Tittle: Elf

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi

Genre: Supernatural, Crime,

Rate: T

Warning: OOC, OC figuran, Typo pake es, bahasa tidak sesuai EYD

Enjoy...

Chapter 9: Case 2, Greeny was Kidnapped

(Kuroko's house, 06.30 p.m.)

"Silakan masuk, Midorima-kun." Tawar Kuroko setelah membukakan pintu untuk tamunya – Midorima.

Midorima memberi salam singkat kemudian memasuki rumah yang berukuran standar sambil menenteng banyak buku pelajaran. Kuroko membuntutinya dari belakang kemudian mereka masuk ke ruang tengah, tempat dimana yang lain sudah memulai kegiatan belajar-mengajar mereka. Mereka pun duduk dan ikut belajar bersama yang lain.

Tiga puluh menit berselang, Kuroko melirik jam di dinding kemudian menghentikan kegiatan belajarnya. "Aku akan membuatkan makan malam." Pamitnya sambil berjalan menuju dapur.

Saat di dapur, pemuda berperawakan mungil itu mulai memilih bahan makanan apa yang akan diolahnya. Kalau boleh jujur, Kuroko sebenarnya tidak begitu terampil dalam memasak. Karena itulah ia agak bingung menu apa yang akan dimasaknya.

'Kira-kira apa yang disukai semua orang ya?' Pikir Kuroko sambil menatap sayur dan daging yang baru saja mereka beli.

"Kalau aku pribadi menyukai sup tofu." Sahut sebuah suara yang datang dari ambang pintu. Kuroko dengan cepat menoleh ke arah sumber suara.

"Akashi-kun." Sapanya pelan. "Bukankah tidak baik membaca pikiran orang lain seenaknya?"

"Aku tidak mau mendengar kata-kata itu dari orang yang melakukan hal yang sama!" Kesal Akashi sambil mendekati Kuroko yang daritadi hanya berdiri di counter dapur.

"Aku tidak membac-" Perkataan Kuroko terpotong ketika melihat ekspresi Akashi yang seolah mengatakan 'jangan bilang hal itu lagi'. "Baiklah. Aku mendengarnya. Bukan tanpa sengaja."

"Jadi begitu kau menyebutnya?" Akashi kemudian mengambil sepotong daging dan mulai memotongnya menjadi potongan kecil. "Lebih baik buatkan mereka nabe atau daging panggang."

Kuroko kaget ketika melihat akashi memotong daging dengan cepat – jujur saja Kuroko agak ngeri melihat Akashi dengan pisau daging yang sangat besar di tangan – hanya saja potongannya berantakan.

"Akashi-kun, kau bisa memasak?" Tanya Kuroko sambil memperhatikan kegiatan pemuda di hadapannya. Tidak ada sahutan dari yang ditanya. "Sudah kuduga, 'tuan muda' sepertimu tidak mungkin bisa masak." Ejek pemuda bersurai sky blue itu, yang hanya mendapat respon berupa kerutan dahi tanda tidak terima (demi apa? Seorang Akashi diejek oleh teman – anak buah – nya sendiri !? Dan hanya Kuroko yang berani melakukan hal itu).

"Tapi paling tidak aku tahu beberapa resep! Sudahlah! Tetsuya, kau potong sisanya. Aku akan mengolah sayur." Titah pemuda heterokom itu seraya menyerahkan sisa daging yang belum dipotong – yang sudah dipotong tidak ketahuan bagaimana bentuknya.

"Sebentar." Ucap pemuda scarlet itu tiba-tiba sambil meraih salah satu pisau bergagang merah di rak, lalu melemparnya melewati samping wajah Kuroko dan pintu dapur. Sebentar kemudian terdengar teriakan pilu dari arah ruang tengah. Si pelaku pelemparan mengabaikan jeritan itu serta wajah Kuroko yang lebih pucat dari sebelumnya dengan mata membelalak sempurna, melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda dengan seringai 'gembira' terpatri di wajahnya. "Jangan coba-coba Taiga, Ryota!" Perintahnya. (Sebagai catatan, Kagami dan Kise berniat menyalakan TV dan bermain videogame milik Kuroko.)

"Tapi, kenapa Akashi-kun ada di sini dan membantuku? Apa tidak apa-apa meniggalkan Midorima-kun mengajari mereka sendirian." Tanya Kuroko sambil melanjutkan pekerjaan Akashi memotong daging sebelumnya, mengabaikan rasa syok yang sempat melanda. Sedang yang satunya sedang merebus air untuk membuat sup sayur.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku hanya ingin memastikan makanan yang kau masak seimbang." Jawab Akashi sambil melirik iris aquamarine sebentar.

Setelah pembicaraan itu suasana menjadi hening. Tidak ada yang membuka suara, keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Keadaan canggung kembali terasa di antara keduanya. Meski tidak ada yang mengakui, tapi mereka sama-sama merasakan hawa tak menyenangkan di sekitar mereka karena kesunyian yang dua pemuda dengan tinggi serupa itu buat sendiri.

Sebentar kemudian Kuroko beralih ke tumpukan sampah sisa pekerjaan mereka dan memilahnya sesuai jenis sampah. Lalu membungkusnya dengan beberapa plastik besar.

"Aku mau buang sampah dulu. Kalau Akashi-kun tidak tahu, aku meletakan bumbu yang baru dibeli tadi di lemari atas. Sejak tadi masakannya belum dibumbui." Pamitnya sambil membawa plastik besar ke luar melewati pintu belakang.

"Tentu saja aku tahu, Tetsuya." Jawab Akashi tanpa mengalihkan pandangannya. "Aku telah mengetahui semuanya sejak awal. Karena aku terus memperhatikanmu, ototou." Sambungnya pelan sambil tersenyum misterius.

Di sisi lain, Kuroko yang telah selelsai membuang sampah terdiam sejenak tanpa ada niatan kembali ke dalam.

"Makanan yang seimbang ya? Hah.. benar juga. Aku tidak mungkin membuat Demon kelas atas seperti Akashi-kun mati konyol hanya karena masakanku." Dengusnya pelan kemudian berbalik dan masuk ke rumah.

.

.

.

"Waaah! Makanaaaan~!" Seru pemuda paling tinggi di sana – Murasakibara dengan mata blink-blink melihat berbagai macam menu yang tersaji di meja. Setelah makanan siap, mereka beristirahat sejenak dan makan malam bersama.

"Ya-yah, tapi.. keliatannya tidak meyakinkan." Komentar Kagami begitu melihat makanan yang tidak begitu menggoda jika dilihat.

"Kau berani menghina masakanku hah?!" Tanya Akashi menyeramkan, membuat yang lain langsung memuji maakannya.

"Maaf Kagami-kun. Tampilannya mungkin tidak menarik. Tapi aku jamin rasanya pasti enak." Tutur Kuroko.

Mereka pun memutuskan makan bersama tanpa memedulikan penampilannya. Benar saja, rasanya jauh lebih enak daripada penampilannya, sehingga wajah mereka jadi terlihat berbunga-bunga. Mereka pun makan dengan hikmad diselingi obrolan ringan dan perkelahian kecil memperebutkan makanan seperti biasa.

Di tengah-tengah acara makan itu, Kise yang duduk di samping Kuroko melirik sebentar lalu mendekatkan wajahnya ke wajah pemuda baby blue itu untuk membisikan sesuatu.

"Ne, Elfcchi. Apa ada kabar dari Yoshiro-san ssu?" Bisik pemuda blonde itu di telinga Kuroko.

"Belum ada, Kise-kun. Anak buah Oji-san masih mengorek informasi dari sandera kemarin." Balas Kuroko sama berbisik. "Dan tolong jangan memanggilku seperti itu di depan yang lain." Imbuhnya.

"Hehe.. gomen, Kurokocchi." Kata Kise cengengesan sambil melanjutkan makannya.

"Hoi! Lagi ngomongin apa?" Kagami tiba-tiba bertanya setelah menambah nasinya yang err.. entah yang keberapa. Membuat keduanya sedikit kaget.

"Eh? Ah, ano. Aku cuma mau ngajak Kurokocchi ke tempat pemotretanku lagi ssu." Jawab Kise sedikit khawatir Kagami mendengar semuanya.

"NGGAK BOLEH (nanodayo)!" Teriak mereka – kecuali Akashi dan Kuroko – berbarengan.

"EH!? Kenapa?!" Tanya Kise.

"Terakhir kali kau ngajakin dia kau malah diserang pembunuh kan! Untung saja Kuroko gak terlibat di sana!" Protes Kagami.

"Terlalu berbahaya membiarkan Tetsu di dekatmu, Baka Kise! Kau itu bawa sial, tau!" Teriak Aomine.

"Kalau kau dalam bahaya, lebih baik kau sendirian saja. Jangan libatkan Kuroko, nanodayo. Itu bukan berarti aku peduli, nodayo." Midorima dengan tsunderenya ikut-ikutan.

"Kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kuro-chin nanti, kau akan kuremukan. Kise-chin." Timpal Murasakibara dengan nada menyeramkan.

"EEH!? Kenapa kalian cuma peduli sama Kurokocchi, ssu! Kalian gak sayang aku ssu?!" Jerit Kise tidak terima dengan hati terluka.

"Tidak." Koor mereka berempat berjamaah.

"HIDOI SSU!"

.

.

.

(Police Office, 10.00)

TOK! TOK!

Terdengar suara ketukan pintu yang kemudian dibalas dengan sapaan 'masuk' dari dalam. Lelaki yang mengetuk pintu tersebut kemudian membuka pintu dan memasuki ruangan dengan papan nama 'Yoshiro Toga'. Terlihat di luar ruangan itu suasana kantor kepolisian cukup ramai meskipun sudah terlalu larut untuk bekerja. Lelaki yang berprofesi sebagai polisi itu pun memberi hormat singkat kepada inspektur di hadapannya.

"Berikan laporanmu!" Perintah Yoshiro, sang inspektur singkat.

"Siap Pak! Mengenai interogasi terhadap dua terduga masih belum ada perkembangan. Sama seperti sebelumnya, mereka memilih bungkam." Lapor polisi itu.

Yoshiro terdiam sejenak memikirkan apa yang harus ia lakukan. Kemudian ia berdiri dari kursinya dan berjalan keluar menuju pintu diikuti bawahannya.

"Kalau begitu aku yang akan menginterogasinya langsung. Kalian awasi dari ruangan rahasia." Perintahnya lagi.

Belum sempat memegang gagang pintu, pintu tiba-tiba terbuka menampakkan polisi lain yang datang dengan raut wajah serius serta keringat dipelipisnya, tanda ia baru saja berlari dengan tergesa-gesa.

"Inspektur!" Polisi itu kemudian melapor dengan cepat dan agak panik. Meski begitu Yoshiro dapat menangkap semua pesan bawahannya. Setelah polisi itu selesai menyampaikan laproannya, mata Yoshiro dan polisi lain sukses membelalak sempurna.

.

.

.

(Setting Skip)

Malam sudah cukup larut. Mereka (Akashi) memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar mereka dan tidur. Akashi bilang tidur membuat mereka lebih fokus belajar besoknya. Mereka semua termasuk Kuroko tidur di atas tujuh futon yang sudah disediakan pemilik rumah di ruang keluarga. Setelah semua orang tertidur, suasana rumah itu terasa begitu tenang.

Tidak seberapa lama kemudian, Kise terbangun dan bergegas keluar dari ruangan gelap itu. "Toilet!" Jeritnya sambil berbisik. Setelah selesai dengan urusannya, pemuda beranting itu kembali dan mulai merebahkan tubuhnya kembali. Namun sebelum itu, ia melihat ada satu futon yang kosong selain miliknya.

"Kurokocchi, Kurokocchi." Pemuda blonde itu membangunkan Kuroko yang masih terlelap.

"Hng? Ada apa, Kise-kun?" Tanya Kuroko yang masih mengantuk dengan bed hairnya yang membuat Kise hampir kelepasan tertawa.

Mengabaikan rambut Kuroko yang begitu lucu, ia pun segera memberitahukan apa yang dilihatnya. "Salah satu dari kita menghilang ssu."

"Eh?" Segera Kuroko bangkit untuk memastikan siapa yang tidak ada. Padahal ia yakin sekali kalau tidak ada seorangpun yang akan keluar malam-malam. Setelah mendekati futon kosong, ia menemukan sepucuk surat di atas bantal.

'Aku pulang sebentar, barangku ketinggalan.

Midorima'

"Yang pergi Midorima-kun. Katanya barangnya ketinggalan." Ujar Kuroko kepada Kise yang dibalas dengan gumaman paham dari empunya nama. Hal itu juga didengar oleh orang lain yang terjaga di ruangan itu.

.

.

.

(Setting Skip)

Seorang pemuda terlihat tengah berdiri diam di balkon kamarnya sambil ditemani angin malam, tanpa khawatir akan terserang flu nantinya. Takao, pemuda itu berdiri di sana sambil memperhatikan rumah besar di depannya. Di telinganya juga tersemat alat pendengar yang terhubung langsung dengan penyadap yang telah dipasang anak buahnya di dalam rumah besar yang sedang diawasinya ini.

Telinganya fokus untuk mendengarkan pembicaraan empat pria di rumah itu, sedangkan matanya terus memperhatikan keadaan rumah berlabel Midorima di depannya. Raut wajahnya datar saat ia berkonsentrasi pada apa yang dilakukannya, jauh berbeda dengan sifat alaminya yang periang dan easy going.

"Sudah kuduga. Mereka bukan Daemon kacangan." Batin Takao. Namun kemudian konsentrasinya buyar ketika melihat seseorang yang memasuki rumah keluarga Midorima.

"Shin-chan? Gawat!" Jeritnya pelan.

.

.

Midorima dengan santai membuka pintu depan dan mendapati rumahnya gelap gulita. Wajar saja, malam sudah larut dan ia yakin ayahnya telah tidur. Ia pun menyalakan lampu ruang depan dan berjalan menuju lemari dekat tangga. Mengambil lucky item untuk besok katanya. Ketika mendekati lemari itu, ia baru menyadari kalau tape recorder yang baru diletakannya masih menyala dan merekam semuanya. Pemuda serba hijau itu pun mematikannya dan menggenggamnya.

Baru saja ia ingin meraih sebuah miniatur menara Pizza ia mendengar gebrakan meja dari ruang kerja ayahnya yang ternyata pintunya tidak tertutup rapat. Mengintip sedikit, dan ia mendapati kalau tiga tamu ayahnya masih belum pulang. Dan tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan keempat pria tersebut.

"Apa kau bilang, Shinichi!?" Bentak lelaki yang sebelumnya menggebrak meja sambil berdiri.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya. Aku tidak ingin melanjutkan hal ini lagi. Aku berhenti membedah anak-anak itu." Jawab Shinichi tenang.

Pria itu benar-benar marah, namun ia masih dapat mengontrol emosinya. "Kenapa kau ingin berhenti? Kau pasti tahu apa resikonya kan?" Ujarnya mengancam.

"Aku tahu. Tapi jika kulanjutkan, keluargaku akan semakin terancam oleh kalian. Karena itulah sebelum terlalu jauh aku memilih berhenti. Aku tidak peduli lagi dengan uang yang kalian tawarkan." Balas pria bersurai hijau itu mantap. Tidak ada keraguan di dalam kata-katanya meski ia tahu dengan mengatakan hal itu nyawanya saat ini sedang terancam. Namun kata-kata anaknya sebelumnya telah menyadarkannya seketika.

"Silakan lakukan yang ingin kau lakukan." Kata-kata anaknya menyadarkannya bahwa membedah tubuh orang sembarangan bukanlah hal yang diinginkannya. Hal itu juga bertentangan dengan jiwanya sebagai dokter. Karena itulah ia memberanikan diri mengambil keputusan berbahaya ini.

Pria yang sejak tadi berbicara berdiam sesaat sambil matanya melirik ke beberapa tempat, termasuk ke dua orang lain. Ia lalu menghembuskan napasnya panjang dan menurunkan bahunya, mencoba untuk rileks.

"Baiklah, aku bisa menerima keputusanmu itu." Ujarnya yang membuat Shinichi sedikit kaget. 'Semudah itukah?'. "Tapi, sebelum itu kau harus melakukan pembedahan sekali lagi."

"Bagaimana jika aku tidak setu-"

BUGH!

Kalimat Shinichi terputus begitu saja ketika salah satu pria yang sejak tadi diam memukul perutnya dengan keras,ditambah ia sedikit menancapkan kuku tajamnya di perut pria malang itu hingga membuatnya berdarah. Shinichi pun ambruk seketika di lantai dengan napas sedikit tersengal.

"Ckckck. Kau harus setuju, Shinichi. Lagipula aku sudah menemukan pendonornya." Ucap lelaki itu sambil tersenyum mengerikan sebelum Shinichi kehilangan kesadarannya. "Dan kurasa pembedahan terakhirmu akan sangat menyenangkan."

Begitu Shinichi benar-benar tidak sadarkan diri, pria itu melayangkan pandangannya ke arah pintu tempat seseorang menguping semua pembicaraan mereka sebelumnya.

"Tangkap bocah itu dan bawa dia kehadapanku. Kita selesaikan malam ini." Perintahnya kepada dua orang lain yang merupakan anak buahnya.

.

.

Midorima benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Ayahnya terlibat dengan pembedahan dan penjualan organ tubuh ilegal. Pemuda itu hanya bisa terpaku di balik pintu sambil mendengarkan seluruh pembicaraan orang-orang dewasa di ruangan sebelah. Satu pertanyaan terus berputar di otaknya. 'Kenapa ayahnya nekad melakukan hal itu?'

Setelah beberapa saat, ia pun memberanikan diri mengintip kembali ke dalam ruang kerja itu. Namun apa yang dilihatnya ialah ayahnya yang tidak sadarkan diri di lantai serta pria yang sejak tadi berbicara memandang lurus ke arahnya. Merasa panik, ia pun langsung berlari menuju pintu keluar.

Begitu sampai di pintu depan, Midorima berusaha membukanya, namun pintunya terkunci. Salahkan kebiasaannya yang suka mengunci pintu yang ia lewati. Dengan panik ia berusaha membuka kunci pintu tersebut, beruntung pintunya terbuka sesaat sebelum tangan pria yang mengejarnya meraihnya. Pemuda bersurai hijau itu pun segera berlari keluar rumah, entah kemana.

Seketika dua pria yang mengejarnya semakin mendekat dan ia hampir tertangkap ketika sebuah tendangan menghentikan pria itu. Midorima mendoleh sebentar dan menemukan Takao yang berdiri di belakangnya.

"Takao?" Gumam Midorima yang masih dilanda kepanikan.

"Lari! Cepat pergi dari –"

DUAK!

Takao tidak sempat memperingatkan Midorima ketika hantaman keras mengenai kepalanya, meski ia masih dapat menguasai kesadarannya. Midorima yang melihat hal itu langsung meneriakan namanya dan berlari mendekat, namun pukulan di tengkuknya membuatnya tumbang hingga ia menjatuhkan tape recorder di tangannya dan pingsan seketika. Tubuh manusianya tidak mampu menahan serangan Demon yang begitu kuat. Tubuh Midorima pun diangkat dan dibawa oleh salah seorang pria ke dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.

"Shin-chan!" Takao berusaha mengejar orang yang menculik sahabatnya itu, tapi tendangan di perut membuatnya tak dapat bangkit dan pandangannya mengabur. Akhirnya ia hanya bisa menatap mereka pergi dengan tubuh terkapar di tanah.

.

.

.

TBC

A/N:

Saya sungguh minta maaf kalau selalu lama updatenya...! sampe ditagih, saya jadi malu (gak ada yang muji!). Hehe.. (jangan cengegesan!) #dicekek

Saya agak susah dapat kesempatan buat nulis. Karena, selain banyak tugas n kerja tahunan – Ramadhan doank – saya juga musti rebutan laptop sama tante saya (disclaimer(?): laptop bukan punya saya)

(re: rasanya udah sering denger alasannya deh../Nozomi: karena saya gak pinter cari alasan #dikeroyok reader)

Eto, ngomong-ngomong.. Selama Hari Raya Idul Fitri! Mohon maaf lahir batin...! #salam-salam. Saya ngucapinnya telat ya? *plakk

Entah kenapa makin kesini saya ngerasa cerita ini malah jadi makin ringan n misterinya kurang. Saya emang gak begitu pandai nulis misteri (tapi tetep nekad), gomen.. #bow

Kayaknya saya musti banyak baca lagi buat kasus-kasus kedepan...

Okeh, segitu saja cuap-cuap saya. Akhirul kata...

RnR Please...

.

.

Balasan untuk yang tidak pakai akun:

R-chan

Ibu tergalak sedunia? Berarti Akashi bakal masuk buku rekor dong!? Ngek..! ngek..! #ketawa

#Ikut ngebayangin tsundere family... Syet dah, R-chan-san! Saya gak kebayang! (trus kenapa dibayangin?) Bakal kesel kayaknya dengerinnya.

Hai! Arigato, R-chan-san. Saya akan berjuang. Terima kasih dukungannya..!

Ryuu-chan

Waduh! Saya dipanggil kakak? Hehe... jadi malu #hidung mingar-mingar (salah bahas woy!)

Sebenarnya saya ingin sekali update secepatnya. Tapi karena berbagai kendala saya hanya bisa update sebulan sekali. Tapi saya akan berusaha update lebih cepat dari itu. #semangat

Terima kasih karena mau menantikan update fic saya yang selalu telat ini Ryuu-chan-san..#bow. Dan terima kasih atas dukungannya...!