Chapter 10: Someone's Missing
25 Desember 1981
Naruto agak sedikit berlari membawa dua gelas karton berisikan cokelat panas. Perasaannya tidak enak sehingga dia memutuskan untuk berlari lebih kencang lagi.
Langkahnya terhenti melihat kakek tua tergeletak memeluk nisan itu. Gelasnya terjatuh menumpahkan seluruh cairan cokelat itu. Dia berlari.
"Kakek! Kakek genit! Tolong!" Naruto mengguncangkan tubuh itu
.*.*.*.
Dua puluh menit kemudian ambulan itu datang, membawa tubuh Jiraiya. Kakashi belum tiba ditempat. Naruto mengikuti para petugas itu menuju rumah sakit.
Setibanya disana Naruto belum di izinkan masuk keruang ICU. Tidak lama kemudian Kakashi dan Shizune menghampiri Naruto.
"Bagaimana bisa Naruto?" tanya biarawati itu. "Kakek menyuruhku membeli cokelat panas, ketika aku kembali dia sudah terbaring." Jawab jujur Naruto, Kakashi terlihat sangat khawatir di depan pintu ICU itu. Rumah sakit telihat cukup sepi, tidak terlalu banyak orang karena hari besar ini.
Dokter itu keluar dari ruangan, "Beliau tidak apa-apa. Hanya kelelahan ditambah musim dingin ini tidak terlalu bagus untuk kesehatan orang tua, Pangeran Kakashi" tanya dokter itu tersenyum.
"Sebaiknya kau menjaga dan memberikan perhatian lebih pada ayahmu. Orang yang sudah tua akan mendambakan kehidupan bersama keluarga besarnya." Mata Kakashi membulat, dokter itu tersenyum lagi. "Dia sudah siuman. Kau boleh masuk." Kemudian dokter itu meninggalkan Kakashi. Pria berambut putih itu berbalik, "Suster Shizune, tolong ambil mobil ayah di Chadwell ya. Naruto, kau terlihat pucat, sebaiknya pulang juga."
Shizune mendatarkan wajahnya, "Lagi-lagi kau menyuruhku seperti itu." Suster itu membalikkan tubuhnya, "Ayo Naruto." anak laki-laki itu sepertinya paham rumah sakit bukanlah tempat yang tepat. Dia mengikuti Shizune yang perlahan meninggalkan rumah sakit.
.*.*.*.
"Kau dengar kata dokter? Kau harus banyak istirahat." Kakashi menasehatinya. Jiraiya tetap terdiam. "Huh...aku pikir aku sudah mati.." Kakashi hanya memberi tatapan 'jangan bercanda' pada ayahnya.
"Naruto, dimana?"
"Dia sudah pulang."
"Dia...anak Minato..."
Kakashi membulatkan matanya, "Sir. Minato?!"
"Mantan guru privat mu itu. Saat kau masih tinggal di istana, saat dia masih kuliah.." Jiraiya memejamkan matanya.
"Pantas saja ketika aku melihat Naruto, seperti melihat guru muda itu." Kakashi sedikit memberikan senyum, "Kenapa dia bisa disini?"
"Aku juga kurang paham, setelah Carol Anne meninggalkan rumah karena menolak perjodohannya dengan konglomerat Perancis itu, aku tidak pernah mendengar kabar lagi tentang Minato. Dampaknya, hampir seluruh imigran Perancis disini menunjukkan rasa kekecewaan yang besar. Aku juga mendengar, Naruto telah di culik saat berumur lima tahun."
"Lalu apa hubungannya dengan anak Sir. Minato yang di culik?! Kalau begitu kita harus mengembalikan Naruto!"
"Jangan terburu-buru seperti itu. Aku bahkan telah menghubunginya berulang kali! Aku telah mengirimi dia surat."
"Kau juga hutang menceritakan Sakura adalah sepupuku, ayah!" Kakashi menampakkah wajah sebal, Jiraiya tersenyum
"Baiklah, akan kuceritakan... Kau ingat kan Bibi Carol Anne? Dia cantik dan rambut pirangnya sama seperti Tsunade. Dia memutuskan untuk menikah dengan pria berambut merah muda. Aku mendengar dia beradu mulut dengan ibu dalam beberapa hari dan dia pergi meninggalkan rumah. Aku hadir saat dia mengadakan pernikahan secara diam-diam dan tahu memiliki anak perempuan dengan pria itu. Namun kecelakaan yang merenggut Carol Anne dan suaminya itu tidak di temukan bayi. Itu membuatku sedikit demi sedikit curiga. Adikku itu...keras kepala. Uhuk...uhuk..."
"Ayah maafkan aku...sudah, sekarang istirahat lagi ya."
"Dengar, aku mati-matian mencari tahu apa bayi Carol Anne masih hidup sampai keluar dari istana dan meninggalkan Tsunade beserta dirimu selama sebulan. Pada akhirnya aku mengetahui Sakura tinggal bersama keluarga kakak ayahnya. Saat dia di culik pada umur tiga tahun, aku berusaha menyelidikinya. Aku merasa lega, penculiknya itu menitipkan Sakura ke panti asuhan yang cukup baik di Ashford. Diam-diam aku memberitahu pada pengurus panti itu untuk menjaga Sakura. Aku juga memberikan bantuan dana. Makanya aku tidak khawatir pada keponakanku itu." Jiraiya memejamkan matanya. "Kau tahu, kehidupan kerajaan sangatlah terikat. Jadi, aku biarkan Sakura memilih jalannya sendiri. Seperti kata-kata Carol Anne..."
"Ayah...sudahlah..."
"Kakashi...Kita pulang sekarang. Aku ingin beristirahat di panti asuhan."
Pemuda itu mengangguk.
.*.*.*.
Naruto tiba di panti asuhan, dilihatnya semua anak bergembira saling bertukar kado di bawah pohon pinus itu. Sakura menyapanya, "Kau masih tidak enak badan?" Naruto menggeleng.
"Aku antar kekamar, ya." Sakura memegang tangan Naruto, bocah itu segera melepaskannya. "Hangat sekali." Pikir Sakura.
"Kau disini saja ya. Aku hanya ingin istirahat."
"Tapi aku―"
"Sakura-chan." Suaranya pelan namun sangat tegas dan seperti memerintah. Sakura memberikan senyuman dan anggukan. "Baiklah."
Sakura memandangi sosok itu yang perlahan meninggalkannya, anak itu tampak tidak sangat sehat.
Naruto berjalan terguntai, dibukanya pintu ruangan itu. Sepertinya ada orang yang sedang menunggunya.
"Lama tidak jumpa, Naruto."
.*.*.*.
"Merepotkan! Harusnya aku sedang bergembira menikmati minuman panasku dan membuka hadiah! Kau!"
Sasuke memandang wajah itu dengan dingin, "Tenanglah, kau ini seperti wanita saja!"
"Cepat katakan apa maumu!" Shikamaru berteriak,
"Cerewet, kecilkan suaramu!" Kini Sasuke yang berteriak. Shikamaru semakin kesal dan membanting tubuhnya ke kasur empuk milik Sasuke.
"Kenapa bawa Sai segala! Dia bawa anjingnya juga!" Sasuke menunjuk-nunjuk Sai.
"Halo Sasuke." Sai mengangkat tangannya dan menunjukkan senyum
"Kau telat mengatakan 'Halo'!" volume suara Sasuke semakin meninggi.
"Lihat, siapa sekarang yang bersuara besar?" Shikamaru masih tidur-tiduran dengan bosan.
"Sai! Pamanku itu bukan penyuka binatang!"
"Apa seluruh keluarga Uchiha tidak suka binatang?" tanyanya polos dengan senyum yang masih ada di bibirnya. Sasuke menggeram. Dia mengangkat tubuhnya dan berjalan menuju meja belajarnya, mengambil surat berwarna merah muda.
Dia melemparkan surat itu tepat di depan Shikamaru.
"Kau saja yang berikan." Kata Sasuke cuek.
"Aku tidak mengenal gadis itu. Kau bertemu dengannya kan' kemarin?"
"Iya, tapi paman sudah keburu memergoki ku."
"Merepotkan. Jangan kaget kalau anak perempuanku berambut merah muda nanti ya!"
Sasuke memberikan pandangan mematikan pada Shikamaru.
"Hei Shikamaru!" panggil Sasuke. "Hn?"
"Sakura bilang, Naruto ada bersamanya sekarang."
Shikamaru membulatkan matanya.
.*.*.*.
"Si...siapa kau?!
"Aku? Kerabat dekat ayahmu. Madara Uchiha"
"Uchiha?" Naruto memperdalam ingatannya, seperti nama dalam kartu nama itu. "Apa orang ini ingin menangkapku karena telah mencuri uangnya?" Pikir Naruto
"Apa kau ingin menemukan keluarga gadis itu?"
Naruto mengangkat wajahnya, "Keluarga Sakura-chan? Kau tahu dimana?"
Madara tersenyum seringai, "Tentu, aku bahkan mengenal baik keluarga itu."
"Tuan apa kau bisa membawa keluarga Sakura-chan kesini? Aku yakin Sakura-chan akan bahagia!" Naruto terlihat memohon.
"Hahaha." Tawa Madara pecah, "Aku juga akan mengantarkanmu dulu ke keluargamu."
"Paman kau mengenal keluargaku?!" Madara tersenyum. "Ya, cukup mengenal baik."
Naruto kini gembira, "Tapi antar Sakura ke keluarganya dulu."
"Ya, tentu saja." Madara tersenyum, "Tapi kita juga harus pergi sekarang, keluargamu sedang menunggu, Naruto"
"Oh, ya Naruto..." Madara menggantungkan kalimatnya, "Orang tuamu itu rakyat jelata sama seperti mu. Bagaimana pun kau tidak mungkin bisa menyamai derajat seorang Sakura."
Anak laki-laki itu membulatkan matanya. "Jadi, bagaimana?"
Mata Naruto berkaca-kaca, apa yang di dengarnya tadi adalah kepedihan yang cukup menyayat hatinya yang rapuh. Itu memang benar, dia hanya rakyat jelata yang tidak pernah memiliki kasih sayang orangtua. Air mata itu nyaris keluar, namun dengan sigap dia mengusapnya.
"Izinkan aku...menulis surat yang terakhir untuk Sakura."
"Hmph, Juugo. Remarqué ce qu'il a écrit." Madara berjalan bersama mantel hitam panjangnya itu keluar. Naruto mengambil pena nya. Juugo yang di perintahkan untuk memperhatikan apa yang Naruto tulis mengamati bocah pirang itu.
Menurut Juugo, isi dalam surat itu menyedihkan, tapi dia berusaha tidak peduli. Lagi pula tidak ada hal yang mencurigakan menyangkut tuannya. Naruto meninggalkan surat itu di bawah bantal di tempat tidur Sakura. Dia melirik biola amati yang didapatnya tadi malam, dia tersenyum.
Juugo dan Naruto perlahan meninggalkan tempat itu melewati pintu belakang gedung.
Madara beserta mobil mewahnya telah menunggu di depan gereja. Dia tersenyum melihat anak itu sedang berjalan kearahnya, bersama biola amati yang dia bawa.
"Cinta memang butuh pengorbanan." Madara tertawa perlahan, Tobi yang sedang memegang setir itu terdiam kaku. Seperti menyaksikan hal menyakitkan yang sering dilakukan tuannya. Perlakuan tuannya, yang dilakukan sejak dulu.
.*.*.*.
Shikamaru dan Sai kembali berjalan santai melewati gereja itu setelah memakirkan mobilnya.
"Kau tahu, ini natal pertama yang tidak aku habiskan di rumah." Sai memulai pembicaraan.
"Sama." Jawab Shikamaru singkat. Dia melirik kandang yang sedang di pegang Sai.
"Merepotkan membawa anjing seperti itu." Shikamaru mendengus kesal.
"Karena masih kecil aku harus menjaganya." Jawab Sai.
Shikamaru memperhatikan mobil yang cukup melaju kencang, mobil yang cukup dia kenal.
"Tuan...Madara...?" ucapnya pelan, dia perhatikan dari jendela, benar itu Madara. Bersama anak seumurannya berambut pirang. Tiba-tiba pikirannya mengingat foto yang ditunjukkan oleh Sasuke. Otak jeniusnya cepat menanggapi bahwa itu, "Naruto?" suaranya cukup kencang. Mobil itu sudah terlanjur jauh, tidak mungkin dia berlari mencoba mengejarnya.
"Naruto? Dimana? " Sai kebingungan melihat Shikamaru yang agak panik.
.*.*.*.
Shikamaru dan Sai berlari menuju panti asuhan itu, entah kenapa perasaan Shikamaru tidak enak. Shizune mendatangi kedua remaja itu.
"Selamat natal. Apa ada yang bisa ku bantu?" tanyanya ramah.
"Apakah aku bisa menemui Sakura?" tanya Shikamaru. "Apa kau temannya?"
Shikamaru mengangguk. Shizune mempersilakan mereka memasuki ruang aula panti asuhan itu. Shikamaru memutar matanya, dia bahkan belum pernah melihat gadis itu.
"Aku tinggal ya. Panggil aku jika kau membutuhkan sesuatu." Sebelum Shikamaru menanyakan yang mana Sakura, Shizune telah meninggalkan mereka.
"Sudah menemukannya?" tanya Sai. "Aku juga belum pernah melihatnya langsung!" Shikamaru masih mencoba memilah-milah segerombolan anak-anak bahagia yang didepannya, "Pokoknya, rambut dia berwarna merah muda!"
"Ini rambutnya merah muda." Kata Sai dengan wajah tanpa dosa menunjuk gadis yang sedang duduk tidak jauh dari samping nya. Shikamaru menepuk keningnya, daritadi dia memang terfokus apa yang di depannya.
"Kenapa anjingnya bersama dia?" Shikamaru memandang Sai dengan kesal.
"Darita tadi aku berbicara dengannya." Sai menarik kerah Shikamaru, "Dia suka anjingku!"
Shikamaru menarik kerahnya kembali, memberi tatapan sebal pada Sai dan perlahan mendekati gadis merah muda itu yang sedang bermain dengan anak anjingnya Sai. Rambutnya yang panjang sepunggung serta warna matanya yang hijau. Warna rambutnya itu cukup aneh, tapi benar-benar terlihat cantik. Dia seperti bangsawan.
"Maaf nona, apa kau Sakura?" tanya Shikamaru pelan, Sakura mengangkat wajahnya. Shikamaru dan Sai terlihat merona, 'Astaga, cantik sekali!'.
"Iya aku Sakura. Kau siapa tuan?" tanya nya ramah. Jantung Sai berdebar kencang, "Kalau yang model seperti ini..aku gak rela bagi-bagi." Pikirnya.
"A-aku Shikamaru. Apa Naruto ada?"
"Ya dia ada di kamarnya. Mau ku antar?"
Shikamaru dan Sai mengangguk. Mereka bertiga berjalan bersama menuju ruangan tanpa Naruto didalamnya.
Dari tadi Shikamaru memperhatikan lekuk tubuh Sakura. Walaupun masih seperti anak kecil, tapi sudah cukup menunjukkan profesional. Dia melirik Sai yang sejak tadi tersenyum tanpa berhenti, "Apa yang dipikirkan anak bodoh itu!" pikirnya
.*.*.*.
Pria itu tiba di panti asuhan, para suster menyambutnya bahagia. Segera saja Kakashi mengantarkan ayahnya.
Perlahan dia merebahkan ayahnya itu dengan baik.
"Kakashi..."
Pria muda itu menengok kearah ayahnya, "Kau tahu siapa konglomerat yang di jodohkan untuk Carol Anne?"
Kakashi menggeleng.
"Dia...Madara Uchiha..."
Kakashi membulatkan matanya penuh, tenggorokannya menyempit. Kepingan masa lalu mulai membayang-bayangi pikirannya tiga belas tahun yang lalu.
"Aku tidak mau bersamanya!" teriak wanita berambut pirang panjang dari kamarnya.
"Kenapa kau selalu melawan?!" nenek itu masih berusaha berbicara lembut walaupun sangat tegas.
"Aku mencintai orang lain...Ibu." wanita itu berlari keluar kamarnya, saat itu Kakashi yang masih remaja tidak sengaja mendengar percekcokan yang sering terjadi akhir-akhir ini di istana.
Bibinya berlari tanpa sengaja menabrak keponakan kesayangannya itu.
"Kakashi?"
Wanita bersama keponakannya duduk di bangku taman dibawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Kakashi tersenyum melihat kelopak-kelopak indah yang berterbangan menaungi pandangannya.
Wanita itu membuka telapak tangannya, membiarkan kelopak bunga sakura "Aku mencintai Kizuo.. Rambutnya berwarna merah muda."
Kakashi memandangi bibi nya lembu, "Pilihlah jalan hidupmu sesuai keinginanmu sendiri, tuan puteri."
Wanita itu tersenyum, "Pangeran sudah dewasa sekarang." kini dia menyenggol pundak keponakannya itu. "Jadilah raja yang di cintai rakyatnya, Pangeran Kakashi."
"Kakashi..."
"Kakashi..."
"Kakashi!"
Pria itu menengok kaku kearah ayahnya.
"Kau melamun?" Kakashi menggeleng, "Novel ayah sudah selesai? Aku akan baca."
Jiraiya tersenyum, "Nanti saja." Pria tua itu menutup pelan matanya, membukanya lagi secara perlahan. "Kau akan menjadi raja ya..."
"Aku bilang biar dia saja. Aku lebih ingin menjadi rakyat biasa!" kini Kakashi mendengus kesal. "Jangan bercanda, tentu saja jika nenek yang meninggal akan diturunkan langsung padamu. Kedua adikmu telah meninggal, ayah!" Kakashi mengucapkannya secara ketus. Jiraiya memejamkan matanya lagi.
"Tanyakan pada Sakura...apa dia ingin kembali ke istana..."
*.*.*
Sakura memegang kenop pintu itu.
"Naruto?" panggilnya pelan, tidak ada jawaban. Dia membuka pintu itu perlahan.
"Naruto? Kau disana?" Sakura masih memanggilnya
Shikamaru dengan cekatan mendorong pintu itu agak terbuka lebar. Tidak ada siapapun. Tidak ada Naruto.
"Naruto?" kini perasaan Sakura mulai tidak enak, dia berlari keluar dari kamar itu di ikuti Shikamaru dan Sai.
*.*.*
"Anjing siapa ini? Lucu sekali!" Kiba tertawa-tawa melihat anjing kecil itu di aula bersama teman-teman seperjuangannya. Moegi mengelus anjing itu dengan penuh kasih sayang.
"Kiba!" Sakura memanggilnya cukup keras, anak laki-laki itu menengok.
"Dimana Naruto?"
"Dikamarnya, sedang istirahat. Kau lupa?"
"Tidak ada!"
"Paling dia ke kamar man―" tangan Sakura menarik bocah itu.
"Cepat kau periksa sana!"
"Kau ini kenapa sih? Paling sebentar lagi dia akan kembali kekamarnya."
"Dia sedang sakit Kiba!" nada Sakura cukup tinggi. "Sebenarnya sejak tadi malam dia demam!"
"Kalau kau tahu itu kenapa kau mengajaknya keluar?!" Kini Kiba yang semakin marah. Sakura menatap dalam mata sahabat Naruto itu.
"Baiklah, aku akan melihatnya."
Kiba berlari cukup cepat. Sakura memeluk tubuhnya. Shikamaru paham apa yang di rasakan Sakura, firasatnya tidak salah. Yang dilihatnya tadi bersama Madara adalah Naruto.
Tak lama kemudian Kiba berlari panik, "Sakura, dia tidak ada!"
Pikiran aneh-aneh merasuki otaknya, Sakura kemudian berlari keluar tanpa mantelnya. Kiba, Shikamaru dan Sai mengejar gadis itu. Temari memandang dari kejauhan, apa yang gadis itu lakukan.
Gadis itu memutari gedung dengan cepat, wajahnya dingin. Matanya menuju ke segala arah. Dia berlari menuju gereja, memutarinya lagi. mencarinya lagi.
Tangan kekar itu akhirnya menarik Sakura, "Jangan bercanda! Kau ingin bermain tag and hide apa?!" Shikamaru cukup memarahinya dengan keras. Memarahi seorang puteri? Dia memutar matanya.
"Maafkan aku nona." Pandangan Shikamaru kosong.
"Na...ru...to dimana tuan?" tanya gadis itu dengan nada tergetar. Shikamaru melepas mantelnya dan segera memberikan pada gadis yang berpandangan kosong itu.
"Sakura, kita harus melaporkan ini pada suster Shizune." Kata Kiba yang sekarang mulai panik.
"Itu dia Sakura!" Temari dan berlari bersama Kakashi menghampiri anak-anak itu.
"Sakura..." katanya parau. Kakashi menyentuh dahi lebar Sakura dengan dahinya sendiri. Panas sekali.
"Kau demam. Ayo istirahat."
"Naruto menghilang, tuan." Kiba menarik lengan Kakashi. "Apa?!" Kakashi membulatkan matanya. Baru saja menemukan anak mantan gurunya itu, kini dia menghilang lagi.
Kakashi menggendong tubuh Sakura, dia segera berlari memasuki panti asuhan itu. Sakura memang tidak pingsan, hanya suhu tubuhnya yang kian memanas.
"Suster Shizune!" Kakashi beteriak, sambil berlari menggendong Sakura. Shizune dengan panik mengikuti pria itu menuju kamar Sakura.
Kakashi merebahkan gadis itu di tempat tidurnya, "Cepat hubungi dokter Orochimaru!"
Karena Kakashi terlihat cukup panik, Shizune hanya dapat menurut.
"Naruto menghilang, aku akan mencarinya dulu. Jika anak itu telah kembali, kau jaga dia!"
Sebelum Shizune menjawab, Kakashi telah pergi diikuti tiga anak laki-laki itu.
.*.*.*.
Kakashi bersama Shikamaru, Kiba dan Sai hampir memutari seluruh kota London selama tiga jam. Dia menghela napas dan memberhentikan mobilnya.
"Sudahlah...ini hari Natal. Aku lelah. Aku lapar." Kata Kakashi sambil mengatur napasnya.
"Paman, sebenarnya kami bisa menyetir." Kata Sai tersenyum.
"Kenapa tidak bilang dari tadi sih!" Kakashi membanting wajahnya ke setir mobil itu.
"Kau yang memaksakan diri." Kata Shikamaru bosan. Mobil itu berjalan lagi, menuju sebuah restoran Jepang yang tidak jauh dari daerah St. Jame's. Pria itu memakirkan mobilnya.
"Makan di sini?" tanya Shikamaru, "あぁ~ よかっただろう! イギリスには日本料理のレストランで始めて食べに行くぞう~" (Oh~ Syukurlah. Aku baru pertama kali pergi makan ke restoran Jepang di Inggris!)
Ketiga pemuda di depan Shikamaru itu hanya mendatarkan ekspresi wajahnya.
"Kita tinggal saja yuk." Aja Kakashi, mereka bertiga berbalik menuju arah restoran.
"Bicara apa sih dia?" tanya Kiba, "Entahlah, aku juga baru mengenalnya akhir-akhir ini." Jawab Sai sambil tersenyum.
"He-hei kalian! Tunggu!" Shikamaru mengejar mereka.
.*.*.*.
Mereka memasuki restoran khas Jepang itu. Kayu dan pembatas bambu yang cantik memenuhi ruangan.
"Four season Restorant?" Kiba mengatakannya.
"Ya, ini tempat langgananku." Kakashi mengambil tempat dekat dengan sebuah teras.
"Desainnya sesuai dengan musim di Jepang saat ini." Tambah pria itu. Kiba sedikit melirik ke sebuah papan pemberitahuan. Dia tersenyum.
Pada akhirnya mereka pun memesan makanannya. Terutama Kiba dan Shikamaru yang banyak memilih menu. Sekitar lima belas menit kemudian hidangan itu telah selesai.
"Kalian lapar atau doyan?" tanya Kakashi sebal, dia saja tidak makan sebanyak itu.
"Terimakasih tuan, ini akan jadi tempat langgananku juga!" Shikamaru tertawa dan memanggut-manggut kepalanya. "Oh ya, saat aku menuju ke panti asuhan itu. Entahlah, aku tidak yakin. Tapi aku melihat tuan Madara bersama Naruto dengan mobilnya yang melaju kencang."
"Madara?!" Kakashi panik, "Kenapa kau tidak bilang sejak awal?!"
"Aku bilang aku tidak yakin!"
Kakashi menghela napasnya.
"Jika kau mau, aku akan mengantarkanmu kerumahnya."
.*.*.*.
"Pesawat telah disiapkan, Tuan besar Madara."
"Tidak ada saksi mata, kan'?" tanya Madara memastikan.
"CLEAR!"
"Bagus, Juugo. Setelah mengirimnya, cepatlah kembali kesini!" telepon itu tertutup dan Madara mengembangkan senyumnya. Dia membuka sebuah buka atlas dunia diatas meja kerjanya.
"Tenang saja, Minato. Aku tidak akan mencelakai anakmu ke tempat yang buruk.
Chapter 10: Someone's Missing - End
Author's Note:
Gile beneran ini gw kebut update?! ekekkee iye tenang aja di update terus. minggu depan harus sudah tamat pokoknya!
tunggu dulu, HEEEE?! NARUTO PERGI? KYAAAAAAAA APA DIA DI CULIK LAGI?
entahlah saya sendiri masih pusing. otak saya ribet ehehehe
makasih sudah review
oh ya tadi aku buka email, ada info review.
review ini membuat gw tertawa terpingkal-pingkal.
From: Nagasaki (Guest)
Nagasaki:Kecil2 udah berciuman
awkakkakkwakakkawawk singkat padat penuh makna kritik abis sumpeh ape tumpeh-tumpeh gw ngakag banget.
*mendadak serius* dengar ya Nagasaki Hiroshima, ini nama nya feel ekekekke
boleh ya pliss pliss... umur 11 tahun dah ciuman gpp yah plis lagipula naruto nya udh umur 13th
di eropa kisah begini so sweet banget pasti, karena biasanya ciuman yg begini gak nafsu, tapi murni cinta. hm sebenernya gw kurang paham apa yg gw ketik tadi, tapi kayaknya sih gitu, ih gw ngarang sendiri masa. tapi gpp ya bener? kalau gak aku apus nih chpter 8 nya *ngancem
ah teriiimaakasih yang sudah bilang ganbatte, kalian juga ganbatte yaaa!
with Love, Miu
