Original Story belong to Skylar Otsu
Re-write by Christal Alice
Moonrise (I'm Yours)
Pair :
Wu Yi Fan (Kris) x Huang Zi Tao (Tao)
Fandom :
Ex/EXO, BAP, Beast and other
Genre :
Drama, Romance, Hurt Comfort,Smut scene, Mpreg
Disclaimer :
Judulnya di ambil dari tema lukisan Van Gogh yang berjudul sama
.
©KrisTao©
.
Pengap. Udara di dalam ruangan itu terasa sangat begitu sesak di dada. Udara yang lembab yang bercampur hawa panas yang sama sekali membuat perasaan tidak nyaman. Alat pendingin ruangan yang tampak tergeletak rusak di biarkan begitu saja di sudut ruangan. Terlebih ruangan tersebut memiliki atap yang rendah, membuat suasana di dalam sana semakin jauh dari suasana 'nyaman'.
Sementara itu di tengah-tengah ruangan. Tampak seorang pria dengan helai pirang duduk di sebuah kursi kayu dengan kepala yang tertunduk lemah, sementara matanya di tutup oleh sebuah kain hitam, lalu kedua tangannya di ikat kebelakang, dan masing-masing kakinya terikat erat pada kaki kursi tersebut. Keadaan pria itu sangat kacau, baju kantornya yang lusuh tampak bercak darah di bagian perut, belum lagi bekas memar yang menghiasi rahang dan pipinya.
Nafasnya yang tenang terdengar agak berat namun teratur. Tetesan darah yang semula turun dari ujung kemejanya kini tak lagi keluar dan mengering disana, membuat bekas hitam yang pekat. Tak lama keheningan ruangan itu memudar saat seseorang membuka pintu ruangan tersebut dengan cepat hingga menimbulkan debaman pada dinding yang dingin.
Pria berhelai hitam yang baru masuk tersebut mengangkat kepala pria tampan lain yang terikat di kursi dengan sangat kasar dan sangat memaksa.
"Apa kau tidak di ajarkan sopan santun oleh orang tua mu?" Tanya pria tampan tersebut dengan suara pelan, namun terdengar tajam. Mendengung di ruangan yang hening itu.
"Kau orang keras kepala yang pernah ku temui Kris" ujar pria berambut sarat sarat akan amarah.
Kris—pria berhelai pirang itu tersenyum samar, dan dengan kasar Yongguk menyingkirkan wajah tampan itu dari tangannya. Meski ia tidak dapat melihat bagaimana wajah musuhnya itu saat ini, pria Wu itu sudah cukup di buat tertawa kecil membayangkan betapa kesalnya pria yang sudah menculiknya itu.
"Apa yang kau tertawakan?" Yongguk bertanya sengit.
"Hmpf…tidak ada…"
Pria itu mengepalkan tangannya erat, lalu tanpa ragu meraih tongkat baseball yang tergeletak di dekat sebuah meja kecil di sana, dan...
BUAGH!
Tonglat baseball itu sukses 'mencium' wajah tampan Kris hingga darah keluar dari mulut dan hidungnya. Tak lama kemudian, menyusul rembesan cairan merah pekat dari pinggir keningnya.
"Hanya segini saja yang kau bisa?" Tanya Kris menantang. Meski nyatanya saat ini pandangan matanya mulaI memburam karena pukulan keras tongkat Yongguk.
"Aku bisa saja membununh mu" desisnya berbahaya.
"Lalu kenapa tidak kau bunuh?"
"Jangan memancing ku"
"Kau pikir kau siapa huh? Kau itu pengecut Bang Yong…"
"Diam atau aku akan menghajar mu lagi" hardik Yong Guk menahan emosi.
"Hajar saja kalau kau mau"
"Diam"
"Kenyataannya tidak ada yang bisa kau perbuat lagi, ingat itu…." di tutup dengan seringai kecil di bibirnya. Dan pukulan telak kembali di terimanya di bagian perut.
.
KrisTao
.
"Bagaimana?"
"Belum ada hasil Tuan Kyungsoo"
"Lakukan apa saja untuk melacak keberadaan Tuan Kris!"
"Kyungsoo-ssi!"
Pria mungil itu menoleh cepat ke balik punggungnya, melihat seorang pria yang tampak serius menekuni sebuah layar monitor dan sebuah alat seperti ponsel di tangannya. Kyungsoo pun mendekati pria yang seumuran dengannya itu.
"Ada apa?"
"Alatnya mendeteksi alat pelacak yang ada di dasi Tuan Kris. Coba anda lihat" ujar pemuda itu sambil berdiri mempersilahkan Kyungsoo untuk melihat pada layar monitor.
Pria mungil bermata bulat itu setengah menyipitkan mata saat menatap ke layar monitor tersebut. Menampakkan sebuah lingkaran merah yang berkedip-kedip dan berubah-ubah posisi setiap beberapa detik, dengan latar hitam dan garis abu-abu berbentuk lingkaran yang merangkap-rangkap.
"Apa maksud nya ini?" tanyanya seraya menoleh menatap pemuda yang berdiri di samping kanannya.
"Alat pelacak yang ada di dasi Tuan Kris kemungkinan masih aktif, namun tidak akurat karena kurangnya sinyal GPS"
"Berarti…. Saat ini Tuan Kris berada di ruang bawah tanah?" Kyungsoo menebak dengan kening berkerut samar.
"Bisa saja, berada di ruang berlapis baja juga bisa"
"Apa cahaya merah itu berpindah-pindah keluar lingkaran ini juga?" tanyanya lagi seraya menunjuk sebuah lingkaran merah tipis yang berada di monitor.
"Tidak. Kemungkinan Tuan Kris masih berada di Beijing Tuan"
"Bagus! Kalau begitu aku akan menyelidiki tkp lagi"
"Baik"
"Hubungi aku segera jika ada kemajuan tentang alat itu!"
"Yes sir!"
.
©KrisTao©
.
1 days later...
Hari minggu pagi. Langit tampak lebih cerah di banding hari-hari sebelumnya yang selalu mendung namun tak hujan. Sinar matahari yang keemasan dan terasa hangat di kulit, seolah menunjukkan hal baik hari ini. Pagi yang cerah biasanya akan terjadi hal yang baik pula, setidaknya beberapa orang percaya akan hal itu.
Yah mungkin ada hal baik terjadi pagi ini. Tao—pemuda manis nan cantik yang 2 hari yang lalu harus di rawat inap di Rumah Sakit besar di Beijing, kini di perbolehkan pulang dengan syarat rutin menjalani check up seminggu 2 kali. Dan tentu saja hal itu di sambut hangat oleh Baekhyun-yang entah sejak kapan dekat dengan si Huang-, Bibi Mei, dan Zhoumi yang notabene nya sorang yang sangat mencemaskan Tao selama pemuda manis itu terkulai diatas ranjang Rumah Sakit selama 2 hari.
Namun, bukannya mengganti pakaian yang di kenakannya dengan pakaiannya sendiri, sosok manis itu malah berdiri di dekat jendela menatap langit di atas sana. Seolah pemandangan biru cerah yang mewarnai langit di atas sana lebih menarik untuk di cermati. Sampai akhirnya Zhoumi yang baru saja masuk ke dalam harus menaikkan sebelah alisnya, heran, melihat pemuda manis yang sudah di anggapnya sebagai adik itu.
"Kau tidak ganti baju Zi?" tanya pria itu seraya menutup pintu.
"…."
"Tao?"
"…."
Tetap tidak ada jawaban.
"Hey, kau kena—"
"Aku tidak mau pulang ke rumah yang dimana tidak ada orang yang mengharapkan aku untuk pulang" kata Tao sebelum Zhoumi menyelesaikan kalimatnya. Dan tentu saja masih menatap ke arah langit di atas sana.
"Apa maksud mu? Ada Bibi Mei di rumah kan"
"Kurasa gege tahu siapa yang ku maksud"
"Geez, ya Tuhan Zitao… kenapa selalu dia yang kau pikirkan? Tidakkah kau memikirkan tentang dirimu juga?"
Huang muda itu sama sekali tidak merespon, membuat Zhoumi agak kesal dengan pembicaraan mereka tadi. Ia hanya tidak habis pikir, bagaimana bisa setelah ia sembuh dari sakit, si manis itu malah memikirkan orang lain?
Semilir angin sepoi-sepoi yang berhembus lembut menerpa kulitnya yang pucat, membuat sosok semampai itu memutuskan untuk membalikkan badan hendak meninggalkan jendela. Namun, baru saja ia mengangkat kaki dari pinggir jendela, rasa nyeri yang amat sangat menyerang perutnya dengan tiba-tiba.
"Sakit! Aahh!" kedua bahunya gemetar menahan rasa sakit itu.
Dengan sigap Zhoumi bergerak cepat dan menangkap tubuh Tao yang mendadak limbung setelah menjerit kesakitan.
"Kenapa Zi? Sakit lagi? Di bagian mana?" tanya pria tampan itu khawatir.
"…sakit..ahh…" Tao terus menunduk sambil mencengkram perutnya yang nyeri mendadak.
"Perutmu? Ayo ke ranjang, kau harus istirahat"
Tao semakin menekuk tubuhnya seperti bola, Zhoumi hingga harus membopong tubuh semampai itu dan meletakkannta perlahan ditas ranjang. Tao terus saja meracau dengan sesekali memekik pelan, sementara kedua tangannya meremas perutnya erat, berharap agar dapat meredakan rasa sakitnya.
"Tunggu disini, akan ku panggilkan Dokter" ucap Zhoumi tergesa.
Namun saat pemuda itu hendak melangkahkan kakinya, tangan kanannya di cengkram oleh Tao. pemuda manis itu menggeleng kuat meski saat ini ia tengah berkonsentrasi dengan rasa sakit di perutnya.
"Tapi—"
Brak!
"Tao!"
Suara tinggi Baekhyun dan debaman pintu yang sebelumnya memotong kalimat Zhoumi tanpa ijin. Pemuda cantik itu melangkah lebar-lebar dengan raut wajah yang sulit di tebak, namun tampak sedikit lebih pucat daripada sebelumnya.
"Ada apa? Kenapa kau teriak-teriak?" tanya Zhoumi merasa terganggu.
"Ada kabar, aku tidak tahu ini berita baik atau berita buruk" sengal si cantik bermarga Byun itu.
Tao yang masih berkutat dengan rasa sakit di perutnya itu mau tak mau menatap Baekhyun, menanti kabar yang di bawanya.
"…ada apa?"
"….Kris…"
Kedua mata sayu Tao membulat begitu nama pria Wu itu di sebut, tanda jika ia merespon apa yang di ucapkan Baekhyun.
"Kenapa? Apa yang terjadi? Kris-gege sudah di temukan?" rentetnya sambil bangkit duduk seolah tak lagi merasakan sakit di perutnya.
"Dia…"
"Apa yang terjadi?" Tao mendesak, harap-harap cemas menunggu apa yang akan di katakan Baekhyun setelah ini.
Bukannya menjawab, pemuda cantik itu malah menggaruk helai coklatnya—tampak bingung antara harus mengatakannya atau tidak.
"Ku mohon katakan apa yang terjadi" pinta Tao memelas.
Sejenak Baekhyun menatap sepasang mata Tao yang berwarna kelam, lalu menghela nafas kecil.
"Tapi kau harus tenang. Ok?"
Tao mengangguk cepat.
"Ada apa sebenarnya?"
"…Kris sudah di temukan…."
"Sungguh!?"
"Ya, tapi….."
"Tapi apa? Sesuatu yang buruk terjadi pada Kris-gege?"
"Itu…."
"Apa?"
"Kris memang di temukan, tapi keadaannya jauh dari kata baik-baik saja" kata Baekhyun akhirnya.
Deg!
Seperti tersengat aliran listrik, mendengar hal itu jantungnya sanggup berdetak lebih cepat.
"Apa yang terjadi?" suaranya mendadak kehilangan daya, terdengar begitu pelan.
"Dia….."
"Apa yang terjadi?"
"…Kris di temukan sekarat, dan saat ini dia dalam kondisi kritis. Dia kehilangan banyak darah…"
Kedua mata Tao membola seketika, mendadak rasa sakit yang sempat di abaikannya kembali muncul dan menghentakkannya dalam sebuah rasa sakit yang tak terkira.
"TAO!" panggil Zhoumi takut saat tubuh semampai itu tanpa aba limbung ke depan.
Baekhyun yang berada paling dekat pun dengan sigap menangkap tubuh ringkih itu, sementara Zhoumi melesat keluar kamar rawat untuk memanggil Dokter.
.
©KrisTao©
.
Waktu di sekitarnya seolah berhenti berjalan saat secara mendadak tubuhnya dapat kembali di gerakkan dengan normal seperti biasa. Padahal beberapa menit sebelumnya, jangankan bergerakkan seluruh tubuhnya, untuk menggerakkan satu-dua jarinya saja sulit, atau bahkan sama sekali tidak bergerak meski hanya sekejab.
Pria berhelai pirang itu mengangkat tangannya perlahan dan menatap telapak tangannya, lalu di gerak-gerakkannya seperti orang yang baru saja sadar dari koma. Pria tampan itu sadar jika ada yang aneh, dan ia mengetahui keanehan itu saat melihat baju yang di kenakannya.
Sosoknya tampak bersinar berbalut pakian serba putih. Keningnya berkerut sama, tapi meski begitu ia tidak mempermasalahkannya. Tidak terlalu aneh, setidaknya ia masih memakai baju.
Pria itu melihat ke sekitar. Hanya putih. Membuatnya kembali bertanya-tanya, berada dimana ia sekarang. Namun saat ia hendak menggerakkan kakinya, organ tubuhnya tersebut sama sekali tidak bergerak seinci pun. Dan hal itu membuatnya sangat bingung. Apa yang terjadi padanya saat ini? Ia hanya tidak habis pikir.
"Daddy~~!"
Bruk!
Sebuah benturan kecil di tujukan pada kaki panjangnya, membuat pria itu menunduk cepat untuk melihat dalang dari penubrukan kakinya tersebut.
Seorang bocah laki-laki berhelai gelap layaknya burung gagak memeluk kakinya dengan tersenyum manis padanya. Dan seketika muncul sebuah tanda besar di kepalanya.
Kenapa bocah itu memanggilnya daddy? Anak siapa dia? Dan… yang paling penting, ia merasa pernah melihat wajah itu. Entah dimana.
"Kenapa daddy tidak pulang?" tanya bocah manis itu dengan mata membulat lucu.
Kris mengangkat sebelah alisnya.
Apa dia bilang? Daddy? Aku?
"Daddy jahat" bocah itu menggembungkan pipinya lucu.
Namun saat pria itu hendak mengucapkan sesuatu, lagi-lagi mulutnya seakan terkunci rapat. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa ia mendadak menjadi patung hidup seperti ini?
"Daddy harus pulang, karena sekarang aku yang akan pergi"
Kemana? Lagipula kenapa kau memanggil ku daddy?. Tanya Kris kebingungan dalam hati
Bocah itu tersenyum manis, seolah dapat mendengar suara hatinya yang sejak tadi bertanya-tanya. Bocah itupun melepaskan pelukannya dan balas menatapnya dengan sepasang mata bulat berwarna kelabu yang indah.
"Daddy harus ingat! Nama ku Zifan! Z.I.F.A.N! Ingat itu!"
Memangnya siapa kau? Kenapa aku harus mengingatmu?
"Aku akan marah kalau daddy melupakan ku!"
Ya ya ya, terserah kau saja, aku tidak—hey! Tunggu! Kemana anak itu!?
Kris memperhatikan sekelilingnya saat bocah manis yang berumur sekitar 5 tahun itu tiba-tiba lenyap dari hadapannya, seperti asap yang di tiup begitu saja oleh segerombol angin.
.
©KrisTao©
.
Hening. Suasana kamar rawat bernomor 27 tersebut terasa begitu berbeda. Beberapa orang yang berada di dalam saat ini memusatkan perhatian mereka pada sosok pemuda cantik berkulit pucat yang tak sadarkan diri dengan dada yang naik turun dengan teratur meski pelan.
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa nanti pada Tao" ujar Baekhyun, suara seraknya memecah keheningan di kamar itu.
"Yang paling buruk bisa saja ia pingsan setelah mengetahuinya" kata Zhoumi muram.
Baekhyun menghela nafas panjang, dan menyandarkan punggungnya ke pintu di belakangnya. Dengan menyilangkan kedua tangannya di dada, pemuda cantik itu menatap sosok Tao sendu. Bukanlah sesuatu yang aneh jika ia mengkhawatirkan pemuda manis itu. Ia sama sekali tidak pernah menganggap Tao sebagai saingan atau apa pun. Justru sebaliknya, ia menganggap pemuda manis itu sebagai adiknya. Dan rasa sukanya pada Kris, bukanlah rasa suka yang di namakan cinta, namun lebih kepada sayang antar saudara.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" Baekhyun membuka percakapan. Zhoumi menoleh kearahnya.
"Apa?"
"Kenapa kau membenci Kris?"
"Kenapa kau tanyakan itu?"
"Aku hanya penasaran"
"Jawabannya sudah jelas. Aku benci dan sudah tidak ada alasan lagi"
"Kau pasti memiliki alasan kuat 'kan?"
"Untuk apa kau mau tahu urusan orang lain?"
"Siapa tahu aku bisa memberitahu mu hal yang tidak kau tahu"
"Aku tidak ingin tahu dan tidak mau tahu. Okay?"
"Kalau begitu kau tidak akan pernah mengerti akan kebaikan Kris. Kau hanya orang baru disini"
"Memang, tapi aku lebih tahu tentang Tao daripada laki-laki itu"
"Siapa bilang? Waktu yang lama pasti merubah seseorang banyak atau tidaknya"
"Apa kau keberatan kalau aku membenci Kris?"
"Tidak, aku hanya menyayangkan orang yang membencinya"
"Aku tidak peduli"
"Orang sepertinya lebih tepat di jadikan teman daripada di jadikan musuh. Ingat itu"
Zhoumi memutuskan untuk tidak menangapi perkataan Baekhyun. Tak lama setelah saling diam kembali, gagang pintu kamar tersebut bergerak, membuat pemuda cantik itu harus menyingkir dari sana dan membukakan pintu bercat putih itu.
Sosok tampan Yong Jun menyapa pandangan matanya.
"Bagaimana? Ada kemajuan?" tanya si mungil Byun. Yong Jun mengangguk.
"Apa?"
"Kris sudah sadar"
"Oh thanks god!" Baekhyun memekik senang.
"Bagaimana dengan keadaan Tao?" tanya Yong Jun, mengalihkan pandangannya pada pemuda yang terbaring lemah diatas tempat tidur.
"Sepertinya tidak hari ini. kau lihat—"
"Bergerak…" ucap Zhpumi. Baekhyun dan Yong Jun menoleh kompak padanya.
"Apanya yang bergerak?" tanya Baekhyun bingung.
"Tao…. dia sadar! Lihatlah!"
Zhoumi, Baekhyun dan Yong Jun beranjak mendekati ranjang Tao. Benar saja, pemuda manis itu menggerakkan jemari tangannya yang pucat, dan tak lama iapun membuka kelopak matanya perlahan, sangat pelan.
Membuat ketiga orang disana lega sekaligus bingung. Karena nanti pasti pemuda Huang itu akan menannyakan tentang Kris yang di kabarkan telah di temukan. Bagaimana saat menjelaskannya nanti?
.
.
Te
Be
Ce
.
.
Ada yg ga sama? Typo? Atau apa? Mohooooonn maaf xD
Gw stress kebanyakan draf di hp T_T
Sampai jumpa di part berikutnya! :*
Regards, Skylar and Christal
