"Kamu bukan siapa-siapa Kim! Ingat itu! Jadi jangan pernah mengatur kehidupanku harus bagaimana, sialan!"
Do Kyungsoo meraih mantelnya berserta tasnya yang ada di salah satu meja di kamar itu setelah memakai seluruh pakaiannya.
Dia membuka pintu itu dengan kasar lalu melangkah menuju pintu keluar rumah itu.
Kim Jongin mengikutinya dengan tenang, karena kaki panjangnya dapat menyusul perempuan itu dengan mudah.
"Sialan, aku seharusnya bersama Baekhyun, bangsat!"
Kyungsoo mengenakan sepatunya dengan cepat kemudian bergegas meraih gagang pintu apartemen itu, hingga sebuah tarikan pada tangannya membuatnya terpaksa melangkah mundur dan memutar tubuhnya menghadap lelaki itu.
"Cukup Kyung."
Kyungsoo mengetatkan rahangnya dan matanya melotot marah.
"Apa yang membuatmu berani melakukan ini padaku, hah!?"
"Kyungsoo!"
"Jangan kamu pikir, karena kamu Ayah kandungnya Taeoh, aku jadi harus menyukaimu dan menuruti semua perkataanmu, sialan!"
Kyungsoo melepas cengkraman lelaki itu dengan kasar kemudian membalikkan tubuhnya untuk pergi lagi, namun lelaki itu bertindak lebih cepat dan menarik tangannya dengan kuat hingga membuatnya menabrak tubuh bagian depan orang itu.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, Kyung!"
"..."
"Aku tidak apa jika kamu tak menyukaiku!"
"..."
"Aku hanya ingin kamu sadar, Do Kyungsoo!"
"..."
"Kamu sudah kelewatan untuk kali ini!"
Do Kyungsoo kengerutkan dahinya dalam.
"Hah!?"
"..."
"Memangnya apa yang sudah aku lewati batasannya!?"
"..."
"Aku tak melewati batasan apapun!"
"Lalu, kapan terakhir kamu melihat Taeoh, Kyung?"
Do Kyungsoo langsung terdiam.
Matanya bergerak kesana kemari.
Dan tangannya melemas.
Dia melepaskan tangan perempuan itu yang langsung jatuh begitu saja ketika dia melepaskannya.
"Ke-kenapa memangnya!?"
Kim Jongin menghela naasnya.
"Do Kyungsoo."
"..."
"Aku mengikuti semua perkataanmu untuk tak mendekati Taeoh dan menjalin hubungan dengannya."
"..."
"Aku mengikuti perkataanmu karena aku ingin anak kita merasakan kasih sayang ibunya."
"..."
"Jadi, tolong kembali lah padanya."
"..."
"Taeoh mungkin akan bilang bahwa dia tidak apa-apa kamu tinggalkan, tapi sebenarnya dia sangat membutuhkanmu!"
"..."
"Aku tak dapat disisinya karena kamu melarangku untuk bersamanya."
"..."
"Yang dia punya hanya kamu sekarang, Kyung."
Kyungsoo mundur satu langkah ketika mendengar suara lelaki itu mengecil di akhir kalimatnya.
"Jadi kembalilah padanya."
"..."
"Baekhyun akan baik-baik saja."
"..."
"Dan, bukankah dia akan sangat marah ketika kamu seperti ini, Kyung?"
"Aku tahu!"
Kyungsoo memegang tali tasnya dengan erat, kemudian pergi dari tempat itu dengan emosi yang tinggi.
Karena perkataan lelaki itu benar.
Taeoh-nya.
Kapan dia melihat anaknya itu?
Anaknya itu masih dalam pertumbuhan yang sedang dalam situasi banyak ingin tahunya.
Ini adalah usia kritis anaknya itu.
Dan seharusnya dia mendampingnya, bersamanya dan mengayominya.
Sial, kenapa dia bisa kacau seperti ini?
"Kenapa menatapku seperti itu?"
"Karena seharusnya kamu tidak ada disini."
"..."
"Sejak kapan kamu mulai peduki padaku, hah?"
"Bagaimanapun, aku ibumu Baek."
"Tiri."
Kim Kibum menghembuskan napasnya.
"Sampai kapan kamu akan keras kepala seperti ini."
"Selamanya ibuku hanya Byun Jina!"
"Tapi aku yang melahirkanmu, bukan perempuan itu!"
Byun Baekhyun mengeratkan rahangnya.
Dia tahu itu.
"Pergi, aku ingin istirahat."
Dia menurunkan tubuhnya yang duduk ke kepala ranjang dan berbaring membelakangi perempuan yang lebih tua.
Kamar itu hening beberapa saat.
Perempuan yang lebih tua menatap punggung putrinya itu dengan sendu.
"Aku tahu, aku seharusnya tak memberikanmu pada mereka."
"..."
"Namun Papamu adalah papa kandungmu dan aku tak bisa menolaknya. Akupun sangat mengharapkanmu."
"..."
"Jina perempuan yang sangat baik."
"..."
"Tapi sayang, dia tidak bisa hamil."
"..."
"Aku, saat itupun tak sengaja."
"..."
"Demi apapun, aku tak pernah ada niatan untuk mendekati lelaki itu!"
"..."
"Itu adalah sebuah kesalahan, namun Baekhyun-ah, kamu bukanlah sebuah kesalahan, yang salah adalah kami berdua."
"..."
"Dia menyakiti Jina yang mencintainya dengan tulus dan aku menyakiti perempuan yang sangat baik itu."
"..."
"Aku tak bisa menolaknya saat perempuan itu sangat menyukaimu dan mengharapakanmu sebagai putrinya, lelaki itupun memohon padaku."
"..."
"Aku hanyalah perempuan biasa yang tak memiliki apapun saat itu, Baek, kamu takkan memiliki hidup seperti ini jika kamu hidup bersamaku saat itu."
Perempuan paruh baya itu menghapus air mata yang jatuh ke pipinya dan mengambil napasnya dalam.
"..."
"Aku tak bisa seperti ini terus Baek."
"..."
"Ketika Jina meninggal dan kamu membutuhkan sosok ibu, aku ingin sekali menggantikannya."
"..."
"Aku ingin menjadi ibumu yang sesungguhnya."
"..."
"Apakah aku salah karena aku ingin menjadi ibumu?"
"..."
"Aku sangat senang jadi ibumu."
"..."
"Aku mengerti jika kamu tahu semuanya kamu akan seperti ini."
"..."
"Tapi aku sudah tidak bisa lagi, Baek."
"..."
"Aku tidak bisa."
Napas perempuan itu tersendat dan membuatnya tak bisa mengatakan apapun untuk beberapa saat."
"Aku tidak bisa jika kamu seperti ini terus."
"..."
"Maaf. Maaf. Maaf."
"..."
"Tolong maakan aku."
Dia baru mengetahuinya.
Apa yang selama ini dirinya ketahui tentang perempuan itu?
"Sebaiknya kita biarkan mereka berdua terlebih dahulu."
Do Kyungsoo tersenyum lebar menatapnya dan dia hanya mengangguk kemudian mengikuti perempuan itu pergi dari sana.
"Kamu mengetahui hal itu?"
Perempuan itu mengangguk ketika dia bertanya.
"Baekhyun yang menceritakannya padaku."
"..."
"Saat dia tahu hal itu, perempuan itu sangat depresi dan menyalahkan dirinya sendiri."
"..."
"Itu masa-masa kritisnya perempuan itu."
"Tapi itu bukan salahnya!"
Kyungsoo tersenyum tipis, "Mau bagaimanapun, itu tak merubah bahwa pernikahan orang tuanya hancur karena perempuan yang melahirkannya, dan dia menjadi tebusan atas kerusakan hubungan orang tuanya."
Dia merasa lelah.
Ketika dia terbangun saat itu, tak lama kemudian ibunya datang dan menemaninya.
Dan dia tak menyukai hal itu.
Dia tahu bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan ibunya itu, tapi hatinya dan otaknya terus menyalahkan perempuan itu atas kematian ibunya, meskipun perempuan itu pergi meninggalkannya karena penyakitnya.
Atau mungkin lebih tepatnya, dia menyalahkan dirinya sendiri yang telah lahir di dunia ini.
"Lihat sekarang, apa yang aku katakan benar bukan?"
Dia tersenyum tipis ketika melihat teman karibnya datang keesokan harinya.
"Apakah kamu benar-benar temanku? Kenapa kamu baru datang kesini sekarang, hah?"
Do Kyungsoo tertawa kecil kemudian memutar matanya.
"Aish, seharusnya kamu berterimakasilah kepadaku! Siapa yang menjagamu selama ini hah!? Dan siapa yang memperhatikan perkembangan anakmu!?"
Dia terdiam ketika mendengar itu.
"Ah, ya."
Dia lupa dengan itu.
Mungkin bukan lupa.
Mungkin dia tidak ingin mengingatnya sementara dulu karena ibu tirinya - ibu kandungnya - itu.
Dan mungkin.
Karena dia sudah merasa sangat gagal menjaganya untuk lahir normal.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Byun."
"..."
"Dari awal kita memang sudah tau resikonnya, bukan?"
Dia menatap sahabatnya itu yang tersenyum lebar menenangkan.
"Ya."
Dia tersenyum tipis.
"Ja! Kalau begitu, apakah kamu siap untuk melihat dia?"
Dia tersenyum lebar dan jantungnya berpacu dengan cepat.
Dengan kepala yang mengangguk mantap dan senyuman bahagia di bibirnya yang melebar.
Dia menjawab pertanyaan itu.
"Ya!"
Bayi itu terlihat rapuh ketika dengan perlahan seorang suster menggendongnya padanya.
Dia tersenyum lebar, terharu dengan apa yang dilihatnya.
Bayinya.
Anaknya.
Bayi yang dikandungnya selama delapan bulan ini.
Matanya terasa sangat perih dan air matanya mulai jatuh ketika bayi itu dengan perlahan masuk dalam dekapannya.
"Hai." Bisiknya.
Bayi itu menggeliat pelan dan mendekatkan dirinya pada dadanya.
Lalu tawa kecil tersengar, "Sepertinya anak anda sudah sangat merindukan ibunya."
Baekhyun tersenyum lebar mendengar perkataan sang suster.
"Karena anda masih belum dapat menyusui, anda dapat mendekapnya di dada anda saja."
"Ya."
Baekhyun menatap kasihan pada anaknya, karena dia belum dapat menyusui bayinya. Obat-obatan yang selama ini di masukkan kedalam tubuhnya menjadi salah satu alasan kenapa dia belum dapat memberikan asinya pada sang anak, meskipun dia merasakan payudaranys terasa sangat penuh.
"Jika begitu, saya permisi, saya akan kembali lagi jika sudah waktunya." suster itu membungkukkan badannya dan tersenyum tipis, kemudian meninggalkan mereka.
Kyungsoo tersenyum senang melihat apa yang ada di hadapannya.
Baekhyun terlihat dangat bersinar dengan bayi yang ada di gendongannya.
"Aku senang, aku memilih hal yang tepat."
Kyungsoo mengangguk. "Yah, meskipun itu adalah hal yang sangat nekad." lalu tertawa kecil
Baekhyun-pun ikut tertawa ketika mendengarnya, lalu dia menatap temannya itu.
"Terimakasih Kyung."
Kyungsoo terdiam cukup lama menatap kedua mata kecil milik Baekhyun yang menatapnya.
"Kamu tahu, aku selalu mencintaimu, bukan?"
Baekhyun mengangguk, matanya berubah sendu.
"Maka dari itu, aku akan mendukung semua pilihanmu."
"Kyungsoo-"
"Meskipun itu hal nekat, aku akan mengikuti semua pilihan yang kamu ambil."
"..."
"..."
Baekhyun tersenyum tipis, "Terimakasih." bisiknya.
Kyungsoo tersenyum lebar dan mengangkat bahunya sekilas, "Ya."
Lalu mereka diam.
Hingga Kyungsoo bertanya.
"Jadi, kamu akan memberi namanya apa?"
Kyungsoo menutup pintu kamar rawat Baekhyun dan hal yang dilihatnya kemudian ketika akan pergi adalah Kim Jongin yang sedang duduk di kursi ruanga tunggu di samping kamar itu.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" Tanyanya dingin.
Kim Jongin tersenyum lebar ketika dia mengangkat kepalanya dan menemukan Kyungsoo disana. Dia langsung berdiri dan mengikuti perempuan itu yang berjalan pergi dari kamar rawat Baekhyun.
"Aku mendengarnya." Kata lelaki itu tiba-tiba.
Kim Jongin tersenyum lebar ketika melihat bahu perempuan itu menegang ketika dia mengatakan itu.
"Sejak kapan kamu ada disana?"
Jongin tersenyum lebar, kedua tangannya dia sembunyikan di balik punggungnya.
"Sejak suster mengambil bayinya Baekhyun kembali ke kamar bayi."
Kyungsoo mengerjapkan matanya.
"Aku tak tahu bahwa kamu telah mengatakan perasaanmu ke Baekhyun."
"..."
"Dan perempuan itu menolaknya dengan halus."
"..."
"Jadi kenapa kamu masih bersamanya?"
"Karena dia sahabatku."
"Lalu, aku?"
Do Kyungsoo berhenti melangkah kemudian membalikkan badannya dan menatap lelaki itu.
Kim Jongin tersenyum tipis ketika perempuan itu menatapnya.
Kedua tangan yang tadinya berada di belakang tubuhnya, kini dia letakkan di masing-masing tubuhnya.
"Kamu, apa?" tanya perempuan itu.
"Kenapa kamu menjauhiku dan tak menerimaku? Padahal Baekhyun sudah memberimu batasan yang sangat jelas."
"..."
"Kenapa kamu tak ingin bersamaku?"
"..."
"Padahal kita sudah memiliki alasan yang cukup untuk membuat kita bersama."
"..."
"Kenapa kamu tak ingin bersamaku?"
"Kenapa aku harus bersamamu?"
"Karena aku Ayahnya Taeoh!"
"..."
"Karena aku-!"
"..."
"Aku mencintaimu."
