Chapter 10 : Something's Strange
"Baiklah, cerita terakhir hari ini datang dari Mr. Park. Hai, Penyiar Byun. Ingat padaku? Oh?" Baekhyun berusaha mengingat-ingat siapa gerangan ini karena pendengarnya yang bermarga Park tidak hanya satu.
"Ini aku, Mr. Park yang terserang love at first sight pada seorang wanita yang sudah memiliki putra. Aah! Hai Mr. Park, akhirnya anda mengirim surat lagi! Hmm, begini ya pendengar Sharry tercinta, bagaimana kalau mengimbuhkan sesuatu atau mengganti nama kalian dengan yang lebih spesifik atau unik? Karena jujur saja, banyak sekali Mr. Park yang mengirim surat hari ini, dan aku tidak bisa membedakan ini cerita Mr. Park yang mana saja. Bagaimana?" Baekhyun memberi jeda sebentar untuk mengambil nafas.
"Dan untuk Mr. Park yang sedang jatuh cinta, selamat datang kembali!" Imbuhnya.
"Aku tidak akan banyak bercerita karena aku hanya ingin mengucapkan terimakasih pada Penyiar Byun yang telah memberiku motivasi untuk mendekatinya. Minggu lalu, aku mengunjungi tempatnya bekerja memang niatnya untuk mengajak makan siang seperti yang kau katakan. Tapi kau tahu, dia yang lebih dulu menawari untuk makan siang bersama bahkan mentraktirku. Aah! Kenapa aku malah mempermalukan diriku sendiri?" Baekhyun tertawa membaca surat dari Mr. Park itu.
"Setelah acara makan siang itu, kami sudah mulai bertukar pesan. Entah ini aku yang terlalu percaya diri atau bagaimana, tapi aku pikir dia meresponku dengan baik, sangat baik malah. Bahkan putranya yang dulu karena sebuah insiden tidak menyenangkan sempat membenciku, kemarin ia tertawa ceria dan memberikan senyumnya padaku. Oh, apakah ini artinya aku punya kesempatan? Penyiar Byun, katakan padaku apa aku punya kesempatan?" Baekhyun memperbaiki letak headsetnya.
.
.
.
"Tentu saja! Semua orang memiliki kesempatan, Mr. Park. Asalkan kau gunakan kesempatan itu dengan sangat baik. Karena jika kau sudah mendapatkan hati anaknya, mungkin itu lebih mudah untukmu mendapatkan perhatian sang ibu?" Terdengar kekehan khas Baekhyun sebelum ia mengakhiri siarannya hari itu.
Chanyeol tersenyum lebar. Untung dia sedang sendirian dalam mobilnya, kalau tidak, mungkin ia akan disangka gila. Ia sedang mengemudikan mobilnya ke rumah Kyungsoo sambil mendengarkan radio, karena adiknya itu memintanya datang untuk makan malam bersama.
Ini sudah hampir seminggu sejak ia bertemu Baekhyun dan Taehyung di mall dan selama itu pula ia semakin sering bertukar pesan dengan Baekhyun. Wanita itu selalu menanggapi pesan-pesannya, bahkan pernah sampai tengah malam saat Baekhyun sedang susah tidur. Tentu saja dengan senang hati Chanyeol akan menemaninya sampai wanita itu tidak lagi membalas pesannya. Keesokan paginya Baekhyun mengirim pesan permintaan maaf karena ketiduran. Manis sekali bukan?
Chanyeol memarkirkan mobilnya di depan rumah Jongin dan Kyungsoo. Baru saja ia membuka pintu mobil, pagar rumah sudah terbuka dan muncul Jimin dari sana.
"Jimin hapal suara mobil Paman!" Teriaknya sambil menghambur ke pelukan Chanyeol. Pria itu menggendong keponakannya lalu menciumi pipi gembul Jimin.
Dari pintu muncul Jongin yang sepertinya sedang mencari Jimin. "Oh, sudah datang?" Ucapnya.
Chanyeol hanya mengangguk lalu menurunkan Jimin yang langsung berlari lagi ke dalam rumah. "Kongres dewan hari ini, aman?" Tanya Chanyeol sambil berjalan ke ruang keluarga.
"Ya, ngga ada yang ricuh membalik meja lagi seperti kongres terakhir kali. Tapi perseteruan gubernur dan anggota dewan masih berjalan." Jawab Jongin.
"Gambarnya dapat?" Tanya Chanyeol lagi dijawab anggukan Jongin. "Di roll?"
"Tentu saja! Aku kan ngga amatiran." Canda Jongin.
"Sebaiknya begitu. Kalau kamu amatiran, jangan harap bisa punya anak ketiga dengan Kyungsoo." Ucap Chanyeol asal.
"Hei!" Seru Jongin tidak terima. Padahal sebenarnya tidak ada hubungannya juga amatir dengan anak ketiga.
"Terus saja membicarakan pekerjaan dan lupakan keberadaan Papa." Ucap seorang pria yang sedang menggendong Jungkook sambil menonton televisi.
"Papa di sini juga?!" Seru Chanyeol.
"Iya! Kenapa? Masalah?" Sahut Tuan Park dengan sewot.
"Sedikit." Gumam Chanyeol yang masih bisa didengar ayahnya.
"Oh, Kakak sudah datang?" Kyungsoo keluar dari dapur masih dengan celemeknya.
"Kyungsoo, lihat kakakmu ngga suka ada Papa di sini. Chanyeol sudah ngga sayang Papa lagi, Nak." Adu Tuan Park dengan manja pada Kyungsoo.
"Paman ngga boleh jahat sama kakek, kan kakek yang dulu beliin mainan buat Paman!" Tegur Jimin sambil berkacak pinggang. Kyungsoo tertawa gemas melihat putranya sedangkan Kakek Park mengangguk-angguk setuju lalu memeletkan lidah pada Chanyeol. Chanyeol memutar bola matanya malas dengan tingkah kenakanan sang ayah.
"Makanan akan siap dalam satu jam, jadi nikmati dulu kebersamaan kalian, pria-priaku." Kyungsoo kembali ke dapur setelah memeluk Chanyeol. Jimin kembali berlarian, Jongin mengekori Kyungsoo ke dapur dan Chanyeol tidak punya pilihan lagi selain duduk bersama ayahnya.
"Lihatlah, matanya sama persis dengan mata Kyungsoo. Aduh, aduh, cucu kakek menguap?" Ucap kekek yang begitu gemas dengan Jungkook. "Chanyeol, lihat keponakanmu imut sekali!" Serunya sambil menepuk-nepuk paha Chanyeol.
Chanyeol hanya menjawab dengan gumaman lalu berpura-pura sibuk menonton televisi. "Hei, aku bicara denganmu!" Kata Tuan Park.
"Iya Pa, Chanyeol dengar." Sahut Chanyeol sambil tetap fokus pada televisi.
"Kenapa sih? Takut Papa tagih cucu?" Tanya Papanya.
Chanyeol menghembuskan nafas besar. "Nah itu tahu sendiri." Sewotnya.
"Makanya cepet diturutin biar Papa ngga nagih terus." Goda sang ayah. Chanyeol melirik sinis lalu kembali menonton televisi sambil memonyongkan bibirnya.
"Psst! Psst!" Tuan Park mulai menggoda Chanyeol lagi.
"Apasih, Pa?" Chanyeol menoleh dengan enggan pada papanya.
"Sudah punya pacar belum?" Tanya Tuan Park sambil menaik turunkan alisnya. Ini yang paling tidak disukai Chanyeol bila bertemu dengan ayahnya, pasti akan ditanyai pacar, kapan dikenalkan padanya, kapan menikah dan sebagainya.
"Lalalalaa~ Jimin kamu sedang apa?" Dengan segera Chanyeol menghampiri Jimin yang entah sedang sibuk apa di kamarnya. Setidaknya lebih baik bermain dengan JImin daripada harus membiarkan kakek dua cucu itu menggodanya.
"Yah, malah kabur. Dasar ngga sopan! Jungkookie, nanti tumbuh besar jangan jadi seperti pamanmu yang nakal itu ya." Kata Tuan Park sambil menoel-noel pipi Jungkook di gendongannya.
.
.
.
Keluarga itu selesai makan dengan tenang. Tidak ada makanan terbuang, karena setiap anggota keluarga menyukai masakan Kyungsoo. Saat ini mereka duduk di ruang keluarga untuk bersantai sekaligus memberi waktu agar makanan mereka tercerna dengan baik.
Kakek Park duduk di single sofa dengan Jimin di pangkuannya. Jungkook yang tumben tidak mengantuk ataupun rewel kini ada di gendongan sang ayah. Jongin, Kyungsoo dan Chanyeol duduk di satu sofa yang sama.
"Kak, pinjam ponselnya." Pinta Kyungsoo pada Chanyeol.
Chanyeol memandang heran Kyungsoo sedangkan Kyungsoo menjulurkan tangannya lebih dekat pada Chanyeol. Tanpa prasangka apapun Chanyeol memberikan ponsel pada adiknya itu.
"Chanyeol, apa kamu sedang dekat dengan seorang wanita?" Tanya Tuan Park tiba-tiba.
Yang diajak bicara kembali memandang ayahnya dengan malas. "Pa, ganti topik kenapa sih!" Protesnya.
"Ngga ada topik lagi, kita di sini berkumpul memang mau membahas ini." Kata Tuan Park.
"Mau membahas ini?" Tanya Chanyeol tidak mengerti. Kyungsoo mengangguk sambil tetap memainkan ponsel Chanyeol.
"Iya, Papa dengar kamu sedang dekat dengan seorang wanita. Bisa jelaskan siapa dia?" Tuan Park memandang putranya dengan semangat.
"Wa..wanita yang mana? Ngga ada!" Seru Chanyeol gelagapan.
Sementara Chanyeol mengatur ekspresinya, Kyungsoo menunjukkan sesuatu dari ponsel Chanyeol pada Jongin dan mereka saling bertukar senyum penuh arti.
"Hmm.. Kalau wanita yang ini, kira-kira siapa ya?" Goda Kyungsoo sambil menunjukkan layar ponsel dengan foto Baekhyun ber-aegyo pada Chanyeol.
Pria tinggi itu membelalakkan mata dan secepat kilat menyambar ponselnya namun gagal, Kyungsoo lebih gesit menjauhkan ponsel itu dari tangan Chanyeol. Dengan lincahnya, Kyungsoo melompat menuju Tuan Park sambil cekikikan. Jongin mengomeli istrinya yang kadang tidak sadar kalau baru saja melahirkan itu.
"Hei! Hei!" Seru Chanyeol.
"Papa! Gimana? Cantik kan?" Kyungsoo menunjukkan foto Baekhyun pada Tuan Park.
"Oh! Inikah? Huwaa, cantik sekali! Siapa namanya? Umurnya?" Tanya Tuan Park antusias.
"Itu.. itu bukan! Kyungsoo! Kembalikan ponselku!" Chanyeol menghampiri Kyungsoo namun wanita itu berlari menjauhinya. Jimin berteriak senang karena ia pikir mama dan pamannya sedang bermain kejar-kejaran, sedangkan Jongin kembali mengomel.
"Namanya Byun Baekhyun, Pa! Seniornya Kyungsoo waktu kuliah dulu!" Jelas Kyungsoo.
"Kyungsoo! Bukan.. Itu.. Aduuh!" Chanyeol mulai salah tingkah, bahkan ujung telinganya sudah memerah. Jongin menarik lengan Kyungsoo yang kebetulan berhenti berlari dan berdiri di sampingnya, untuk duduk kembali.
"Jadi? Sekarang kita punya topik yang harus dibahas di sini." Ucap Tuan Park sambil mengedipkan sebelah matanya pada Kyungsoo.
Chanyeol duduk di sofa lain, bukan sofa yang ia duduki dengan Kyungsoo dan Jongin tadi. Ia menghembuskan nafas besar, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Ia mengetuk-ketuk lututnya dengan telunjuk tangan kanan sedangkan tangan kirinya dipakai menyangga kepalanya.
Suasana hening. Semua anggota keluarga masih setia menunggu namun Chanyeol tak juga bersuara. Chanyeol memalingkan wajahnya dari tatapan penasaran ayah, adik dan adik iparnya. Jimin sih, sudah kabur ke depan televisi.
Chanyeol menggaruk belakang telinganya lalu menyembunyikan sebagian wajahnya dalam telapak tangan kiri.
"Baiklah, aku memang menyukainya." Akunya tanpa memandang orang-orang yang ia ajak bicara. Chanyeol yakin sebentar lagi mereka akan menggodanya habis-habisan.
Namun ternyata tidak ada satu katapun mereka ucapkan. Chanyeol melirik penasaran dengan reaksi keluarganya. Saat ia menoleh, ketiga orang itu memandangnya dengan ekspresi senang, geli, tidak percaya, penasaran dan 'cepat lanjutkan ceritamu'. Chanyeol membasahi bibirnya sambil mengusap punggung tangan kirinya dengan tangan kanan.
"Papa bilang aku sedang dekat dengan wanita, tahu darimana?" Tanya Chanyeol.
Tuan Park menggerakkan dagunya ke arah pasangan Jongin-Kyungsoo. Yang dituju malah senyam senyum manis.
"Jongin menganalisa semuanya lalu memberitahukannya padaku." Wanita itu menoleh pada suaminya dengan senyuman manis. Chanyeol menatapnya tidak mengerti. "Segala sikap ngga wajar Kakak waktu kita ketemu Kak Baekhyun di cafe." Jelas Kyungsoo.
Chanyeol menggaruk tengkuknya salah tingkah. Kemudian Kyungsoo melanjutkan ucapannnya. "Awalnya aku ngga percaya sih. Tapi setelah aku dengar pengakuan Kakak di Sharry, aku jadi percaya."
"Pe..pengakuan?" Kyungsoo mengangguk mantab sambil tersenyum geli melihat ekspresi kakaknya yang seperti maling tertangkap.
"Kakak pikir aku ngga tahu? Mr. Park yang mengajak keponakannya jalan-jalan ke taman, mempunyai karyawan yang bekerja di stasiun televisi dan adik yang bersekolah di tempat yang sama dengan Byun Baekhyun, kamu pikir aku ngga sadar?" Tanya Kyungsoo dengan logatnya yang imut.
"Jadi, apa dia sudah tahu?" Tanya papanya.
Chanyeol memandang ragu ayahnya, lalu menggelengkan kepala. "Sepertinya belum. Ia bahkan mungkin ngga sadar kalau itu aku." Ketiga orang di hadapannya mendesah kecewa.
"Jadi? Kalian sudah berkencan atau apa?" Tanya Jongin sambil menunjuk ponsel di tangan Kyungsoo.
Chanyeol menggeleng kuat. "Itu ceritanya panjang. Kalau bukan karena Jimin juga, aku ngga bakal dapat foto itu." Akunya.
"Wah, putraku memang yang terbaik!" Gumam Jongin.
"Jadi?" Tuan Park mencondongkan tubuhnya ke arah Chanyeol.
"A..apalagi sih Pa?"
"Ceritakan lebih banyak tentang Byun Baekhyun!" Tuntut Tuan Park.
Chanyeol mendesah, papanya sudah seperti polisi saja, hobi menginterogasi. Dan di sini kasusnya Chanyeol sebagai tersangka dan Baekhyun adalah perkaranya.
"Chanyeol pikir Kyungsoo sudah menceritakan semua tentang Baekhyun." Bukannya Chanyeol tidak ingin menjelaskan, tapi ia malu.
"Papa bahkan baru tahu namanya! Sudah cepat ceritakan!" Perintah Tuan Park.
Chanyeol menggigit bibir bawahnya lalu mulai bercerita. "Baekhyun, dia orangnya baik, lembut dan perhatian. Dia wanita yang mandiri juga berwawasan luas."
Tuan Park, Jongin dan Kyungsoo mendengarkan dengan baik. Chanyeol menceritakan semuanya, dari awal pertemuan mereka di taman hingga ke tahap terbaru yaitu mereka sudah saling bertukar pesan. Kyungsoo menutup mulutnya dan berkali-kali memekik 'astaga, manis sekali!'.
Chanyeol mengakhiri ceritanya dengan senyum malu-malu, cocok dengan wajahnya yang sudah semakin merah. Tuan Park tersenyum lebar lalu mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Great! Go get her, Son!" Seru Tuan Park.
Chanyeol mendongak tidak percaya. Ia pikir papanya tidak akan menyukai Baekhyun karena status wanita itu. "Papa ngga masalah.. ehm.. dengan statusnya yang seorang single parent?" Tanya Chanyeol ragu-ragu.
"Kenapa juga Papa harus bermasalah dengan itu?" Jawab Tuan Park. "Jika Byun Baekhyun memang seluar biasa yang kamu ceritakan, berarti wanita itu patut untuk diperjuangkan." Sambungnya sambil menepuk bahu Chanyeol.
Chanyeol tersenyum lega, kisah cinta pertamanya diterima dengan baik oleh keluarganya. Ia menoleh pada Jongin dan Kyungsoo yang juga tersenyum padanya. Pria single berusia 29 tahun itu kemudian mengucapkan terimakasih.
"Oeeeek!" Suara tangis Jungkook menutup adegan haru biru itu.
"Ah, Papa benar-benar ngga sabar ingin menimang anakmu Chanyeol!" Ucap Tuan Park yang disusul dengan tawa Jongsoo couple. Chanyeol sweatdrop seketika.
.
.
.
Malam harinya Chanyeol mendapat kabar kurang baik dari kantor. Rating salah satu program OBM merosot drastis dan itu membuat Chanyeol uring-uringan. Pihak-pihak yang bertanggung jawab atas acara itu pun tak luput dari omelan Chanyeol. Ia agak sedikit tenang saat jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
Chanyeol memijit keningnya. Radiasi ponsel membuat kepalanya yang sudah pusing jadi semakin pusing. Ya, dia memang marah-marah lewat telpon sedari tadi. Secara refleks jarinya bergerak membuka menu pesan lalu membuka percakapan terakhirnya dengan Baekhyun. Ia mengetik sesuatu lalu berhenti sejenak dan menghapusnya kembali. Kalau dipikir-pikir, tidak sopan juga menghubungi seseorang nyaris tengah malam begini. Ia pun kembali bergumul dengan suasana hatinya yang buruk.
Namun setelah merasa moodnya tak juga membaik, Chanyeol memutuskan mengirim pesan pada Baekhyun. Tidak peduli akan dibalas atau tidak, lelaki itu hanya ingin mengirim pesan pada seseorang, dan Baekhyunlah yang terpikirkan olehnya.
To : Byun Baekhyun
Baekhyun, kamu sudah tidur?
Chanyeol memandang pesannya lalu segera menyentuh tombol 'send'. Ia meletakkan ponselnya di meja nakas lalu berbaring dengan mata nyalang di ranjangnya.
'Ting!'
Dengan kecepatan luar biasa, Chanyeol menyambar ponsel pintarnya. Sudut bibirnya terangkat saat mengetahui nama Byun Baekhyun yang tertera di sana, bukan seseorang dari kantor yang mengacaukan malam minggu indahnya.
From : Byun Baekhyun
Belum, Chanyeol. Ada apa?
Pria itu mengetik pesan balasan dengan cepat.
To : Byun Baekhyun
Kamu belum tidur, atau sudah tidur tapi terbangun karena terganggu pesanku? Aku minta maaf. :(
Chanyeol mendapat pesan balasan secepat ia mengirim pesan pada Baekhyun.
From : Byun Baekhyun
Aku benar-benar belum tidur Chanyeol. Santai saja, ada apa? Kamu ngga bisa tidur?
.
To : Byun Baekhyun
Penyiar Byun aku mau tanya. Apa yang biasa kamu lakukan saat suasana hatimu sedang buruk?
.
From : Byun Baekhyun
Hei, ada apa dengan panggilan 'Penyiar Byun' itu? -_- Aku akan memeluk putraku, hihi. Kenapa? Ada sesuatu yang mengganggumu?
Chanyeol tersenyum, tentu saja jawaban Baekhyun pasti tidak akan jauh-jauh dari Taehyung.
To : Byun Baekhyun
Hehe, baiklah Nona Byun. Aku sedang tidak baik, yah begitulah. Enak sekali bisa memeluk Taehyung. Kalau aku, kira-kira apa ya yang bisa kulakukan?
Ia memutar posisi rebahannya menjadi tengkurap.
From : Byun Baekhyun
Ibu Byun saja sekalian. -3- Gimana kalau mid night snack? Taehyung kalau sedang ngga enak hati juga jadi banyak makan, hehe.
Chanyeol terkekeh, baru kali ini ia melihat Baekhyun membalas pesannya disertai emoticon-emoticon. Manis sekali menurutnya.
To : Byun Baekhyun
Aku benar-benar ngga dalam mood ingin makan, Baekhyun. :( Hibur aku please~ Beraegyo mungkin? :P
Pria itu tersenyum iseng. Menggoda Baekhyun memang sudah jadi hobinya akhir-akhir ini.
From : Byun Baekhyun
Ngga akan!
Chanyeol yakin, di sana Baekhyun sedang mengomel sambil tertawa.
To : Byun Baekhyun
Ayolah, aku nangis nih kalau ngga dihibur T.T
Ia tertawa sendiri membaca pesannya. Gengsinya hilang entah kemana jika berhadapan dengan sang pujaan hati.
From : Byun Baekhyun
Astaga, lihat dirimu! Badan sebesar itu tapi masih merengek. Ngga lucu tau! Aku ngga mau hibur! Nona Penyiar Byun mau tidur saja. :p
Meledak sudah tawa Chanyeol. Byun Baekhyun memang yang terbaik! Ia bisa membuat seorang CEO disiplin yang baru saja memarahi karyawannya menjadi pria gila yang suka tertawa sendiri seperti saat ini.
To : Byun Baekhyun
Hahahaa! Aku sudah tertawa nih. :D Besok kamu ada acara ngga? Kyungsoo memintaku mengajakmu ke rumah barunya.
Chanyeol tidak berbohong. Kyungsoo dan Jongin memang memintanya membawa Baekhyun kerumah mereka. Mau mengenal calon kakak ipar lebih dekat katanya. Chanyeol mesam mesem sendiri saat mereka menyebut begitu.
From : Byun Baekhyun
Oh benarkah? Jam berapa? Aduh, tapi aku ada acara di sekolah Taehyung besok. Gimana dong? :(
Chanyeol mencebikkan bibirnya, ia tidak bisa bertemu Baekhyun besok. Huh, lihatlah pria kasmaran ini.
To : Byun Baekhyun
Ngga apa-apa kok. Ngomong-ngomong, acara apa kok di hari Minggu?
.
From : Byun Baekhyun
Pekan olahraga keluarga, jadi aku harus jadi atlet besok. Hihi
Ibaratnya sebuah komik, muncul sebuah lampu di atas kepala Chanyeol. Pria itu merubah posisinya dari tengkurap menjadi duduk bersila.
To : Byun Baekhyun
Aku mau lihat kamu dan Taehyung berolahraga! Boleh aku ikut?
Ia cepat-cepat mengirim pesan itu. Entahlah, setelah mendapat dukungan dari keluarganya, Chanyeol jadi merasa lebih semangat mendekati Baekhyun.
From : Byun Baekhyun
Tentu saja. Mungkin setelahnya kita bisa langsung ke tempat Kyungsoo? Tapi acaranya pagi sekali lho!
Dadanya berdebar saat membaca kata 'kita' dalam pesan Baekhyun. Senyumnya yang lebar kembali merekah.
To : Byun Baekhyun
Oh ide bagus! Jam berapa memang acaranya? Lalu aku harus ke rumahmu jam berapa?
.
From : Byun Baekhyun
Taehyung bilang jam tujuh, kamu ke rumah jam setengah tujuh saja, bisa?
Chanyeol segera mengatur alarmnya di jam 5 pagi. Ia tidak boleh terlambat, atau Baekhyun akan kecewa padanya.
To : Byun Baekhyun
Call! Setengah 7 pagi aku sampai di rumahmu!
.
From : Byun Baekhyun
Hihi.. Ya sudah, sampai jumpa besok ya?
.
To : Byun Baekhyun
Yes, Mam! Selamat malam Nona Penyiar Byun. :D
Dan seorang Park Chanyeol pun gulung-gulung di atas kasurnya sambil berteriak kegirangan.
.
.
.
Jam enam pagi, Taehyung sudah bangun dan lekas mandi. Dalam lima belas menit, anak itu sudah tampil rapi dengan training suit merah yang ia beli bersama mamanya minggu lalu. Tidak lupa handband merah favoritnya ia letakkan di tangan kiri.
Taehyung heran karena tidak mendengar suara berisik dari dapur, padahal biasanya bau harum masakan bahkan sudah tercium saat ia terbangun. Taehyung melongok ke dapur namun tidak mendapati ibunya di sana. Bocah itu segera menuju kamar Baekhyun.
"Mama?" Panggilnya dari luar. Tak juga mendapat jawaban, Taehyung membuka pintu lalu menghampiri mamanya yang tidur telentang dengan selimut yang sudah merosot di bawah kaki.
Taehyung menaikkan selimut lagi, menutupi tubuh ibunya. Ia membatalkan niatnya untuk membangunkan Baekhyun setelah melihat begitu pulas sang ibu tertidur. Entah apa yang dilakukan mamanya semalaman, tapi wanita itu tampak kelelahan sekali. Taehyung jadi tidak tega membangunkannya.
Anak itu keluar kamar lalu menutup pintu kamar Baekhyun pelan-pelan agar tidak mengganggu tidur sang ibu. Ia lalu berjalan ke dapur dan membuat segelas susu untuk dirinya.
Sudah pukul setengah tujuh pagi, tapi tidak ada tanda-tanda Baekhyun terbangun. Taehyung hendak kembali ke kamar mamanya jika saja suara bel pintu tidak mengalihkan atensinya. Siapa tamu yang datang sepagi ini, pikirnya. Taehyung mengintip lewat jendela sebelum memutuskan membuka pintu. Itu adalah kebiasaannya jika kedatangan tamu saat tidak ada Baekhyun di rumah.
"Paman Chanyeol?" Ucapnya terheran-heran mendapati pria tinggi yang familiar itu di depan pintu rumahnya. Karena merasa mengenalnya, Taehyung membukakan pintu untuk Chanyeol.
"Paman Chanyeol?" Ulangnya saat sudah berhadapan dengan Chanyeol.
"Oh? Selamat pagi Taehyung!" Chanyeol seperti biasa, tersenyum cerah, secerah mentari pagi yang baru saja naik dari peraduannya.
Taehyung mendongak dengan mulut terbuka, ia mengagumi penampilan Chanyeol yang walaupun masih pagi tapi sudah tampan. Chanyeol memandangnya gemas.
"Boleh Paman masuk?" Tanya pria yang lebih tua.
"Oh.. iya!" Taehyung menggeser tubuh kecilnya lalu mempersilahkan Chanyeol masuk.
Hati Chanyeol kembali berdebar-debar. Ini adalah kali pertamanya masuk ke rumah Baekhyun, itu artinya ia memiliki kesempatan untuk mengenal wanita itu lebih dekat bukan? Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada Taehyung yang berjalan di belakangnya setelah menutup pintu.
"Training suitmu keren sekali!" Pujinya
Taehyung tersenyum ceria. "Tentu saja! Ini Taehyung yang memilih, hehehe."
Taehyung membawa Chanyeol ke ruang tamu yang juga merangkap ruang keluarga. Rumah Baekhyun dan Taehyung tidak terlalu besar, tapi juga tidak terlalu kecil. Dan karena semua perabot ditata dengan rapi, rumah itu terlihat sangat nyaman.
"Paman ada apa kesini pagi-pagi sekali?" Tanya Taehyung sambil mempersilahkan Chanyeol duduk.
Chanyeol yang masih sibuk mengedarkan pandangan kesana-sini lalu menoleh pada Taehyung. "Hmm, Paman mau ikut ke pekan olahraga Taehyung. Kemarin Bibi Kyungsoo meminta Paman mengajak Taehyung dan mama untuk ke rumah baru mereka. Tapi karena kalian ada pekan olahraga jadi kita kesana setelah acara sekolah Taehyung selesai saja. Terus karena Paman Chanyeol ngga ada kegiatan, lebih baik melihat Taehyung beraksi di lapangan deh." Jelasnya
Taehyung mengangguk-angguk paham. "Tapi Mama belum bangun." Katanya polos.
Chanyeol melotot kaget. Padahal kemarin malam Baekhyun sendiri yang memintanya datang pagi, tapi wanita itu sendiri yang bahkan jam segini belum bangun.
"Taehyung ngga bangunkan Mama?" Tanyanya.
"Sudah, tapi Mama tidurnya pulas sekali. Taehyung jadi ngga tega." Jawabnya.
"Kalau nanti terlambat ke sekolah gimana?" Tanya Chanyeol lagi.
Taehyung menggeleng. "Ngga apa-apa kok kalau mama yang terlambat. Taehyung lupa kasih tahu kalau acaranya baru dimulai jam 8. Tapi Taehyung harus sudah di sekolah jam tujuh buat ikut upacara." Chanyeol mengangguk paham.
Eh, tunggu. Itu artinya ia harus berdua dengan Baekhyun yang belum bangun dong, kalau Taehyung berangkat duluan?
"Paman mau susu?" Tawaran bocah itu membuyarkan pikirannya.
"Ha? Eh.. oh, susu? Hm, boleh." Jawabnya ramah. Sebenarnya Chanyeol tidak begitu suka minum susu karena dia sudah terlalu tua dan tinggi untuk minum susu. Tapi karena Taehyung sudah berbaik hati menawarkan, ia jadi tidak bisa menolak.
Anak itu berjalan ke dapur lalu sibuk membuatkan susu untuk seorang paman sepertinya. Chanyeol terkikik sendiri.
Lima menit kemudian bocah itu kembali dengan sebuah mug besar bergambar Iron Man. Oh, Chanyeol jadi tahu kalau Taehyung memang seorang penggemar tokoh The Avenger itu.
"Wah, Taehyung bisa membuat susu sendiri? Hebat!" Puji Chanyeol sambil menerima gelas susunya.
Taehyung mengangguk mantab dengan senyum bangga. "Mama bilang, Taehyung harus bisa mandiri saat mama berangkat bekerja."
Chanyeol tersenyum lalu mengusap kepala Taehyung. "Anak hebat." Pujinya tulus.
Taehyung tersenyum lebar sampai matanya menyipit, mirip sekali dengan Baekhyun. Entah sejak kapan, merasakan telapak tangan besar Chanyeol membelai kepalanya membuat Taehyung merasa senang.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang seperempat, tapi Baekhyun masih juga belum terbangun. Taehyung keluar dari kamar Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya.
"Paman, Mama ngga bangun juga! Taehyung kan harus berangkat sekarang. Nanti Paman yang bangunkan ya? Duh Mama ini gimana sih." Omelnya sambil meraih tas punggung dan berjalan tergesa ke rak sepatu.
Karena tidak ingin membuat Taehyung semakin mengomel, pria itu menyanggupi saja permintaannya. Masalah bagaimana membangunkan Baekhyun, ia pikirkan saja nanti. Ia mengantar Taehyung sampai di depan rumah dan membiarkan bocah itu berangkat duluan ke sekolah.
Chanyeol kembali masuk rumah, dan sekarang masalah terbesarnya adalah bagaimana caranya membangunkan Baekhyun. Dia kan orang asing di sini, mana berani main masuk ke kamar Baekhyun. Setelah berpikir lama, pria itu memilih duduk menunggu saja siapa tahu Baekhyun bangun sebentar lagi.
Chanyeol mengedarkan pandangan pada ruang keluarga Baekhyun sambil meminum susunya sedikit-sedikit. Jejeran foto di tembok menarik perhatiannya. Ia berdiri lagi lalu menghampiri agar bisa memandang lebih dekat foto-foto itu. Mayoritas adalah foto-foto Taehyung yang dipajang dalam berbagai rentang usia. Mulai Taehyung masih belajar merangkak sampai sekitar usia 5 tahun. Chanyeol berkali-kali memuji imut dan manis saat melihat foto bayi Taehyung. Oh ada juga foto Baekhyun. Rambutnya masih panjang, hampir melewati sikunya. Baekhyun mengenakan dress merah muda, tertidur di sebuah ayunan di bawah pohon. Dan sepertinya foto itu diambil saat Baekhyun hamil.
"Cantik sekali." Gumam Chanyeol sambil memandang kagum potret sang pujaan hati.
Pria itu beralih pada foto terakhir di deretan foto itu. Di sana Baekhyun mencium pipi Taehyung yang usianya mungkin masih satu tahun. Namun bukan Baekhyun dan Taehyung yang menjadi fokus Chanyeol, tapi seorang pria yang menggendong dan menempelkan pipinya pada pipi gembul Taehyung. Ketiga orang itu tampak sangat bahagia, tentu saja.
Chanyeol tersenyum kecil. Memang jika dilihat secara keseluruhan, wajah Taehyung lebih cenderung ke Baekhyun, tapi matanya adalah duplikat dari sayang ayah.
Dia suami Byun Baekhyun, batinnya.
"OH ASTAGA!" Pekikan Baekhyun mengalihkan atensinya. Walaupun sekilas, Chanyeol bisa melihat wajah bangun tidur dan rambut berantakan Baekhyun sebelum wanita itu kembali memasuki kamarnya dengan tergesa-gesa.
.
.
.
"Chanyeol aku sungguh minta maaf!". Ucap Baekhyun sambil membungkukkan badan. Setelah meninggalkan Chanyeol selama lima belas menit di ruang tamu, Baekhyun keluar kamar sudah dalam keadaan lebih segar. Wanita itu mengenakan training suit yang sama dengan Taehyung, rambutnya dikuncir satu tinggi-tinggi.
"Ngga apa-apa. Kenapa bisa bangun kesiangan?" Tanya Chanyeol.
"Aah.. itu.. kemarin aku terlalu bersemangat, jadi setelah kita berkirim pesan, aku malah olahraga kecil di kamar sampai jam 2 pagi." Aku Baekhyun sambil mengusap sebelah pipinya yang memerah. Wanita itu melirik Chanyeol dan baru menyadari bahwa pria di depannya tampak berbeda. "Kamu.. memotong rambutmu?" Tanyanya.
Chanyeol menyentuh rambutnya. Kalau biasanya Chanyeol membiarkan poninya tergerai bebas namun sekarang rambutnya ia buat lebih pendek dan ditata berdiri sehingga dahinya terkespos. "Suasana baru. Ngga cocok?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun menggeleng, masih dengan pandangan takjub wanita itu menjawab. "Cocok kok, aku rasa ini lebih bagus dari yang kemarin." Baekhyun tidak sadar jika ucapannya membuat Chanyeol serasa melayang di udara.
"Terimakasih." Kata Chanyeol sambil tersenyum tampan.
Baekhyun mengalihkan padangannya pada segelas susu di depan Chanyeol. "Taehyung membuatkanmu susu?" Tanyanya.
Chanyeol mengangguk. "Dia bilang kalau harus berangkat lebih dulu karena harus upacara. Kamu boleh datang jam 8." Jelasnya.
"Oh begitukah? Syukurlah, kupikir Taehyung marah padaku." Baekhyun beranjak menuju dapur, Chanyeol mengikutinya. "Aku mau membuat sandwich dulu, kamu pasti belum sarapan. Mau makan dulu atau di sana saja bersama Taehyung?" Tawar Baekhyun.
"Di sana saja. Kalau Taehyung belum makan, aku juga ngga akan makan dulu. Aku bantu?" Ucap Chanyeol.
Baekhyun tersenyum. "Terimakasih, tapi duduk saja. Membuat sandwich ngga susah kok."
"Baiklah, tapi aku di sini saja. Aku sudah duduk sejak tadi dan itu melelahkan." Protesnya.
"Hahahaa! Iya iya maafkan aku." Baekhyun mulai mengeluarkan bahan-bahan sandwichnya dari kulkas.
"Jadi kalian memakai kostum yang sama?" Tanya Chanyeol yang kini berdiri memperhatikan Baekhyun yang sibuk membuat sandwich.
"Iya, ketentuan dari sekolahnya seperti itu. Apa warna merah terlalu mencolok?" Tanya Baekhyun.
"Menurutku bagus kok, justru karena mencolok, kalian akan terlihat menonjol." Puji Chanyeol.
"Hahaha semoga saja kemampuan olahragaku semenonjol warna kostumku." Mereka tertawa bersama. Oh sungguh pagi yang manis.
Hanya butuh sepuluh menit untuk Baekhyun mempersiapkan diri dan mereka pun berangkat ke sekolah Taehyung dengan berjalan kaki karena jaraknya dekat. Chanyeol sih iya saja, bukankah berjalan berdua juga terlihat manis? Ia meninggalkan mobilnya di depan rumah Baekhyun.
Suasana di Han-Guk Elementary School sudah ramai saat mereka tiba di sana. Baekhyun menyapa beberapa ibu-ibu dari teman Taehyung yang ia kenal dan tersenyum sopan pada guru-guru yang berpapasan dengannya. Beberapa di antara mereka memandang Baekhyun heran, ada juga yang berbisik-bisik bahkan Baekhyun bisa mendengar seorang ibu-ibu berkata 'aduh tampannya!'. Baekhyun baru sadar jika ia datang bersama Chanyeol. Ya, ia pun mengakui kalau lelaki itu tampan, apalagi dengan rambutnya yang baru, hoodie putih, jeans hitam dan sepatu kets senada dengan sweaternya.
"Mama!" Teriak Taehyung dari kejauhan. Bocah itu segera berlari menghampiri Baekhyun diikuti temannya yang memakai training suit warna hijau.
Baekhyun menggapai Taehyung dalam pelukan lalu tersenyum pada teman anaknya. "Selamat pagi Jongup." Sapanya.
"Selamat pagi Bibi Baekhyun!" Jawab Jongup ceria.
"Taetae sarapan dulu ya. Jongup sudah sarapan?" Tanya Baekhyun sambil mengeluarkan kotak bekal dari tas punggungnya.
Jongup mengangguk. "Sudah kok, mama sama papa sudah datang daritadi."
"Cuma mama yang terlambat, weeeek~" Goda Taehyung pada ibunya. Chanyeol terkikik di belakang Baekhyun. Jongup memandang penuh tanya tapi juga terkagum-kagum pada pria tinggi itu.
"Acara olahraganya sudah dimulai?" Baekhyun memberikan sepotong sandwich pada Taehyung, sepotong pada Chanyeol dan sepotong pada Jongup. Tapi bocah berbaju hijau itu menggeleng dan berkata sudah kenyang.
"Sudah, Taehyung sudah daftar twin race!" Seru anak itu sebelum menggigit sandwichnya.
"Apa itu twin race?" Tanya Chanyeol.
"Ada baju besar tapi lubang kepalanya ada dua, itu nanti dipakai mama atau papa dengan anaknya. Nanti mereka berlari bersama, balapan dengan pasangan lainnya sampai garis finish." Jelas Jongup menggantikan Taehyung yang sedang sibuk mengunyah. Chanyeol mengangguk-angguk paham.
Taehyung menyerahkan nomor urutnya dan Baekhyun di lomba itu. Pantas saja Taehyung terlihat santai karena nomor urut mereka adalah 56. Sedangkan balapan dilakukan oleh 5 pasangan sekali sesi, jadi mereka baru akan tampil di sesi ke 12.
.
.
.
Tibalah giliran Baekhyun dan Taehyung untuk mengikuti twin race. Benar kata Jongup, para peserta memang diberi sebuah kaos berukuran jumbo yang bisa dimasuki dua orang dengan tulisan 'I LOVE MY FAMILY' di bagian depannya. Baekhyun dan Taehyung sudah ada di dalamnya. Agak timpang di sisi Taehyung, karena anak itu masih tidak lebih tinggi dari Baekhyun. Chanyeol mulai membidik pasangan ibu anak itu dengan handycam yang entah ia dapat darimana.
Taehyung menghembuskan nafasnya, ia cukup tegang. Walaupun sejak awal memang ia tidak berniat untuk menang tapi setidaknya ia harus berusaha sebaik mungkin. Di sampingnya, Baekhyun menggandeng tangannya dari dalam kaos.
"Semuanya bersiap!" Teriak panitia lomba melalui microphone. "Berlarilah dalam hitungan ketiga! Satu!"
Taehyung menelan ludahnya.
"Dua!"
Baekhyun mengeratkan pegangannya pada Taehyung.
"Tiga!"
Chanyeol berteriak menyerukan nama Baekhyun dan Taehyung seiring berlarinya pasangan ibu dan anak itu. Senyumnya lebar sekali, matanya pun tidak lepas dari Baekhyun dan Taehyung yang berlari ke arah garis finish yang berjarak 60 meter dari garis start.
Namun sayang, Baekhyun dan Taehyung gagal di babak penyisihan karena mereka sampai garis finish di urutan ketiga.
"Ngga apa-apa! Masih banyak olahraga yang lain, kalian pasti bisa menang!" Ucap Chanyeol penuh semangat saat menghampiri ibu dan anak itu masih dengan handycamnya yang masih dalam mode merekam. Taehyung mengangguk mantab dengan mata yang penuh tekad. Baekhyun mengelus kepala putranya. Mereka mendaftar ke olahraga lain yang bisa diikuti oleh satu atau dua orang saja.
Di olahraga lompat tinggi, mereka kembali gagal karena Baekhyun menjatuhkan palang lompatan di ketinggian 1,45 meter. Chanyeol dan Taehyung yang menonton di pinggir lapangan kompak berteriak heboh. Baekhyun menghampiri putranya sambil terus mengucap kata maaf.
Mereka beralih ke olahraga ketiga, yaitu hurdle race, berlari melompati rintangan. Taehyung yang maju kali ini. Anak itu menggulung celananya hingga lutut agar tidak mengganggu saat berlari. Sekarang ganti Baekhyun yang bersorak-sorak untuk Taehyung ditemani Chanyeol.
Ia memimpin sesaat setelah peluit ditiup. Sampai di rintangan ketiga, Taehyung sedikit kehilangan keseimbangan. Baekhyun mencelos sampai kakinya refleks melangkah maju dari deretan penonton, namun Taehyung bertahan dan melanjutkan larinya. Anak itu mendapat posisi kedua setelah Namjoon, itu artinya ia bisa mengikuti semi final. Baekhyun menghambur ke arahnya dan menanyakan apakah Taehyung baik-baik saja, dibalas anggukan sang putra.
Namun beberapa saat kemudian Taehyung tampak tidak bersemangat karena ia gagal di babak semi final. Baekhyun memberinya pelukan penenang, Chanyeol mengusap kepalanya sambil memberi kata-kata penghibur.
"Kita olahraga apa lagi setelah ini, sayang?" Tanya Baekhyun saat mereka sedang istirahat di bangku dekat lapangan.
Taehyung mengercutkan bibirnya lalu menggeleng. "Ngga ada lagi, yang lainnya harus tiga orang." Ucapnya lesu. Baekhyun mengusap keringat di dahi putranya.
"Kalau Paman ikut, gimana?" Tawar Chanyeol tiba-tiba. Baekhyun dan Taehyung kompak mendongak menatapnya yang berdiri di depan mereka.
"Kamu serius?" Tanya Baekhyun. Chanyeol mengangguk mantab.
"Kalau boleh sih. Soalnya cuma melihat saja kurang seru." Jawabnya sambil cengengesan.
Taehyung langsung berbinar, ia senang sekali akhirnya bisa ikut lomba-lomba yang lain. "Mama, baju yang satunya kan ada." Ucap Taehyung pada mamanya.
Oiya, Baekhyun baru ingat kalau training suit mereka masih ada satu lagi yang tidak terpakai. Ia menatap Chanyeol. "Kami ada satu training suit merah, kebetulan ini memang khusus untuk ayah-ibu-anak. Tapi aku meninggalkannya di rumah jadi kita harus kembali dulu mengambilnya untukmu."
"Oh begitu? Ya sudah aku ikut ke rumah saja, biar bisa ganti baju sekalian." Ucap pria itu.
Baekhyun kembali ke rumah bersama Chanyeol. Taehyung memilih tinggal di sekolah saja, dia bilang ingin melihat Jongup dan papa mamanya ikut lari estafet.
"Kamu serius ikut lomba bersama kami?" Tanya Baekhyun lagi.
"Iya Baekhyun. Aku serius!" Kata Chanyeol.
"Ehm, kamu sudah punya pacar?"
Chanyeol hampir tersedak air liurnya mendengar pertanyaan Baekhyun. Pria itu menoleh sambil melotot kaget pada wanita di sampingnya. "Ke..kenapa bertanya seperti itu?" Chanyeol ingin menampar mulutnya yang tiba-tiba tergagap.
"Itu, aku cuma ngga ingin pacarmu salah paham nanti. Maksudku, ini kan acara keluarga. Semua orang akan mengira kamu ayahnya Taehyung nanti kalau kamu ikut lomba. Bukan maksudku melarangmu ikut, cuma.." Baekhyun bingung harus berkata apa.
Chanyeol tersenyum. Ia justru lebih suka jika semua orang berpikir seperti itu. "Aku bukannya sudah pernah bilang kalau masih single?" Tanyanya balik.
"Definisi single menurutku adalah belum menikah, bukannya ngga punya pacar." Jelas Baekhyun.
"Tenang saja, aku ngga terikat dengan wanita manapun kecuali Kyungsoo." Baekhyun memandangnya heran. "Ikatan kakak adik." Imbuhnya dengan senyum geli. Baekhyun mendengus.
Mereka sampai di rumah Baekhyun lagi. Wanita itu segera masuk ke kamar dan keluar dengan sebuah training suit yang masih disimpan rapi dalam plastik lalu memberikannya pada Chanyeol. Ia mempersilahkan Chanyeol menggunakan kamar mandi untuk berganti baju.
Sambil menunggu Chanyeol, Baekhyun mengecek ponselnya. Ada dua buah pesan dan tiga panggilan tidak terjawab, semua dari Yixing.
From : Yixing
Kak, aku sudah di sekolah Taehyung nih sama kameramenku. Kakak dimana?
Baekhyun membuka pesan kedua.
From : Yixing
Kak Baekhyun angkat telponkuuuu!
Baekhyun menelpon balik tetangganya itu. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 11.55, lalu fokus pada suara Yixing yang menjawab telponnya.
"Halo?" Gadis itu bersuara.
"Yixing kamu masih di sekolah?" Tanya Baekhyun.
"Aah Kakak, kita baru saja selesai mewawancara kepala sekolah. Ini sudah dalam perjalanan ke lokasi liputan berikutnya. Kakak kemana saja sih? Aku sudah mengirim pesan sejak pukul setengah sembilan tau!" Omelnya Yixing.
"Iya, iya maaf. Habisnya aku sibuk ikut lomba dengan Taehyung jadi ngga sempat mengecek ponsel. Wah sayang sekali kamu ngga lihat kami beraksi ya?" Ucap Baekhyun sedikit menyesal. Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan training suit merah yang resleting jaketnya tidak ia pasang, memperlihatkan dalaman kaos hitam yang sudah ia pakai sebelumnya. Ia menenteng hoodie dan celana jeansnya dengan satu tangan.
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu ya? Iya, makasih Sayang. Byee!" Ucap Baekhyun pada Yixing sebelum mematikan sambungan telpon mereka lalu menatap Chanyeol.
"Eehm, ini diletakkan dimana?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun mengambil alih pakaian Chanyeol lalu melipatnya rapi dengan cekatan. "Sepertinya celananya terlalu pendek untuk kakimu?" Komentar Baekhyun pada training suit Chanyeol.
"Kadang punya tubuh tinggi juga menyusahkan." Ia terkekeh. "Sebaiknya aku menggulungnya sampai lutut saja sekalian." Sambungnya.
Chanyeol dan Baekhyun kembali ke sekolah Taehyung setelah mengunci pintu rumah. Mereka berjalan beriringan, sesekali Chanyeol menggoda Baekhyun kemudian wanita itu memukul lengannya lalu mereka tertawa bersama. So sweet, gumam Bibi Han saat melihat dua manusia berkostum merah itu melintas di depan rumahnya.
.
.
.
Taehyung, Baekhyun dan Chanyeol berhasil masuk final dalam lomba lari estafet. Kini mereka sudah siap di posisi mereka. Yang paling kecil menjadi pelari pertama, ibunya di tengah, Chanyeol sebagai pelari terakhir menjadi penentu kemenangan mereka.
Taehyung gugup, karena Namjoon dan ayahnya juga masuk final, tentu saja. Ia memandang Chanyeol yang tepat ada di seberangnya, pria itu mengangguk di kejauhan sambil mengangkat kedua jempolnya untuk Taehyung.
Suara peluit keras terdengar. Taehyung yang berada di baris ketiga berlari secepat mungkin menuju ibunya. Anak itu berada tepat di belakang Namjoon dan seorang siswa kelas enam yang tidak ia kenal. Jaraknya dengan Baekhyun sudah semakin dekat. Ibunya mengambil ancang-ancang berlari dengan satu tangannya terulur pada Taehyung. Ia berhasil mengoperkan baton pada Baekhyun kemudian berteriak keras.
"Mama! Fighting!" Serunya tepat saat Baekhyun berlari menjauh darinya.
Taehyung menepi ke pinggir lapangan tanpa mengalihkan pandangan pada ibunya. Ia sangat terkejut mendapati sang ibu yang tanpa diduga berhasil membalikkan posisi menjadi nomor satu di balapan itu. Baekhyun menyalip ibu Namjoon dan ibu kakak kelasnya!
Baekhyun menjulurkan baton pada Chanyeol yang segera diterima oleh pria tinggi itu. Dari kejauhan Taehyung menyoraki Chanyeol yang memimpin perlombaan. Kaki-kaki panjangnya membantu lelaki itu mengambil langkah lebar.
Taehyung berteriak frustasi saat ayah Namjoon dengan mudahnya menyalip Chanyeol di tikungan. Namun bocah itu tetap memberi semangat untuk Chanyeol. Baekhyun yang sudah ada di sampingnya pun melakukan hal serupa.
Walaupun berhasil disalip, Chanyeol tidak mengurangi kecepatannya sehingga ia berhasil mempertahankan posisinya sebagai juara dua dengan selisih waktu yang sedikit dengan ayah Namjoon.
Baekhyun dan Taehyung bersorak keras dan segera berlari menyongsong Chanyeol yang masih terengah-engah. Chanyeol hampir saja terjatuh jika ia tidak sigap menangkap Taehyung yang tiba-tiba melompat memeluknya.
"Paman Chanyeol hebaaaaat!" Serunya terlampau senang. Chanyeol menoleh pada Baekhyun yang tersenyum lebar padanya.
"Tapi kita kan kalah, Paman ngga berhasil mempertahankan posisi pertama. Maaf ya?" Ucapnya menyesal.
Taehyung mendongak lalu menggelengkan kepala masih dengan memeluk Chanyeol. "Ngga apa-apa yang penting juara!" Jawabnya.
Chanyeol balas memeluk anak itu lalu memutar-mutarkan Taehyung sampai si lelaki kecil tertawa lepas. Baekhyun ikut tertawa lalu mengelus kepala putranya saat kedua orang itu selesai berputar-putar. Mereka mendapat medali perak untuk lomba estafet itu.
Setelah istirahat sekitar 10 menit, Taehyung menarik lengan Chanyeol untuk mendaftar ke lomba Basketball Trash Can. Itu lho, lomba dimana peserta harus melempar bola ke ring basket yang didesain dengan menambahkan keranjang di bawahnya. Siapa yang bolanya paling banyak masuk ke keranjang dalam waktu yang ditentukan, dia yang menang. Baekhyun sudah memintanya berhenti untuk makan siang dulu, tapi bocah kecil itu malah merengek pada Chanyeol, meminta dukungan. Tentu saja Chanyeol menurutinya.
Tidak ada sesi semi final atau final dalam lomba itu, karena pesertanya tidak begitu banyak. Lagipula ring basketnya ada sepuluh buah. Jadi dalam sekali sesi, sudah pasti bisa ditentukan siapa pemenangnya.
Ketiga manusia yang kebetulan satu-satunya bertraining suit merah itu sudah siap di bawah ring mereka. 50 bola kecil diletakkan dalam bak di bawah ring, lalu tugas mereka adalah memasukkan bola-bola itu sebanyak mungkin dalam waktu 3 menit.
Ring basketnya diletakan sangat tinggi, mungkin lebih dari dua kali tinggi Taehyung. Tapi ia percaya diri saja, karena ia memiliki Paman Chanyeol yang sangat tinggi.
Pertandingan dimulai. Seluruh peserta sibuk dengan bola mereka masing-masing, begitu pula dengan Chanyeol, Baekhyun dan Taehyung. Tidak banyak bola yang berhasil mereka masukkan karena selain letak ring yang tinggi, bola mereka terlalu ringan sehingga mudah tertiup angin.
Waktu terus berjalan, sedangkan bola yang berhasil mereka masukkan masih tidak lebih dari 15 buah. Tiba-tiba Chanyeol berhenti melempar. Ia menoleh ke peserta lain yang sama sibuknya melempar bola. Ia menoleh pada Taehyung lalu meraih lengan anak itu.
"Taehyung, kamu ingin menang?" Tanyanya. Si lelaki kecil mengangguk mantab tentunya. Baekhyun ikut berhenti melempar bola dan memandang dua pria di sampingnya.
Tiba-tiba Chanyeol berjongkok di samping Taehyung. "Naik sini kalau begitu! Kita bersatu menjadi Iron Man!" Perintahnya sambil menepuk kedua pundaknya.
Dengan cepat Taehyung naik dan menduduki pundak Chanyeol. Setelah merasa posisi Taehyung aman, yang lebih tua bangkit dengan Taehyung duduk di pundaknya. Baekhyun memekik, bahkan penonton dan peserta lain ikut berseru. Panitia lomba bersorak untuk mereka.
"Oh lihat peserta nomor 4 punya metode baru! Ayo ayoo waktu kurang satu menit lagi!" Teriaknya melalui michrophone.
"Baekhyun operkan bola pada Taehyung saja!" Perintah Chanyeol. Baekhyun bergerak cepat. Ia mengambil lima bola dalam satu pelukan kemudian dioperkan ke Taehyung satu per satu. Karena dalam peraturan mereka hanya boleh melempar satu bola dalam satu lemparan.
Ternyata metode Chanyeol sangat ampuh. Taehyung bisa menggapai ring dengan mudah. Semua bolanya masuk tanpa ada yang terjatuh lagi. Diam-diam peserta lain mengikuti metode mereka.
Chanyeol terus memberi semangat pada Taehyung tanpa melepas pegangannya pada kedua kaki anak itu. Taehyung fokus melempar bola dan Baekhyun mengoperkan bola dengan cepat. Kerjasama yang luar biasa!
Priiiit!
Peluit ditiup, menandakan berakhirnya lomba itu. Penonton bertepuk tangan riuh. Baekhyun membantu Chanyeol menurunkan Taehyung. Panitia menurunkan keranjang mereka untuk menghitung jumlah bola yang berhasil ditangkap.
Taehyung berdiri tegang dengan menangkupkan kedua tangannya di depan dada saat panitia menghitung jumlah bola masing-masing peserta. Chanyeol merangkul bocah itu dari samping. Lelaki kecil itu semakin deg-degan saat hitungan sudah mencapai angka ke 25, sedangkan keranjang yang lain sudah tidak bersisa bola lagi. Tinggal miliknya dan milik peserta nomor tujuh. Panitia dan penonton menghitung bersama-sama.
"26, 27, 28, 29!" Hitungan dari keranjang milik peserta nomor tujuh terhenti di angka 29. Sorakan penonton semakin riuh.
"30, 31, 32, 33, 34!" Bola di keranjang Taehyung habis di hitungan ke-34. "Pemenangnya adalah peserta nomor empat!" Seru panitia.
Taehyung, Chanyeol dan Baekhyun bersorak dengan kompak. Chanyeol membawa Taehyung dalam pelukannya. Karena terlalu senang, Baekhyun tanpa sadar juga ikut berpelukan dengan dua lelaki berkostum merah sama dengannya itu. Namun tiba-tiba Taehyung melepaskan pelukannya dan bersorak-sorak sendiri, meninggalkan Chanyeol yang sebelah tangannya masih merengkuh pinggang Baekhyun dan Baekhyun juga sebelah tangannya ia letakkan di leher Chanyeol.
"Untuk pemenang silahkan maju untuk menerima medali." Kata si panitia. Taehyung secepat kilat berlari ke depan, melupakan dua orang yang memisahkan diri dengan canggung setelah menyadari mereka masih berpelukan.
"Ehm.. Maaf!" Chanyeol menggaruk tengkuknya salah tingkah.
"A..ah.. ngga.. aku juga, maaf!" Baekhyun juga ikut-ikutan gugup. Wanita itu segera berjalan menyusul putranya sambil meletakkan satu tangan di dada. Ia tidak habis berlari, tapi kenapa jantungnya berdetak kencang sekali? Baekhyun bertanya-tanya.
.
To be continued..
.
.
.
Aloha~ Saya kembali tepat satu minggu! Ini buat yang kemarin minta Chanyeol ikut ke pekan olahraga. Bayangin training suit mereka seperti yang sering dipakai Gwang Soo sohibnya Sehun di EXO Next Door ya? Hihi, kenapa milih itu? Karena menurutku training suit itu lucu! (krik..krik..)
Terus, untuk masalah bahasa kurang baku, tolong baca lagi catatan di chapter lima ya sayang ^^ . Untuk younlaycious88, iya aku di Surabaya kok tauuuu? Hihihi..
Happy Chanbaek Day! Jujur aku baru tau kalau ada Chanbaek day! Hehehe habisnya di instagram rame banget pada ngerayain. Ternyata dilihat dari angka mereka ya? Chanyeol 61 Baekhyun 4 jadi hari ini (614) adalah hari Chanbaek. Hahaaha maapin ya aku baru tau. XD
Thanks as always! I love youuuuu!
baekhyeolo | .94 | Guest nur991fah | beng beng max | sehunpou | GreenAradirachta | Prince Changsa | Hanbyeol267 | PrincePink | shinlophloph | kthk2 | MbemXiumin | Riho Kagura | Mokuji | ta | noersa | Re-Panda68 | neli amelia | knj12 | Song Haru | | nana | parklili | Guest | AnggyeEXOnBTS | tetangga jimin | baekkiepyon | LeeEunin | ShinJiWoo920202 | narsih556 | yyaswda | chankkuma | | hatakehanahungry | Baby Kim | Choco Cheonsa | Rnine21 | mejimhh | Myllexotic | aprilbambi | seul gi shin | Ginnyeh | Aya |yeollie | Taman Coklat | Xiao yueliang | dandelionleon | flameshine | pzsehun27 | BaebyYeolliePB | Lara | joohyvn | karwurmonica | jdcchan | Roxanne Jung | unicorn08 | comebaekhome | | vivikim406 | AuliaPutri14 | MissByun | raffidhaa | Nissa | memomy | younlaycious88 | CussonsBaekby | VampireDPS | akaindhe | mpiwkim3022 | Shun Akira | BLUEFIRE0805 | mijong | kyungie love | LIGHTFIRE92 | Guest | anoncikiciw | kimchohyundhantieee
Maaf kalau ada yang kelewatan dan typo. ^^a
