(!) Tidak diterjemahkan secara harfiah...
Lesson 6: Kissing is never enough (part one)
.
Kimia adalah kelas favoritku. Seolah itu bukan lagi rahasia...
Yixing tahu itu juga. Dia pernah berkata bahwa mataku akan berbinar kapanpun seseorang bahkan hanya menyebut kata 'kimia'. Dia menggodaku, mengatakan bahwa Prof. Oh selalu menatapku lebih dulu dan tersenyum setiap kali dia memasuki kelas.
"Terserah." Aku hanya menganggapinya dengan gumaman sementara wajahku memerah. Aku tidak berpikir Sehun akan melakukan itu karena aku merasa akulah yang lebih terpaku padanya daripada sebaliknya. Yixing mendebat bahwa itu adalah fakta dan aku harus mendongak dari buku catatanku sesekali untuk mengamati bagaimana Prof. Oh mencuri pandang ke arahku setiap waktu.
Senin pagi kelas kimia, aku sedang menatap pintu menunggu kedatangan Profesor kami. Pintu tidak ditutup dan jantungku berdetak cepat sementara aku tidak bisa mengalihkan pandanganku dari sana. Sehun memasuki kelas dan aku merasa hari senin tidak lagi mengerikan. Dia bersinar serta bercahaya ketika sinar matahari menyorotnya, menonjolkan auranya. Aku ingin tahu bagaimana dia bisa tampak begitu menakjubkan di pagi hari, menjatuhkanku di atas tanah berkali-kali dalam sekejap mata.
Dia berbalik menghadap kelas, dan benar, matanya memang menatapku lebih dulu dan itu melengkung membentuk bulan sabit yang indah saat bertemu dengan pandanganku. Aku memerah, merasakan seluruh bagian tubuhku menjadi lemah. Aku tidak mampu mengalihkan pandangan dari senyum itu, bola mata coklatnya berkilau penuh kegembiraan menatapku. Suara tersentak yang bergema di sekelilingku, menggoncangku kembali ke bumi dan aku melihat sekeliling. Yixing dan teman sekelasku yang lain menatap Sehun terkejut dengan mata terbuka lebar.
Apa aku melewatkan sesuatu?
Aku melihat kembali pada Sehun yang kini tengah menempatkan buku-bukunya di atas meja, tampak sama sekali tidak terpengaruh. Semuanya terlihat normal untuk—
Oh tunggu...
"Aku akan mengasumsikan bahwa kalian semua sudah membaca bab tentang pengurangan oksidasi," kata Sehun serius. "Yang mana itu merupakan pekerjaan rumah kalian untuk kelas hari ini. Apa ada pertanyaan?"
Tangan gemetar terangkat ke udara. Sehun menunjuk bocah gugup bernama Haru untuk bicara.
"K-kenapa Anda tidak memakai kacamata hari ini, Pak?" Haru bertanya. Dia menelan ludah kemudian, dan segera menyesal mengajukan pertanyaan itu ketika melihat Sehun mengangkat alis tidak senang untuk pertanyaannya.
"Apakah ini adalah salah satu materi pembahasan untuk bab ini, Tuan haru?" Dia bertanya, menatap tajam ke arah Haru yang tampak sudah siap untuk pingsan.
"T-tidak, maaf Pak," katanya cepat-cepat.
"Silahkan duduk," perintah Sehun. "Aku hanya akan menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan kimia jika diantara kalian ada yang memilikinya."
Aku menunduk untuk menyembunyikan senyum maluku. Apakah ini karena aku dia tidak lagi memakai kacamatanya? Aku bermain-main dengan kacamata palsunya dan bahkan aku mungkin menghancurkannya. Aku tidak ingat dimana aku meninggalkan kacamata itu, setelah dia menyerangku dengan ciuman memabukkan di sudut perpustakaan yang gelap.
.
'Temui aku setelah kelas terkhirmu selesai.' Sehun mengirim pesan padaku sore itu.
Sulit untuk tidak menjerit dalam kebahagiaan saat aku mengetik. 'Oke.'
Dalam hitungan detik, Sehun kembali membalas. 'Aku sangat lapar, Luhanie... kemari dan bantu aku...'
'Apa kau ingin aku membelikanmu sesuatu di kafetaria?' tanyaku.
'Hehe kau begitu imut,' jawabnya.
'Eh?' Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?
'Datang saja, aku akan menjelaskannya padamu ;-)'
Aku mengedikkan bahu dan membalas. 'Baiklah.'
Setelah kelas terakhirku selesai, aku bergegas menuju kelas kimia. Aku berpikir untuk membeli makanan untuk Sehun, namun dia bilang dia hanya menginginkanku untuk datang. Aku membuka pintu kelas dan menemukan Sehun bersandar di kursinya, menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Dia mendengar langkah kakiku dan menoleh kemudian tersenyum, mengisyaratkanku untuk masuk.
"Hei..." sapaku malu-malu.
"Hei." Dia menghela napas dan tersenyum. "Bolehkah aku mengatakan padamu jika kau terlihat super menggemaskan sejak pagi, hari ini?"
"Tidak, tidak boleh," gumamku dan dia tertawa. Aku berdiri di depan mejanya, menatap wajah bahagianya kemudian bertumpu pada meja dan membungkukkan tubuhku ke depan.
"Apa kau ingin makan sesuatu?" tanyaku, mengamati mata coklatnya yang berkilat nakal.
Dia hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
Bangkit dari kursinya, dia melangkah ke pintu dan menguncinya dengan aman, kemudian berjalan ke arahku sambil mengusapkan lidah ke bibirnya. Aku sedikit menegang, menyaksikan tampang mencurigakannya, menduga jika dalam pikirannya sesuatu yang kotor kini tengah berputar. Dan kecurigaanku itu kemudian dikonfirmasi ketika tangannya bergerak ke pinggangku dengan lembut.
"Tidak, bibirmu sudah cukup untukku." Dia berbisik, mengusapkan satu tangannya di pipiku. "Aku begitu ingin menciummu sejak pagi..."
Aku mencintai bagaimana gentle-nya dia, meluangkan waktunya untukku dan membungkusku dengan ciuman panjang. Aku tidak bisa mengingat sejak kapan dia mulai membelai kepalaku, mengaduk-aduk hati dan jiwaku ketika tangannya dengan hati-hati menangkup wajahku. Dia tahu betapa rapuhnya aku kapanpun dia menciumku sehingga dia memastikan untuk memegangku dengan erat dan menguatkan tubuhku yang lemah ketika bumi berusaha untuk menarikku jatuh.
"Kenapa aku merasa begitu damai saat aku menciummu?" Dia bertanya, jarinya menyusuri garis rahangku.
"Senang...dan luar biasa bergairah pada saat bersamaan..." bisiknya menambahkan, mendekat pada bibirku.
Aku merasakan hal yang sama pula...aku ingin mengatakan itu namun dengan itu, berarti aku harus berhenti menciumnya. Maka aku hanya mengerang sebagai gantinya.
Ponselku bergetar lemah di sakuku dan aku merasa tidak harus repot-repot untuk mengangkatnya pada awalnya. Aku terlalu sibuk menikmati bibir Sehun, hingga sampai kemudian getaran ponsel berubah menjadi suara jeritan keras yang membuat detak jantungku berhenti sesaat. Aku mengenali nada dering yang tidak biasa itu. Itu adalah nada dering khusus yang Baekhyun rekam untukku saat dia teler dan tentu saja, itu di rekam untuk seorang yang istimewa.
"Iblis! Iblis! Iblis!" Suara mabuk Baekhyun bergema di speaker ponsel. Sehun menjauhkan wajahnya dan menatapku bingung. Dengan cepat aku merogoh sakuku untuk mengambil ponselku karena aku tahu jika aku tidak menjawabnya, Ayahku akan membunuhku.
"Maaf Sehun aku harus menjawabnya... Ini Ayahku," kataku, terengah-engah.
"Iblis, eh?" Sehun menyeringai sebelum menyerang leherku dengan ciuman dan aku memekik "fuck" keras.
"Se-Sehun...kumohon lepas—"
"Aku tidak akan berhenti." Dia berbisik dan aku menggigil. "Hanya bicara dengannya sementara aku melakukan pekerjaan favoritku,"
"Oh Tuhan..." Tanganku gemetar.
Aku tidak punya pilihan selain berusaha terdengar normal. Aku mengerang sebelum mengetuk opsi menerima panggilan.
"H-halo?" kataku dengan suara bergetar. Sehun menyusuri leherku dengan lembut kemudian menyingkap kerah pakaianku untuk menciumi pundakku.
"Luhan, apa kau sibuk?" tanya Ayah.
Aku menggigit bibirku. "A-aku sedang belajar kimia," jawabku sementara kemudian aku mendengar Sehun terkekeh.
"Oh, baiklah," kata Ayah. "Aku hanya ingin memastikan kau sedang belajar dan melakukan yang terbaik, Luhan. Ujian Universitas tidak main-main. Kau harus sangat teliti dan membaca semua—"
Aku nyaris tidak memperhatikan semua kata yang Ayah ucapkan. Mataku tertuju pada jari Sehun yang membuka dua kancing pertama pakaianku.
Dia menatapku sambil mencibir dan aku menggelengkan kepala. Dia benar-benar harus berhenti! Aku hampir tidak bisa menahan eranganku, jari-jarinya dengan lembut mengusap kulitku dan aku merasa itu terlalu banyak dan kurang pada saat bersamaan.
"Luhan, jangan lupa." Ayah melanjutkan. "Kau harus menjaga keduanya, reputasi kita serta nilaimu yang mengagumkan—"
Gigi Sehun menancap di tulang selangkaku dan aku harus menutup mulutku untuk menahan jeritan. Dia menghisap dan menggigiti kulitku dengan lembut, kemudian bibir dan lidahnya menjilati rasa sakit yang dihasilkan dari gigitannya. Itu adalah sensasi menyenangkan yang sulit ditahan dan aku berdoa dengan segenap hatiku semoga Ayah tidak menyadari embusan napas beratku.
"Apa kau mengerti, Luhan?" tanya Ayah. Sehun masih terus menjilati bekas gigitannya, bibirnya kemudian bergerak semakin ke atas menuju pipiku. Aku mengalami kesulitan berapas dan mataku sudah berkaca-kaca. Jari-jarinya menyusup masuk ke balik pakaianku dan mulai bergerak berputar di pusarku. Aku harus menutup telepon!
"Y-ya, Ayah." Aku terengah-engah. "Maaf tapi aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa,"
"Oke, lanjutkan belajarmu," kata Ayah sebelum menutup sambungan telepon. Bibirku diklaim kembali oleh Sehun dan ponselku terlepas dari tanganku, jatuh membentur lantai.
"Dasar anak nakal." Sehun menyeringai. "Berbohong pada Ayahmu ketika kau bermain-main dengan Profesormu. Aku akan memastikan untuk mengajarimu beberapa pelajaran."
Oh my fuck, ajari aku...
.
"Luhan kumohon?"
"Tidak,"
"Kumohon kumohon kumohon?"
"Aku harus belajar,"
"Tapi aku butuh bantuanmu!"
"Maaf, aku tidak punya waktu." Aku berkata sementara menahan tawaku ketika Sehun mengendarai motornya pelan-pelan untuk mengikutiku yang berjalan kaki. Saat aku keluar dari asrama siang ini, aku tidak terkejut melihat Sehun menungguku karena ini adalah akhir pekan. Dia bilang dia kehabisan baju untuk dipakai dan ingin belanja. Aku tahu dia hanya membuat alasan supaya bisa menghabiskan waktu denganku. Bagaimanapun, aku memiliki rencana yang berbeda untuk akhir pekan ini.
Alarm panik di kepalaku menyala ketika Baekhyun bangun tadi pagi dan berteriak. "DUA MINGGU LAGI SAMPAI UJIAN, INI ADALAH BAGAIMANA AKU AKAN MATI HANNIE!"
Kukira aku tidak akan bisa belajar di kamar asrama dengan Baekhyun yang terus menangis putus asa (dan tidak belajar sama sekali). Perpustakaan akan sangat ramai penuh mahasiswa karena hari ini tidak ada kuliah. Aku menelpon Ayahku dan bekata padanya bahwa aku akan pulang untuk belajar dimana aku setidaknya memiliki kamarku yang sunyi sendiri.
Namun sayangnya, Sehun menangkapku sebelum aku bisa pergi...
"Kenapa kau begitu sulit hari ini?" Dia cemberut ketika aku berjalan dengan dagu terangkat tinggi-tinggi di udara.
"Karena ujian sudah dekat dan aku tidak punya waktu untuk bermain-main," jawabku serius.
"Kau jenius." Dia meyakinkan. "Kau tidak harus terlalu banyak belajar,"
"Aku tidak ingin mengacaukan ujian Universitas pertamaku," kataku, tidak peduli.
"Aku akan membelikanmu sesuatu juga." Dia menawarkan, penuh harap.
"Ya, mohon belikan dirimu sendiri kehidupan." Aku mengejek. "Untukku,"
"LuHannie." Dia merengek dan aku ingin menertawakan kelakuan kekanakannya.
"Sampai jumpa Sehun," kataku, berharap dia mengerti.
Sehun menggerutu dan berhenti mengikutiku. Aku mengembuskan napas lega karena akhirnya dia menyerah. Aku ingin pergi belanja dengannya hanya jika ujian tidak begitu dekat. Aku harus menutup segala yang mengganggu untuk sekarang. Sehun telah mendominasi isi pikiranku dan dia harus disingkirkan untuk sementara...
"Bapak Dekan! Halo ini oh Sehun!" Suara Sehun menggema di belakangku dan mataku melebar. Aku berbalik, melihatnya tengah bicara pada ponselnya sementara melempar senyum lebar padaku. Dia menggerakkan alisnya menggodaku dan aku melotot padanya dengan tanganku yang terkepal.
"Ya ya, Luhan tidak belajar sama sekali." Dia bicara dengan lantang. "Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan pada anak itu. Bisakah Anda bicara padanya?"
"TIDAAAAKK!" Aku menjerit, berlari menghampirinya dan berusaha merebut ponsel dari tangannya.
"Ya, aku bahkan melihatnya bercumbu dengan seseorang." Sehun tertawa. "Dimana, kau bertanya? Oh di perpustakaan, kadang di kelas... Dia selalu mengerang menggemaskan dan merintih—"
Aku merebut ponsel dari tangannya sementara dia terus tertawa. Melihat tidak ada sambungan telepon yang berlangsung, aku merasa lega. Dia hanya menggodaku dan menjadi bajingan seperti biasa.
Aku melotot padanya. "Apa yang kau inginkan?"
"Sedikit saja waktumu..." katanya dengan lantang.
Aku tahu dia akan terus menggangguku sampai aku menuruti apa yang diinginkannya.
"Hanya beberapa jam," kataku tegas.
"Ya."
Aku menghela napas. "Maukah kau mengantarku pulang ke rumahku setelah itu?"
"Tentu." Dia mengangguk penuh semangat.
"Baiklah kalau begitu." Aku cemberut pada wajahnya yang menyeringai.
"Kau begitu baik," katanya, memberiku helm hitam baru sebagaimana yang aku minta.
"Diam," gummku sementara aku duduk di motornya.
Kami berkendara selama hampir setengah jam sebelum berhenti di sebuah pusat perbelanjaan besar yang belum pernah kukunjungi. Itu adalah mall bertingkat dengan banyak toko. Sederetan restoran di lantai dasar dan toko-toko di dua lantai sisanya. Ada begitu banyak orang yang berkunjung ke mall pada akhir pekan.
Baekhyun dan Chanyeol senang pergi ke mall namun aku tidak pernah benar-benar mengerti mengapa. Mungkin lebih menyenangkan untuk berada disana sebagai pasangan? Dan lagi aku tidak pernah benar-benar belanja banyak. Pakaianku dibuat khusus oleh penjahit pribadi Ayah dan karenanya aku lebih sering memakai kemeja dan celana bahan. Aku hanya memiliki satu jins yang diberikan Baekhyun padaku saat hari ulang tahunku.
"Jadi kemana kau mau pergi pertama-tama?" tanyaku pada Sehun yang tampak berseri-seri.
"Ayo kita minum dulu." Dia meraih tanganku dan menyeretku ke sebuah tempat bertuliskan "SMOOTHIES" dengan huruf merah terang.
"Apa itu smoothie? Apa itu sejenis alkohol?" tanyaku curiga.
"Hanya pesan salah satu." Sehun tertawa, melingkarkan lengannya di bahuku.
Aku memesan orange sunshine smoothie karena itu terdengar begitu ceria, dan aku segera mendapat minuman berwarna oranye dalam gelas pelastik dengan sedotan yang mencuat. Aromanya seperti jeruk (dan tidak beralkohol) jadi aku menyesapnya. Aku menyadari tidak ada yang lebih lezat daripada smoothie ini di dunia, nah kecuali bibir Sehun...
"Apa kau sudah mabuk?" Dia menertawakanku, menyeringai sementara dia menjepit sedotan smoothie anggurnya diantara giginya.
Aku hanya mengabaikannya dan mengalihkan pandanganku, menyesap minumanku dalam diam.
Kami mengunjungi toko pakaian, beberapa toko sepatu, dan hanya berjalan-jalan dari satu toko ke toko lain dengan smoothie di satu tanganku dan tangan Sehun di tanganku yang lainnya. Dia mengambil beberapa pakaian setiap saat, mencobanya kemudian meminta pendapatku. Duduk di luar ruang ganti, aku mulai gelisah. Apakah Sehun melakukan ini dengan sengaja? Dia mencoba beberapa pakaian yang begitu seksi dan menunjukkannya padaku sehingga membuat gairahku naik. Aku menghisap smoothie anggurnya yang dia tinggalkan bersamaku dengan putus asa, merasa bingung dan ingin merasakan bibirnya, namun aku terlalu malu untuk meminta ciuman.
Kami berdua tahu itu tidak akan cukup hanya dengan satu ciuman...
"Toko favoritku!" Dia berkata dengan gembira sebelum kami memasuki toko yang berkilau dan tampak begitu mahal dari luar.
Sehun menarikku menyusuri rak sementara dia mengambil beberapa pakaian.
"Itu bukan ukuranmu, Sehun," kataku, melihat label pada pakaian. Itu lebih kecil dari yang aku tahu cocok dengan ukurannya.
"Aku tahu," katanya, mengambil beberapa pakaian lagi.
"Umm lalu kenapa—"
"Masuk dan cobalah." Dia menyeringai, mendorongku masuk ruang ganti. Aku memutar mataku.
Harusnya aku sedang belajar, namun sekarang aku merasa aku dan Sehun seperti pasangan kekasih yang kulihat di tv, dimana mereka pergi belanja bersama dan menunjukkan pakaian yang mereka coba.
Aku merasa jengkel saat berusaha memasukkan kakiku ke dalam ripped jeans, jari-jari kakiku tersangkut pada bagian robeknya beberapa kali. Butuh waktu lebih lama untuk aku memakainya serta memasukkan kaos hitam ke atas kepalaku.
"Luhan, apa kau butuh bantuan?" dia berkata dari luar karena aku memakan waktu yang begitu lama hanya untuk berganti pakaian. Aku melangkah keluar, dan matanya segera berbinar melihatku. Senyum yang terbentuk di bibirnya berubah jadi seringaian nakal ketika dia melirik tubuhku dari atas ke bawah. Aku tidak bisa menahan kegelisahanku dan aku tersenyum malu. Dia meraih tanganku, kemudian memutar-mutar tubuhku untuk melihat apakah celana jins itu cocok untukku. Kemudian aku menyadari betapa ketatnya celana ini sehingga mungkin dia bisa melihat lekuk pantatku yang tidak menarik.
"Aku suka ini," katanya tersenyum. "Tapi ada sesuatu yang kurang. Tunggu disini..."
Dia masuk ke ruang gantiku dan mengeluarkan kemeja merah dan putih yang dia ambil untukku dari tumpukkan pakaian.
"Itu terlalu besar," kataku, memperkirakan. "Tidak akan muat untukku,"
"Itulah intinya." Dia mengedipkan mata.
Sementara tersenyum, dia bergerak lebih dekat ke wajahku dengan kemeja di tangannya. Aku memerah ketika lengannya melingkari pinggangku dan bibirnya terlalu dekat dengan bibirku. Aku menunduk melihat lantai, jantungku berdetak ribut dengan tubuhku terjepit dan mendamba.
"K-kita di depan umum, Sehun..." Aku bergumam.
"Tidak ada orang di sekitas sini," cibirnya.
"Meskipun..." Aku menggigit bibirku.
"Tenanglah." Dia berbisik, mengecup hidungku.
Aku menyadari dia tidak akan mencium bibirku dan aku agak merasa kecewa. Aku juga merasa marah pada diriku sendiri karena begitu plin-plan dan tidak bisa konsisten dengan pikiranku. Dia mengikatkan lengan kemeja di pinggangku kemudian melangkah mundur.
"Sempurna." Dia menyeringai. Aku berbalik untuk melihat diriku di cermin. Oh Tuhan, pipiku masih merona dan aku begitu menyukai pakaian yang dia pilihkan untukku. Ini bukanlah pakaian yang biasanya aku pilih, aku masih tidak mengerti mengapa orang-orang begitu tertarik pada ripped jeans... Namun seluruh penampilanku dengan itu tidak tampak buruk.
"Bagaimana menurutmu?" Dia bertanya, memelukku dari belakang sementara aku masih memperhatikan diriku di cermin. Sungguh memalukan betapa mudahnya darah mengalir ke pipiku. Dia meletakkan dagunya di bahuku dan tersenyum penuh kekaguman.
"Ini sangat luar biasa," kataku, menempatkan tanganku di atas tangannya yang memelukku.
Aku menatap cermin dan bertanya-tanya, apa kita tampak cocok bersama?
"Kau tampak seksi," katanya kemdian mencium pipiku.
"Terima kasih..." Aku ingin tahu seberapa merahnya wajahku sekarang.
"Aku ingin bercumbu denganmu sekarang juga." Dia mendesis, menggigit telingaku. Aku memejamkan mata, terlalu malu untuk melihat bayangan kami di cermin. Sehun mulai menciumi telingaku, kemudian menyusuri leherku dengan bibirnya sementara aku berusaha sebaik mungkin untuk tidak mengeluarkan rintihan keras.
"S-sekarang?" Aku tidak percaya bahwa aku bahkan mempertimbangkan keinginannya.
"Right. Fucking. Now," katanya dengan setiap kecupan kasar yang dia daratkan di kulitku.
"Kau gila." Aku bergumam sementara dia mengunci pintu ruang ganti di belakang kami. Berbalik, aku meraih kerah kemejanya dan menariknya mendekat untuk ciuman. Tangannya menyusup ke balik kaosku dan mulai membelai kulit punggungku dengan hati-hati. Aku merintih melahap bibirnya dengan rakus sementara berusaha keras untuk tidak membuat keributan.
Dia mendorongku ke dinding samping, jari-jarinya semakin lincah mengusap sisi tubuhku. Aku merasa malu membayangkan apa yang akan dia pikirkan tentang tubuh kurusku. Lengannya melingkari tubuhku erat sementara kemudian dia mendengus di bibirku. "Kau begitu pas sempurna dalam pelukanku..."
Aku menahan jeritanku di rambutnya ketika kepalanya menunduk dan giginya menggigit leher dan bahuku dengan keras. Aku melirik sekilas tubuh penuh gairah kami yang menempel satu sama lain pada cermin, kemudian mengalihkan pandanganku dengan cepat. Aku tidak menyangka aku melakukan sesuatu yang berbahaya seperti ini...
Sehun fokus kembali ke bibirku, menciumnya penuh semangat, dan aku mengerang dalam kesenangan. Tangannya menahan kepalaku dari belakang, menekan bibirku lebih keras pada bibirnya dengan lidahnya mendominasi mulutku.
"Fuck." Dia menjilati bibirku. "Lihat kita di cermin, bercumbu seperti binatang. Kita tampak luat biasa seksi..."
Aku tersedak dalam ciumannya. "A-aku tidak bisa..."
"Ayolah, baby." Dia menyeringai. "Kau tidak harus malu melihatnya... Tidak saat kita tampak begitu menggoda..."
Dia mencium leherku sementara aku menolehkan wajahku untuk melihat cermin. Kami berdua telihat sungguh sangat menggairahkan, tubuh kami menempel dengan rapat satu sama lain... Kaosku tersingkap sampai ke dadaku dan aku menyukai melihat bagaimana jari-jarinya menusuk kulit punggungku. Dia mengalihkan wajahnya ke cermin juga dan kami saling menatap satu sama lain sementara dia kemudian menggigit tulang selangkaku.
Saat itulah aku mengerang keras... Jari-jarinya menemukan putingku dan dia meremasnya, mengirimkan sensasi yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku tidak bisa melihat cermin lagi, aku menutup mataku merasakan tangannya bergerak di perutku, kemudian semakin turun menuju organ panas diantara kakiku...
"Begitu indah Luhan..." Dia membelai perutku dan jari-jarinya bermain-main di celana jinsku...
Namun sebelum dia bisa melakukan sesuatu lebih jauh...
"Keluar!" Manajer toko begitu marah ketika dia melempar kami keluar dari toko beserta pakaian pakaian yang sudah Sehun ambil. Dia jelas harus membayar semua itu sementara aku harus minta maaf berulang kali untuk perilaku tidak pantas kami.
Aku merasa malu karena banyak orang yang melihat. Diusir keluar dari toko dengan pakaian dan rambut berantakan. Sehun tampak terhibur ketika melihat aku menepuk pipiku untuk menyingkirkan penghinaan.
"Ini memalukan." Aku gemetar. Tawa Sehun masih terdengar ketika dia menangkup wajahku.
"Hei, kau tidak kenal siapapun disini jadi santai saja." Dia terkekeh dan aku cemberut padanya. Mengenyahkan tangannya dari wajahku, aku mundur. Aku masih bisa mendengar tawanya ketika aku memunguti pakaian itu dan berjalan pergi darinya.
"Hei, tunggu." Dia memanggil dan aku pura-pura tidak dengar.
Orang-orang masih terus menatapku dan aku menyembunyikan wajahku diantara pakaian yang aku peluk. Aku tahu aku harus bersembunyi di suatu tempat sampai aku pulih dari kejadian memalukan itu.
Masuk ke restoran pizza adalah pilihan bagus. Aku pernah dengar nama tempat pizza ini sebelumnya, namun aku tidak ingat dimana. Aku harus makan sesuatu untuk menenangkan pikiranku.
"Meja untuk satu orang?" Pelayan tersenyum bertanya.
Namun sebelum aku membuka mulut dan menjawab...
"Untuk dua." Sehun merangkulku, membalas senyum si pelayan dan pelayan itu kemudian merona malu.
"Mari lewat sini..." Dia bergumam, mengarahkan kami ke sebuah meja kecil lucu di pojok.
"Terima kasih." Sehun tersenyum tampan padanya dan si pelayan bergeges pergi dengan nyaris pingsan. Aku melihat itu dengan jengkel, melotot pada Sehun dengan intensitas cahaya seribu matahari.
"Bajingan," desisku pada Sehun yang tampak senang dengan penghinaan itu.
"Hei, ini salahmu." Dia mengangkat tangannya ke udara.
Aku mengejek. "Tentu saja, semua salah aku!"
"Kau yang mengerang." Dia menjulurkan lidahnya.
"Ide brilian siapa untuk bercumbu di ruang ganti?!"
"A-aku.."
"Tepat!" Aku menggertakkan gigiku. "Dan itu membuatku ingin tahu, apa kau ini memiliki obsesi untuk menggerayangi tubuhku di depan umum,"
"Whoa, tunggu dulu." Sehun mendekat ke arahku. "Sebutkan tempat umum lain dimana aku pernah menggerayangi—"
"Perpustakaan,"
"Oh,"
"Kau harus mengendalikan manusia mesum yang ada dalam dirimu." Aku menggerutu, melipat tanganku di depan dada.
"Baiklah aku akan." Sehun mengeluh. "Tapi mohon bantu aku dan berhenti terlihat imut dan seksi setiap waktu!"
"A-apa...aku tidak." Aku memerah.
"Lihat lihat, kau melakukannya lagi," katanya, menunjukku dengan marah. "Menjadi begitu imut dan menggairahkan dan menarik!"
"Diam." Aku melindungi wajah memerahku dengan tanganku.
Kami berdua diam dalam kemarahan, wajah berpaling dari satu sama lain. Pelayan datang untuk mencatat pesanan kami dan kami berdebat setidaknya selama sepuluh menit untuk memutuskan pizza apa yang akan kami pesan.
"Pizza tipis!" teriaknya.
"Kalau begitu aku ingin keju ekstra di atasnya!" balasku berteriak.
"Baiklah terserah." Dia memutar mata. Pelayan secara harfiah lari dari meja kami sebelum bahkan mencatat pesanan.
Ketegangan semakin intens ketika kami saling melempar tatapan tajam. Pizza tiba dan kami memakannya dengan kecepatan tinggi seolah kami tengah berlomba siapa yang bisa makan potongan paling banyak.
"Antarkan aku pulang." Aku melipat tanganku dan dia mendengus membalasnya. Setidaknya aku bisa pulang dan belajar sekarang...
Kami berjalan keluar dari restoran dan aku berbelok. Dua orang yang berjalan di sisi berlawanan menarik perhatianku dan aku tahu hariku akan menjadi lebih buruk.
Aku meraih pergelangan tangan Sehun dan menariknya mendekat untuk menyembunyikanku di celah tepat di sebelah restoran. Sehun terkejut, meletakkan tangannya di dinding di belakangku dengan tubuhnya yang menempel dengan tubuhku. Aku menyembunyikan wajahku di dadanya, berharap dua orang itu tidak memperhatikan kami.
"Luhan, apa—"
"Ssttt, jangan sebut namaku!" bisikku.
"Kenapa?" Dia balas berbisik.
"Sahabatku Baekhyun dan Chanyeol ada disini, di mall." Aku gemetar, mencengkram kemeja Sehun lebih kencang. "Mereka tidak boleh melihat kita bersama!"
"Tidak apa." Sehun melingkarkan lengannya di sekeliling tubuhku. "Mereka mungkin tidak akan berjalan ke arah sini."
Aku mengintip sedikit melalui bahu Sehun dan aku tahu jika dewi keberuntungan tidak berpihak padaku hari ini.
"Mereka kemari!" Aku merengek. "Aku lupa jika Baekhyun menyukai restoran ini. Dia membawakanku pizza dari sini bahkan ketika terakhir kali dia kemari,"
"Apa yang harus kita lakukan?" Sehun bertanya, cemas. "Mereka semakin dekat. Aku bisa mendengar suara mereka."
Aku menggigit bibirku. "Hanya ada satu cara,"
"Apa itu...?"
Dengan cepat aku aku meraih wajah Sehun dan menyatukan bibir kami. Sehun terkejut namun tetap membalas ciumanku, tangannya bergerak di kepalaku. Begitu sulit untuk tidak mendesah nikmat dengan napas berat Sehun yang membuatku terangsang. Dia merintih pelan, bulu matanya berkibar ketika matanya menatapku penuh nafsu. Kakiku gemetar dan dia menekanku lebih keras ke dinding, memiringkan kepalanya untuk benar-benar melindungi wajahku.
Beberapa saat, aku lupa tujuan utama ciuman ini...
"Whoa!" Aku mendengar suara Chanyeol. "Baek, lihat pasangan itu, bercumbu di mall yang ramai!"
"Ada apa denganmu?" Terdengar suara Baekhyun yang marah, kemudian suara pukulan dan Chanyeol berteriak.
"Jangan bertindak seperti voyeur." Baekhyun mendesis padanya. "Mari beri mereka privasi."
Suara langkah kaki mereka memudar dan aku menarik diri dari ciuman. Sehun enggan menjauh dari bibirku sehingga kami masih tetap dalam posisi yang sama. Dia menggigit bibir bawahnya dan aku mengalihkan pandanganku sebelum aku lebih terangsang.
"I-itu menakutkan." Aku menghela napas, menempatkan kepalaku di bahu Sehun. Untungnya, sepertinya Baekyeol tidak mengenaliku. Aku tidak memakai pakaian yang biasanya aku pakai dan Sehun berhasil menyembunyikan wajahku dari mereka.
"Y-yeah...menakutkan..." Sehun tergagap. "Dan sangat panas."
Aku memerah melihat ke arahnya, matanya mengkilat karena ketidakpuasan.
"Aku suka ciuman mengejutkan." Sehun tersenyum, mengusapkan hidungnya ke hidungku. "Jangan ragu untuk melakukannya lagi untukku..."
Aku terkekeh, mengecup bibirnya lembut.
Aku tidak percaya kami benar-benar berhasil keluar tanpa disadari. Sehun dan aku berlari menuju motornya, tertawa dan bergegas meninggalkan mall. Kami tidak bisa berhenti mengoceh tentang betapa bodohnya kami, bercumbu di depan umum lagi. Kami mungkin bisa saja dilempar keluar dari mall juga, namun untungnya banyak orang yang memilih untuk mengabaikan kegiatan tidak pantas kami.
Itu sudah hampir sore namun aku belum siap pulang. Jalan yang kami lalui tampak asing bagiku sehingga sepertinya Sehun belum ingin mengantarku pulang.
Aku mengistirahatkan kepalaku di punggungnya, lelah untuk apa yang terjadi hari ini. Aku tidak tahu sejak kapan aku tidur, dan aku terbangun setelah beberapa saat oleh suara lembut Sehun.
"Luhanie?" panggilnya. Aku tersenyum sebelum membuka mata.
Kami berada di pantai, matahari terbenam di cakrawala dan tidak ada satupun orang terlihat.
Aku menggeliat dan menguap sebelum turun dari motor dan dia mengikutiku. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dan membawaku ke dalam pelukannya sementara kami tertawa. Aku tersenyum lebar, merasakan kecupan lembut di belakang leherku serta lengannya yang melingkari tubuhku dari belakang dengan aman.
Mata kami terpaku pada matahari terbenam yang tampak menakjubkan, langit dilukis dengan warna oranye dan emas seolah kekacauan dunia ditelan oleh gelapnya malam. Aku menghela napas dan memejamkan mata, merasakan dada Sehun di punggungku. Detak jantungnya seirama dengan detak jantungku, aroma cologne-nya memenuhi udara di sekitarku, dan ia bernapas tenang... Entah bagaimana aku merasa seperti aku memang seharusnya berada disini dalam pelukannya...
Langit berubah merah muda ketika aku berbalik menghadapnya, rambut kami berantakan karena angin. Dia masih terlihat begitu tampan, senyum hangatnya membuat segala penyesalanku meleleh dalam hitungan detik.
"Aku bersenang-senang hari ini." Dia tersenyum
"Aku tahu." Aku cemberut.
"Terima kasih untuk bersedia ikut dan maaf sudah mempermalukanmu..." Dia menyatukan dahinya dengan dahiku.
"Sama-sama." Aku tersenyum. "Dan tidak apa-apa..."
"Aku ingin menciummu disini, di pantai." Dia menyeringai. "Menambah tempat dalam daftar bercumbu di tempat umum kita."
Aku tertawa sementara dia membawaku lebih dekat dalam pelukannya.
Ketika bibirnya menyentuh bibirku, aku tahu aku tidak akan pernah cukup dengan ciumannya...tidak, sampai kapanpun...
.
"Aku berharap kau tidak harus pergi." Sehun berbisik, memelukku erat. Aku memberikan kecupan di pipinya sebelum menempatkan kepalaku di bahunya.
Kami berada di gang yang berada jauh dari mansion. Dia mengantarku pulang sebagaimana yang dijanjikannya, namun tak satupun dari kami ingin pisah.
"Aku akan kembali besok." Aku tersenyum dan dia mengangguk.
"Aku akan menjemputmu," katanya. Sebelum aku bisa membantah dia menempatkan jarinya di bibirku. "Jangan membantah. Aku akan menunggumu di halte,"
"Baiklah." Aku terkekeh dan mencium jarinya.
"Selamat malam, Hannie," katanya, mengecup lembut bibirku. "Pergilah. Aku akan mengawasimu sampai kau melewati gerbang rumahmu,"
"Tidak apa." Aku menggeleng. "Aku sudah biasa berjalan sendiri di jalan ini,"
"Tetap saja." Dia tersenyum. Aku memerah dan meambaikan tanganku padanya sebelum berbalik.
Berjalan ke dalam dan menutup gerbang mansionku, aku mengintip keluar untuk melihat lampu motornya memudar dalam kegelapan. Tanganku memegang erat gerbang logam, merasa tertekan dan kesepian. Aku tahu aku telah kehilangan hatiku untuknya.
.
'Suhu' di setiap bab akan terus meningkat seiring berjalanannya waktu.. 0.0
Ini bab yang tergesa-gesa karena ingin apdet sebelum hari ini selesai supaya bisa ngucapin—
Selamat hari 520 yorobun!^^
.
520!
