LAST WISHING


Baekhyun tak pernah lagi tidur nyenyak sejak persalinannya. Ia terjaga sepanjang malam, berdiri di lorong dan mengharapkan sebuah tangisan bayi menggema disana. Baekhyun tau ia adalah orangtua paling buruk dengan mengharapkan anaknya menangis sepanjang waktu, namun Baekhyun tak memiliki pilihan dan juga tak memiliki alasan jika ingin melihat bayinya.

Chanyeol datang dengan raut wajah kacau menggendong Chanhyun menghampiri Baekhyun. Tangisan itu meraung namun Baekhyun menyambutnya dengan senyum sumringah. Ia cepat-cepat mendekap bayi itu ke pelukan dan menyusuinya disana.

Tangis Chanhyun mereda hanya dalam hitungan detik dan Chanyeol menghabiskan waktunya dengan terjaga pula bersama anak itu.

Hyebin adalah satu-satunya yang berteriak mengatakan jika Baekhyun selalu mencari kesempatan dan mengatainya pelacur tak tau diri. Baekhyun tak ingin menanggapi, alunan senandungnya mengiring lembut mengantar bayi itu dalam tidur kembali.

Itu selalu berjalan setiap hari.

Suatu hari Baekhyun tak sengaja mendengar Hyebin yang berteriak kalap tentang nama bayi mereka. Ia memaki nama Chanhyun adalah nama terburuk yang ia dengar.

"Ganti atau aku takkan sudi pulang ke rumah!"

Chanyeol hanya mengacak rambutnya dengan frustasi dan membiarkan Hyebin melakukan keinginannya. Hyebin memilih nama Jackson, Jackson Park dan memarahi semua orang yang tetap memanggil bayi berumur beberapa bulan itu dengan nama Chanhyun.

Keadaan kembali normal selama beberapa saat.

Hyebin tetap bersama kelompok sosialitanya dan hanya pulang di waktu berkala. Chanyeol tak pernah mengajukan protesan—dan tak pernah menyadari pula bagaimana ia mensyukuri hal itu. Teriakan Hyebin menjadi hal yang mengganggu dan kepergiannya menjadi hal yang Chanyeol harapkan.

Hyebin tak pernah benar-benar menghabiskan waktunya dengan merawat Jackson seperti yang ia tegaskan jika ia merupakan orangtua anak itu. Hyebin selalu pergi dan meninggalkan bayi itu bersama dengan para pengurus rumah tangga. Dengan Chanyeol, bayi itu selalu ia berikan kepada Baekhyun dan jelas remaja itu menerimanya dengan suka cita.

Baekhyun tinggal sebagai pengurus Jackson dan tak pernah mengajukan keberatan. Sooyeon datang pertama kali sejak persalinannya dan mengajari Baekhyun bagaimana merawat bayinya.

"Taruh dia di bak mandinya dan guyur dengan air pelan, jangan merendamnya terlalu lama." Sooyeon memberikan instruksi. Baekhyun mendengarkan dan melakukan semua yang wanita itu ajarkan padanya.

Gerakannya cepat dan tanggap seolah Baekhyun memang telah melakukan itu ribuan kali.

"Kau belajar dengan cepat Baekhyun," Sooyeon memuji.

Baekhyun hanya tersenyum separuh dan melanjutkan pekerjaannya. Ia membaluri tubuh Chanhyun dengan minyak telon dan mengusapnya dengan pelan. Bayi itu selalu tersenyum senang dengan mata tanpa dosa menatap Baekhyun tanpa berkedip.

Chanyeol melihat semua itu pada kusen pintu dengan pikiran campur aduk bersamanya.

Ini berada di luar rencana. Chanyeol tak pernah mengharapkan semua ini terjadi. Hyebin benar, seharusnya ia tak plin-plan dengan tujuan rencana mereka. Seharusnya Chanyeol tetap menjadi si kejam membuang Baekhyun seperti yang seharusnya ia lakukan bukannya membiarkan rengekan itu meluluhkan ibanya.

Seharusnya Baekhyun sudah pergi dari rumahnya bukannya tetap berada disana dan malah membiarkan remaja itu merawat bayinya pula.

Chanyeol seharusnya tidak membiarkan itu terjadi, setidaknya tidak membiarkannya terus terjadi.

Tangisan Jackson di tengah malam itu selalu membangunkan Chanyeol pada tidurnya, Hyebin memilih menarik selimut sampai tenggelam di dalam sana tanpa peduli sedikitpun dan melanjutkan tidur kembali.

Chanyeol menggendong bayi itu keluar kamar, menelusuri lorong menuju tangga teratas dan selalu menemukan Baekhyun duduk pada anak tangga.

Baekhyun segera menggendongnya dengan tanggap dan ajaib tangisan itu segera mereda disana. Baekhyun membawanya masuk ke dalam kamar miliknya dan mulai menyusui bayi itu dengan senandung lembut yang sama.

Chanyeol selalu berada disana untuk melihat semua itu, berulang dengan perasaan campur aduk yang sama.

Baekhyun tau Chanyeol mungkin telah muak dengan bebal sifatnya. Baekhyun hanya perlu berpura-pura tak tau maka ia tetap bisa bersama bayinya. Baekhyun bertingkah tak peduli pun dengan Chanyeol yang menatapnya dengan raut sedatar itu, Baekhyun tak ingin mempedulikan apapun.

Hela nafas kasar Chanyeol selalu menjadi ketakutan Baekhyun. Itu berarti Chanyeol akan mengambil bayinya lagi dan kembali ke kamar milik pria itu.

"Di-dia masih haus," namun lagi Baekhyun menahannya disana. Baekhyun menatap pria itu memohon dengan mata basah siap menangis kapan saja. Chanyeol tak menyukainya, ia tak pernah menyukai bagaimana Baekhyun terus menempatkannya dalam posisi orang paling kejam disana.

"Akan sampai kapan kau terus begini?" Chanyeol mendengus keras berdiri menjulang di depan Baekhyun. Anak itu bergetar dalam ketakutan sedang lengan semakin erat mendekap bayinya.

"Dengan tingkahmu yang seperti ini, kau pikir aku akan merubah keputusanku?" Chanyeol menghentak kembali. "Jangan tempatkan aku pada posisi sulit Baekhyun, kau harus berhenti melakukannya."

"Maafkan aku…" Baekhyun merintih dalam penyesalan. "Aku hanya ingin melihat bayiku—"

"Dia bukan bayimu, itu adalah bayiku dengan istriku!"

Baekhyun tersentak kuat. Itu menyakitinya lagi dengan denyutan mengetuk rongga dadanya berulang. Baekhyun diam, sedang bibir bergetar menahan isak tangis yang hendak meledak.

Chanyeol berdecak keras lagi dan mengacak rambutnya frustasi. Kedua tangan berkacak di pinggang dan menatap dengan perasaan campur aduk—marah, kesal, juga sedih yang sama. Chanyeol tak ingin menyakiti anak itu lagi walau ia tengah melakukannya setiap detik berlalu.

"Besok aku akan menghubungi yayasanmu dan kau bisa kembali kesana."

Baekhyun seharusnya senang karena memang itulah tujuannya bertahan melahirkan bayi untuk Chanyeol. Namun kini semuanya telah berbeda, keadaannya berbeda dan Baekhyun jelas takkan merelakan bayinya begitu saja.

"Kumohon biarkan aku bekerja disini Paman." Baekhyun meminta. "Apapun itu… biarkan aku bekerja disini. Bahkan jika harus menjadi pelacur Paman, tidak apa-apa asal aku tetap bisa merawat Chanhyun."

Chanyeol mengerang keras. Tangannya terkepal dalam amarah dan ia tak sadar mulai melampiaskan itu dalam bantingan barang yang ada disana. Baekhyun terkejut dan Jackson tersentak lalu menangis disana.

"Kau bilang apa?" Chanyeol mendekatinya kembali. "Menjadi pelacurku?" mata bulat Chanyeol berubah setajam pisau siap mengguliti Baekhyun. Anak itu bergetar dan bodohnya ia malah mengangguk disana.

"Aku akan melakukan apapun asal tetap bersama Chanhyun…" bisiknya.

"Baik!" Chanyeol mengangguk dalam comohan. "Buka bajumu dan berdiri!" Chanyeol mentitah.

Baekhyun mencolos dalam ketidakpercayaan namun itulah pilihan yang ia ajukan. Tangannya bergetar memindahkan Jackson di atas tempat tidur dan memastikan bayi itu terlelap kembali lalu turun dari sana.

Chanyeol menunggu dengan alis naik pada kening menatap Baekhyun.

Baekhyun membuka bajunya, semua kain yang menutupi tubuhnya ia lepas dan membiarkan tubuhnya telanjang Chanyeol tatapi seperti itu. Chanyeol menatapnya seperti srigala lapar lalu mendorongnya pada dinding.

"Menungging!" Chanyeol memerintah lagi.

Baekhyun menahan seluruh harga diri tersisa dalam dirinya dan melakukan apa yang Chanyeol perintahkan. Ia bersimpuh di lantai dan menungging seperti yang Chanyeol pinta, sedetik kemudian kulit pantatnya Chanyeol tampar dengan keras.

Baekhyun terpekik tertahan—matanya hendak meloncat keluar dengan desak panas terbakar pada kulitnya. Chanyeol gelap mata, amarahnya membaur di udara menutup akal sehatnya.

Chanyeol mengejar pelapasannya tanpa peduli. Geramannya memenuhi ruangan namun Baekhyun tuli untuk menangkap semua itu. Indera basahnya jatuh pada bayi di atas tempat tidur dan menatap lama sosok mungil itu.

Baekhyun merasa baik, ia akan selalu baik-baik saja bukan?

Apapun jika itu bisa membuatnya bersama bayinya.

Sehun menatap lama retetan kalimat tertera pada kertas di tangan. Itu merupakan dokumen yang tanpa sengaja ia temukan di kediaman Chanyeol. Dokumen yang berisikan hak kepemilikan Chanyeol yang ia berikan kepada Hyebin. Bubuhan tanda tangan sebagai persetujuan belum tercetak disana dan Sehun menebak jika itu memang tengah dalam proses penyelesaian.

Sehun tak benar-benar ingin peduli sebenarnya. Ia datang ke kediaman Chanyeol dengan maksud untuk mengembalikannya juga maksud terselubung lain untuk menemui Baekhyun. ini sudah sejak lama ia tak pernah menemui remaja itu lagi.

Sooyeon bilang Baekhyun telah melahirkan namun dengan keinganan Baekhyun sendiri ia memilih tinggal di kediaman Chanyeol lagi. Sehun tak bisa menemuinya, Chanyeol takkan suka dan satu-satunya yang bisa Sehun lakukan adalah duduk berdiam diri di mobil berharap cemas sosok Baekhyun keluar sewaktu-waktu disana.

Namun bukan Baekhyun yang ia lihat, melainkan Hyebin yang tergesa. Ia mengendarai mobilnya dan berhenti tepat di belakang mobil Sehun, di menit berikutnya seseorang keluar dari sisi yang lain. Seorang pria dan mengambil alih kemudi mobil Hyebin dan melesat pergi dari sana.

Pria itu bukan Chanyeol namun tak asing bagi Sehun.

Ia mencoba mengingatnya, beberapa kali sampai ingatannya menyampaikan satu nama yang nyaris luput Sehun pikirkan.

Choi Yunho, sopir pribadi Chanyeol.

Akan pergi kemana mereka?

Apa hubungannya mereka?

Kehidupannya masih berjalan serupa seperti kemarin, kecuali tubuhnya yang semakin kurus dan kantung mata yang makin membengkak tiap harinya. Chanyeol menyadari itu di malam terakhir ia datang bersama Jackson. Bayi itu tidak menangis namun Chanyeol tetap membawanya untuk Baekhyun dan menidurkannya di atas tempat tidur remaja itu.

Pundak Baekhyun jatuh lesu namun tak luput melupakan apa tugasnya disana. Baekhyun tanpa kata segera melepas pakaiannya dan bersimpuh di lantai seperti yang selalu ia lakukan. Chanyeol melihatnya tanpa minat bersama raut datar menatapi anak itu lama.

Baekhyun menunggu tanpa peduli tubuhnya yang memar dan bagian bawahnya yang luka dimana-mana tetap menunggu Chanyeol memasukinya. Hening tercipta lama dan Baekhyun menoleh kepada Chanyeol dan menaruh bingung mengapa pria itu tak melakukannya.

"Aku sudah tak tertarik padamu." Suara beratnya dingin terasa. "Tubuhmu mengerikan, aku sudah tak bernafsu lagi menyetubuhimu."

Itu buruk. Baekhyun tau betul jika itu maksudnya telah bertemu batasannya. Baekhyun tak memiliki apapun selain tubuhnya, jika pria itu sudah tak tertarik lagi maka habislah kesempatannya selama ini.

"Kumohon a-aku bisa melakukannya dengan lebih baik lagi." Baekhyun beringsut mendekati Chanyeol dan terburu membuka celana pria itu. Chanyeol menampiknya keras dan berdiri menjulang angkuh di depannya.

"Kau memiliki satu hari terakhir melihatnya, besok aku akan menghubungi Jung untuk menjemputmu."

Jika Chanyeol tak menginginkan tubuhnya lagi itu berarti Baekhyun takkan bisa melihat bayinya lagi. Baekhyun belum siap, bahkan jika Chanyeol memberinya waktu satu hari penuh bersamanya Baekhyun takkan pernah siap. Ia menggeleng cepat dan mengejar Chanyeol memohon iba pria itu untuk mempertimbangkan dirinya lagi.

"Jangan paksa aku untuk menyakitimu Baekhyun!" Chanyeol menyentak keras. Baekhyun terkesiap namun tak juga menghentikan rendah dirinya bermain.

"Paman bisa melakukannya, Paman bisa menyakitiku—" ia memohon dengan tak tau diri. "Paman bisa melakukan apapun asal biar aku tetap tinggal disini." Baekhyun nyaris berlutut memohon tanpa peduli Chanyeol yang menganggapnya sampah.

Emosi Chanyeol tertimbun dalam ubun kembali. Amarahnya menumpuk dan ia benar-benar marah. Bukan untuk Baekhyun namun untuk dirinya sendiri. Chanyeol sadar betul jika dirinya yang membuat Baekhyun seperti itu. Ia secara tak langsung mengajarkan bagaimana Baekhyun menjual tubuhnya dan selalu menekankan bagaimana cara itu selalu ampuh untuk dilakukan.

Baekhyun masih melakukannya lalu bagaimana Chanyeol mengatakan jika ia sudah tak ingin melanjutkan itu lagi?

Chanyeol sudah tak ingin menganggap Baekhyun sebagai pelacurnya dan seharusnya juga Baekhyun berhenti menempatkan dirinya pada posisi rendahan itu. Chanyeol sudah muak dan ia benar-benar tak ingin melakukannya lagi.

Baekhyun adalah dosa miliknya. Bersamaan dengan itu sesal memenuhi Chanyeol tanpa ampun, pria itu tiba-tiba saja menyesal dan berharap waktu dapat berputar kembali.

Seharusnya ia tak dapat ke Heaven Angel hari itu, seharusnya ia tak bertemu Baekhyun dan memanfaatkan cacat pikiran anak itu untuk tujuannya. Seharusnya juga saat bayi keinginannya lahir Chanyeol segera mendepaknya pergi bukannya melakukan isi kecil hatinya dan membiarkan Baekhyun tinggal dan lihat bagaimana berakhir kini.

Chanyeol menyesal, beribu menyesal. Seharusnya… mereka bisa memiliki akhir yang lebih baik bukan? Seharusnya mereka bisa memiliki jalan cerita yang berbeda, yang lebih baik bukannya kacau balau tanpa titik temu seperti ini.

Akan sampai kapan Baekhyun membiarkan tubuhnya Chanyeol setubuhi? Sampai tubuhnya remuk atau sampai intim tubuhnya rusak?

Baekhyun jelas takkan berhenti, tapi Chanyeol… bagaimana dengan dirinya?

Hatinya nyaris lelah mengetuk iba dan ini saatnya. Chanyeol yang memulainya maka dirinya pula yang harus mengakhirinya.

"Pergunakan waktumu dengan baik."

Chanyeol membuang muka dan melangkah pergi dari sana. Rengekan dalam isakan Baekhyun ia abaikan tanpa menyisakan sedetik waktunya melihat bagaimana usaha anak itu.

Baekhyun menangis, suaranya terdengar walau Chanyeol telah mengunci pintunya rapat-rapat. Chanyeol memilih tuli dan dengan kasar meraih ponselnya menghubungi Sooyeon disana.

"Cepat ambil anak sampahmu dari rumahku!"

Dan berteriak frustasi melawan logika hatinya.

Inilah yang seharusnya Chanyeol lakukan, melepaskan Baekhyun walau ia tau… ia akan menyakiti dirinya sendiri setelah itu.

Chanyeol takkan melihatnya lagi, Chanyeol takkan melihat cinta setulus itu lagi untuknya. Hanya satu-satunya dan itu Baekhyun.

Pada akhirnya memohon juga tak memiliki makna apapun.

Baekhyun seharusnya telah mempersiapkan jauh-jauh hari maka ketika ini terjadi ia takkan sepayah ini mengatur dirinya sendiri.

Menangis tak memiliki guna, debuman pintu mustinya mampu menyadarkan Baekhyun jika waktunya telah di mulai. Inilah sisa waktu yang ia miliki, Baekhyun takkan memilikinya di kesempatan lain dan tak seharusnya ia menggunakan pelik itu hanya dengan meratapi segalanya.

Bayi mungil itu menatapnya tanpa berkedip, seolah ikut menghabiskan waktu menyelami paras Baekhyun dan tau inilah detik-detik terakhir yang mereka miliki.

Baekhyun mendekapnya lama. Baju depan Jackson nyaris basah oleh air matanya dan Baekhyun cepat-cepat menggantinya dengan pakaian yang baru.

"Udara semakin dingin," anak itu melirih kepada bayinya. "Jangan sakit…" tangannya ikut bergetar bersama dengan bibir yang ia paksa gigit sedari tadi. "Papa… menyayangimu, kau tau bukan?"

Jackson mengoceh dalam bahasa bayinya lalu tergelak seorang diri. Baekhyun tak seharusnya menangis lagi, disinilah dialah yang dibuang bukan Jackson.

Anaknya memiliki orangtua sempurna, mereka akan merawatnya dengan baik, memasukkannya ke sekolah bagus. Baekhyun tak seharusnya mengkhawatirkan apapun… Chanyeol mengharapkan kehadiran Jackson lebih dari apapun, pria itu takkan mentelantarkannya. Chanyeol akan merawatnya, membesarkannya dengan limpahan kasih sayang serupa dengannya dan seharusnya Baekhyun lagi tak harus mengkhawatirkan apapun.

Seharusnya…

Chanyeol tak pulang hari itu. Ia mengendarai mobilnya seorang diri dengan beribu perasaan campur aduk berbaur satu dalam dirinya.

Chanyeol telah bertemu dengan beberapa orang, bertemu dengan agen rumah yang ingin ia beli dan mengisi semua perlengkapannya dengan lengkap.

Deburan ombak adalah pengiring bahkan ketika bulan telah berada di puncak lagi menyadarkan Chanyeol batas waktu yang ia berikan kepada Baekhyun.

Semuanya telah berakhir. Tidak hanya tentang Baekhyun dengan bayi mereka, tapi juga Baekhyun dengan dirinya sendiri.

Chanyeol tak ingin menyesali apapun, semuanya memang harus berakhir disana. Dalam keadaan seperti lebih baik terasa daripada harus mengendapi kembali luka yang sama.

Chanyeol… takkan menyesali apapun.

Benar bukan?

Baekhyun memandikan Jackson untuk terakhir kalinya. Ia menguyur bayi itu perlahan dengan air, mengusapkan busa lembut sabun cair juga shampoo dengan aroma menyenangkan yang sama. Jackson selalu suka mandi, ia suka bermain air dengan bebek kuning di tangan. Baekhyun memperhatikan lama dan mencoba merekam semua itu dalam ingatan.

Baekhyun sudah tak ingin menangis. Chanhyun mungkin takkan mengerti, ketika dewasa nanti ia juga takkan mengingat apapun namun Baekhyun hanya ingin mengukir kenangan itu untuk dirinya sendiri.

Handuk kecil milik Jackson, Baekhyun ambil dan mengeringkan tubuh bayi itu dengan perlahan. Baekhyun membawanya ke tempat tidur, mengambil baju dan celana juga popok dan memakaikannya dengan telaten.

Jika Jackson tinggal bersamanya dalam waktu lama, Baekhyun tak pernah memakaikan popok dan memilih untuk memantau jika bayi itu buang air. Baekhyun senang melakukannya, tapi Chanyeol mungkin tidak.

Jackson tergelak lagi dan menendang-nendang udara, kekehannya menulari Baekhyun dalam tawa pahit yang coba remaja itu suarakan. Ia menunduk dan membiarkan Jackson memegangi wajahnya.

Jemari-jemari kecil itu meremas kulit wajah Baekhyun pelan sedang mata beradu lagi disana. Jernih retina itu bertaut lama dan Baekhyun benar tak mampu menahan dirinya lebih lama lagi. Jackson ia peluk lagi dan meraung kembali seperti kemarin.

Chanyeol berada pada bibir pintu dan melihat semua itu. Ia diam bagai patung, tanpa ekspresi dengan hati membatu—berkilah tak peduli akan apapun.

Untuk terakhir kalinya, Baekhyun mencium wajah bayinya. Pada keningnya lama sebelum bangkit dan memberikannya pada Chanyeol.

"Paman akan menjaganya dengan baik bukan?" Baekhyun bertanya dengan separuh hati hilang. Ia terlihat mengerikan, wajah pucat, mata bengkak dengan keadaan kusut di depan pria itu.

"Tentu saja," Chanyeol menjawab. "Dia anakku."

Baekhyun memaksa senyum dan menarik langkah mundur.

"Terima kasih Paman," remaja itu berucap. "Terima kasih untuk segalanya."

Chanyeol bergetar, penglihatannya berubah mengabur lalu terasa panas tiba-tiba. Pria itu berusaha keras menekan perasaannya, lagi dan lagi tanpa siapapun tau jika ia sama memiliki sakit yang sama.

Chanyeol membuang mukanya, tak ingin memperlihatkan bagaimana hancurnya ia di depan remaja itu.

Baekhyun menatapnya sedih seperti biasa dan lagi memaksa perasaannya dengan sepenggal ucapan terakhir yang ia miliki.

"Selamat tinggal Paman."


Bersambung di - SOFTLY RED –


Cocot:

Hai semua, pertama2 terima kasih beribu banyak atas luangan waktu kalian selesaiin baca fic sinet ini. Heavy Blue tamat tapi aku memiliki sequelnya di judul Softly Red yang akan aku post terpisah.

Kenapa aku pisah?

Karna pengen aja WKWKWKKW

Last… masih terima kasih dan see you again!