Fate

sebelumnya. . .

"Sudah kubilang kan, tidak usah sok kuat." Ucap Kaguya.

"Maaf." ucap Naruto.

"Untuk apa.?"

"Entahlah."

"dasar, kau tidak perlu minta maaf." Ucap Kaguya lalu memapah Naruto dengan merangkul tubuh Naruto.

"tubuhmu berat juga ya.? hehe" ucap Kaguya.

"kalau begitu tidak perlu. . .

"Sssttt. Jangan mulai lagi." Ucap kaguya.

Naruto terdiam.

Setelah cukup lama berjalan, akhirnya mereka sudah hapir sampai rumah.

Naruto tiba tiba kaget.

"Ada apa.?" Tanya kaguya.

"Hinata." gumam Naruto.

"Eh, , dia kan.?"

Mendengar adanya suara , Hinta pun menoleh dan mendapati Naruto yang sedang dipapah Oleh Kaguya.

"Naruto.. .. .. .. . .. ..

Fate . . .

.

Chapter 10

- - Enjoy the Story- -

Hinata berlari kecil kearah Naruto.

"Naruto, apa yang terjadi.?" Tanya Hinata.

"Tidak ada." jawab Naruto singkat.

"Dia di keroyok genk Sasuke." jawab Kaguya.

"Eh, apa.? Kita harus melaporkan semua ini ke polisi, apa yang telah mereka lakukan benar benar sudah kelewat batas." jawab Hinata.

"Tidak perlu, aku malas berurusan dengan polisi." jawab Naruto.

"tapi kan. .

"Sudahlah, aku ingin istirahat." jawab Naruto, lalu mulai melangkah kearah pintu.

Cklek

Naruto berhenti.

"Sebaiknya kalian pulang saja, aku ingin istirahat." Ucap Naruto.

"Tapi, lukamu. . .

"tapi, lukamu harus diobati dulu." jawab Kaguya dan Hinata bersamaan.

Mereka saling menatap.

"aku bisa sendiri." jawab Naruto.

"Sudahlah, tak usah sok kuat. Aku akan membantumu mengobati lukamu, ayo." jawab Kaguya sambil menuntun Naruto masuk.

"aku bukan anak kecil."

"Eh, siapa juga yang mengataimu anak kecil Naruto. Sudahlah jangan rewel" jawab kaguya.

Sementara Hinata mengikuti mereka dibelakang.

'Entah kenapa, aku merasa tidak suka melihat kedekatan mereka. Ada apa denganku.? Hinata, ayo sadarlah, kau bukan siapa-siapa.' batin Hinata.

"Duduklah" ucap kaguya.

"apa kau punya kotak p3k Naruto.?" tanya kaguya.

"ada dilemari bawah." jawab Naruto sambil menunjuk kearah lemari.

"Oke," kaguya lalu bergegas mengambil kotak tersebut dan juga baskom berisi air dan handuk kecil.

"Sini, biar aku bersihkan dulu." Ucap kaguya.

Naruto hanya menurut

Sementara, Hinata hanya menatap mereka dalam diam.

"Ah, pelan pelan" ucap Naruto agak kesakitan.

"Tahan sebentar lagi." Ucap kaguya.

"Umb, bagaimana kau bisa dikeroyok mereka, Naruto.?" tanya Hinata.

"Entahlah, tiba tiba mereka muncul dan mengeroyokku." jawab Naruto sekenanya sambil meringis menahan sakit.

"Naruto, lukanya ini harus dijahit, lukanya cukup lebar. kita harus ke klinik terdekat" Ucap Kaguya.

"Apa kau bisa.?" tanya Naruto.

"Tentu saja tidak.? Ayo kita harus ke klinik terdekat." Ucap kaguya.

"kalau begitu tidak usah repot repot, perban saja, entar juga sembuh sendiri." jawab Naruto.

"jangan gila Naruto, kalau infeksi bagaimana.?"

"Sudahlah jangan cerewet, ini hanya luka kecil, besok juga sembuh."

"aku cerewet, karena peduli padamu."

"Kalau kau tidak mau, biar aku sendiri yang perban." jawab Naruto lalu mengambil kapas dan perban.

Namun segera diambil oleh kaguya.

"Kenapa kau keras kepala sekali Naruto. Ayo kita keklinik terdekat." bujuk Kaguya lagi.

"aku tidak mau."

"dasar kuning keras kepala." Ucap Hinata dari belakang, yang sepertinya juga agak geram dengan sifat keras kepala Naruto.

Mendengar itu Naruto sontak menatap Hinata yang tiba tiba menyuara.

Ditatap seperti itu membuat Hinata agak gelagapan.

"Dasar keras kepala." ucap Hinata lalu memalingkan wajahnya.

"Itu bukan Urusanmu." jawab Naruto.

Sementara Hinata langsung menatap kearah Naruto.

Sementara kaguya yang telah selesai memasang perban pun bertanya.

"memangnya apa yang membuatmu tidak mau ke klinik.?" tanya kaguya.

"Aku hanya tidak ingin." jawab Naruto sekenanya, lalu berdiri dari duduknya.

"Bohong, kenapa kau tidak mau terbuka pada temanmu, apa yang kau khawatirkan? Kau bisa menceritakan masalahmu pada temanmu agar sedikit lebih tenang." ucap Kaguya.

Dan itu sukses membuat Naruto terdiam.

Naruto memejamkan matanya. Lalu menarik nafas panjang.

"Aku, hanya tidak ingin ke tempat terkutuk bernama "Rumah sakit"." ucap Naruto penuh penekanan.

Dan itu sukses membuat Kaguya dan Hinata dilanda kebingungan.

'jangan jangan.?' batin Hinata dengan wajah sendu.

Naruto lalu melangkah kedalam.

"Kau mau kemana, Naruto." tanya Kaguya.

"minum."

Sementara kaguya yang agak penasaran bertanya pada hinata.

"apa kau tau sesuatu, Hinata-san." tanya kaguya.

"Entahlah, aku juga tidak yakin. tapi, kurasa ini ada hubungannya dengan ibunya." jawab Hinata.

"ada apa dengan ibunya Naruto.?"

"Dia, meninggal sekitar 10 hari yang lalu." jawab Hinata.

Mendengar jawaban Hinata. kaguya sontak menunduk.

"Kurasa dia masih belum bisa menerimanya." ucap Hinata lagi.

Tap

Tap

Tap

"Hinata," panggil Naruto yang sudah ada dibelakang Kaguya.

"Ada apa.?"

"Aku kembalikan yang waktu itu." ucap Naruto lalu menyodorkan amplop berwarna coklat.

"Tidak usah, lebih baik kau gunakan saja untuk keperluanmu, lagi pula aku sudah beli baru kok." jawab Hinata.

"Kau mengasihaniku.? Kau menganggapku pecundang.? Ini salahku dan aku harus mempertanggung jawabkan itu karena aku adalah lelaki, lelaki harus berani bertanggung jawab." jawab Naruto Tegas.

Sementara 2 orang yang ada disana di buat kagum dengan sifat Naruto.

'ternyata dibalik sifat keras kepalanya, dia juga sangat bertanggung jawab.'

'dan kenapa tiba tiba pipiku menghangat, ah sial kenapa dia keren sekali.' batin kaguya lalu segera menggeleng.

Sementara Hinata hanya bisa terdiam, sambil menatap Naruto.

Melihat Hinata yang tak kunjung mengambil uangnya membuat Naruto mendecih kesal. Lalu meletakkan uangnya diatas tangan Hinata.

"Sekarang sudah impas. jadi, jangan ganggu aku lagi." ucap Naruto dengan tatapan malas.

Sementara Hinata yang mendengar itu membelalakkan matanya.

"apa maksudmu.?" Tanya Hinata.

"Bukankah ini yang kau inginkan sejak awal. Jadi ambilah uang itu dan anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Hyuuga-san." jawab Naruto kalem.

Sementara Kaguya yang mendengarnya agak kebingungan karena tidak tau masalah yang sedang dibicarakan oleh Naruto dan Hinata.

"Aku tidak pernah berfikiran seperti itu, Naruto. Aku bahkan tidak perduli jika kau membayarnya atau tidak. Tapi aku memang tulus ingin berteman denganmu." Jawab Hinata.

"Teman ya..." gumam Naruto.

"Sebaiknya kau segera pulang... Kau juga Kaguya."

"Ehh." kaget Kaguya.

"Kenapa.?" tanya Kaguya.

Naruto menarik nafas dalam.

"Mulai saat ini, anggap bahwa kita tidak pernah bertemu sebelumnya. Aku... Tidak butuh teman." Jawab Naruto dingin.

Sementara Kaguya yang mendengarnya pun naik pitam.

"Tidak usah berlagak sok kuat Naruto. Kau bahkan bisa kehabisan darah tadi. Kalau kau tidak ingin berteman dan menjalin hubungan. Apa ada yang akan menolongmu lagi jika hal yang tadi terulang lagi." cerca Kaguya.

"Aku tidak menyuruhmu menolongku." jawab Naruto kalem.

"Cih, dengar aku tidak akan memutuskan hubungan pertemananku denganmu sampai kapanpun. Mengerti." jawab Kaguya.

"Kau berkata begitu seolah kau mengetahui segalanya, Sebaiknya kalian pulang dan tidurlah. Anggap aku hanyalah mimpi buruk kalian. Aku tidak ingin berhubungan dengan kalian lagi." Jawab Naruto.

"Kalau aku tidak mau bagaimana." Tantang Kaguya.

"Dasar cerewet, keras kepala, seenaknya sendiri, dan juga bodoh." Ucap Naruto.

Sementara Hinata yang ada dibelakang Kaguya, yang sudah tidak tahan dengan sikap Naruto pun lalu memegang lengan Kaguya.

"Sudahlah Kaguya-san biarkan dia mengurus urusannya sendiri. Orang keras kepala sepertinya memang tidak tau diuntung." ucap Hinata agak berkaca.

"Cih, sejak awal tidak ada yang menyuruhmu untuk ikut campur dan berusah sok menolongku. Dasar tukang ikut campur dan ..." jawab Naruto ketus.

"Cukup Naruto..." Potong Kaguya sambil menunduk dan mulai terisak.

"Selama ini aku telah salah menilaimu. Aku menyesal telah berteman denganmu." ucap Kaguya lalu menatap safir biru kelam Naruto dengan air mata yang membanjiri pipi pucatnya.

"Kau sungguh jahat Naruto." bentak Kaguya.

"Dasar cerewet."

Dan dengan itu tangisan Kaguya makin menjadi.

Hiks hiks

"Ayo pergi dari sini, tidak ada gunanya lagi kita disini." ucap Hinata dengan menatap tajam Naruto.

Sementara Naruto hanya biasa saja, seolah tidak terjadi apa pun.

"Dasar lelaki brengsek." dengan itu Hinata lalu menuntun Kaguya keluar.

Setelah Hlmereka keluar, Naruto memejamkan matanya dan tangannya terkepal kuat. Lalu membuka matanya dan membanting meja di belakangnya.

Brakkk

Prank

Air mata mulai mengalir dan dengan Kasar Naruto menjambak surai kuningnya yang ternoda oleh darah. Lalu Naruto jatuh terduduk sambil menangis.

Hiks

Hiks

"Ke..hiks kenapa aku menangis. Kenapa sakit sekali disini." ucap Naruto sambil meremas bagian dadanya.

"Haaah."

Pyar.

Naruto memukul kaca lemari disampingnya hingga pecah.

Tes

Tes

Darah segar mulai menetes.

Naruto menoleh kearah kaca dan terlihat pantulan Naruto dari kaca kaca yang pecah.

"Ini sangat menyedihkan, tidak... Tidak." Naruto melotot dan tampak sangat depresi.

"Tidaaaak... Tidaaaakk ini bukan aku. Apa yang kau lihat brengsek. Pergi dari hadapanku." teriak Naruto pada pantulan dirinya dikaca.

"Kalau kau tidak mau minggir juga aku akan membunuhmu huhuhy." teriak Naruto sambil menangis sesenggukan.

"Aku bebar benar akan membunuhmu."

Naruto lalu beranjak kedapur dan mengambil sebuah pisau dapur lalu menusukkannya tepat kearah pantulan wajahnya dikaca. Dan pyar kaca tadi pun pecah dan jatuh kelantai. Naruto terduduk. "Kau tidak mau mati rupanya." ucap Naruto. "Kalau begitu biar aku saja yang mati." ucap Naruto lalu mulai mengarahkan pisaunya kearah jantungnya sendiri.

Dengan begini semua akan berakhir.

Namun belum sempat pisau itu mengenai dada Naruto, sebuat tangan menghadang pisau tersebut.

Jreb

Naruto melotot...

"Ahhk..." pekik Hinata yang menggunakan tangannya untuk menghalangi pisaunya. karena cukup keras, pisau itupun menembus lengan Hinata dan masih sampai menusuk dada Naruto walaupun tidak sampai ke jantung.

". . . . .?" Naruto terpaku dengan tubuh bergetar hebat, sambil memegang pisau yang ia tusukkan kearah jantungnya sendiri, lalu dengan cepat dia, mencabut pisaunya.

"aakh . . " teriak Hinata kesakitan, saat pisaunya dicabut.

dengan cepat Hinata mendekap tangannya yang tertusuk.

"apa yang kau lakukan bodoh." Bentak Hinata dengan air mata yang membasahi wajahnya.

sementara Naruto hanya diam terpaku menatap Hinata. lalu segera menatap kearah dada kirinya yang juga terluka dan mengeluarkan banyak darah. dan seolah tak dirasa Naruto lalu melepas bajunya dan meraih tangan Hinata. lalu membalut luka Hinata dengan bajunya.

"maaf, maafkan aku, maaf , maaf ,kumohon aku" ucap Naruto sendu dengan air mata mulai menetes.

sementara Hinata yang masih merintih kesakitan mencoba melihat Naruto. dan diapun sangat terkejut melihat tubuh Naruto yang dipenuhi darah.

Hinata terbelalak. Naruto, kita harus segera kedokter.

"ayo." ajak Hinata yang mulai mengajak Naruto.

sementara Naruto terus menggeleng.

"jangan menolak lagi." ucap Hinata.

"aku tidak mau ketempat terkutuk itu." teriak Naruto.

"aku tau kau sedih Naruto. tapi kau bisa mati kalau tidak segera diobati." bentak Hinata.

"biarkan aku mati, aku sudah bosan hidup seperti ini. a...aku ingin bertemu dengan ib. . "

"cukup. . " potong Hinata lalu dengan susah payah memapah tubuh Naruto yang lemas karena kehilangan banyak sekali darah.

"kenapa kau selalu mencampuri urusanku hyuuga.?" tanya Naruto lemah.

"sudah jangan banyak bicara dulu." ucap Hinata yang mulai keluar rumah.

"toloong. . . . toloong." teriak Hinata.

"percuma, kau meminta tolong didunia busuk ini.. ." ucap Naruto.

"toloong. . . toloong." teriak Hinata lagi.

"percaya lah, aku pernah mencobanya lebih dari yang kau tau." ucap Naruto.

"toloong. . . toloong

Sementara Hinata yang sudah cukup putus asapun mulai menangis lagi.

"sudah cukup, biarkan aku mati saja Hinata." ucap Naruto yang semakin melemah.

"diam, , aku tidak akan membiarkan itu terjadi." ucap Hinata yang kembali memapah Naruto kearah jalan raya.

dan dengan susah payah Hinata harus menahan tubuh Naruto yang tidak terlalu berotot tapi cukup berisi. tapi tetap saja bagi seorang wanita itu sudah sangat kesusahan apalagi tubuh Hinata lebih kecil dari Naruto.

sekitar 10 menit dan mereka telah sampai dijalan raya.

"kenapa semuanya gelap." ucap Naruto lemah.

"bertahanlah sebentar lagi, kumohon." ucap Hinata yang masih menangis.

dan tubuh Naruto mulah terjatuh. Namun ditahan oleh Hinata. tapi karena tidak mampu menahan tubuh Naruto, tubuh Hinata juga ikut terjatuh.

"toloong. . . toloong hiks hiks bangun Naruto." Ucap Hinata sambil mengguncang tubuh Naruto dan mengelus wajah Naruto.

"kumohon jangan mati. hiks hiks hiks." ucap Hinata.

Lalu beberapa Orang dan pengendara yang melihat Hal itu langsung berhenti dan menolong mereka.

lalu seseorang menghentikan sebuah taxi, dan serentak mengakat tubuh Naruto masuk kedalam taxi dan disusu Hinata.

"pak, ayo cepat pak." panik Hinata.

dan tanpa ba bi bu si sopir Uber ( njeer :v) pun langsung melesat kerumah sakit.

...

...

.
To be continued...

yooo... update nih setelah cukup lama nganggur... pada kangen gak ama author yang ganteng ini muehheheheheheh

buat review...

ini dah apdet dan buat Kesalahan hurup besar, typo dll. itu wajar lah ya namanya juga manusia tak luput dari kesalahan. tapi thanks udah mau ngasih tau ya.

buat kalian para reader, review dong coeg. modal dikit napa XD buat sekedar review kesalahan ane atau pun ngeflame ane very very welcome kok :v :v... buat yang mau ngeflame boleh boleh aja asal pake akun ya... ketchup dari ane... hhhh

okke buat yang udah review fav dan follow ane ucapin thankyu bangeeeet udah mau ngeramei ni fic gaje... akhir kata

wasallam.