The legend of Holy Cat Dragon
Genre : Adventure, Fantasy, Friendship, Romance, and Supernatural
Pairing : Naruto x Harem.
Disclaimed : Naruto & High School DxD bukan punya saya.
Summary : Uzumaki Naruto, sosok pirang berisik, terlahir kembali sebagai sosok anak emas dari tuhan (Bad Summary).
Warning: Abal, Gaje, Miss Typo (Bertebaran), Canon, OC, OOC, And Etc.
Chapter 9
Kenapa?—kenapa?—kenapa?—kenapa mereka selalu memberi perhatian mereka pada 'dia'?—sedangkan aku hanya dianggap tidak ada. Setiap hari bertemankan sebuah ayunan dan serigala, hanya itu yang menjadikan hariku sedikit bahagia.
Mereka selalu memberikan perhatian lebih pada mereka, dan aku,-aku mungkin hanya menjadi penghalang bagi kebahagian mereka.—apa aku ini pantas dilahirkan?—apa aku ini pantas hidup?—apa aku ini pantas? Entahlah, aku juga tidak tahu akan hal itu.
"Okaa-chan, kita main lagi ya!"
"Hm…tunggu sebentar ya!"
Perkataan yang membuat hati rapuh itu kembali terdengar oleh gendang telingaku. Memegang erat tali ayunan yang dibuatkan oleh salah satu serigala sahabatku adalah hal yang mungkin bisa sedikit menghilang perasaan ini. Aku tahu-aku tahu kalau aku ini adalah anak dewi ilusi yang kekuatannya sangat dahsyat, tapi aku ini adalah anak yang menginginkan kasih sayang dan cinta dari orang tua—tapi mereka—apa aku ini bagi mereka?—batu sandungan?—serangga hama?—atau…aib?.
TES TES
Lagi, liquid bening keluar dari mata kusam ini entah untuk keberapa kalinya.
JILAT
Aku tersenyum—serigala ini sangat mengerti perasaanku, mengelus bulu putih milik hewan suci ini adalah hal yang sering kulakukan untuk menghangatkan tubuh dan hatiku.
"Arigatou Tenro-chan" menyentuhkan hidungku pada hidung serigala suci ini membuat suatu sensasi seperti yang kuharapkan selama ini, dan ekor putih halusnya bergerak kesenangan dan sesekali menyentuhkan bulu yang mirip gulali kapas itu ke kulitku.
"Nyuu Nyuu~~" suara imutnya membuatku senyumanku sedikit melebar, dan tanganku kubawa untuk mengeluar bulu seputih saljunya.
"ITTEI…OKAA-CHANNN" tangisan itu membuatku perhatianku teralihkan ke 'dia'. Kubawa kakiku dan ku ayunkan tanganku menuju sumber suara, dan di sana kulihat 'dia' memegag lututnya yang berdarah, mungkin karna perasaanku sebagai seorang kakak masih melekat dalam hati, jadi ku putuskan untuk menolongnya.
Dan saat aku akan menyentuhnya…
"Astaga!—apa yang kau lakukan pada adikmu, Hotaru?" jeritan ibuku membuat perhatianku teralihkan kepadanya.
"Aku tidak melakukan apapun Okaa-sama, aku hanya ing…"
PLAK
Dan untuk pertama kalinya aku ditampar oleh ibuku sendiri yang telah melahirkanku ke dunia yang penuh dengan hal-hal misteri.
"Pergi dan renungkan perbuatanmu!—aku tak akan memaafkanmu sebelum kamu dimaafkan oleh Ama!" aku hanya bisa terdiam seribu bahasa, tidak ada kosa kata yang ingin keluar dari mulutku, semuanya sudah terkunci secara otomatis ketika ibuku menamparku.
"Aku mengerti!" aku mengerti—sangat mengerti kalau aku ini tidak diharapkan oleh ibuku. Aku mengerti kalau aku ini hanya menjadi beban antara timbangan yang disebut keluarga. Aku mengerti kalau aku ini hanya menjadi gunting pemotong tali keluarga ini.
Aku beranjak meninggalkan ibuku yang sedang mengobati adikku dengan telaten dan extra hati-hati. Beranjak pergi menuju tempat yang selama ini menjadi sandaranku.
Duduk kembali di ayunan tersebut adalah hal yang sering kulakukan beberapa tahun ini. Tenro melompat dan duduk di pangkuanku, serta ekor putihnya mengelus pipiku yang penuh dengan air mata.
"Tenro…maaf jika aku tidak bisa melihatmu tumbuh dan berkembang menjadi serigala betina yang cantik, maaf jika aku tidak bisa melihat anakmu kelak, maaf jika aku tidak ada di sisimu lagi mulai besok, maaf, maaf, maaf" sudah kuputuskan untuk pergi menuju kehidupan berikutnya, reinkarnasi adalah jalan yang akan kupilih sekarang ini.
"Nyuu~?" mata kuning milik Tenro menatapku dengan bingung, lalu melebar…
"NYUU NYUU NYUU~~~" cakar milik Tenro menggores tangaku dan pipiku, membuatku sedikit kesakitan, seakan keputusanku ini adalah hal yang tabu baginya.
"Maafkan aku Tenro" aku meletakkan tanganku di atas kepalanya, dan memasukkan energy yang kupunya untuk menidurkan hewan kesayangaku, sahabat yang selalu menjadi tempatku untuk berbagi kesedihan.
"Ho-ta-ru ja-ng-an ti-ng-gal-kan a-ku" dan tak lama kemudian Tenro masuk ke alam bawah sadarnya.
…
"Apa kau yakin?" pria di depanku ini selalu menanyakan hal yang sama berkali-berkali, dan membuatku sedikit bosan.
"Ya…dan jangan bertanya lagi!"
Dan yang kulihat selanjutnya adalah dunia putih, White World.
…
…
Aku, Amaterasu no megami, hanya bisa menatap kejadian di depanku ini dengan syok. Onii-chan yang selama ini ingin kugapai, ditampar oleh tangan ibu yang sudah memperlihatkan dunia ini kepada kami.
Dia melebarkan matanya, cairan yang melambangkan kesedihan itu hampir keluar dari mata biru indahnya. Luka yang ada di lututku ini tak ada artinya lagi bagiku, hatiku lebih sakit ketika melihat Onii-chan dimarahi seperti ini, padahal ini hanya kesalahanku, karna kesalahanku aku mendapatkan luka seperti ini.
Ingin kupegang tangannya ketika ia membalikkan badan, lalu memeluknya. Namun tanganku hanya bisa menggai kehampaan yang tidak apan pernah bisa tersentuh oleh tangaku ini.
"Onii…" entah kenapa, suara ku tidak bisa keluar dari mulut ini.
…
Aku sangat kawatir, hari sudah mulai sore, tapi Onii-chan belum juga kembali ke rumah. Okaa-chan hanya diam saja, seperti tidak terjadi sesuatu, namun aku tahu kalau Okaa-chan juga sangat kawatir. "OKaa-chan, aku pergi sebentar" aku melangkahkan kakiku menuju pohon tempat di mana ayunan yang selalu diduduki oleh Onii-chan setiap hari.
Namun yang kulihat hanya ayunan kosong, dan di depannya ada hewan suci yang selalu bersama Onii-chan. Kubelai bulu putih halus miliknya, dan ia perlahan membuka matanya…
"Kamu tidak ap…ITTAII" aku tak tahu kenapa, namun setelah serigala ini membuka matanya lalu ia menggigit tanganku, dan menatapku marah, benci, kecewa, dan…aku tidak tahu tatapannya itu.
"GRRRRRRR" serigala ini menggeram ke arahku lalu pergi meninggalkanku yang sedikit kesakitan.
Dan…
Aku tahu kenapa serigala suci ini marah padaku setelah aku kembali ke rumah dan melihat Okaa-chan tertunduk lemah di lantai dengan air mata yang mengalir deras dan terisak pilu.
Onii-chan pergi meninggalkan kami—Onii-chan pergi meninggalkan kami ketempat di mana yang tidak bisa kugapai lagi…
REINKARNASI
Onii-chan pergi ke tempat penjaga sumur reinkarnasi, lalu masuk ke dalam sumurnya dan selanjutnya…ia tak akan pernah kembali lagi ke sini.
…
Aku berada di kamar Onii-chan, menghirup aroma bantal yang terdapat bau Onii-chan yang mungkin bisa menghilangkan sedikit rasa rindu dan kesedihannku. Perhatianku teralihkan ke sebuah buku yang teradapat di atas meja, meraih bukunya lalu aku membaca halaman pertama…
'Apa aku ini pantas di lahirkan?—kenapa Okaa-sama selalu memberi perhatian lebih ke adikku?—apa aku ini hanya menjadi penggangu?—kenapa aku selalu iri ketika melihat mereka bersenang-senang dan aku hanya menjadi batu sandungan bagi kehidupan mereka?—aku tahu kalau aku ini adalah anak dari dewi yang kuat, namun aku ini hanya seorang anak yangmenginginkan perhatian dari sosok yang disebut orang tua'
Aku tak kuasa untuk tidak menahan air mataku, apa aku ini merebut kebahagian Onii-chan?—aku membalik halaman catatan yang ditinggalkan Onii-chan…
'Lagi—ketika aku ingin mengajak Okaa-sama bermain, beliau hanya mengabaikanku dan memilih adikku. Aku tak tahu apa kesalahanku, setiap malam aku selalu merenungkan kesalahan tersebut dan aku tidak ingat kalau aku melakukannya'
Aku melihat kalau tulisan selanjutnya meluber, kemungkinan Onii-chan menangis saat menulisnya, dan aku juga menangis ketika membaca catatan ini.
Entah kenapa aku merasakan rasa sakit yang hebat mendera hatiku…aku selalu cemburu melihat Onii-chan bisa berteman dekat dengan hewan-hewan suci berbagai jenis, sedangkan aku tidak.—tapi yang paling sakit di sini adalah Onii-chan, dan aku merebut kebahagiaan yang dia harapkan itu dari Okaa-chan.
Aku menutup buku yang tadi kubaca, lalu membawanya tidur—biarkan saja sekali ini aku tidur di kamar kakakku untuk sekarang, mencoba menghirup aroma citrus yang melekat di tempat tidurnya.
…
…
…
Dan di saat yang bersamaan, kedua kakak beradik ini membuka mata saat sesuatu menyentuh indra sensitive mereka…
Air keluar dari kedua mata yang memiliki warna yang indah dan menyejukkan tersebut. Ia tak tahan dengan semua memory yang ingin ia lupakan kembali ke permukaan.
Naruto Uzumaki menyentuh dada kirinya yang sakit. Mengalihkan perhatiannya ke samping dan melihat sosok gadis cantik yang sedang tertidur sambil memegang tangannya, menggeser tangan tersebut dengan sangat lembut, agar tidak membangunkan sang empunya tangan, lalu beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
…
Membasuh mukanya dengan air dingin yang menyejukkan, menghilangkan bekas air mata yang keluar sewaktu ia tidur. Manatap wajahnya sendiri di kaca yang ada di depannya, lalu mengusap tiga pasang whisker yang ada di masing-masing pipinya.
"Jadi Tenro, kau yang melakukan ini padaku?—aku anggap ini hadiah"
…
Saat kembali ke kamarnya, ia melihat Sona sedang mengucek matanya, membuat sedikit senyuman bertengger di bibirnya.
"Sudah bangun?" pertanyaan retorik dari Naruto membuat perhatian Sona teralihkan ke pemuda pirang yang sedang memakai pakaian sekolah yang biasanya.
PELUK
Sona menghambur ke pelukan Naruto dengan kecepatan di atas rata-rata, dan terisak di pelukan pemda pirang ini.
"Maaf maaf kalau aku membuatmu kawatir, Sona" gadis keturunan Sitri tersebut menggeleng dengan cepat di dalam pelukan pemuda bermata biru ini.
(Ruang Makan)
Keluarga Hyodou sedang menikmati acara makan mereka, ditemani oleh Rias, Asia, dan Sona.
"Hey Naruto, dikelas ada murid baru lo, cantik dan baik" Issei si pemilik [Boosted Gear] membuka suaranya, membuat Naruto mengalihkan aktivitasnya dari memakan ramen menjadi menatap pemuda berambut coklat ini.
"Siapa? Awww" dan kakinya diinjak oleh Sona Sitri. Cemburu
…
(Kelas)
Pemuda berambut pirang ini menatap bingung pada kerumungan lelaki dari berbagai kelas di mejanya.
"Apa yang ada di sana Issei?"
"Murid baru itu duduk di bangkumu, kau tahulah, dia itu sangat cantik dan aku menginginkan dia menjadi haremku" dan Issei mengucapkannya dengan mata berbinar.
Melangkahkan kakinya menuju kerumangan murid tersebut, lalu pemuda pirang ini berhenti ketika seseorang menyenggolnya.
"Bisa kalian minggir?—aku ingin duduk, dan tolong jangan membuatku emosi karna aku baru sembuh" dan wajah mereka pucat ketika suara Naruto, lalu memberi jalan untuk Naruto.
Matanya membulat sempurna ketika mata biru indah ini bertemu dengan mata hitam onyx yang menatapnya dengan syok.
"K-kau…" gadis pemilik mata hitam indah itu kembali dari kesadarannya, lalu dengan cepat menghamburkan tubuhnya ke pelukan Naruto yang masih dalam mode 'syok'.
"Kenapa-kenapa- kenapa- kenapa- kenapa- kenapa" tangan mungil siswi baru memukul pelan dadanya, lalu terisak.
"Kenapa?" melihat siswi baru ini menangis di pelukannya, membuat sisi kakaknya keluar, lalu membawa tangannya untuk membalas pelukan siswi berambut hitam ini.
Murid baru ini kembali menenggelamkan wajahnya lebih dalam lagi ke dada pemuda berambut pirang.
"EHEM" sebuah deheman membuat perhatian mereka, murid baru ini buru-buru melepas pelukan rindunya dari pemuda pirang ini.
Issei hanya melongo dengan mata melotot akan kehampaan melihat adegan yang membuat hatinya cemburu, sedangkan anggota trio mesum lainnya menangis gaje, dan melemparkan sumpah serampah yang selalu terlontar dari mulut mereka…
"TERKUTUK KALIAN PARA ORANG TAMPAN!"
"Bisa jelaskan apa yang terjadi?" ketua Osis yang merangkap sebagai kekasih pemuda bermata biru ini menatap pemegang nama Uzumaki itu dengan tajam, dan matanya sedikit berair.
"So-Sona, i-ini ti-tidak se-seperti yang ka-kamu pikirkan" rasa bersalah mulai menguasai Naruto, namun apa ini salah?—seorang 'kakak' memeluk adiknya?—entahlah, bisa jadi itu juga salah menurut pandangan mata ungu milik Sona.
"Bisa jelaskan Uzumaki-san?" mata ungu milik Sona menatap Naruto yang sedang menundukkan kepalanya…
"Summimasen, tapi aku ini adalah adiknya Hotaru-nii, namaku Amate Rasu, salam kenal" menunjukkan sedikit senyumannya, namun entah kenapa dirinya merasa tidak enak menyebut Naruto sebagai kakak. Dia hanya bisa membuat Naruto menderita dari dulu, dan dia muncul tampa sepengetahuan pemuda di depannya ini dan mengaku adiknya.
Sona mengangkat sebelah alisnya, bingung. Nama kekasihnya adalah Naruto, bukan Hotaru. Naruto mengangkat kepalanya, lalu mengambil nafas…
"Maaf, sepertinya kamu salah orang!—aku adalah Naruto, Na-ru-to dan aku bukan orang yang kamu kenal, aku sendiri juga tidak mengenalmu" dia berpikir, lebih baik ia tak terjebak dalam hantu bayangan masa lalu, itu hanya akan membuat hatinya sakit dan lebih parahnya ia akan terjebak dalam ilusi kehancuran.
"Onii-chan, apa ya-yang ka-kam…" dia tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi, jujur kalau pemuda di depannya ini marah ia lebih memilih untuk dipukul, ditampar, apapun—asal jangan mengabaikannya saja.
"Namaku itu Na-Ru-To U-Zu-Ma-Ki—bukan Ho-Ta-Ry seperti yang kamu katakan Ra-Su-san" dengan berbagai penekanan disetiap katanya, dan memainkan jari telunjuknya dengan kaki mengehentak-hentak ke tanah pertanda ia kesal.
Amaterasu memegang kerah baju Naruto, lalu membawa Naruto mengahadap langsung ke wajah cantiknya…
"Apapun—apapun akan kuterima, asal Onii-chan mau memaafkanku, tapi kumohon jangan mengabaikanku!" tangan mungilnya memukul pelan dada Naruto dan dia juga menyundulkan kepalanya ke dada pemuda pirang ini.
"Apa drama siang ini sudah berakhir?—kamu tahu, kalau aku ini baru sembuh, dan dari tadi aku selalu berdiri, bisa melepaskanku dan membiarkanku untuk duduk?!" permintaan yang seperti perintah terdengar di telinga milik Amaterasu, membuat gadis ini sakit, lalu dengan spontan melepas pelukannya dari Naruto.
"Maaf kalau aku salah orang" apa ini yang dirasakan oleh kakaknya dulu?—diabaikan olehnya dan ibunya?—apa karna itu kakanya memilih jalur renikarnasi dan pergi selamanya dari kehidupan dewanya?—dan semua pikiran tersebut membaur dan membuat hatinya dilanda rasa perih yang sangat hebat.
Namun, apapun yang dirasakan oleh Amaterasu kali ini, Naruto dapat merasakan bahwa hawa kesedihan menyelimuti paras ayu sang dewi matahari. Menurut Naruto ini yang terbaik, biarlah masa lalu menjadi masa lalu dan masa sekarang harus ia jalani untuk masa depan, tetapi di balik wajah polos dan kesal yang sekarang ia gunakan tersemat ribuan jarum mematikan yang siap menusuk dirinya sendiri dari dalam.
Tapi ini yang terbaik'kan?
…
Helaan nafas lelah terdengar untuk yang entah keberapa kalinya dalam hari ini. Suara ribut dan siap menghancurkan telinga milik Naruto terdengar akibat perebutan Issei oleh Rias dan Asia—Sejak kapan perawan suci ini menjadi agresif ?—dan dia hanya mampu menutup telinga dengan earphone sambil melihat langit biru yang menjadi cermin bagi laut ini.
Mata birunya menerwang jauh, mencoba membuka setiap memory yang masih belum dibuka oleh program ingatan miliknya. Matanya tertutup untuk sementara dan saat mata itu kembali terbuka…air mata kembali keluar dari cahaya penerang bagi benda yang seringkali disebut mata.
Kenapa ia harus mengingat masa lalunya?—ini adalah jalan yang dipilihnya, jadi ia tak ingin teringat akan kehidupan pertamanya. Kenapa adiknya harus muncul dan bersekolah yang sama dengannya?—pertanyaan demi pertanyaan yang sudah lama ia lupakan kembali terbuka oleh program ingatannya—kehidupan yang sungguh merepotkan.
…
Hari ini adalah hari yang sangat membuatnya ketakutan—seorang wanita datang dan langsung memeluknya dari arah belakang—membuat semua murid yang bersekolah di Kouh Academi melihatnya.
"Lepas—kumohon!" air mata sudah menggenang di pelupuk mata birunya. Namun bukan sebuah jawaban yang ia dapat, melainkan pelukan sang wanita bertambah erat setiap detiknya.
"Tidak—Kaa-san merindukanmu" liquid bening tadi sudah mengalir dari kristal biru miliknya, tangan yang tadinya memegang tas sudah tidak memegang apapun lagi. Tangan, bahu, dan kakinya bergetar menahan gejolak kesedihan yang siap meledak kapan saja.
Memfokuskan kekuatan pada kakinya, ia—Naruto—dengan cepat memberontak dan melepaskan dari pelukan sang ibu, lalu berlari dengan cepat menuju satu-satunya tempat yang membuatnya bisa menenangkan diri—meninggalkan sang dewi yang terdiam membisu.
…
Semua ora—iblis yang berada di ruang penelitian ilmu gaib hanya dapat terdiam melihat kacaunya Naruto saat ini—laki dengan kadar keimutan yang overdosis ini terlihat sangat—gimana gitu—apalagi melihat si pirang satu ini langsung memilih sofa yang ada di sudut ruangan, lalu…tidur.
…
…
Dan malam ini adalah malam pertemuan antara tiga fraksi akhirat yang ingin mengajukan surat perdamaian anti perang. Setiap pemimpin fraksi membawa bodyguardnya masing-masing. Michale dengan Irina, Sirzech dan Serafall dengan kelompok Gremory dan Sitri, serta Azazel dengan Hakuryuuko, Vali Lucifer.
Dan hanya satu iblis dari klan Gremory yang tidak hadir…
Naruto Uzumaki
Entah kenapa pemuda itu tidak hadir dalam rapat penting ini, padahal keterangan akan saksi matanya sangat dibutuhkan saat ini.
DUAR
Ledakan kekuatan yang extra besar membuat semua makhluk yang berada di dalam ruangan tersebut was-was—ada yang menyeringai juga tentunya.
[Beberapa waktu sebelumnya]
Terjadi pertempuran yang hebat. Di sebuah hutan belantara, orang tua berambut putih dengan tawa kekanak-kanakkan miliknya menatap pemuda di depannya yang sedang mengeluarkan nafsu membunuh yang luar biasa.
"Lagi!—lagi!—berikan aku lebih dari ini!" orang tua itu menjilat bekas luka yang diterima di tangan kanannya. Pemuda yang ada di depannya hanya diam membisu, tidak berniat membalas perkataan kakek tua satu ini.
"Ayolah~~~apa hanya ini kekuatan dari putra 'matahari'?—kau membuatku kecewa—Jadi…MATILAH!" dengan kecepatan yang tidak bisa di ikuti oleh mata, Rizevim berpindah ke tempat Naruto yang mematung.
DUGH—Hantaman lutut.
BRAK—menabrak pohon.
KRAK—patah tulang.
"Kau pikir akau akan mati, kakek tua?" perlahan dari balik debu muncul sosok pemuda berambut pirang dengan pakaian yang sudah sangat hancur berantakan, dan sesekali pemuda tersebut batuk darah.
"Oh~~Naru-chyaan masih belum menyerah ya?—aku suka-aku suka, Naru-chyaan daicuki~"
Menjijikkan
Tangan kanannya sudah memegang sebuah pedang yang amat tipis yang mengeluarkan sebuah listrik stastis. Listrik yang berasal dari pedang tersebut tibatiba menghilang, digantikan dengan sebuah halilintar merah nan amat panas.
Kedua pedang kembar tersebut dibawa dengan kecepatan penuh menuju putra bintang fajar—menghunuskan kedua pedang kembar yang sering disebut…Kiba.
TRANK
Serangan milik Naruto dengan mudah dipatahkan oleh Rizevim. Pedang tersebut berubah menjadi pisau kecil, lalu bergerak menggores pipi milik kakek tua ini.
Darah mengalir memalui pipi yang tanpa keriput, walaupun telah menginjak usia lebih dari 1000 tahun—kekuatan tadi tidak ada apa-apanya dengan kekuatan milik kakek tua ini.
"Hyahyahya~~Naru-chyaan~~~ hontou daicuki, kau makhluk kedua yang berhasil melukaiku Naru-chyaan—jadi jangan sungkan!—keluarkan semua kekuatan yang kau miliki!" aura iblis milik Rizevim bertambah setiap detiknya—tanah yang berada disekitarnya hancur karna tidak kuat menahan kekuatan milik pemegang nama Lucifer ini.
Namun, naruto hanya diam membisu—ia tahu kekuatannya tidak akan mampu mengimbangi kekuatan milik Rizevim—bahkan jika yang disegelpun terbuka, ia tak akan mampu melewati setengah kekuatan kakek tua di depannya ini. Yang bisa dilakukannya hanya berjuang untuk membuat Rizevim kelelahan, lalu kabur—sifat kucing.
Namun, seakan mengerti apa yang ada difikirkan Naruto, Rizevim dengan cepat menyerang dan mematahkan kedua kakinya agar pemuda satu ini tidak bisa bergerak lagi.
"Kau membuatku kecewa!—apa yang akan kulakukan setelah kau mati?—hyaann~~~aku dapat membunuh Seikyuuretei, Gremori, Himejima, Tojou, Sitri, dan semua yang ada di sekitarmu!—iya-iya, akan kulakukan semua scenario terbaikku nantinya, jadi kau harus menontonnya ya!"
Cukup sudah!—kalau Lucifer satu ini mau membunuhnya, ia tak akan keberatan, tapi jangan pernah menyentuh temannya!—dan Koneko-nya!.
SRING
Perlahan dari langit sebuah fenomena yang hanya terjadi dalam sekali seratus tahun terjadi…Grehana bulan.
Matahari menampakkan sinarnya pada waktu yang seharusnya di mana semua orang berbaring untuk meringankan tubuh yang sudah lelah karna seharian bekerja.
Cahaya dari gerhana bulan tersebut menyinari tubuhnya yang terbaring di atas tanah, beralaskan sebuah baju yang ia pakai—tulang kaki yang tadinya patah, perlahan membentuk kalsium-kalsium baru untuk menumbuhkan tulang yang menjadi tumpuannya berjalan.
Cahaya emas, merah, putih, kuning, dan abu-abu, serta hitam keluar dari tubuhnya. Sebuah aksara muncul di bawah kakinya, dan perlahan aksara tersebut meretak dan akhirnya hancur.
[Danger Longinus] yang memiliki sinar emas menjadi pusat untuk menarik kekuatan-kekuatan yang lainnya—segel milik Rizevim berhasil dihancurkan—membentuk sebuah inti seperti atom yang berwarna pelangi, dengan tambahan warna hitam yang menjadi cincinnya—saturnus.
Perlahan inti yang berbentuk planet saturnus tersebut masuk kembali ke tubuhnya, dan aura membunuh yang sangat hebat dan besar keluar dari tubuh milik Uzumaki Naruto.
[Waktu sekarang]
Mata dari pihak aliansi membulat sempurna, di dalam hutan tersebut mereka melihat pemuda dengan mahkota yang berwarna kuning keemasan sedang bertarung dengan sosok yang sangat familiar bagi mereka, Rizevim Livan Lucifer atau paling sering disebut sebagai Putra Bintang Fajar.
"Kyaa~~~…apa aku bisa meminta yang lebih dari ini?—berikan aku lebih!"
Dan untuk kelanjutannya, kalian bisa baca di chapi yang mendatang!
…
Yo lama tak jumpa—saya kembali melanjutkan ficsi ini, dan KENAPA FFN SANGAT SEPI?.
Yah~~untuk beberapa hari, minggu, dan bulan ke depannya mungkin aku tak bisa melanjutkan cerita ini dulu karna aku sedang super sibuk di lab.
So Riview ya!
