" Terimakasih, Sasuke-kun. Berjanjilah untuk selalu bersamaku apapun yang terjadi. " Gumam Hinata pelan
Sasuke hanya mengangguk membalas ucapan Hinata, ia memejamkan matanya dan menikmati pelukan yang Hinata berikan untuknya.
Bahagia. Itu lah yang mereka berdua rasakan saat ini, tapi apakah kebahagiaan itu akan tetap bersama mereka atau harus berakhir begitu saja? Entahlah tidak ada yang tau kejadian dimasa depan.
Mungkin saat ini mereka bahagia lalu kedepan mereka harus berpisah? Atau mereka akan bahagia seperti sekarang?
' Walau hatiku sangat bahagia entah kenapa ada perasaan yang janggal saat ini, seakan Sasuke-kun akan pergi meninggalkanku. Tapi aku hanya bisa berharap itu tidak akan terjadi. '
::
Happiness
::
Pemuda bermarga Uchiha kini tengah berjalan-jalan dengan gadis bermata bulan disampingnya. Disepanjang perjalanan hanya ada obrolan ringan, tetapi hal itu tidak mengganggu keduanya yang memang jarang berbicara.
" Hinata, aku- " Sasuke menggantungkan kalimatnya. Keduanya berhenti dan saling menatap.
" Kau kenapa Sasuke-kun? " Tanya Hinata yang tidak mengerti ucapan Sasuke.
Sasuke diam, ia kembali berjalan meninggalkan Hinata yang menatapnya dengan pandangan bingung.
Berhenti dan menoleh kearah Hinata, " Ikuti aku. " Ucapan singkat itu keluar dari pemuda Uchiha yang telah berjalan mendahului gadis bermarga Hyuuga itu.
Hinata bergegas mengikuti Sasuke, mereka keluar dari desa dan menuju Hutan. Gadis itu menatap Sasuke yang masih diam.
" Kita akan latihan? "
" Tidak. "
Hinata bungkam, ia takut jika Sasuke seperti ini. Apa dia berbuat sesuatu yang salah? Atau apa Sasuke marah karena Hinata terkadang pergi dengan Suigetsu? Tapi sungguh Suigetsu hanya menemani Hinata berjalan-jalan itu saja tidak lebih. Lagipula Sasuke juga sibuk latihan.
" Kita sampai. "
Suara Sasuke membuat lamunan Hinata menghilang. Gadis itu terkejut melihat apa yang ada didepannya.
" I-ini … " Sungguh Hinata bahkan tidak tau harus berkata apa lagi.
Sasuke memalingkan wajahnya, " Aku tidak sengaja menemukan padang bunga ini, setelah kita tidak lagi dimarkas Orochimaru aku kira kau akan merindukan pemandangan seperti ini. Dan- "
" Jadi kau ingin menunjukan ini padaku? Kenapa tidak bilang langsung saja. " Potong Hinata cepat.
Sementara Sasuke, ia hanya memalingkan wajah menyembunyikan rona merah yang ada diwajahnya.
" Kau benar, aku rindu pemandangan seperti ini. Dan untuk pertama kalinya aku dapat melihat bunga lavender yang tumbuh rapi di tempat seperti ini. Sasuke-kun ini benar-benar Indah! " Ujar Hinata antusias
Tersenyum tipis itulah reaksi Sasuke, sebenarnya bukan hanya karena Hinata merindukan pemandangan seperti ini tapi karena akhir-akhir ini Sasuke merasa Hinata terlihat lebih murung dari biasanya.
GREEPP!
Sasuke tersentak saat Hinata memeluknya tiba-tiba.
" Terimakasih! "
Membalas pelukan gadis itu adalah respon yang Sasuke berikan untuknya. Pelukan itu begitu erat, Sasuke bahkan dapat mencium wangi dari tubuh gadis itu, dielusnya pelan rambut Hinata.
Terbesit seorang perempuan difikiran Sasuke, perempuan yang juga ia cintai selain Hinata. Perempuan yang baik hati dan lembut sama seperti Hinata, dia adalah Ibunya sendiri.
" Aku merindukan Kaa-san. " Bisik Sasuke pelan
Hinata dapat mendengar dengan jelas ucapan yang keluar dari mulut Sasuke, seketika pandangan gadis itu berubah menjadi sendu.
" Mikoto baa-san baik-baik saja, karena disana juga ada Fugaku jii-san. Kau tau aku yakin Mikoto baa-san dan Fugaku jii-san selalu mengawasimu dan itu semua karena mereka menyayangimu. "
" Tidak! Mereka lebih menyayangi Itachi daripada diriku. "
Hinata mengangkat wajah Sasuke dan menempelkan kedua tangannya di pipi putih milik pemuda itu. Dahi mereka saling bersentuhan, Hinata menatap Sasuke dalam.
" Itu semua tidak seperti yang kau fikirkan. Tidak ada orang tua yang tidak mencintai dan menyayangi anaknya sendiri. Mungkin Fugaku Jii-san keras padamu agar kau menjadi anggota Uchiha yang terhebat. "
Sasuke terdiam sebentar, " Apa ayahmu juga mencintai dan menyayangimu ? "
Pertanyaan yang Sasuke berikan membuat Hinata bungkam, gadis itu memikirkan ucapan Sasuke. Padahal niatnya untuk membuat Sasuke tenang tapi kenapa malah dia yang membuat Hinata bimbang?
" Sudah kuduga jawabannya pasti ti- "
" Iya, dia mencintai dan menyayangiku " Jawab Hinata pasti walau Sasuke dapat melihat genangan air mata disana.
" Kenapa kau begitu yakin? Apa mengusirmu termasuk kategori menyayangi? " Astaga! Sejak kapan pemuda dihadapannya ini banyak berbicara.
Hinata memejamkan matanya, hal itu menyebabkan genangan tadi berubah mnjadi air mata. Dengan pasti gadis itu membuka matanya.
" Dia mengusirku karena punya alasan. Itu semua karena aku lemah dan aku berhak mendapatkan itu. Tou-san hanya ingin aku menjadi Kunoichi yang kuat dan tangguh, walau begitu dia sangat menyayangiku sama seperti Kaa-san! " Ujar Hinata pasti
Sasuke melihat perasaan terluka dari mata Amethsty gadis itu. Dengan satu tarikan Sasuke kembali memeluk Hinata erat.
" Sudah kubilang kau itu tidak lemah! Kenapa kau keras kepala sekali? Apa Hyuuga sudah membuatmu menjadi seseorang yang keras kepala? " Ujar Sasuke dingin
Hinata diam tak menjawab, gadis itu hanya menyandarkan kepalanya pada dada bidang milik Sasuke.
" Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu. "
" Tidak apa. " Jawaban yang diberikan Hinata membuat Sasuke semakin bersalah.
" Nanti malam aku ingin berjalan-jalan sebelum meninggalkan penginapan, dan itu hanya kita berdua. " Ujar Sasuke dengan menekan kata diakhir.
Hinata melepaskan pelukan Sasuke, " Aku bilang tidak ap- "
" Aku cemburu melihat kau terus bersama binatang air itu. "
Binatang air?
" Suigetsu? " Tanya Hinata memastikan, Sasuke mengangguk singkat dan membuat Hinata menghela nafas.
" Dia bukan binatang, Sasuke-kun. " Ujar Hinata pelan, tidak heran dengan kata-kata kasar yang keluar dari mulut Sasuke.
Sasuke mendengus kesal, selalu saja gadis ini membela Suigetsu dihadapannya.
" Tidak ada penolakan. " Ucap Sasuke tegas
" Baiklah. " Balas Hinata mengalah, berdebat dengan Sasuke? Huh jangan harap bisa menang.
Hening mendominasi keduanya, bukannya tidak ingin pulang hanya saja Hinata ingin sedikit lebih lama disini dan Sasuke menyetujui itu. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pulang dan bersiap-siap untuk acara nanti malam.
Sesuai perkataan Sasuke, kini mereka tengah berjalan-jalan dan hanya berdua. Suigetsu, Karin dan juga Juugo tadinya pergi bersama-sama Sasuke dan Hinata hanya saja Sasuke bilang dia hanya ingin berdua dengan Hinata.
Awalnya Karin dan Suigetsu tidak setuju tapi untunglah Juugo menarik mereka menjauh dari Sasuke dan Hinata.
Keduanya tengah duduk dibawah pohon yang cukup besar, daerah ini tidak terlalu jauh dari pasar. Selain tenang, disini mereka dapat melihat bulan yang tengah bersinar.
" Hinata, aku ingin mmberikanmu ini. "
Sasuke menyodorkan sebuah kalung berlambang Uchiha kearah Hinata, sedangkan Hinata hanya menatap Sasuke dengan pandangan tak mengerti.
" Apa ini Sasuke-kun? " Tanya Hinata pelan
Sasuke menghela nafas, " Aku ingin kau menggunakan ini. " Ucapnya
" Tapi- "
" Tidak ada penolakan, biarkan aku yang memasangnya. " potong Sasuke cepat. Kalung itu Sasuke sematkan di leher Hinata. Jarak mereka begitu dekat dan mmbuat Hinata harus menahan nafasnya untuk sementara.
" Selesai. Kau kelihatan cantik " Ucap Sasuke jujur
Hinata tersenyum, " Terimakasih. Aku akan menjaga kalung ini. " Ucap Hinata pelan, tangannya mengusap pelan kalung pemberian Sasuke.
" Hn, kalung itu sangat berharga. Kalung itu adalah pemberian Kaa-san. "
Hinata terkejut, ia menatap Sasuke dalam-dalam kemudian menunduk.
" Kalau begitu, aku tidak pantas menggunakan ini Sasuke-kun. Ini adalah satu-satunya pemberian Mikoto baa-san dan pasti sangat berharga untukmu. "
Sasuke tersenyum tipis, " Karena itulah aku memberikannya padamu. " Hinata mengangkat kepalanya dan mendapati tangan Sasuke yang mengusap pelan puncak kepalanya, " Karena aku percaya padamu kau bisa menjaga kalung ini. Aku menyerahkan ini juga karena Kaa-san bilang kelak kalung ini akan digunakan untuk orang yang aku cintai. "
Wajah Hinata memerah, oh ayolah darimana Uchiha bungsu ini bisa berkata seperti itu? Apakah kepalanya terbentur?
" Terimakasih. Le-lebih baik kita segera kembali, bukankah kita akan pergi? " Balas Hinata pelan dan ditanggapi anggukan oleh Sasuke. Merekapun menemui Suigtsu, Karin dan Juugo. Sepertinya Suigetsu dan Karin sedang berkelahi, lihatlah bahkan mereka berdua tidak mau saling menatap. Bukannya mencoba berbaikan Suigetsu malah mendekati Hinata dan mulai bercerita tentang Karin yang selalu marah tidak jelas. Sayang sekali Suigetsu, sepertinya saat sampai dipenginapan kau akan mendapat balasan dari sang Uchiha yang tengah menahan amarah itu.
…
Kini Naruto dan yang lainnya telah sampai didesa yang diinformasikan oleh salah satu anbu yang tidak sengaja melihat Sasuke di desa itu.
" Jadi ini desanya? " Tanya Sakura pada Kakashi
Kakashi mengangguk, " Hn. Terakhir kali Sasuke terlihat didesa ini, semoga saja dia masih berada disini karena didesa sebelumnya dia sudah tidak ada. "
" Yoshh! Lalu bagaimana kita menemukannya? Apakah kita harus berpencar? " Tanya Naruto yang terlihat bersemangat.
" Kurasa itu ide yang bagus. Kakashi-sensei kau yang membagi kelompoknya. " Ujar Kiba
Kakashi mengangguk, dengan begitu mereka akan cepat menemukan informasi tentang Sasuke. Kelompok dibagi menjadi 3, dimana Kakashi, Neji dan Shikamaru akan menjadi 1 tim, Tim 7 dan Tim 8 yang beranggotakan Kiba dan Shino.
Mereka berpencar kedesa dan mencari informasi tentang Sasuke. Cukup banyak orang yang ditanya tetapi jawaban yang di dapat tetap sama mereka tidak tau sama sekali. Wajar saja mereka tidak tau, ini bukan desa Shinobi jadi mereka tidak terlalu memperhatikan orang.
Setelah dirasa cukup bertanya mereka berkumpul kembali ke tempat yang sudah Kakashi tentukan.
" Tidak ada. " Ucap Sakura pelan
" Iya, sepertinya memang tidak ada. " Tambah Kiba lagi, ia terduduk didekat akamaru.
Kakashi menghela nafas, " Tapi informasi tidak mungkin salah. "
Seorang pria tua melintas dihadapan mereka, seketika Naruto segera menghampiri pria itu dan bertanya hal yang serupa.
" Ah? Anak muda itu, sepertinya aku pernah melihatnya. " Jawab sang pria tua. Tak terpungkiri lagi jawaban itu berhasil membuat mereka kembali bersemangat.
" Benarkah? Dimana anda melihatnya? Apakah anda tau dia pergi kemana? Bisakah anda- "
BLLEETAAKK!
" Kiba ! tenanglah! " Ujar Sakura geram, sementara Kiba hanya mengelus kepalanya yang terasa sakit karena pukulan yang Sakura berikan.
Pria itu mengingat sesuatu, " Aku melihat terakhir kali mereka meninggalkan penginapan, dan pergi tapi aku tidak tau mereka akan kemana. " Jelas pria itu
" Terimakasih atas bantuannya, dan apa anda tau mereka pergi kearah mana? " Tanya Kakashi
Pria itu menunjuk kearah dimana Sasuke dan yang lainnya pergi. Setelah berterimakasih mereka segera pergi menuju arah tersebut.
" Aku akan segera membawa Sasuke kembali! " Ucap Naruto yakin.
Dilain sisi Sasuke dan lainnya tengah beristirahat karena hari mulai gelap terlebih lagi pasokan air mereka sudah hampir habis. Karena belum menemukan penginapan yang dituju terpaksa mereka harus menginap di hutan.
" Aku akan mengambil air untuk persedian kita. " Ujar Hinata pelan
" Hn, aku akan mengantarmu. " Ucap Sasuke cepat.
Hinata menatap Sasuke dengan pandangan panik, " Tidak! Tidak perlu, Sasuke-kun membantu Suigetsu saja. Dia akan mencari kayu bakar. "
" Kenapa tidak boleh? " Tanya Sasuke tajam, ia memandang mata bulan milik Hinata.
" Aku bukan anak kecil lagi, Sasuke-kun. " Jawab Hinata pelan, ia berusaha membalas tatapan yang Sasuke berikan untuknya. Ia tidak ingin bertengkar sekarang.
Sasuke mendengus kesal, " Tapi bagiku kau itu masih anak kecil. "
" Itukan hanya perasaan Sasuke-kun saja. " Balas Hinata lagi. Dari dulu seperti ini berdebat dengan Sasuke semakin memperpanjang masalah.
" Hoii, kami ada disini. Jangan berfikir bahwa dunia ini milik kalian berdua. " Suara Suigetsu menghentikan kegiatan debat antara Hinata dan Sasuke. Kini keduanya menatap kearah Suigetsu, berbeda dengan Hinata tatapan Sasuke sangat menakutkan.
" Berisik kau Suigetsu! "
" Sudahlah, Sasuke. " Ucap Hinata menenangkan Sasuke.
" Baiklah, kau berhati-hati. " ujar Sasuke pelan, tetapi sebelum pergi ia menghadiahkan Hinata ciuman dipipi mulus miliknya. Perlakuan Sasuke membuat Hinata harus menahan malu dan segera pergi mencari air.
Setelah terus berjalan mencari air menggunakan byakugan miliknya, akhirnya Hinata berhasil mendapatkan sumber air. Tinggal berjalan sedikit lagi ia akan bertemu sungai didepan sana.
Sungai ini cukup jernih bahkan bisa terlihat beberapa ikan yang sedang berenang disana. Hinata berinisiatif ingin mengambil ikan itu dan memaskanya.
Bahan-bahan yang diperlukan cukup mudah, hanya ikan, kayu, dan api. Tentang api ia tidak perlu khawatir bukankah Sasuke bisa dengan mudah menyalakan api? Nah sekarang dirinya harus berjuang mengambil ikan itu.
Hinata melirik sekitarnya mencari kayu untuk menusuk ikan tersebut, kedengaran kejam ya? Tapi itu lah satu-satunya cara untuk mendapatkan ikan tersebut. Dulu saat bersama tim 8, tugas menangkap ini selalu diberikan untuk Kiba.
" Kiba-kun ya? Bagaimana kabarnya sekarang? Apakah dia masih mengingatku? Dan bagaimana kabar Shino-kun? " Gumam Hinata pelan. Bayangan masa lalu terbesit di pikirannya. Hinata menggelengkan kepala.
" Jangan! Lupakan semua itu! " Ujar Hinata sambil mengetuk-ngetuk kepalanya pelan.
Gadis itu menghela nafas, ia kembali tersadar dan menghela nafas lagi saat barang yang dicarinya tidak ada disekitar. Mungkin niatnya untuk memasak harus gagal.
Hinata mengambil botol dan mengisi botol itu dengan air. Setelah dirasa penuh, jari miliknya segera menutup botol tersebut dan berdiri.
SREEKK!
Hinata berbalik kebelakang, tidak ada siapapun disana. Panik, itulah yang Hinata rasakan saat ini. Walaupun kemampuan bertarung miliknya sudah meningkat dan jauh lebih baik setelah bertemu Sasuke tapi hal itu tidak menutup kemungkinan dirinya untuk panik dan ketakutan.
Tanpa menunggu lagi Hinata mengaktifkan byakugannya. Ternyata tidak ada siapa-siapa disini, mungkin tadi hanya binatang yang tidak senga-
" Tunggu! Chakra ini! " Hinata menajamkan byakugannya. Tidak salah lagi, arah jam 12 ada 2 orang yang menuju kesini.
Tidak! Hinata tidak ketakutan , dia mengenal chakra milik orang ini. Walau terasa sedikit asing tapi dia tau dan sangat yakin pemilik chakra ini.
" Ne-neji-nii " Gumam Hinata pelan. Tidak ada pilihan lagi selain melarikan diri, tapi kenapa Neji bisa sampai disini? Tapi jika kembali ketempat Sasuke bukankah akan lebih merepotkan.
Tanpa diberitahu, Hinata yakin bahwa Neji pasti bersama Naruto dan yang lainnya. Jika Hinata kembali artinya Neji akan membawa Sasuke dan dirinya pulang. Bukan Hinata tak ingin pulang, hanya saja ia yakin bahwa Sasuke akan menolak mentah-mentah ajakan itu.
Dirinya tidak mau terjadi perkelahian, dia tidak ingin melukai teman-temannya. Hinata merutuki diri sendiri yang terlalu lamban berfikir, dia mendecih kesal dan hendak berlari menuju arah yang berbeda dari tempat istirahat mereka.
" HINATA-SAMA! " Sayang sekali, hari ini Hinata harus bersabar karena keberuntungan sedang tak berpihak dengannya dan berterimakasih pada otaknya yang sedikit lamban untuk merespon dan bertindak cepat.
Dia tau sekarang Neji sepupunya sedang berdiri dibelakang, bersama seseorang. Hinata juga tau chakra ini, tapi dia sedikit lupa dengan pemilik chakra ini. Hati hinata bergejolak, apa yang harus ia lakukan?
Apakah dengan berlari Hinata bisa menghindar dari Neji? Tapi Hinata tidak sebodoh itu, dia tau Neji sudah pasti banyak belajar jurus dan akan mudah menemukannya. Hinata mengumpat kesal, jika saja dia lebih cepat maka-
" Hiashi-sama menginginkanmu pulang! "
DEG.
Hinata terdiam, jantungnya seolah berhenti. Nama itu, Hinata tidak suka nama itu. Walau dia pernah berkata pada Sasuke bahwa dia tau Tou-sannya baik dan perhatian, tapi didalam hati Hinata semua terasa berbeda.
Dengan gerakan patah-patah ia menoleh kebelakang dan mandapati Neji bersama Shikamaru. Tatapan Neji tak bisa berpaling dari Hinata, ia sangat merindukan sepupunya ini. Bahkan tanpa disadarinya dirinya tengah memeluk Hinata sekarang.
" Kami merindukanmu, Hinata-sama! " Bisik Neji pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya menyalurkan rasa rindu dihatinya yang tak bisa dibendung. Hinata terdiam, ia hanya bingung untuk bereaksi seperti apa.
Pelukan ini terjadi begitu saja, sejujurnya Hinata senang bahkan sangat senang saat Neji memeluknya. Hinata juga merindukan Neji dan semuanya, jika dilihat lebih detail kita akan melihat mata Hinata sedang berkaca-kaca.
" Kembalilah bersama kami. "
DEG!
Hinata melepaskan pelukan Neji, " Ma-maaf aku tidak bisa. "
Neji terdiam menatap Hinata, pandangannya seolah menyiratkan ketidak percayaan akan ucapan yang Hinata berikan. Neji tidak tuli, kan?
" Apa maksudmu, Hinata? " Kini Shikamaru yang berbicara. Pria berambut nanas itu melangkah mendekati Neji dan Hinata. Dia menatap mata sepupu Neji ini dengan pandangan meminta penjelasan.
Hinata diam. Dia belum siap dengan semua ini, apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus menjelaskan semuanya? Apa dia harus bercerita bahwa dia akan menemani Sasuke menemui Itachi? Tidak itu adalah ide yang bodoh!
" Maafkan aku, tapi ini memang pilihanku. Aku tidak akan kembali lagi Shikamaru-san. " Balas Hinata yakin. Tak ada nada gugup di setiap perkataannya, bahkan Neji dan Shikamaru hampir tak percaya bahwa yang dihadapannya ini Hinata.
" Semua orang menyayangimu, mereka menunggumu pulang. Bahkan kami terus mencarimu saat mengetahui kau diculik. " Ujar Shikamaru, Hinata sempat terkejut mendengar hal tersebut.
" Kau tau? Semua orang mencarimu, bahkan clan Hyuuga juga mengeluarkan bawahannya untuk mencarimu. Kami semua mencemaskanmu. " Tambah Shikamaru. Hinata sempat terbuai dengan ucapan Shikamaru, hati kecilnya berteriak ingin menyetujui untuk ikut pulang bersama Konoha.
Tapi tidak bisa! Dia tidak bisa meninggalkan Sasuke dan yang lainnya. Lagi pula Hinata sudah berbeda sekarang, dia bukan Hinata yang dulu lagi. Jika semua orang mengetahui tanda dilehernya ini, pasti semua akan mencaci maki dan menjauh darinya. Setidaknya itulah yang Hinata pikirkan.
" Aku tetap tidak bisa. Maaf lagi pula aku bukan Hinata yang dulu lagi. " Ujar Hinata. Neji dan Shikamaru memandang Hinata heran. Apa maksud perkataan gadis itu?
" Jangan sampai kami menggunakan kekerasan, Hinata! "
" Tidak ada yang boleh membawa Hinata pergi! "
Suara dingin dan tajam itu muncul dari belakang Hinata. Mereka bertiga menoleh dan mendapati Sasuke yang sedang menatap kearah Neji dan Shikamaru.
" Sa-sasuke! " Ujar Neji dan Shikamaru yang terkejut dengan kedatangan Sasuke.
" Sasuke-kun! " Hinata tidak percaya ini. Kenapa Sasuke harus datang? Padahal dia tidak mau Neji dan Shikamaru tau jika dia bersama Hinata.
Pemuda bermarga Uchiha itu berjalan mendekat, ia menarik tangan Hinata kebelakang punggungnya. Sasuke menjaga jarak antara dirinya dengan Neji dan Shikamaru, sementara Hinata harus berada di belakang Sasuke dengan pandangan sedikit takut.
" Apa yang kau lakukan, Sasuke! " Ucap Neji tak terima melihat Sasuke yang dengan seenaknya menarik Hinata.
" Apa mau kalian kesini? Membujukku untuk kembali? Tidak! Aku tetap tidak akan menerima tawaran kalian! " Balas Sasuke dingin.
Neji mendecih kesal dan mendatap tajam kearah Sasuke, jika saja tangannya tidak ditaham dengan Shikamaru bisa dipastikan dia sudah bertarung melwan Sasuke.
" Iya, misi kami memang membawamu kembali. Jika hal itu tidak bisa kami lakukan maka Naruto yang akan melakukannya tapi- "
" Jadi kalian bersama si Naruto itu, huh? Walaupun harus bertarung aku tidak akan mau! " Potong Sasuke
Shikamaru menghela nafas, " Terserah. Tapi selain itu kami juga ingin membawa Hinata kembali ke Konoha. Dan itu akan kami lakukan tanpa persetujuan darimu. "
" Tch. Aku tidak akan mengizinkan Hinata ikut dengan kalian! "
" Kenapa! Apa kau membuat Hinata-sama menjadi budakmu ? Aku tidak akan membiarkan hal itu! " Ujar Neji tajam
" Lancang sekali kau! Walaupun aku juga harus bertarung denganmu agar Hinata tidak pergi akan aku lakukan! " balas Sasuke tak mau kalah.
Hinata memegang lengan Sasuke erat dan membuat pria itu menoleh kearahnya. Pandangan Sasuke menyiratkan tanda tak suka saat Hinata mencoba memanggilnya.
" Kumohon jangan berkelahi, aku akan berbicara dengan Neji-nii. "
" Aku akan i- "
" Tidak! Hanya kami berdua. Tolong beri aku waktu 10 menit untuk berbicara dengannya. " Ucap Hinata pelan, ia menatap memohon kearah Sasuke. Jika sudah begini Sasuke yang dingin tidak akan bisa menolaknya.
" Baiklah, hanya 10 menit. " Ucap Sasuke datar walaupun dihatinya perasaan takut jika Hinata pergi meninggalkannya dan lebih memilih Neji sangat besar.
Hinata berjalan meninggalkan Sasuke dan beralih ke arah Neji. Gadis itu menatap singkat dan menghela nafas pelan.
" Nii-san, aku ingin kita bicara sebentar dan hanya berdua. " Ucap Hinata pelan. Neji awalnya tak mengerti dan sedikit ragu tetapi beribu pertanyaan sedang muncul dalam benaknya. " Baiklah, Shikamaru tunggu disini aku akan berbicara sebentar. " Ucap Neji dan dibalas anggukan oleh pria berambut nanas itu.
Mereka berdua memasuki hutan dan menjauh dari tempat awal. Hanya mereka berdua tanpa ditemani Sasuke maupun Shikamaru. Saat ini hening mendominasi, hanya ada suara sungai mengalir dan angina malam.
Agar tidak pegal, keduanya memilih untuk duduk dibatu yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sasuke tidak akan mau berdekatan dengan Shikamaru biarpun dia teman akademinya dulu.
Saat ini hati Sasuke sedang gusar memikirkan keadaan Hinata dan Neji. Dan akhirnya Sasuke tenggelam dalam fikirannya meninggalkan Shikamaru yang menghela nafas bosan dan lebih memilih melempar kerikil batu kearah sungai.
Waktu bagi Neji dan Hinata berbicara telah habis. Sasuke berdiri dan berniat menyusul Hinata, namun dia terhenti karena melihat Neji dan Hinata kembali. Jantung Sasuke berdegup kencang apa yang akan Hinata katakan?
Kedua Hyuuga itu saling bertukar pandang, Hinata tersenyum lembut kearah Neji dan Neji hanya membalas seadanya walau terbesit rasa tak rela dihatinya. Keduanya berpisah dan kembali bersama patnernya.
" Bagaimana? Apa dia akan ikut kita? " Tanya Shikamaru pada Neji yang tengah menunduk.
" Tidak. Lebih baik kita segera kembali, aku tidak mau Naruto mengetahui hal ini dan membuat keributan. " Ujar Neji pelan. Shikamaru terkejut, dia tidak menyangka Neji akan membiarkan Hinata bersama Sasuke. Tapi dia tidak akan mendesak Neji, apapun itu pasti mempunyai alasan yang sangat kuat.
" Baiklah. " Shikamaru mengalah dan berjalan mendahului Neji. Saat ia akan pergi menyusul Shikamaru sesaat dirinya mengalihkan pandangan pada Sasuke dan Hinata yang tengah memandangnya.
" Hoii Sasuke! Jagalah Hinata-sama dengan baik. Jangan kau buat dia menangis atau kau akan mendapatkan pembalasan yang menyakitkan. " Ucap Neji dingin disertai pandangan Tajam kearah Sasuke.
Sasuke mendecih, " Tanpa kau suruh aku akan menjaganya! Sudah sana pergi! Dan jangan sampai memberitahu lokasi kami! Aku dan Hinata akan segera pergi agar kau tak bisa menemui Hinata lagi. " Balas Sasuke tak kalah tajam. Neji tak memperdulikan perkataan Sasuke, dia melunakan pandangannya dan sedikit tersenyum kearah Hinata.
" Hinata-sama, kau harus menepati janjimu. Berhati-hatilah dengan bocah Uchiha itu. Jika kau kesepian kembalilah ke Konoha, Clan sangat menyayangimu terutama Hiashi-sam.. "
" Hoi! Sana pergi! Hinata tidak akan kesepian, dia akan bersamaku selamanya! Persetan dengan Clan! Aku tidak mau dia tersakiti hanya karena aturan bodoh itu. " Ujar Sasuke dingin, entah kenapa kata-kata itu langsung keluar saat Neji menyuruh Hinata pulang.
Sasuke merasa tarikan di bajunya, ia melihat wajah Hinata yang memerah menggeleng pelan seakaan menyuruh Sasuke untuk tidak berbicara lagi.
" Aku pegang kata-katamu Uchiha! Sampai Nanti " Neji berlalu meninggalkan Sasuke dan Hinata di tepi Sungai. Sasuke bersumpah dia dapat melihat seringai Neji yang mengarah untuknya. Apa-apaan seringaian itu?
" Ayo pulang " Ujak Hinata, ia menggenggam tangan Sasuke dan menariknya pelan. Sepanjang perjalanan hanya hening mendominasi, tapi genggaman itu tidak lepas. Sasuke menghentikan langkahnya.
" Kenapa memilihku? " Tanya Sasuke pelan, Hinata terdiam dan memandang Sasuke. Sedetik kemudian dia tersenyum kearah Sasuke.
" Karena bersama Sasuke-kun aku yakin akan bahagia. Sasuke-kun selalu ada disisiku dan berjanji menikah denganku bukan? Aku tau Sasuke-kun sangat mencintaiku jadi aku tidak akan meninggalkanmu. " Jelas Hinata dengan senyum diwajahnya. Sasuke terdiam dan terpesona dengan senyuman Hinata.
Tak berapa lama ia ikut tersenyum cukup lama dan membuat Hinata dapat melihatnya, sayang sekali saat Hinata melihat senyuman itu memudar dan tergantikan dengan Sasuke yang menariknya masih dengan bergandengan tangan.
" Kau tersenyum ? "
" Tidak? "
" Lalu tadi? "
" Apa? Aku tidak melakukan apapun. "
" Kau tersenyum, Sasuke-kun! Dan itu sangat tampan! " Hinata berucap dengan mata yang berbinar dan sangat dekat dengan Sasuke.
BLUSH!
" A-aku bilang diam! " Bentak Sasuke, wajah putih miliknya memerah melihat wajah Hinata yang dekat dengannya.
" Wajahmu memerah, apa kau demam? "
" Diam atau aku akan menciummu! "
BLUSH.
Kali ini wajah Hinatalah yang memerah karena perkataan Sasuke. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam dengan wajah yang memerah dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Mereka tampak bahagia dan semoga saja semua kebahagiaan yang mereka rencanakan berhasil.
Ya, semoga saja.
...
Yoo~ Whazzap? Author nggak akan ceramah kok hari ini karena kuotanya sudah mau habis jadi Author ga bisa ceramah :" . Tetap support dan dukung cerita ini ya :'D, Author berharap gak ada yang copy paste ini cerita tanpa izin dari Author apalagi kalau dia ngaku ini cerita buatan dia sendiri :"D. Oke, chap depan mungkin cwenya udah bakal muncul jadi tetap baca ya hehehe.
RnR maybe?
