CHAPTER X

"DARK SIDE"


Mata dengan permata biru itu membuka, "Hah... hey Babytooth," ucap Jack lembut, ia mengelus kepala Babytooth dengan ujung jari telunjuknya, "kamu baik-baik saja?"

Peri kecil itu langsung mengadah menatap Jack, wajah sedihnya perlahan-lahan berubah gembira. Ia terbang mendekati wajah Jack sambil menangis terharu bercampur lega, ia sangat bersyukur, pria itu telah bangun dan wajahnya kembali cerah.

Babytooth menepatkan dirinya di atas telapak tangan Jack yang diulurkannya, "Maaf telah membuatmu khawatir, Babytooth," Jack menghapus bekas air mata di pipi peri kecil itu, dan di sudut matanya yang masih menggenang dengan ibu jari, "aku harap kamu baik-baik saja."

Babytooth berkicau pelan seraya menyentuh ibu jari Jack dan tersenyum lembut, merasa senang bahwa Jack juga baik-baik saja.

Jack berdiri tegap seraya berkata dengan suara tegas, "Ayo kita selesaikan tugas kita, Babytooth! Kali ini tidak akan kubiarkan dia mempengaruhiku!"

Peri kecil itu mengangguk, ia terbang di dekat Jack, rasa takut yang melandanya sebelumnya tidak lagi ia rasakan. Ia juga harus berani demi Jack agar tidak selalu dikhawatirkan olehnya. Babytooth memeriksa sekeliling dan tidak menemukan burung indah misterius itu. Akan tetapi, mata biru dan ungu-nya menangkap sesuatu yang lain di atas aspal di hadapan Jack—tempat di mana sebelumnya gagak yang dijatuhkan Jack terbaring kaku—dan berkicau memanggilnya.

"Ada apa, Babytooth?" tanya Jack seraya melihat arah yang ditunjuk oleh peri kecil itu.

Jack melihat sebuah simbol berbentuk kipas yang bersinar kuning temaram dengan buliran cahaya kecil berwarna-warni mengitari simbol itu.

"Jangan lupa, Jack!"

Terhenyak dari tempat berdirinya, Jack spontan memegang kepalanya karena ada gemaan suara yang melintas di benaknya. Ia ingat suara itu, suara yang ada di dalam mimpinya; "Suara" yang berbicara dengan hembusan angin hangatnya. Jack memandang lekat simbol itu dan seolah dituntun, ia mendekatinya—menggenggam tongkat kayunya seerat mungkin karena gugup—kemudian ia menghantamkan pangkal tongkatnya di atas simbol sembari melepaskan sihir bekunya yang berkilat keperakan. Sihir Jack dengan seketika terhempas ke seluruh penjuru Desa Niagara On The Lake sampai ke Danau Ontario, menembus ke dalam bangunan dan rumah, dan menelusup ke dalam rimbunnya pepohonan dan rerumputan. Menyebarkan hawa dingin bersama buliran cahaya penuh warna ke setiap bentangan sihir Jack. Kemudian cahaya sihirnya berpedar dan menciptakan tombak cahaya yang membumbung melewati tingginya bangunan dan pohon-pohon. Jack mendengar kepakan-kepakan sayap yang merongrong angkasa dengan liar disertai suara koak-koakan yang melengking akibat cahayanya.

Jack mengangkat tongkatnya dengan mantap, sementara cahaya sihir bekunya memudar. Ia memandangi angkasa dengan tajam yang sekarang dipenuhi oleh ratusan gagak berdada abu-abu. Gagak-gagak itu menatap balik Jack dengan mata merah mereka yang berkilat. Mereka berkumpul dan mengeluarkan koak-kan penuh amarah, dan bersiap untuk menyerang balik.

"Babytooth, menunduk dan berpeganganlah dengan erat! Aku akan menyelesaikannya dengan cepat!" Dengan segera Babytooth menuruti kata-kata Jack.

Menatap langit, mata Jack memercik tanpa gentar. Ia bersiap-siap dengan serangan dari gagak-gagak itu. Salah satunya datang menerjang dan disusul dengan yang lainnya. Mereka membentuk formasi seperti tombak hitam raksasa, meliuk-liuk di angkasa untuk mendapatkan terobosan kuat dari sayap-sayap mereka. Kilatan cahaya mata merah mereka memanjang seiring kecepatan sayap mereka membelah udara. Jack membentuk kuda-kudanya dengan membuka kedua kakinya, bersiap untuk melepaskan kekuatan sihirnya untuk menghadapi gagak-gagak yang dipenuhi oleh nafsu membunuh.

Jack sangat tahu pasti banyaknya makhluk-makhluk itu datang untuk menerjangnya, tapi ia tidak merasa takut seolah ada kekuatan kasatmata yang menyokong punggungnya—menyusup dari dasar hatinya terasa menenangkannya.

Jangan lupa, Jack! Kamu tidak sendirian!

Kata-kata itu berkali-kali menggema di benak Jack. Lalu percikan cahaya keperakan timbul dari seluruh permukaan tongkatnya, kemudian ia menembakkan sihir yang terpusat dari tongkatnya itu ke arah para gagak. Hantaman sihir Jack seketika membekukan mereka menyusul ledakan dan dentuman-dentuman yang membahana, menghempaskan kepingan-kepingan tubuh mereka ke segala arah, yang kemudian berubah menjadi serpihan debu. Jack menunduk, melindungi pandangannya serta Babytooth dari cahaya ledakan dan hempasan udara dingin yang merongrong mengenai dirinya. Ia memastikan teman kecilnya terlindung di balik tudung di dekat lehernya, juga perlindungan ekstra dengan telapak tangannya di sana. Ia merasakan getaran di bawah kakinya, derakan-derakan pepohonan yang menyebabkan salju berjatuhan, serta gesekan udara menerpa bangunan dan rumah.

Sesaat kemudian udara dingin yang terhempas perlahan mulai mereda menjadi desiran lembut. Jack memandangi langit, serpihan debu dari para gagak yang ia hancurkan menghilang seiring dengan percikan-percikan cahaya sihirnya. Mata birunya yang bersinar indah itu melihat buliran cahaya pelangi di angkasa yang dengan perlahan meredup, kemudian menghilang. Senyuman merekah di bibir Jack, ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan lembut, merasakan kelegaan.

Jack ingat perasaan lega itu, perasaan yang pernah ia rasakan ketika ia berkunjung ke Rainbow Gallery dan melihat lukisan yang menggetarkan hatinya. Sungguh perasaan yang menenangkan yang tidak dapat diungkap dengan kata-kata. "Aku tidak sendirian!" Jack menutup matanya sembari membentangkan kedua tangannya, menikmati semilir angin yang menyapanya dengan lembut.

"Mamaaaa!" teriak anak laki-laki di sebuah rumah tidak jauh di mana Jack berdiri, "Jack Frost membuat salju di kamarku dan... dan ini luar biasa indah!" anak itu terlihat gembira melihat salju bertebaran di kamarnya yang datang dari sisa-sisa sihir Jack.

Sang ibu tertawa geli, "Okay sayang, pergilah mandi, bersiap-siaplah untuk ke sekolah," sang ibu berteriak diiringi tawa melihat anaknya yang heboh dipagi hari.

"Okay, Mama," jawab si anak bersemangat, "aku harus menceritakannya pada teman-teman, mereka pasti iri denganku nantinya."

Jack tertawa lebar mendengar semangat anak laki-laki itu bersama Babytooth yang terbang di sampingnya. Jelas ia tidak bermaksud begitu, tapi ia tetap senang. Kamu ada untuk mereka! Melindungi mereka! Jack berdengus tertawa teringat dengan kata-kata itu. Sekarang teman-temannya pasti sedang berjuang, seperti halnya yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Ketika dirinya bukanlah siapa-siapa; dirinya yang hanyalah Jack Frost Si Pengacau nakal sampai pada akhirnya ia dipilih menjadi seorang Guardian. Kamu ada untuk mereka! Membantu mereka! Sesuatu bergejolak di dasar hatinya, menggetarkan dadanya, rasanya sesak tidak tertahankan—begitu menggebu-gebu, tapi sangat menyenangkan dan hangat. Seluruh gejolak dan perasaan yang dirasakannya membuncah dalam wujud air bening yang muncul di sudut matanya, membentuk anak sungai di atas pipinya yang merona, kemudian bermuara di rahangnya, hingga akhirnya menetes menerima tarikan gravitasi.

"Apa yang membuatmu selama ini berpikir bahwa kamu sendirian, Jack Frost?" Jack tersenyum bergetar, mengulang kembali kata-kata Sang Suara yang ada di dalam mimpinya, "eh?!" terkejut dengan sesuatu yang hangat mengalir dipipinya.

Jari-jemarinya gemetar ketika ia mengusapnya; pipinya basah oleh air mata. Jack tertegun, sudah sangat lama ia tidak menangis, sangat lama ia tidak melihat air matanya karena terakhir kali ia melihatnya, air mata itu selalu membeku menjadi buliran es. Ia selalu bertanya-tanya kenapa hal itu bisa terjadi, pada akhirnya ia tidak menemukan jawabannya, hingga ia memutuskan untuk tidak menangis lagi. Tapi saat ini, air mata itu tidak membeku. Kenapa? Ketika emosinya memuncak dan ia menangis, air matanya selalu membeku, dan sekarang... sekarang air matanya tidak membeku! Selama ini perasaannya yang tidak tertahankan hingga menyakitkan adalah saat ia sedang bersedih hati, selalu saat hatinya diselimuti oleh kesedihan. Apakah berbeda jika ia diselimuti oleh kehangatan yang tidak terbendung hingga air matanya mengalir dengan normal? Ia menumpahkannya dengan rasa bahagia. Air mata yang mewakili perasaannya itu tertumpah dengan sendirinya dalam wujud air mata kebahagiaan.

Ia tertawa ringan hingga berubah menjadi tawa yang menggema dengan kegembiraan. Inilah jawaban yang ia cari selama ini, air matanya yang berubah menjadi buliran es adalah wujud kesedihannya. Tapi sekarang ia bahagia, ia gembira!

Dengan lembut Jack menangkap Babytooth dan berteriak senang, "Babytooth! Akhirnya aku tahu alasannya, aku menemukan jawabannya! Semuanya karena diriku, perasaanku!" ia berputar-berputar layaknya anak kecil yang kegirangan ditempatnya berdiri, "Oh..., akhirnya Babytooth, akhirnya aku tahu!"

Babytooth tertawa, ikut terbawa emosi Jack—roh musim dingin itu tertawa lebar. Senyum menawan Jack membuatnya lega, Jack temannya sudah kembali seperti semula, tertawa dan bergembira. Roh musim dingin—Jack Frost—seharusnya memang seperti itu.

Jack berhenti berputar dan tersenyum, "Ayo Babytooth, tugas kita sudah selesai di sini!" ia menghentakan tubuhnya ke udara, bersemangat untuk melanjutkan tugasnya yang tertunda, "dan sekarang kita akan melakukannya tanpa sungkan!" ia terbang dengan gesit diikuti oleh Babytooth di belakangnya.

Di sebuah pohon, sepasang mata merah bersinar dengan cermerlang di bawah tombak-tombak cahaya yang menembus di sela-sela dahan dan dedaunan. Seekor burung besar bertengger di salah satu bahunya dengan jambul seperti kipas berwarna keemasan diujungnya. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya.

Burgess, Pennsylvania, United States 20:16 A.M.. Malam ini cukup dingin dan berangin, tapi hal itu tidak mematahkan tekad Jamie untuk melakukan niatnya. Dengan berat ia menghembuskan nafas sehingga mengaburkan kaca jendela ketika ia memandang keluar rumah. Malam sudah menyelimuti dan berganti dengan cahaya-cahaya keemasan lampu-lampu kota. Ia berbalik dari jendela, memasang rompi kesayangannya, dan topi yang selalu diingatkan oleh ibunya untuk ia pakai. Perasaannya diselimuti kesedihan, ia memandangi benda itu agak lama, lalu memakainya ke kepalanya dengan mata berkaca-kaca. Kenapa di saat seperti ini ia ingat untuk memakai topi itu, biasanya ia sering kali melupakannya?

Jamie menyandang ransel berisi barang-barang yang diperlukannya, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Ia melihat kamar adiknya yang berada samping kamarnya, Sophie membalas balik memandangi Jamie dengan memelas sedih bersama Abbey si anjing greyhound. Jamie tidak ingin mengajak Sophie, tapi ketika ia ingat akan ibunya mungkin adiknya sama kesepian dan ketakutannya kalau sendirian, pada akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Sophie. Jamie menggandeng adiknya dan menuruni tangga pelan-pelan. Ia mengintip ke ruang ibunya yang sibuk dengan pekerjaannya di komputer.

Dengan hati-hati, Jamie memutar knop pintu dan keluar dari rumah bersama dengan adiknya. Tiba-tiba dikagetkan oleh keberadaan Abbey yang ikut mengendap-ngendap di belakangnya hingga tiba di pintu keluar. Seperti biasa anjing itu penuh semangat, mengeluskan kepalanya di kaki Jamie.

"Abbey, kamu ingin ikut?" bisik Jamie.

Tapi, dengan segera Jamie menutup mulut Abbey ketika anjing itu hendak menjawab dengan gonggongan. "Shhh..., ok, ok, kamu ikut!" Jamie tersenyum, hampir saja ia ketahuan.

Jamie menutup pintu sepelan mungkin kemudian berlari menjauhi rumah sambil menggandeng Sophie dan Abbey berlari di belakang mereka. Setelah jauh dari rumah, ia berhenti sesaat untuk memandangi rumah megah di dekat bukit kecil di tepian hutan. Udara dingin dan menusuk memenuhi paru-parunya, uap hangat keluar dari mulutnya ketika ia menghambuskan napas. Kesedihan tampak di raut wajahnya, ia tahu apa yang ia lakukan ini tidak baik, hanya saja ia merasakan ada sesuatu yang salah, suatu perasaan ngeri hingga membuatnya merinding. Bukan hanya masalah orang tuanya saja, tapi di sekelilingnya.

Jamie masih memandangi bangunan megah di tepi hutan itu, bibirnya gemetar dan berbisik lirih, "Maafkan aku, Aurora," matanya mulai berkaca-kaca lagi. Kemudian ia dan adiknya pergi meninggalkan tempat itu, dengan Abbey mengikuti mereka.

Pippa bergelung di bawah selimutnya, memicingkan mata menahan air matanya untuk tidak tumpah lagi, sudah berapa kali ia menangis dalam diam? Pippa tersentak begitu mendengar suara di jendela; seperti dilempari sesuatu. Ia keluar dari selimutnya dan segera mendekati jendela. Di dalam hati ia mengetahui siapa yang membuat suara itu.

"Mau ikut dengan kami?" tanya Jamie mendongak memandang Pippa dengan penuh keyakinan.

Pippa mengangguk sebagai balasan atas pertanyaan Jamie, ia telah diberitahu oleh Jamie, dan menyetujui rencananya hingga ia sudah bersiap-siap mengepak sedikit makanan dan pakaian yang bisa muat diranselnya. Ia menjatuhkan ranselnya melalui jendela yang langsung ditangkap oleh Jamie, kemudian ia menyelinap melewati kamar orang tuanya. Sang ibu tampak menelepon dengan seseorang mengenai kemerosotan penghasilan kantornya, dan ayahnya tampak suntuk di depan laptop. Pippa sangat menyayangi orang tuanya, ia juga merasakan hal yang dirasakan oleh Jamie dan teman-temannya yang lain. Kengerian berada di sekelilingnya. Keputusannya ini kemungkinan akan menyakiti mereka, ia ingin bergegas pergi sebelum pikirannya berubah.

"Maaf, ayah... ibu," bisiknya sedih.

Begitu ia berada di luar, ia melihat Monty sudah bersama dengan Jamie, Sophie, dan Abbey si anjing. Ia menerima tas ranselnya yang disodorkan padanya. Pippa langsung menyandangnya.

"Kita akan ke mana, Jamie?" tanya Pippa cemas.

"Jamie, aku ketakutan, aku... aku rasa... ini bukan ide yang bagus...," Monty jauh lebih cemas dan gemetaran, jelas bukan karena cuaca dingin.

Jamie menatap Monty dengan tegas dan yakin, "Monty, aku tahu kamu ketakutan, tapi tidakkah kamu merasakannya juga. Rasa sesak yang mencekik dan tatapan yang mengawasi di rumah kita, aku tidak tahu pasti, tapi itu mengerikan...," ia melihat ke sekeliling dengan gelisah, "aku merasakannya, kalian merasakannya!"

Monty menelan ludah dengan berat, matanya menyiratkan kecemasan dan ketakutan yang tidak bisa ditutupi. Pippa berusaha tegar meskipun ia tahu jauh di dalam dirinya ia juga merasa diawasi dan sesuatu yang membuatnya sesak itu, bisa jadi itu hal yang mengerikan.

"Ayo kita pergi dari sini!" Jamie mulai berlari, "mungkin Caleb, Claude, dan Cupcake sudah di tempat yang kami janjikan untuk bertemu," sambil mengandeng adiknya, Jamie berdoa ia bisa bertemu dengan Jack, tapi ia tahu kalau Jack tidak bisa menemui mereka sekarang. Jack tidak akan bisa membantunya dalam masalah ini—ibunya, dan orang tua teman-temannya—tapi hatinya tetap berharap. "Jack, aku harap kamu ada disini."

Monty dan Pippa semakin sedih dengan harapan yang diucapkan oleh Jamie, yang tahu pasti itu mungkin saja tidak akan terkabul. Mereka tahu kalau Jack sangat sibuk saat ini dan lagi pula Jack sudah bermain dengan mereka beberapa hari sebelumnya. Ia hanya menyempatkan diri untuk bertemu dan bermain dengan mereka, dan kemudian Jack akan menjalani tugasnya lagi sebagai guardian.

Setibanya mereka dititik pertemuan, teman-teman Jamie yang lain keluar dari pohon tempat mereka bersembunyi agar tidak ditemukan oleh orang dewasa. Caleb, Claude, dan Cupcake juga membawa pelangkapan mereka dengan ransel dan pakaian hangat melekat di tubuh mereka.

"Guys..., aku kira kalian tidak akan datang," Jamie berlari kecil mendekati kumpulan teman-temannya itu.

"Aku tidak mau lagi berdiam di rumah, rasanya sangat menyesakkan dan terasa ngeri," kata Cupcake tanpa basa-basi, tapi ada nada cemas dalam setiap ucapannya. "Ditambah lagi orang tuaku tiba-tiba jadi uring-uringan, mereka akhir-akhir ini jadi cepat marah."

"Orangtua kami juga. Mereka sering bertengkar," kata Caleb pelan dan sedih, "aku tidak tahu apa yang mereka pertengkarkan, padahal dulu mereka sangat akur."

"Aku rasa mereka bertengkar mengenai hubungan rahasia. Aku tidak tahu apa maksudnya itu, tapi ibu mengatakan kalau itu cuma salah paham," Claude menggeleng, "dan sekarang ayah masih marah pada ibu, begitu pula dengan ibu."

Jamie mendengarkan cerita teman-temannya dan berkata, "Ayo, kita bisa bercerita sambil berjalan ke tempat yang aku rencanakan untuk kita tempati."

Jamie dan Monty mengeluarkan senter dari tas mereka, berjalan menyelusuri hutan bersama-sama. Suasananya sangat kelam karena bulan tertutup awan dan udara dingin yang menggigit, tapi mereka sudah mengambil keputusan yang mungkin saja akan mengecewakan orang-orang yang mereka sayangi. Akan tetapi, perasaan ngeri serta masalah orang tua mereka itu telah bercokol di hati mereka, hingga cukup membuat mereka tidak berbalik dan kembali ke rumah. Keheningan menyelimuti mereka, yang terdengar hanya suara sepatu-sepatu kecil yang menapak di permukaan salju.

"Bagaimana dengan orang tuamu Pippa, Monty?" tanya Cupcake pelan memecah keheningan, ia mengapit boneka unicorn besarnya di depan dadanya.

Pippa menggeleng dan berkata lirih, tapi tetap terdengar oleh teman-temannya, "Tidak ada yang berubah, mereka masih disibukkan oleh pekerjaan. Katanya usaha mereka sedang di ambang kebangkrutan, tapi kata ayah ia sedang berusaha untuk mengembalikan pendapatan usahanya. Ibu lebih muram dan kelelahan karena membantu ayah sebisanya," Pippa menatap Cupcake, "terkadang hal itu memicu pertengkaran di antara mereka."

Monty memandangi Pippa dengan prihatin, "Ibuku cepat kelelahan karena kerja lembur, dan ayah... kata ibu... baru dimarahi oleh bosnya dan diancam dipecat. Pokoknya soal pekerjaan dan ibu mengatakan kalau aku harus mengerti situasi ayah, sebab biasanya aku selalu mengajak ayah bermain jika ada waktu luang," Monty menatap kakinya menginjak salju.

"Sepertinya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali mungkin masalah ayahmu," ucap Jamie, ia menoleh ke arah Monty, "apa yang membuatmu mengambil keputusan ini, Monty?"

Bocah berkacamata itu gugup dan gelisah, kemudian berkata dengan suara gemetar, "Alasannya sama denganmu, Jamie... sama dengan kalian semua."

Semuanya langsung mengerti perkataan Monty, perasaan diawasi yang membuat merinding serta keadaan rumah yang tidak senyaman dahulu. Orang tua yang sibuk dan emosi yang tidak menentu hingga hati mereka terluka dan pilu. Meskipun anak-anak itu bisa mengerti, harus mengerti keadaan orang tua mereka. Anak-anak itu melihat orang tua mereka yang terluka karena pekerjaan yang berantakan, tubuh mereka yang kelelahan, lesu, dan perasaan yang sensitif. Sehingga semakin lama anak-anak itu mengalami suasana itu, hati mereka mulai gelisah, kesedihan mulai merambat, dan kengerian mulai merayap di sekeliling mereka. Takut! Sedih!

"Jamie," ucap Monty lirih, tampak ketakutan di tengah remah-remah cahaya senter, "apakah menurutmu, Pitch Black telah kembali?"

Pertanyaan Monty menyontak kelima anak itu, nama yang pernah mereka dengar setahun lalu, Pitch Black atau dikenal sebagai Boogeyman si pembawa mimpi buruk. Ke lima anak itu membiarkan pertanyaan Monty menggantung, hanya ada keheningan yang memekakan, mereka bahkan berhenti berjalan hanya karena pertanyaan sederhana dari Monty; menatap Monty dengan ngeri serta perasaan takut.

"Ke... kenapa kalian..."

Sebelum kalimat Monty selesai, sebuah suara terdengar di salah satu pohon, mereka semua tersontak bukan kepalang. Monty dengan cepat memeluk Jamie yang saat itu juga dengan sigap mendekap adiknya, Caleb dan Claude berpegangan tangan saling menguatkan dengan rasa takut di hati mereka, Pippa dengan tangkas mendekap Cupcake yang memeluk boneka unicorn besarnya seolah-olah benda itu akan terbelah menjadi dua. Ketakutan terukir di wajah mereka, tapi dengan keberanian yang dipaksakan Jamie menyenter ke arah asal suara yang tepat berada di atas pohon tidak jauh dari mereka. Abbey menggeram dalam memandangi kegelapan yang tepat berada di garis depan semua anak-anak, bersiap untuk menerjang kalau itu merupakan ancaman.

Ketika cahaya senter Jamie menangkap sosok yang telah membuat suara itu, perasaan lega menyelimutinya ketika ia tahu makhluk apa yang telah mengagetkan dan membuat mereka hampir kehilangan jantung.

"Tidak apa-apa, guys, itu hanya seekor gagak," katanya lega.

Teman-temannya ikut lega mendengar kepastian itu.

"Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita," ajak Jamie mantap, "apa kalian ingat sebuah pondok di hutan ini, kita akan ke sana untuk sementara."

"Apa tidak apa-apa... tempat seperti itu, Jamie," tanya Caleb.

Jamie tersenyum dan berkata penuh keyakinan, "Kita pernah ke sana Caleb, Claude, dan juga ada beberapa buah-buahan liar kalau kita kekurangan makanan untuk dijadikan cadangan, jadi untuk sementara tidak apa-apa," Jamie menatap Monty dengan sendu, "dan Monty, mengenai pertanyaanmu tadi... kita bisa membahasnya di sana."

Itu adalah hal terakhir yang mereka bicarakan. Abbey si anjing tetap menatap gagak di atas pohon, menggeram dalam pada gagak itu sambil melenggang pergi menyusul Jamie dkk. Si gagak dengan intens memandangi kepergian Jamie beserta teman-temannya. Tidak jauh darinya ada sejenis kupu-kupu bersayap bening yang mungil berbentuk segitiga terbang di dekat kepalanya, dengan pelan ia berkoak pada kupu-kupu itu. Sesaat kemudian kupu-kupu yang tidak diketahui jenisnya itu terbang mengikuti kumpulan anak-anak yang telah kabur dari rumah. Lalu si gagak terbang membelah udara dengan kecepatan yang tidak biasa.

Dengan kegesitan dan kecepatan yang seperti peluru, gagak hitam besar itu menembus lorong-lorong di dalam sebuah gua, menghindari stalaktit dan stalakmit dengan ahli. Ia tiba di rongga dalam gua yang lebih luas, tampak cahaya remang-remang memancar dari dalam air yang dilewati si gagak, memelankan laju terbangnya untuk hinggap di atas bahu seorang pria yang sedang memandangi dasar danau.

Di bawah bayang-banyang gelap gua, senyuman tersungging di bibirnya, "Apa yang kamu dapatkan hari ini, Hugin?" tanya pria itu serak dan lembut. Dengan hati-hati ia duduk di pinggiran danau.

Si Gagak berkoak pelan di telinganya dan Pria itu berguman memikirkan sesuatu mengenai berita yang didapat dari gagaknya.

"Tetap awasi anak-anak itu, Hugin," katanya pelan, "jangan biarkan mereka terluka. Bawa para Ramo denganmu, buat sebuah pelindung dimensi di sekitar mereka!" perintahnya, "aku ingin lihat apa yang akan terjadi dengan menghilangnya mereka... akan aku berikan pelajaran yang berharga untuk teman-teman guardian kita," ia mengangkat tangannya, sebuah bola cahaya kecil keemasan diapit di antara ibu jari, telunjuk, dan jari tengahnya, memandanginya cahaya itu dengan intens. "Tidakkah mereka mengetahui bahwa tidak hanya satu cara untuk menghancurkan impian anak-anak, membuat keberadaan teman-teman guardian kita menghilang dari hati mereka," ia menghembuskan nafas berat dengan sedikit gumaman kekesalan. "Tidak! Bukan keberadaan kalian yang ingin aku hilangkan di hati semua anak-anak. Anak-anak sungguhlah rentan dan jiwa mereka sangat polos... keyakinan merekalah yang ingin aku hancurkan dengan benturan dari kenyataan bahwa sesungguhnya kalian, teman-teman guardian-ku, hanyalah ilusi dari mimpi... keberadaan kalian tidak diharapkan untuk menghadapi kenyataan!"

Ia melempar bola cahaya keemasan itu ke arah danau yang dengan seketika ditangkap di udara oleh seekor ikan bening yang tiba-tiba melompat dari permukaan danau, kemudian menyelam dan membaur dalam kejernihan air. Cahaya itu bergabung dengan bulir-bulir cahaya lainnya di dasar danau, berkelap-kelip melingkupi sesuatu di dalamnya.


Bersambung...


Ami: chapter ini hampir semuanya benar-benar beda banget sama drafnya, terutama cerita Jamie dkk. aku sudah tidak sabar untuk masuk dalam pertempuran dan masalahnya, jadi doakan saya sama si Ama dapat menyelesaikan cerita ini, tapi saya kan cuma tukang edit, terutama untuk si Ama ia yang bikin cerita ini :D, semoga suka deh meskipun lama banget masuk masalahnya, saya ajah yang mengetik harus bersabar dengan ceritanya karena si Ama itu harus mengemukakan perkembangan karakter-karakternya, jadi tidak terlalu terkesan dicepat-cepatkan dan perasaan karakternya juga masuk dalam cerita hingga tidak menoton, ya ngak?:D. Saya sangat bersemangat ingin menunjukan siapa si Ash ini, saya saja sebagai editor-nya si Ama juga penasaran XD, sampai jumpa di chapter selanjutnya dan terima kasih telah menyempatkan untuk membaca fanfic ini :D