Soonyoung langsung merebahkan tubuhnya di lantai kayu yang dingin selepas lagu yang diputarnya berakhir. Masih dengan pikiran yang melayang kemana-mana, Soonyoung perlahan memejamkan matanya.
Dibandingkan harus menuruti keinginan Seungcheol, Soonyoung memilih untuk melepas stress di studio dance yang sudah lama tak ia kunjungi.
Akhir-akhir ini, hasratnya untuk menari kembali muncul.
Cinta lamanya pada seni gerak tubuh itu kembali bersemi. Secara perlahan menggantikan hasrat gila kerjanya yang sempat muncul tiga tahun belakangan. Besarnya tekanan di kantor membuat Soonyoung jenuh dan lelah. Terlebih jika setiap saat ia harus berurusan dengan Seungcheol.
Seakan kebenciannya bertambah seiring dengan meningkatnya intensitas pertemuannya dan Seungcheol. Soonyoung seolah telah berada pada batas kesabarannya.
Tring!
Mata yang semula terpejam itu pun terbuka. Soonyoung bangkit dari posisinya dan berjalan ke arah meja tempat ponselnya berada. Satu pesan masuk lewat aplikasi chatting di ponselnya.
Ibu Guru Lee
Soonyoung mengerutkan keningnya heran. Ia memang pernah secara sadar meminta nomor kontak Guru Lee, wali kelas Hansol. Tujuannya agar sewaktu-waktu ia dapat menanyakan perkembangan Hansol di sekolah.
Namun sejak Wonwoo melarangnya keras untuk tidak lagi bertemu dengan Hansol apalagi menjemputnya di sekolah, Soonyoung memutuskan untuk berhenti mengurus apapun yang berkaitan dengan keperluan Hansol. Tentu saja karena sudah ada Mingyu yang menggantikannya.
Jadi mengapa Guru Lee masih saja menghubunginya?
Pesan yang dikirimkannya bahkan tidak hanya satu. Tiga pesan secara berurutan masuk ke ponsel Soonyoung.
Ibu Guru Lee : Selamat Siang Soonyoung-ssi. Apa anda bersedia menjemput Hansol hari ini di sekolah?
Ibu Guru Lee : Hansol bersikeras jika hari ini ayahnya akan datang menjemput. Namun sudah dua jam lebih ia menunggu, ayahnya tak kunjung datang.
Ibu Guru Lee : Hansol juga menolak untuk menunggu di dalam kelas, padahal cuaca di luar sedang terik. Jadi bisakah anda datang untuk menjemputnya? Saya pikir ayahnya tak akan datang.
Soonyoung membulatkan matanya tak percaya. Seungcheol tentu tidak akan datang karena ia tengah asik bermesraan dengan Wonwoo sekarang, sementara Mingyu juga tidak mungkin datang menjemput di saat Wonwoo sedang bersama Seungcheol.
Kalian bahkan tak pantas disebut orang tua –umpat Soonyoung mulai meradang.
Ia pun segera meraih jaket dan tasnya setelah mengetik pesan balasan.
Studio dance yang ditempatinya itu sebenarnya berada dalam sebuah gedung agensi ternama. Suasananya cukup ramai dan langkah Soonyoung yang terburu-buru lantas membuatnya tak memperhatikan jalan.
Soonyoung bahkan tak sadar siapa saja yang sudah ia lewati, hingga bahunya tanpa sengaja menabrak bahu seseorang keras.
BRUK!
Soonyoung dapat merasakan nyeri di bahu kirinya. Ia menarik napas dalam, seakan bersiap menghujani orang itu dengan umpatan. Namun urung ia lakukan setelah melihat siapa orang tersebut.
"Astaga! Soonyoung-ah kau datang?"
Bukannya marah, orang itu justru memperlihatkan senyum lebarnya yang khas saat sadar jika Soonyoung yang menabraknya.
"Ah..Chanyeol Hyung."
"Sudah lama kita tidak bertemu! Bagaimana kabarmu?"
Chanyeol memeluk Soonyoung erat dan Soonyoung sempat meringis saat menyadari bahwa seniornya itu tidak datang sendiran. Seorang wanita mungil berdiri di belakang Chanyeol sembari memegang segelas Americano.
"Kau baru dari studio dance?"
"Ah.. ya Hyung. Sudah lebih dari dua jam aku di sini." Jawab Soonyoung sembari tersenyum canggung.
"Tinggalah lebih lama. Banyak trainee baru yang ingin kukenalkan padamu. Soonyoung-ah." Chanyeol terkekeh pelan "Mereka masih sangat muda dan energik. Jadi aku yakin mereka akan lebih menyukai kelas dance bersamamu dibandingkan dengan kelas vokal bersamaku."
Chanyeol terus saja mengoceh, dan ocehannya terasa seperti masuk telinga kiri lalu keluar telinga kanan Soonyoung. Sulit bagi Soonyoung untuk fokus pada Chanyeol saat perhatiannya tertuju penuh pada teman wanita Chanyeol.
Sampai mata cantik itu bertemu dengan mata tajam Soonyoung. Binarnya membuat Soonyoung terpana hingga hampir saja ia kehilangan kendali.
"Sering-seringlah datang ke sini. Kami masih membutuhkanmu Soonyoung-ah. Kapan saja kau bisa kembali." Chanyeol menepuk bahunya, Soonyoung serasa ditarik kembali ke dunia nyata.
"Maaf, tapi aku harus benar-benar pergi sekarang. Aku permisi."
Soonyoung membungkukan tubuhnya pada Chanyeol, lalu berjalan keluar gedung. Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak heran dengan kelakuan Soonyoung yang sejak dulu selalu saja tergesa.
Chanyeol lalu menolehkan ke belakang.
"Jihoon-ah.."
"…"
"Jihoon-ah…"
Jihoon –si mungil dengan Americano di tangannyaitu- masih setia memandangi kepergian Soonyoung yang baru saja memasuki mobilnya dan melaju pergi dengan kecepatan yang tak biasa.
"Lee Jihoon!"
"Y-ya Oppa?"
Jihoon menatap Chanyeol linglung dan pria tampan itu berusaha keras untuk memakluminya. Ketampanan Soonyoung mungkin telah menyita banyak perhatian Jihoon.
"Cepatlah, Baekhyun sudah menunggu kita di atas."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Someday, you'll realize the damage that you've caused
.
.
.
.
.
.
.
.
Prosaic
By : Dara
Summary : "Aku ini biasa saja, Mingyu." Mingyu memang terkecoh awalnya, namun kali ini tidak. Mingyu yakin bahwa penilaian Wonwoo akan dirinya sendiri salah, karena apa yang dinilai biasa saja oleh seseorang belum tentu biasa pula menurut penilaian orang lain. "Tidak, kau jauh dari kata biasa Wonwoo." You aren't prosaic, you're totally shocking! Meanie, Jeon Wonwoo Kim Mingyu FF, GS.
Cast : Kim Mingyu – Jeon Wonwoo. Meanie – Minwoo. Genderswitch. Don't Like Don't Read.
Chapter 8
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
000000000000000000000
Soonyoung datang setengah jam lebih lama dari yang ia perkirakan. Jalanan yang cukup padat dan kesalahannya menerobos lampu merah hingga sempat ditilang polisi semakin menambah kekesalannya. Beruntung Soonyoung tidak kesulitan mencari parkir karena jam jemput sekolah sudah berakhir.
Soonyoung berjalan tergesa menuju ruang tunggu dan mendapati Hansol tengah duduk sembari menggoyangkan kakinya pelan.
"Hansol…"
Bocah lucu itu menoleh, bersamaan dengan seorang guru muda yang ikut duduk menemaninya.
"Terima kasih karena sudah menjaga Hansol.." Ucap Soonyoung di tengah nafasnya yang memburu. Sang guru sempat meringis pelan, berusaha maklum setelah melihat kondisi Soonyoung yang berantakan.
"Tidak masalah, maaf merepotkan ada Soonyoung-ssi."
"Sama sekali tidak merepotkan Guru Lee."
Hansol sama sekali tak merespon percakapan antara Soonyoung dan wali kelasnya. Bocah laki-laki usia lima tahun itu justru sibuk memandangi sepatunya.
"Ayo pulang, Sayang.." Guru Lee mengusap punggung Hansol pelan dan masih tidak ada respon yang berarti.
Barulah saat Soonyoung meraih tangan mungilnya, Hansol menoleh.
"Daddy mana? Kenapa Paman Soonyoung yang menjemput?" Kekecewaan terlihat jelas di mata Hansol. Sekuat tenaga ia menahan tangis namun percuma, tangisnya langsung pecah saat Soonyoung meraih tubuhnya.
Soonyoung peluk Hansol erat, sementara Lee Minhyuk –wali kelasnya- mengusap rambut Hansol pelan.
"Jangan menangis, Sayang. Laki-laki tidak boleh menangis." Hibur Minhyuk.
"Ayo kita pulang, Jagoan! Beri salam pada gurumu." Soonyoung mengusap pelan air mata Hansol dengan lengan jaketnya, lalu menurunkan bocah lucu itu dari gendongannya.
"Sampai jumpa besok, Minhyuk-saem.."
"Sampai jumpa. Salam untuk mommy-mu yang cantik itu ya, Sayang.." Minhyuk balas memeluk Hansol erat.
"Mommy juga pernah bilang kalau Minhyuk-saem cantik.."
Minhyuk tertawa pelan, ia cubit pipi Hansol gemas. "Terima kasih, Hansol." Hansol adalah anak yang sopan dan manis. Salah satu murid favorit Minhyuk di kelas.
"Kami permisi, Guru Lee."
Soonyoung kembali menggendong Hansol dan berjalan meninggalkan lobby sekolah.
"Hati-hati di jalan." Minhyuk melambaikan tangannya ke arah Hansol. Ia balas senyum manis Hansol dengan senyum terbaiknya.
Minhyuk memang tidak memiliki wewenang apapun untuk bertanya lebih jauh soal ayah Hansol. Namun ia mengerti perasaan Hansol. Dua jam bukanlah waktu yang sebentar untuk menunggu, bahkan orang dewasa pun enggan jika harus diminta menunggu selama itu.
Sampai sekarang pun ayah Hansol tidak datang. Salahkah Minhyuk jika ia berpikir bahwa ayah dari muridnya itu adalah orang yang buruk?
Tentu tidak.
Andai saja Wonwoo tak melarang. Ingin rasanya Soonyoung membuat pengumuman pada semua orang tentang betapa buruknya Choi Seungcheol.
000000000000000000000
Seungcheol berkata jika ia sedang berada di kantor. Lembur sampai tidak bisa pulang ke rumah katanya. Tapi Jeonghan tahu jika Seungcheol sedang berada di apartemen Wonwoo sekarang.
Seungcheol berbohong untuk menjaga perasaannya. Kalaupun jujur, Jeonghan tak akan memberikan izin. Jadi tidak ada jalan lain bagi pria itu selain berbohong.
Jeonghan menghela napas panjang. Ia teringat akan pesan suaminya kemarin untuk datang mengunjungi ibunya yang sedang sakit. Sebenarnya Jeonghan tidak ingin, hamil membuatnya malas keluar rumah apalagi untuk menemui ibu mertuanya.
Namun demikian tidak berarti Jeonghan harus menolak permintaan suaminya.
Ia pun segera berangkat ke rumah ibu mertuanya setelah selesai memasak beberapa makanan. Hari ini ia pergi menyetir sendiri. Puteranya Chan telah lebih dulu berangkat sekolah diantar supir. Padahal ini hari pertama Chan di sekolah barunya, namun Seungcheol memilih untuk menemui Wonwoo dibandingkan mengantar Chan.
Jeonghan tentu saja kecewa, namun itulah risiko yang harus ia hadapi. Berbagi suami tidaklah mudah. Kenyataan paling menyakitkan yang harus ia rasakan.
Sesampainya di rumah Ibu Seungcheol, seperti biasanya Jeonghan disambut dengan ekspresi tak menyenangkan dari adik iparnya.
"Halo Hyujin-ah." Sapa Jeonghan berusaha ramah, meskipun ia yakin tak akan berefek banyak karena setelahnya, Hyujin, adik Seungcheol tidak bereaksi apapun.
"Untuk apa kau ke sini?" Sahutnya datar.
"Ah.." Jeonghan nampak berpikir sejenak. Berupaya mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Hyujin. Wanita itu bahkan tidak mempersilahkan dirinya masuk terlebih dahulu.
"Hyujin-ah! Siapa itu?"
Dari belakang terdengar suara lain yang menyahut. Jeonghan seketika mengucap syukur saat mendapati ada wanita selain Hyujin yang berjalan ke arah pintu.
"Ah! Jeonghan eonnie datang! Ayo masuk!"
Jeonghan melangkah masuk setelah mengucapkan terima kasih. Sementara Hyujin langsung berjalan ke kamarnya meninggalkan Jeonghan.
"Jeonghan eonnie, tolong maafkan Hyujin. Ia sedang ada masalah dengan pekerjaannya, jadi bersikap seperti itu."
"Tidak masalah, Nara-ya." Jeonghan tersenyum lembut. Nara nampak menyesali perilaku adiknya pada Jeonghan.
Seungcheol memiliki dua orang adik perempuan. Choi Nara dan Choi Hyujin. Usia Nara terpaut enam tahun lebih muda dari Seungcheol sementara Hyujin terpaut delapan tahun. Keduanya belum menikah dan masih tinggal dengan ibu mereka.
Nara mempersilahkan Jeonghan duduk, menyuguhkan air dan membuka kotak-kotak makanan yang Jeonghan bawa dari rumah.
"Maaf karena tidak ada sofa, Eonnie harus duduk di lantai.." Sesal Nara.
"Tidak masalah, jangan merasa menyesal seperti itu…"
Nara tahu jika Jeonghan sebenarnya merasa tidak nyaman jika harus duduk di atas tatami. Apalagi kondisinya sedang hamil muda. Namun Jeonghan tetap berusaha agar terlihat nyaman.
Nara pun meringis pelan. Sudah tiga tahun berselang dan keuangan keluarga Choi semakin pas-pasan. Mereka bahkan sampai harus menjual sofa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Sesuatu yang sebenarnya cukup Jeonghan sesali.
"Nara-ya.."
"Hm?"
"Kudengar Ibu sedang sakit, apa itu benar?" Tanya Jeonghan. Nara nampak ragu menjawabnya.
"Apa Seungcheol Oppa yang memberitahumu?"
Jeonghan menganggukan kepalanya. "Ibu sakit apa?"
"Semula dokter mengatakan bahwa Ibu hanya terserang batuk dan demam saja. Namun keadaannya semakin memburuk. Ia kehilangan nafsu makannya dan bobot tubuhnya terus menurun." Jelas Nara.
Jeonghan terkejut mendengarnya. Seungcheol hanya mengatakan bahwa Ibunya sedang sakit namun Jeonghan tidak menyangka jika akan seburuk itu keadaannya.
"Apa sudah dibawa ke dokter lagi?"
"Selama tiga minggu ini aku sudah membawanya dua kali ke klinik dokter umum. Namun dokter memberikan obat yang sama dan hasilnya pun sama. Ibu tidak kunjung sembuh."
"Mengapa tidak dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa?" Nada bicara Jeonghan terdengar mendesak.
Nara balas menatapnya sedih. "Sudah lama aku menunggak uang iuran jaminan kesehatan Ibu. Oleh sebab itu aku tidak bisa membawanya ke rumah sakit."
Hati Jeonghan mencelos. Selama ini ia dan Seungcheol tidak pernah sedikitpun kekurangan dalam hal harta.
Jeonghan juga selalu mendesak Seungcheol untuk membantu keuangan adik-adiknya agar mereka tidak hidup dalam kekurangan. Namun kenyataannya sekarang, untuk membayar iuran jaminan kesehatan saja, Nara sampai menunggak.
Lalu melihat keadaan Nara yang semakin kurus dan kusut, Jeonghan sungguh merasa bersalah.
"Bolehkah aku melihat Ibu?"
Nara tersenyum. Ia raih tangan Jeonghan lembut, membantunya berdiri.
"Tentu saja! Ayo eonnie!"
000000000000000000000
Soonyoung mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Di sampingnya Hansol duduk dengan wajah yang tertunduk. Hansol tak seceria biasanya, ia terlihat begitu kecewa. Wajahnya yang memerah dan matanya yang sayu. Soonyoung sekilas memukul setir mobilnya untuk mengungkapkan kekesalannya terhadap Seungcheol.
Jangan berjanji jika pada akhirnya tidak bisa ditepati! –umpat Soonyoung. Ia tentu tak ragu untuk menuding Seungcheol telah menelantarkan Hansol.
Soonyoung sempat menghubungi Jun beberapa saat yang lalu, untuk meminta Jun menemani Hansol sebentar ke Mall. Sekedar jalan-jalan membeli mainan atau minum bubble tea mungkin dapat mengembalikan mood Hansol.
Jun sudah menyetujuinya, dengan demikian Soonyoung dapat datang ke apartemen Wonwoo, bertemu Seungcheol dan memakinya habis-habisan. Kalau perlu menghajarnya tanpa perlu Hansol melihat.
Namun Hansol menolak tawaran pergi ke mall bersama Jun. Ia tidak ingin pergi ke manapun hari ini, Hansol hanya ingin pulang bertemu Wonwoo. Maka pupus sudah niatan Soonyoung menghajar ayah Hansol, dan tak ada pilihan lain untuknya selain mengantarkan Hansol pulang ke apartemen.
Soonyoung menghubungi Wonwoo beberapa kali selama di perjalanan. Namun tak kunjung dijawab oleh Wonwoo, bahkan sampai keduanya tiba di pintu depan apartemen. Beruntung Hansol mengingat sandi apartemennya.
Pintu terbuka dan Soonyoung tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Seungcheol. Tak ada sepatu pria tergeletak di depan pintu ataupun di rak sepatu. Apartemen Wonwoo dalam keadaan sepi, seperti kosong.
Soonyoung bingung, jika pada akhirnya Seungcheol akan pergi meninggalkan apartemen Wonwoo siang ini, kenapa pria itu harus repot repot meminta Soonyoung datang ke kantor untuk rapat sore nanti.
"Mommy!" Panggil Hansol sembari berlari menuju ruang tengah.
Tidak ada jawaban. Soonyoung melihat ponsel Wonwoo tergeletak di atas sofa. Belasan miscalled darinya terpampang jelas di layar ponsel Wonwoo yang menyala.
"Hansol, ayo kita cuci kaki dulu. Mungkin Mommy sedang tidur."
Hansol tidak mengindahkan perkataan Soonyoung. Kaki-kaki kecilnya berlari menuju kamar Wonwoo. Soonyoung mengikutinya dari belakang dan ia tekejut bukan main saat mendapati kondisi depan kamar Wonwoo.
Pintu yang engselnya bergeser dan terbuka lebar, serta pecahan beling yang berserakan di lantai.
"MOMMY!" Hansol menjerit histeris.
Soonyoung menarik lengan Hansol, berniat mencegahnya untuk masuk ke kamar Wonwoo. Namun Hansol bersikeras. Ia tetap berlari, menerobos masuk tanpa menghiraukan kemungkinan kakinya terkena pecahan beling.
"Hansol!"
DEG!
Jantung Soonyoung serasa mau melompat keluar.
Kamar Wonwoo hancur berantakan. Pintu lemari yang terbuka lebar beserta dengan isinya yang berhamburan keluar. Barang-barang yang hancur berantakan dan berserakan di lantai.
Seakan kamar itu baru saja dilanda gempa dahsyat. Soonyoung menggelengkan kepalanya tak percaya.
Di hadapannya kini, Wonwoo berbaring tanpa pakaian di atas ranjangnya yang kusut. Tubuhnya yang memunggungi Soonyoung hanya terbalut selimut tipis sampai ke perut. Kepalanya terkulai lemas di antara tumpukan bantal.
Punggung putih mulusnya dihiasi beberapa memar kebiruan. Rambut panjangnya terurai kusut berantakan, beserta dengan bercak darah di atas bantalnya.
Soonyoung terpaku. Tanpa bisa dicegah, air matanya menetes.
Wonwoo...
"MOMMY!"
000000000000000000000
Nara mengajak Jeonghan pergi ke kamar ibunya sembari membawa kotak-kotak makanan yang sebelumnya dibawa oleh Jeonghan. .
Jeonghan berjalan pelan menuju kamar Ibu Seungcheol, dan lebih dulu ia melewati ruang cuci yang terletak persis di samping kamar ibu mertuanya.
Jeonghan sempat melirik ke dalam ruang cuci itu. Kondisinya cukup buruk, ada rembesan air di tembok serta langit-langitnya yang telah berjamur dan berlubang. Jika sedang hujan, Jeonghan yakin air hujan akan masuk dengan mudahnya ke ruang cuci tersebut.
"Ibu.." Nara membuka pintu kamar ibunya perlahan. Nampak ibu Seungcheol berbaring di atas futon, di sampingnya ada nampan berisi bubur yang sama sekali belum disentuh.
Nara benar, ibu Seungcheol jauh lebih kurus dari terakhir kali Jeonghan melihatnya.
"Ibu, tebak siapa yang datang." Nara berujar ceria sembari menghampiri ibunya. Jeonghan masih berdiri memandangi interaksi antara Nara dan ibu mertuanya.
"Siapa?"
"Menantu cantikmu, Bu."
Jeonghan tersenyum mendengar pujian Nara. Ia duduk bersimpuh di hadapan sang Ibu mertua yang tengah berbaring miring.
Sejenak ibu Seungcheol tersenyum mendengar ucapan Nara. Namun senyum itu seketika luntur saat menyadari siapa gerangan 'menantu cantik' yang putrinya sebutkan. Dahinya mengerut dan alisnya menukik tajam.
"Untuk apa kau datang?"
"Ibu, jangan bicara seperti itu. Jeonghan eonnie sudah jauh-jauh datang ke sini untuk menjenguk Ibu." Ucap Nara merasa tak enak dengan sikap sang ibu pada kakak iparnya.
"Jeonghan eonnie, ayo duduk di sini."
Dengan canggung, Jeonghan menggeser duduknya dan seketika itu pula ibu Seungcheol langsung memunggunginya. Ia tunjukan dengan jelas bahwa ia menolak kehadiran Jeonghan.
"Ibu, Jeonghan eonnie membawa banyak makanan dan buah-buahan untuk Ibu. Ibu kan belum sarapan, jadi ayo dimakan." Bujuk Nara.
Ibu Seungcheol tetap bergeming. Sama sekali tak memberikan respon. Nara menghela napas pelan. Ia tatap Jeonghan, sungguh ia merasa bersalah pada Jeonghan.
Jeonghan mengenggam tangan Nara lembut sembari memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Jeonghan juga meminta Nara untuk meninggalkan dirinya berdua saja dengan ibu Seungcheol. Nara tentu tak menyetujuinya namun sekali lagi Jeonghan meyakinkannya.
Wanita cantik yang sangat mirip dengan Seungcheol itupun berjalan keluar kamar. Dalam hati ia berdoa agar sang ibu tak sampai hati memperlakukan Jeonghan dengan buruk.
Jeonghan mendekatkan tubuhnya ke arah ibu Seuncheol. Ia sentuh lengannya lembut dan tentu saja mendapat penolakan.
"Jangan berani kau menyentuhku!" Jerit ibu Seungcheol menolak, namun Jeonghan berusaha tidak menyerah.
"Ibu harus makan jika Ibu ingin sembuh. Aku sudah buatkan bubur ginseng khusus untuk Ibu."
"…"
"Ginseng sangat baik untuk menghangatkan tubuh dan baik untuk kesehatan Ibu."
"…"
"Aku dengar dari Nara, Ibu sedang batuk. Aku bawakan teh plum yang baik untuk perut dan tenggorokan."
"…"
"Aku bisa menyuapi Ibu jika memang Ibu mau.."
"…"
"Jika Ibu sedang tidak nafsu makan, mungkin Ibu ingin lebih dulu menyantap-"
"Kau ini memang tidak tahu malu ya."
Rasanya seperti tertancap puluhan duri tajam di tubuhnya, Jeonghan sempat gentar menghadapi kebencian yang dipancarkan oleh sang ibu mertua terhadapnya.
Ibu Seungcheol membalikan tubuhnya. Ia ambil posisi duduk di atas futon, lalu ia tatap Jeonghan remeh.
Ia tertawakan rupa menantu yang sangat dibencinya itu. Sangat menyakitkan bagi Jeonghan.
"Kau pikir aku akan tersentuh dengan semua ini?!"
Ibu Seungcheol berteriak persis di depan wajahnya. Jeonghan kembali menundukan kepalanya. Tangannya bergetar dan tanpa sadar meneteskan air mata.
"Kau menangis darah pun aku tidak akan peduli!"
"…"
"Bawa semua sampah ini kembali ke rumah mewah kalian itu! Aku tidak sudi menerima-"
"Memangnya kenapa?"
Makian Ibu Seungcheol sempat terpotong saat Jeonghan balas menatapnya sendu. Sebisa mungkin ia kumpulkan sisa-sisa keberaniannya di hadapan sang ibu mertua. Jeonghan tak rela jika ia harus dimaki-maki seperti ini.
"Apa salahku Bu? Apa aku salah jika aku ingin menunjukan perhatianku pada Ibu?" Tanya Jeonghan sembari memukul dadanya pelan. "Aku ini kan juga menantu Ibu.." Lirih Jeonghan membela diri.
Ibu Seungcheol lantas tertawa keras.
"Kau sebut dirimu menantuku?!"
"Ibu-"
"MENANTUKU HANYA JEON WONWOO!"
DEG!
"Kau dengar eoh?! Aku bahkan jijik dipanggil Ibu oleh wanita sepertimu!"
Jeonghan mengepalkan tangannya kuat. Kembali nama yang paling ia benci di dunia ini disebut.
"Aku juga istri dari anakmu! Aku istri dari Choi Seungcheol!"
PLAK!
Seketika tubuh Jeonghan tersungkur setelah ibu Seungcheol menamparnya. Tak lama setelah itu Jeonghan bisa merasakan pukulan-pukulan yang dilayangkan ibu Seungcheol ke tubuhnya. Meskipun lemah, pukulan itu tetap menyakitkan untuk Jeonghan, terutama untuk harga dirinya yang ikut jatuh tiarap.
"DASAR KAU WANITA TIDAK TAHU DIRI!"
Jeonghan hanya bisa meringkuk melindungi diri dari amukan ibu Seungcheol. Wanita tua itu tak hanya memukulinya. Tapi juga menarik baju dan rambutnya.
"YA TUHAN! KARENAMU, ANAKKU JADI SEPERTI ITU! KARENAMU, WONWOO MENANTUKU DAN HANSOL CUCUKU MENDERITA!"
BUGH! BUGH!
"DASAR KAU PELACUR! PEREBUT SUAMI ORANG!"
"IBU!"
Nara datang cukup terlambat. Ia segera meraih tangan sang ibu dan sebisa mungkin meredam amukannya. Cukup sulit karena emosi sudah terlanjur menguasai sang ibu.
Satu hal yang Nara takutkan adalah kondisi Jeonghan yang sedang mengandung. Demi Tuhan ia mengutuk Seungcheol yang membiarkan Jeonghan datang sendirian ke rumah ini.
"HYUJIN!" Nara yang sudah tidak sanggup menahan sang ibu yang semakin brutal pun berteriak histeris memanggil Hyujin.
"Astaga kalian merepotkan saja!" Seru Hyujin kesal.
Nara sudah tak mau ambil pusing dengan keluhan sang adik, ia segera meraih tubuh Jeonghan, membantunya keluar dari kamar selagi Hyujin menahan ibunya.
DUGH! PRANG!
"IBU!" Nara kembali menjerit saat sang ibu melemparkan gelas di samping futonnya ke arah Jeonghan dan tepat mengenai pelipis kirinya.
"DASAR BODOH! CEPAT BAWA WANITA ITU KELUAR!" Hyujin yang juga terpancing emosi benar-benar membuat kepala Nara serasa ingin meledak.
Jeonghan tidak bereaksi apa-apa setelah Nara berhasil membawanya keluar. Darah menetes dari pelipisnya yang terluka akibat lemparan gelas.
"Astaga, eonnie berdarah." Ucap Nara panik. Mereka sudah berada di ruang tamu sekarang, tangan Nara sampai gemetar saat melihat kondisi kakak iparnya.
Jeonghan menggelengkan kepalanya lemah.
"Aku baik-baik saja.."
"Eonnie…"
"Jangan menangis.." Bisik Jeonghan di tengah rasa sakit di kepalanya. Namun Jeonghan berusaha menahannya meskipun pandangannya mulai sedikit buram sekarang.
"Kumohon maafkan ibuku, Eonnie.." Nara menangis tersedu-sedu. Jeonghan menepuk-nepuk punggung adik iparnya perlahan.
Jeonghan bersyukur karena masih ada Nara, anggota keluarga Seungcheol yang mau menerimanya. Setidaknya Nara masih memandangnya sebagai wanita baik-baik.
"Aku baik-baik saja.." Ulang Jeonghan.
Namun siapa yang akan baik-baik saja setelah mendapat amukan mengerikan dari ibu mertuanya sendiri?
Nara menggelengkan kepalanya kuat. Ia raih tisu di meja dan ia usap darah yang mengalir ke pipi Jeonghan. Sementara Jeonghan membuka blazernya perlahan hingga menyisakan blusnya saja. Ia tersenyum ke arah Nara.
"Bisakah aku menitipkan blazerku padamu? Setelah ini aku harus menjemput Chan. Jangan sampai ia melihatnya."
Nara mengangguk, ia peluk blazer bernoda darah milik Jeonghan. Lalu perlahan Jeonghan meraih tas yang tergeletak di ruang tamu dan mengambil dompet dari dalam tasnya.
"Ambilah ini.."
"Eonnie jangan-"
"Ambilah, tukarkan untuk pengobatan ibumu."
Nara menatap Jeonghan tak percaya. "Tapi Eonnie-"
"Setelah ini, kirimkan nomor rekeningmu pada Eonnie. Kesulitan apapun yang kau hadapi, ceritakan padaku. Aku akan selalu ada untuk membantumu, Nara-ya."
"Jeonghan Eonnie.." Nara semakin terisak setelah mendengar pesan Jeonghan.
"Aku harus pergi sekarang."
"A-aku akan mengantar Eonnie.."
"Tidak perlu. Tetaplah di sini, urus ibumu dengan baik.."
Jeonghan mengenggam tangan Nara lembut, berusaha meyakinkan adik iparnya itu. Namun sebelum pergi, Jeonghan teringat sesuatu.
"Nara.."
"Y-Ya?"
"Berjanjilah padaku…"
Jeonghan sempat membasahi bibirnya yang kering. Rasanya tidak rela untuk mengatakan hal ini namun ia harus mengatakannya.
"Jika nanti ibumu bertanya…" Jeonghan menghela napas berat. "Katakan saja jika semua uang itu dari Wonwoo."
"Eonnie.."
"Aku pergi..."
Berat rasanya melepas kepergian Jeonghan yang bahkan masih terlihat sempoyongan. Namun kaki Nara seolah terpaku di depan pintu rumahnya. Tangan dan kakinya masih bergetar tak percaya.
Dengan ragu ia kembali menatap lembaran uang dollar ditangannya. Mungkin sekitar tujuh atau delapan lembar pecahan ratusan. Jumlah yang tidak sedikit, dan Jeonghan dengan mudahnya memberikan uang itu pada Nara setelah perlakuan tidak menyenangkan yang ia dapatkan dari ibunya.
Lalu pesan yang Jeonghan berikan padanya.
Uang dari Wonwoo...
Tentu saja karena jika ia katakan bahwa itu dari Jeonghan, ibunya pasti tak akan sudi menerimanya. Jangankan dari Jeonghan, bahkan dari Seungcheol saja ibunya menolak.
Rasa bersalah semakin kuat terasa di hati Nara. Sebesar apapun kesalahannya di masa lalu, Jeonghan tidak pantas diperlakukan seperti itu. Bagi Nara, Jeonghan tetaplah manusia berhati malaikat.
Ia tidak bersalah, oleh sebab itu ia tak pantas dipersalahkan.
000000000000000000000
Bayangan tentang Seungcheol yang menyiksanya beberapa saat yang lalu masih membayang jelas dalam benak Wonwoo. Wajah bengis pria yang dahulu selalu melindunginya itu seolah menghantui pikirannya. Padahal sudah setengah jam terlalui, namun sakitnya masih sangat terasa. Kepalanya seolah ingin pecah saat itu juga.
Wonwoo menggumam, apakah ini yang disebut neraka dunia?
Jika benar, ingin rasanya Wonwoo mati untuk mengakhiri semuanya. Namun kenyataannya, Tuhan masih membiarkannya hidup setelah penganiyayaan yang Seungcheol berikan. Akal sehat Wonwoo mulai memaksa tubuhnya untuk kuat, hingga jeritan histeris Hansol membuat Wonwoo tersadar seutuhnya.
"MOMMY!"
Sekuat tenaga Wonwoo menarik selimutnya dan berbalik, meskipun sakit luar biasa mendera tubuh bagian bawahnya. Lalu ia dapati wajah putera semata wayangnya yang telah banjir air mata.
Dunia Wonwoo terasa runtuh saat itu juga ketika Hansol tanpa ragu berlari ke arahnya.
"MOMMY!"
"Jangan mendekat!"
Hansol terpaku di tempatnya berdiri. Tubuhnya bergetar hebat dengan bibirnya yang berulang kali menyebut nama Wonwoo.
Otak Wonwoo mendadak tumpul, tak mampu berpikir dalam situasi yang sangat menyulitkan ini. Instingnya bekerja lebih giat. Satu hal yang Wonwoo inginkan.
"Pergi dari sini!"
Wonwoo tak ingin Hansol melihatnya dalam keadaan menyedihkan. Sungguh mati diperkosa dan dipukuli Seungcheol jauh lebih baik dibandingkan harus terlihat lemah dihadapan puteranya.
Wonwoo menggelengkan kepalanya kuat sembari meremas selimut yang menutupi dadanya.
"Mommy…"
"PERGI DARI SINI HANSOL!" Usir Wonwoo dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Soonyoung lantas segera meraih tubuh mungil Hansol yang hampir saja jatuh. Kaki mungilnya sudah tak mampu lagi menopang tubuhnya, terlebih setelah mendapat penolakan keras dari Wonwoo.
Ia dapat menangkap sinyal yang Wonwoo pancarkan. Wonwoo tak ingin Hansol melihatnya dalam keadaan sekacau itu, karena jangankan Hansol, Soonyoung saja tak sanggup melihatnya.
Soonyoung membawa Hansol keluar.
Kepala Hansol terkulai lemas di bahunya. Soonyoung blank, bahkan untuk menyumpah serapahi Seungcheol saja tak terpikirkan olehnya. Hingga akhirnya Soonyoung memutuskan untuk membawa Hansol ke kamarnya di lantai dua.
Ia baringkan Hansol di atas ranjang. Soonyoung bersyukur karena setidaknya Hansol tak lagi histeris dan meraung-raung memanggil nama Wonwoo. Namun kondisinya sekarang pun tak bisa dikatakan baik.
Kondisi Wonwoo yang babak belur serta penolakannya membuat Hansol shock. Air matanya menetes deras dan Hansol sempat terbatuk berberapa kali.
"M-mommy.." Gumam Hansol berulang layaknya mantra. Soonyoung luar biasa bingung.
Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Wonwoo, namun ia juga tak bisa meninggalkan Hansol begitu saja.
"Jangan menangis, Sayang. Hansol ingat pesan Mommy kan? Laki-laki tidak boleh menangis.." Hibur Soonyoung, berusaha keras menenangkan Hansol di tengah kepanikannya sendiri.
Beruntung setelahnya Hansol mulai lebih tenang dan berhenti menangis. Tangan mungilnya mengenggam erat sapu tangan putih yang Soonyoung berikan selagi paman tersayangnya itu membantunya berganti pakaian.
Soonyoung juga mengajak Hansol pergi ke kamar mandi untuk cuci muka dan kaki.
"Paman Soonyoung.."
"Iya?"
"Tolong obati Mommy-ku ya." Pinta Hansol, dengan wajah yang memelas ia genggam tangan Soonyoung.
"Tentu, Sayang. Setelah Hansol tidur. Paman akan obati Mommy." Soonyoung tersenyum. Ia tarik selimut Hansol dan tangannya mulai menepuk-nepuk tubuh Hansol lembut.
"Paman Soonyoung.."
"Hm?"
"Mungkin lebih baik jika Daddy tak datang lagi ke sini."
Soonyoung tersentak. Pasalnya ini pertama kalinya Hansol mengatakan hal itu. Hansol adalah anak yang baik, tak pernah sedikitpun ia menyinggung tentang Seungcheol pada Soonyoung ataupun Jun. Seolah Hansol menutupi perilaku buruk ayahnya.
Hanya pesan kerinduan yang kerapkali Hansol titipkan untuk Seungcheol agar nantinya Soonyoung dapat sampaikan.
Soonyoung tatap mata sayu Hansol yang hampir tertutup karena lelah menangis.
"Mengapa bicara seperti itu, Sayang?"
"Mommy selalu saja terluka setiap kali Daddy datang." Hansol mengigit bibirnya pelan. "Hansol sayang Daddy, Hansol ingin bersama lagi dengan Daddy."
"Tapi Hansol juga tak ingin Mommy terluka. Jadi mulai sekarang Hansol akan berusaha untuk tidak menunggu Daddy datang, Paman Soonyoung."
Hansol sebenarnya hanyalah anak usia lima tahun yang sulit untuk mengerti permasalahan yang melanda kedua orang tuanya. Namun satu hal yang selalu Hansol ingat adalah pesan Wonwoo yang sudah terpatri di kepalanya, sangat membekas layaknya doktrin yang wajib Hansol amalkan seumur hidupnya.
"Sebagai laki-laki kau tidak boleh menangis. Kau harus kuat untuk bisa melindungi Mommy, Choi Hansol."
Sudah saatnya Hansol menjalankan pesan itu. Ia harus melindungi ibunya, termasuk dari ayahnya sendiri.
000000000000000000000
Keceriaan terpancar jelas dari wajah Jeonghan saat menyambut putera semata wayangnya yang baru saja keluar dari sekolah. Jeonghan merentangkan tangannya lebar guna meraih tubuh Chan yang berlari ke arahnya.
Namun bocah usia tujuh tahun itu justru menghentikan langkahnya.
"Kenapa Sayang? Kenapa tidak mau memeluk Ibu?"
Chan menggelengkan kepalanya selagi Jeonghan menatapnya bingung.
"Aku takut menyakiti adik bayi jika memeluk Ibu terlalu erat." Jeonghan terenyuh mendengarnya. Tanpa ragu Jeonghan meraih tubuh mungil puteranya untuk dipeluk.
"Adik bayi tidak akan kesakitan sekalipun kakaknya yang tampan ini memeluk Ibu." Chan tersenyum kalem, ia tenggelamkan wajahnya di leher Jeonghan.
Jeonghan melepaskan pelukannya, lalu meraih tangan Chan. Ia ajak Chan berjalan menuju parkiran.
"Bagaimana hari ini? Apa menyenangkan? Sudah dapat teman baru?" Tanya Jeonghan beruntun.
Chan balas menatap sang ibu sampai keduanya masuk dalam mobil, Chan belum kunjung menjawab.
Jeonghan membantu puteranya untuk memasang sabuk pengaman dan sekilas menatap lengan kiri puteranya yang tertutup sweater.
"Aku belum mendapat teman.." Bisik Chan pelan. "Mungkin mereka tidak ingin memiliki teman sepertiku, Bu.."
"Sayang…" Jeonghan meraih tangan kanan Chan lembut. "Mereka bukannya tidak ingin. Chan hanya perlu berusaha untuk-"
"Tapi setelah melihat tanganku mereka menolak untuk berkenalan, Bu."
"…"
"Mereka tidak ingin punya teman cacat sepertiku.."
Chan menundukan kepalanya sedih dan seketika Jeonghan merasakan dadanya sesak luar biasa. Seolah ada batu besar yang menghantam dadanya.
Puteranya lahir dalam keadaan tidak sempurna. Chan mengalami cacat lahir struktural, ia terlahir tanpa tangan kirinya. Keadaan ini membuat Chan kehilangan kepercayaan diri seutuhnya. Hal yang paling Jeonghan sesali seumur hidup.
"Tidak, Sayang. Kau tidak cacat. Harus berapa kali Ibu katakan bahwa kau tidak cacat?"
"Aku tidak sempurna. Lalu apa bedanya dengan cacat, Bu?"
Sekuat tenaga Jeonghan menahan tangisnya.
"Tidak, Sayang. Itu berbeda. Kau tidak cacat. Jangan pernah berpikir seperti itu. Lagipula ini baru hari pertamamu sekolah, Ibu yakin besok kau akan mendapatkan teman." Hibur Jeonghan sembari mengecup kedua pipi Chan sayang.
"Fisikmu memang tidak sempurna, Sayang. Tapi ingatlah bahwa hatimu sempurna. Jauh lebih sempurna dari mereka yang fisiknya sempurna. Kau percaya pada Ibu kan?"
Meski ragu, Chan akhirnya menganggukan kepalanya perlahan.
"Katakan pada Ibu jika ada yang berani menyakitimu atau menghinamu. Kau mengerti?"
Jeonghan hanya ingin Chan kuat. Keterbatasan tidak boleh membuatnya ragu dalam menjalani hidup. Jeonghan akan selalu ada untuknya, mendampingi dan menghiburnya sampai kapanpun tanpa pernah lelah. Apapun akan Jeonghan tukar demi kebahagiaan Chan dan takkan pernah ia biarkan siapapun menyakitinya.
Jeonghan memeluk puteranya erat. Ia bisikan kata sayang berulang kali.
"Ibu terluka?" Chan menyentuh luka di pelipis Jeonghan yang tertutup plester. Sebelum menjemput Chan, Jeonghan lebih dulu mampir ke apotik untuk mengobati lukanya.
"Katakan pada Chan siapa yang menyakiti Ibu?" Chan mengulang kalimat yang sempat Jeonghan katakan, dan Jeonghan terharu mendengarnya.
Ayahmu yang menyakiti Ibu, Sayang…
Keraguan Seungcheol yang membuat Jeonghan akhirnya ditolak oleh ibu mertuanya sendiri. Bahkan sampai sekarang pun, Chan tidak pernah bertatap muka dengan neneknya. Chan masih terlalu muda dan rapuh untuk dihujani kebencian oleh sang nenek.
Namun Jeonghan tidak mungkin menunjukkan kesedihannya dihadapan Chan. Terlebih mengeluh tentang perlakuan tidak menyenangkan yang baru saja didapatkannya, oleh sebab itu ia menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar agar Chan tidak khawatir.
"Ibu baik-baik saja, Sayang."
Berlindung di balik kalimat 'baik-baik saja' memang menjadi hal yang paling rasional bagi Jeonghan saat ini.
000000000000000000000
Soonyoung sempat melamun di depan pintu kamar Hansol. Setelah cukup lama meninabobokannya, akhirnya Hansol tertidur. Sejenak ia cermati kalimat bocah usia lima tahun itu, dan Soonyoung tak pernah menyangka jika ia baru saja mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga darinya.
Soonyoung mengerti bahwa setiap anak pasti menginginkan tinggal bersama kedua orang tuanya dalam bingkai keluarga yang utuh tanpa konflik. Hansol sangat menyayangi Seungcheol dan juga Wonwoo.
Namun pada akhirnya, Hansol putuskan untuk ikhlas kehilangan Seungcheol. Ia gadaikan keinginannya untuk tetap bersama Seungcheol semata-mata agar Wonwoo tidak terluka, karena Hansol sadar bahwa kedua orang tuanya memang tak bisa lagi bersama.
Tak bisa dipaksakan, karena jika demikian maka Wonwoo, ibunya akan terus terluka sementara Seungcheol, ayahnya akan terus menumpuk dosa dunia.
Pukulan keras seolah Hansol layangkan untuk mereka semua yang telah dewasa, untuk Seungcheol, Wonwoo dan juga Soonyoung sendiri.
Hansol tidak serakah seperti Seungcheol yang selalu ingin mendapatkan segalanya tanpa harus memilih.
Hansol juga tidak egois seperti Wonwoo yang selalu merasa dirinya benar.
Lalu Hansol juga tidak seperti Soonyoung yang sulit mengalah untuk sesuatu yang bukan untuknya.
Kenyataan membuat bocah laki-laki itu jauh lebih mengerti tentang hidup dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya yang lebih dewasa. Ia tahu bagaimana caranya untuk ikhlas.
Soonyoung malu luar biasa. Tak ada yang bisa ia lakukan selain menepati janjinya pada Hansol untuk mengobati Wonwoo. Ia pun berjalan menuju kamar Wonwoo.
Pintu kamar yang tertutup rapat menyambut Soonyoung. Ia ketuk beberapa kali sebelum memutuskan untuk masuk dan ia lihat kondisi kamar Wonwoo yang sudah kembali rapi. Soonyoung memang masih melihat ada tumpukan barang-barang di sudut kamar namun tidak dengan kekacauan di lantainya. Semuanya sudah bersih.
Wonwoo baru saja keluar dari kamar mandi. Ia terlihat jauh lebih baik dengan kaos putih dan celana panjang santai warna hitam yang membalut tubuhnya. Rambutnya yang setengah basah nampak digelung ke atas, memperlihatkan bekas-bekas penganiyayaan Seungcheol terhadapannya berupa luka bekas cekikan dan cakaran yang memanjang di lehernya.
Lalu selayaknya tak pernah terjadi sesuatu hal yang mengkhawatirkan Wonwoo balas menatap Soonyoung dan menunjukan senyumnya yang biasa.
"K-kau baik-baik saja?" Soonyoung sampai tergagap saat bertanya. Separuh tak percaya dengan pemulihan singkat yang Wonwoo lakukan terhadap dirinya sendiri.
"Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja, Kwon." Sahut Wonwoo cuek sembari terkekeh pelan.
"Tapi kau-"
Soonyoung menghampiri Wonwoo. Ia sentuh siku Wonwoo lembut, dan ia perhatikan dengan seksama wajah cantik itu.
"Apa yang sakit?"
"…"
"Wonwoo, apa yang sebenarnya terjadi?"
Wonwoo tidak mengubris pertanyaan beruntun Soonyoung. Wanita cantik itu justru dengan santainya berjalan melewati Soonyoung.
"Apa yang Seungcheol lakukan padamu?"
Padahal Wonwoo sama sekali tak menyinggung nama Seungcheol, namun Soonyoung yakin seratus persen jika semua kekacauan ini disebabkan oleh pria itu. Bahkan Hansol pun menyakini jika Seungcheol yang melakukannya.
"Tidak ada, Kwon."
"Demi Tuhan, tolong jangan menutup-nutupinya dariku, Wonwoo. Aku berhak mengetahui semuanya."
Kekhawatiran Soonyoung dapat Wonwoo rasakan dengan begitu kental, namun dengan mudah ia tepis tangan Soonyoung yang berniat menangkup wajahnya.
"Kau tidak berhak." Wonwoo balas menatap Soonyoung datar. "Jadi berhenti bertanya macam-macam, Soonyoung."
Wonwoo berjalan menuju meja riasnya. Lalu meraih sesuatu dalam dua botol dan meminumnya sekaligus. Obat pencegah kehamilan dan obat penghilang rasa sakit. Soonyoung tahu karena ia sendiri yang membantu Wonwoo mendapatkan dua obat wajib itu.
"Aku akan mengobati luka-luka di tubuhmu sekarang." Soonyoung menyentuh lengan Wonwoo untuk mengembalikan fokus wanita itu terhadapnya.
Lagi-lagi Wonwoo menepisnya kasar.
"Aku baik-baik saja, Kwon!"
"Kau terluka Jeon! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!"
"Tapi aku baik-baik saja! Harus berapa kali kukatakan padamu hah?!" Jerit Wonwoo frustasi sembari menatap Soonyoung sengit.
Lalu dengan senang hati Soonyoung balas dengan tatapan tajam miliknya. Soonyoung geram dengan Wonwoo yang terus saja mengelak. Apa untungnya ia menutupi semuanya dari Soonyoung, toh ia sudah tertangkap basah dalam keadaan terluka sebelumnya.
"Aku akan tetap mengobatimu!"
"Jangan berani kau menyentuhku!" Wonwoo menunjuk wajah Soonyoung dengan jari telunjuknya sembari mendelik tak suka.
Soonyoung benci saat Wonwoo mulai bertingkah seolah dirinya kuat, wanita itu selalu saja menanggungnya sendiri dan berakhir memperlakukan Soonyoung selayaknya orang asing yang tidak berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Lalu di tengah perang mata antara keduanya, tiba-tiba saja ponsel Wonwoo yang tergeletak di meja nakas berbunyi. Wonwoo memang telah mengambil ponselnya saat Soonyoung menidurkan Hansol di kamarnya.
Videocall dari Mingyu.
Hampir satu menit ponsel tersebut berdering tanpa henti. Wonwoo hanya memandanginya dari jauh. Soonyoung dapat menangkap ada kegelisahan di wajah Wonwoo meskipun hanya sedikit, karena wanita itu sangat pandai menutupi perasaannya.
Hingga tiga menit waktu telah terlewati, Soonyoung berdecih pelan.
"Kenapa tidak kau angkat?"
Wonwoo tak menjawab. Matanya masih terpaku pada layar ponselnya yang menyala. Nama Mingyu tertera jelas di sana, lengkap dengan potret selca keduanya –Mingyu yang tersenyum lebar ke arah kamera dan Wonwoo yang memejamkan matanya, bersandar nyaman di bahu lebar Mingyu-.
"Kenapa kau abaikan panggilan dari kekasihmu itu?"
Soonyoung sengaja memberikan penekanan pada kata 'kekasih' saat ia bertanya, dan Wonwoo hanya terdiam.
"Kim Mingyu pasti merindukanmu! Angkat teleponnya sebelum pria-mu itu khawatir!"
Soonyoung semakin memanaskan suasana. Wonwoo ikut geram dan tanpa berlama-lama ia meraih ponselnya. Sengaja ia matikan sepihak panggilan videocall Mingyu.
"Kau puas?!"
Soonyoung tertawa keras, semakin keras saat ponsel Wonwoo kembali berdering. Mingyu belum menyerah untuk menghubungi Wonwoo.
"Angkat teleponnya dan katakan padanya bahwa kau baru saja dianiyaya dan diperkosa oleh suamimu sendiri Jeon Wonwoo!"
PRAK!
Wonwoo membanting ponselnya keras ke lantai, tindakan yang tidak disangka oleh Soonyoung. Seketika suara dering ponsel Wonwoo menghilang diikuti dengan layarnya yang retak dan menghitam.
Wonwoo tersenyum pahit. Ini bahkan baru permulaan, namun rasanya sudah sesakit ini. Padahal baru Seungcheol, belum Mingyu. Cepat atau lambat, Mingyu pasti akan mengetahui semua kebohongan yang ia lakukan. Statusnya sebagai wanita bersuami akan terbongkar.
"Kau puas?" Tanyanya sekali lagi pada Soonyoung.
Hening yang terasa di antara keduanya benar-benar menyiksa. Soonyoung bahkan sampai sulit untuk bernapas. Soonyoung mengepalkan tangannya kuat.
"Wonwoo-"
Sulit bagi Soonyoung untuk berkata-kata. Ia dapat melihat dengan jelas gurat lelah di wajah Wonwoo yang pucat. Mata cantiknya yang sembab, suhu tubuhnya yang hangat, bekas luka pecah di pelipisnya serta lebam-lebam di tubuh Wonwoo yang sebelumnya sempat Soonyoung lihat.
"Pergi dari sini. Jangan ikut campur urusanku, Soonyoung.."
Wonwoo berbalik memunggungi Soonyoung selagi pria itu bergeming di tempatnya. Soonyoung tak beranjak, sampai ia lihat bahu sempit itu bergetar hebat tak mampu menahan beban berat yang ditanggungnya, Soonyoung memeluk Wonwoo erat dari belakang.
Tangis Wonwoo pecah. Betapa malangnya nasib wanita ini. Soonyoung tak sanggup.
"Aku lelah.."
Untuk pertama kalinya Wonwoo mengeluh dan ia menangis dalam diam. Air matanya yang menetes mulai membasahi karpet kamarnya yang lembut. Wonwoo terisak, dadanya sesak luar biasa.
Sungguh ia tidak menyangka jika selingkuh akan sedemikian menyiksanya. Ia salut dengan apa yang dilakukan oleh Seungcheol. Pilihan untuk menikahi Wonwoo mungkin yang terberat, lalu memilih mengkhianati Wonwoo untuk seorang wanita bernama Yoon Jeonghan tanpa ketahuan mungkin adalah pencapaian terbesar dalam hidupnya.
Kau memang hebat, Seungcheol –puji Wonwoo tulus dalam hati. Setiap tetes air matanya adalah bukti keberhasilan Seungcheol dalam menghancurkan hatinya.
Seungcheol memang patut diapresiasi. Pria itu seperti pakarnya selingkuh, ia professional. Tidak seperti Wonwoo yang baru selingkuh tiga bulan saja sudah mengeluh lelah dan ingin mati.
"Aku ada di sini.. Kau tidak sendirian.." Bisik Soonyoung sembari membalik tubuh Wonwoo.
Soonyoung usap kepala Wonwoo lembut, ia hapus air matanya dan ia kecup pipinya. Wonwoo balas menatap Soonyoung dengan matanya yang berair.
"Aku lelah, Soonyoung… sungguh.."
Runtuh sudah keangkuhannya, Wonwoo memilih untuk tidak menutupi perasaannya di hadapan Soonyoung. Ia bahkan balas memeluk Soonyoung erat.
"Aku mencintainya, Soonyoung…"
"…"
"Aku mencintai Mingyu.."
Wonwoo meluapkan semua perasaannya pada Soonyoung, begitu pula dengan kesedihannya. Bahu Soonyoung sampai basah karena air matanya.
"Aku tidak ingin kehilangannya.."
Wonwoo menyesal memilih bersama Seungcheol, ia menyesali takdirnya yang sulit berpisah dari Seungcheol. Wonwoo hanya tak ingin kehilangan Mingyu, susah payah Wonwoo mendapatkannya dan ia tidak ingin Mingyu lepas darinya begitu saja. Oleh sebab itu ia memilih jalan yang berliku ini.
Soonyoung pun sama. Jalan berliku ia pilih untuk bersama mendampingi wanita yang bahkan mengungkapkan perasaan cintanya pada orang lain. Soonyoung mencintai Wonwoo, namun Wonwoo jelas-jelas menyebut dirinya mencintai Mingyu.
Andai saja Soonyoung punya keberanian untuk bertanya tentang kapan sekiranya Wonwoo mencintainya, mungkin semuanya akan terasa lebih mudah.
Meskipun pada akhirnya Soonyoung telah mengetahui jawabannya.
Sampai kapanpun kau memang tidak akan pernah mencintaiku…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
End of Prosaic Chapter 8
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Huwaaaaah akhirnya selesai jugaaa
Ini chapter tersulit sih sejauh aku nulis Prosaic karena pertama ini isinya konflik semua, panjang banget lagi macem kereta wkwkwk tapi beberapa pertanyaan krusial dari readers udh terjawab yaa kaya yang nanyain Jihoon ada dimana? Jihoon ada sama Chanbaek di gedung agensi bernama ….. *isi sendiri wkwkwk
Terus juga pertanyaan Wonwoo ga hamil apa gulat mulu sama Seungcheol? Terjawab juga ya ternyata Soonyoung rutin beliin obat kontrasepsi wkwkwk *ini si Wonu ga bisa beli sendiri apa sampe obat beginian aja Soonyoung yang beliin *kena tampol Wonu
Terussss pertanyaan soal Wonwoo Jeonghan itu istri keberapa *smirk* udah jelas khaaaaan~
Komen di review dong pendapat readers setelah baca part Jeonghan VS mertuanya wkwkwkwk terus lebih kasian sama Wonwoo apa sama Jeonghan? Atau jangan-jangan lebih kasian sama Soonyoung wkwkwkwk
Intinya readers lebih pilih Team Mommy Wonwoo apa Team Ibu Jeonghan? *agak serem ya Team Ibu, auto ngebayangin Jeonghan rambut item panjang kaya Ibu di pengabdi sasetan wkwkwkwkk
Semua member Seventeen juga udah muncul ya, terakhir aku munculin Jihoon dan Chan *tebar confetti* Cuma maaf untuk Chan, aku tak bermaksud membuat tanganmu hilang nak :"(( hanya untuk kebutuhan cerita sajah, diharap jangan baper karena karakter Chan ga sempurna fisiknya di ff ini.
Aku juga ga deskripsiin detail tentang adegan piiiiiip Seungcheol Wonwoo ya, lagian ga pada doyan juga kan shaaay jadi ga aku kasih detail wkwwkwk tapi bayangin aja Seungcheol mainnya gimana sampe uri Wonwoo K.O begitu di kasur, biru biru pulaaa, semoga bisa terbayang yaaa wkwk
Oh iya aku juga mau klarifikasi, aku ga nyangka pas kemaren aku ksh spoiler bakal ada gulat di chapter 8, readers ternyata anggapnya tuh gulat dalam arti anu-anu, padahal maksud aku itu gulat beneran dalam arti berantem bukan gulat di kasur wkwkwk jadi spoiler soal gulat di chap 8 itu ya tentang Jeonghan yang berantem sama mertuanya sampe sambit-sambitan, tapi readers terlanjur anggap wonwoo mingyu yang gulat di kasur, jadi aku minta maaaaaf
Takutnya aku disangka php kan karena ga ada adegan gulat dalam arti 'anu' wkwkwk *gimana mau anu, mingyu-nya aja ga muncul *plak
Jadi daku minta maaf atas segala kesalahpahaman iniiih readers-nim
Sama soal clue, sampe ada yang pm aku nanya 'clue aposeh si ka, aku ga nyadar, aku ga peka' terus aku ngakak wkwkwk, aku bocorin satu ya, clue itu selalu ada di bagian awal sebelom title Prosaic atau akhir pokoknya yang pake b inggris, baik itu lirik lagu atau quotes itu salah satu clue yang aku maksud yaaa, maaf ini authornya emang obsesi sama clue-clue gara gara kecilnya kebanyakan nonton si Steve di Blue's Clues wkwkwk
Terakhir Special Thanks to : jeonnram/ leeseungyeon/ harimingyu/ mingyuwaifeu/ Dazzpicable/ Nadhefuji/ fbls *ini kamu sampai review dua kali, makasiih banyak yaaa/ daebaektaeluv/ Shappire Crystal *kakak tercintahku~
Aku lihat jumlah pembaca dan review selalu menurun di bagian Special Chapter *pundung dipojokan* apa karena kurang greget ya kalo misalnya flashback dipisah dari chapter utamanya? cuma aku lebih suka kalo flashback dipisah karena kalo digabung pasti jadi lebih panjang tiap chapternya, aku takut readers gumoh wkwkk tapi aku minta pendapat readers lagi ya mending digabung atau engga flashback sama chapter utamanya.
Tapi terima kasih untuk readers yang sudah membaca, review, like dan follow ff ini
Have a nice day~
Dara
