. Sebelum akhirnya berjalan pergi meninggalkannya, berdua dengan Nesia.
Untuk sesaat keduanya diam, sibuk dengan pikiran masing – masing. Alfred dengan rencana yang sudah disusunnya dan Nesia dengan pikirannya.
"…Sampai saat ini aku benar – benar tidak mengerti pikiranmu, Al." diliriknya Alfred yang memandang kepergian Natalia dengan senyum manis "Membawa – bawa gadis itu dalam permainan bodoh ini, sebenarnya apa rencanamu?" tidak habis pikir dengan sifatnya.
"Kau mau tau?" menoleh pada Nesia "Bagaimana kalau kau cium aku dulu?" senyumnya tanpa beban.
.
PLAKKKK‼
.
"Auch…‼" Rintihnya, mengadu akan perbuatan Nesia barusan. Walau tidak 100% tenaga yang dikeluarkan. Tetap saja, itu menyakitkan.
"Apa Neth sudah mempengaruhimu sedemikian rupa, Al?" gelengnya melihat Alfred, lalu berjalan pergi.
Sedikit mengelus pipinya, Alfred pun mengejar Nesia " Ya ampun Nes, aku kan hanya bercanda." Ucapnya mensejajarkan langkah.
Nesia mendengar itu pun berhenti. Membuat Alfred ikut berhenti, memandangnya heran "Bercanda?" Tanyanya, menatap Alfred yang seketika merinding "Jadi, tadi itu candaan, begitu?" Tanyanya ulang, menatap dengan tatapan innocent.
Dalam hati, sepertinya Nesia berpikir untuk menjadikan itu sebagai bahan candaan dengan yang lain. Berbeda dengan Alfred yang merasa gadis di hadapannya saat ini bukan Nesia. Niat ingin memeluk tiba – tiba terlintas dipikirannya. Tatapan yang diberikan Nesia padanya sekarang. Mengingatkan akan, pertama kalinya persahabatan mereka terjalin, begitu polos dan murni.
.
"Ahhhh! Maafkan aku! Aku tidak akan bercanda seperti itu lagi!" Peluknya tiba – tiba, membuat Nesia kaget setengah mati akan ulah temannya.
"A-a-apaan sih, Al? Lepas! Gerah tau gak!" kagetnya, berusaha melepaskan pelukan Alfred yang bisa dibilang lumayan kuat itu.
Butuh beberapa detik bagi Nesia, untuk melepaskan pelukan maut sahabatnya. Dengan sedikit paksaan, dalam hal ini pukulan, barulah Alfred melepaskan dan cengingisan memandangnya. Membuat Nesia kembali, memasang wajah amarah. Satu hal yang tidak disadari Nesia, tapi disadari oleh Alfred, seseorang memandang ke arah mereka dengan tatapan tidak suka.
"Berani – beraninya dia‼" Gumam Kiku, menatap lurus ke depan dengan benci.
Membenci atas perbuatan Alfred yang dengan seenaknya memeluk Nesia. Bukan hanya sekedar memeluk, tapi juga memamerkan keakraban mereka. Membuatnya setengah mati untuk tidak menebaskan katana yang dipegangnya saat ini keleher pemuda itu. Diam ditatapnya Alfred yang tersenyum menatapnya sambil memeluk Nesia.
"…Kiku Honda, Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Aussie yang kebetulan lewat.
"Bukan urusanmu!"Ketus Kiku, meninggalkan Aussie yang keheranan akan sifatnya.
'Siapa yang peluk siapa?' Batinnya heran saat tidak sengaja mendengar isi hati Kiku.
.
Lama Aussie mencerna dengan benar apa yang dilihatnya sekarang. Alfred dan Nesia, berduaan dilorong. Pelukan, Alfred, Nesia, sepertinya dia harus menggabungkan ketiga kata itu baru paham. Bahwa yang dimaksud Kiku barusan adalah Nesia dan Alfred berpelukan. Membuatnya mencubit diri sendiri untuk yakin bahwa mereka berdua bukanlah orang yang dimaksud oleh Kiku barusan.
'Nesia dan Alfred? Tidak mungkin!' Gelengnya tidak percaya menolak kenyataan yang ada 'Mungkin aku harus memeriksa kondisi mataku.' Batinnya lagi, menggosok matanya dengan punggung tangan, sebelum akhirnya memilih jalur lain.
Tidak disadarinya Alfred tertawa melihat tingkahnya dan Kiku. Mentertawai kebodohan keduanya, yang satu tampak marah, dan satu lagi bebalnya tidak ketulungan. Sepertinya ini, benar – benar akan menjadi hal yang menarik bagi Alfred. Menambah daftar orang – orang yang akan dilibatkannya dalam permainan bodohnya bersama Arthur dan yang lain.
.
'Ya ampun, bodohnya mereka.' Batinnya tertawa, tidak disadarinya Nesia yang tadi memarahinya, kini menatap heran atas sikap Alfred yang tersenyum sendiri.
'Apa aku memukul terlalu keras?' Batinnya kebingungan, mulai mundur 'jangan – jangan, saking kuatnya dia jadi gila.' Tampak kengerian dalam hati Nesia melihat Alfred.
Seperti tersadar akan perbuatan Nesia yang mengambil beberapa langkah menjauh darinya, barulah Alfred berhenti tertawa.
"Kau kenapa mundur – mundur begitu?" herannya, akan perbuatan sohibnya yang kini menggeleng dengan cepat "Sebaiknya sekarang kita ke kelas." ditariknya tangan Nesia yang sempat tertegun dan bersyukur, ternyata Alfred masih waras.
.
.
_#Gie#_
.
.
Trang….tring…trang…
Bunyi senjata yang saling beradu, berusaha untuk mengenai tubuh lawannya masing – masing. Peluh keringat, kini mengucur dari tubuh kedua pemuda yang berusaha menahan serangan dan menyerang lawannya.
Trang…tring…trang…
Kembali senjata itu beradu, berusaha menyudutkan lawannya. Lawan yang kini tampak kepayahan menahan serangannya.
Trang…
Bunyi pedang yang kini meluncur bebas, menjauh dari tangan pemiliknya yang kini hanya bisa tertegun melihat pedangnya terbang.
Jleb…
Tidak butuh waktu lama, akhirnya pedang itu kini menancap di tanah, membuat sang pemilik menatap horror lawannya yang bersiap menyerangnya. Mengarahkan senjata pada lehernya dengan sorot dingin. Membuatnya berkeringat dingin akan ulah pemuda di hadapannya yang memasang wajah datar.
.
"A-a-aku menyerah‼!" gugupnya, memandang lawannya diam, membiarkan ujung senjata mengenai lehernya "AKU MENYERAH…‼AKU MENYERAH‼!" Teriaknya lebih kuat, begitu disadarinya lawannya tidak memberikan reaksi, masih memandang dengan sorot dingin.
Lama pemuda itu diam, memandang dirinya yang tampak ketakutan. Sebelum akhirnya menyarungkan kembali senjatanya, berbalik membiarkan lawannya menghela nafas lega. Menatap sekelilingnya yang ikut bernapas lega, melihat dirinya masih hidup. Dan memandang pemuda asia yang kini berjalan pergi. Diikuti oleh gadis yang akhir – akhir ini memang selalu menemaninya.
"Sepertinya mood Kiku, lagi buruk," Ucap Hong yang dari tadi menonton pertandingan "Kau tidak apa – apa, Lay?" memandang pemuda itu yang masih syock.
.
"A-aku kira, aku akan mati tadi," masih dengan napas ngos – ngosan "Aku masih hidup kan?" Tanyanya berusaha meyakinkan diri, bahwa lehernya masih terpasang dengan baik ditempatnya.
"Yah, kau masih hidup, sayang banget." Geleng Hong, langsung mendapat tatapan menusuk dari Malay, sayangnya tatapan itu dibalas dengan senyuman. Seakan itu tidak berarti apa – apa.
"Kau ini, benar – benar," Gerutunya, menerima uluran tangan Hong yang membantunya berdiri "Sebenarnya apa yang terjadi padanya?" Tanyanya menatap Hong.
"Kenapa kau jadi bertanya padaku?"
"Bukannya, biasa kau lebih tahu dari pada aku!"
"Hah! Jangan memulai, Lay," ucap Hong membuat Malay diam "Tidak semua orang, mau masalahnya diketahui oleh orang lain, karena itu…," memberi jeda "Sebaiknya kau jangan mau tahu!"
.
Jarang, sangat jarang seorang Hong bisa berkata seperti itu, menatap tajam lawan bicaranya. Membuat perasaan tidak enak saja, sepertinya itulah yang dirasakan oleh Malay yang kini mengangguk. Membuat Hong diam, memilih berjalan yang hanya baru beberapa langkah, terhenti.
"Apakah itu juga berlaku dengan Nesia?" membuat Hong menoleh seketika, mungkin sedikit kaget.
"Maksudmu?"
"Maksudku, kurasa kau tahu maksudku," tatapnya tajam, membiarkan Hong berpikir "Jangan kalian kira aku tidak tahu, alasan kalian selama ini diam membiarkannya berbuat semau hatinya," Sambungnya membiarkan Hong menatapnya tajam "Sedikit saran dariku, sebaiknya kalian berhenti, sebelum dia menyadarinya."
Lama Hong diam membiarkan Malay terus berbicara, hingga akhirnya dia berkata "Apa kau cemburu, karena kami lebih peduli pada saudaramu, Lay?" Senyumnya santai "Tenang saja, kami juga menyayangimu," merentangkan tangannya lebar – lebar "Kemarilah biar kupeluk."
.
Didekatinya Malay dengan tangan lebar bersiap memeluk. Menimbulkan reaksi jijik pada diri Malay yang reflek mundur. Kembali dirinya tersenyum, seolah tanpa beban membiarkan Malay bergidik.
"Kau gila Hong." Tatapan tajam itu berubah ngeri melihat perubahan sikap sepupu jauhnya ini.
"Ah, jangan ragu – ragu, kemarilah." Senyum lebar terlihat diwajahnya.
Sebelum Hong berhasil mendekatinya, Malay sudah berlari menjauh. Meninggalkan Hong yang berteriak memanggil namanya.
"Yah, pergi." Keluhnya, gagal memeluk Malay yang berlari cepat
Wajah yang tampak kecewa itu, hanya bertahan beberapa detik saja, sebelum kembali keraut datar. Menatap tidak suka pada kepergian sepupunya yang kini menghilang. Tidak suka, akan keingin tahuan sepupunya yang begitu besar. Ingin ikut campur urusannya, membuat perasaan tidak enak dihatinya saja.
"Sebaiknya kau berhati – hati dengan rasa ingin tahu mu, Lay," Ucapnya pelan, berbalik "Kau bisa celaka karena itu." Ucapnya lagi, sebelum akhirnya melangkah.
.
.
_#Chan#_
.
.
Sorot mata yang biasanya memancarkan kebahagiaan itu tampak redup. Terluka oleh apa yang dilihatnya kini. Pikiran yang biasanya, menuangkan ide – ide jahil itu. Kini berisi kesedihan yang mendalam. Ditahannya perasaan sedih itu. Berusaha menyembunyikan semuanya sendiri. Satu helaan nafas dilakukannya sebelum akhirnya, memilih memalingkan muka. Berpaling dari apa yang dilihatnya barusan.
Tersentak kaget, saat menyadari seseorang ternyata memperhatikannya. Membuatnya membulatkan mata dengan sempuran. Tidak percaya salah satu musuh abadinya kini berdiri tidak jauh darinya. Berusaha menampilkan yang terbaik, dia pun tersenyum. Memberikan senyum sinis nan jahil miliknya. Berusaha agar apa yang sempat dipikirkannya barusan, tidak terbaca.
"Wah…wah, ku kira siapa. Ternyata kau, Aussie," Senyumnya, menutupi kesedihan yang sayangnya terlambat. "Heh, tidak kusangka bisa bertemu denganmu disini," sinisnya
Perlahan Aussie mendekat, membuatnya mengernyit heran akan sikap pemuda dihadapannya ini yang diam saja. Tidak seperti biasanya. Biasanya, pemuda di hadapannya ini akan mengatakan sesuatu yang mungkin akan terasa menyebalkan baginya. Tapi ini, sebuah tepukan pelan mendarat dikepalanya. Membuatnya makin keheranan dengan tingkah pemuda ini.
.
"Jika kau ingin menangis, sebaiknya jangan ditahan" membuat Nesia kaget akan perkataannya barusan.
Mimpi apa nih orang, bisa menjadi sebaik ini. Lagian menangis, apa maksud perkataannya barusan. Membuatnya menatap pemuda di sampingnya.
"Siapa juga yang mau menangis! Kau gila, yah!" tersentak kaget akan tatapannya yang berubah lembut. 'Nih orang kenapa?' bingungnya.
"Begitukah?" Membuat Nesia merasa tidak enak mendengarnya "Hei!" Sapa Aussie, melihat dua orang dihadapannya berjalan mendekat.
.
Dua orang yang salah satunya menatap datar padanya. Terlihat tidak suka akan tingkahnya. Tidak suka, melihat tangannya kini bertengger di kepala Nesia yang diam. Nesia sendiri begitu mengikuti pandangan Aussie tersentak kaget melihat keduanya, lalu berubah. Berubah menjadi senyum ceria.
"Apa yang kau lakukan di sini, Aussie?" Tanya Kiku memandang Aussie, jelas sekali tatapan itu menunjukan permusuhan.
"Aku kesini ingin mengambil milikku, Kiku." membalas tatapan itu.
"Milikmu? Apa itu?" Kali ini yang bertanya adalah partner Kiku, siapa lagi kalau bukan Viet.
Senyum diberikan oleh Aussie, sebelum akhirnya memegang tangan Nesia yang menatapnya bingung. Membuat Kiku dan Viet hanya bisa terdiam begitu dilihatnya Aussie sudah membawa kabur Nesia dengan cepat. Tanpa basa – basi, main tarik saja. Membuat gadis itu mau tidak mau ikut tertarik akan ulahnya.
.
Berbeda dengan keduanya yang sudah menghilang, Viet hanya bisa melirik ke arah Kiku di sebelahnya. Terdiam sesaat melihat kejadian yang barusan terjadi, sebelum akhirnya menghela nafas. Sepertinya berusaha untuk mengendalikan emosinya. Tersenyum, seakan mengerti bahwa dirinya diperhatikan.
"Sebaiknya kita bergegas" kembali meneruskan perjalanan yang sempat terhenti barusan. "Viet?" Panggilnya, melihat gadis itu diam saja.
"Ah, baik" Sahut Viet, mengikuti langkah Kiku, kembali berjalan.
Dongkol, yah jelas dongkol. Bagaimana tidak setelah berbicara sembarangan dan main tarik. Kini pemuda itu meninggalkannya. Membiarkannya kini terdiam di depan kelas. Entah apa maksud pemuda itu, setelah mengelus kepalanya sebentar, lalu pergi. Membuatnya seperti bocah saja. Apa pemuda itu lupa seperti apa dirinya? Jangan – jangan sudah gila kali tuh orang.
Sepertinya Nesia kini lebih senang mengatakan seseorang gila, jika kepribadian orang itu berubah. Seperti kasus Alfred sebelum ini. Padahal tingkah sahabatnya itu karena ada maksud lain. Tapi karena ketidak tahuanlah yang membuatnya berpikir seperti itu. Dan karena itu tidak berlangsung lama maka barulah dia menyimpulkan bahwa temannya itu ternyata masih normal.
Lalu bagaimana dengan Aussie? Melihat tingkahnya yang sepertinya benar – benar berubah. Membuatnya sangsi, bahwa orang itu normal. Mungkin dia harus melakukan sesuatu untuk menyadarkannya kembali. Bagaimana kalau sedikit candaan ringan? Sepertinya ini menarik. Candaan ringan atas ulahnya yang seenaknya mengatakan bahwa dirinya miliknya. Mana itu dilakukan di depan Kiku dan Viet. Tidak masalahkan balas dendam sedikit.
.
Terlihat jelas wajah itu menunjukan seringai kecil, sebelum akhirnya sebuah buku yang cukup tebal memukul kepalanya pelan. Membuatnya menatap sang pelaku.
"Apa yang kau lakukan? Cepat masuk!" Terlihat jelas tatapan pengajarnya, melihat ulahnya.
Membuatnya tersenyum tidak enak, bergegas masuk. Mengikuti kelas musik tempat yang diharapkan bisa membuatnya sedikit lebih anggun. Seperti keinginan saudara asianya. Soal Aussie, sepertinya lebih baik dipikirkan nanti saja. Dia juga tidak terlalu penting. Tidak sepenting Yao yang membuatnya harus berpikir keras.
Berbeda dengan Nesia yang sedikit kesal, beberapa meter dari kelas musik. Aussie hanya diam memperhatikan tangannya. Tangan yang tadi bersikap lembut pada Nesia. Tangan yang bergerak diluar kendali, saat dirinya melihat Nesia terdiam. Diam memperhatikan Kiku dan Viet kelihatan berpelukan. Jelas pikiran gadis itu kelihatan sedih. Tapi di sisi lain, dapat didengarnya gadis itu bahagia. Kesedihan yang di tutupi dengan kebahagian. Benar – benar anak yang aneh, apa maksud dari perbuatan itu? Padahal jika dia mau, dia bisa merebut pemuda itu. Jika diingat bagaimana sebenarnya perasaan pemuda itu. Sepertinya, ada maksud lain dari perbuatannya.
Milikku, kata yang keluar tanpa dipikirkannya. Sepertinya habis ini, dia harus memeriksa otaknya. Bagaimana bisa dia berkata begitu? Walau niatnya tadi berusaha menjauhkan gadis itu dari dua orang di hadapannya. Tapi, rasanya tidak perlu seperti itu. Entah, apa yang akan dipikirkan dua orang itu? Belum lagi mengingat seperti apa anggota asia itu. Jika hal ini terdengar oleh mereka. Bisa – bisa tamat riwayatnya.
Sedikit menghela nafas, Aussie kembali berjalan. Melaksanakan rencana untuk menemui temannya. Gara – gara melihat Nesia tadi. Rencananya pun berubah, memilih untuk menghibur gadis yang seharusnya menjadi musuhnya itu.
"Dasar bodoh!" memukul kepalanya pelan 'sepertinya aku memang harus ke dokter.' Batinnya
Satu hal yang tidak disadarinya. Dua pasang mata memperhatikan tingkahnya dari tadi, dari awal hingga akhir. Senyum mengembang disalah satu wajah itu. Memperhatikan tingkah Aussie yang kini berjalan pergi.
"Alat buatanmu ini, benar – benar berguna, Al." tersenyum memandang layar di hadapannya "Dengan alat ini, aku bisa mengawasi mereka semua tanpa ketahuan. Apa nama alat ini?"
Terdiam, begitu Alfred tidak memberikan reaksi sedikit pun. Menatap pada layar dengan wajah datar, sambil mengunyah hamburger. Membuat pemuda itu menoleh karena dicuekin dari tadi. Sedikit mengurut keningnya, pemuda itu pun berteriak.
"Alfred‼" Teriaknya kencang pada telinga pemuda itu. Alfred mau tidak mau mesti menutup telinganya.
"Ck, kau berisik sekali Yong" Gerutu Alfred, menatap Yong "untuk apa aku menamai alat yang sebentar lagi akan rusak." Sepertinya walau terlihat tidak memberikan reaksi apa pun. Ternyata, pemuda ini mendengarkan.
"Rusak? Maksudmu?" Tanya Yong, menatap Alfred yang memperhatikan layar.
Layar yang kini menampilkan, gambar hitam putih, garis dan mati secara tiba – tiba. Membuat pemuda Asia itu kaget tak percaya. Ah, jangan lupa, asap pun keluar dari layar itu. Menimbulkan efek seram, pada Yong.
"Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu." Senyum Alfred membuang bungkus hamburgernya "Terima kasih untuk traktirannya," meninggalkan Yong sendirian.
Yong sendiri mendengar perkataan Alfred barusan, hanya bisa menghela nafas. Dilihat dari sifat pemuda itu barusan, kelihatan sekali dia sudah tidak berniat untuk membetulkan alat ini. Mungkin dia merasa alat ini sudah tidak berguna lagi. Benar – benar pemuda aneh, apa niatnya kemari hanya minta dirinya menguji alat ini saja?
Terserahlah, yang pasti alat ini sedikit membantunya untuk memantau Nesia. Walau ada rasa kesal, akan ulah Aussie barusan. Tapi yang terpenting, gadis itu baik – baik saja hari ini. Soal Aussie, sepertinya dia tidak perlu turun tangan. Selama masih dalam tahap wajar, walau hati kesal. Bukankah, permainan masih berlangsung. Masih ada lain waktu untuk mengerjainya bukan.
.
Tbc
.
.
A/N : Hola semua, bertemu lagi dengan saya*NariHula2*
Nesia: Ya ampun, nih anak*nyeretAuthoryg masihnari*
All: Kapan yah tuh orang berubah?*Sambil mainkartu*
Nesia: Cepatan*MaksaAuthor duduktenang*
Baiklah langsung saja, saya akan mulai membalas review dari semuanya, makasih sudah menyempatkan diri untuk mereview*bungkuk2*. N Go….
Germany.X. Romano-I'Need. It-Now
Makasih juga untuk reviewnya ^^, Tidak apa2, saya juga belum tentu lepas dari typo
Gie: Berhubung Aussie dan Alfred, sudah kabur kalau begitu, Net duluan *LiatNether kagetdanpasrah*.
Nether : saya tidak peduli, selama saya bisa balas dendam *Ditusukbamburuncing &diseret*
All: Ckckckck, padahal orang yang dimaksud ada disamping*turutberduka*
Yao: makasih, dan dukung saya terus agar bisa mengalahkannya *Senyumsenang*
Gie:Bukannya itu oleh2,dari perjalanan. Kalau curi kan tanpa sepengetahuan? Ahh, bingung terserah saja yang penting bisa dimakan*PLAKKK* Nesia: Kebiasaan jelek muncul,sifat mau enaknya*nyeretauthoryang habisdihajar*
Ivan:*diamliatfotonya* Apa ada koleksi lain*SenyumSenang* khoroshaya rabota *simpanbuatkoleksi*a-apa dengan Na- Natalya *Syock*
Arthur: sebenarnya saya juga mau menyebutnya begitu tapi *Ingattauthor yangngotot* tidak, saya sangka, bahwa saya bisa seperti itu *kagetsetelah habisbaca*
Kiku: ba-bagaimana bisa *syock* a-akan saya berikan, selama tidak berkaitan dengan saya.
Nesia: *blushing* tidak kusangka*nangisharu* Gie:cup..cup..*tepuk2bahu Nesia*
Gie: Hahaha, rochu yah, apa boleh buat, semua demi kelancaran fict ini*puppyeyes* jadi bersabar saja^^
.
.
lady black22
Iya, saya update lagi^^,makasih sudah review kembali. Eh, pendek yah. Semoga kali ini tidak begitu pendek. Cinta segitiga *liat Al,Natalia,Nesia*sepertinya begitu *angguk2paham*
Waduh, saya hanya bersedia menjawab saja,jika dosen bertanya. Tidak menanggung,tanggungan dirumah lagi banyak #Plak. Nesia:Apa lagi yang ditanggung*lirikauthor* sttt diam – diam Nes.
Aussie:…kenapa saya selalu dikatain goblok sih*pundung*. Gie: haha*tawahambar liatAussie* nyiksa Aussie*lirikAussie* Wah, boleh nih *Jiwapsikopat munculmendadak* kan saya tunggu sar— *dibekapAussie* Aussie:Jangan macam-macam*nyeretAuthor* Nether: sarannya saya tunggu *menyeringailiatAussie*. Gie: Hah *berhasilkabur* waw, sepertinya jur hub,inter itu asik yah, bisa jalan2#PLakk. Nesia: belajar,bukan jalan2*geleng2liat author*, maafkan soal barusan. Aussie,hmm…dijadikan apa pun cocok sepertinya *gakpunyaide*pundung*. Ah, pingin meluk mereka yah silakan *sepertinyahanyaNatalia yangtidakingin*ah, biarkan saja, masih ada Nesia dan yong*menyerahkan dengansukarela* Malay: siscom?Si-siapa yang siscom?*tidakmengaku*
Nether: si-siapa juga yang suka, aduh walau ditatap seperti itu juga*liattatapansadako* tetap saja *mulaiseram*… *pasrah*. Gie: tidak apa2, menambah ilmu juga kok *angguk2paham* makan hamburger berdua?Kenapa jadi seperti kencan*blushing*. seharusnya, saya abadikan itu. ah ya saya paham. ^^ yang sabar yah ivan *kabursaat liatsenyum ivan*
Nesia: makasih buat susu dan apelnya *segerasembunyikan mumpungauthorpergi*
.
.
Al Landers
Yao : Eh…#Blushing#. Eh, apa kah saya terlalu cepat updatenya, baiklah kalau begitu saya akan perlahan2 #Plakkk#. Eh, memisahkan mereka berdua,yah *Mulaingerasa hawatidak enak bertambah*liat,Natalia,yong*.
Eh, makasih^^, benarkah? Jangan2 Alfred yang ikutan#Plak.
Sepertinya itu menjadi bagian terburuk buat Ivan, walau saya senang melakukannya.^^
Kiku: Eh, *mandanginNesia* Ba-baiklah, *pasrah*
Ivan dan Natalia yah, sepertinya seru juga *mulaingebayangin*. Yongsoo: kenapa saya harus menjauh da ze, yao-hyung kan milikku*diseretNesia*. Nesia: niatnya sih gitu, tapi gak diizinkan*lirikauthor denganperasaanmembunuh*. Eh, masih ada typo yah*angguk2* baiklah akan saya perbaiki^^ makasih sudah mengkoreksi.*bungkuk2*
.
.
7 sableng
Ayane : tidak apa – apa ayane-san, selamat datang kembali^^. Skripsi yah*angguk2paham*
Kana : berarti reviewnya kompakan terus,asik yah ^^ ramai *mulaingebayangin*
Megumi: Yah, itu memang sedikit membuat ribet *teringatlagi T.T*
Hiroki: Wah, gawat kalau habis stock olinya *hmm,poseberpikir*hubungannya?#Plak
Haruka: Kalau tidak salah itu. Kiku: itu buatanya Alfred *pundung*, Gie:sabar yah kiku*carikesempatan buatpeluk*
Sanae: (Kiku: hah, batal? A-apa giripan *syock* gie-chan, jangan ikutan*hawamembunuh* gie: yah, padahal pingin ikutan baca *pundung*nanti,jangan lupa kirimkan ke saya *bisik2biartidak kedengarankiku*
Yuka: a-apa, t-typo *kaget*mulai mencari* ah ternyata benar *pundung* sudah saya perbaiki,semoga saja sudah benar. makasih sudah mengkoreksi *bungkuk2*
Alfred: *Kaget tiba-tibaditeriaki* kan bukan salah saya *pundung,liatKikusenyum*
Arthur: *blushing* Ke-kenapa saya ha-harus men-. Gie: ah, gak sengaja, arth*gaksengajanyenggolArthur hinggaciumAlfred* GIEEEEEE….*ngejarauthoryangkabur* Kiku: sepertinya bisa buat nambah ide nih *mulaimencatat* Alfred:….*diam*
Nether: A-apa? *serbasalah, antarpingin dantakut*
Ivan: kiyomi? Apakah dia mau bersatu dengan saya, da?
Natalia: apakah, anda mau menikahkan saya dengan брат? *senyum*
Yuka: hahaha, tidak apa ^^
Haruka: Kyaaaaaa, ada Nesia kedua *ketakutandengar namakiyomics* Nesia: a-apa?*Mukulauthor* gak sopan *nyeretauthor*
.
.
Pemimpin Germancest
Ah, iya2 saya tahu *siap-siapmeluk*Plakkk… Nesia: maaf kan dia yah*bungkuk*, sudah lama sekali *tabur2tulip* Nether: woy bunga gue *mencak2* Gie: makasih sudah datang kembali, berdua ^^
PF: Iya, tidak apa – apa, saya paham. Skripsi memang bikin pusing, dari cari bahan, intai dosen #Plakkk
SG: soal typo sudah saya perbaiki, semoga sudah benar kembali, makasih sudah dikoreksi^^. Natalia: apakah anda mau menjadi saksi, pernikahan kami?
PF: Hahaha, iya nih entah mengapa mereka bisa seperti itu. Ckckckckc, aussie n nether : ini kan salahmu *liatauthor* gie : waduh, kenapa jadi saya, ckckc tidak boleh menuduh itu *lirikaussie n netheryang siapmukul*
SG : silakan *nyeretnation yangdimaksud*
Kiku: eh, baiklah *lirikNesia* Nesia : eh, apa? *liatkikuyang mulaimencari*
Malay : Tidak, kenapa saya selalu dikaitkan dengan dia*tunjukNesia* gie: tapi, kan malay emang suka, buktinya selalu setia bangunin Ne— *dibekapMalay*
Nesia: hohoho, tentu saja, tolong dukung saya terus
PF : tidak apa – apa, kami tunggu kembali review nya
.
.
Lady Raven
Waduh, tidak suka rochu yah *garuk2kepala*. Hahaha, apa boleh buat. Saya juga suka pairing mereka. Intinya pairing dengan siapa saja saya suka. Kebetulan saja dapat idenya rochu. Hehehe. Sabar saja yah. Indopan dan amenesia, hahaha, kebetulan chap kali ini ada tentang mereka. Semoga berkenan. Saya juga inginnya nesia di rape tapi*lirikNesia yangngacungin bamburuncing* akan saya pertimbangkan*bisik2* soal mimpi buruk, akan pelan – pelan saya jelaskan, nanti #Plakkkk
Nesia: sebenarnya saya juga penasaran *liatauthor yangkabur*.
.
.
Yukishirozakura
Hahah, selamat datang yuki ^^ tidak apa – apa. Sepertinya begitu, Yao : boleh saja, asal…*mulaingitung biayanya* Nesia: siapa yang gak bisa masak, yang gak bisa masak itu gie *liatauthor pasarah* gie: aduh, lagi – lagi jadi sasaran amukan *ngomongpelan2*. Perang dingin antara mereka, sudah saya jelaskan diatas. Semoga tidak membuat yuki penasaran lagi.
Sebenarnya pingin buat lanjutan ivan, tapi setiap dipertengahan entah mengapa niat itu berubah*pasrah* sepertinya saya sangat buruk dalam membuat 'itu'. Tapi akan saya coba kembali. Apakah yuki mau memberi ide?
Si nether kan stalker *benargak yahtulisannya*. Makanya dia tau#plakk*dipangkungNet* Nether: jangan sembarangan gie, ngapain juga ada rasa dengan orang kayak gitu*tunjukNesia* Gie: yang bener*liatnether diam* beneran tuh *maksanether* bener *makainmaksa* be—*disumpalnether yangmemerah*
.
.
ArineRailroad
Waduh, pusing yah.*garuk2kepala* hahaha, memang di awal – awal typo selalu betebaran, tapi saya harap di cahp selanjutnya tidak.
Makasih sudah menyukai tokoh fic ini, Nesia. Saya juga merasa sifat nesia itu, agak unik. Apalagi sifat brocomnya pada Yao.
Saya memang selalu ribet dengan typo. Padahal sudah berkali – kali diperiksa. Mungkin karena sifat suka buru – buru*pasrah*. Mengenai tata bahasa, perlahan – lahan akan saya perbaiki. Maklum, untuk yang satu itu saya memang lemah. Karena itulah dibutuhkannya review untuk membantu perbaikan dalam fic ini. Kalau bisa dijelaskan bagian mana yang salah. Hehe
.
.
.
Sekian balasan review untuk chapter kemarin. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk mereview. ^^. Serta memberikan usul buat perkembangan cerita ini, Jadi akhir kata, terima kasih buat kritik dan sarannya dari para senpai. Walaupun masih ada typo yang nyelip, jangan jera untuk kembali mereview ^^ dan membantu saya memperbaiki fict ini. agar bisa lebih enak untuk dibaca. eh, enak itu untuk makanan kan? ah sudahlah. intinya adalah
All: Read n Review Plizzzzzzzzzzzzz
