Ohayou! Konnichiwa! Konbawa!
.
Maaf untuk segala kesalahan di chapter lalu yang luput dari pengamatan saya! Hontou ni gomenasai… (_._)
Makasih untuk semua review, anceman/ngingetin update, concrit yang sangat berguna buat Light, dukungan buat Light, juga alert/fave!Arigatou gozaimasu!^_^
Dozo, Minna-sama!
Disclaimer:
Masashi Kishimoto
Warning:
Alternate Reality, POV changing, out of character-maybe, a little typo(s) and mary-sue. Full of gajeness and garingness.
.
'Italic': bicara dalam hati
Italic: istilah/bahasa asing, flashback
Bold+italic: Naruto/Hinata'sPOV, hanya ada di awal/akhir fic.
.
Have a nice read! ^_~
.
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Berhasil sudah kau buatku penasaran
Atas tingkahmu yang tak wajar
Apa alasanmu?
Apa penyebabnya?
Mengapa kau memilih bersamanya?
Mengapa seorang baik hati sepertimu…
…menyakiti banyak hati yang bahkan tak berbaik sangka padamu?
Di atas semua pertanyaan
Yang penuhi benakku
Satu pertanyaan sesal
Bersuara di sudut hatiku
Mengapa tak sejak dahulu…
…kau menunjukkan dirimu padaku?
.
#~**~#
Believe
.
Chapter 10
.
By: MoonLite Crystal
#~**~#
.
"A-arigatou," ucap Hinata pelan.
"Jaa, Sasuke, Naruto… Kurasa kalian menyakiti Hinata-chan! Bisa tolong lepaskan tangan kalian dari Hinata-chan?" tanya Tobi yang kelewat riang.
Sasuke dan Naruto sama-sama melepaskan cengkeraman mereka—yang sekali lagi—pada Hinata. Dan Tobi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berdecak kagum.
"Waw, Hinata-chan! Pergelangan tanganmu sampai seperti ini! Sakit, tidak?" tanya Tobi yang kini sudah berada di dekat Hinata.
Hinata mengangkat kedua tangannya, ditatapnya kedua tangan miliknya, warna merah dengan biru yang menjurus keunguan melingkari kedua pergelangan tangannya, terlihat kontras dengan warna kulit putih kemerahan berseri miliknya. Gadis itu sepertinya tidak menyadari rasa sakit di tangannya. Entah apa yang dipikirkannya sedaritadi…
Hinata menggeleng singkat. "Ti-tidak sakit, kok…"
"Tidak mungkin yang seperti ini tidak sakit—apalagi pelakunya mereka berdua." Tobi melirik Naruto dan Sasuke di samping Hinata. "Kurasa Zetsu bisa menemanimu mengompres tanganmu dengan es yang ada di lemari es. Oke?" tawar Tobi. Cukup membuat siapapun terkejut karena dia begitu ramah pada Hinata.
'Pasti ada apa-apanya.' Neji mendengus kesal.
Zetsu terkekeh-kekeh. "Aku sih tidak keberatan menemani gadis cantik sepertimu, Hinata-chan! Tapi kau mau tidak? Kami tidak memaksa, lho…"
Setelah berpikir sesaat, Hinata hanya mengangguk. Mungkin dengan alasan ringan ini, ia bisa kabur dari sini. Dari Sasuke dan Naruto… Mungkin, dengan perginya ia, benar kata mereka—tidak akan ada pertengkaran.
Dia adalah penyebab masalah.
Hinata berdiri dengan kepala tertunduk. Ia mengangguk sopan dengan mata tidak berani memandang siapapun. Setelah itu, ia membalikkan badan dan berjalan menuju ke rumah Sasuke diikuti Zetsu. Terlihat keduanya terlibat percakapan kecil. Suasana tetap hening, saat sosok Hinata dan Zetsu menghilang masuk ke dalam rumah.
Tanpa meminta izin, Tobi segera duduk di antara Sasuke dan Naruto—menggantikan posisi Hinata. "Mengapa kalian jadi diam saja? Ayo kita makaaan! Kelihatannya sih makanannya enak!"
"Ngh… Bagaimana Kau bisa makan kalau Kau memakai topeng?" tanya Yamato—seakan menyuarakan pertanyaan yang juga bergema di benak yang lain.
"Sama seperti Kakashi sajaaa~" Tobi mengambil nasi kepal yang paling dekat dengannya, tiba-tiba saja muncul sebuah celah di topeng yang dikenakannya, terbuka dekat dengan dagu. Dan nasi kepal itu segera masuk lewat celah itu. "Itadakimasu!"
Mungkin inilah yang dimaksudkan Tobi sama seperti Kakashi. Ia tetap bisa makan, topengnya tidak perlu dilepas, ia tinggal membuat celah untuk mulutnya. Topeng itu agak terlihat aneh, karena kelihatan elastis dan fleksibel—tidak kaku sama sekali.
"Uhuuuk-hhuuk! Amm… Kurasa masakan Konan jauh lebih baik daripada ini!" kata Tobi, dengan halus bermaksud kalau makanannya tidak enak. "…Tapi lumayanlah untuk orang kelaparan."
Semua mulai bergerak perlahan memakan setiap makanan yang tersaji tanpa ambil pusing dengan rasa makanan yang mereka makan. Dan seperti ada jarak di antara mereka untuk merenggang—antara para pemuda dan gadis-gadis, Tenten yang tidak tahu harus memihak siapa lebih memilih berdiam diri dan duduk dekat dengan gurunya—Gai.
"Eh, eh! Bagaimana kalau kalian semua—bocah-bocah enerjik—nginap di sini malam ini? Banyak kamar kosong yang bisa kalian tempati! Sekalian kalian kumpul-kumpul sama Sasuke… Kan pasti sudah lama tidak 'bermain' bersama! Toh, kalian kan sedang bebas misi oleh Tsunade~" usul Tobi yang tidak peka dengan suasana 'sepi' itu.
"Kurasa itu ide buruk," respon Kakashi cepat.
"Ohooo~ kalau Sensei-Sensei seperti kalian tidak sibuk, ikut saja menginap!" saran orang yang nyaris bisa disebut autis itu.
Gai menggeleng. "Kami ada misi… Kami harus mengecek markas Akatsuki yang sekarang!"
Tobi bertepuk tangan. "Oh, boleh titip sekalian tolong bersihkan markas kami? Huehehehe~"
Tak ada yang menanggapi gurauan garing itu.
"Aku sih mau menginap di sini. Tak apa, kan, Sasuke?" tanya Naruto yang sedang mengunyah makanannya. 'Rasanya tidak lebih buruk daripada makan cacing di negeri Katak.'
"Hn. Tak masalah," jawab Sasuke datar. Diambilnya lagi tomat untuk yang ketiga kalinya—rupanya Sasuke sangat cepat dalam memakan tomat.
Perlahan, satu persatu dari mereka mengangguk setuju. Dan mulai merencanakan hal-hal apa saja yang akan mereka lakukan di rumah Sasuke.
"Selamat bersenang-senang, Anak Muda!" kata Tobi menyemangati. "Kami—orang-orang tua—tidak akan mengganggu kalian, kok!"
Kakashi tersenyum getir di balik maskernya. Melihat segala yang baru saja terjadi, berat rasanya melepaskan anak-anak muda itu untuk bersama-sama tanpa pengawasan dari mereka. Semoga saja tidak ada lagi pertengkaran…
…Kakashi hanya bisa percaya, persahabatan di antara murid-muridnya jauh lebih kuat dan kental—tidak akan semudah itu terpecah oleh permasalahan seperti ini.
.
#~**~#
.
Hinata menghembuskan napas panjang dan lega. Bukan karena tangannya yang kini terendam air es mengusir rasa nyut-nyutan yang menyelimuti tangannya, bukan… Melainkan karena ia terbebas dari tempat itu. Ya… Kebun Sasuke. Bukan kebunnya yang menakutkan, tapi apa yang baru saja terjadi di kebun itu.
"Ze-Zetsu-s-san, a-ar-rigatou," ucap Hinata terbata karena gugup.
Kebiasaan yang belum terpatahkan, mengingat Hinata tidak begitu pandai berinteraksi dengan orang yang bisa dibilang asing untuknya.
Zetsu tertawa dibuatnya. "Ya ampun, Hinata-chaaan~ aku tidak akan memakanmu, kok! Tidak usah takut begitu padaku! Bisa-bisa aku dibakar Sasuke nanti!"
Hinata hanya mengangguk cepat. Dibiarkannya jari-jarinya bermain dengan air hingga menimbulkan percikan-percikan kecil air es dalam baskom plastik bening.
"Ne, Hinata-chan… Apa Kau tidak takut kalau kami akan mengkhianatimu?" tanya Zetsu mencari bahan obrolan. "Maksudku, kalau Akatsuki sebenarnya tidak pernah berniat damai… Dan akhirnya suatu hari mengkhianati perjanjian ini."
"U-untuk apa t-takut? Aku mencoba percaya pada A-Akatsuki… Kalau nanti kalian mengacau la-lagipun, aku tahu… Pasti a-akan ada se-seorang yang 'mengurus' kalian," jawab Hinata, seulas senyum mulai mengembang di wajahnya.
Zetsu mendengus tertawa. "Kau pasti salah satu penggemar si Bocah Kyuubi itu, ya?"
Hinata menggeleng pelan. "Aku… Bukan penggemar, tapi pengagum. Ya… Pe-perasaan kagum i-itu lama-k-kelamaan berubah."
Zetsu melipat kedua tangannya di depan dada. "Kalau melihat orangnya yang sekarang keren sih, aku tidak he—"
"Tidak seperti itu," potong Hinata. "Aku mengaguminya tidak dari sekarang. Tapi dari dulu sampai sekarang. Ya, kurasa tidak bisa dibilang kagum lagi…" Hinata mulai merasa santai dengan obrolan ringan tersebut. Walaupun hati kecilnya sebenarnya enggan berbicara tentang dia lagi. "A-ano, ma-maaf ka-karena banyak bicara…" kata Hinata panik, mengingat ia sudah memotong perkataan Zetsu sebelum dia selesai bicara—jika ada Hiashi di sini, tentu ia akan dimarahi karena sudah berlaku tak sopan.
Zetsu terkekeh. "Tak masalah, Hinata-chan."
"Oh, kalau Kau mencintainya, kenapa malah menerima Sasuke?" Zetsu kembali bertanya karena suasana hening yang canggung tak disukainya.
Sekali lagi dibiarkannya ia memandang bisu pada baskom berisi air es di mana tangannya terendam. Tidak dirasakannya tatapan menyelidik Zetsu di hadapannya.
"Eh, eh! Kau gadis yang diceritakan Konan, bukan? Yang waktu Bocah Kyuubi itu terjepit melawan Pain, Kau datang menolongnya?" Zetsu mengganti pertanyaannya karena melihat wajah Hinata yang semakin muram.
Kesadarannya kembali, kerutan samar muncul di keningnya. "K-Konan? Se-seorang yang Kau sebut tadi… Darimana ia mengetahuinya?"
"Waktu Nagato mengendalikan Pain, Konan ada di sampingnya. Aku sendiri tidak tahu dengan jelas bagaimana kronologisnya hingga Konan sampai mengetahui hal itu… Tapi aku pernah bertemu dengannya—rahasiakan ini dari Madara, ya—dan dia menceritakan tentang seorang gadis, yang dengan bodohnya—karena dia lemah—menolong Naruto… Gadis nekat—menurut Konan, tapi ia ingin bertemu dengan gadis itu… Tidak tahu kenapa…" tutur Zetsu panjang lebar. "Dari ciri-ciri yang disebutkan Konan, kurasa itu adalah Kau!"
Hinata jadi dibuat bingung sendiri, haruskah ia malu karena sudah dipuji? Haruskah ia merasa senang? Tidakkah ia seharusnya kesal dengan sedikit 'pujian' yang selalu ada untuknya?
Tapi Hinata sudah terbiasa dengan 'pujian' tersebut.
Gadis berambut indigo panjang ini lambat-lambat menganggukan kepalanya enggan. Kemuraman makin kental melarutkan ekspresi di wajahnya. Kedua tangannya tidak lagi bermain dengan air, melainkan saling bertautan terendam air.
"Waw, untuk ukuran seorang gadis, Kau itu nekat banget—kalau tak bisa dibilang bodoh!" decak Zetsu senang."Apa Bocah Kyuubi tidak memperingatkanmu soal betapa bahayanya melawan Pain?" tanya Venus Flytrap dua warna tersebut antusias.
Sekali lagi, Hinata hanya bisa mengangguk. "S-sudah… Tapi benar, aku saja yang terlalu bodoh. Setidaknya, aku jadi merasa lega, aku tidak pingsan lagi saat bertemu dengannya."
Zetsu terbengong-bengong. "Kau sampai pingsan-pingsan bertemu dengan Naruto? Kalau Sasuke… Aku tidak heran. Omong-omong, setelah pernyataanmu itu, bagaimana sikap Naruto saat bertemu denganmu?"
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba saja Hinata terkikik geli—menyampingkan rasa mengganjal aneh yang menyusup kembali ke hatinya. "Lucu… Ah, entahlah. Aku berusaha bersikap biasa saja, perhatian sebagai temannya—karena aku tahu dia juga menganggapku teman."
Sekeping memori yang masih basah di benaknya terkenang, saat Naruto menariknya, tatapan mata birunya yang tajam dan lurus, dan berkata… "Tapi Kau mencintaiku, Hinata."
Pandangan sepasang mata ungu muda itu kembali sayu.
Zetsu menepuk kepala Hinata, "Kurasa Kau agak tidak enak membicarakan si Bocah Kyuubi, dan semua masalah ini. Aku tidak begitu tahu apa-apa ,sih…"
Hinata yang merasakan tepukan di kepalanya tersentak agak kaget, sebelum akhirnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Hinata hanya terdiam. Usai Zetsu berkata, suasana hening mengisi dapur… Sampai akhirnya sebuah teriakan memecah keheningan.
"DOOORR! Apa yang sedang kalian bicarakaaan?" tanya pimpinan Akatsuki saat ini.
Hinata baru saja ingin membuka mulut, Zetsu sudah mendahuluinya untuk menjawab. "Kami lagi ngobrol tentang suasana di luar. Ingin tahu suasana di luar setelah kami tinggalkan," bohongnya.
"Oooh… Di luar sudah tenang, aman terkendali!" Tobi menarik sebuah kursi di sebelah Hinata, dan ia mendudukkan diri di samping sang gadis. "Hinata-chan, teman-temanmu ingin menginap di rumah Sasuke! Sasuke tidak keberatan. Tapi sensei-sensei tidak bisa, katanya ingin bersih-bersih markas Akatsuki yang sekarang!"
Raut khawatir sempat terlintas di wajah Hinata. Sebelum akhirnya kemuraman itu semakin terlihat pada Hinata. Tapi gadis itu lekas mengangguk, mengiyakan.
"Oke! Selamat bersenang-senang, Hinata-chan!" Tobi menepuk-nepuk pundak Hinata keras, terlihat kelewat semangat.
Gadis bermata ungu muda itu memaksakan senyumnya, menahan diri untuk tidak meringis karena sedikit merasakan sakit pada pundaknya yang ditepuk kencang-kencang.
Zetsu menyeringai menyadari rencana musuh besar Hokage pertama. Sayang Hinata terlalu polos… Ia tidak akan menyadari rencana 'menghebohkan' ini. Kenapa juga pemilik satu mata sharingan itu selalu membuat masalah di antara kawula muda?
Hiburannya sebagai orang tua? Dasar orang tua berkepribadian anak kecil. Makin tua makin licik.
.
#~**~#
.
Senja telah meraja, siap menjemput malam yang datang menjelang, di kompleks klan Uchiha tepatnya rumah keturunan terakhir Uchiha, terjadi kegaduhan yang meramaikan rumah sunyi yang sempat diwarnai tragedi berdarah.
Memang terlihat seperti anak kecil, namun para remaja itu sibuk menentukan kamar tidur mereka malam nanti. Sasuke sendiri menempati kamarnya yang lama, ia hanya duduk di tengah sofa empuk dan besar berwarna krem. Ditatapnya tanpa ekspresi teman-temannya yang sibuk hilir mudik mencari kamar yang sesuai dengan keinginan mereka, ia sama sekali tidak peduli dengan keributan yang tengah terjadi.
Sasuke tidak duduk sendirian, kakeknya juga duduk di sofa single yang berwarna serupa dengan sofa yang ia duduki, Zetsu sendiri juga tersenyum aneh—mengerikan—di samping sang kakek.
Ah, tak lupa seorang gadis yang memeluk barang-barangnya—satu koper dan satu tas ransel—yang kelihatannya enggan duduk di sampingnya.
"Hinata," panggilnya pelan. "Tak mencari kamar?" tanya Sasuke datar.
Yang ditanya menggeleng kecil. "Na-nanti saja, k-kalau y-yang lain su-sudah dapat kamar…"
"Nanti kehabisan, lho!" celetuk Zetsu.
"Ah, kalau begitu… Zetsu, bawakan barang-barang Hinata ke dalam kamarnya," perintah Tobi seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa.
"Di mana kamarnya?" tanya Zetsu pura-pura tidak tahu. Digerakkannya tangannya untuk mengambil barang-barang Hinata. "Sini, Hinata-chan… Biar kumasukkan ke kamarmu."
Hinata jsutru semakin erat memeluk koper dan tasnya. "A-aku bisa sendiri, Tobi-san, Zetsu-san… D-dimana kamarnya?"
Kalau topengnya dibuka, pasti akan terlihat sebelah alisnya yang terangkat, menyatakan kalau ia heran dengan pertanyaan Zetsu. "Kukira Kau sudah mengetahuinya, Zetsu. Tentu saja Hinata-chan sekamar dengan Sasuke! Jadi, taruh saja barang-barang Hinata di kamar Sasuke," jawabnya dengan nada suara—sok—polos.
Hening seketika.
Perlahan, semua menoleh dengan gerakan kaku terhadap pria yang bisa dibilang sinting itu. Seakan Tobi baru saja mengatakan hal terburuk di dunia yang seharusnya tidak pernah ada.
"Hei, kenapa kalian semua mendadak diam sih? Ada yang salahkah?" Tobi yang baru saja menyadari keheningan aneh itu celingak-celinguk menatap orang-orang satu persatu.
Zetsu hanya mengangkat bahu, diambilnya barang-barang Hinata—tanpa penolakan dari pemiliknya—lalu berjalan membawa koper dan tas milik gadis itu ke kamar Sasuke. Hinata sendiri masih terpaku, seakan tidak menyadari barangnya akan diletakkan di kamar Sasuke.
"Heh, kenapa tidak tunggu Sasuke dan Hinata menikah dulu?" sindir Neji sarkastik.
"Toh mereka akan menikah~ tidak masalah!" Tak ada yang tahu, jawaban itu penuh ketidakpekaan atau memang Tobi balas menyindir Neji. "Hanya tidur satu kamar saja kok~ kan kamar yang lain sudah penuh! Sasuke, Kau keberatan?" tanya Tobi melirik Sasuke.
"Tidak," jawab pemuda beraura emo itu datar.
"Hinata-chan, tak apa-apa, kan, Kau bersama Sasuke? Hitung-hitung untuk kalian saling mendekatkan diri…" Tanya Tobi dengan nada tak terbantahkan.
"Sedekat apa?" tanya Kiba sinis.
"Tidak tahu, tergantung mereka saja, nanti…" Suara berat itu sudah mulai terdengar. Rupanya ia sudah lelah menahan diri menjadi Tobi. Sudah saatnya menjadi Madara.
"Hinata tidur dengan kami saja!" usul Sakura. "Pasti cukup untuk empat orang—Aku, Ino, Tenten, Karin dan Hinata—karena kamar yang kami pilih luas!"
"Setelah semua yang terjadi, apa kalian yakin kalian tidak akan menyakiti Hinata-chan? Kurasa perang dingin akan pecah secara sepihak," tandas Madara—bukan Tobi—tajam.
"Lha, yang menawarkan saja kami!" Ino berkacak pinggang.
"Memang apa sih yang kalian takutkan dari mereka tidur bersama berdua? Tch—oh! Kalian takut keturunan Uchiha tidak jadi punah, ya?" Madara melipat kedua tangannya di depan dada.
Tepat sasaran.
Tiba-tiba saja terdengar langkah kaki yang menapaki tangga, membuat perhatian masing-masing teralihkan, menemukan Naruto yang meninggalkan mereka semua dengan kedua tangan dibenamkan di saku jaket hitam oranyenya, Naruto berpapasan dengan Zetsu yang baru saja menuruni tangga.
"Heh, Bocah Kyuubi! Kau mau kemana?" tanya Zetsu santai. Ditepuknya bahu Naruto.
Tanpa berbalik kembali atau menghentikan langkahnya, dengan datar Naruto menjawab. "Aku capek… Ingin tidur."
Berbagai macam tatapan dengan ragam ekspresi mengiringi langkah pemuda berkulit tan ini yang sama sekali tidak membalikkan badannya. Bahkan hening sama sekali tidak terpecahkan walau Naruto sudah hilang dari pandangan mereka semua.
"Haaah~ payah! Masa Naruto tidak ingin berkumpul dengan kita dulu?" sungut Sakura. "Sasuke-kun sudah ada di depan mata, dianya yang malah pergi!"
"Tidak."
Suara yang datar namun tak lagi terdengar dingin menjawab, Sakura memandang seseorang yang bersuara tadi. "Apanya yang 'tidak', Sasuke-kun?"
"Dia tidak pergi karena aku. Kurasa dia menghindari seseorang di antara kita," jawab Sasuke yang bangkit dari duduknya. "Hinata-chan, ikut aku sebentar."
Hinata mengangguk kecil, kepalanya tidak lagi tertunduk. Gadis itu berdiri, hanya berdiri. Mungkin ia tidak akan berjalan, kalau Sasuke tidak menggamit tangannya dan menarik sang gadis untuk berjalan mengikutinya. Semua orang yang mereka lewati tidak mampu berkata-kata saat keduanya melewati mereka. Rasanya cukup aneh melihat Hinata yang menatap lurus—tapi sama sekali tidak balas menatap mereka—ke depan.
Sasuke dan Hinata menaiki tangga, dan hilang dari pandangan mereka, pergi diiringi dengan kebisuan dan tatapan mengganjal dari yang lainnya.
.
#~**~#
.
Sasuke melepaskan genggamannya pada Hinata saat mereka berdua sudah meninggalkan yang lain. Keduanya berjalan pelan melewati kamar-kamar yang terbuka, tidak perlu mengintippun, terlihat barang teman-teman mereka di menumpuk di masing-masing kamar yang teman-teman mereka tempati. Ada yang ditumpuk dan ditata rapih oleh pemiliknya, ada juga yang dibiarkan berserakan—membuat kamar yang ditempati terlihat seperti kapal pecah.
Namun, ada satu pintu kamar yang tertutup, kamar yang berada di hadapan kamar Sasuke. Pemuda yang memiliki gaya rambut yang cukup aneh tersebut menghentikan langkahnya, sekilas terlihat ia menatap pintu kamar yang pasti ditempati Naruto, bukan apa-apa… Ia hanya teringat kalau kamar itu dulu adalah kamar yang ditempati kakaknya.
"D-doushite, Sa-sasuke-kun?" Hinata ikut menghentikan langkahnya. Pada awalnya ia menatap Sasuke, dan akhirnya mengikuti arah pandang Sasuke.
"Kita masuk ke dalam kamar saja. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Sasuke pelan dengan ekspresi tidak terbaca.
Hinata menghembuskan napas panjang, diseretnya kakinya untuk mengikuti Sasuke menuju kamar pemuda itu. Dan Hinata memasuki kamar Sasuke, terlihat pandangannya sedikit kagum memandang sekeliling kamar Sasuke yang walaupun gelap, ia masih bisa memerhatikannya secara seksama. Sasuke masih berada dekat dengan pintu, mencari saklar lampu, ditekannya salah satu tombol itu, hingga lampu yang menggantung di langit-langit kamar berwarna putih itu menyala. Memberi penerangan yang cukup memadai menerangkan kamar itu.
Untuk kamar seorang remaja laki-laki, kamarnya tergolong rapi dan bersih. Kamarnya terlihat cukup luas, menghadap ke arah timur—sesuai dengan rumahnya yang pula menghadap ke timur, berwarna putih polos, kecuali perabotannya. Perabotannya didominasi warna coklat kayu, tak ada barang berserakan di kamar itu. Di masing-masing samping ranjang, terdapat meja buffet kecil, ada lampu kecil yang sepertinya lampu untuk membaca, dan di samping lampu yang tidak menyala itu, juga… Foto tim tujuh, tiga tahun silam. Hinata berjalan mendekati foto itu, kedua ujung bibirnya sedikit terangkat.
Tidak perlu bertanya, Hinata mengerti kalau perasaan sayang itu selalu tersisa di hati Sasuke. Pemuda yang selalu terkesan dingin seakan tak berperasaan itu mempunyai setitik rasa sayang pada tim tujuh, tempatnya dulu memiliki keluarga setelah ia kehilangan keluarganya. Bukankah siapapun bisa menjadi keluarga kita? Tak peduli tak ada ikatan darah.
Mungkin, dan Hinata berharap, rasa sayang itu akan berkembang pada diri Sasuke untuk semua orang yang mengasihi, menyayangi dan peduli padanya.
Sasuke berjalan mendekati ranjang dari sisi berlawanan dengan Hinata, mengambil katananya dan shurikennya yang besar. Membawanya, dan menyimpannya dalam lemarinya yang berada di samping meja buffet kecil. Setelah selesai, pemuda yang digandrungi banyak wanita dari tingkatan umur berapapun dan dari kalangan manapun ini, berjalan menuju sofa.
Sasuke merebahkan dirinya di atas sofa berwarna hitam yang empuk. Dua sofa single mengapit tiga sofa yang menyambung menjadi satu. Kepalanya ia sandarkan di bantal empuk sofa di salah satu sisi. Ia tiduran menghadap ke arah ranjangnya sendiri. Kedua tangannya terlipat di atas kepala. Kedua kakinya ia luruskan, membuat sofa itu nyaris dipenuhi oleh sang pemuda.
"Hinata," panggil Sasuke.
Hinata menoleh padanya, gadis itu tetap saja berdiri tanpa memutuskan untuk duduk.
"Duduk saja di tempat tidur," kata Sasuke datar.
Hinata pun berjalan sedikit ke arah depan. Dan akhirnya mendudukkan diri di ranjang dengan bed cover dan bantal berwarna putih, kedua tangannya saling bertaut di genggamannya. "A-apa yang ingin Sasuke-kun b-bicarakan?"
"Untuk malam ini saja, Kau tidur satu kamar denganku. Karena kamar yang lain sudah terisi semua. Kalau mereka pulang, Kau bebas memilih kamar yang ingin Kau tempati," tutur Sasuke, tangan kanannya meraba meja di sampingnya, ada keranjang berisi tomat, diraihnya tomat untuk ia makan.
Hinata mengangguk, entah sudah berapa kali dalam sehari ini ia mengangguk. Ia memang tidak biasa berbicara banyak.
"Kau saja yang tidur di kasur," ucap Sasuke lagi setelah menelan gigitan pertamanya pada buah tomat.
"D-dimana Sasuke-kun a-akan tidur?" Hinata memandang sekeliling kamar yang malam ini akan ditiduri olehnya.
"Bukan urusanmu," jawab Sasuke pendek. "Barangmu simpan saja di tempat yang Kau mau."
Hinata mengangguk lambat-lambat. Gadis bermata ungu muda itu mengambil koper dan tasnya yang bersandar pada meja yang di atasnya ada keranjang tomat—meja yang dekat dengan sofa yang Sasuke tiduri. Lalu membawanya mendekat pada sisi ranjang yang dekat dengan pintu.
Setelah menyandarkan kopernya di atas meja kecil sebelah ranjang, dan menaruh tas ranselnya di atas kopernya, Hinata pun merebahkan diri di atas ranjang. Sasuke tak ambil pusing dengan Hinata yang menyoba membiasakan diri menganggap rumah Sasuke sebagai rumah keduanya.
"Ne, Sasuke-kun…"
"Hn?"
"O-orang yang dihindari Naruto-kun i-itu—"
"Yang kumaksud itu Kau—kalau Kau tidak menyadarinya."
"K-kenapa d-dia menghindariku?"
"Kurasa dia sendiri bingung harus bagaimana bertingkah, baru pertama kulihat ia mati gaya, dan konyolnya itu lenyap hanya di hadapanmu—walaupun sikapnya memang konyol di depan siapa saja."
"Sa-Sasuke-kun pakai s-sharingan yah u-untuk mengetahuinya?"
Pertanyaan polos Hinata membuat Sasuke mendengus menahan tawa. "Tidak perlu pakai sharingan untuk mengetahuinya, Hinata. Untuk hal konyol, kadang ia gampang sekali untuk ditebak."
"O-oh…" Hinata mendudukkan dirinya dan bersandar pada sandaran kepala.
"Kau sadar tidak, Hinata…"
"Apa yang perlu kusadari?"
"Kalau di depan setiap gadis, Utsuratonkachi selalu tebar pesona kekonyolannya? Hingga membuat banyak gadis terkesan padanya?"
Hinata tak bisa menahan kikikkan geli meluncur dari bibirnya. "A-aku tidak t-tahu kalau sikap konyol itu b-bisa ditebarpesonakan… T-tapi kalau so-soal disukai ba-banyak gadis, aku tidak heran…"
"Itulah kenyataannya. Kau sudah menyukainya dari dulu—saat dia dikenal sebagai monster Konoha, yang ingin kutahu… Bagaimana Kau bisa menyukainya?" tanya Sasuke sambil memutar-mutar buah tomat di genggamannya.
Terdengar tawa kecil dari Hinata.
"Sejak kecil… Dulu aku selalu melihatnya—"
"—yang membuat kekacauan—" sela Sasuke.
"—juga selalu berani mengungkapkan keinginannya untuk menjadi seseorang yang hebat—"
"—serta tidak meninggalkan kekonyolannya—"
"—dan itulah awal mula aku terkesan padanya," kata Hinata, menyelesaikan kalimat yang saling memotong antara dirinya dan Sasuke.
"… Tapi pengasuhku tidak memperbolehkanku tahu apapun tentangnya. Setelah mendengar gunjingan warga desa, aku tahu namanya… Aku tidak bisa berdekatan dengannya, ataupun mendekatinya. Karena Pengasuhku selalu menjagaku." Hinata menerawang menatap langit-langit kamar. "Dulu saat tidak ada Pengasuhku yang menjagaku, aku selalu saja membuat kesalahan… Dan selalu saja sial, karena membuat kesalahan pada orang-orang yang menyeramkan saat itu…."
"Berhenti sebentar. Dan yang selalu menyelamatkanmu itu pasti dia. Ya, kan?" tanya Sasuke memastikan.
Hinata kembali tertawa kecil. "Iya," jawabnya membenarkan sambil mengangguk. "Dia selalu menyelamatkanku dan berantem dengan orang-orang itu, karena mereka selalu menertawakannya, lalu pengasuhku datang, mereka selalu pergi kabur… Aku ingin mendekatinya, tapi dia pingsan, dan pengasuhku… Tidak memperbolehkanku berterimakasih padanya."
"Di Akademi? Kenapa tidak pernah mencoba bicara dengannya?" tanya Sasuke lagi.
"Dia terlalu terkenal… Dan err—susah untuk mendekatinya. Tapi aku pernah mencoba untuk berbicara padanya—menyampaikan rasa terima kasihku, sayangnya ia melewatiku begitu saja, mungkin juga tidak pernah melihatku…" Jawab Hinata dengan nada sedikit kecewa.
"Sampai sekarang juga masih belum mengatakannya? Ya, tidak heran, sih. Ingatannya kan parah," kata Sasuke sedikit sinis.
"Aku berusaha membalas setiap pertolongannya dulu semampuku, misalnya seperti pada misi-misi di mana aku satu tim dengannya. Ya… Bisa dibilang sebagai membalas budinya. Dan aku sudah mengatakannya, Sasuke-kun. Secara tidak langsung…" Hinata membiarkan senyum misterius menggelantung di bibirnya.
"Pasti saat orang itu terjepit bahaya, kan?" tanya Sasuke memastikan.
"Ya, tapi tidak apa… Karena aku tak takut mati untuk melindunginya," jawab Hinata halus.
"Kisah yang klasik," komentar Sasuke.
"Karena aku yang mengalami, aku jadi sangat menyukainya… Menyukai kisah klasikku," jawab Hinata dengan tawa kecil yang senang.
Tiba-tiba saja pemuda itu mendudukkan diri dengan seringai bermain di bibirnya. "Hinata, kemari sebentar."
"Ha?"
"Sebentar…"
.
#~**~#
.
"Aaarrghh! Lama-lama aku bisa gilaaa kalau diam begini sajaaa!"
"Kami kira kau sudah tidur, Naruto…" Kata Shino datar yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Para pemuda itu memutuskan untuk berkumpul di salah satu kamar dulu, dan mereka memutuskan kamar ini yang paling tepat. Namun, saat mereka memasuki kamar, mereka tidak menemukan Naruto yang tidur dengan pose tidak elitnya. Melainkan Naruto yang bertampang kusut sambil mengacak-acak rambutnya sendiri serta guling-guling di tempat tidur king size itu.
"Oh, tidak… Naruto… Kau tidak boleh jadi gila!" kata Lee shock dan berlari menghampiri Naruto.
"Ternyata tahap perkembangan setelah bodoh adalah gila, ya…" Sai tersenyum-senyum aneh sambil mencatat sesuatu di bukunya.
"Aaargh! Aku tidak akan bodoh dan tidak mau jadi gilaaa!" seru Naruto kesal. "Lee! Kiba! Akamaru! Lepaskan akuuu!"
Terjadi pergulatan antara ketiga pemuda satu anjing tersebut di atas kasur. Lee dan Kiba yang berusaha menenangkan Naruto yang brutal dibantu Akamaru.
"O-oi! Apa Naruto sedang sakit?" tanya Kiba setengah berteriak.
"Mungkin, kesurupan barangkali," jawab Sai asal.
"Ada yang bisa mengecek apakah segel Kyuubi terbuka atau tidak?" tanya Chouji sambil menoleh kanan-kiri.
Shino mengangkat bahu dan menggeleng kecil.
Shikamaru menghembuskan napas dengan ekspresi lelah, dilangkahkan kakinya ke sofa terdekat, dan mendudukkan diri di sana. "Segelnya tidak mungkin terbuka… Mendokusei."
"Naruto, apa yang membuatmu jadi kelihatan berantakan seperti ini?" tanya Neji tenang. Ditutupnya pintu kamar dari dalam.
"Seharusnya Kau tidak perlu bertanya, Neji. Tentu saja sama denganmu!" jawab Naruto ketus sambil menepis Lee dan Kiba, lalu segera berguling turun dari tempat tidur.
"Sudah kuduga," kata Neji. "Kau mau kemana?" tanyanya saat Naruto menggesernya ke samping dan membuka pintu kamar.
Naruto menoleh dengan wajah menyeramkan. "Melakukan misi rahasia—ttebayo."
"Hah?" seluruh pemuda yang ada di kamar itu saling berpandangan. Mereka memutuskan membuntuti Naruto.
Naruto tidak banyak melangkah, para remaja lelaki itu terbengong-bengong memperhatikan Naruto yang berjongkok dan menempelkan telinganya di celah daun pintu pada kamar yang berseberangan dengan kamar mereka.
Atau tepatnya, di kamar Sasuke dan Hinata.
"Hei, apa yang Kau lakukan?" tanya Lee heran.
Naruto hanya menaruh telunjuk kanannya di bibir, lalu menggerakkan ibu jarinya ke arah pintu. Dan semua mengangguk paham, perlahan satu persatu mulai menyesuaikan diri untuk ikut menguping kecuali Chouji dan Shikamaru. Keduanya hanya berdiri dan menonton teman-teman mereka yang sedang melaksanakan 'misi rahasia' tak bertema.
Terdengar percakapan dari dalam kamar, dan mereka semakin menempelkan telinga rapat-rapat pada celah di antara daun pintu dan bingkainya.
"Kisah yang klasik." Mereka mendengar Sasuke berkata.
"Karena aku yang mengalami, aku jadi sangat menyukainya… Menyukai kisah klasikku." Sekarang wajah mereka berubah horror karena mendengar tawa menyenangkan Hinata.
"Aisshh… Apa sih yang mereka bicarakan?" geram Naruto kesal.
"Kedengarannya itu lucu dan sangat menyenangkan," tambah Neji dingin.
"Oh, ini terlihat semakin bodoh…" Shikamaru menghela napas. "Kalau ketahuan bisa berbahaya, oi…"
"Eh, ngomong-ngomong, mereka bicara sejauh apa, ya?" tanya Kiba sambil mendongak.
"Maksudnya sejauh apa? Jarak sedekat apa mereka bicara? Begitu?" tanya Lee memastikan, dan Kiba mengangguk.
"Hinata, kemari sebentar."
"Ha?"
"Sebentar…"
"Dengan percakapan seperti itu sih, kurasa mereka akan semakin dekat…" Kata Sai dengan nada menggoda entah pada siapa.
"Kurasa ada yang tidak beres," gumam Neji. "Kita harus melakukan sesuatu!"
Perlahan dan kaku, semua menoleh dengan wajah datar pada Neji yang kelihatan ingin marah-marah.
"Neji, kenapa tidak Kau gunakan byakyugan saja sih?" tanya Naruto sweatdrop.
"Akhirnya kau pintar juga," puji Neji pada Naruto. "Byakyuugan!"
"Cih, Kau saja yang tidak bertanya padaku," gerutu Naruto kesal.
"Tidak… Hinata… Jangan mendekat padanya." Mendadak Neji mendesis tidak karuan.
"He-hei! Katakan pada kami apa yang Kau lihat!" pinta Kiba mendekati Neji. Semua juga memandang Neji antusias.
"Hinata berdiri dari ranjang… Mendekati Sasuke yang duduk di sofa… Dan… Hinata duduk di sofa dekat Sasuke! Jarak mereka semakin dekat!" jelas Neji.
"Naruto, kita dobrak saja pintunya, ya?" tanya Kiba memandang Naruto serius.
"Tunggu dulu, biasanya kamar Sasuke dipasang hal-hal aneh… Jadi, kita lanjut di sini dulu saja!" jawab Naruto berusaha tenang. Pemuda berambut pirang itu berdiri, dan kembali ditempelkannya telinganya di pintu.
Neji me-non-aktifkan byakyuugan-nya. Lalu mengikuti jejak Naruto. Sementara yang lain saling berpandangan bingung, tidak tahu harus melakukan apa.
Tiba-tiba saja…
BRAAAK!
GEDUBRAAAK!
"Auuuhh! Gigiku sakiiiitt!" raung Kiba. "Lee! Singkirkan kepalan tanganmu dari gigiku!"
"T-tidak bisa! Neji menibanku, Kiba!" kata Lee memelas.
"Nyaris saja tintaku tumpah," kata Sai yang berhasil menjauh dengan lega.
"Wooof! Woooff!"
"Akamaru, maaf aku menginjak ekormu. Tapi singkirkan dulu kakimu dari kacamataku, aku tidak bisa melihat," kata Shino sambil berusaha mengangkat kaki depan Akamaru dari kacamatanya.
"Nejiii! Banguuun!" seru Kiba.
"Ada apa ini? Hei… Kenapa kalian tiduran di lantai?" tanya Tenten yang karena suara gaduh dan berisik, keluar dari kamar.
"Kalian mau latihan akrobat, ya?" Kamar di depan kamar para perempuan terbuka, Suigetsu menggeleng-gelengkan kepalanya melihat apa yang terjadi.
"Terjadi sedikit kecelakaan," jawab Shikamaru sambil menguap malas.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Rupanya, tadi… Pintu kamar Sasuke terbuka dengan kencang, Naruto yang berada tepat menempel pada pintu terdorong mundur tanpa bisa menahannya, menabrak teman-temannya yang lain dan jatuh menghantam lantai.
"Aaarrgghh... Pipiku sakiiit…" Naruto mengeluh kencang-kencang sambil mengusap-usap pipi kanannya yang memerah.
"Naruto, cepat menyingkir dariku!" ketus Neji.
Naruto mengangguk, lalu beringsut ke depan, menjauh dari Neji dan terduduk di lantai beralaskan kayu. Masih sambil mengusap-usap pipi kanannya dan telinga. Lalu menemukan seseorang pelaku pembuka pintu berdiri di hadapannya dengan wajah… Yang tak bisa ditebak, sama seperti wajahnya sekarang.
"A-a-aah… H-ho-hontou ni go-gome-me-menasai!" pekik sang gadis yang langsung jatuh terduduk di hadapannya.
Terdengar seseorang yang berusaha menahan tawa dari dalam kamar, Naruto langsung mengetahui kalau ia kepergok menguping oleh sahabatnya itu.
'Semoga dia keselek tomat dan lupa indahnya dunia!' maki Naruto dalam hati.
"Ada apa sih sebenarnya?" tanya Sakura heran.
"Itu… Tadi aahhmm—teman-teman kan kurang kerjaan, jadi mereka menempel di pintu kamar Sasuke. Lalu Hinata membuka pintu, dan mereka jatuh seperti ini," jawab Chouji berusaha terdengar supaya tidak lagi timbul masalah.
"Huahahaha! Kenapa juga kalian kurang kerjaan?" Ino tertawa kencang diikuti gelak tawa gadis yang lain kecuali Hinata yang menunduk takut.
"Hinata, kenapa kau membuka pintu kencang-kencang seperti itu? Bukan kebiasaanmu…" Tanya Neji heran.
"G-g-gomenasai… I-itu permintaa-a-an Sasuke-kun…" Jawab gadis itu lemah. Dilihatnya wajah seseorang di hadapannya. Hinata meringis pelan, matanya berkilau akan rasa takut dan bersalah. "C-chotto matte yo! Sa-sasuke-kun, a-aku pergi dulu mengambil barang yang kau minta!"
"Hn," Sasuke mengangguk dari dalam kamar. "Urusi saja korbanmu dulu. Sekalian tolong ambilkan minum untukku, Hinata-chan."
Hinata segera berdiri dan berlari diiringi pandangan heran dari semua orang, semua masih tetap terbengong-bengong walaupun sosok Hinata sudah menghilang. Tak lama gadis itu kembali dengan baskom berisi air es, dan langsung saja ia jatuh terduduk di tempatnya tadi.
Sasuke sudah mengira kalau Hinata akan melupakan titipannya. Tak masalah, toh dirinya sudah memperkirakannya.
Hinata sempat menepuk keningnya. "Aku lupa ambil lap di ba—oh!" Hinata merogoh kantung jaketnya, ditemukannya sapu tangannya yang tadi digunakan untuk mengelap Naruto. Direndamnya sapu tangan tersebut dalam air es, lalu diperasnya dan ia lipat dengan rapih, setelah itu diulurkannya pada Naruto.
"Heee? Ini untuk apa?" tanya Naruto yang memiringkan kepalanya tidak mengerti.
Hinata terlalu panik memikirkan sesuatu untuk menjawab, tangan kirinya keburu terulur menempelkan sapu tangan itu ke pipi Naruto, tanpa Naruto sempat mencegahnya.
"U-uukhh… Dingiiin! Ittei—ttebayooo!" Naruto segera mengerang saat sapu tangan itu menempel di pipinya.
"Go-me-menasai… Ha-hab-bisnya pipinya t-tadi nyar-r-ris membiru…" Kata Hinata terbata-bata. "Le-lebih ba-baik d-dikompres. Da-daijobou ka, Naruto-kun?"
"Kami juga terluka kalau Kau tidak tahu, Hinata…" Gerutu Kiba dengan wajah cemberut serta nada cemburu dibuat-buat. Seolah setuju dengan majikannya, Akamaru mendengking pelan.
"Kalau sudah menyangkut Naruto, refleksnya mendadak jadi cepat, ya…" Kata Chouji setengah takjub setengah heran.
"Suggoi, Hinata-chan," puji Sai manis.
Naruto menutup mata kirinya, menahan ringisan sakit dan dingin dari pipinya, mata kanannya tetap terbuka mengawasi Hinata yang merawatnya dengan wajah khawatir.
Naruto menghembuskan napas panjang. "Daijobou desu yo, Hinata… Tertabrak pintu bukan masalah besar untukku," jawabnya menenangkan. Dengan canggung, digaruknya kepalanya yang tidak gatal.
"Uhm-hm…" Hinata menggumam lalu mengangguk kaku. Tak lama, ia menoleh ke belakang, dilihatnya Sasuke melempar senyum tipis padanya, senyum yang tak bisa dimengerti oleh gadis tersebut.
"Sebenarnya sih Kau tidak perlu repot-repot seperti ini, Hinata-san…" Celetuk Suigetsu memecah keheningan. "Kurasa Sakura-san atau Ino-san bisa menyembuhkan Naruto lebih cepat."
Sebelum ada seseorang yang merespon perkataan Suigetsu, Sasuke berdiri dari duduknya dan menghampiri Naruto dan Hinata. "Hinata-chan, Kau jadi memasak untuk makan malam?"
Hinata menoleh kembali memandang Sasuke. "I-iya, Sasuke-kun."
"Lebih baik Kau menyiapkannya dari sekarang," kata Sasuke lagi.
Hinata mengangguk, ia menarik sapu tangannya dari pipi Naruto, menaruhnya di dalam baskom kecil berwarna merah itu, lalu berdiri sambil membawa baskom. Semua itu dilakukannya tanpa menatap Naruto sama sekali. Setelah itu gadis berambut indigo panjang itu berjalan meninggalkan mereka semua.
Setelah memastikan Hinata telah menuruni tingkat dua, Sasuke berkata, "Mungkin Sakura atau Ino lebih hebat darinya, tapi biarkan ia bertanggung jawab untuk kesalahannya. Biarkan ia melakukan semampunya, dan lagi… Kurasa efeknya berbeda untuk yang merasakannya."
"Cih, dia membela Hinata lagi…" Seseorang mendengus dalam umpatan kesal.
Naruto segera berdiri, semua dapat melihat senyum tipis melengkung di bibirnya. "Aku lapaaarrr… Ada yang mau ikut aku makan ke dapur, tidak?"
.
#~**~#
To be continued
XXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXXX
.
Udah lama update, gaje pula chapter pembukaan update. Silahkan bunuh saya…*mojok* Hontou ni gomenasai…
Kawan, kalo ada JF, kagak usah pamitan ama empu JF, langsung aja REPORT ABUSE! Oke? Gak usah capek buang flame untuk JF, mending juga kasih concrit untuk yang membutuhkannya atau cari-cari fic yang menghibur lalu diberikan review!
Untuk Kawan-kawan sesama author, kita fokus saja untuk bikin fic yang sesuai ketentuan, menghibur dan juga indah! Jangan mau kalah sama that dam* troll yang udah ngerusak 'RUMAH' (FNI) kita dengan begitu pengecut dan kekanak-kanakkan! Ayo, 'lindes' junkfic mereka dengan fic karya kita! :D
We can't back down, not right now! Let's win this thing! *kaburdikejarDemiLovato.
.
Hehehe, boleh minta review chapter ini dulu sebelum ke chapter berikutnya?
Terima kasih telah menyempatkan membaca! Kritik dan saran yang membangun selalu ditunggu!
.
Sweet smile,
MoonLite Crystal
